<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Afandri Adya</title>
	<atom:link href="http://afandriadya.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://afandriadya.com</link>
	<description>Just my simple idea</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 03:12:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='afandriadya.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e6633ad80d2fb6402e0961af3f2c5253?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Afandri Adya</title>
		<link>http://afandriadya.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://afandriadya.com/osd.xml" title="Afandri Adya" />
	<atom:link rel='hub' href='http://afandriadya.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dunia Maritim dan Pelayaran Orang Jawa</title>
		<link>http://afandriadya.com/2013/05/13/dunia-maritim-dan-pelayaran-orang-jawa/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2013/05/13/dunia-maritim-dan-pelayaran-orang-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 May 2013 09:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Amangkurat I]]></category>
		<category><![CDATA[Anggun nan Tongga]]></category>
		<category><![CDATA[Dipati Unus]]></category>
		<category><![CDATA[Hikayat Hang Tuah]]></category>
		<category><![CDATA[Jung Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Laksamana Cheng Ho]]></category>
		<category><![CDATA[Pelaut Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Kidul]]></category>
		<category><![CDATA[Sawerigading]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Utimutiraja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4527</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang beranggapan, bahwa dunia pelayaran Nusantara dari masa ke masa hanya diperankan oleh masyarakat Melayu dari Sumatera atau orang-orang Bugis di Sulawesi. Sejarah yang banyak menonjolkan bagaimana hebatnya para pelaut Bugis atau kapal-kapal Sumatera yang berlayar ke pelosok Nusantara, Jepang, India, hingga pantai timur Afrika, telah menenggelamkan sejarah pelayaran orang Jawa. Banyak sejarawan yang [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4527&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4528" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/jung-jawa.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/jung-jawa.jpg?w=300&#038;h=204" alt="Miniatur Jung Jawa" width="300" height="204" class="size-medium wp-image-4528" /></a><p class="wp-caption-text">Miniatur Jung Jawa</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Banyak orang beranggapan, bahwa dunia pelayaran Nusantara dari masa ke masa hanya diperankan oleh masyarakat Melayu dari Sumatera atau orang-orang Bugis di Sulawesi. Sejarah yang banyak menonjolkan bagaimana hebatnya para pelaut Bugis atau kapal-kapal Sumatera yang berlayar ke pelosok Nusantara, Jepang, India, hingga pantai timur Afrika, telah menenggelamkan sejarah pelayaran orang Jawa. Banyak sejarawan yang berpikir, bahwa masyarakat Jawa identik dengan pertanian. Pandangan mereka yang cenderung melihat ke dalam (<em>looking inward</em>) dan bergantung kepada tanah, seolah-olah menghiraukan dunia bahari yang berada di sekeliling mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Gambaran ini mungkin saja benar, jika kita membaca kajian tentang tema laut dalam kesusasteraan Indonesia. Berdasarkan hasil kajian yang dirangkum oleh Dennys Lombard dalam bukunya Le Carrefour Javanais, dikemukakan bahwa dalam kesusasteraan Jawa, hampir tak terdapat nyanyian pujian mengenai petualangan di laut. Hal ini berbeda dengan orang-orang Sumatera, yang hingga kini dalam kesehariannya masih mendendangkan cerita pelayaran Hang Tuah atau petualangan Anggun nan Tongga. Orang Bugis, sejak ratusan tahun lalu telah mengembangkan wiracerita La Galigo yang luar biasa. Buku setebal 1.000 halaman itu, membicarakan kisah mengenai pelayaran Sawerigading. Agaknya laut dalam khayalan orang Jawa dicirikan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti yang terdapat di pantai selatan Jawa. Dalam mitos Ratu Kidul, tergambar suatu kegelisahan masyarakat tentang laut yang menakutkan.</p>
<p> <span id="more-4527"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Namun sesungguhnya sebelum abad ke-17, kapal-kapal dan pelayaran telah memainkan peran besar dalam segenap urusan Jawa dan Laut Jawa. Tipe kapal Jawa seperti halnya kapal-kapal khas Nusantara lainnya, dibentuk dengan menyambung papan-papan pada lunas kapal dan kemudian saling disambungkan dengan pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip, dilengkapi oleh dua batang kemudi menyerupai dayung dan sebentuk layar segi empat yang diikat dengan tali. Kapal ini berbeda dengan kapal China yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku pada kerangka dan dinding penyekat yang memisahkan ruang muatan. Kapal-kapal China ini memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Ketika Portugis baru saja menancapkan kekuasaannya di Malaka, mereka mengenali Jawa sebagai tempat asal jung-jung terbesar. Portugis menggambarkan bahwa jung-jung Jawa yang mereka tawan pada tahun 1511 dalam perjalanan menuju Malaka, memiliki bobot sekitar 600 ton. Pierre-Yves Manguin berdasarkan laporan orang-orang Eropa memperkirakan, bahwa bobot mati jung-jung pengangkut barang berada pada kisaran 400-500 ton. Malah jung yang digunakan untuk menyerang Malaka-Portugis yang dibangun oleh Dipati Unus, berbobot mati sekitar 1.000 ton. Kapten Portugis Fernao Peres de Andrade memerikan, bahwa jung besar tersebut merupakan kapal yang sangat kokoh dan mampu mengangkut sekitar seribu orang tentara. Peluru meriam Portugis paling besar sekalipun, tak mampu menembus dinding kapal tersebut. Keperkasaan kapal-kapal Indonesia, juga dilaporkan secara mengesankan oleh Tome Pires. Dimana pada suatu masa, penguasa Kanton mewajibkan kapal-kapal asing untuk berlabuh di salah satu pulau lepas pantai. Hal ini untuk menghindari pengrusakan jung-jung China oleh orang Jawa dan Melayu. Menurut laporan tersebut, satu jung Jawa atau Melayu, dapat menghancurkan 20 jung China sekaligus.</p>
<p><div id="attachment_4531" class="wp-caption alignleft" style="width: 222px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/sawerigading.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/sawerigading.jpg?w=212&#038;h=300" alt="Ilustrasi Sawerigading (sumber : wikipedia.org)" width="212" height="300" class="size-medium wp-image-4531" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Sawerigading (sumber : wikipedia.org)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Salah satu kekuatan besar industri galangan kapal di Jawa, dimungkinkan karena adanya hutan-hutan jati yang waktu itu terbentang di sepanjang pantai utara, dekat Jepara dan Rembang. Keadaan yang menguntungkan inilah kemudian yang menjadi faktor penting kemajuan Kesultanan Demak. Sebelum kekuatan laut Demak jatuh pada tahun 1513, Demak memiliki 40 buah juang yang mengangkut hasil-hasil pertanian ke Malaka. Pada masa itu, Demak juga mampu mengerahkan kapal-kapalnya melintasi lautan, baik untuk tujuan damai maupun perang. Selain untuk dipakai sendiri, kapal juga merupakan salah satu komoditi ekspor terpenting Kesultanan Demak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meski Jawa memiliki banyak sumber bahan baku untuk pengembangan galangan kapal, namun peran orang Jawa dalam industri tersebut sangatlah kecil. Kajian dari F.J.A Broeze yang dilakukan berdasarkan <em>Regeringsalmanak</em>, terungkap bahwa pada tahun 1820 etnis Jawa (termasuk Sunda dan Madura di dalamnya) hanya memiliki sekitar 7,3% dari keseluruhan tonase kapal di Jawa. Angka ini terus menurun menjadi 3,1% pada tahun 1850. Sedangkan pada tahun yang sama, orang-orang Arab dari Hadhramaut yang kebanyakan bermukim di Surabaya, menguasai lebih dari separuh tonase kapal di Jawa. Angka ini melampaui penguasaan orang-orang China (28,7%) dan bangsa Eropa (18,9%).</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Pelayaran “Orang-orang Jawa”</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sebelum abad ke-14, sedikit sekali catatan yang memberitakan mengenai perjalanan dan pelayaran orang Jawa. Dalam catatan Belanda, pelayaran &#8220;pertama&#8221; para pedagang Jawa terjadi di penghujung abad ke-14, yakni ketika mereka membeli cengkeh dari Maluku Utara. Namun dalam Kitab Negarakertagama, Jawa telah mengikuti rute rempah-rempah menuju Maluku pada periode 1331-1351. Pelayaran atas nama orang Jawa, selanjutnya justru banyak dilakukan oleh orang-orang China yang bermukim di sepanjang pesisir utara. Chen Yen-xiang adalah orang pertama yang membuka hubungan diplomatik antara Jawa dengan negara-negara Asia Timur Laut. Pada tahun 1406, dia menjadi utusan Jawa yang berangkat ke Korea. Meski Chen sempat ditawan oleh pelaut Jepang, namun ia berhasil mencapai istana Korea. Setelah itu, Chen menjadi utusan Jawa ke Jepang dengan menyandang gelar &#8220;arya&#8221;. Duta besar Jawa lainnya yang berkebangsaan China adalah Ma Yong-liang. Ma yang berasal dari Longxi, Fujian, menjadi duta Jawa ke China berturut-turut pada tahun 1438, 1442, 1446, dan 1447. Dia terakhir kali menjalankan misi upeti ke China pada tahun 1453. Ketika pulang ke Jawa, ia membawa pesan khusus kaisar yang tak lagi menghendaki penguasa Jawa untuk terlalu sering mengirimkan upeti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Orang-orang China yang banyak bermukim di pesisir utara sejak abad ke-15 itu, adalah orang-orang pelarian yang menolak kerja paksa di daratan Tiongkok. Adapula diantara mereka yang merupakan pengikut Laksamana Cheng-Ho yang tak mau kembali ke kampung halamannya. Disamping masyarakat China, pesisir utara juga banyak menampung para imigran asal Arab, Persi, Gujarat, dan Pasai. Sehingga ketika itu suasana pantai utara merupakan sebuah <em>melting-pot</em> kebudayaan yang saling mendukung. Meski mereka datang dari etnis yang berbeda, namun sebagian besar dari mereka adalah muslim. Dalam berdagang, mereka juga sering mengandalkan jaringan persaudaraan muslim yang ketika itu menguasai dunia. Berkat orang-orang luar inilah, perekonomian Jawa menjadi bergairah. Hal ini pada gilirannya mendorong migrasi orang-orang Jawa ke seberang lautan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Tingginya mobilitas orang Jawa pada abad ke-16, ditandai dengan besarnya jumlah mereka di kota-kota perdagangan Nusantara, seperti Malaka, Palembang, Banten, dan Ternate. Menurut Alfonso de Albuquerque, orang Jawa pemeluk agama Islam ini, datang ke Malaka dalam keadaan miskin, memperoleh kemakmuran dengan berdagang, dan menjadi kaya raya. Diantara para pedagang Jawa yang cukup berpengaruh adalah Utimutiraja. Barros mengatakan bahwa dia merupakan orang yang paling kaya di seluruh kota, sekaligus menjadi pemimpin dari semua orang Jawa disini. Masih menurut Barros, di awal abad ke-16 Utimutiraja adalah orang kedua yang paling penting di Kerajaan Malaka setelah sultan. Dia memiliki sejumlah budak dan awak kapal, yang jika dihitung secara keseluruhan mencapai 10.000 orang lebih.</p>
<p><div id="attachment_4529" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/armada-dipati-unus.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/armada-dipati-unus.jpg?w=300&#038;h=191" alt="Angkatan Laut Patih Yunus Menyerang Malaka" width="300" height="191" class="size-medium wp-image-4529" /></a><p class="wp-caption-text">Angkatan Laut Patih Yunus Menyerang Malaka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selain sebagai pedagang, mereka juga banyak yang menjadi tukang kayu dan pembuat kapal. Albuquerque amat terkesan dengan keahlian pertukangan orang Jawa di Malaka. Sehingga dia membawa 60 tukang kayu Jawa yang cekatan ke India, untuk membantunya memperbaiki kapal-kapal Portugis disana. Ketika pelaut Malaka, Nina Chetu melakukan pelayaran ke Pegu, Pasai, dan India Selatan pada 1512-1513, orang Jawa juga merupakan mayoritas awak kapalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Di Malaka, Patih Harun dan Patih Elias yang diduga berasal dari Jawa, memiliki peran yang cukup penting dalam penyusunan Undang-undang Laut Malaka. Undang-undang ini menyusun aturan pelayaran dan perniagaan Kerajaan Malaka. Selain kedua patih tersebut, pelaut Jawa lainnya yang cukup kesohor adalah Patih Yunus (Dipati Unus) dari Jepara. Ia menyerang Malaka yang baru saja direbut Portugis, pada bulan Januari 1513. Dalam penyerangan itu, ia mengirim 35 jung besar berbobot 500 ton, dan juga 70 kapal kecil lainnya serta kapal-kapal besar bersenjata lengkap. Namun kapal-kapal itu dengan mudahnya dipatahkan oleh Angkatan Laut Portugis, dan hanya menyisakan satu jung raksasa berbobot 1.000 ton yang berhasil kembali ke Jepara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kegagalan dalam pertempuran ini, lebih dikarenakan kurang lincahnya jung-jung Jawa dalam menghadapi kapal-kapal Portugis. Namun demikian hal ini telah memberikan pelajaran kepada mereka untuk segera membuat kapal yang lebih kecil namun lincah. Dalam tempo satu abad, Jawa telah meninggalkan kebiasaan membuat kapal-kapal bertonase besar. Hal ini sesuai dengan laporan Belanda pada abad ke-16, yang tak lagi menemukan kapal-kapal Jawa berbadan bongsor. Laporan Belanda yang muncul kemudian memperkirakan, bahwa kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Jawa Timur hanya memiliki bobot antara 10-200 ton.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Kemunduran Maritim Jawa</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kemunduran dunia kemaritiman Jawa, sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor-faktor internal. Mengecilnya ukuran kapal-kapal Jawa yang berlayar ke seberang lautan, secara otomatis akan mengurangi barang-barang yang bisa mereka perjualbelikan. Hal ini tentu berakibat kalahnya mereka dalam persaingan dengan pemain-pemain lain, seperti Aceh, Makassar, dan VOC Belanda. Selain bersaing dengan kerajaan luar, antara kota-kota pelabuhan tersebut-pun juga terjadi rivalitas yang amat tajam.</p>
<p><div id="attachment_4530" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/peta-pesisir-utara-jawa.png"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/peta-pesisir-utara-jawa.png?w=300&#038;h=87" alt="Peta Pesisir Utara Jawa" width="300" height="87" class="size-medium wp-image-4530" /></a><p class="wp-caption-text">Peta Pesisir Utara Jawa</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Keadaan ini semakin diperparah oleh Kesultanan Mataram di pedalaman. Raja-raja Mataram yang terkenal bengis dan otoriter itu, tak memperkenankan orang-orang pesisir untuk berdagang dengan dunia luar. Dengan menguatnya kedudukan politik Mataram di tanah Jawa, maka mereka hendak pula memonopoli perdagangan. Untuk merealisasikan keinginannya itu, Mataram segera menghancurkan kota-kota niaga di pesisir. Berturut-turut adalah Lasem (1616), Tuban (1619), Gresik (1623), dan Surabaya (1625). Sedangkan Jepara yang tetap mempertahankan loyalitasnya kepada Sultan Agung, diserang oleh VOC pada tahun 1628-29, tanpa ada pembelaan dari Mataram. Yang lebih gilanya lagi, penerus Sultan Agung : Amangkurat I, menutup semua pelabuhan dan memerintahkan penghancuran terhadap semua kapal. Kombinasi antara tekanan maritim VOC dan kecurigaan Mataram terhadap masyarakat pesisir, menyebabkan menurunnya dunia kemaritiman masyarakat Jawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dengan ditutupnya pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara, maka pada pertengahan abad ke-17 terjadi eksodus besar-besaran pelaut Jawa (termasuk orang-orang keturunan Arab dan Tionghoa) ke seantero Nusantara. Di berbagai tempat mereka segera berbaur, berkawin campur, dan mengidentifikasikan dirinya sebagai &#8220;orang Melayu&#8221;. Saudagar-saudagar yang lebih besar, pindah ke pelabuhan yang dianggap bisa melindungi kepentingan mereka, seperti Banten, Makassar, Malaka, Aceh, Palembang, dan Banjarmasin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4527/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4527/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4527&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2013/05/13/dunia-maritim-dan-pelayaran-orang-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/jung-jawa.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Miniatur Jung Jawa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/sawerigading.jpg?w=212" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi Sawerigading (sumber : wikipedia.org)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/armada-dipati-unus.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Angkatan Laut Patih Yunus Menyerang Malaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/05/peta-pesisir-utara-jawa.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Peta Pesisir Utara Jawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masyarakat Minang di Kota Medan</title>
		<link>http://afandriadya.com/2013/04/10/masyarakat-minang-di-kota-medan/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2013/04/10/masyarakat-minang-di-kota-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 11:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jamee]]></category>
		<category><![CDATA[Ani Idrus]]></category>
		<category><![CDATA[H.M. Arbie]]></category>
		<category><![CDATA[Hotel Madani Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Masri Nur]]></category>
		<category><![CDATA[Merantau ke Deli]]></category>
		<category><![CDATA[Panji Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pedoman Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perantau Minang di Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Plaza Gelora Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Restoran Garuda]]></category>
		<category><![CDATA[Sjoerkani]]></category>
		<category><![CDATA[Zainal Abidin Ahmad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4498</guid>
