Perantau Minang di Jakarta (2)

Posted: Mei 11, 2010 in Sosial Budaya
Tag:, , , ,

Profesional Minang

Emirsyah Sattar, dirut Garuda Indonesia

Selain sebagai pedagang, perantau Minang banyak pula yang terjun sebagai profesional kerah putih di perusahaan-perusahaan modal asing, swasta, dan BUMN. Diantara mereka, banyak pula yang sukses meniti karier hingga duduk di puncak perusahaan. Saat ini, pimpinan beberapa BUMN top yang memegang urat nadi perekonomian negara, ditempati oleh putra-putra terbaik Minangkabau. Diantara mereka adalah Emirsyah Sattar yang menjadi CEO Garuda Indonesia, Rinaldi Firmansyah yang duduk sebagai direktur utama Telkom Indonesia, Fazwar Bujang yang menjabat sebagai pimpinan Krakatau Steel, serta Johny Swandi Syam yang mengomandani Indosat.

Perantau Minang yang berkarier di kemiliteran atau menjadi pegawai pemerintah, tak sebanyak yang berprofesi di BUMN ataupun swasta. Profesi birokrat yang biasanya didominasi orang-orang Jawa, tak terlalu menarik minat bagi sebagian besar perantau Minang. Namun begitu, ada pula orang Minang yang berhasil naik hingga ke puncak, menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan kota. Seperti yang saat ini ditunjukkan oleh Syahrul Effendi (wali kota Jakarta Selatan), Wiliardi Wizard (kapolres Jakarta Selatan), Rycko Amelza Dahniel (kapolres Jakarta Utara), dan Boy Rafli Amar (juru bicara Polda Metro Jaya). Perantau Minang hanya sekali menjadi orang nomor satu DKI, yakni pada tahun 1950 ketika Daan Jahja menjabat sebagai gubernur militer Jakarta.

Selain sebagai pegawai, perantau Minang banyak pula yang berprofesi sebagai dokter. Profesi ini sebenarnya profesi dambaan yang telah lama digeluti banyak perantau Minang, selain sebagai ahli hukum dan ahli keuangan. Sejak dibukanya sekolah dokter pribumi STOVIA pada pertengahan abad ke-19, mulailah berbondong-bondong mahasiswa Minangkabau datang bersekolah ke Jakarta. Cita-cita mereka menjadi angku dotor, diharapkan bisa mengubah citra mereka dan keluarga di tengah-tengah lingkungan adat yang kompetitif. Data yang sangat konservatif menyebutkan, pada periode 1900 – 1914 sekitar 18% lulusan STOVIA merupakan orang-orang Minang. Hal inilah yang menjelaskan mengapa dari dulu hingga sekarang, banyak dokter di Jakarta datang dari kalangan Minangkabau.


Rinaldi Firmansyah, dirut Telkom Indonesia

Di Jakarta, banyak pula perantau Minang yang berprofesi sebagai pendidik pengajar. Bahkan guru-guru asal Minangkabau sangat mencolok dibandingkan dengan guru dari etnis lain, baik dari segi pencapaian maupun jumlah. Mochtar Naim mencatat, bahwa 30% guru SLTP di seluruh Jakarta berasal dari Minangkabau. Pada tahun 1970-an, 20 dari 81 kepala sekolah SLTP merupakan pendidik asal Minangkabau. Dan angka yang lebih besar terlihat pada sekolah-sekolah yang bercorakkan Islam. Seperti misalnya di sekolah Muhammadiyah, yang paling banyak cabangnya di seantero Jakarta, dimana guru asal ranah Minang mencapai angka 70%.

