Archive for the ‘Biografi’ Category

Chairil AnwarAku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida
 
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunya-kumamah
 
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
 
Penggalan Puisi Merdeka oleh Chairil Anwar

 

Mungkin banyak orang yang melewatkan membaca puisi-puisi Chairil Anwar. Alasannya tentu bermacam-macam. Kebanyakan berpendapat, puisi-puisinya terlalu rumit, melankolis, dan agak membingungkan. Namun bagi seorang Goenawan Mohamad, puisi-puisi Chairil cukup menginspirasi dirinya. Banyak Catatan Pinggir Goenawan, yang bermula dari semangat-semangat Chairil. Beberapa hari yang lalu di harian Sinar Harapan, saya membaca tulisan Mohammad Sobary. Dalam artikelnya, budayawan ini hendak menggugat rasa keberpihakan dan kebanggan bangsa Indonesia terhadap yang berbau-bau asing. Seperti Goenawan, Sobary memulainya dengan potongan puisi karya Chairil. Mungkin Sobary ingin mengambil spirit Chairil pula. Yang meski telah wafat lebih dari 60 tahun, namun masih memberikan api kepada bangsa Indonesia.

(lebih…)

Agus Salim

Rosihan Anwar, kerap menyebut para founding fathers asal Minangkabau sebagai seorang yang gilo-gilo baso (nyentrik atau gendeng dalam istilah Jawa). Hal ini berdasarkan pengamatannya selama bergaul dengan tokoh-tokoh tersebut, sejak zaman pergerakan hingga masa kemerdekaan. Jika diperhatikan dan diinap-inap, perkataan jurnalis kawakan itu ada benarnya. Penulis mencatat, hampir keseluruhan para pendiri bangsa yang berasal dari ranah Minang, memang memiliki sikap yang eksentrik. Sebut saja misalnya Tan Malaka, yang gila berkelana demi kemerdekaan Indonesia sampai lupa menikah. Hatta yang selalu tepat waktu, tak mau terlambat barang semenit-pun. Mohammad Yamin, seorang ahli mitos yang asik mendalami budaya-budaya kuno. Atau Buya Hamka yang keranjingan menulis, hingga melahirkan puluhan buku agama, filsafat, sejarah, dan cerita fiksi. Satu lagi tokoh Minang yang eksentrik adalah Haji Agus Salim. Setidaknya, politisi yang dijuluki Orang Tua Besar (The Grand Old Man) itu, memiliki tujuh karakter nyentrik.

(lebih…)

Anggun C. Sasmi (sumber : kapanlagi.com)

Siapa yang tak kenal Anggun C. Sasmi, penyanyi Indonesia yang sukses berkarier di blantika musik mancanegara. Wanita kelahiran Jakarta 29 April 1974 ini, berhasil menggapai mimpi-mimpinya setelah pergi merantau ke Perancis. Atas bantuan seorang produser besar : Erick Benzi, pada tahun 1997 Anggun meluncurkan album internasional pertamanya yang berjudul “Au nom de la lune”. Di bawah bendera Sony Music International, album ini dipasarkan di 33 negara dan mencetak penjualan cukup besar. Lagu “Snow on the Sahara” yang berhasil meraih peringkat pertama dalam tangga lagu Asian United Chart, French Airplay Chart, dan Italian Singles Chart, merupakan singel terfavorit pada album tersebut.

Lewat album ini pula namanya mulai meroket. Di ajang penghargaan tertinggi industri musik Perancis, Victoires de la Musique, Anggun masuk nominator sebagai “Pendatang Baru Terbaik”. Berkat kesuksesannya itu, ia beberapa kali diwawancarai televisi Amerika dan tampil dalam salah satu acara bergengsi : The Rosie O’Donnell Show. Selama berkarier, ia telah menghasilkan lima album internasional yang dinyanyikan dalam beberapa bahasa. Anggun juga memperoleh banyak penghargaan, seperti Diamond Export Award, The Cosmopolitan Asia Women Award, dan The Women Inspire Award. Namun dari semua penghargaan itu, yang paling mengesankan adalah Chevalier des Arts et Lettres dari pemerintah Perancis. Penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan atas kontribusinya dalam menyebarkan kultur Perancis ke seluruh dunia.

(lebih…)

Djamaludin Malik (kanan) mendampingi ibu negara Fatmawati dalam peresmian FFI I 1955

Big Boss, begitu panggilan akrab yang disematkan para seniman Senen, kepada raja film Indonesia : Djamaludin Malik. Sapaan ini muncul, lantaran ia kerap membantu para artis dan pemain teater, yang kala itu masih hidup susah. Pada masa setelah kemerdekaan hingga Bung Karno jatuh, seniman — utamanya para sineas dan pemain film — tidaklah mendapatkan prioritas oleh pemerintah kita. Hingga tahun 1964, tak ada satupun kementerian yang mengurusi perkembangan industri film tanah air. Oleh karenanya, di era 1950-an bioskop-bioskop banyak dikuasai film-film asing, terutama produksi Bollywood. Dalam keadaan carut-marut seperti itu, banyak film karya anak negeri yang cukup berkualitas, namun tak laku dipasaran. Akibatnya banyak rumah produksi yang gulung tikar, dan karyawannya di-PHK.

Dari sekian banyak tokoh film Indonesia yang mampu bertahan dari terpaan krisis itu adalah Djamaludin Malik. Ia merupakan pendiri sekaligus pemilik Persari (Perseroan Artis Indonesia). Sebuah perusahaan film yang menampung artis-artis Indonesia pada masa itu. Sebenarnya Djamaludin bukanlah seorang seniman. Namun kecintaannya terhadap sandiwara dan perfilman Indonesia, menyebabkannya mau memodali industri ini.