		<description><![CDATA[Sejak berabad-abad lalu, wilayah Sumatera bagian utara telah menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Setidaknya mereka telah bermigrasi ke Sibolga, Barus, Tapaktuan, hingga ke Meulaboh sejak abad ke-14. Di wilayah ini, Bahasa Minangkabau &#8212; yang dikenal dengan Bahasa Pesisir di Sibolga atau Bahasa Anak Jamee di Meulaboh – telah lama mengakar dan menjadi bahasa pergaulan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4498&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4517" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/gubsu.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/gubsu.jpg?w=300&#038;h=159" alt="Gatot Pujo Nugroho (Gubsu) menghadiri helat perantau Minang (sumber : dnaberita.com)" width="300" height="159" class="size-medium wp-image-4517" /></a><p class="wp-caption-text">Gatot Pujo Nugroho (Gubsu) menghadiri helat perantau Minang (sumber : dnaberita.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sejak berabad-abad lalu, wilayah Sumatera bagian utara telah menjadi rantau tradisional bagi kaum Minangkabau. Setidaknya mereka telah bermigrasi ke Sibolga, Barus, Tapaktuan, hingga ke Meulaboh sejak abad ke-14. Di wilayah ini, Bahasa Minangkabau &#8212; yang dikenal dengan Bahasa Pesisir di Sibolga atau Bahasa Anak Jamee di Meulaboh – telah lama mengakar dan menjadi bahasa pergaulan (<em>lingua franca</em>). Di pesisir timur, tepatnya di kawasan Batubara dan Asahan, sejak abad ke-17 telah berkumpul orang-orang kaya Minangkabau yang melakukan perdagangan lintas selat. Mereka sebagian besar merupakan nakhoda pemilik kapal, yang berbisnis hasil-hasil bumi untuk pasaran Penang dan Singapura.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meski sebagian wilayah Sumatera Utara telah lama menjadi koloni dagang mereka, namun di kota Medan kehadiran etnis Minangkabau relatif baru. Sejarah mencatat baru di akhir abad ke-19 banyak perantau Minang yang bermigrasi ke Medan. Kedatangan mereka kesini mayoritas hendak menjadi pedagang. Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran orang-orang China, Jawa, dan Tamil, yang kebanyakan sebagai kuli kontrak.</p>
<p> <span id="more-4498"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Walau pada mulanya jumlah perantau Minang relatif kecil, namun dalam tempo singkat jumlah mereka telah mengubah komposisi masyarakat Medan. Berdasarkan hasil <em>volksteling</em> tahun 1930, terungkap bahwa persentase etnis Minang di Medan sekitar 7,29% dari keseluruhan penduduk kota. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 10,93% di tahun 1980. Meski mengalami penurunan ke angka 8,6% (2000), namun jumlah mereka tetap lebih besar berbanding etnis Melayu (6,59%) yang menjadi penduduk asli kota ini. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, mayoritas penduduk Medan berasal dari suku Jawa (33,03%), diikuti oleh Batak Toba (19,21%), Tionghoa (10,65%), dan Mandailing (9,36%).</p>
<p><div id="attachment_4506" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/kampung-minang-di-medan1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/kampung-minang-di-medan1.jpg?w=300&#038;h=163" alt="&quot;Kampung Minang&quot; di Jalan Arief Rachman Hakim, Medan" width="300" height="163" class="size-medium wp-image-4506" /></a><p class="wp-caption-text">&#8220;Kampung Minang&#8221; di Medan (sumber : lenteratimur.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Seperti di wilayah rantau lainnya, masyarakat Minang di Medan menjunjung tinggi azas “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Sehingga keberadaan mereka disini bukan malah menjadi masalah, namun cukup diperlukan untuk pembangunan kota. Terlebih kebanyakan masyarakat Minang bekerja sebagai pedagang ataupun profesional kerah putih. Meski jumlah kaum Minang hanya berkisar 8% &#8211; 11%, namun mereka cukup mendominasi okupansi yang membutuhkan keahlian tinggi, seperti dokter, notaris, wartawan, dan pengacara. Berdasarkan data yang diperoleh dari Ikatan Dokter Indonesia pada tahun 1980, tercatat bahwa lebih dari 20% dokter di Medan berasal dari Minangkabau. Angka ini merupakan yang tertinggi, sekaligus melampaui pencapaian masyarakat Jawa dan Batak yang masing-masing hanya menyumbang 15,9%. Untuk ketiga profesi lainnya, boleh dikatakan kaum Minang <em>mamacik</em> di kota ini. Ikatan Notaris Cabang Medan mengungkapkan bahwa ada sekitar 29,6% notaris di Medan yang diusahakan oleh kaum Minang. Yang cukup mencengangkan, lebih dari sepertiga profesi jurnalis dan pengacara digeluti para perantau Minang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Okupansi lainnya yang banyak dilakoni mereka adalah menjadi guru dan dosen. Namun hingga tulisan ini diturunkan, penulis tidak mendapatkan data mengenai jumlah pendidik Minangkabau yang bermukim di Medan. Diantara para pendidik tersebut, tak sedikit yang telah mencapai jenjang kepala sekolah, guru besar, dekan, bahkan rektor. Salah satunya ialah Djanius Djamin yang menjadi rektor Universitas Negeri Medan (Unimed). Djanius telah duduk di kursi ini sejak Unimed masih bernama IKIP Medan. Ia juga sempat menjadi pejabat sementara rektor Universitas Islam Sumatera Utara. Tak cukup sampai disitu, Djanius juga membidani beberapa lembaga pendidikan dan keuangan, diantaranya Universitas Tri Karya Medan.  Pendidik Minang lainnya yang sukses berkarier disini adalah Nazir Alwi. Namun ia hanya setahun menjabat rektor Universitas Sumatera Utara (1965-1966), sebelum dipindahtugaskan ke Universitas Gadjah Mada.</p>
<p><div id="attachment_4507" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/restoran-garuda1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/restoran-garuda1.jpg?w=614" alt="Restoran Garuda yang tetap mempertahankan ikon bagonjong"   class="size-full wp-image-4507" /></a><p class="wp-caption-text">Restoran Garuda yang tetap mempertahankan ikon <em>bagonjong</em></p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meskipun profesional Minang banyak yang menonjol, namun jumlah mereka tak seberapa dibanding yang bekerja sebagai pengusaha dan pengrajin. Berdasarkan alam kosmologis mereka, menjadi pedagang atau pengrajin merupakan profesi yang menyenangkan. Berniaga seperti halnya sebagai pengrajin, menawarkan kebebasan individu, tantangan, serta penghasilan yang tak terbatas. Selain itu profesi ini juga tak terikat kepada orang perseorangan, seperti halnya pegawai negeri ataupun tentara. Oleh karena itu, hampir disetiap pelosok kota Medan tak sulit kita menjumpai para pengrajin dan penggalas Minangkabau yang menjajakan dagangannya. Kebanyakan para pedagang ini berjualan di Pajak Sentral, Pasar Sukaramai, Jalan Bromo, dan kawasan Denai. Barang dan jasa yang mereka tawarkan-pun beraneka rupa. Dari pangkas rambut, tukang cetak, penjahit, konveksi, alat-alat tulis, hingga jual-beli emas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Ada pula diantara mereka yang berhasil naik kelas, bahkan menjadi konglomerat di Medan. Salah satunya ialah Muhammad Arbie, seorang perantau asal Bayur, Agam. Pada mulanya Arbie memulai usaha pakaian jadi. Kemudian ia terjun ke bisnis percetakan hingga membangun perusahaan sendiri. Berhasil di bisnis percetakan, Arbie merambah ke industri lain. Kini selain menjalankan bisnis percetakan, keluarga Arbie juga mengelola beberapa hotel dan rumah sakit. Pengusaha Minang lainnya yang sukses berbisnis di Medan adalah Masri Nur. Masri merupakan seorang otodidak yang memulai kariernya sebagai calo bis antar kota. Tak puas menjadi calo ia beralih profesi menjadi tukang jahit. Dari usaha jahit inilah ia kemudian berkembang ke bisnis konveksi. Untuk menampung para pedagang konveksi di Medan, ia membangun sebuah plaza yang dinamai Plaza Gelora. Kini bersama putrinya, ia mengembangkan Hotel Madani yang berkonsep syariah. Hotel tersebut belakangan menjadi pilihan utama para pelancong, terutama wisatawan asal Malaysia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Satu lagi pengusaha Minangkabau yang berkibar di Medan ialah H. Bachtar. Ia merupakan pendiri Restoran Garuda, rumah makan khas Minang-Melayu. Bachtar memulai bisnis kuliner pada tahun 1976 bersama koleganya Abdul Muluk. Setelah pecah kongsi, Bachtar terus bertahan dan melanjutkan usahanya hingga ke Jakarta. Ditangan putranya, kini Restoran Garuda terus merambah ke berbagai kota, termasuk membuka tiga gerainya di Singapura. Berbicara tentang pengusaha Medan, tak lengkap kiranya jika tak menyinggung sosok wanita tangguh asal Sawahlunto : Ani Idrus. Dia merupakan pendiri harian Waspada, salah satu surat kabar berpengaruh di kota Medan. Disamping itu ia juga menerbitkan majalah Dunia Wanita yang banyak memberikan pandangan mengenai peran wanita. Berkat jasa-jasanya di bidang jurnalistik, Ani beberapa kali memperoleh penghargaan dari pemerintah.</p>
<p><div id="attachment_4516" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/ani-idus.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/ani-idus.jpg?w=300&#038;h=151" alt="Ani Idus, salah seorang perantau Minang yang berpengaruh" width="300" height="151" class="size-medium wp-image-4516" /></a><p class="wp-caption-text">Ani Idus, salah seorang perantau Minang yang berpengaruh</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Seperti telah disinggung dimuka, di Medan banyak perantau Minang yang berprofesi sebagai wartawan. Selain Ani Idrus, orang Minang lainnya yang menjadi kuli tinta adalah Chalid Salim. Ia pernah menjadi redaktur surat kabar Pewarta Deli. Lewat media ini, ia sering mengkritik kebijakan pemerintah Hindia-Belanda, terutama mengenai penerapan <em>poenale sanctie</em>. Karena tulisannya yang pedas itu, ia harus masuk bui dan kemudian dibuang ke Boven Digul. Mohammad Samin juga merupakan tokoh Minangkabau yang lama berkarier di Medan. Samin merupakan pemimpin redaksi koran Benih Merdeka. Dalam semboyannya media ini menyatakan sebagai “Organ Untuk Menuntut Keadilan dan Kemerdekaan”. Zainal Abidin Ahmad bersama rekan-rekannya dari Sulit Air Solok, juga merupakan pionir jurnalistik di kota Medan. Mereka merupakan pendiri majalah Panji Islam yang memiliki sirkulasi ke seluruh Nusantara. Meski hanya sebentar, Buya Hamka juga pernah menjadi wartawan di Medan. Hamka mendirikan surat kabar Pedoman Masyarakat sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Ketika memimpin koran inilah Hamka menerbitkan cerita bersambung yang cukup populer : Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selain sebagai arena mencari kekayaan, rantau juga menjadi ruang politik bagi sebagian masyarakat Minang. Di Medan seperti juga halnya di kota-kota besar lain di Indonesia, keberadaan perantau Minang cukup mewarnai pertarungan politik lokal. Dengan jumlah yang signifikan ditambah penguasaan sumber-sumber ekonomi, etnis Minang menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan. Sejak masa kemerdekaan hingga saat ini, jumlah perantau Minang yang menduduki kursi DPRD tingkat I dan II di Sumatera Utara cukup mengesankan. Bahkan untuk kota Medan sendiri, beberapa kali <em>out of proportion</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Untuk kursi walikota, meski hanya sekali orang Minang menjabat – yakni ketika Drs. Sjoerkani memimpin pada periode 1966-1974, namun banyak prestasi yang ditorehkannya. Pada masa itu, Sjoerkani berhasil menata Medan menjadi kota yang bersih. Selain itu ia juga banyak membangun infrastruktur kota dan memperbaiki pelayanan publik. Karena keberhasilannya itu, banyak masyarakat Medan yang sampai kini terkesan oleh kepemimpinan beliau. Nuim Khaiyath salah seorang putra Medan kelahiran Gang Bengkok, berulang kali mengutarakan bahwa hanya Sjoerkani-lah walikota Medan yang berhasil hingga saat ini.</p>
<p><div id="attachment_4508" class="wp-caption alignleft" style="width: 225px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/merantau-ke-deli.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/merantau-ke-deli.jpg?w=215&#038;h=300" alt="Novel Merantau ke Deli karya Buya Hamka" width="215" height="300" class="size-medium wp-image-4508" /></a><p class="wp-caption-text">Novel Merantau ke Deli karya Buya Hamka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Merantau bagi sebagian besar orang Minang juga merupakan suatu misi kebudayaan. Dr. Usman Pelly dalam penelitiannya mengenai perantau Minang di Medan menyebutkan, bahwa migrasi mereka ke kota ini terutama untuk “membangkitkan batang yang terendam”. Istilah ini dimaksudkan sebagai bentuk pengembalian marwah seseorang atau suatu kaum di tengah lingkungan adat yang kompetitif. Oleh karena itu banyak perantau Minang yang ketika sukses, mengirimkan sebagian hartanya untuk ditanam di kampung halaman. Tak sedikit pula diantara mereka yang mendirikan rumah gadang atau menegakkan pusaka yang terlipat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meski tergolong individualis, para perantau Minang tak pernah mengelak untuk membantu saudara yang sedang kesulitan. Begitu pula halnya ketika membangun kampung halaman, tak sedikit dari mereka yang mau merogoh koceknya dalam-dalam. Karena kuatnya tradisi tolong menolong diantara mereka, banyak dijumpai perkumpulan perantau Minang yang berbasiskan nagari/kabupaten, seperti PKDP (Kabupaten Padang Pariaman), IKLA (Kabupaten Agam), S3 (Kabupaten Solok), dan SAS (nagari Sulit Air). Selain asosiasi yang bersifat kedaerahan, kaum Minangkabau juga aktif dalam organisasi keagamaan. Pada tahun 1927, atas prakarsa para pedagang Minang, didirikanlah organisasi Muhammadiyah cabang Medan. Tak hanya itu, mereka juga mengisi sebagian besar kepengurusan organisasi ini. Hingga masa kemerdekaan, kegiatan Muhammadiyah cabang Medan banyak diwarnai oleh kepentingan para perantau Minang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dulu, merantau ke Medan memang menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat Minang. Pada masa itu hanya dua tempat favorit orang Minang mencari untung : ke Medan (Deli) atau Kuala Lumpur (Klang). Migrasi besar-besaran kaum Minangkabau ke tanah Deli, terjadi dalam rentang waktu antara tahun 1890 hingga 1940. Populernya Medan sebagai tanah perantauan, memberikan inspirasi kepada Buya Hamka untuk menulis novel “Merantau ke Deli”. Kini meskipun masih banyak pemuda Minang yang merantau ke Medan, namun kota ini sudah tak lagi menjadi tujuan utama mereka. Sejak tahun 1980, banyak perantau Minang yang lebih memilih pergi ke Jakarta ataupun Bandung. Selain lebih mudah memperoleh pekerjaan, di kedua kota ini juga berdiri universitas-universitas terkemuka, tempat dimana banyak anak-anak Minang melanjutkan pendidikannya.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Lihat pula :</strong><br />
1. <a href="http://afandriadya.com/2010/05/10/perantau-minang-di-jakarta/" title="Perantau Minang di Jakarta (1)">Perantau Minang di Jakarta (1)</a><br />
2. <a href="http://afandriadya.com/2010/05/11/perantau-minang-di-jakarta-2/" title="Perantau Minang di Jakarta (2)">Perantau Minang di Jakarta (2)</a><br />
3. <a href="http://afandri81.wordpress.com/2010/12/06/perantau-minang-di-malaysia/" title="Perantau Minang di Malaysia">Perantau Minang di Malaysia</a><br />
4. <a href="http://afandri81.wordpress.com/2009/03/09/orang-minang-peran-dan-pencapaiannya/" title="Orang Minang, Peran, dan Pencapaiannya">Orang Minang, Peran, dan Pencapaiannya</a><br />
5. <a href="http://afandri81.wordpress.com/2010/12/09/mencari-akar-dinamisme-minangkabau/" title="Mencari Akar Dinamisasi Minangkabau">Mencari Akar Dinamisasi Minangkabau</a>     </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4498/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4498/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4498&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2013/04/10/masyarakat-minang-di-kota-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/gubsu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Gatot Pujo Nugroho (Gubsu) menghadiri helat perantau Minang (sumber : dnaberita.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/kampung-minang-di-medan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">&#34;Kampung Minang&#34; di Jalan Arief Rachman Hakim, Medan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/restoran-garuda1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Restoran Garuda yang tetap mempertahankan ikon bagonjong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/ani-idus.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ani Idus, salah seorang perantau Minang yang berpengaruh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/04/merantau-ke-deli.jpg?w=215" medium="image">
			<media:title type="html">Novel Merantau ke Deli karya Buya Hamka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Langkah Dahlan Iskan Membenahi BUMN</title>
		<link>http://afandriadya.com/2013/03/14/langkah-dahlan-iskan-membenahi-bumn/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2013/03/14/langkah-dahlan-iskan-membenahi-bumn/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Mar 2013 04:43:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN karya]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[Holdingisasi BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Tol Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Pos]]></category>
		<category><![CDATA[Jembatan Selat Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Manufacturing Hope]]></category>
