Archive for the ‘Wisata’ Category

Jalan lintas Sumatera menuju Pelabuhan Bakauheni (sumber : kompas.com)

Jalan lintas Sumatera menuju Pelabuhan Bakauheni (sumber : kompas.com)

Tahun ini kawan saya yang dari Manna, Bengkulu tak bisa pulang kampung. Pasalnya jalan di daerah Liwa banyak yang rusak, berlubang-lubang hingga sedalam 50 cm. Menurutnya, jalan di sekitar Liwa hingga Krui sudah rusak bertahun-tahun. Namun tahun ini nampaknya semakin parah. Pemerintah disini seolah-olah tak menganggap penting keberadaan jalan yang menjadi bagian lintas barat Sumatera itu. Jalan ini sudah sejak lama menjadi ruas vital masyarakat di pantai barat Sumatera. Jika jalan ini terputus, maka pasokan barang yang menuju Manna dan kota Bengkulu jadi terhambat. Tak hanya truk-truk besar yang kerap terjebak, mobil pribadi-pun banyak yang kesulitan menaklukkan jalur ini. Padahal kalau jalan disini mulus, orang-orang yang hendak ke Painan ataupun Padang, tak harus melewati lintas tengah. Cukup melalui lintas barat, mereka bisa memangkas jarak maupun waktu tempuh.

Jika di lintas barat banyak jalan yang berlubang, di lintas timur tahun ini terasa lancar. Jalur yang menjadi urat nadi perekonomian Sumatera itu, kini kembali menjadi pilihan sebagain besar pemudik. Sebab jalur yang menghubungkan kota-kota besar di Sumatera itu, hampir seluruhnya sudah dibeton. Oleh karenanya banyak truk-truk besar maupun bus antar kota antar propinsi (AKAP) yang melintasi jalur timur. Di jalur ini, mobil bisa digeber hingga 100 km/jam. Terlebih selepas kota Palembang hingga perbatasan Jambi, kendaraan bisa dipacu semaksimal mungkin. Biasanya di Bayung Lencir jalan agak sedikit rusak, namun setelah itu kembali mulus.

(lebih…)

Gedung Negara Grahadi

Gedung Negara Grahadi

Makan tangan walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai terlihat. Berkat kerja kerasnya, Surabaya menjadi salah satu metropolitan dunia yang diperhitungkan. Di berbagai sudut kota, ruang-ruang yang selama ini dibiarkan kosong, disulapnya menjadi taman hiburan dan tempat bermain. Tak cuma itu, Risma juga mengeruk kali-kali dan sungai yang sebelumnya dipenuhi limbah rumah tangga. Agar terlihat kinclong, di malam hari ia juga menyalakan lampu-lampu taman yang berwarna-warni. Untuk memanjakan para pegowes, ia menyediakan lajur khusus sepeda di jalan-jalan protokol. Tak ketinggalan lampu pengatur penyeberang jalan, di beberapa titik yang tak memiliki jembatan penyeberangan. Bukan hanya itu, Risma juga memperhatikan layanan kesehatan dan pendidikan masyarakatnya. Orang-orang jompo dan anak-anak jalanan benar-benar ia lindungi. Berkat prestasinya yang seabrek, ia dianugerahi United Europe Award pada pertengahan April lalu. Terlepas adanya kontroversi atas penghargaan tersebut, yang jelas Risma telah berhasil mengubah wajah Surabaya yang muram dan kusam menjadi lebih cerah dan bersih.

Disamping membangun kota yang inovatif dan layak huni, Risma juga mengembangkan wisata di dalam kota. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan menghidupkan kembali bangunan-bangunan bersejarah yang terserak di seantero kota. Jika Anda menyusuri Jalan Rajawali, terus ke Jembatan Merah dan kawasan Ampel, maka dengan mudahnya dijumpai gedung-gedung tua yang tak terawat. Gedung-gedung itu kini mulai direvitalisasi sebagai obyek wisata yang menjanjikan. Dulunya hampir sebagian besar bangunan tersebut digunakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Ada yang difungsikan sebagai kantor, ada pula yang untuk gudang.

(lebih…)

Jalan Pasteur

Beginilah suasana Bandung di akhir pekan : ramai, riuh, dan meriah. Sejak dibukanya tol Cipularang tahun 2005 lalu, Bandung bagaikan magnet bagi para shopaholic. Khususnya buat pecinta fesyen. Tak hanya warga Jakarta yang berburu barang-barang murah, orang Malaysia dan Singapura-pun ikut membelanjakan uangnya disini. Malah sebagian warga Malaysia, merasa lebih kerasan berbelanja disini tenimbang di Bangkok. Selain faktor budaya, banyaknya pilihan busana serta makanan halal, menjadi alasan mereka untuk melancong ke Bandung. Mengutip data Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat, pada periode Januari – Oktober 2013 terdapat 96.000 wisatawan asal Malaysia yang mendarat di Bandung. Angka ini belum termasuk jumlah pelancong yang melalui Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Berdasarkan pengamatan penulis, dalam tiga tahun terakhir setidaknya lebih dari 120.000 wisatawan Malaysia yang datang ke Bandung setiap tahunnya.

(lebih…)

Air Mancur di Medan Merdeka square

Air Mancur di Medan Merdeka square

Jakarta, kota wisata seribu rasa. Disini Anda bisa menikmati aneka jajanan kaki lima, kuliner dari berbagai pelosok Nusantara, atraksi dan festival, gedung pencakar langit dan bangunan kuno, serta kemewahan berbelanja di mal-mal modern. Seperti kota wisata ternama lainnya, Jakarta juga didukung oleh sarana dan infrastruktur modern : jaringan jalan, layanan internet, transportasi massal, dan penginapan. Untuk memudahkan para pelancong, pemerintah kini telah menyediakan situs “Enjoy Jakarta”. Situs ini bisa menjadi panduan bagi para wisatawan sebelum melancong ke Jakarta. Namun jika Anda belum puas, buku-buku travel guide seperti “Lonely Planet”, “Frommer’s”, atau “Rough Guides” mungkin bisa dihandalkan.

