Archive for the ‘Ekonomi Bisnis’ Category

Ilustrasi Kedatangan Komodor Perry di Jepang (sumber : www.wikipedia.com)

Ilustrasi kedatangan Komodor Perry di Jepang (sumber : http://www.wikipedia.com)

Kedatangan komodor Perry di tahun 1854, ternyata memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat Jepang. Bagaimana tidak, berkat kehadiran laksamana Amerika itu, Jepang mulai menyadari ketertinggalannya selama ini. Jepang yang berabad-abad menjadi negeri tertutup, merasa minder ketika mengetahui negeri-negeri di luar teritorinya sudah mencapai kemajuan yang luar biasa. Memang ketika itu hampir sebagian besar negara-negara Asia berada di bawah cengkeraman bangsa Eropa. Namun negeri-negeri yang jauh dari mereka – seperti Eropa, Amerika, dan Turki — sudah memasuki zaman modern. Untuk mengejar ketertinggalannya itu, Jepang di bawah kepemimpinan Mutsuhito kemudian menerapkan apa yang dikenal dengan Restorasi Meiji.

Dalam waktu cepat, Mutsuhito merestorasi stratifikasi sosial masyarakat Jepang yang feodal menjadi masyarakat demokratis. Ia juga memperkuat armada militer Jepang yang dianggapnya kuno. Pada tahun 1885, mengikuti gaya Barat, ia mereformasi sistem politik Jepang. Dengan menunjuk seorang Perdana Menteri, ia mengurangi peran para pemimpin feodal. Mutsuhito juga menghapus sistem domain dan menggantinya dengan prefektur. Angkatan bersenjata yang selama ini ditugaskan kepada kaum samurai, diganti dengan tentara-tentara profesional. Tuan-tuan tanah tak ada lagi yang berkuasa seenaknya, semuanya diatur dan dicatat oleh negara. Tak cuma itu, ia juga menggiatkan anak-anak muda Jepang untuk mencari ilmu di negeri-negeri Barat.

(lebih…)

Lion Air di Soekarno Hatta, Jakarta (sumber : beritatrans.com)

Lion Air di Soekarno Hatta, Jakarta (sumber : beritatrans.com)

ASEAN merupakan salah satu kawasan di dunia yang memiliki banyak maskapai penerbangan berkualitas. Hal ini berdasarkan data yang dirilis SkyTrax, badan pemeringkat penerbangan internasional, yang menyatakan 3 dari 8 maskapai penerbangan bintang lima (kelas tertinggi dalam pemeringkatan SkyTrax) berasal dari kawasan ini. Ketiga maskapai tersebut ialah Singapore Airlines (Singapura), Malaysia Airlines (Malaysia), dan Garuda Indonesia Airways (Indonesia). Disamping tiga maskapai layanan penuh itu, ASEAN juga disesaki tiga maskapai low cost carrier yang boleh dibilang cukup berbobot. Mereka adalah Air Asia (Malaysia), Lion Air (Indonesia), dan Tiger Air (Singapura). Dalam sebuah laporannya yang berjudul “Sky’s the Limit? Southeast Asia Budget Airlines Bet Big on Growth”, kantor berita Reuter mencatat bahwa rivalitas antar maskapai penerbangan murah di ASEAN akan terus berlangsung, terlebih setelah diterapkannya “ASEAN Open Skies 2015”. Ranga Karumbunathan melihat, persaingan tersebut seperti halnya rivalitas antara Ryanair versus EasyJet di Eropa pada awal milenium ini.

 

Air Asia vs Lion Air vs Tiger Air

Lion Air merupakan maskapai bujet terbesar asal Indonesia. Tiga tahun lalu maskapai ini menghentak dunia penerbangan internasional, dengan memesan 230 pesawat dari perusahaan Boeing senilai USD 22,4 miliar. Pemesanan ini merupakan bagian dari strategi mereka untuk memenangkan persaingan dengan maskapai low cost carrier lainnya. Tak puas dengan jumlah tersebut, bulan Maret 2013 Lion kembali memesan 234 pesawat dari perusahaan Prancis, Airbus. Percaya diri dengan size yang besar, Lion kemudian meluncurkan maskapai full services : Batik Air. Maskapai layanan penuh ini dicanangkan untuk menggarap segmentasi kelas premium. Tak hanya sampai disitu, untuk membongkar dominasi Air Asia, di tahun yang sama Lion juga membentuk maskapai baru Malindo Air (kerjasama dengan Malaysia) dan kemudian Thai Lion Air, anak usaha yang menggarap pasar Thailand.