Walaupun menjadi khatib dan ulama merupakan profesi sampingan bagi sebagian besar perantau Minang, namun pekerjaan ini memberikan corak tersendiri di tengah-tengah kehidupan masyarakat ibu kota yang cenderung sekuler. Adat istiadat mereka yang bersendikan Islam, mendorong banyak perantau Minang untuk terlibat dalam kegiatan dakwah. Hal ini terlihat dari daftar yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 1970-an, dimana dari 150 khatib di Jakarta, 60% merupakan perantau Minangkabau. Bahkan Buya Hamka, yang selama tiga dekade menjadi ulama panutan masyarakat, memberikan angka di atas itu. Buya memperkirakan hampir 80% khatib di Jakarta merupakan perantau Minang. Di beberapa mesjid besar di Jakarta, seperti mesjid Sunda Kelapa Menteng dan Al-Azhar Kebayoran Baru, kepengurusannya banyak diisi oleh para perantau Minang. Tidak hanya disitu, mereka juga terlibat di dalam kepengurusan organisasi-oraganisasi Islam terutama yang bercorak pembaharuan, seperti Muhammadiyah, Persis, dan HMI.


Persaingan Hidup

Jakarta memang menawarkan segalanya. Namun apa-apa yang ditawarkan itu, tak bisa datang dengan mudah tanpa ada kerja keras dan ketekunan. Di dunia perdagangan, hanya orang-orang Tionghoa-lah yang menjadi pesaing serius pengusaha Minangkabau. Kecuali kota-kota di Sumatera Tengah, di kota-kota manapun di Nusantara ini, dari Medan, Palembang, Bandung, Surabaya, Kuala Lumpur, hingga Jakarta, pengusaha Minang sering kalah bersaing dengan orang-orang Tionghoa. Walaupun dari segi keuletan dan ketangguhan kedua etnis ini tak jauh berbeda. Namun modal besar, semangat untuk re-investasi, serta jaringan yang kuat, menjadikan pengusaha Tionghoa jauh berada di depan.

Separuh kawasan Blok M diisi pedagang Minang

Dalam beberapa kasus di Jakarta, persaingan ini nampak terbuka. Seperti yang pernah terjadi di Rawamangun, dimana perkumpulan pengusaha percetakan dan foto kopi asal Minangkabau, mengkartel harga untuk mencegah masuknya orang-orang Tionghoa berdagang di wilayah itu. Dalam kasus yang lain, kongsi dagang Minang di Blok M terlibat dalam tinggi meninggikan harga penawaran toko, untuk mencegah dominasi pedagang Tionghoa. Persaingan terbuka dengan pedagang Tionghoa telah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1930-an, pengusaha kakak-beradik Djohor Soetan Soelaiman dan Djohan Soetan Perpatih, melakukan aksi dengan menurunkan harga dagangannya yang berdampak pada toko-toko Tionghoa di Pasar Baru, Senen, dan Kramat. Prinsip dagang mereka : “harga murah, penjualan berputar, rakyat tertolong”. Dari beberapa kasus itu, memang pengusaha Tionghoa menjadi pihak yang kalah. Namun dalam kasus lain yang cukup berbahaya, pedagang Minang mengalami kekalahan yang menyakitkan. Kasus yang cukup hangat ialah terjadinya kebakaran di beberapa pasar tradisional yang diduga merupakan kongkalikong antara pebisnis-pebisnis Tionghoa dengan pemerintah kota. ”Pembakaran” ini disinyalir bertujuan untuk menyingkirkan pedagang Minangkabau yang telah eksis dan mendominasi perdagangan selama bertahun-tahun.

Dalam kasus kebakaran di Pasar Tanah Abang, majalah Tempo berpendapat adanya permainan antara pengusaha Tionghoa, Tommy Winata dengan Pemda DKI. Terbakarnya Tanah Abang, menurut beberapa pihak merupakan suatu faktor kesengajaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan peluang kepada pedagang-pedagang grosir Tionghoa, untuk ikut mencicipi manisnya gula perkulakan Tanah Abang yang selama ini secara eksklusif hanya dinikmati pedagang Minangkabau. Dengan adanya pembakaran itu, praktis orang Minang yang sebelumnya menguasai 75% toko-toko di Tanah Abang, susut hingga ke angka 50% – 60%.

Selain di Tanah Abang, dominasi Minangkabau terlihat pula di Pasar Senen, Pasar Rumput, Jatinegara, Blok M, Mayestik, dan Bendungan Hilir. Di Pasar Blok M yang kesohor itu, 60% toko diisi oleh pedagang-pedagang Minangkabau. Angka-angka yang tak jauh berbeda, berlaku pula pada Pasar Senen, Pasar Rumput, Jatinegara, Mayestik, dan Bendungan Hilir. Di Pasar Glodok dan Mangga Dua, jarang dijumpai pedagang-pedagang Minangkabau membuka usahanya. Selain kedua pusat perbelanjaan itu menjadi domain para pedagang Tionghoa, spesifikasi perdagangan di kedua pasar itu tak cocok dengan jenis usaha orang Minang.