		<category><![CDATA[Mobil Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[The New Tanjung Priok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4474</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis &#8212; sapaan akrab Dahlan Iskan &#8212; mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4474&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4486" class="wp-caption alignleft" style="width: 270px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/karikatur-dahlan-iskan.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/karikatur-dahlan-iskan.jpg?w=614" alt="Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)"   class="size-full wp-image-4486" /></a><p class="wp-caption-text">Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis &#8212; sapaan akrab Dahlan Iskan &#8212; mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa tahun belakangan ini, selalu ada saja solusinya. Kita tahu, banyak perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dikelola asal-asalan. Selain korupsi yang meruyak, banyak manajemen BUMN diisi orang-orang yang tak berkompeten. Sehingga hampir sebagian besar perusahaan milik negara mengalami kerugian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Salah satu perusahaan plat merah yang mengalami kerugian cukup besar adalah Pertamina. Perusahaan petroleum kebanggaan bangsa ini tidak hanya kalah di pasaran luar negeri, namun juga keok dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk menyiasatinya, maka Dahlan bersama tim manajemen Pertamina telah bersepakat membentuk “Brigade 200 K”. Pasukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina mencapai 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun. Selama ini Pertamina memang keteteran dalam memenuhi permintaan. Namun selama itu pula tak ada seorang-pun dari pihak Kementeriaan BUMN yang mau menuntasan permasalahan ini. Kini setelah Pak Dis menggebrak anak-anak muda Pertamina untuk meningkatkan angka produksi, maka diharapkan dua tahun mendatang Pertamina sudah bisa menjadi raja di kawasan ASEAN.</p>
<p> <span id="more-4474"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) yang banyak dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, Pak Dis bersama “putra-putra petir” berembuk untuk menciptakan mobil listrik. Kendaraan ini diharapkan akan menggantikan mobil-mobil berbahan bakar premium, yang selama ini banyak menguras subsidi pemerintah. Ada dua tipe mobil listrik yang dikembangkan Dahlan. Pertama, yang menggunakan <em>gearbox</em> dan yang lain tanpa menggunakan <em>gearbox</em>. Kedua-duanya telah diujicobakan berulang kali. Terakhir Tucuxi – begitu mobil listrik itu dinamai – yang tidak memakai <em>gearbox</em> sempat berujicoba, dan mengalami kecelakaan di Magetan. Namun kecelakaan itu telah memberikan hikmah bagi tim pengembang, mengenai pentingnya fungsi <em>gearbox</em>. Meski banyak kendala dalam pengembangan proyek ini, namun Dahlan bertekad untuk menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa. Ia berharap ini akan menjadi <em>milestone</em> bagi kebangkitan industri otomotif dalam negeri.</p>
<p><div id="attachment_4475" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-di-dalam-tucuxi.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-di-dalam-tucuxi.jpg?w=300&#038;h=153" alt="Dahlan Iskan mengendarai Tucuxi (sumber: kompas.com)" width="300" height="153" class="size-medium wp-image-4475" /></a><p class="wp-caption-text">Dahlan Iskan mengendarai Tucuxi (sumber: kompas.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dalam menangani perusahaan pangan dan perkebunan, Pak Dis juga tak kalah gesitnya. Setelah selesai memperbaiki mismanajemen dan meningkatkan produksi perusahaan gula, akhir tahun lalu Dahlan berhasil menciptakan sawah baru di Kalimantan Barat. Penanggung jawab proyek itu adalah salah satu BUMN pangan, PT Sang Hyang Seri (SHS). Perusahaan ini menargetkan, pada tahun 2014 nanti akan mencetak 100.000 hektar sawah tambahan di propinsi tersebut. Proyek yang satu ini, disebut Dahlan sebagai proyek “<em>non-capitalist farming</em>”. Artinya, BUMN tidak membeli tanah itu dari rakyat. Tidak seperti kebun sawit, tanahnya tetap dimiliki rakyat. BUMN hanya menjadi pekerja dan pemegang manajemennya. Yang akan menikmati hasilnya adalah para petani pemilik lahan. Yang menarik dari pembukaan lahan sawah baru itu, Pak Dis bisa mensinergikan semua perusahaan-perusahaan BUMN. Dahlan menginstilahkannya sebagai “12 Samurai” yang tergabung dalam Sinergi BUMN Peduli. Perusahaan BUMN yang membantu proyek ini antara lain : Batantekno dan Pupuk Indonesia (teknologi), Hutama Karya dan Brantas Abipraya (penyiapan lahan), serta Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, Perusahaan Gas Negara, dan Pertamina dalam urusan pendanaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Satu lagi perusahaan BUMN yang melakukan pembenahan besar-besaran adalah PT PAL Surabaya. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan plat merah yang berdarah-darah karena tidak fokus pada core business-nya. Tiga anak perusahaannya bergerak di bidang pembuatan boiler dan turbin, serta melangkah lebih jauh menjadi kontraktor EPC pembangkit listrik. Melihat kondisi seperti ini, Pak Dis menginstruksikan kepada jajaran manajemen PT PAL untuk melepaskan ketiga anak usaha tersebut. Karena selain jauh dari bisnis utama PT PAL, usaha ini bisa mengganggu reputasi dan nama baik PT PAL. Selain kepemilikan PT PAL yang tidak signifikan, pelepasan ini akan membuat PT PAL lebih konsentrasi menyehatkan perusahaan. Sudah terlalu banyak energi yang dicurahkan untuk menyelamatkan PAL di masa lalu. Dan sudah banyak pula uang negara yang digelontorkan kesana. Semua seperti sia-sia. Tahun 2011 PAL masih rugi ratusan miliar rupiah. Namun pada tahun lalu, di bawah manajemen baru, PT PAL telah keluar dari kerugiannya.</p>
<p><div id="attachment_4477" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/bandara-baru-ngurah-rai.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/bandara-baru-ngurah-rai.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Bandara Baru Ngurah Rai (sumber : indo-aviation.com)" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4477" /></a><p class="wp-caption-text">Bandara Baru Ngurah Rai (sumber : indo-aviation.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Disamping membenahi unit-unit usaha yang salah urus, Dahlan juga mendorong kinerja perusahaan-perusahaan BUMN yang lambat. Angkasa Pura misalnya, sejak di bawah kendali Dahlan kini mulai ngebut menyelesaikan proyek-proyek yang mangkrak. Hasilnya, sebentar lagi rakyat Indonesia bisa menikmati bandar udara baru dengan pelayanan internasional. Di beberapa kota, banyak terminal-terminal bandara yang sempit dan tak layak, mulai direnovasi. Di Bali misalnya, PT Angkasa Pura I telah membangun terminal internasional baru Bandara Ngurah Rai. Terminal ini rencananya akan selesai pada bulan Oktober 2013 dan digunakan untuk menyambut para tamu peserta KTT APEC. Di Medan, PT Angkasa Pura II akan segera meresmikan Bandara Kuala Namu, yang menggantikan Bandara Polonia. Tak hanya itu, Angkasa Pura II juga akan melanjutkan pembangunan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, serta peremajaan Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dahlan juga menggenjot BUMN-BUMN karya untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur. Saat ini, Waskita Karya bersama Hutama Karya dan Adhi Karya, sedang melakukan penyelesaian jalan tol pertama di atas laut, yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai dengan Nusa Dua dan Benoa. Jika proyek ini selesai, maka akan memberikan inspirasi untuk pembangunan jalan tol di atas laut lainnya. Ke depan, proyek-proyek besar yang akan dikerjakan oleh BUMN karya antara lain Pelabuhan Baru Tanjung Priok yang tendernya telah dimenangkan oleh PT Pembangunan Perumahan, serta Jembatan Selat Sunda yang sedang dalam proses <em>feasibility study</em>. Untuk The New Tanjung Priok, Dahlan menargetkan di tahun 2023 nanti seluruh terminal (7 terminal peti kemas dan 2 terminal produk) telah bisa digunakan. Sehingga pada tahun tersebut, Tanjung Priok bisa menampung sekitar 26 juta teus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">PT Kereta Api Indonesia yang menjadi urat nadi transportasi di Indonesia, juga tak luput dari perhatian Pak Dis. Dahlan berkali-kali menyemprit manajemen KAI untuk segera membenahi pelayanan angkutan massal itu. Hasilnya, di musim mudik 2012 kemarin, tak ada lagi penumpang kereta api yang tak kebagian tempat duduk. Cara pembelian tiket kereta-pun sudah bisa melalui <em>online</em>. Dan yang terpenting jadwal kereta api tak banyak lagi yang molor. Tak cukup itu, Pak Dis juga mendorong manajemen KAI untuk memperbaiki sarana perlintasan, kabin kereta, serta stasiun. Kini, jika kita mengunjungi stasiun-stasiun kereta di seputaran Jabodetabek, maka akan terasa perubahan yang telah dilakukan Pak Dis.</p>
<p><div id="attachment_4478" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/the-new-tanjung-priok.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/the-new-tanjung-priok.jpg?w=300&#038;h=181" alt="Rencana The New Tanjung Priok (sumber : detik.com)" width="300" height="181" class="size-medium wp-image-4478" /></a><p class="wp-caption-text">Rencana The New Tanjung Priok (sumber : detik.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Terobosan Dahlan lainnya yang patut dicatat adalah keberhasilannya menjadikan BUMN sebagai <em>multinational corporation</em>. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya pembelian pabrik semen di Vietnam : Than Long, yang berkapasitas 2,3 juta ton. Dengan pembelian ini, PT Semen Indonesia, Tbk yang baru saja menggeser posisi Siam Cement (Thailand) sebagai pabrik semen terbesar di Asia Tenggara, kian kukuh di depan. Tahun ini Telkom juga mulai berekspansi ke luar negeri, tepatnya ke Timor Leste. Selama ini telekomunikasi Timor Leste dikuasai perusahaan Portugal. Tahun depan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk mulai beroperasi disana. Tekad direksi Telkom tidak kecil : menguasai pasar telekomunikasi eks-propinsi Indonesia itu. Di samping Semen Indonesia dan Telkom, beberapa BUMN besar juga didorong untuk terus mengembangkan sayap. Kalau dulu Indonesia dikenal sebagai tukang jual BUMN, kini berubah total giliran BUMN yang beli, beli, beli.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sejak ditunjuk sebagai Menteri Negara BUMN oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dahlan langsung tancap gas. Targetnya ingin menjadikan BUMN sebagai tangan kiri pemerintah, yang bisa menopang APBN. Meski ia sempat divonis dokter hanya bertahan hidup enam bulan &#8212; sejak diketahui mengidap sirosis dan kanker hati, namun hal itu tak mempengaruhi kinerjanya. Dahlan seperti halnya ketika menakhodai Grup Jawa Pos dulu, masih terlihat ligat. Ia tak terlalu memikirkan kesehatannya ketika harus melakukan perjalanan yang cukup panjang. Sewaktu menjabat dirut PLN, ia berhari-hari nginap di rumah-rumah penduduk. Melakukan <em>blusukan</em> hingga ke pedalaman. Begitu pula halnya ketika menjadi menteri. Pak Dis tak segan-segan mengemudi mobil listrik yang sedang berujicoba atau turun ke sawah untuk menanam benih.</p>
<p><div id="attachment_4479" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-dan-wartawan.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-dan-wartawan.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Dahlan dan Wartawan (sumber : detik.com)" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-4479" /></a><p class="wp-caption-text">Dahlan dan Awak Media (sumber : detik.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kini setelah satu setengah tahun Dahlan duduk di Kementerian BUMN, telah banyak perusahaan-perusahaan negara yang terselamatkan. Belajar manajemen ala Dahlan Iskan, ternyata tak semua perusahaan yang hampir kolaps, persoalan utamanya terletak pada permodalan. Memberikan kepercayaan lebih kepada manajemen untuk bertindak, sebenarnya bisa mengangkat perusahaan itu dari kebangkrutan. Hal inilah yang dilakukan oleh Dahlan terhadap PT IKI dan PT Batantekno. Pelajaran lainnya yang bisa dipetik dari Pak Dis adalah caranya melakukan efisiensi dan sinergi. Setelah berhasil melakukan holdingisasi pada perusahaan semen dan pupuk, tahun 2014 nanti Dahlan akan menyelesaikan merger perusahaan-perusahaan pangan. Dahlan berharap nantinya hanya ada sekitar 87 perusahaan BUMN yang semuanya sehat dan bugar. Sehingga cita-citanya menjadikan BUMN sebagai <em>cash cow</em> bagi pemerintah bisa terealisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dari sekian banyak menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua, Dahlan bisa dikatakan salah satu yang berhasil. Pembawaannya yang santun dan ramah terhadap wartawan, menjadikannya sebagai <em>media darling</em>. Hampir sebagian besar liputan tentang dirinya, bernada positif. Meski banyak dipuja sana-sini, Dahlan kerap tampil sederhana dan rendah hati. Ketika ia salah menuduh anggota DPR Mohammad Ichlas el-Qudsi (Michel) sebagai salah seorang pemeras BUMN, ia langsung mendatangi rumah orang tua Michel di Padang. Disana ia meminta maaf sembari mencium tangan orang tua Michel, yang sempat sakit karena tuduhan tersebut. Dahlan yang merupakan lulusan &#8220;sekolah&#8221; Muhammadiyah menyadari, bahwa dosa terhadap sesama manusia tak akan termaafkan sebelum kita meminta maaf langsung kepada pihak yang bersangkutan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Itulah sekilas sosok Dahlan Iskan, salah satu tokoh inspiratif dan harapan Indonesia. Semoga dengan masuknya Pak Dis ke dalam jajaran pemerintahan, bangsa Indonesia akan semakin baik lagi. Ayo terus berkarya Pak Dahlan. Kami mendukungmu !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4474&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2013/03/14/langkah-dahlan-iskan-membenahi-bumn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/karikatur-dahlan-iskan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Karikatur Dahlan Iskan (sumber : alomet.net)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-di-dalam-tucuxi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dahlan Iskan mengendarai Tucuxi (sumber: kompas.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/bandara-baru-ngurah-rai.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bandara Baru Ngurah Rai (sumber : indo-aviation.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/the-new-tanjung-priok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rencana The New Tanjung Priok (sumber : detik.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/03/dahlan-dan-wartawan.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Dahlan dan Wartawan (sumber : detik.com)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebangkitan Asia dan Inkompetensi Barat</title>
		<link>http://afandriadya.com/2013/02/04/asia-hemisfer-baru-dunia/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2013/02/04/asia-hemisfer-baru-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2013 06:36:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Amitabh Bachchan]]></category>
		<category><![CDATA[Asia Hemisfer Baru Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Asia Memimpin Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Aung San Suu Kyi]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Fukuyama]]></category>
		<category><![CDATA[Kebangkitan China]]></category>
		<category><![CDATA[Kishore Mahbubani]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis Finansial 2008]]></category>
		<category><![CDATA[The End of History]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4373</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda berbicara mengenai kebangkitan Asia 30 tahun lalu, mungkin sebagian orang tidak akan percaya, kalau hal itu bisa terwujud pada dekade kedua abad ini. Catatan yang memperlihatkan pertumbuhan ajaib China, India, dan Asia Tenggara dalam sepuluh tahun terakhir, memberikan bukti bahwa kebangkitan Asia bukan isapan jempol belaka. Bank Dunia memperkirakan bahwa di pertengahan abad [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4373&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/asia-hemisfer-baru-dunia.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/asia-hemisfer-baru-dunia.jpg?w=614" alt="Asia Hemisfer Baru Dunia"   class="alignright size-full wp-image-4374" /></a>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Jika Anda berbicara mengenai kebangkitan Asia 30 tahun lalu, mungkin sebagian orang tidak akan percaya, kalau hal itu bisa terwujud pada dekade kedua abad ini. Catatan yang memperlihatkan pertumbuhan ajaib China, India, dan Asia Tenggara dalam sepuluh tahun terakhir, memberikan bukti bahwa kebangkitan Asia bukan isapan jempol belaka. Bank Dunia memperkirakan bahwa di pertengahan abad ini, empat dari lima negara ekonomi terbesar dunia akan berada di Asia. Padahal 20 tahun lalu, hanya satu negara Asia yang masuk ke dalam jajaran lima besar. Selebihnya berada di Eropa (3 negara) dan Amerika (1).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Cerita sukses mengenai kebangkitan Asia ini, banyak dipaparkan oleh para ahli ekonomi dan politik internasional. Salah satunya ialah Kishore Mahbubani yang menulis secara gamblang dalam buku : The New Asian Hemisphere. Beruntung bagi pembaca Indonesia, di bulan November 2011 lalu buku ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh penerbit buku Kompas dengan judul : Asia Hemisfer Baru Dunia. Buku ini merupakan salah satu <em>best seller</em> di toko-toko buku seluruh Asia. Namun kurang bergairah di sebagian besar negara Barat. Itu sebabnya pada sampul bagian dalam edisi Indonesia, buku ini menyorongkan pernyataan : perlunya bangsa-bangsa Barat melangkah keluar zona nyaman mereka dan menyiapkan peta mental baru untuk dapat memahami kebangkitan Asia.</p>
<p> <span id="more-4373"></span>  </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Buku ini berisi enam bagian, yang mengulas tentang faktor-faktor kebangkitan Asia dan reaksi Barat terhadap kebangkitan tersebut. Yang terpenting dari keenam bab buku ini adalah bagian kedua, yang menerangkan mengenai nilai-nilai universal yang kini diserap oleh bangsa Asia. Menariknya, nilai-nilai inilah dulu yang membawa Barat bangkit pada abad ke-19, yang kini justru malah mereka tinggalkan. Disinilah letak persoalan menjadi jelas, mengapa akhirnya Asia kembali bangkit dan Barat sedikit demi sedikit turun dari tampuk kepemimpinan dunia.</p>
