Jejak Nakhoda Pagaruyung : Dari Batubara ke Pulau Penang

Posted: 24 September 2021 in Sejarah
Tag:, , , ,

Istana Lima Laras, Batubara

Dalam sebuah ceramahnya, Ustad Abdul Somad pernah menerangkan silsilah keluarganya yang berasal dari Pagaruyung. Ia menceritakan bahwa ibunya merupakan keturunan kelima dari Nakhoda Ismail, cucu Datuk Angku Batuah yang berasal dari Pagaruyung. Abdul Somad sendiri lahir di Batubara, sebuah kabupaten kecil di pantai timur Sumatera Utara. Berdasarkan situs resmi Kabupaten Batubara, dinyatakan bahwa selain orang Jawa, Melayu, dan Batak, disana juga terdapat etnis Minangkabau yang dulunya melakukan perdagangan lintas selat. Para pedagang lintas selat itu dikenal sebagai “nakhoda”, atau orang yang memiliki perahu besar. Dan salah seorang pedagang lintas selat tersebut adalah kakek buyutnya Abdul Somad.

Masih dari situs https://www.batubarakab.go.id/web dinyatakan bahwa ibu kota Kabupaten Batubara berada di kecamatan Limapuluh. Selain Limapuluh, ada pula kecamatan Tanah Datar disana. Nama-nama ini merupakan nama luhak di Minangkabau yang menjadi asal muasal sebagian masyarakat Batubara. Selain di Batubara, masih banyak lagi nama-nama tempat di Sumatera Timur dan Riau yang dinamai Limapuluh ataupun Tanah Datar. Di Pekanbaru, ada sebuah kelurahan yang bernama Tanah Datar. Letaknya di pusat kota antara Jalan Sudirman dan A. Yani. Dahulu kelurahan ini merupakan sebuah kampung yang diteroka oleh orang-orang Tanah Datar yang berasal dari Batusangkar dan Lintau. Lalu ada lagi kecamatan Limapuluh yang terletak di tepi Sungai Siak. Tempat ini dulunya dibuka oleh masyarakat Luhak Limapuluh Kota yang berasal dari Payakumbuh dan sekitarnya.

Penasaran dengan migrasi orang Minang ke Batubara, saya kembali membuka-buka buku Christine Dobbin, yang berjudul Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa para pedagang Minang telah berabad-abad menetap di pantai timur Sumatera : dari Jambi, Siak, Pelalawan, sampai jauh ke utara di Batubara dan Asahan. Di tempat ini mereka berprofesi sebagai pedagang perantara yang memasarkan hasil bumi dari pedalaman Sumatera. Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental menyebutkan, bahwa pada abad ke-16 Inderagiri sudah menjadi pelabuhan dagang raja-raja Minangkabau. Setelah Belanda mendirikan kantor dagangnya di Padang tahun 1663, keberadaan kota-kota dagang di pesisir timur Sumatera semakin penting. Para pedagang Minang yang sebelumnya banyak berdagang di pantai barat, beralih ke pesisir timur untuk menghindari monopoli Belanda. Salah satu basis utama perdagangan mereka disana adalah Batubara.

Kepergian mereka ke kota tersebut tak lepas dari keberadaan Kedatuan Batubara yang telah berdiri sejak abad ke-17. Kedatuan ini didirikan oleh Datuk Belambangan, cucu Raja Gamuyang penguasa Pagaruyung. Proses bermigrasinya para pedagang Minang ke Batubara diperkirakan berlangsung sejak akhir abad ke-17 hingga dekade 1850-an. Kedatangan mereka diduga atas undangan datuk-datuk yang menjadi raja kecil disana. Dengan ramainya pedagang yang pindah ke Batubara, maka aktivitas perdagangan di kota inipun semakin meningkat. Para pedagang Batubara yang membawa hasil bumi dari pedalaman seperti gambir dan rotan, kemudian mengangkutnya dengan perahu-perahu besar melintasi Selat Malaka. Mereka menjual komoditas tersebut di Pulau Penang, lalu membeli kain Coromandel atau sutera Cina untuk dijual kembali di pedalaman Sumatera. Dengan pola perdagangan seperti ini, banyak dari mereka yang menjadi kaya raya. Mereka cukup dihormati dan diberi gelar rangkayo atau Orang Kaya (OK). Di Tanjung Tiram, kita masih bisa melihat Istana Lima Laras yang menjadi bukti sejarah Kedatuan Batubara.

Pada tahun 1786, Francis Light dari kongsi dagang Inggris : East India Company (EIC), mendirikan kantor dagangnya di Pulau Penang. Sejak saat itu, perdagangan di Selat Malaka semakin ramai. Dalam surat Van den Bosch kepada Elout yang dikutip oleh Dobbin, pada tahun 1823 tak kurang dari 600 perahu Batubara yang terlibat dalam perdagangan lintas selat. Beberapa diantaranya adalah milik orang-orang kaya yang memiliki banyak perahu. Tak hanya dari Batubara, pedagang Minang yang berdagang di Pulau Penang juga datang melalui Siak Sri Inderapura. Mereka menghiliri Sungai Siak dan Kampar, terus menyeberangi Selat Malaka. Untuk menghindari perompakan, perahu-perahu ini biasa berlayar secara beriringan antara 10-12 kapal. Berdasarkan catatan Dobbin, perahu pertama dari Siak mendarat di Penang pada tanggal 7 Juli 1787, satu tahun setelah Light membuka kantor disana.

