Perantau Minang di Malaysia

Posted: Desember 6, 2010 in Sosial Budaya
Tag:, , , , ,

Tokoh-tokoh Minang dalam pecahan mata uang Dollar, Ringgit, dan Rupiah

Abdul Aziz Ishak, pada tahun 1983 pernah menulis buku berjudul : “Mencari Bako”. Konon buku ini ia tulis karena kebanggaannya sebagai orang keturunan Minang yang banyak mencipta peradaban di kedua belah negeri, Indonesia dan Malaysia. Walau menurut adat Minangkabau yang matrilineal itu, Aziz tak “benar-benar sebagai orang Minang”, namun kegalauannya mencari keluarga ayah (bako dalam istilah Minangkabau), mendorongnya untuk menulis buku setebal 155 halaman. Dalam buku itu diterangkan, bahwa Aziz merupakan generasi kelima keturunan Datuk Jannaton, anggota keluarga Kerajaan Pagaruyung yang meneroka Pulau Pinang di awal abad ke-18. Walau jauh sudah pertautan Aziz dengan ranah Minang, namun rasa keminangannya itu masih perlu ia nukilkan. Dari catatan ini, terungkap pula nama Jamaluddin atau Che Din Kelang, seorang kaya Minangkabau asal Kelang Selangor, yang menikahi emak tua-nya Aishah. Kini keturunan Datuk Jannaton telah menyebar ke serata dunia, dan banyak dari mereka yang “menjadi orang”. Selain Aziz Ishak yang pernah menjabat menteri pertanian Malaysia, saudara tertuanya Yusof Ishak sukses menjadi Presiden Republik Singapura yang pertama.

Kisah lainnya datang dari Rais Yatim, yang saat ini menjabat sebagai menteri komunikasi, informasi, dan kebudayaan Malaysia. Rais lahir dari pasangan Mohammad Yatim dan Siandam asal Palupuh, luhak Agam. Orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang, telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1920-an. Dalam sebuah autobiografinya, Rais menulis seluk beluk memasak rendang, masakan Minangkabau yang telah mendunia. Rais mencatat, ada tiga kunci memasak rendang agar terasa nikmat : pertama cukup kelapa dan ramuan, kedua mesti dikacau berterusan, dan ketiga apinya jangan besar. Komentar Rais mengenai rendang, melengkapi pengamatannya tentang adat perpatih yang berhulu di Minangkabau. Ternyata kecintaan Rais akan budaya Minang, bukan sebatas masakannya saja. Gaya rumah yang dibangunnya-pun, mengikuti arsitektur Minang beratapkan gonjong. Seperti banyak perantau Minang lainnya yang sukses berkarya di seantero jagad, Rais juga memiliki sifat demokratis dan egaliter. Selain itu karakter Minang yang melekat pada dirinya adalah, ia orang yang berprinsip, mudah bergaul, tahu dengan ereng dan gendeng, serta alur dan patut.

Keluarga kerajaan Negeri Sembilan, yang berketurunan raja-raja Pagaruyung, banyak pula yang tampil ke muka. Pada tahun 1957, pasca lepasnya negeri-negeri Semenanjung dan Borneo Utara dari penjajahan Inggris, Tuanku Abdul Rahman terpilih sebagai Yang Dipertuan Agung Malaysia pertama. Tidak seperti halnya Rais Yatim dan juga Ishak bersaudara yang mencuat di panggung politik berkat profesionalitas ataupun keilmuannya, pengangkatan Abdul Rahman sebagai ketua Kerajaan Malaysia, lebih dikarenakan kewibawaannya di tengah raja-raja yang lain. Tahta ini merupakan jabatan bergilir, yang diberikan kepada semua raja yang masuk ke dalam persekutuan Malaysia. Setelah Abdul Rahman, Jafar-lah orang Negeri Sembilan berikutnya yang menjabat posisi tesebut. Seperti halnya gambar Mohammad Hatta dalam salah satu pecahan rupiah, dan Yusof Ishak dalam pecahan dollar Singapura, diabadikannya Abdul Rahman pada salah satu pecahan mata uang ringgit, menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang-orang Minang. Satu lagi yang mencuat dari keluarga kerajaan Negeri Sembilan adalah Tuanku Tan Sri Abdullah, yang merupakan putra Tuanku Abdul Rahman. Keberhasilannya membangun serikat niaga Melewar Corporation, telah mengantarkannya sebagai salah satu miliarder Malaysia terkemuka.