<p><div id="attachment_4381" class="wp-caption alignleft" style="width: 285px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/mahbubani.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/mahbubani.jpg?w=614" alt="Kishore Mahbubani"   class="size-full wp-image-4381" /></a><p class="wp-caption-text">Kishore Mahbubani</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Di bagian awal tulisannya, Kishore memaparkan sejumlah data yang cukup menarik. Pada abad pertama masehi, Asia menyumbang hingga 76,3% produk domestik bruto (PDB) global. Di waktu yang sama, Eropa Barat hanya mencetak sekitar 10,8%. Seribu tahun kemudian, kontribusi Eropa Barat terhadap PDB global sekitar 8,7%. Dan Asia tetap mempertahankan dominasinya, meski sedikit turun ke angka 70,3%. Keseimbangan ini mulai bergeser sejak berlangsungnya Revolusi Industri di Eropa. Pada tahun 1820, andil Eropa Barat naik hingga mencapai 23,6%, sementara Asia turun menjadi 59,2%. Di tahun 1998, Eropa Barat bersama ranting-ranting peradabannya (Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru) membentuk sekitar 45,6% PDB global. Jauh meninggalkan Asia yang hanya memberikan kontribusi sebesar 37,2%. Dari data ini terlihat bahwa kebangkitan Barat terjadi sangat cepat dalam 200 tahun terakhir. Merebut kepemimpinan global, yang berabad-abad telah digenggam bangsa Asia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dalam 50 tahun terakhir, hanya Jepang-lah bangsa Asia yang mampu mengimbangi kekuatan ekonomi Barat. Kebangkitan Jepang bermula pada tahun 1860. Ketika sekelompok reformator Meiji mendatangi semua negara-negara Barat untuk menemukan praktik terbaik masyarakat di negara itu. Orang-orang Jepang ini menarik pelajaran dengan bagus. Mereka menemukan bahwa ada sekurang-kurangnya tujuh pilar kebijaksanaan Barat yang dapat membawa efek menakjubkan pada masyarakat mereka. Ketujuh pilar itu adalah Ekonomi Pasar Bebas, Sains dan Teknologi, Meritokrasi, Pragmatisme, Budaya Perdamaian, Aturan Hukum, dan Pendidikan. Setelah Jepang sukses mengimplementasikan ketujuh pilar tersebut, giliran macan-macan Asia serta China dan India yang ikut menerapkannya. Kini setelah gelombang kebangkitan itu menjalar ke seluruh Asia, maka tak lama lagi masyarakat di benua ini akan kembali mengambil alih posisi alamiah mereka, menjadi kekuatan ekonomi dan politik terbesar dunia.</p>
<p><div id="attachment_4377" class="wp-caption alignright" style="width: 309px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/gangnam-style1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/gangnam-style1.jpg?w=614" alt="Gangnam Style, salah satu produk K-Pop (sumber : www.guinnessworldrecords.com)"   class="size-full wp-image-4377" /></a><p class="wp-caption-text">Gangnam Style, salah satu produk K-Pop (sumber : <a href="http://www.guinnessworldrecords.com" rel="nofollow">http://www.guinnessworldrecords.com</a>)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Berderapnya modernisasi di negara Asia, bukan berarti terjadinya westernisasi di kawasan tersebut. Justru yang terjadi belakangan ini malah sebaliknya. Dimana banyak masyarakat Asia yang cenderung anti-Barat. Mereka mulai menyangsikan legitimasi media Barat yang selalu berbicara atas nama “komunitas internasional.” Di Turki yang telah lama memiliki tradisi pro-Barat, setiap politisi yang berkata bahwa Barat <em>is the best</em>, kini bisa terhambat karier politiknya. Di China, masyarakat tak lagi menggunakan kaca mata Barat dalam mendefinisikan kebebasan. Mereka tak mau lagi terkooptasi dengan cara pandang Barat yang tidak sesuai dengan kultur China. Di India, mayoritas intelektual tak lagi percaya kalau Barat masih menjaga nilai-nilai peradaban manusia. Padahal 20 tahun silam, jika ada seorang India yang berani mengatakan bahwa Barat melakukan penyiksaan terhadap tawanannya, mereka akan dipecat atau dibungkam. Di Irak dan Afghanistan, dua negara yang menjadi korban ambisi Barat, setiap minggu ada saja prajurit Amerika yang tewas. Gelombang bom bunuh diri yang banyak terjadi akhir-akhir ini, hendak mengatakan kepada dunia bahwa Barat harus segera hengkang dari negara Muslim.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Di bidang kebudayaan-pun, proses dewesternisasi berlangsung massif. Sebagian masyarakat Asia kini percaya bahwa produk budaya mereka mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Contoh paling aktual terjadi di Indonesia. Dimana musik dalam negeri, telah menggantikan kedudukan lagu-lagu Barat yang selama ini banyak digandrungi kawula muda. Bahkan Korean Pop (K-Pop) yang dalam lima tahun terakhir melanda dunia, dipercaya telah menggerus pasar musik pop Barat. Di banyak negara berkembang, film India telah menggantikan kedudukan film Hollywood yang dalam beberapa dasawarsa terakhir menguasai dunia. Malah di Suriah, satu-satunya foto yang dipajang publik sebesar foto presiden mereka hanyalah gambar Amitabh Bachchan, salah seorang tokoh film India legendaris.</p>
<p><div id="attachment_4375" class="wp-caption alignleft" style="width: 284px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/fukuyama.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/fukuyama.jpg?w=614" alt="Francis Fukuyama"   class="size-full wp-image-4375" /></a><p class="wp-caption-text">Francis Fukuyama</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Di buku ini, Kishore juga mengkritik pemikiran Francis Fukuyuma dan para intelektual Barat lainnya, yang menganggap Barat sebagai pemenang sejarah dunia. Kishore sangat emosi menanggapi esai Fukuyuma yang berjudul &#8220;The End of History&#8221;, yang secara provokatif menyebutkan bahwa dengan berakhirnya Perang Dingin maka usai pulalah evolusi ideologis umat manusia, dimana universalisasi demokrasi liberal Barat menjadi bentuk final pemerintahan manusia. Kishore menangkis segala pandangan Fukuyama dengan merujuk kepada krisis finansial yang terjadi pada tahun 2008 lalu. Menurutnya krisis itu telah menghasilkan demistifikasi global tentang gagasan kompetensi Barat. Dimana dunia tak lagi percaya dengan sistem kapitalisasi Barat yang berdiri di atas ketidakadilan. Teori apapun yang mengatakan bahwa ekonomi negara-negara Barat telah dipersiapkan dengan baik untuk mengatasi krisis besar, kini telah runtuh! Krisis ini tentunya akan mempercepat berakhirnya era dominasi Barat terhadap sejarah dunia, yang diprediksi Kishore dengan amat meyakinkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Satu lagi yang cukup penting diulas disini adalah inkompetensi Barat dalam menangani isu-isu global. Meski di dalam negeri mereka cukup kompeten dalam menyelesaikan permasalahannya, akan tetapi mereka tidak dapat melakukan itu sama baiknya untuk masyarakat internasional. Di Timur Tengah misalnya, hingga saat ini Barat masih menerapkan standar ganda dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Barat selalu mati-matian membela kepentingan Israel, meski negara itu telah banyak memberikan kerugian kepada komunitas Muslim dan masyarakat Barat secara tak langsung. Dalam perjanjian non-proliferasi nuklir, Barat juga cenderung diskriminatif. Barat melalui Dewan Keamanan PBB yang mereka kuasai, hanya menghukum Iran sebagai pemilik nuklir sembari membiarkan Israel dan beberapa negara Eropa melakukan uji coba senjata nuklir mereka.</p>
<div id="attachment_4397" class="wp-caption alignright" style="width: 290px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/penjara-guantanamo2.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/penjara-guantanamo2.jpg?w=250&#038;h=267" alt="Penjara Guantanamo" width="250" height="267" class="size-medium wp-image-4397" /></a><p class="wp-caption-text">Penjara Guantanamo. Inkompetensi Barat dalam penegakan HAM (sumber : <a href="http://www.thewashingtonnote.com" rel="nofollow">http://www.thewashingtonnote.com</a>)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dalam hal penegakan hak asasi manusia (HAM), masyarakat Barat kerap kali mendua. Di negara-negara yang menjadi “klien” Amerika Serikat, seperti kerajaan-kerajaan Arab atau negara Amerika Latin yang dipimpin oleh para diktator, kita akan melihat perlakuan yang sangat berbeda. Pelanggaran HAM di negara-negara tersebut begitu terbuka dilakukan, namun hanya berbekas kecil dan penuh maaf dalam imajinasi Amerika. Sementara itu terhadap China, Barat selalu mencecar pelanggaran HAM di Tibet, dan belakangan juga nasib sebagian besar buruh yang bekerja disana. Selain itu, Barat juga mengkritik India atas penegakan HAM di Kashmir, dan merongrong pemerintahan militer Myanmar untuk membebaskan Aung San Suu Kyi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Paradoksal Barat lainnya adalah mengenai isu perdagangan bebas. Pada paruh kedua abad ke-20, negara-negara Barat sangatlah rajin mendorong terciptanya liberalisasi pasar. Mereka banyak melakukan <em>roadshow</em> ke negara-negara berkembang untuk mempercepat terealisasinya hal tersebut. Salah satu ideologi yang mereka dengungkan adalah keyakinan bahwa hambatan perdagangan dapat diminimalisir dengan meningkatkan saling ketergantungan, yang pada akhirnya akan menghasilkan standar kehidupan yang lebih tinggi bagi semua. Namun setelah masuknya China ke dalam organisasi perdagangan dunia (WTO) dan membanjirnya produk-produk negara tersebut ke seluruh dunia, Barat justru enggan menerapkan prinsip perdagangan bebas. Hal ini tentunya sangat mengherankan. Mengingat dalam waktu yang relatif singkat, Barat telah mengubah pandangannya 180 derajat. Dari negara yang menyerukan perdagangan bebas, menjadi negara yang paling sering melakukan proteksi.</p>
<p><div id="attachment_4393" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/dubai2.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/dubai2.jpg?w=614" alt="Dubai, simbol kebangkitan Asia"   class="size-full wp-image-4393" /></a><p class="wp-caption-text">Dubai, simbol kebangkitan Asia</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kini sudah tiba waktunya bagi Barat, untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa bangsa lain dan komunitas lain juga sekompeten Barat – jika tidak mau dikatakan lebih kompeten, dalam menjawab tantangan global. Dan Asia mungkin menjadi komunitas paling kompeten, yang secara serius akan menjadi ancaman bagi eksistensi peradaban Barat. Jika Barat hendak mempertahankan supremasinya di percaturan global, agaknya mereka harus kembali ke nilai-nilai universal yang 200 tahun lalu telah mereka terapkan. Namun agaknya hal itu sulit dilakukan. Mengingat masih banyaknya pengambil keputusan di Barat yang merasa superior, dan menganggap cara yang mereka gunakan saat ini masihlah yang terbaik. Pandangan kaku dan penuh rekayasa itu, secara tak sadar akan segera menenggelamkan mereka. Dan dunia akan kembali kepada fitrahnya, dengan kepemimpinan bangsa-bangsa Asia.</p>
<p>&nbsp;<br />
sumber gambar : <a href="http://www.skyscrapercity.com" rel="nofollow">http://www.skyscrapercity.com</a></p>
<p><strong>Lihat pula :</strong><br />
1. <a href="http://afandriadya.com/2008/12/18/amerika-akan-kolaps/" title="Amerika akan Kolaps">Amerika akan Kolaps</a><br />
2. <a href="http://afandriadya.com/2012/08/06/kebangkitan-tiongkok-dan-jaringan-bisnis-china-perantauan-1/" title="Kebangkitan Tiongkok dan Jaringan China Perantauan">Kebangkitan Tiongkok dan Jaringan China Perantauan</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4373&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2013/02/04/asia-hemisfer-baru-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/asia-hemisfer-baru-dunia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Asia Hemisfer Baru Dunia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/mahbubani.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kishore Mahbubani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/gangnam-style1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gangnam Style, salah satu produk K-Pop (sumber : www.guinnessworldrecords.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/fukuyama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Francis Fukuyama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/penjara-guantanamo2.jpg?w=280" medium="image">
			<media:title type="html">Penjara Guantanamo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/02/dubai2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dubai, simbol kebangkitan Asia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solusi Kemacetan Jakarta</title>
		<link>http://afandriadya.com/2013/01/14/solusi-kemacetan-jakarta/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2013/01/14/solusi-kemacetan-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 08:29:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Macet]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Gajah Mada Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[KRL Jabotabek]]></category>
		<category><![CDATA[Moscow Metro]]></category>
		<category><![CDATA[MRT Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo Subway]]></category>
		<category><![CDATA[Transjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Transportasi Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4335</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai megapolitan nomor dua di dunia, Jakarta tak pernah lepas dari persoalan kemacetan lalu lintas. Seperti halnya Tokyo, Bangkok, dan New York City, traffic jam di Jakarta tergolong sangat akut. Perlu suatu terobosan luar biasa, untuk mengatasi persoalan ini. Sebenarnya problem kemacetan di Jakarta bukanlah hal yang baru. Namun sudah lima kali gubernur Jakarta silih [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4335&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4338" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-rasuna-said.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-rasuna-said.jpg?w=300&#038;h=190" alt="Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)" width="300" height="190" class="size-medium wp-image-4338" /></a><p class="wp-caption-text">Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sebagai megapolitan nomor dua di dunia, Jakarta tak pernah lepas dari persoalan kemacetan lalu lintas. Seperti halnya Tokyo, Bangkok, dan New York City, <em>traffic jam</em> di Jakarta tergolong sangat akut. Perlu suatu terobosan luar biasa, untuk mengatasi persoalan ini. Sebenarnya <em>problem</em> kemacetan di Jakarta bukanlah hal yang baru. Namun sudah lima kali gubernur Jakarta silih berganti, permasalahan ini tak kunjung berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya. Jalan-jalan di ibu kota, dari waktu ke waktu malah semakin padat. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta setiap tahunnya mencapai 9,5%. Angka ini tak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan raya, yang hanya berkisar 0,01% per tahunnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sudah bermacam-macam cara yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi kemacetan di ibu kota. Pada masa gubernur Wiyogo Atmodarminto, pemerintah menerapkan sistem 3 in 1 di kawasan segi tiga emas. Setiap mobil yang melintasi Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto, wajib berisi minimal tiga orang. Kemudian di periode kepemimpinan gubernur Sutiyoso, pemerintah kembali melakukan terobosan, yakni dengan membangun jaringan <em>bus rapid transit</em>. Bus yang dikenal dengan nama Transjakarta ini, memiliki lajur dan halte tersendiri. Sampai saat ini, sudah 11 koridor yang selesai dibangun. Koridor 12, yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Pluit, sedang dalam tahap penyelesaian. Diluar kebijakan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum DKI juga telah banyak membangun jalan layang serta terowongan. Namun semua itu tak bisa menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh.</p>
<p> <span id="more-4335"></span><br />
<div id="attachment_4337" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mrt-jakarta.png"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mrt-jakarta.png?w=300&#038;h=225" alt="Rencana MRT Jakarta" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-4337" /></a><p class="wp-caption-text">Rencana MRT Jakarta</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kini ditangan gubernur baru Joko Widodo, banyak masyarakat berharap kemacetan dapat segera teratasi. <em>Mass rapid transit</em> (MRT), yang telah digadang-gadang sejak 15 tahun lalu, diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dekat. Proyek yang menelan biaya mencapai Rp 15 triliun itu, rencananya akan dibangun pada awal tahun ini. Dan diharapkan di tahun 2016 nanti, masyarakat sudah bisa memanfaatkannya. Pada tahap pertama, pemerintah akan membangun rute Lebak Bulus-Bunderan HI sepanjang 15,7 km. Koridor ini merupakan jalur sarat penumpang, yang hingga kini hanya dilayani oleh bus-bus reguler. Jalur ini direncanakan akan memiliki 13 stasiun pemberhentian. Dari Lebak Bulus hingga Jalan Sisingamangaraja, rel akan berada di atas jembatan layang. Sedangkan selebihnya, akan dibangun di bawah tanah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sebenarnya saat ini Jakarta sudah memiliki MRT, yakni berupa KRL Comutter Jabodetabek. Namun beberapa jalur KRL, masih berhimpitan dengan lintasan kereta api TransJawa. Mungkin karena itulah, masyarakat tidak menyebut KRL Comutter Jabodetabek dengan istilah MRT. Terlepas dari istilah yang diberikan, kereta komuter kini merupakan satu-satunya angkutan masal yang paling efektif. Dibanding bus Transjakarta, kereta komuter dinilai lebih cepat dan tepat waktu. Meskipun begitu, ada pula beberapa kendala seperti jalur dan rutenya yang terbatas. Di jam-jam sibuk, sering laju kereta komuter harus tertahan. Berganti jalan dengan kereta antar kota. Akibatnya banyak jadwal kereta yang molor, dan terjadi penumpukan penumpang di stasiun. Untuk mengatasi masalah ini, sudah saatnya pemerintah melalui PT KAI, menambah jalur kereta komuter secara massif.</p>
