Kisah Sumatra pada periode klasik sangat jarang dibahas dalam literatur-literatur sejarah nasional. Kejayaan imperium orang-orang Sumatra yang akbar, seolah-olah tenggelam dalam bahasan panjang sejarah Jawa. Pola pandang Jawasentris dalam banyak kajian sejarah Indonesia, telah menutup informasi-informasi penting seputar kehidupan masyarakat Sumatera. Dengan merujuk pada catatan-catatan Cina, India, dan Arab, serta beberapa prasasti yang terserak di sepanjang pulau Sumatera, kita akan menengok sejarah bangkit dan jatuhnya orang-orang Melayu yang bermukim di pulau tersebut sejak abad ke-7 hingga ke-15. Masa tersebut, yang dikategorikan oleh sejarawan Krom sebagai masa klasik, merujuk pada masa terbentuknya Kerajaan Malayu hingga bangkitnya Kesultanan Malaka di tepi barat Semenanjung Malaysia.
Dalam catatan musafir-musafir mancanegara, Suwarnadwipa atau Zabag atau Sanfotsi, merupakan tempat penting dalam rute perdagangan mereka. Pedagang-pedagang Arab dan Persia kerap mendapatkan bumbu-bumbu masak yang dibutuhkan pasaran Eropa dari wilayah ini. Sedangkan raja-raja Cina dan India membutuhkan mineral-mineral yang banyak dikandung oleh pulau emas ini. Kerajaan Kantoli di Sumatera Selatan yang mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-6, mengakhiri periode kuno Sumatera. Selanjutnya, sejarah Sumatera masuk pada fase ekspansi dan kedewasaan kultural kerajaan Budha dan Hindu.
Pada awal abad ke-7, persekutuan antara komunitas Batanghari dan pedagang-pedagang Minangkabau yang bermukim di lereng pegunungan Bukit Barisan, membentuk sebuah pemerintahan yang bernama Malayu. Pelabuhan dagang Malayu diperkirakan berada di Jambi, hilir sungai Batanghari. Kehidupan kerajaan disokong oleh kegiatan perdagangan emas yang banyak diusahakan oleh masyarakat pedalaman Minangkabau di hulu sungai Batanghari. Pedagang-pedagang ini menggunakan jalur Batanghari untuk mengangkut barang dagang mereka dari pedalaman ke muara Jambi di pesisir timur Sumatera, untuk ditukarkan dengan produk-produk impor dari mancanegara.