Sebagian pihak berpendapat, dibangunnya mal-mal dan trade centre baru, akan mematikan usaha tradisional pribumi. Namun nyatanya hal ini tak berlaku bagi pedagang tradisional Minangkabau, yang justru melihat peluang ini sebagai kesempatan untuk meluaskan usahanya. Di ITC Cempaka Mas, pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat, orang-orang Minang bersaing keras dengan pedagang Tionghoa. Toko-toko Minang dan Tionghoa, selang-seling mengisi pusat perbelanjaan seluas 250.000 m2 itu, dan di tengah koridor nampak beberapa booth pedagang kecil Minangkabau bersaing berebut pembeli dengan pedagang-pedagang Jawa dan Batak. Kondisi serupa terjadi pula di Pusat Grosir Cililitan, ITC Kuningan, dan Mal Ambassador, dimana persaingan bisnis terjadi diantara para pedagang Minangkabau dan Tionghoa.

Walaupun kerasnya hidup di Jakarta, tidak pernah terdengar adanya perkelahian yang dilakukan oleh para perantau Minang. Hal ini dikarenakan sedikitnya orang Minang yang hidup di dunia hitam, seperti menjadi preman, tukang pukul, pembunuh bayaran, atau debt collector. Kehidupan jalanan yang keras, biasanya sering dialami oleh supir-supir atau pencopet Minang. Pencopet atau penyeluk saku asal Minangkabau hanya sayup-sayup terdengar. Selain jumlahnya yang sedikit, lihainya mereka beroperasi hingga hampir-hampir tak pernah tertangkap tangan. Kalaupun operasi dan gerak-geriknya terdeteksi, maka dengan cepat mereka akan berkamuflase menjadi individu lain. Penyamaran yang mudah biasanya dengan cara berpura-pura menjadi pekerja kantoran, dan mengubah logat bicara mereka seperti logat orang Batak, yang sering diasosiasikan orang sebagai penyeluk saku.

Tionghoa dan Minang bersaing di ITC Cempaka Mas

Yang terlupakan namun hidup dalam relung sanubari para perantau Minang adalah persaingan dalam memproduksi kata-kata. Setiap perantau Minang, entah apapun profesinya, baik sebagai mahasiswa, akademisi, pedagang, sastrawan, wartawan, ataupun politisi, selalu berebut untuk berbicara. Dimanapun gelanggangnya baik itu pasar, ruang seminar, ataupun media massa, selalu saja ada orang Minang yang bermain dengan kata-kata. Coba tengoklah pasar-pasar tradisional di seantero Jakarta, dimana-mana hanya suara pedagang Minang saja yang terdengar. Sorak kegaduhan mereka, seakan-akan kita seperti berada di pasar-pasar Sumatra Barat. Berada di Pasar Tanah Abang atau Blok M, tak ubahnya seperti di Pasar Atas Bukittinggi atau Pasar Raya Padang. Atau tengoklah media-media massa nasional terbitan ibu kota, setiap harinya pasti ada saja penulis Minang yang menawarkan ide-idenya. Atau hadirlah dimana-mana seminar diadakan, apapun itu topik bahasannya, selalu saja ada ahli-ahli dan akademisi Minang yang menjadi pembicara. Persaingan berkata-kata bagi sebagian besar perantau Minang, menjadi suatu kebanggaan dan prestise. Mereka sangat mempercayai daya magis dan kekuatan kata-kata untuk memenangkan pertarungan hidup, utamanya di Jakarta yang penuh persaingan.