<p><div id="attachment_4340" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/truk-dan-bus-akap.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/truk-dan-bus-akap.jpg?w=614" alt="Truk dan Bus AKAP melintasi Tol Dalam Kota "   class="size-full wp-image-4340" /></a><p class="wp-caption-text">Truk dan Bus AKAP melintasi Tol Dalam Kota</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Untuk prioritas pertama, penulis mengusulkan agar segera dibangun <em>double-double track</em> di lintasan Jakarta Kota-Bekasi dan Jakarta Kota-Bogor. Selanjutnya pemerintah harus menyediakan jalur-jalur baru, terutama menuju kota-kota penyangga. Beberapa kawasan penyangga yang membutuhkan <em>mass rapid transit</em> antara lain Cikarang, Cibubur, Cibinong, Ciledug, serta Cikupa. Jika saja pemerintah mampu menyediakan transportasi massal menuju wilayah urban, maka kemacetan di Jakarta akan banyak terpangkas. Menurut kalkulasi penulis, untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Hanya menyambung jalur yang sudah ada, dan kemudian dibuatkan lintasan tambahan menuju ke kawasan tersebut. Untuk rute menuju Cibubur misalnya, PT KAI cukup membangun rel antara Cibubur sampai dengan Lenteng Agung, untuk selanjutnya disambungkan dengan jalur kereta Jakarta Kota-Bogor. Atau untuk tujuan Cikarang, PT KAI hanya menyediakan rel listrik tambahan antara Stasiun Bekasi dan Cikarang. Sehingga kereta komuter jurusan Bekasi, bisa diperpanjang hingga mencapai Stasiun Cikarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Solusi lainnya adalah mengatur arus perjalanan truk dan bus-bus AKAP, yang selama ini menjadi biang keladi kemacetan di ibu kota. Salah satunya adalah dengan melarang truk-truk besar melewati jalan tol Lingkar Dalam Kota, pada pukul 06.00 &#8211; 21.00. Adanya penegakan hukum terkait pengaturan beban truk, juga menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. DLLAJ harus berani bertindak tegas &#8212; dan tidak berkolusi, terhadap truk-truk yang melebihi kapasitas. Karena selain dapat merusak jalan, tonase yang berlebihan juga akan mengurangi laju kendaraan. Agar perekonomian tak terhambat, pemerintah harus menyediakan kereta kontainer, yang membawa hasil-hasil industri dari Cikarang/Tangerang ke Pelabuhan Tanjung Priok.</p>
<p><div id="attachment_4341" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mikrolet.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mikrolet.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Mikrolet memenuhi badan jalan (sumber : beritajakarta.com)" width="300" height="224" class="size-medium wp-image-4341" /></a><p class="wp-caption-text">Mikrolet memenuhi badan jalan (sumber : beritajakarta.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Penertiban angkutan umum, juga merupakan solusi yang cukup jitu. Dengan memangkas separuh angkutan umum yang kini beroperasi, maka pemerintah telah mengurangi setengah kemacetan ibu kota. Seperti yang diketahui, di jalur-jalur tertentu angkutan umum kerap kali menyusahkan para pengguna jalan. Mereka sering menjadi &#8220;raja jalanan&#8221;, yang dengan seenaknya berhenti dan menerobos lampu lalu lintas. Banyaknya angkutan umum di jalan raya, sering menjadi keluhan para pengendara. Di beberapa rute, seperti jurusan Kemanggisan-Tanah Abang atau Kampung Melayu-Senen, jumlah mereka terlampau rapat. Agaknya pemerintah tidak mempertimbangkan jumlah penumpang dan beban jalan, sebelum mengeluarkan izin trayek tersebut. Sehingga sering didapati, banyak angkutan umum pada rute tersebut yang kosong.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Penataan pedagang kaki lima (PKL) dan perparkiran, harus pula menjadi perhatian pemerintah. Kini banyak jalan-jalan protokol di ibu kota, yang sebagian badannya digunakan oleh para PKL. Jalan Basuki Rahmat di Jakarta Timur misalnya, menjadi contoh bagaimana lemahnya pemerintah dalam menertibkan para PKL. Di muka Pasar Gembrong yang menjadi sentra mainan anak-anak, separuh badan jalan digunakan oleh para pedagang. Padahal tak jauh dari situ, pemerintah telah menyediakan pasar yang cukup representatif. Mahalnya harga sewa kios di pasar baru tersebut, menjadi penyebab enggannya para pedagang untuk berjualan di dalam pasar. Akibatnya mereka tetap saja menggalas di pinggir jalan, yang menimbulkan kemacetan berpuluh-puluh meter.</p>
<p><div id="attachment_4339" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-gajah-mada.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-gajah-mada.jpg?w=614" alt="Parkir on street di Jalan Gajah Mada (sumber : poskotanews.com)"   class="size-full wp-image-4339" /></a><p class="wp-caption-text">Parkir on street di Jalan Gajah Mada (sumber : poskotanews.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Jalan Gajah Mada di Jakarta Barat merupakan contoh lain bobroknya Pemda DKI dalam mengelola parkir. Lebuh yang menghubungkan kawasan Harmoni dan Jakarta Kota itu, setiap waktu selalu terjadi kemacetan. Penyebab utamanya adalah digunakannya dua lajur jalan untuk tempat parkir mobil dan motor. Disamping itu, banyaknya pedagang yang menjajakan dagangannya di trotoar, mengakibatkan tumpahnya sebagian pejalan kaki ke badan jalan. Tentunya hal ini menghambat laju kendaraan bermotor.</p>
<p>&nbsp;<br />
* * *</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Untuk solusi jangka panjang, sudah seharusnya pemerintah memperbanyak angkutan berbasiskan rel, seperti kereta komuter, MRT, <em>railbus</em>, dan monorel. Selain berbiaya murah, moda transportasi kereta juga dapat mengangkut jutaan orang manusia dan ratusan juta ton barang. Lupakanlah untuk membangun enam ruas jalan tol dalam kota, puluhan jalan layang, dan <em>underpass</em>. Semuanya itu hanya akan menguntungkan industri otomotif, dan menambah konsumsi BBM masyarakat.</p>
<p><div id="attachment_4336" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/stasiun-moscow-metro.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/stasiun-moscow-metro.jpg?w=300&#038;h=198" alt="Salah satu stasiun di Moscow " width="300" height="198" class="size-medium wp-image-4336" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu stasiun di Moscow</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Semestinya pemerintah menengok megapolitan di negara lain, yang memilih membangun sarana transportasi massal tenimbang menambah jaringan jalan. Beberapa kota yang bisa menjadi acuan Pemda DKI dalam pembangunan moda transportasi massal adalah Tokyo dan Moskow. Kedua kota ini merupakan metropolitan kelas dunia, yang telah lama memiliki angkutan massal cepat dan murah. Tokyo yang dihuni oleh sekitar 35 juta jiwa, saat ini sudah mengoperasikan 13 <em>line</em> kereta bawah tanah (<em>subway</em>). Bandingkan dengan Jakarta yang hanya memiliki 6 jalur komuter. Kereta bawah tanah Tokyo, dikenal memiliki pelayanan cukup prima. Jadwal keberangkatannya yang tepat waktu, didukung oleh armadanya yang berjumlah ratusan rangkaian. Kota lainnya yang memiliki pelayanan transportasi massal sangat baik adalah Moskow. Menurut versi wartawan Nat Geo Adventure, Moscow Metro merupakan angkutan massal terhandal di dunia. Mengangkut sedikitnya 6,5 juta orang per hari, Moscow Metro memiliki jaringan sepanjang 313 kilometer. Selain itu yang menarik dari jaringan ini adalah interior stasiunnya yang dipenuhi oleh hiasan bercorakkan Baroque. Karena desainnya yang unik, banyak stasiun di Moscow menjadi pusat perhatian para turis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4335&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2013/01/14/solusi-kemacetan-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-rasuna-said.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mrt-jakarta.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rencana MRT Jakarta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/truk-dan-bus-akap.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Truk dan Bus AKAP melintasi Tol Dalam Kota </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/mikrolet.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mikrolet memenuhi badan jalan (sumber : beritajakarta.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/jalan-gajah-mada.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Parkir on street di Jalan Gajah Mada (sumber : poskotanews.com)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2013/01/stasiun-moscow-metro.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Salah satu stasiun di Moscow </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melawat ke Singapura dan Malaysia (4)</title>
		<link>http://afandriadya.com/2012/12/22/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-4/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2012/12/22/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2012 00:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Chow Kit]]></category>
		<category><![CDATA[Danau Putrajaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Bahru]]></category>
		<category><![CDATA[KLCC Park]]></category>
		<category><![CDATA[Mesjid Putrajaya]]></category>
		<category><![CDATA[Petronas Tower]]></category>
		<category><![CDATA[Suria KLCC]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Perjalanan ke Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Wisata ke Kuala Lumpur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4201</guid>
		<description><![CDATA[Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami pergi ke kawasan Chow Kit. Meski hujan rintik-rintik, namun hal itu tak menghalangi kami untuk mencari sarapan ala Minangkabau. Pagi itu belum banyak toko yang buka, kecuali warung kelontong dan beberapa kedai makan. 10 menit berjalan kaki, kami tiba di simpang Jalan Raja Alang. Belok kanan ke arah Kampung Bahru, [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4201&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4209" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5245.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5245.jpg?w=300&#038;h=200" alt="KLCC Park" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4209" /></a><p class="wp-caption-text">KLCC Park</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami pergi ke kawasan Chow Kit. Meski hujan rintik-rintik, namun hal itu tak menghalangi kami untuk mencari sarapan ala Minangkabau. Pagi itu belum banyak toko yang buka, kecuali warung kelontong dan beberapa kedai makan. 10 menit berjalan kaki, kami tiba di simpang Jalan Raja Alang. Belok kanan ke arah Kampung Bahru, kami berjumpa Rumah Makan Seri Garuda Emas. Restoran ini adalah salah satu kedai makanan Minang di Kampung Bahru, yang dikelola oleh perantau asal Padang Panjang. Setelah melihat-lihat daftar menu, kami memesan tiga piring lontong sayur beserta teh manis. Masih belum kenyang! Kami membungkus dua buah roti bom dan teh tarik. Tambahannya kami membeli lagi tiga potong pisang goreng beserta ketan di kedai seberang jalan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Jalan Raja Alang dan kawasan Chow Kit pada umumnya, dikenal sebagai pemukiman masyarakat Indonesia. Disini selain bermukim etnis Minangkabau, banyak pula pendatang asal Aceh dan Pulau Jawa. Di Pasar Chow Kit yang terletak di tepi Jalan TAR, hampir seluruh pedagangnya berasal dari Indonesia. Produk-produk yang dijualnya-pun kebanyakan buatan Indonesia. Sebut saja rokok Dji Sam Soe, kecap ABC, Mie Sedaap, Indomie, hingga tabloid Bola, semuanya ada disini. Banyaknya orang Indonesia yang tinggal di kawasan Chow Kit, sehingga warga setempat menjulukinya sebagai Little Jakarta.</p>
<p> <span id="more-4201"></span><br />
<div id="attachment_4210" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5204.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5204.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Jalan Raja Alang, Chow Kit" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4210" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan Raja Alang, Chow Kit</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Setelah keluar-masuk &#8220;kampung Indonesia&#8221;, kami bergelut kembali ke penginapan. Jam 11.10, kami <em>check out</em> untuk melanjutkan perjalanan ke Petronas Tower. Karena tak ingin terbebani, kami menitipkan dua buah tas besar di resepsionis. Mengambil taksi dari depan hotel, kami segera meluncur menuju menara kembar KLCC. Jarak antara Tune Hotel dan Petronas Tower sebenarnya tak terlampau jauh. Namun taksi yang membawa kami mematok harga hingga RM 10. Ini untuk kesekian kalinya kami dipakuk jauh di atas tarif normal. Dibandingkan dengan Jakarta, pelayanan taksi di Kuala Lumpur masih di bawah standar. Selain jarang menggunakan argo, supir-supir disini kurang ramah dalam melayani para wisatawan.</p>
<p><div id="attachment_4211" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5209.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5209.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Restoran Seri Garuda Emas di Kampung Bahru" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4211" /></a><p class="wp-caption-text">Restoran Seri Garuda Emas di Kampung Bahru</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sesampainya di halaman Suria KLCC, kami langsung disambut rinai hujan. Khawatir basah kuyup, kami bergegas masuk ke dalam mal. Jika dibandingkan dengan mal papan atas di Jakarta, Suria KLCC tak terlampau besar. Pusat perbelanjaan empat lantai itu, tak lebih besar dari Mal Pondok Indah di Jakarta Selatan. Merek-merek mewah yang ditawarkannya-pun tak terlampau banyak. Tak seberapa dibandingkan dengan Plaza Indonesia ataupun Plaza Senayan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sebentar menengok-nengok interior mal, kami langsung menuju KLCC Park. Taman seluas 20 hektar ini terletak di halaman belakang Suria KLCC. Di tengah-tengahnya terdapat Danau Simphony dengan air mancur yang berwarna-warni. Selain danau seluas 10.000 m2, taman ini juga dilengkapi arena bermain anak dan kolam renang. Dua jam bermain-main di KLCC Park, kami kembali lagi ke hotel untuk mengambil barang. Setelah itu kami menuju destinasi selanjutnya : Mesjid Putrajaya. Kunjungan ke Putrajaya, merupakan kunjungan penutup dari empat hari lawatan kami ke negeri-negeri Melayu.</p>
<p><div id="attachment_4212" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5217.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5217.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Interior Suria KLCC" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4212" /></a><p class="wp-caption-text">Interior Suria KLCC</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kami tiba di Mesjid Putrajaya tepat ketika azan ashar berkumandang. Setelah meletakkan tas di tempat penitipan barang, kami mengambil wudhu di bagian bawah mesjid. Siang hari itu, Mesjid Putrajaya ramai oleh para pelancong. Dari roman wajahnya, kebanyakan mereka berasal dari Asia Timur (entah China, Jepang, atau Korea). Untuk melihat-lihat interior mesjid, wisatawan wanita diwajibkan mengenakan penutup kepala. Dan bagi pengunjung non-Muslim, tak diperkenankan untuk masuk ke dalam ruang utama mesjid. Mereka hanya diperbolehkan sebatas kubikal yang telah disediakan.</p>
<p><div id="attachment_4225" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5304.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5304.jpg?w=200&#038;h=300" alt="Mesjid Putrajaya" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-4225" /></a><p class="wp-caption-text">Mesjid Putrajaya</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Disamping pusat kerajaan, Putrajaya memang dicanangkan sebagai obyek pariwisata baru. Letaknya yang strategis diantara <em>airport</em> KLIA dan Kuala Lumpur, memudahkannya untuk diakses oleh para turis. Selain itu yang menarik dari kota seluas 49 km2 ini adalah model bangunannya yang mengadopsi arsitektur Timur Tengah. Menengok kantor perdana menteri dan gedung kementerian lainnya, serasa kita sedang berada di Teheran ataupun Kairo. Keindahan arsitektur gedung-gedung itu, semakin dipercantik oleh kehadiran danau buatan di tengahnya. Untuk menarik minat para wisatawan, danau ini menyediakan fasilitas perahu wisata. Sekali naik, wisatawan akan dikenakan tarif RM 20 untuk jenis Dondang Sayang, dan RM 30 untuk kapal Belimbing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Puas memandangi Danau Putrajaya dari selasar, kami beranjak menuju halaman mesjid. Beruntung bagi kami! Karena di depan sudah menunggu satu-satunya kereta sewa. Cocok dengan harga yang ditawarkan, kami langsung menuju KLIA-LCCT di kawasan Sepang. Pesawat Tiger Airways yang kami tumpangi, direncanakan akan berangkat pada pukul 19.55. Tiba di LCCT, waktu masih menunjukkan pukul 17.50. Masih banyak waktu buat kami untuk mencari dan memilih oleh-oleh. Karena tak banyak pilihan belanja disini, kami akhirnya membeli empat toples coklat <em>made in Malaysia</em>. Meleset sedikit dari jadwal yang ditentukan, pesawat baru lepas landas pada pukul 20.10. Setelah dua jam berada di angkasa, akhirnya kami tiba dengan selamat di Bandar Udara Soekarno-Hatta.</p>
<div id="attachment_4213" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5265.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5265.jpg?w=600&#038;h=400" alt="Danau Putrajaya" width="600" height="400" class="size-medium wp-image-4213" /></a><p class="wp-caption-text">Danau Putrajaya</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4201&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2012/12/22/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5245.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">KLCC Park</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5204.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Jalan Raja Alang, Chow Kit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5209.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Restoran Seri Garuda Emas di Kampung Bahru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5217.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Interior Suria KLCC</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5304.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Mesjid Putrajaya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5265.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Danau Putrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melawat ke Singapura dan Malaysia (3)</title>
		<link>http://afandriadya.com/2012/12/21/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-3/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2012/12/21/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2012 23:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Central Market]]></category>