Rais Yatim menyambut Minangkabau Food Festival di Kuala Lumpur

Muszaphar Shukor, contoh suskes ilmuwan Minang di Malaysia. Angkasawan pertama negeri jiran ini, dalam suatu kunjungannya ke Indonesia mengaku berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Walau Payakumbuh merupakan kampung neneknya, namun Muszaphar masih menganggap ranah Minang sebagai asal usulnya. Profesi Muszaphar, sebenarnya adalah seorang dokter ortopedi. Namun perjalanan karirnya, telah mengantarkan ia lepas landas ke luar angkasa. Perjalanannya ke dunia luar itu, masih berkait erat dengan dunia kedokteran yang selama ini ia geluti. Dia bereksperimen mengenai karakteristik dan perkembangan sel-sel kanker hati dan leukimia, serta kristalisasi berbagai protein dan mikroba pada gravitasi rendah. Kepergiannya ke luar angkasa pada Oktober 2007 lalu, tidak hanya membanggakan masyarakat Minangkabau dan Malaysia, namun juga mengangkat harkat dan martabat bangsa Melayu secara keseluruhan.

Perantau lainnya adalah Tahir Jalaluddin. Salah satu dari banyak ulama Minangkabau yang sukses berkarya di Malaysia. Ulama tamatan Al Azhar Kairo ini, merupakan sosok pekerja keras kelahiran Ampek Angkek, Agam. Usahanya dalam menyebarkan paham modernisme kepada masyarakat Islam semenanjung, telah banyak melahirkan ulama-ulama Melayu puritan yang revolusioner. Majalah Al-Iman, merupakan bentuk nyata kontribusi Syeikh Tahir dalam membangun keislaman di Malaysia. Walau cikal bakal kemunculan majalah tersebut ada di Singapura, namun tingginya mobilitas para pembaca Al-Iman, juga turut mempengaruhi proses pembaharuan di Malaysia. Kerasnya Tahir Jalaluddin dalam mendidik, melahirkan seorang lagi politisi Minang yang sukses di Malaysia. Dia adalah Tun Hamdan Syeikh Tahir, yang merupakan putra kandung Syeikh Tahir sendiri. Dalam perjalanannya Hamdan muncul sebagai pendidik Malaysia yang kesohor, dan menjadi pejabat gubernur Pulau Pinang (1989-2001). Kontribusi Hamdan membangun peradaban Malaysia, telah menempatkannya sebagai salah seorang yang sedikit mendapatkan gelar Tun.

Satu lagi nama yang mencuat di Malaysia adalah Ibrahim Anon. Hobi menggambar dan profesinya yang pelukis, telah mengantarkan Ibrahim sebagai kartunis Malaysia kelas wahid. Melalui majalah humor Gila-gila, Ibrahim menciptakan tokoh Ujang. Watak Ujang yang coba disampaikannya dalam visual humor itu, merupakan karakter yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Malaysia. Ketokohan Ujang, membuat namanya lekat di hati. Walau nama Ibrahim tinggi menjulang, namun ia tak pernah lupa dengan asal usulnya di Minangkabau. Drama televisi “Aku Budak Minang, Atuk dan Aca”, merupakan wujud ketaklupaan Ibrahim kepada ranah tumpah darahnya.

Keluarga Saidi, Adnan beserta adik-adiknya Ahmad dan Amarullah, merupakan keluarga pejuang Malaysia yang selalu dikenang. Dibanding kedua saudaranya, Adnan merupakan prajurit Minang yang cemerlang. Pada tahun 1933 ketika berusia 18 tahun, ia bergabung dalam Resimen Melayu. Setahun kemudian, dia terpilih sebagai anggota terbaik. Dalam pertempuran di Bukit Candu, karir militer Adnan berakhir tragis. Serangan besar-besaran tentara Jepang, telah menewaskannya dan banyak tentara Melayu lainnya. Keberanian Adnan Saidi bersama batalion pertama dan kedua Resimen Melayu dalam mempertahankan Pasir Panjang, menjadi salah satu episode yang kekal dalam lipatan sejarah Malaysia.

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi sosok yang menorehkan tinta emasnya di gelanggang kehidupan jiran Malaysia. Zulhasril Nasir dalam bukunya “Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau” mencatat, setidaknya ada puluhan perantau Minang yang menjadi tokoh pergerakan di Malaysia. Mereka antara lain Ahmad Boestamam, Rashid Maidin, Sutan Jenain, dan Shamsiah Fakeh. Selain itu masih ada nama-nama yang duduk di kursi kementerian seperti Abdul Samad Idris dan Amirsham Abdul Aziz, serta Tan Sri Norma Abbas wanita pertama yang menjabat hakim besar Malaysia. Aznil Nawawi, Azmyl Yunor, dan Sheila Madjid yang kesemuanya berprofesi sebagai artis, menambah panjang deretan nama perantau Minang yang sukses di Malaysia.