Pemukiman

Di seluruh Nusantara, etnis Minang dikenal sebagai perantau ulung. Namun begitu tak ada satupun kampung atau wilayah pemukiman di kota-kota besar Nusantara yang mengambil nama dari Minangkabau. Pola pemukiman orang Minang yang menyebar sesuai profesi dan pekerjaan mereka, serta tak sukanya orang Minangkabau hidup mengelompok berdasarkan etnis, menjadi alasan tak ada satupun Kampung Minangkabau atau Kampung Padang di Jakarta. Walaupun terdapat Jalan Minangkabau (pada jaman Belanda : Minangkabau Boulevard) di kawasan Manggarai, namun sedikit ditemui perantau Minang bermukim disana.

Perantau Minang yang menjadi pekerja kerah putih, banyak bermukim di kompleks-kompleks perumahan. Beberapa orang Minang yang duduk sebagai elit negara, baik itu sebagai menteri ataupun diplomat, banyak yang menempati pemukiman-pemukiman elit Jakarta. Dalam suatu riset yang dilakukan oleh peneliti Belanda, terungkap bahwa perantau Minang menjadi salah satu pemukim terbesar di daerah elit Menteng. Peneliti asing itu mencatat bahwa 32% dari penduduk kota taman Menteng, merupakan orang-orang Sumatra yang hampir semuanya berasal dari Minangkabau. Di samping Menteng, wilayah elit Kebayoran Baru juga banyak ditempati orang-orang Minang. Namun berbeda dari wilayah Menteng yang dimukimi oleh banyak pejabat negara, maka wilayah Kebayoran Baru menjadi pilihan banyak pengusaha Minangkabau yang telah mapan.

Kediaman Mohammad Hatta di kawasan Menteng

Mereka yang berprofesi sebagai pedagang, biasanya tinggal tidak jauh dari toko-toko mereka. Namun jarang diantara mereka yang tinggal di ruko-ruko seperti umumnya pedagang Tionghoa. Beberapa wilayah di Jakarta, seperti wilayah pecinan di Glodok, Pluit, Sunter, atau Kelapa Gading, jarang dijumpai pemukim asal Minangkabau. Selain itu pula, sangat sedikit ditemukan orang Minang yang tinggal di perkampungan kumuh padat penduduk di tengah-tengah kota, ataupun perkampungan di pinggiran ibu kota. Wilayah-wilayah ini biasanya banyak ditempati oleh pendatang asal Jawa atau orang-orang Betawi yang menjadi penduduk asli Jakarta.


 
Lihat pula :
1. Perantau Minang di Malaysia
2. Masyarakat Minang di Kota Medan
3. Orang Minang, Peran, dan Pencapaiannya
4. Mencari Akar Dinamisasi Minangkabau

About these ads
Komentar
  1. rizky mengatakan:

    allow…………… saya rizky, cameraman + reporter padang tv, stasiun tv lokal dari sumbar yang ditempatkan di jakarta. untuk mengcover berita2 yang berbau minangkabau di jakarta dan sekitarnya. apabila ada hal yang menarik bisa hubungi saya di 085697260350. thanks

  2. Tanpa Modal Besar mengatakan:

    Artikelnya bagus banget, blognya bagus juga. Makasih pak pencerahannya. Jadi pengen sering-sering mampir nih. Thanks

  3. GANTENG mengatakan:

    keren oy..smoga orang minang tambah maju..

  4. Zainal Arif Purwadi mengatakan:

    Nggak 100% bener juga kalo orang Minang gak suka hidup mengelompok sesama mereka sendiri di tanah rantau. Buktinya orang Minang yang merantau ke Semenanjung Malaya pada menghuni tempat yang sekarang termasuk negara bagian Negeri Sembilan. Sampai sekarang, dialek Melayu mereka dikenal mirip dengan bahasa Minangkabau, begitu pula arsitektur rumah adatnya. Selain itu, di Aceh Selatan juga bisa ditemui sekumpulan orang Minangkabau, yang di sana lebih dikenal dengan sebutan Aneuk Jamee.

    • Afandri Adya mengatakan:

      Di Negeri Sembilan, seperti halnya Pulau Pinang di Malaysia, orang-orang Minang bertindak sebagai pihak peneroka, yakni kelompok masyarakat yang membuka wilayah tersebut menjadi daerah pemukiman baru. Dan disanapun mereka membaur dengan “Orang Asli” Semenanjung. Bahkan banyak terjadi kawin-mawin di antara masyarakat Minang dengan Orang Asli tersebut. Dan perlu diketahui, masyarakat Minang di Semenanjung tidak terbatas hanya di Negeri Sembilan saja, namun mereka juga banyak terdapat di Johor dan Selangor.