		<category><![CDATA[Dataran Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Tuanku Abdul Rahman]]></category>
		<category><![CDATA[Nasi Kandar]]></category>
		<category><![CDATA[Petaling Street]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Abdul Samad Building]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Wisata ke Kuala Lumpur]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Wisata ke Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Tune Hotel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4197</guid>
		<description><![CDATA[Dari Malaka kami menyarter taksi ke Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Minggu, kami dikenakan biaya sebesar RM 200. Jarak Malaka-Kuala Lumpur sekitar 145 km, atau biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana perjalanan ke Kuala Lumpur, tak ubahnya dari Johor Bahru ke Malaka. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan yang didominasi kelapa sawit. Lepas gerbang [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4197&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4202" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5138.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5138.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4202" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dari Malaka kami menyarter taksi ke Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Minggu, kami dikenakan biaya sebesar RM 200. Jarak Malaka-Kuala Lumpur sekitar 145 km, atau biasa ditempuh dalam waktu 2 jam. Suasana perjalanan ke Kuala Lumpur, tak ubahnya dari Johor Bahru ke Malaka. Kiri-kanan jalan dipenuhi oleh pepohonan yang didominasi kelapa sawit. Lepas gerbang tol Kajang, pemandangan agak sedikit berubah. Rumah-rumah penduduk dan pertokoan, mulai banyak terlihat. Di kejauhan nampak menyembul gedung kembar Petronas Tower.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Pukul 13.15 kami tiba di penginapan. Di Kuala Lumpur kami menginap di Tune Hotel, sebuah penginapan <em>low budget</em> yang dikembangkan Tony Fernandes. Letaknya cukup strategis. Di simpang empat antara Jalan Tuanku Abdul Rahman (Jalan TAR) dan Jalan Sultan Ismail. Sehabis sholat zuhur, kami mencari makan di sekitaran hotel. Tak jauh dari sana, kami bersua warung Nasi Kandar Kudu bin Abdul. Di Kuala Lumpur, Nasi Kandar cukup terkenal. Di setiap penjuru kota, dengan mudahnya kita menjumpai warung nasi khas India-Muslim itu.</p>
<p> <span id="more-4197"></span> <div id="attachment_4203" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5180.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5180.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Dataran Merdeka" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4203" /></a><p class="wp-caption-text">Dataran Merdeka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Disini kami memesan empat bungkus nasi, dengan lauk ayam dan ikan bawal. Tak ketinggalan empat buah kerupuk papadam dan acar nyonya. Siang itu kedai Kudu bin Abdul ramai sekali. Selagi menunggu pesanan dibuatkan, saya melihat-lihat ke sekeliling kedai. Pemandangan saya kemudian terpaku pada foto seorang putra Aceh yang menjadi ikon perfilman di Malaysia. Ya, siapa lagi dia kalau bukan Puteh Ramlee. Konon sewaktu masih hidup, beliau merupakan salah seorang pelanggan setia kedai ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selesai makan siang, kami menyusuri Jalan TAR ke arah pusat kota. Jalan sepanjang 2 km itu, merupakan salah satu pusat kuliner favorit di Kuala Lumpur. Selain dua buah warung Nasi Kandar, disini terdapat pula warung sate Pak Kamarudin. Nasi Briyani dan ayam madu, bisa dinikmati di Restoran Insaf. Makanan cepat saji seperti KFC, A&amp;W, dan Pizza Hut, ada pula membuka <em>outlet</em>-nya disini. Untuk hidangan Indonesia, pilihannya-pun bermacam-macam. Bagi penikmat makanan jawa, Restoran TAR bisa menjadi pilihan. Sedangkan untuk pecandu masakan padang, di sudut Jalan TAR dan Lorong Medan Tuanku 2 terdapat Restoran Sari Ratu. Ini merupakan cabang keenam Sari Ratu di Kuala Lumpur, dari 20 cabang yang dipersiapkan.</p>
<p> <div id="attachment_4205" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5181.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5181.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Sultan Abdul Samad Building" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4205" /></a><p class="wp-caption-text">Sultan Abdul Samad Building</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Setelah 45 menit menjelajahi Jalan TAR, kami tiba di Dataran Merdeka. Tempat ini merupakan <em>downtown</em>-nya Kuala Lumpur. Selain besar secara fisik, Dataran ini juga memberikan perasaan lapang. Kolam-kolam kecil di sebelah utara, menambah kesejukan bagi para pengunjungnya. Agaknya tempat ini merupakan lokasi yang sempurna bagi masyarakat untuk berinteraksi. Rumputnya yang tebal, memungkinkan anak-anak untuk lari kian kemari. Putri kami yang berusia 3 tahun lebih sedikit, tetap saja merasa <em>enjoy</em> meski terjatuh berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Walau tak seluas Medan Merdeka di Jakarta, namun Dataran ini memiliki makna yang tak kalah pentingnya. Di sekeliling lapangan berukuran 60 m x 200 m itu, berdiri bangunan-bangunan bersejarah, seperti Sultan Abdul Samad Building, Museum Sejarah Nasional, St. Mary&#8217;s Cathedral, serta Royal Selangor Club. Di bagian selatan, terdapat tiang bendera setinggi 95 meter yang memiliki makna historis cukup penting. Disinilah untuk pertama kalinya bendera kebangsaan Malaysia dikibarkan, menggantikan bendera Union Jack yang telah ratusan tahun mengudara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Satu jam duduk-duduk menikmati suasana Dataran Merdeka, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni. Pasar Seni atau yang dikenal dengan Central Market, merupakan pasar tertua di Kuala Lumpur. Disini selain busana khas Tiongkok dan India, banyak pula barang-barang kesenian asli Indonesia. Diantaranya wayang golek, batik, angklung, songket, hingga topeng yang menjadi atribut Tari Topeng.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Menuju Pasar Seni kami menempuh Lebuh Pasar Besar. Sesampainya di Lebuh Pasar Besar Bridge, kami sempat berhenti sambil berfoto-foto. Dari atas jembatan, kita bisa melihat pertemuan dua sungai utama Kuala Lumpur (Sungai Gombak dan Sungai Klang), dengan latar belakang Mesjid Jamek. Lokasi ini merupakan titik 0 (nol) kota Kuala Lumpur. Karena disinilah awal mula pembangunan kota tersebut. Tak jauh dari situ, berdiri dengan megahnya Loke Yew Building. Gedung ini merupakan peninggalan salah seorang pengusaha besar Malaysia : Wong Loke Yew. 100 meter dari tempat itu, kami tiba di Kesturi Walk (Pasar Seni). Di samping kiri gerbang Kesturi, terdapat restoran Indonesia Es Teler 77. Tak tahan melihat gambar yang terpampang di muka kedai, kami akhirnya singgah untuk mencicipi semangkuk es teler.</p>
<p> <div id="attachment_4207" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5194.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5194.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Mesjid Jamek di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4207" /></a><p class="wp-caption-text">Mesjid Jamek di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selesai mengunjungi Pasar Seni, kami menyusuri Lebuh Pudu terus ke Petaling Street. Jalan Petaling adalah Pecinan-nya Kuala Lumpur. Koridor ini mirip seperti Pasar Baru di Jakarta. Di kiri-kanan jalan banyak toko dan pedagang kaki lima yang menjajakan suvenir khas Kuala Lumpur. Yang paling banyak adalah miniatur gedung kembar Petronas serta piringan perak bergambar obyek wisata Malaysia. Kami singgah di salah satu toko dan membeli beberapa buah tangan untuk dibawa ke Jakarta. Selain suvenir, toko-toko disini juga menawarkan arloji, sepatu, kaca mata, baju, dan tas. Menurut informasi yang didapat, sebagian besar barang-barang itu merupakan barang bajakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Berjalan 100 meter agak ke dalam, kami bertemu puluhan pedagang makanan yang menawarkan masakan Tionghoa. Sore itu, kawasan yang dikenal sebagai <em>chinatown food centre</em> itu padat sekali. Ratusan orang dari berbagai suku bangsa, tumpah ruah menikmati mie hokkien, asam laksa, dan kwetiau kerang. Kami yang meragukan kehalalannya, memutuskan untuk tak ikut ambil bagian. Setelah beringsut dari keramaian Petaling Street, kami tiba di Jalan Sultan. Dari sini kami mengakhiri jalan-jalan sore untuk kemudian menuju hotel. Jam 20.15 kami tiba di penginapan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4197&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2012/12/21/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5138.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Jalan Tuanku Abdul Rahman, Kuala Lumpur</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5180.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dataran Merdeka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5181.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sultan Abdul Samad Building</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5194.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Mesjid Jamek di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melawat ke Singapura dan Malaysia (2)</title>
		<link>http://afandriadya.com/2012/12/12/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-2/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2012/12/12/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2012 09:52:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Christ Church Melaka]]></category>
		<category><![CDATA[Jonker Street]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[Melaka River Cruise]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka Square Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Samudera]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima Awang]]></category>
		<category><![CDATA[Stadthuys Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Perjalanan ke Malaka]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Wisata ke Malaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4176</guid>
		<description><![CDATA[Meninggalkan City Plaza di Jalan Geylang, bus berlari kencang melintasi Singapore Highway. Satu jam berada di atas bus, kami tiba di titik pemeriksaan keluar Singapura. Meski banyak turis yang meninggalkan kota ini, namun pemeriksaan disini tak berlangsung lama. Setelah 20 menit menjalani pengecekan, bus kembali berangkat. Lepas dari gedung checkpoint Woodland, kami langsung disambut oleh [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4176&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4177" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/sungai-malaka.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/sungai-malaka.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Sungai Malaka" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4177" /></a><p class="wp-caption-text">Sungai Malaka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meninggalkan City Plaza di Jalan Geylang, bus berlari kencang melintasi <em>Singapore Highway</em>. Satu jam berada di atas bus, kami tiba di titik pemeriksaan keluar Singapura. Meski banyak turis yang meninggalkan kota ini, namun pemeriksaan disini tak berlangsung lama. Setelah 20 menit menjalani pengecekan, bus kembali berangkat. Lepas dari gedung <em>checkpoint</em> Woodland, kami langsung disambut oleh pemandangan Selat Johor yang menawan. Di kejauhan nampak pemukiman masyarakat Suku Laut, berupa rumah-rumah terapung. Tuntas menyeberangi selat sejauh satu kilometer, kami tiba di <em>checkpoint</em> Johor Bahru. Berbeda dengan kantor imigrasi Singapura yang bersih dan tertib, di Johor Bahru suasananya bertolak belakang. Selain petugasnya yang nampak santai, kebersihan disini sangat memprihatinkan. Saya yang sempat &#8220;membongkar sauh&#8221; di kamar kecil, melihat genangan air dengan jentik nyamuk yang bertebaran.</p>
<p><div id="attachment_4194" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5127.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5127.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Jonker Street" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4194" /></a><p class="wp-caption-text">Jonker Street</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam 20 menit, kami tiba di Malaka Sentral Bus. Tempat ini merupakan terminal bus antar kota yang juga menjadi pangkalan &#8220;kereta sewa&#8221; (taksi). Karena hari sudah malam, kami putuskan untuk menyewa taksi tak bermeter. Setelah terjadi <em>deal</em> dengan pemilik taksi, kamipun menuju penginapan. Jarak antara terminal dengan penginapan tak terlalu jauh. Jika menggunakan taksi bermeter, ongkos yang dibayar tak sampai RM 15. Namun pada malam itu, kami harus merogoh kocek hingga RM 20.</p>
<p> <span id="more-4176"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Penginapan kami berada di Jalan Kampung Pantai, kawasan Jonker Street. Meski tergolong sederhana, pemandangannya yang menghadap ke sungai, menjadi daya tarik tersendiri. Dari atas balkon, kami bisa menengok Melaka River Cruise hilir mudik membawa para pelancong. Selesai merapikan pakaian, kami keluar untuk mencari makan. Ternyata 5 menit berjalan kaki, kami tiba di pusat kuliner Jonker Street. Malam itu Jalan Hang Jebat ramai sekali. Pedagang-pedagang kecil dengan aneka dagangannya menggelar lapak hingga ke tengah jalan. Macam-macam yang mereka tawarkan, dari suvenir hingga makanan khas Malaka. Di ujung jalan, saya menjumpai salah seorang penjual nasi lemak. Dari perawakan dan caranya bertutur kata, agaknya ia seorang Peranakan. Saya memesan empat bungkus nasi, dengan lauk rendang dan ayam goreng.</p>
<p><div id="attachment_4192" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5069.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5069.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Merdeka Square, Jantung Kota Malaka" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4192" /></a><p class="wp-caption-text">Merdeka Square, Jantung Kota Tua Malaka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Keesokan paginya, kami siap untuk menjelajahi kota tua Malaka. Sejak empat tahun lalu, Malaka telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu kota warisan dunia. Disini selain bangunan khas Eropa, banyak pula terdapat rumah-rumah dengan desain Tionghoa. Disamping komunitas peranakan China (atau yang dikenal dengan Baba-Nyonya), di Malaka bermukim pula masyarakat keturunan Tamil. Mereka banyak dijumpai di sekitar Jalan Temenggong dan Jalan Bendahara. Dari persimpangan kedua jalan ini, kami berbelok ke arah Merdeka Square. Kawasan Merdeka merupakan jantungnya kota tua Malaka. Di lokasi ini berdiri bekas gedung balai kota (<em>The Stadthuys</em>), Museum Belia Malaysia, dan Christ Church Melaka. Di tengah-tengah, tegak dengan anggunnya Melaka Clock Tower. Tak jauh dari situ, berdiri Istana Kesultanan Malaka dan benteng pertahanan Portugis : A. Fomosa.</p>
<div id="attachment_4179" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/kincir-air-kesultanan-malaka.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/kincir-air-kesultanan-malaka.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Kincir Air Kesultanan Malaka" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4179" /></a><p class="wp-caption-text">Kincir Air Kesultanan Malaka</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Malaka merupakan sedikit dari kota di dunia yang pernah dijajah tiga bangsa Eropa. Portugis, Belanda, dan Inggris, silih berganti menguasai Malaka selama kurun waktu empat setengah abad. Oleh karenanya, disini banyak berdiri bangunan yang menjadi warisan ketiga negara tersebut. Dari Merdeka Square kami terus menyusuri tepi Sungai Malaka. Tak sampai 50 meter, kami berserobok dengan reruntuhan benteng Kesultanan Malaka. Seperti benteng A. Fomosa, benteng ini sudah tak utuh lagi. Beberapa bagian yang berlubang, nampak dipediarkan keropos dan rapuh. Di dekatnya, berdiri kincir raksasa yang juga merupakan warisan Kesultanan Malaka. Konon kincir air berdiameter 13,2 meter itu, merupakan kincir terbesar di Malaysia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selesai berfoto-foto, kami terus mengayunkan kaki menuju Museum Samudera. Bentuk museum ini seperti kapal Flor de la Mar, yang digunakan oleh pelalut Portugis ketika menaklukkan Malaka. Di dalam lambung museum, terdapat diorama kisah perjalanan Kerajaan Malaka. Adapula cerita mengenai Panglima Awang (<em>Enrique of Malacca</em>), budak bangsa Portugis yang sempat mengelilingi dunia bersama Ferdinand Magellan. Dari atas museum, pandangan kami tertumbur pada sebuah bangunan berarsitekturkan Mediterania. Gedung itu adalah Hotel Casa del Rio, salah satu hotel termewah di bandar Malaka.</p>