(lebih…)

Kawasan Batu Uban, Penang. Basis utama pedagang Minang di Selat Malaka pada abad ke-18 (sumber : http://www.thestar.com.my)

Kawasan Batu Uban, Penang. Basis utama pedagang Minang di Selat Malaka pada abad ke-18 (sumber : http://www.thestar.com.my)

Sudah sejak lama Tanah Malaya di seberang Selat Malaka menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Menyusuri sungai-sungai besar di rantau timur : Rokan, Siak, Kampar, Indragiri, dan Batanghari, mereka mengembangkan koloni dagang di pesisir timur Sumatera terus ke pantai barat Semenanjung Malaya. Dalam bukunya yang berjudul Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Padri Movement, 1784 – 1830, Christine Dobbin mencatat bahwa perpindahan orang-orang Minang ke Tanah Malaya telah berlangsung sejak abad ke-15. Kedatangan mereka pada mulanya untuk mencari bongkahan emas dan menjual senjata hasil olah tangan para perajin Luhak nan Tigo (dataran tinggi Minangkabau). Hal ini berlangsung selama masa kejayaan Kesultanan Malaka hingga tahun 1511. Setelah Portugis menguasai Malaka, perdagangan emas Minangkabau masih terus berlanjut, meski jumlahnya sudah mulai menurun. Saudagar-saudagar Minangkabau-pun yang sebelumnya banyak berkumpul di sekitar istana sultan, satu per-satu mulai hengkang meninggalkan Malaka. Sebagian mereka pindah ke kawasaan Johor, dan sebagian lagi menyebar ke pulau-pulau lain di Nusantara.

Selain Dobbin, yang juga menarik untuk disimak adalah karya sejarawan Cornell University, Leonard Andaya. Dalam buku yang berjudul Leaves of the Same Tree : Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka, ia menulis bahwa pada tahun 1600 di Johor telah banyak saudagar Minang yang berdagang emas. Seperti halnya di belahan lain Nusantara, para pengusaha Minang tak hanya fokus pada urusan bisnis semata. Mereka juga terlibat dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan politik tempatan. Di Johor setelah kematian Sultan Mahmud Shah II (tahun 1699), banyak pedagang Minang yang terjun ke dunia politik dan ikut dalam perebutan kekuasaan. Melalui Raja Kecil yang diutus oleh Pagaruyung, para pedagang Minang berhasil menguasai Kesultanan Johor (1718-1723), sebelum akhirnya dikudeta oleh Raja Sulaiman beserta pasukan Bugis. Kalah dalam pertarungan, Raja Kecil mundur ke daratan Riau dan mendirikan Kesultanan Siak. Sedangkan di Semenanjung, para pedagang Minang makin terjepit dan hanya mampu menguasai negeri-negeri yang kini tergabung dalam konfederasi Negeri Sembilan.

(lebih…)

Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)

Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)

Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis — sapaan akrab Dahlan Iskan — mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa tahun belakangan ini, selalu ada saja solusinya. Kita tahu, banyak perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dikelola asal-asalan. Selain korupsi yang meruyak, banyak manajemen BUMN diisi orang-orang yang tak berkompeten. Sehingga hampir sebagian besar perusahaan milik negara mengalami kerugian.

Salah satu perusahaan plat merah yang mengalami kerugian cukup besar adalah Pertamina. Perusahaan petroleum kebanggaan bangsa ini tidak hanya kalah di pasaran luar negeri, namun juga keok dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk menyiasatinya, maka Dahlan bersama tim manajemen Pertamina telah bersepakat membentuk “Brigade 200 K”. Pasukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina mencapai 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun. Selama ini Pertamina memang keteteran dalam memenuhi permintaan. Namun selama itu pula tak ada seorang-pun dari pihak Kementeriaan BUMN yang mau menuntasan permasalahan ini. Kini setelah Pak Dis menggebrak anak-anak muda Pertamina untuk meningkatkan angka produksi, maka diharapkan dua tahun mendatang Pertamina sudah bisa menjadi raja di kawasan ASEAN.

(lebih…)

Pertambangan batu bara milik PT Bumi Resources Tbk

Sejak diumumkannya penyelidikan oleh Bumi Plc atas dugaan penyimpangan keuangan dan operasi anak perusahaannya : PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), sebagian saham perusahaan grup Bakrie turun tajam. Selain BUMI dan BRAU, penurunan juga terjadi pada saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Viva Media Asia Tbk (VIVA). Sedangkan untuk saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dalam beberapa hari terakhir tidak terjadi transaksi. Kedua saham ini telah menyandar di posisi Rp 50, atau berada pada harga terbawah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Di Bursa London, saham Bumi Plc juga terkena koreksi tajam. Emiten yang sebelumnya bernama Vallar Plc ini, tertekan 46,33% pada perdagangan 21 dan 24 September 2012.