      Di Aceh-pun masyarakat Minang tidak hidup mengelompok, mereka membaur dengan masyarakat tempatan. Memang di Aceh Selatan jumlah mereka cukup dominan, sehingga dalam hal berkomunikasi-pun mereka masih menggunakan Bahasa Minangkabau. Kondisi semacam ini, berlangsung pula di bagian-bagian lain pantai barat Sumatera, seperti di Meulaboh, Singkil, Barus, Sorkam, Natal, hingga ke Bengkulu. Di Pekanbaru, Riau, Bahasa Minang-pun telah menjadi bahasa pergaulan masyarakat setempat. Namun tak ada nampak kehidupan berkelompok yang ditunjukkan oleh masyarakat Minang di kota tersebut.

  5. Minang jangan sombong mengatakan:

    Orang Minang suka melebih lebihkan dirinya, semua etnis punya kelebihan. Apa bukti pengusaha Minang mendominasi Indonesia >? sebut pengusaha Minang kaya sebanyak banyaknya …

  6. Minang jangan sombong mengatakan:

    Taufik Kiemas ketua MPR, hartanya Rp. 250 Miliar adalah orang Melayu tapi ditulis orang Minang sebagai tokoh Minang. Chairul Tandjung konglomerat hartanya diatas Rp. 5 Triliun adalah orang Batak tapi ditulis orang Minang sebagai tokoh Minang. Ayo Minang sebutkan data pengusaha kaya Minang dan kami akan sebutkan data pengusaha non Minang kaya (pribumi).

    • Afandri Adya mengatakan:

      Terima kasih telah mengunjungi blog yang sederhana ini. Tak ada yang bisa saya tanggapi atas komentar tendensius seperti ini. Untuk menunjukkan kedewasaan Anda dalam berkomentar, mohon menulis username sesuai dengan nama Anda. Hal ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang sehat diantara pengunjung dan pihak yang dikunjungi.

  7. Regina Tionghoa Manado mengatakan:

    •Estimasi jumlah etnis tahun 2011 :
    100 Juta orang etnis Jawa (41,6%),
    37 Juta orang etnis Sunda (15,4%),
    10 Juta orang etnis Banten-Betawi (4,2%),
    10 Juta orang etnis Madura (4,2%),
    9 Juta orang etnis Melayu (3,7%),
    9 Juta orang etnis WNI Tionghoa (3,7%),
    9 Juta orang etnis NTB-NTT (3,7%),
    8 Juta orang etnis Minang (3,3%),
    8 Juta orang etnis Batak (3,3%),
    8 Juta orang etnis Bugis-Makassar (3,3%),
    7 Juta orang etnis Mandar-Toraja-Gorontalo-Buton- Kaili-Tolaki-Minahasa(3 %),
    4,5 Juta orang etnis Banjar-Sambas-Kutai (1,87%),
    4 Juta orang etnis Aceh (1,6%),
    3,5 Juta orang etnis Dayak (1,45%),
    3,5 Juta orang etnis Bali (1,45%),
    3,5 Juta orang etnis Maluku-Papua (1,45%),
    5 Juta orang etnis lain (2%).

    10 Juta orang Jakarta : 35% etnis Jawa, 27% etnis Betawi, 15% etnis Sunda, 5% etnis WNI Tionghoa, 5% etnis Minang-Melayu, 4% etnis Batak, 9% etnis lain.

    50 Juta orang Sumatera : 15 Juta orang Jawa, 7,5 Juta orang Melayu, 6,5 Juta orang Batak, 6 Juta orang Minang, 4 Juta orang Aceh, 2 Juta orang Lampung, 3 Juta orang China, 1,5 Juta orang Sunda, 1,5 Juta orang Nias-Banjar-Komering, 3 Juta orang lain.