<p><div id="attachment_4193" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5088.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5088.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Museum Samudera" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4193" /></a><p class="wp-caption-text">Museum Samudera</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Keluar dari Museum Samudera, waktu telah menunjukkan pukul 10 lebih sedikit. Meski masih pagi, namun kami harus segera kembali ke penginapan. Sesuai jadwal yang disusun, kami akan berangkat ke Kuala Lumpur jam 11.30. Menuju ke penginapan, kami menyempatkan diri melewati Jonker Street. Kesini kami hendak mencicipi cendol durian yang terkenal itu. Harga satu mangkuk cendol durian bervariasi. Namun kebanyakan kios mematok harga RM 3,5 per mangkuknya. Berbeda dari yang dibayangkan sebelumnya, sajian ini tak terlampau istimewa. Jika dibandingkan dengan es dawet khas Banyumasan, cendol disini agak terasa beku. Potongan duriannya-pun kurang terasa. Tertimbun oleh gunungan es serut yang menyelimuti permukaan mangkuk. Satu lagi makanan favorit khas Malaka adalah Chicken Rice Ball. Namun karena waktu yang tak mencukupi, kami melewati kesempatan untuk mencicipi nasi bola khas Peranakan itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4176&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2012/12/12/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/sungai-malaka.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sungai Malaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5127.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Jonker Street</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5069.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Merdeka Square, Jantung Kota Malaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/kincir-air-kesultanan-malaka.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kincir Air Kesultanan Malaka</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_5088.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Museum Samudera</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melawat ke Singapura dan Malaysia (1)</title>
		<link>http://afandriadya.com/2012/12/06/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-1/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2012/12/06/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2012 10:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Street]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis Street]]></category>
		<category><![CDATA[Esplanade Mall]]></category>
		<category><![CDATA[Kampong Glam]]></category>
		<category><![CDATA[Lucky Plaza]]></category>
		<category><![CDATA[Merlion Park]]></category>
		<category><![CDATA[Orchard Road]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Makan Padang Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Perjalanan ke Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Wisata ke Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Warong Nasi Pariaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4128</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini pelancongan kami sekeluarga, menuju negeri-negeri Melayu di tepi Selat Malaka. Dalam kunjungan singkat memanfaatkan masa cuti bersama, kami melawat ke tiga kota sekaligus : Singapura, Malaka, dan Kuala Lumpur. Kami berangkat menggunakan maskapai Tiger Airways. Dari Cengkareng pesawat lepas landas pukul 11.35 WIB dan mendarat di Singapura jam 14.05 waktu setempat. Terdapat perbedaan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4128&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4137" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/esplanade.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/esplanade.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4137" /></a><p class="wp-caption-text">Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kali ini pelancongan kami sekeluarga, menuju negeri-negeri Melayu di tepi Selat Malaka. Dalam kunjungan singkat memanfaatkan masa cuti bersama, kami melawat ke tiga kota sekaligus : Singapura, Malaka, dan Kuala Lumpur. Kami berangkat menggunakan maskapai Tiger Airways. Dari Cengkareng pesawat lepas landas pukul 11.35 WIB dan mendarat di Singapura jam 14.05 waktu setempat. Terdapat perbedaan waktu lebih cepat satu jam antara Singapura dengan Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Kami turun di Terminal 2 Bandara Internasional Changi. Dibandingkan dengan <em>airport</em> Cengkareng, bandara ini terasa lebih besar dan modern. Walau dari segi arsitektur dan tata letak ruangan, Soekarno-Hatta masih lebih unggul. Siang hari itu Changi tak terlampau padat. Kami bisa leluasa berfoto-foto, sambil memandangi lalu lalang kapal terbang. Di pintu-pintu garbarata, nampak beberapa petugas sedang memberi arahan kepada penumpang yang baru turun. Karyawan di bandara ini cukup disiplin. Tak ada satupun dari mereka yang nampak berleha-leha dan ngobrol ketika sedang bertugas.</p>
<p> <span id="more-4128"></span><br />
<div id="attachment_4138" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/changi.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/changi.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Bandara Changi di lorong menuju MRT" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4138" /></a><p class="wp-caption-text">Bandara Changi di lorong menuju MRT</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selesai pemeriksaan imigrasi, kami bergegas menuju tempat pengambilan barang. Setibanya di <em>bagage claim</em>, ternyata hanya barang kami saja yang tersisa, yakni dua buah tas berukuran besar. Untuk menuju <em>downtown</em> Singapura, kami memilih MRT yang terletak di besmen bandara. Bagi Anda yang baru pertama kali naik MRT, Anda akan sedikit bingung ketika hendak membeli tiket. Berbeda dengan KRL Comutter Jabodetabek, tiket MRT Singapura telah dijual melalui mesin-mesin otomatis. Praktis! hanya menekan stasiun tujuan, memasukkan sejumlah uang, maka tiket kereta akan segera keluar. Persis seperti kita membeli minuman ringan melalui <em>soft drink machine</em>.</p>
<p><div id="attachment_4142" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/mesjid-sultan.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/mesjid-sultan.jpg?w=200&#038;h=300" alt="Mesjid Sultan" width="200" height="300" class="size-medium wp-image-4142" /></a><p class="wp-caption-text">Mesjid Sultan</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Untuk wisata pertama ke Singapura, kami memilih Kampong Glam sebagai tempat peristirahatan. Meski agak sedikit berjarak dari Marina Centre, namun Kampong Glam memiliki suasana mirip dengan Jakarta. Selain banyak tersedia restoran padang, disini juga tempat bermukimnya para perantau Sumatera dan masyarakat Indonesia lainnya. Setidaknya ada tiga rumah makan padang yang letaknya saling berdekatan. Rumah makan Minang di Muscat Street, Sabar Menanti di North Bridge Road dan Kandahar Street, serta Warong Nasi Pariaman yang berada di ujung Jalan Kandahar. Ketiganya dimiliki oleh perantau Minang asal Sungai Limau, Pariaman. Dari percakapan kami dengan pemilik Sabar Menanti, ketiga restoran ini kini dikelola oleh generasi kedua. Dan diantara mereka, masih memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat. Oleh karenanya meski sama-sama berbisnis makanan padang, namun tak ada persaingan diantara mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selain orang-orang Sumatera, disini banyak pula dijumpai masyarakat keturunan Arab. Mereka hampir seluruhnya berprofesi sebagai pedagang. Menjual karpet, jilbab, baju-baju muslim, dan aneka kerajinan lainnya. Bahkan beberapa kios, terutama di Bussorah dan Arab Street, juga menjual produk-produk khas Indonesia, seperti kain batik dan songket. Mesjid Sultan yang berada di antara Muscat Street dan North Bridge Road, menjadi tempat berkumpulnya umat muslim Singapura. Tak jauh dari sana, terdapat The Malay Heritage Centre yang di tengahnya berdiri Istana Kampong Glam.</p>
<p><div id="attachment_4139" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/rumah-makan-minang.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/rumah-makan-minang.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Rumah Makan Minang di Kampong Glam" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4139" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah Makan Minang di Kampong Glam</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Pukul 16 lebih sedikit, kami tiba di penginapan. Penginapan kami terletak di Jalan Pinang, 150 meter dari Stasiun MRT Bugis. Pengelolanya adalah seorang anak muda yang campin. Ketika kami tiba, dia langsung menyapa dengan hangatnya, membantu mengangkat tas, dan menyodorkan dua buah kunci kamar. Meski hostel kami sangat sederhana, namun kebersihannya cukup terjaga. Selain itu para tamu juga dapat memanfaatkan layanan internet secara gratis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selepas Maghrib kami siap berangkat ke Marina Centre. Kami memilih naik bus kota nomor 960, jurusan Woodlands-Marina. Sistem bus kota disini, mirip seperti RMB yang pernah diluncurkan di Jakarta beberapa tahun lalu. Kira-kira 15 menit perjalanan, kami sampai di depan Hotel Ritz-Carlton Millenia. Dari sini kami berjalan kaki menuju Singapore Flyer. Singapore Flyer adalah kincir raksasa yang menjadi ikon baru kota Singapura. Kincir ini memiliki ketinggian 165 meter, dan merupakan bianglala terbesar di dunia. Dari atas kincir, kita bisa melihat Pulau Batam dan Bintan yang berada di seberang selat.</p>
<p><div id="attachment_4143" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/pedesterian-bussorah-street.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/pedesterian-bussorah-street.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Pedesterian Bussorah Street" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4143" /></a><p class="wp-caption-text">Pedesterian Bussorah Street</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Cuaca kota singa pada malam hari itu cukup bersahabat. Sehingga tak ada halangan buat kami untuk menyusuri tepi Teluk Marina. Dari pinggir teluk itu kita bisa menyaksikan lampu-lampu yang terpancar dari pusat perkantoran Singapura. Dari sekian banyak pencakar langit yang berpendar, ada satu bangunan yang menarik perhatian saya : Marina Bay Sands. Bangunan ini terdiri dari tiga menara, dengan jembatan penghubung di puncaknya. Jembatan sepanjang 340 meter ini, konon merupakan ruang menggantung terbesar di dunia. Di kaki gedung, nampak Louis Vuitton Maison dengan logo LV cukup mencolok. Butik ini merupakan salah satu <em>mono brand store</em> termewah di dunia.</p>
<p><div id="attachment_4149" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4942.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4942.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Marina Bay Sands" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4149" /></a><p class="wp-caption-text">Marina Bay Sands</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Setelah penat berjalan kaki, kami rehat sejenak di Esplanade Mall. Selain sebagai pusat perbelanjaan, bangunan ini juga diperuntukkan sebagai tempat pertunjukan dan konser. Dari depan gedung berbentuk buah durian ini, kami melanjutkan perjalanan menuju Bugis Street. Bugis merupakan salah satu destinasi belanja favorit turis-turis asal Indonesia. Disini kita bisa mendapatkan suvenir khas Singapura dengan harga miring. Kaos sablon bergambar ikon Singapura misalnya, dijual dengan harga $ 3,5 per potongnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Hari kedua di Singapura, kami berkunjung ke Merlion Park. Taman ini terletak di belakang Hotel One Fullerton. Di ujung taman terdapat patung ikan berkepala singa, atau yang biasa dikenal dengan patung Merlion. Patung ini merupakan simbol utama Singapura. Seperti halnya Liberty di New York City atau patung Kristus Penebus di Rio de Jenairo. Menurut catatan Singapore Tourism Board, lebih dari satu juta orang datang setiap tahunnya dan berpose di lokasi ini. Bagi sebagian orang, tidak sah rasanya jika datang ke Singapura namun tak mengunjungi taman Merlion.</p>
<p><div id="attachment_4152" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4970.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4970.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Patung Merlion berukuran mini" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4152" /></a><p class="wp-caption-text">Patung Merlion berukuran mini</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Puas bermain-main di Merlion Park, kami terus menyusuri tepi Sungai Singapura. Tanpa terasa kami telah tiba di depan museum Asian Civilisations. Museum ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Inggris. Di dalamnya banyak terdapat koleksi barang-barang antik dari seluruh Asia. Keramik-keramik China, perunggu dari India, arca kuil dari Jawa, semuanya menjadi koleksi museum yang dibuka sejak tahun 2003 ini. Selain patung Raffless, di halaman museum berdiri pula patung setengah badan bapak-bapak bangsa Asia. Setelah berkeliling halaman museum, saya agak kecewa. Ternyata dari sekian banyak patung tersebut tak ada satupun <em>founder fathers</em> bangsa Indonesia. Semula saya berharap akan ada replika Bung Karno di tengah-tengah Ho Chi Minh, Sun Yat Sen, dan Mahatma Gandhi.</p>
<p><div id="attachment_4155" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4991.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4991.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Asian Civilisations Museum" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4155" /></a><p class="wp-caption-text">Asian Civilisations Museum</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sebelum beranjak dari sini, kami sempat memetik beberapa gambar untuk kenang-kenangan. Tempat ini merupakan salah satu spot terbaik untuk berkodak ria. Di seberang sungai, nampak dengan jelas gedung-gedung bertingkat yang semalam hanya terlihat dari kejauhan. Selain Bank of China, disini berkantor pula Bank OCBC, Maybank, dan Singtel. Satu hal yang menarik di Singapura adalah sungainya yang terawat. Meski hilir sungai ini nampak agak kecoklatan, namun tak terlihat sampah yang mengapung di permukaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Beranjak dari Museum Asian Civilisations, kami terus menuju pusat perbelanjaan Orchard Road. Dari Jalan Fullertoan kami menyetop taksi menuju Lucky Plaza. Melewati Stamford Road, terus ke Fort Canning Link dan Penang Road, kami tiba di kawasan Orchard. Orchard merupakan koridor belanja yang cukup ternama. Disini terdapat lebih dari 10 pusat perbelanjaan berukuran sedang. Melihat ukuran <em>shopping centre</em> Singapura yang tak terlalu besar, agaknya masyarakat Jakarta boleh berbangga hati. Sebab disini tak satupun mal yang memiliki <em>retail area</em> melebihi 100.000 m2. Malah sebentar lagi, jika seluruh proyek poros Satrio-Casablanca rampung dibangun, Jakarta akan menggeser Singapura sebagai destinasi belanja Asia Tenggara.</p>
<p><div id="attachment_4144" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/fullerton-road.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/fullerton-road.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Fullerton Road" width="300" height="200" class="size-medium wp-image-4144" /></a><p class="wp-caption-text">Fullerton Road</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Sekejap melihat-lihat suasana Orchard, kami segera menuju ke penginapan. Mengambil taksi di samping Mal Paragon, kami meluncur ke Kampong Glam. Lalu lintas disini, agaknya tak pernah mengalami kemacetan. Selain masyarakatnya yang berdisiplin tinggi, jalanan di kota ini tak dipenuhi oleh angkutan umum. Di perjalanan, saya melihat beberapa lebuh yang memakai nama tempat/etnis di Indonesia : Bencoolen Street (Jl. Bengkulu), Bugis Street (Jl. Bugis), dan Bali Lane (Gg. Bali). Selagi asik mengamati nama-nama jalan di pusat kota, tak terasa kami telah tiba di penginapan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Tepat pukul 12.30, kami <em>check out</em> untuk melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dari Singapura, kami memilih bus Delima Express kelas eksekutif. Menurut jadwal, bus akan berangkat dari City Plaza pukul 14.20. Sehingga masih ada cukup waktu buat kami untuk menikmati santap siang. Setelah menanti lebih dari satu jam, bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kami menempati bangku bagian tengah, nomor urut 22-25. Selain kami sekeluarga, di atas bus banyak pula para pelancong mancanegara. Dari paspor yang tertera, kebanyakan mereka datang dari Republik Rakyat China. Meleset 15 menit dari jadwal semula, bus akhirnya meluncur meninggalkan City Plaza.</p>
<div id="attachment_4141" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/merlion1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/merlion1.jpg?w=600&#038;h=400" alt="Merlion Park" width="600" height="400" class="size-medium wp-image-4141" /></a><p class="wp-caption-text">Merlion Park</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4128&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2012/12/06/melawat-ke-singapura-dan-malaysia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/esplanade.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sungai Singapura dengan latar belakang Esplanade Theatres</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/changi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bandara Changi di lorong menuju MRT</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/mesjid-sultan.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Mesjid Sultan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/rumah-makan-minang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah Makan Minang di Kampong Glam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/pedesterian-bussorah-street.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pedesterian Bussorah Street</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4942.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Marina Bay Sands</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4970.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Patung Merlion berukuran mini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/img_4991.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Asian Civilisations Museum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/fullerton-road.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Fullerton Road</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/12/merlion1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Merlion Park</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menengok Perkembangan Kota Pekanbaru</title>
		<link>http://afandriadya.com/2012/11/05/menengok-perkembangan-kota-pekanbaru/</link>
		<comments>http://afandriadya.com/2012/11/05/menengok-perkembangan-kota-pekanbaru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2012 12:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Afandri Adya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara Sultan Syarif Kasim II]]></category>