Istana Lama Seri Menanti, Negeri Sembilan, berarsitekturkan Minang

Komentar
  1. arset kusnadi mengatakan:

    Perkenalkan saya Arset Kusnadi. Sehari-hari bekerja sebagai Koresponden SCTV Wilayah Sumatera Barat. Tugas saya sebagai wartawan yang meliput segala kejadian dan berita di Ranah Minang.
    Saat ini, di lingkungan saya tinggal, daerah Gurun Laweh kec.Nanggalo, warganya terutama anak muda, tengah giat dan bersemangat membangkitkan Budaya Minang yang sudah mulai terkubur masa.
    Seperti Kesenian Randai, Tari Minang, Surahan Adat Minang, Saluang, Talempong, Mc Baralek, Serak Bareh Kuniang, Tagak Gala dll.

    Namun sejumlah kendala, tidak bisa kami pecahkan sendiri, terutama masalah dana. Berbagai perlengkapan yang kami butuhkan, tak sanggup kami adakan karna tidak ada biaya.
    Seperti baju randai, talempong set, gendang, tasa, car, Gendang dangdut, rabana jembe, pakaian tari, pakaian Pengantin, sound system.
    Akibat ketiadaan itu, kami baru berlatih seadanya tanpa perlengkapan tersebut.
    Semangat yang kami punya saat ini, mohon bagi Dunsanak dimanapun berada agar bisa di salurkan. Sebab kami takut, gejolak jiwa muda kami, justru salah jalan dan terpeleset ke arah yang tidak baik, seperti kenakalan remaja dan narkoba yang sangat kami takuti.
    Untuk itu kami berharap, sudi kiranya Dunsanak membantu kami.

    Saya yang di tugasi sebagai salah seorang pencari sumber dana, berikut melampirkan Proposal yang sudah kami susun.

    Jika Dunsanak bersedia membantu, bisa hubungi saya melalui email; arsetkusnadi@yahoo.com atau telpon 0751-8500484 atau 082173030705
    atau bisa juga Herman Rajo Nan Sati 082170968605
    Proposal ini resmi dan diketahui Lurah Gurun Laweh dan Camat Nanggalo.

    Semoga ini menjadi amal bagi dunsanak di rantau dan kebaikan bagi kami di kampung.

    amiiin.

    Hotmat saya

    Arset Kusnadi

    • Afandri Adya mengatakan:

      Sanak Arset, coba ajukan proposal Anda ke badan-badan resmi perantau Minangkabau. Selain Gebu Minang, ada pula Yayasan Rantau Net yang peduli dan mau membantu mengenai masalah-masalah keminangan. Semoga sukses selalu.

  2. Dato Md Dakhiyar Hj Amir mengatakan:

    Saya juga org minang di Malaysia yang dikhabarkan dari salahsilah Haji Miskin Bonjol yang lari dari penjajah Belanda terus ke Tanah Melayu dan menetap di kaki Gunung Jerai, Negeri Kedah. Saya sendiri dilahirkan di Kaki Gunung Jerai, Gurun, Kedah namanya.

    • Afandri Adya mengatakan:

      Terima kasih atas apresiasi dan kunjungan Anda ke blog yang sederhana ini. Senang sekali berkenalan dengan Anda Dato, yang masih memiliki ranji/silsilah keluarga yang berasal dari ranah Minangkabau.

      • Dato Md Dakhiyar Hj Amir mengatakan:

        Salam Pak Afandri. Jika Pak Afandri mau lihat sendiri hasil penulisan saya warisan Pak Hamka sila kunjungi Facebook saya diatas nama Md Dakhiyar Hj Amir pak. Mungkin Pak Afandri bisa menilai di zaman warisan mana asal usul saya pak. Pak Dahlan Iskan dari Jawa Post dulu pernah mau membukukan penulisan saya, tetapi malangnya diatas kajian pasaran, penulisan saya mungkin belum bisa diterima masyarakat Indonesia. Maka hasrat nya mau membukukan masih terbengkalai. Org minang yg asli sangat kuat tauhidnya. Maka pak afandri bisa lihat kekuatan Tauhid didalam penulisan saya. Senang sekali dapat bersama Pak Afandri. Terus berhubungan Pak sama saya di Malaysia.