    14 Juta orang Kalimantan : 3,5 Juta orang Dayak-Ngaju-Kendayan-Bakumpai, 3,2 Juta orang Banjar, 2 Juta orang Melayu-Sambas-Kutai, 2 Juta orang Jawa, 850.000 orang Bugis, 150.000 orang Madura, 800.000 orang etnis WNI Tionghoa, 1,5 Juta orang etnis lain.

    Orang Jawa : 65 Juta orang di Jateng-DIY-Jatim, 15 Juta orang di Jabar-Banten-Jakarta, 15 Juta orang di Sumatera, 2 Juta orang di Kalimantan, 3 Juta orang di Indonesia Timur, Malaysia.

    •Data 200 orang konglomerat Indonesia dengan harta diatas Rp. 300 Miliar : 140 orang etnis WNI Tionghoa, 28 orang etnis Jawa, 7 orang etnis Minang- Melayu, 5 orang etnis Arab-India, 5 orang etnis Sunda, 4 orang etnis Bugis, 4 orang etnis Batak, 7 orang lain (Aceh, Lampung, Sulawesi).

    •4.000 orang Indonesia dengan harta antara Rp. 50 Miliar-Rp. 300 Miliar : 34% etnis WNI Tionghoa, 34% etnis Jawa, 12% etnis Sumatera, 20% etnis lain.

    •400.000 orang kaya Indonesia dengan harta antara Rp. 1 Miliar-Rp. 30 Miliar : 42% etnis Jawa, 14,4% etnis Sunda, 11% etnis WNI Tionghoa, 9% etnis Minang-Melayu, 4% etnis Batak, 4% etnis Bugis-Makassar, 3,7% etnis Banten-Betawi, 3,7% etnis Madura, 8,2% etnis lain (Aceh, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Minahasa, Toraja, Mandar, Maluku, Papua, WNI keturunan Arab-India-Eropa). Profesi : 35% pengusaha UKM, 25% pejabat (pejabat PNS, pejabat BUMN, anggota DPR/DPRD, perwira TNI-Polri), 20% profesional (pengacara, dokter, notaris, pemasar, dosen, TKI, teknokrat, arsitek, artis), 20% eksekutif swasta.

    •Profesi etnis Jawa kaya : 50.000 orang pejabat negara, 62.000 orang pengusaha UKM, 20.000 orang dokter, 20.000 orang profesional, 16.000 orang swasta.

    •Wilayah orang kaya Indonesia : Jateng-DIY-Jatim 120.000 orang, Jakarta 80.000 orang, Jabar-Banten 80.000 orang, Sumatera 60.000 orang, Indonesia Timur 35.000 orang, Sulawesi 25.000 orang. Daerah etnis Jawa kaya : Jateng-DIY-Jatim 98.000 orang, Jakarta-Jabar-Banten 45.000 orang, luar Jawa 25.000 orang.

    •35 Juta keluarga kelas menengah Indonesia : 47% etnis Jawa, 20% etnis Sunda-Banten-Betawi, 13% etnis Sumatera, 16% etnis lain, 4% etnis WNI Tionghoa.

    •Kepemilikan rumah di Indonesia : 40% Jateng-DIY-Jatim, 28% Jakarta-Jabar-Banten, 18% Sumatera, 4% Sulawesi, 3% Kalimantan, 7% Bali-NTB-NTT-Papua.

    •Kepemilikan mobil di Indonesia : 30% Jateng-DIY-Jatim, 23% Jakarta, 17% Jabar-Banten, 16% Sumatera, 5% Kalimantan, 5% Sulawesi, 4% Indonesia Timur.

    •Simpanan perbankan di Indonesia : 48% Jakarta, 17% Jateng-DIY-Jatim, 13% Sumatera, 10% Jabar-Banten, 5% Kalimantan, 3% Sulawesi, 4% daerah lain.

    •Penduduk Jakarta : 35% etnis Jawa, 27% etnis Betawi, 15% etnis Sunda, 6% etnis WNI Tionghoa, 5% etnis Minang-Melayu, 4% etnis Batak, 8% etnis lain.

    •80.000 orang kaya Jakarta : 35% etnis Jawa (pejabat PNS), 20% etnis WNI Tionghoa, 15% etnis Sunda, 10% etnis Betawi, 10% etnis Minang, 10% etnis lain.