		<category><![CDATA[Basko Grand Mall]]></category>
		<category><![CDATA[Basrizal Koto]]></category>
		<category><![CDATA[Jembatan Leighton]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Kim Teng]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Bawah]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan Soeman Hs]]></category>
		<category><![CDATA[Rumbai]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Pekanbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://afandriadya.com/?p=4058</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda membandingkan wajah Pekanbaru saat ini dengan 15 tahun lampau, maka Anda akan tercengang melihat perubahan yang terjadi. Pada tahun 1997 lalu, Pekanbaru masih relatif terbelakang. Dibanding dengan kota-kota menengah lainnya di Indonesia, perkembangan ibu kota Riau ini terasa jalan di tempat. Dengan jumlah penduduk kurang dari 500.000 jiwa, hanya ada satu sentra keramaian, [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4058&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_4065" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/pekanbaru.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/pekanbaru.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="Pekanbaru" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-4065" /></a><p class="wp-caption-text">Lanskap kota Pekanbaru. Nampak Menara Dang Merdu (kiri) dan Perpustakaan Soeman Hs (tengah)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Jika Anda membandingkan wajah Pekanbaru saat ini dengan 15 tahun lampau, maka Anda akan tercengang melihat perubahan yang terjadi. Pada tahun 1997 lalu, Pekanbaru masih relatif terbelakang. Dibanding dengan kota-kota menengah lainnya di Indonesia, perkembangan ibu kota Riau ini terasa jalan di tempat. Dengan jumlah penduduk kurang dari 500.000 jiwa, hanya ada satu sentra keramaian, yakni Pasar Pusat. Ketika itu real estat dan hunian vertikal belum berkembang. Rumah toko-pun bisa dihitung dengan jari. Tak banyak orang yang mau berkunjung ke kota ini, kecuali hendak menjumpai sanak saudara mereka. Penerbangan langsung hanya ada dari Jakarta dan Medan. Itupun satu hari sekali penerbangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Namun tengoklah kini! Pekanbaru telah bersalin rupa. Gedung-gedung bertingkat serta mal yang menjadi ciri metropolitan, tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak lama lagi, Jalan Jenderal Sudirman di pusat kota akan menjadi hutan beton. Selain hotel dan perkantoran, apartemen bertingkat juga terlihat banyak dibangun. Tak hanya itu, gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat-pun ikut berubah. Jika sebelumnya warga Pekanbaru cuma bisa berbelanja di pasar-pasar tradisional, maka kini mereka dapat membeli kebutuhan sehari-hari di toko berpendingin ruangan. Sebab beberapa kulakan besar seperti Giant, Lotte Mart, dan Hypermart telah menancapkan kukunya disini. Disamping restoran-restoran siap saji, Starbucks yang menjadi simbol kaum urban tak ketinggalan untuk membuka gerainya disini. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat Pekanbaru yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.</p>
<p><span id="more-4058"></span><br />
<div id="attachment_4063" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/riau-main-stadium1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/riau-main-stadium1.jpg?w=300&#038;h=152" alt="" title="Riau Main Stadium" width="300" height="152" class="size-medium wp-image-4063" /></a><p class="wp-caption-text">Stadion Utama Riau (sumber : bolaindo.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Selain berkembangnya sentra-sentra ekonomi, pembangunan sarana dan infrastruktur kota juga berlangsung massif. Untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, pemerintah telah meresmikan dua <em>fly over</em> di poros utama Sudirman, yakni di persimpangan Tuanku Tambusai dan Imam Munandar. Jalan layang ini bertujuan untuk mengurai arus kendaraan dari arah bandara menuju pusat kota ataupun sebaliknya. Selain itu untuk pengembangan wilayah Rumbai di bagian timur, maka saat ini sedang dibangun satu lagi jembatan tambahan yang melintasi Sungai Siak. Jika lima tahun sebelumnya hanya Jembatan Leighton yang menghubungkan Rumbai dengan pusat kota, maka tahun depan keseluruhan ada empat jembatan yang bisa dipakai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Berbicara mengenai bandara, maka sejak tiga bulan lalu masyarakat Pekanbaru bisa berbangga hati. Sebab terminal baru Bandara Sultan Syarif Kasim II yang lebih modern dan lapang telah dapat dipergunakan. Terminal ini bisa menampung sekitar dua setengah juta penumpang per tahunnya. Dilengkapi 24 konter <em>check-in</em> dan tiga garbarata, terminal ini melayani lima rute domestik dan tiga rute internasional. Dalam rangka persiapan sebagai embarkasi haji di tahun 2013 mendatang, maka PT Angkasa Pura II sedang memperpanjang landasan pacu bandara menjadi 2.620 meter. Dengan <em>runway</em> sepanjang ini, maka tahun depan Pekanbaru sudah bisa didarati pesawat berbadan lebar, seperti Boeing 737.</p>
<p><div id="attachment_4060" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/basko-superblok.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/basko-superblok.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Basko Superblok" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-4060" /></a><p class="wp-caption-text">Rencana Basko Superblok</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Disamping jalan layang dan bandara, konstruksi lainnya yang menjadi kebanggan masyarakat Pekanbaru adalah <em>Riau Main Stadium</em>. Stadion berkapasitas 43.923 tempat duduk ini, merupakan stadion terbesar di Sumatera dan ketiga di Indonesia. Stadion ini didirikan untuk menyambut penyelenggaraan PON 2012 serta Islamic Solidarity Games 2013. Tempat ini nantinya juga akan digunakan sebagai kandang klub PSPS Pekanbaru yang berlaga di Liga Super Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Seperti kota-kota besar lainnya, Pekanbaru juga mempunyai beberapa gedung pencakar langit. Meski hanya satu-dua bangunan yang memiliki lantai di atas 20, namun keberadaannya telah mengubah lanskap kota secara keseluruhan. The Peak Hotel &amp; Apartement yang akan menjadi gedung tertinggi di Pekanbaru, saat ini sedang dikebut penyelesaiannya. Bangunan setinggi 27 lantai itu terletak di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari kantor gubernur. Yang lainnnya adalah gedung milik Basrizal Koto, seorang pengusaha muda yang banyak menggelontorkan dananya di Pekanbaru. Proyek properti milik konglomerat asal Pariaman itu terdiri dari tiga menara setinggi 20 lantai, yang akan digunakan sebagai apartemen dan hotel. Dalam <em>rendering</em> yang terpampang pada papan proyek, ketiga tower ini direncanakan akan berdiri di atas pusat perbelanjaan Basko Grand Mall. Mal tiga lantai ini nantinya akan menjadi pusat gaya hidup dan hiburan terbesar di Pekanbaru.</p>
<p><div id="attachment_4088" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/perpustakaan-riau1.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/perpustakaan-riau1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="Perpustakaan Riau" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-4088" /></a><p class="wp-caption-text">Perpustakaan Soeman Hs</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Dari sekian banyak bangunan yang berkilauan, yang cukup menarik perhatian saya adalah Perpustakaan Soeman Hs. Gedung yang terletak di Km 0 kota Pekanbaru ini, memiliki arsitektur yang agak berlainan. Jika dilihat dari kejauhan, bangunan ini nampak seperti buku yang sedang terbuka. Gedung yang diresmikan pada tahun 2008 lalu itu, kini menjadi ikon baru kota Pekanbaru. Menerapkan konsep minimalis dengan dinding-dinding berkaca, bangunan ini dilengkapi auditorium yang luas serta bilik kebudayaan Melayu. Untuk mencapai Visi Riau 2020 yang mencanangkan Pekanbaru sebagai pusat kebudayaan Melayu, banyak bangunan di kota ini yang menggunakan atap selembayung. Model ini sebenarnya bukan monopoli Riau semata, namun telah digunakan secara umum sebagai ciri khas adat di berbagai wilayah Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Meski desain bangunannya banyak bercirikan Melayu, namun secara kultural masyarakat Pekanbaru lebih diwarnai oleh budaya Minangkabau. Hal ini terlihat dari penggunaan Bahasa Minang yang menjadi bahasa percakapan sehari-hari. Jika tak menengok atap-atap selembayung di beberapa gedung perkantoran, maka seolah-olah kita sedang berada di kota-kota Sumatera Barat. Berada di kota ini, tak ubahnya seperti berada di Padang, Bukittinggi, ataupun Payakumbuh. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2000, komunitas Minangkabau memanglah yang terbesar. Jumlah mereka mencapai 38% dari keseluruhan penduduk kota. Namun dari pengamatan penulis, angka ini agaknya terlampau kecil. Mengingat ada sebagian orang-orang keturunan Minang yang lebih mengaku dirinya sebagai Melayu, walaupun kesehariannya menggunakan adat istiadat Minang. Penulis menaksir lebih dari separuh warga Pekanbaru merupakan masyarakat Minang. Hal ini diperkuat oleh penelitian Barbara Watson Andaya, yang menyebutkan ada sekitar 65% etnis Minangkabau yang bermukim di kota ini.</p>
<p><div id="attachment_4067" class="wp-caption aligncenter" style="width: 624px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/rumbai-dan-pusat-kota.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/rumbai-dan-pusat-kota.jpg?w=614&#038;h=368" alt="" title="Rumbai dan Pusat Kota" width="614" height="368" class="size-full wp-image-4067" /></a><p class="wp-caption-text">Sungai Siak membelah Rumbai (kiri) dan pusat kota</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Menurut Badan Pusat Statistik, pada tahun lalu jumlah penduduk Pekanbaru mencapai 937.939 jiwa. Angka ini telah menempatkannya sebagai kota terbesar ketiga di Sumatera. Menyalip Bandar Lampung dan Padang yang lima tahun sebelumnya masih berada di atas. Dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 4,7% per tahun, diperkirakan dalam waktu 15 tahun mendatang, populasi Pekanbaru akan melampaui Makassar dan Palembang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Jika Anda hendak melancong ke Pekanbaru, maka jangan harap menemukan obyek wisata yang representatif. Untuk warga kotanya saja, Pekanbaru tak banyak memiliki tempat hiburan yang menyenangkan. Oleh karenanya jika musim liburan tiba, tempat-tempat wisata di Sumatera Barat menjadi tujuan favorit mereka. Boleh dibilang Pekanbaru bukanlah kota wisata. Namun jika Anda singgah ke kota ini, Museum Sang Nila Utama layak untuk dikunjungi. Museum yang terletak di jantung kota ini menampilkan barang-barang kesenian Melayu Riau. Untuk berbelanja buah tangan, Pasar Bawah tempat yang cocok untuk memenuhi kebutuhan Anda. Disini selain hasil kerajinan Sumatera Barat, juga banyak ditemui produk asal Malaysia. Untuk oleh-oleh khas Pekanbaru, pasar ini juga menjual lempuk durian, bolu kemojo, dan wajik tape melayu. Selain itu kek tape milik Denny Delyandri, juga bisa menjadi alternatif pilihan Anda.</p>
<p><div id="attachment_4077" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/kim-teng.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/kim-teng.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="Kim Teng" width="300" height="224" class="size-medium wp-image-4077" /></a><p class="wp-caption-text">Kedai kopi Kim Teng di Jl. Senapelan (sumber : infomakan.com)</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Satu lagi yang menjadi <em>trademark</em> wisatawan ketika berkunjung ke kota ini adalah kedai kopi Kim Teng. Warung kopi yang terletak di Jalan Senapelan ini, didirikan oleh Tan Kim Teng, salah seorang pejuang kemerdekaan yang telah berbisnis sejak tahun 1956. Disini Anda bisa mencicipi roti srikaya sambil menyeruput kopi tanpa ampas. Kini kedai kopi yang telah memiliki empat cabang itu, dikelola oleh generasi ketiga. Meski Pekanbaru minim tempat wisata dan oleh-oleh, namun untuk penginapan Anda tak perlu khawatir. Disini Anda dengan mudah akan menemukan hotel-hotel kelas melati hingga yang berberbintang lima.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Perkembangan Pekanbaru belakangan ini, ditopang oleh kinerja perekonomian Riau yang cukup fantastis. Berdasarkan PDRB per kapita, Riau merupakan wilayah termakmur ketiga di Indonesia setelah Kalimantan Timur dan Jakarta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah, pembagian keuntungan minyak tak lagi tersedot ke pemerintah pusat. Daerah yang menjadi pemilik hakiki kekayaan tersebut, mendapatkan <em>sharing</em> yang cukup besar. Mengingat besarnya kekayaan minyak propinsi Riau, sebagian orang berpendapat bahwa seharusnya Pekanbaru bisa lebih maju lagi dari sekarang ini. Dibandingkan Kalimantan Timur yang mampu membangun tiga kota utamanya (Balikpapan, Samarinda, dan Bontang) sekaligus, agaknya Riau tertinggal satu langkah. Karena di propinsi yang juga kaya hasil kelapa sawit ini, hanya Pekanbaru saja yang bersolek. Bangkinang, Bengkalis, Rengat, dan Tembilahan : empat kota utama lainnya di propinsi Riau, masih jauh tercecer di belakang.</p>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Sejarah Pekanbaru</strong><br />
&nbsp;<br />
<div id="attachment_4066" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/terminal-baru-bandara-sultan-syarif-kasim-ii.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/terminal-baru-bandara-sultan-syarif-kasim-ii.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" title="Terminal Baru Bandara Sultan Syarif Kasim II" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-4066" /></a><p class="wp-caption-text">Terminal baru Bandara Sultan Syarif Kasim II</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Semula Pekanbaru hanyalah bandar persinggahan bagi pedagang Minangkabau yang hendak berniaga ke Selat Malaka. Lambat laun bandar ini tak hanya sebagai tempat transit, melainkan telah menjadi daerah tujuan baru mereka. Makin lama makin banyak masyarakat yang datang dan meneroka wilayah ini. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk, maka didirikanlah pekan (pasar) di tepi Sungai Siak, tepatnya di daerah Senapelan. Atas kesepakatan musyawarah Dewan Menteri Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), maka pekan tersebut dinamai Pekanbaru.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;margin:0;">Setelah Indonesia merdeka, Pekanbaru masih menjadi kota kecil yang kurang berarti. Hingga tahun 1959, kedudukannya tak lebih penting dari Bukittinggi dan Tanjung Pinang. Sejak ditemukannya ladang-ladang minyak, maka beramai-ramai para sarjana yang sebagian besar dari Sumatera Barat datang ke Pekanbaru. Tujuan mereka hendak bekerja di perusahaan Caltex, sambil berniaga memenuhi kebutuhan masyarakat. Pasca-PRRI dan ditetapkannya Pekanbaru sebagai ibu kota propinsi, banyak pula masyarakat Melayu pesisir yang bermigrasi ke Pekanbaru. Disini mayoritas mereka bekerja sebagai pegawai negeri di kantor pemerintah daerah. Dalam perkembangannya tak hanya etnis Minang dan Melayu yang berduyun-duyun membanjiri Pekanbaru, namun juga suku Jawa dan komunitas Tapanuli Selatan. Kedatangan orang-orang Mandailing-Angkola, terutama sejak diangkatnya Kaharuddin Nasution sebagai penguasa perang Riau Daratan dipenghujung tahun 1950-an.</p>
<p><div id="attachment_4061" class="wp-caption aligncenter" style="width: 624px"><a href="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/jantung-kota-pekanbaru.jpg"><img src="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/jantung-kota-pekanbaru.jpg?w=614&#038;h=368" alt="" title="Jantung Kota Pekanbaru" width="614" height="368" class="size-full wp-image-4061" /></a><p class="wp-caption-text">Jantung kota Pekanbaru dari atas udara</p></div><br />
&nbsp;<br />
sumber gambar : <a href="http://www.skyscrapercity.com" rel="nofollow">http://www.skyscrapercity.com</a></p>
<p><strong>Lihat pula :</strong><br />
<a href="http://afandriadya.com/2010/02/02/ini-medan-bung/" title="Ini Medan Bung !">Ini Medan Bung !</a>         </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/afandri81.wordpress.com/4058/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/afandri81.wordpress.com/4058/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=afandriadya.com&#038;blog=1733555&#038;post=4058&#038;subd=afandri81&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://afandriadya.com/2012/11/05/menengok-perkembangan-kota-pekanbaru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4d915c9572438cee3e7045d27fc801fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">afandri81</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/pekanbaru.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pekanbaru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/riau-main-stadium1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Riau Main Stadium</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/basko-superblok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Basko Superblok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/perpustakaan-riau1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Perpustakaan Riau</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/rumbai-dan-pusat-kota.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumbai dan Pusat Kota</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/kim-teng.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kim Teng</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/terminal-baru-bandara-sultan-syarif-kasim-ii.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Terminal Baru Bandara Sultan Syarif Kasim II</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://afandri81.files.wordpress.com/2012/11/jantung-kota-pekanbaru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jantung Kota Pekanbaru</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
