Sumatra, Dalam Pandangan Orang Malaysia

Posted: Mei 11, 2011 in Sosial Budaya
Tag:, , , , ,

Teritori Aceh yang meliputi Semenanjung Malaysia

Karuan saja bunyi posting Mohd. Am, salah seorang netter asal Malaysia, dalam sebuah forum dunia maya : www.topix.com. Dalam tulisannya, dia mengklaim bahwa Sumatra merupakan bagian dari Malaysia. Pernyataan ini didasarkan atas teritori Kesultanan Johor di abad ke-18, yang meliputi daratan Riau di Sumatra. Dalam konteks Riau pernah menjadi bagian Johor, memang tak ada yang salah. Namun dari judul yang diangkat : Sumatra itu Milik Malaysia, jelas merupakan bentuk provokasi yang jauh dari nilai-nilai ilmiah. Aksi ini tentu memancing banyak komentar dari para netter lainnya. Hingga tulisan ini diturunkan, telah ada 12.921 respons yang masuk ke dalam page diskusi ini. Sepanjang pengamatan saya — yang cukup sering mengunjungi website ini — mungkin posting Mohd. Am inilah yang paling banyak mendapatkan balasan.

Bukan kali pertama situs ini membuat geger masyarakat Indonesia. Sebelumnya seorang netter Malaysia lainnya, mengubah syair lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada yang merendahkan. Merasa terhina, aksi tersebut spontan dibalas netter asal Indonesia, yang mengacak-acak syair lagu kebangsaan Malaysia : Negaraku. Tidak hanya itu, puluhan demonstran yang tergabung dalam kelompok Bendera, juga melempari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan plastik berisi kotoran manusia. Menurut koordinator aksi Adrian Napitupulu, tindakan tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk balasan atas klaim dan penghinaan yang dilakukan oleh bangsa Malaysia selama ini.

Mohd. Am sebenarnya bukanlah orang Malaysia pertama yang mendambakan bergabungnya Sumatra dengan Malaysia. Sebelumnya, sudah banyak pula rakyat Malaysia yang menginginkan hal tersebut. Cita-cita itu bahkan tak hanya di kalangan rakyat berderai, namun juga sampai ke tingkat elit pemerintahan Malaysia. Adanya rumor pembangunan jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Sumatra dengan Semenanjung, menjadi salah satu bukti keinginan tersebut. Bagi sebagian besar rakyat Malaysia, Sumatra merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan. Seperti halnya orang-orang Taiwan menganggap mainland China sebagai induk mereka, begitu pula masyarakat Malaysia memandang Sumatra. Pulau yang dijuluki dengan sebutan Suwarnadwipa itu, merupakan asal nenek moyang bagi 70% warga Melayu-Malaysia.

Rumah khas Minangkabau di Negeri Sembilan

Besarnya frekuensi penerbangan Kuala Lumpur-Padang di awal milenium ini, mencerminkan tingginya gairah warga Malaysia untuk mengunjungi sanak saudara mereka di seberang selat. Tanah Minangkabau, yang menurut penelitian Thomas Stamford Raffles sebagai sumber kearifan dunia Melayu, merupakan salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan Malaysia saat ini. Sebuah biro perjalanan lokal mencatat, sebanyak 3.500 turis asal Malaysia datang mengunjungi Sumatra Barat (Sumbar) setiap minggunya. Roslina, sebut saja begitu, adalah salah seorang warga Malaysia yang acap menyambangi Sumbar. Walau tergolong renta, namun hal itu tak menghalanginya untuk kembali datang ke luhak nan tigo — sebutan untuk dataran tinggi Minangkabau yang menjadi tempat asal sebagian orang Malaysia. Menurutnya, kunjungan kali ini bertujuan untuk mencari sanak keluarga yang telah terpisah sejak puluhan tahun lampau. Hampir setiap bulan, ada puluhan Roslina lainnya yang datang mengunjungi Sumbar untuk mencari belahan famili mereka.