  3. Afandri Adya mengatakan:

    Baik Pak, semoga jalinan ukhuwah Islamiyah kita terus berlanjut.

  4. Amir Baharudin mengatakan:

    Sanak Afandri, Ambo lahir di Malaysia. Amak ambo urang Ocu Bangkinang,Kampar dan Ayah urang Sg Sariak, Piaman. Apakah urang Kampar itu keturunan Minang? Apabila saya tanya soalan yg sama kpd urang Ocu, jawaban mereka sebaliknya, urang Minang itu berasal dari Kampar – Minanga Kamwar/Tamwar/Kabua, Muaro Takus sekarang. Apo komentar sanak?

  5. Afandri Adya mengatakan:

    Salam kenal Pak Amir Baharudin. Seperti yang kita ketahui, semua peradaban-peradaban besar bermula dari wilayah yang subur, tempat dimana manusia bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Poerbatjaraka dalam kajian sejarahnya pernah mengatakan bahwa asal usul peradaban Minangkabau berada di hulu Sungai Kampar (Minanga Kamvar), yaitu di daerah subur Luhak nan Tigo — yang meliputi Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Kota. Para ahli adat dan sejarawan mempercayai, bahwa di daerah inilah adat Minangkabau disusun, yang kemudian juga dipakai dan menyebar ke wilayah rantau. Thomas Stamford Raffles, — setelah melakukan ekspedisi dan kunjungan ke Pagaruyung — berkesimpulan bahwa Pagaruyung (Luhak nan Tigo) merupakan sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Nusantara.

    Dalam perkembangan selanjutnya, banyak penduduk Luhak nan Tigo yang merantau. Faktor ekonomi, pendidikan, dan adanya konflik peperangan, menjadi faktor utama perginya sebagian besar masyarakat Luhak nan Tigo dari kampung halamannya. Mereka menuju pantai barat Sumatera, dan membentuk koloni dagang dari Meulaboh, Tapaktuan, Singkil, Barus, Sibolga, Natal, Pariaman, Padang, Painan, Indrapura, hingga Bengkulu. Sebagian lagi pergi ke arah timur, mengikuti arus sungai Rokan, Kampar, Siak, Kuantan, Batanghari, dan membentuk kampung di sealiran sungai-sungai ini. Diantaranya di Dalu-dalu, Bangkinang, Kuok, Air Tiris, Senapelan (Pakanbaru), Taluk Kuantan, dan Muaro Bungo. Pada abad ke-14, rantau Minangkabau terus berkembang hingga ke Batubara, Siak Sri Inderapura, Muaro Jambi, dan menyeberangi Selat Malaka. Di Semenanjung Malaysia, orang-orang Minang banyak meneruka daerah-daerah baru, seperti Pulau Pinang, Kuala Pilah, Rembau, dan Seremban. Tiga daerah terakhir ini, akhirnya membentuk konfederasi Negeri Sembilan.

    Jadi kalau dikaji asal-usulnya, masyarakat-masyarakat yang ada di sepanjang pantai barat Sumatera dari Aceh hingga Bengkulu, di daratan Riau (Rokan Hulu, Kampar, Kuantan, dan Indragiri Hulu), di pesisir timur Sumatera dari Batubara hingga ke Jambi, terus ke Negeri Sembilan, memiliki asal usul dan sumber adat yang sama yaitu dari Luhak nan Tigo, yang kemudian mereka semua itu dikenal sebagai etnis Minangkabau.

  6. Amir Baharudin mengatakan:

    Mokasiah atas penjelasannya. Saya adalah Presiden Persatuan Masyarakat Kampar Malaysia (IKMAL). Kami akan mengadakan seminar ‘ Sejarah Masyarakat Kampar Di Negeri2 Melayu dan Sumbangannya Mendirikan Negara Bangsa Malaysia’ pada Sabtu 3 November ini. Kami mengundang 3 orang pamakalah dari Bangkinang dan 2 orang dri Istana Pagaruyuang. Dt Seri Utama Dr Rais Yatim, Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia telah pun kami undang untuk meresmikannya.Sudi kiranya sanak turut serta. Kami akan sediakan penginapan, makan dan transportasi semasa di KL dri tgl 2 sampai 4 Nov.

  7. Afandri Adya mengatakan:

    Terima kasih atas undangannya Pak Amir. Bila-bila sempat saya ke KL, saya akan singgah di kantor IKMAL. Salam untuk masyarakat Kampar di Malaysia Pak. Semoga acara yang Bapak helat berjalan dengan lancar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s