Ini Medan Bung !

Posted: Februari 2, 2010 in Wisata
Tag:, , , , , ,

Bandara Polonia, Januari 2002. Untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sesungguhnya, semrawut dan acak-acakan. Polonia memang sudah tua. Diresmikan pada tahun 1928, bandar udara ini dibangun di atas lahan pekebunan tembakau milik Baron Michalsky. Nama Polonia sendiri diambil dari bahasa latinnya Polandia, negeri asal Michalsky.

Polonia tercatat sebagai bandara tersibuk di Sumatra. Walau berstatus internasional, dari segi fasilitas dan kenyamanan Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara seluas 7.941 meter persegi itu dipaksa menampung 2.000 penumpang dalam waktu yang bersamaan. Kursi tunggu penumpang sangat sedikit tersedia. Garbarata, belalai penghubung tempat tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak ada. Lobi bandara yang terlihat kusam, kadangkala harus dipenuhi kuli angkut dan sopir taksi yang berteriak menawarkan jasa.


Lapangan Merdeka dikelilingi bangunan berarsitektur art deco

Dari Polonia, aku dijemput supir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling-keliling Medan. Hari pertama sesampainya di Medan, langsung stock opname persediaan. Kebetulan klien ku ini salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang punya persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang, makan banyak waktu. Siang menjelang sore, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di hotel. Selama di Medan kami menginap di Hotel Danau Toba, di Jalan Imam Bonjol. Hotel ini hotel tua, milik keluarga Pardede pengusaha asal Batak. Interior kamarnya boleh lah, walaupun agak terkesan angker.

Selesai merapikan pakaian dan membasuh diri, ku putuskan untuk berjalan sore. Lapangan Merdeka yang tak jauh dari hotel, menjadi pilihan. Lapangan ini semacam alun-alunnya kota Medan. Bangunan-bangunan tua berarsitektur art deco, mengelilingi lapangan bersegi empat dengan rerumputan hijau di tengahnya Di sisi barat lapangan, terdapat stasiun besar Medan. Selain tujuan Belawan, dari stasiun ini tersedia kereta api rute Tebing Tinggi, Pematang Siantar, hingga Tanjung Balai. Selain stasiun besar, Bank Indonesia dan Bank Mandiri berkantor di kawasan ini pula. Di arah barat daya lapangan, kantor pusat London Sumatera (Lonsum), berdiri dengan angkuhnya. Di samping kantor Lonsum, tegak gapura besar gerbang menuju kawasan Kesawan. Kesawan merupakan china town-nya Medan.

Lalu lintas di Kesawan

Pada awal abad ke-20 dari kawasan ini muncul pengusaha besar, Tjong A Fie. A Fie yang berasal dari Guandong Cina Selatan, juga seorang yang dermawan. Beliau membangun rel kereta api dari Medan Kota menuju Belawan. A Fie juga banyak menyumbang untuk pembangunan mesjid, rumah sakit, dan sekolah. Namanya berkibar ketika pemerintah kolonial mengangkatnya sebagai kapitan Tionghoa, menggantikan Yong Hian yang wafat. Selain di Medan pengaruh A Fie meluas hingga Penang, Singapura, Hongkong, dan Amsterdam. Di kawasan Kesawan yang sibuk itu, aku melihat rumah warisan A Fie. Bangunannya cukup unik, perpaduan arsitektur art deco, Eropa, dan Tiongkok.

Tahun 1920 sampai masa kemerdekaan, bisa dibilang Medan itu kotanya orang Cina. Mungkin situasi Medan ketika itu mirip Singapura pada hari ini. Pada masa itu, sepertiga penduduk kota merupakan warga Tionghoa. Bahkan menurut cerita, pada tahun-tahun itu orang Tionghoa Medan telah memiliki mata uang sendiri. Selain pekerja keras, Tionghoa Medan dikenal pemberani. Dalam berbisnis, mereka tak takut ambil resiko. Walau resiko itu kadang mengundang maut. Usaha apa saja pasti mereka sikat, yang penting menghasilkan uang. Melihat gaya hidup mereka, tak salah kalau banyak pengusaha besar tanah air lahir dari kota ini. Seperti bos Raja Garuda Mas, Sukanto Tanoto dan pemilik Wilmar Internasional, Martua Sitorus.