Minangkabau dan Malaysia memang memiliki keterikatan yang cukup kuat. Selain faktor sejarah dan politik, budaya nasional Malaysia-pun banyak menyerap unsur-unsur Minangkabau. Seperti sistem adat perpatih, seni bela diri pencak silat, hingga cara pengolahan kuliner. Kuatnya keterikatan Malaysia dengan Sumatra Barat, bisa terlihat dari besarnya bantuan pemerintah Malaysia kepada Pemda Sumbar. Mulai dari pembangunan infrastruktur, bantuan gempa 2009, hingga pemugaran Istana Basa Pagaruyung. Bahkan Rais Yatim, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia yang urang awak itu, menyokong diadakannya event tahunan Minangkabau Food Festival di Kuala Lumpur.

 
Sejarah Malaysia dan Sumatra

Kekuasaan Sriwijaya pada abad ke-8, yang sudah meliputi seluruh wilayah Malaysia

Di tilik secara historis, antara Sumatra dan Semenanjung memiliki kebersamaan politik yang cukup panjang. Pada abad ke-8 hingga 12, keduanya berada di bawah kekuasaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Ketika itu, kekuatan politik-ekonomi Sumatra menguasai hampir seluruh daratan Asia Tenggara, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kamboja, Thai, Vietnam, hingga Semenanjung Melayu. Dominasi Sriwijaya juga turut berperan dalam menyebarkan kebudayaan dan Bahasa Melayu ke seluruh Nusantara. Di penghujung abad ke-14, imperium ini mendapatkan serangan dari pasukan Majapahit. Putra mahkota kerajaan : Parameswara, berhasil melarikan diri ke Tumasik sebelum akhirnya berlabuh di kampung Malaka. Disini, atas bantuan Orang Laut, sang pangeran mendirikan Kerajaan Malaka. Berdirinya Malaka, mendorong terjadinya eksodus orang-orang Palembang ke Semenanjung. Disana mereka beranak-pinak, dan membawa kebudayaan serta kebiasaan hidup yang telah berlangsung lama.

Runtuhnya Imperium Sriwijaya, dilanjutkan oleh Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Minangkabau. Pada abad pertengahan, Pagaruyung merupakan salah satu kerajaan makmur di Nusantara. Kekayaannya disokong oleh hasil alam serta jaringan perdagangan yang cukup luas. Sejak abad ke-11, para saudagar Minang telah membangun koloni dagang mereka di sepanjang pantai barat Sumatra dan kedua belah sisi selat. Terbentuknya Negeri Sembilan, merupakan kerja besar para perantau Minang yang meneruka dan berniaga di wilayah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga berkontribusi dalam pembukaan Pulau Pinang serta beberapa areal hutan di wilayah Selangor. Kesultanan Johor-pun sempat dipimpin oleh seorang pengelana Minang, sebelum akhirnya diambil alih orang-orang Bugis-Makassar.

Pada masa pembentukan negara Malaysia modern, orang Minangkabau kembali memainkan peran. Yakni dengan diangkatnya Tuanku Abdul Rahman, salah seorang keturunan raja Pagaruyung, sebagai Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia. Konon kabarnya, beliau pernah meminjam emas kepada ahli waris Pagaruyung, untuk mengisi pundi-pundi negara yang baru itu. Menurut berita yang dilansir koran Kontan, pinjaman tersebut bernilai cukup besar. Jika dikonversi dengan kurs saat ini, mungkin setara dengan Rp 350 triliun. Entah benar entah tidak, sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak terkait dengan isu tersebut.

Air Asia, mengantar wisatawan Malaysia ke Minangkabau

Selain orang-orang Palembang dan Minangkabau, etnis Aceh-pun dianggap sebagai nenek moyang bangsa Malaysia. Menurut La Grand Encyclopedie, pada abad ke-16 Aceh telah meluaskan pengaruhnya ke seluruh utara Sumatra dan Semenanjung. Politik ekspansif ini, juga diikuti dengan perpindahan penduduk Aceh ke pantai barat Sumatra serta Semenanjung Malaysia. Kedah dan Perak, dua negara bagian di utara Malaysia, merupakan tempat dimana banyak dijumpai masyarakat keturunan Aceh. Selama masa pemerintahan Iskandar Muda (1607-1636), kontribusi Aceh atas negeri-negeri Melayu cukuplah besar. Berkat jasa beliau dan anak keturunannya, kebudayaan Melayu dipelihara dan dikembangkan. Kini warisan budaya yang dirawat bangsa Aceh sejak abad ke-17 itu, hendak diminta “paksa” oleh pemerintah Malaysia. Hal ini demi mewujudkan visi Malaysia 2020, sebagai pusat peradaban Melayu sedunia.