Saat ini megapolitan Jakarta Raya dihuni oleh lebih dari 28 juta jiwa penduduk. Angka ini jauh melampaui metropolitan dunia lainnya seperti New York City, London, ataupun Paris. Masyarakat Jakarta terdiri dari berbagai macam etnis dari seluruh Nusantara. “Penduduk asli-”nya dikenal dengan sebutan Orang Betawi. Komunitas Betawi sebenarnya juga merupakan pencampuran banyak etnis di Nusantara, termasuk di dalamnya orang-orang dari selatan Tiongkok, pantai timur India, Hadhramaut, dan komunitas Portugis. Oleh sebab itu, budaya Jakarta banyak menyerap unsur-unsur asing. Meski hampir keseluruhan orang Betawi beragama Islam, namun banyak pula masyarakat Jakarta yang memeluk Kristen, Budha, ataupun Konghucu. Mereka sebagian besar berasal dari Indonesia Timur atau masyarakat keturunan China.

(lebih…)

Jam Gadang dan Pasar Ateh (belakang)

Jam Gadang dan Pasar Ateh (belakang)

Tak banyak kota di Indonesia yang memiliki geografis kurang menguntungkan, namun mampu memikat para wisatawan. Salah satu dari yang sedikit itu ialah Bukittinggi. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke kota ini, jangan pernah membayangkan besaran Bukittinggi seperti halnya Jogja ataupun Bandung, apalagi Jakarta. Meski kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik pada masa revolusi, namun bukan berarti yang ada disini segalanya besar dan megah. Satu hal yang menjadikannya besar adalah masyarakatnya yang campin. Sehingga banyak hal-hal yang penting telah terjadi disini.

Untuk ukuran kota kecil, Bukittinggi termasuk kota yang padat. Saat ini, kota yang hanya seluas Kecamatan Tanjung Priok di Jakarta itu, memiliki kepadatan mencapai 4.400 jiwa per kilometer persegi. Meski sepadat itu, namun Bukittinggi memiliki tata kota yang apik. Rumah-rumah penduduk terletak berjejeran, dengan diselingi sawah dan kebun milik ulayat. Disana Anda tak akan menemui gang-gang becek ataupun rumah reot yang berlimpit-limpit, seperti halnya slum area di kota-kota besar. Jalan-jalan yang lurus dari segala penjuru, bermuara disekitar pelataran Jam Gadang dengan bentuk melingkar.

(lebih…)

KLCC Park

KLCC Park

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami pergi ke kawasan Chow Kit. Meski hujan rintik-rintik, namun hal itu tak menghalangi kami untuk mencari sarapan ala Minangkabau. Pagi itu belum banyak toko yang buka, kecuali warung kelontong dan beberapa kedai makan. 10 menit berjalan kaki, kami tiba di simpang Jalan Raja Alang. Belok kanan ke arah Kampung Bahru, kami berjumpa Rumah Makan Seri Garuda Emas. Restoran ini adalah salah satu kedai makanan Minang di Kampung Bahru, yang dikelola oleh perantau asal Padang Panjang. Setelah melihat-lihat daftar menu, kami memesan tiga piring lontong sayur beserta teh manis. Masih belum kenyang! Kami membungkus dua buah roti bom dan teh tarik. Tambahannya kami membeli lagi tiga potong pisang goreng beserta ketan di kedai seberang jalan.

Jalan Raja Alang dan kawasan Chow Kit pada umumnya, dikenal sebagai pemukiman masyarakat Indonesia. Disini selain bermukim etnis Minangkabau, banyak pula pendatang asal Aceh dan Pulau Jawa. Di Pasar Chow Kit yang terletak di tepi Jalan TAR, hampir seluruh pedagangnya berasal dari Indonesia. Produk-produk yang dijualnya-pun kebanyakan buatan Indonesia. Sebut saja rokok Dji Sam Soe, kecap ABC, Mie Sedaap, Indomie, hingga tabloid Bola, semuanya ada disini. Banyaknya orang Indonesia yang tinggal di kawasan Chow Kit, sehingga warga setempat menjulukinya sebagai Little Jakarta.

(lebih…)

Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur

Dari Malaka kami menyarter taksi ke Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Minggu, kami dikenakan biaya sebesar RM 200. Jarak Malaka-Kuala Lumpur sekitar 145 km, atau biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana perjalanan ke Kuala Lumpur, tak ubahnya dari Johor Bahru ke Malaka. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan yang didominasi kelapa sawit. Lepas gerbang tol Kajang, pemandangan agak sedikit berubah. Rumah-rumah penduduk dan pertokoan, mulai banyak terlihat. Di kejauhan nampak menyembul gedung kembar Petronas Tower.

Pukul 13.15 kami tiba di penginapan. Di Kuala Lumpur kami menginap di Tune Hotel, sebuah penginapan low budget yang dikembangkan Tony Fernandes. Letaknya cukup strategis. Di simpang empat antara Jalan Tuanku Abdul Rahman (Jalan TAR) dan Jalan Sultan Ismail. Sehabis sholat zuhur, kami mencari makan di sekitaran hotel. Tak jauh dari sana, kami bersua warung Nasi Kandar Kudu bin Abdul. Di Kuala Lumpur, Nasi Kandar cukup terkenal. Di setiap penjuru kota, dengan mudahnya kita menjumpai warung nasi khas India-Muslim itu.

(lebih…)