    • Afandri Adya mengatakan:

      Terima kasih Sdr. Regina atas komentarnya. Saya salut dengan Anda, yang memiliki data sebegitu rinci. Ini data per kapan ? Apakah semua data-data ini valid ?

  8. banci_alkohol mengatakan:

    Bapak Taufik Kiemas tu memang keturunan minang, silakan baca di sini :

    http://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Kiemas

    dan Chairul Tanjung pun juga keturunan minang sukunya saja suku tanjung, hanya kebetulan saja ayahnya merantau ke Tapanuli, Sumatera Utara.

    • hirass mengatakan:

      Orangnya sendiri pak chairul tanjung ngaku orang batak bukan orang minang. ngak malu orang minang mengklaim seseorang itu minang padahal bukan

  9. hengky mengatakan:

    chairul tanjung keturunan minang yang orang tuanya sudah lama bermukim di sibolga, perlu anda ketahui jumlah orang minang di sibolga itu bukan sedikit, dan anda perhatikan aja siaran trans 7, selalu berisikan tentang minangkabau, dan jarang berisikan adat batak.

    • hirass mengatakan:

      Lihat di wikepedia, dan waktu kunjungan pak chairul tanjung ke medan, dia sendiri mengaku bahwa dia adalah keturunan batak-sunda, yang ayahnya dari sibolga. saya asli tapanuli tengah, bahwa marga tanjung disana tak perna bilang bahwa mereka adalah minang (padang), jangan mengada-ada melakukan pembodohan publik. Minang itu masih kalah sama batak dalam pencapaiaan apapun. Lihat di pasar senen siapa yg menguasai dan di mangga dua lebih banyak batak disana dari pada minang di jatinegara, dan orang batak ada pemain bolanya di liga dunia serie A Radja Nainggolan, seorang jenderal besar amerika bang humprei samosir, jesse hutagalung petenis dunia belanda, dan gayus tambunan koruptor no. 1 indonesia hehehehehehhe

  10. hengky mengatakan:

    dan taufiq kiemas itu punya bapak orang melayu palembang, dan ibunya dari minangkabau

  11. okta mengatakan:

    AG. (Abdul Ghafar) Tanjung, ayahnya CT, apakah lebih mendekati nama orang batak atau nama orang minang? saya pernah bekerja di PARA grup jakarta dari 2004-2009, dan dari sodara2/sepupu CT mengatakan kalau beliau adalah orang minang. wallahu alam..

    • hirass mengatakan:

      Orangnya sendiri pak chairul tanjung yg bilang dia batak – sunda, kalau nama bisa aja dibuat2 seperti orang chinese namanya Budiarto, Budianduk, dll. Tanjung nama dibelakang itu bukan suku, tapi marga tanjung.

    • Kaleandra mengatakan:

      Pokoknya ibunya Chairul Tanjung itu orang Sunda, Sukabumi. Tapi kalo ayahnya kayaknya Minang Kebatak-batakan. :) Tapi EGP yang penting Chairul Tanjung bilang Ibunya lah yang paling penting di dalam proses kehidupannya. Alhamdulillah ada konglomerat yang Islami. Buah didikan perempuan Sunda yang lebih mengutamakan agama daripada budaya. Beda sama wanita Jawa yang lebih mengutamakan budaya di atas agama, makanya gedenya anak2nya pada kaya tapi kufur.

      Sunda + Minang : IDEAL

    • maerlybryan2@gmail.com mengatakan:

      (Abdul Ghafar) Tanjung, nama minang apa nama muslim..??

  12. sabai nan aluih mengatakan:

    orang batak itu cuma membanggakan diri aja, saya salut dg org minang klw adu mulut lebih tenang dr pd batak yang ga jelas ingin menang selalu… klw anda pikir pas memerdekakan indonesia ini adakah org batak yang jd proklamator?? #thinkagain

    • hirass mengatakan:

      Coba belajar sejarah …. Siapa perdana menteri Indonesia pertama, siapa jenderal bintang 5, adakah orang suku lain disitu kecuali jawa dan batak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s