Istana Maimun di malam hari

Medan kota multi-etnis. Selain orang Tionghoa dan penduduk asli Melayu, di sini banyak pula bermukim masyarakat Jawa. Sejak masa kemerdekaan, orang Jawa menjadi etnis terbesar di kota ini. Perantau Minangkabau banyak pula ku jumpai. Di Medan, selain menjadi pedagang, profesi sebagai pengacara, dokter, wartawan, dan notaris, banyak diisi orang-orang Minang. Di Jalan Zainul Arifin, kita akan menjumpai komunitas besar masyarakat Tamil asal India. Sejak tahun 1910, bersama orang Jawa dan Tionghoa, mereka telah tiba di Medan sebagi kuli kontrak perkebunan. Orang Keling biasa mereka disebut, menjadi salah satu komponen pembentuk masyarakat Medan yang majemuk itu.

Di hari kedua, aku berkunjung ke istana Maimun. Sekilas nampak istana ini seperti mesjid. Kubah-kubah kecil berwarna hitam menghiasi atap istana. Di sayap kanan-kiri istana, ruangan besar terhampar. Pengaruh gaya Arab-Spanyol dipadu dengan corak Melayu lokal, tergurat jelas menyelimuti bangunan istana. Halaman yang besar dengan rumput-rumput hijau bak permadani, menandakan kebesaran Kesultanan Melayu Deli dahulu kala.

Sogo di Sun Plaza Medan

Malam harinya, aku menyempatkan diri mengunjungi salah satu plaza di Medan. Mencarter becak motor dari depan hotel, aku menuju Deli Plaza. Mal dan plaza di Medan memang tak sebesar pusat perbelanjaan di Jakarta. Namun tenant-tenant ternama sudah banyak yang membuka outletnya di sini. Sogo, simbol pusat belanja kelas atas-pun telah hadir di kota ini. Daya beli masyarakat Medan lumayan tinggi, mungkin yang kedua setelah Jakarta. Sehingga tak mengherankan jika sedan-sedan mewah keluaran terbaru, banyak berseliweran di jalan-jalan protokol kota Medan. Sebelum pulang ke hotel, ku coba makan nasi goreng di pinggir jalan. Nasi goreng di Medan agak berbeda. Berwarna merah rada spicy, dengan emping melinjo di atasnya. Cara penyajiannya pun cukup unik, sepinggan nasi goreng plus nasi goreng tambah di atas piring kecil.

Hari ketiga, jalan-jalan utama serta belak-belok di kota ini sudah ku hafal. Dari Sunggal lewat Jalan Gatot Subroto, terus Jalan Guru Patimpus, bersua simpang empat dengan jam besar. Belok ke kanan menuju Lapangan Merdeka, terus ke kawasan Kesawan, Jalan Pemuda, belok kiri tiba di Polonia. Dari simpang jam besar, ke utara ada Jalan Putri Hijau. Makin ke utara akan tiba kita di Belawan. Putar-putar Medan, tibanya di situ-situ lagi. Medan tidak terlalu besar. Jika dibandingkan Jakarta, luasnya mungkin hanya sebesar Kotamadya Jakarta Timur. Penduduknya sebanyak 2,1 juta jiwa. Jika ditambahkan metropolitan area : Binjai, Stabat, Belawan, dan Tanjung Morawa, mungkin sampai 3 juta jiwa.

Keesokan hari, aku sempatkan mencicipi durian medan. Aku berkunjung di saat durian sedang musim-musimnya. Ketika musimnya tiba, pinggir-pinggir jalan kota dipenuhi lapak-lapak penjual durian. Durian yang agak pahit, banyak dicari orang. Orang-orang Medan, biasa makan durian pahit dicampur dengan tuak. “Rasanya bisa bikin terbang” tutur Pak Hadi yang menemaniku. Harga sebuah durian besar hanya Rp 7.500, relatif murah jika dibandingkan dengan Jakarta.

Gedung Lonsum dan Gerbang Kesawan

Medan benar-benar semrawut. Disini marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas tak pernah berlaku. Huruf S atau huruf P sering tak diindahkan pengendara. Mobil-mobil parkir dan berhenti seenaknya saja. Disini, jika kendaraan Anda berhenti di saat lampu pengatur berwarna merah, maka Anda akan diklaksoni agar terus berjalan. Tingkat kriminalitas di Medan relatif tinggi. Kelompok-kelompok preman saling bersaing berebut kavling. Pemalakan dan penjambretan biasa terjadi. Keadaan semacam ini memang sengaja diciptakan penguasa. Agar tak ada yang paling berkuasa di kota ini. Memang begitulah Medan. Sehingga sering preman-preman di sini menjawab keheranan para pendatang : “Ini Medan Bung !”

 
Sumber foto : http://www.pemkomedan.go.id, http://www.skyscrapercity.com

Komentar
  1. mobil88 mengatakan:

    Blog yang bagus…lebih banyak menulis ya :)
    http://mobil88.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s