Mesjid Jamek Batu Uban (sumber : www.thestar.com)

Sebelum Francis Light tiba di Penang, sebenarnya sudah banyak pedagang Minang yang bermukim disana. Pada awal abad ke-18, tiga bersaudara dari Payakumbuh : Nakhoda Bayan, Nakhoda Intan, dan Nakhoda Kechil telah meneroka Pulau Penang. Atas seizin Sultan Ahmad Tajuddin penguasa Kedah ketika itu, mereka menguasai pesisir Bayan Lepas, Balik Pulau, Gelugor, serta Tanjung (kini Georgetown). Ketika Light mendarat di Penang, Nakhoda Kechil malah membantunya mendirikan Benteng Cornwallis. Dalam artikelnya yang berjudul The Indonesians in Penang, 1786-2000, Abdul Razzaq Lubis menceritakan bahwa Nakhoda Kechil juga membuka kampung di Jelutong, sedangkan abangnya Nakhoda Intan merintis pemukiman di Batu Uban. Tak hanya mendirikan pemukiman, di kawasan itu mereka juga mendirikan mesjid jamek yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini.

Dalam buku Early History of Penang yang terbit tahun 2012, dinyatakan bahwa Nakhoda Intan yang bernama asli Mohammad Saleh berasal dari Kampung Bodi, Payakumbuh. Saleh adalah seorang yang taat, yang menginginkan diterapkannya hukum Islam di kampung halamannya. Karena berselisih paham dengan orang-orang yang ingin melanggengkan adat Perpatih, ia pun pergi ke Pulau Penang. Riwayat lain menceritakan bahwa kedatangannya ke pulau itu karena diminta oleh sultan Kedah untuk mengusir para bajak laut yang mengganggu perdagangan di sekitar Kedah. Atas jasanya itu, ia kemudian dihadiahi sebidang tanah di Batu Uban. Disana ia lalu menikah dengan Aishah atau yang dikenal dengan Cik Tunggal, wanita asal Seberang Perai. Sebelum dengan Aishah, Saleh telah menikah dua kali. Pertama dengan Suri Padi di Minangkabau dan Aminah yang berasal dari Deli. Setelah ia meneroka kawasan Batu Uban, banyak nakhoda Minang yang kemudian datang dan menetap di Pulau Penang. Karena hubungan baiknya dengan sultan Kedah, Saleh-pun diangkat menjadi pemimpin kaum Melayu disana.

Selain Nakhoda Intan, ada lagi nakhoda Minang yang meneroka kawasan Batu Uban. Mereka adalah Datuk Jannaton dan Datuk Maharaja Setia. Kakak beradik itu menerima seratus hektar tanah dari Sultan Muhammad Jiwa (sultan Kedah periode 1710-1778), karena berhasil memukul mundur Raja Boromakot dari Ayutthaya yang hendak menguasai Kedah. Media daring The Star.com dalam artikelnya yang berjudul Early Malay Settlement in Penang memerikan bahwa Datuk Jannaton adalah pedagang lintas selat yang berasal dari Pagaruyung. Pada tahun 1749 bersama 90 orang pengikutnya, dia datang dari Batubara dan menetap di Pulau Penang. 40 tahun kemudian Datuk Jannaton wafat. Makamnya di Gelugor masih dikunjungi hingga hari ini dan dianggap sebagai tempat keramat. Di Malaysia dan Singapura, banyak keturunan Datuk Jannaton yang kemudian menjadi pemimpin. Mereka antara lain Aziz Ishak, menteri pertanian Malaysia, serta Yusof Ishak yang menjadi presiden pertama Singapura.

Dr. Ahmad Murad Merican, salah seorang akademisi Universiti Teknologi Petronas yang juga keturunan Datuk Jannaton, dalam jurnalnya yang berjudul Kedah/Pulau Pinang as the Alam Rantau Minangkabau: Pre-colonial Malay History from Pagaruyung to Batu Uban menerangkan, bahwa proses merantau yang dilalui oleh kakek buyutnya dari Pagaruyung ke Payakumbuh, terus ke Batubara dan Pulau Penang merupakan suatu bentuk pola migrasi orang Minang yang kemudian membentuk dunia Melayu. Lebih lanjut Murad memaparkan bahwa tak hanya ke Kedah dan Pulau Penang, dalam proses merantaunya itu orang Minang juga membentuk Negeri Sembilan, bahkan hingga ke Serawak dan Brunei.

Pada tahun 1824, Pulau Penang jatuh ke tangan British. Dua tahun kemudian, bersama Malaka dan Singapura, pulau ini masuk ke dalam koloni Negeri-negeri Selat atau yang dikenal dengan Straits Settlement. Sejak saat itu, eksistensi kaum Melayu di Pulau Penang semakin merosot. Orang-orang dari Tiongkok menjadi komunitas yang dominan, sementara orang Eropa berada di strata teratas. Meski kini British tak lagi menjajah Malaysia, namun menurut Murad penulisan sejarah negeri itu masih diliputi sudut pandang kolonial yang bias. Pemerintah Malaysia belum mau mengangkat keberadaan komunitas Melayu sebelum kedatangan Francis Light. Padahal jauh sebelum kedatangannya, para nakhoda Pagaruyung – dan juga pedagang Aceh, telah meneroka dan menyusun pranata kehidupan masyarakat di pulau tersebut.

Lihat pula : Saudagar Minangkabau di Malaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s