(lebih…)

Mengenang 30 tahun wafatnya Buya Hamka.

Jika kita merunut daftar nama ulama Indonesia yang paling populer, maka akan muncul nama Buya Hamka di peringkat pertama. Siapa yang tak kenal dengan beliau, salah satu dari sedikit orang Indonesia yang memiliki talenta beraneka ragam. Pandai berorasi, pintar berceramah, jago berorganisasi, serta luwes dalam pergaulan. Dalam setiap profesi yang ia tekuni, entah itu sebagai ulama, sastrawan, wartawan, ataupun politisi, namanya selalu berkibar. Kepandaiannya berpidato, mampu memikat hati jutaan pendengar. Jika orang berpidato berjela-jela, yang semula enak jadi membosankan. Sedangkan Buya selagi asyik kita merenungkan uraiannya, tak terasa sudah berada di penghujung kalam. Itulah Hamka, pandai menakar dan bisa menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Sedikit yang diberikan, namun memiliki kesan cukup mendalam.

Hamka juga salah seorang yang mahir dalam menulis. Kehebatannya menorehkan tinta, setara dengan kemampuannya berpidato. Beliau termasuk salah seorang penulis yang cukup produktif. Pada tahun 1928 disaat usianya baru menginjak 20 tahun, dia telah menerbitkan buku. Sejak masa itu hingga akhir hayatnya, Hamka telah menulis lebih dari 100 judul buku. Belum lagi artikel yang terbit di berbagai media cetak nasional maupun asing, tak terbilang jumlahnya. Karya-karya tulisnya sungguh mengagumkan. Hampir semuanya menjadi best seller, dan selalu dicetak ulang oleh penerbit. Melalui magnum opus-nya : Tafsir Al-Azhar, Hamka merupakan sedikit dari orang Indonesia yang mampu menguraikan isi Al-Quran secara gamblang. Karya tafsirnya bisa disejajarkan dengan tafsir lainnya yang lahir di abad ke-20, seperti Al-Manar (karya Rasyid Ridha) dan Fi Zhilalil Quran (Sayyid Quthb).

(lebih…)

Trihatma Kusuma Haliman

Berani memulai bisnis di saat krisis, itulah intisari pembicaraan Trihatma Kusuma Haliman pada sesi acara success story Investor Summit 2010. Sosok dan pribadi Trihatma, tak banyak orang yang tahu. Kalangan bisnis dan investor, mungkin lebih mengenal PT. Agung Podomoro Land, Tbk (APLN), dibanding sosok Trihatma yang notabene merupakan pendiri dan pemilik perusahaan properti tersebut. Suryopratomo yang memandu acara itu, menggambarkan sosok Trihatma sebagai pribadi yang humble, jauh dari hingar bingar selebritas dan pentas.

Agaknya dia orang yang penuh prinsip. Begitu kesan yang muncul dari pria kelahiran Jakarta 58 tahun lalu itu. Dan prinsip-prinsip itulah yang dibagikan kepada kami, para peserta temu investor pasar modal Indonesia. Memulai usaha di usia yang relatif muda, Trihatma banyak menyerap filosofis dan gaya kepemimpinan sang ayah. Dari ayahnya-lah, Trihatma belajar bagaimana mengelola dan mengolah tanah. Tahun 1974, menjadi awal karier Trihatma di bisnis tanah dan properti. Dengan bermodalkan Rp 270 juta dari hasil pinjaman bank, Trihatma memberanikan diri mengakuisisi proyek properti di daerah Sunter Podomoro, Jakarta Utara. Kelak, dari wilayah itulah bisnis ayah dua anak itu terus maju dan berkembang.

(lebih…)

Mourinho saat menukangi Inter Milan

Siapa yang tak kenal dengan Jose Mourinho, pelatih nyentrik yang saat ini menukangi klub sepak bola Internazionale Milan. Malam Minggu kemarin, 23 Mei 2010, mungkin hari yang paling membahagiakan bagi dirinya. Setelah berhasil menjuarai Coppa Italia, dan memastikan diri meraih scudetto Serie A, malam itu Mourinho kembali menambah koleksi juaranya dengan menggenggam trofi Liga Champions Eropa. Dengan kemenangan tersebut Inter Milan menjadi klub Italia pertama yang berhasil menjadi treble winners, atau pengkoleksi tiga gelar sekaligus dalam satu musim kompetisi.

Kemenangan ini seakan menjadi pelipur lara bagi Mourinho, setelah dua tahun lalu gagal di partai puncak menghadapi seterunya Manchester United. Mourinho yang kala itu menukangi Chelsea, harus kalah lewat adu penalti. Gelar juara Eropa kali ini, merupakan gelar juara kali kedua, setelah enam tahun lalu bersama Porto ia berhasil memboyong trofi Liga Champions ke Estadio do Dragao. Gelar ini sekaligus menempatkan Mourinho ke dalam jajaran pelatih elit Eropa, bersanding dengan Marcello Lippi, Guus Hiddink, dan Sir Alex Fergusson. Namun pencapaiannya meraih dua juara Eropa bersama dua klub berbeda, suatu pencapaian yang luar biasa. Ia menjadi pelatih ketiga setelah Ernst Happel dan Ottmar Hitzfeld yang mampu melakukannya.

 

Calcio Italia

Mou, biasa ia disapa, boleh jadi menjadi malaikat penyelamat bagi sepak bola Italia secara keseluruhan. Betapa tidak, berkat gelar juara tersebut, koefisien Serie A Italia tetap berada di atas sang pesaing, Bundesliga Jerman. Dengan raihan tersebut, dipastikan Serie A masih berada di jajaran top three liga-liga Eropa, sekaligus tetap mendapatkan jatah empat klub di kompetisi Liga Champion musim depan.

(lebih…)