Bukan seperti yang diteriakkan oleh Mohd. Am beserta kroni-kroninya, fakta sejarah di atas jelas memperlihatkan betapa besarnya pengaruh Sumatra atas keberadaan Malaysia saat ini. Dan berkaca dari realita tersebut, perlu pula dipertimbangkan untuk membuat slogan Malaysia yang baru : “Malaysia is replica of Sumatra“. Hal ini mungkin sebagai langkah awal, untuk mewujudkan Sumatra-Malaysia bersatu.

 
Sumber peta : www.wikipedia.org

Komentar
  1. Witrianto Chaniago mengatakan:

    Ketika saya mengajar mata kuliah Sejarah Melayu di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Andalas tahun 2002 (sebelum adanya klaim rendang, batik, dan reog oleh Malaysia), ketika ujian Mid Semester, dalam salah satu soal saya membuat pertanyaan sbb:
    “Sultan Deli, sewaktu peristiwa PRRI akhir tahun 1950-an, pernah menyatakan bahwa satu2nya cara supaya rakyat Sumatera bisa hidup makmur, kita harus bergabung dg Malaya, bagaimana pendapat anda?”
    Setelah lembar jawaban dikumpulkan, yang membuat saya terkejut adalah, ternyata semua mahasiswa yang berjumlah lebih dari 50 orang, menyatakan setuju dg pendapat Sultan Deli tersebut dengan alasan yg berbeda2. Secara umum sebagian besar mengatakan bahwa budaya kita jauh lebih dekat dengan Malaysia ketimbang Jawa yg terlalu mendominasi warna budaya Indonesia.
    Tujuan saya menuliskan pengalaman saya ini bukanlah untuk provokasi, tapi hanya sebagai renungan bagi kita semua.
    Terima kasih. jazakumullah

    • Afandri Adya mengatakan:

      Terima kasih Pak Witrianto atas komentarnya. Wacana bergabungnya Sumatra dengan Malaya, sebenarnya sempat dihembuskan oleh pemerintahan Dai Nippon (Jepang) yang berkuasa di Asia Timur pada masa Perang Dunia II. Mereka berpendapat, antara Sumatra dan Semenanjung Malaya memiliki kebudayaan dan bahasa yang lebih dekat, tenimbang dengan Jawa. Namun rencana ini gagal terwujud, dikarenakan kehendak para pendiri bangsa kita yang ingin menggabungkan eks-Hindia Belanda menjadi satu kesatuan. Konsep penggabungan eks-Hindia Belanda ini sebenarnya disusun oleh Mohammad Hatta, yang berlawanan dengan konsep Soekarno. Konsep Soekarno, yang bercikal bakal dari pemikiran Tan Malaka dan Mohammad Yamin, berkeinginan untuk menggabungkan seluruh negeri-negeri Melayu (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan) menjadi satu negara. Namun wacana ini ditolak ketika sidang penentuan batas-batas negara. Setelah Hatta mengundurkan diri pada tahun 1956, dan Soekarno tampil sebagai pemimpin tunggal republik, hasrat untuk menggabungkan Malaysia kembali menggelora. Oleh karenanya ketika negeri-negeri Semenanjung Melayu membentuk Federasi Malaysia, Soekarno menantangnya dengan politik “Ganyang Malaysia.”

      Soal kemakmuran Sumatra dewasa ini, tidaklah merisaukan buat saya. Di tengah-tengah bangsa Melayu, mungkin orang-orang di Sumatra-lah yang paling makmur kehidupannya. Hal ini terjadi tanpa harus menerapkan politik diskriminasi ala Malaysia. Menurut Anthony Reid dalam bukunya “Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia,” dikatakan bahwa rakyat Sumatra cukuplah makmur diantara masyarakat Kepulauan Nusantara lainnya. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat kepemilikan kendaraan bermotor serta pesawat televisi per rata-rata penduduk. Reid menambahkan bahwa diantara masyarakat Kepulauan Nusantara, orang Sumatra-lah yang paling lama mengenyam bangku pendidikan. Keterangan Reid inilah, ditambah laporan dari para peneliti lainnya, yang meyakinkan saya bahwa rakyat Sumatra cukuplah makmur. Justru kemakmuran Malaysia sekarang ini boleh jadi berkat usaha orang-orang keturunan Sumatra disana. Dari data yang tersedia, terlihat banyak sekali perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh masyarakat keturunan Sumatra, dibandingkan dengan orang-orang asli Semenanjung. Begitu pula halnya di bidang politik serta budaya, lebih banyak masyarakat Sumatra yang berjaya dibandingkan dengan penduduk asli Malaysia sendiri.