Berdasarkan informasi yang beredar, rencana penyelidikan oleh Bumi Plc itu bermula dari adanya dugaan penyelewengan penggunaan dana pengembangan BUMI sebesar USD 247 juta dan biaya eksplorasi BRAU sebanyak USD 390 juta. Kedua pengeluaran tersebut tidak tercantum dalam laporan keuangan Bumi Plc pada akhir tahun 2011. Dalam pengumuman resminya tanggal 24 September 2012, Bumi Plc hanya mengatakan telah terjadi penyimpangan dana di dua anak usahanya, tanpa merinci obyek penyimpangan tersebut. Meskipun begitu, langkah Bumi Plc yang hendak melakukan investigasi dianggap sebagian pihak terlalu terburu-buru. Apalagi jika sumber informasinya belum jelas benar. Pembelian BUMI oleh Vallar Plc pada tahun 2010 lalu, mestinya sudah melalui proses uji tuntas (due diligence). Dan jika kini terjadi penyelewengan, seharusnya sebelum melakukan pembelian, Vallar Plc sudah bisa mencium adanya gelagat yang kurang baik. Ini malah mereka yang berambisi untuk masuk sebagai pemegang saham BUMI. Kejanggalan lain adalah dibeberkannya perkara ini ke khalayak ramai, sehingga terjadi kasak-kusuk di kalangan investor. Padahal kasus ini sebenarnya adalah urusan internal antara induk dan anak perusahaan, yang seharusnya bisa diselesaikan di dalam.

(lebih…)

Shanghai, simbol kebangkitan Tiongkok

Sejak digulirkannya program reformasi oleh Deng Xiaoping, perekonomian Tiongkok terus melesat. Salah satu paket reformasinya yang penting adalah mengundang sebanyak-banyaknya investor asing untuk menanamkan modalnya di negeri ini. Untuk memuluskan rencana tersebut, Deng melakukan beberapa perubahan regulasi yang memudahkan para investor asing untuk merelokasi asetnya ke Tiongkok. Tidak hanya itu, Deng juga memberikan beraneka macam insentif bagi perusahaan-perusahaan asing yang mendirikan pabriknya disini.

Dengan kebijakan tersebut, ekonomi Tiongkok tumbuh 9,5% per tahunnya. Tingkat kemiskinan-pun menyusut, dari 41% pada tahun 1978 menjadi 5% di tahun 2001. Pada tahun 2010, Produk Domestik Bruto (PDB) negeri tirai bambu itu mencapai USD 5.739 miliar, atau sekitar 9,16% dari total PDB global. Hal ini sekaligus menempatkan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi kedua di dunia, menggeser Jepang yang selama tiga dekade sebelumnya menduduki posisi tesebut. Dari daftar Fortune Global 500 yang dirilis pada bulan lalu, Tiongkok juga berhasil melampaui Jepang untuk pertama kalinya. Negeri komunis itu menempatkan 73 perusahaannya ke dalam daftar tersebut. Naik dibandingkan dua tahun lalu yang hanya memasukkan 46 perusahaan. Bahkan dalam daftar 10 besar, Tiongkok berhasil mendudukkan tiga wakilnya, yakni Sinopec, China National Petroleum, dan State Grid.

(lebih…)

Pameran mobil mewah di Medan. Salah satu pusat pertumbuhan orang kaya baru di Sumatera

Sebagian besar ekonom mengatakan, bahwa dasawarsa kedua abad ke-21 merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penyebabnya adalah stabilnya kondisi politik nasional, pertumbuhan regional yang cukup pesat, dan melemahnya dua kekuatan ekonomi global : Amerika Utara dan Eropa. Disamping itu naiknya tingkat pendidikan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang massif, juga menjadi alasan mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia dewasa ini bisa berlari kencang.

Dalam sebuah artikel di harian Seputar Indonesia, Cyrillus Harinowo seorang pengamat ekonomi berpendapat, bahwa saat ini Indonesia sedang menuju ekonomi USD 1 triliun. Menurutnya angka itu adalah suatu turning point bagi percepatan ekonomi suatu negara. Ia memperkirakan jika Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah melampaui USD 1 triliun, maka untuk melipatgandakannya hanya butuh waktu tak lebih dari 10 tahun. Dan di tahun 2013 mendatang, jika kurs rupiah stabil dan pertumbuhan ekonomi tetap berkisar antara 6% – 6,5%, maka angka USD 1 triliun akan dapat terealisasi

(lebih…)