      Soal dominasi budaya Jawa di Indonesia, saya kurang sependapat dengan hal ini. Kalau kita tanyakan kepada para budayawan Jawa, justru mereka merasa terpinggirkan dengan banyaknya corak budaya Sumatra di dalam kebudayaan nasional. Yang pokok dan terpenting adalah soal bahasa. Dalam Sumpah Pemuda yang kemudian dikukuhkan dalam UUD 1945, Bahasa Melayu-nya orang Sumatra terpilih sebagai bahasa nasional. Bahasa Jawa, yang menjadi pengantar bagi sepertiga penduduk Indonesia — lebih banyak ketimbang pengguna Bahasa Melayu — harus mengalah untuk kemudian hanya ditempatkan sebagai bahasa daerah. Di samping itu adalah budaya demokrasi, yang sejak tahun 1998 kembali diterapkan di Indonesia. Dimana budaya demokrasi yang “duduk sama rendah berdiri sama tinggi itu”, lebih mencerminkan kultur Sumatra dibandingkan Jawa. Orang Jawa, kecuali masyarakat pesisir utara pada batas-batas tertentu, tak pernah mengenal istilah berdemokrasi. Lain halnya dengan orang-orang Sumatra, yang sejak lahir telah memiliki hak untuk bersuara. Berbicara tentang sastra dan musik, akan terlihat pula banyaknya warna Sumatra dalam kedua-dua hal tersebut. Seperti misalnya budaya petatah-petitih, pantun, dan gurindam dalam sastra, ataupun orkes Melayu di bidang musik. Jadi dalam negara Indonesia yang majemuk ini, ada baiknya budaya-budaya lokal terus dikembangkan untuk mengisi kebudayaan nasional. Sehingga tak ada satupun unsur budaya yang terlalu dominan di dalamnya.

  2. irma mengatakan:

    saya sbenarnya sedih dg masalah Indonesia dan Malaysia yg berlarut2….pdhl serumpun tp brantem trus….apalgi klo Amerika ikut memperkeruh keadaan. Seharusnya ngara2 yg serumpun bersahabat saling membantu bukan saling hina. perpecahan antar sukupun membuat saya khawatir dan bertanya2 apa 10 th lg papua dan aceh msh menjadi bagian dr NKRI.

  3. aryofri afan mengatakan:

    saya seorang mahasiswa andalas univesity program studi hubungan Internasional merasa sangat terbantu dengan tulisan ini dalam proses penelitian saya, menyangkut kepentingan nasional Malaysia di sumatera barat khususnya…yang saya ingin ketahui lebih dalam bagaimana pandangan para elit di malaysia terhadap sumatera barat melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan..mohon dibantu..

    • Afandri Adya mengatakan:

      Sdr. Aryofri, untuk menelaah hubungan antara Malaysia dan Sumatera Barat (serta Indonesia secara umum), ada baiknya baca : The politics of Indonesia-Malaysia Relations : One Kin, Two Nations, tulisan Joseph Chin Yong Liow.

  4. MF mengatakan:

    saya warga Malaysia berketurunan Melayu Aceh menyokong penuh penyatuan Malaysia-Sumatera, doktrin ini bukan saja ujud baru2 ini, malah sejak tahun 1950an lagi selepas Indonesia mengkhianati Sumatera, saya yakin jika diberi referendum, pasti Sumatera memilih merdeka dari terus bergabung dengan kolonial Indonesia yang semakin tidak jelas, mereka di sana selalu bilang ‘NKRI Harga Mati’ tapi mereka sendiri yang membuat NKRI terus mati dengan tindakan mereka dengan melakukan pengkhianatan demi pengkhianatan..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s