Dalam satu dekade terakhir, Thailand telah menjadi destinasi wisata favorit warga Indonesia. Terlebih sejak dibukanya maskapai low cost carrier — seperti Air Asia, Lion Air, dan FlyScoot, semakin banyak orang Indonesia yang mengunjungi Thailand. Salah satunya kami, yang di pertengahan bulan Juni ini berkesempatan mengunjungi negara asal Madame Pang tersebut. Pada episode perjalanan kali ini, kami mengunjungi tiga kota sekaligus : Bangkok, Krabi, serta Phuket. Karena artikel ini berisi cerita liburan di Thailand, maka agar tak terlampau panjang, saya membaginya menjadi dua bagian. Di bagian pertama, menceritakan mengenai pengalaman di Bangkok. Sedangkan untuk bagian yang kedua, mengisahkan tentang perjalanan di Krabi serta Phuket. Berbeda dengan artikel wisata sebelumnya, pada artikel kali ini saya akan mensenaraikan biaya yang dikeluarkan selama di Bangkok. Ini mungkin akan berguna bagi pembaca, sebagai ancar-ancar ketika hendak mengunjungi negeri ini. Sebagai informasi, kurs yang berlaku di bulan Juni ini adalah Rp 444 untuk setiap 1 Baht-nya.
Selain tiket pesawat yang tak terlampau mahal, favoritnya negeri gajah putih sebagai tujuan wisata orang Indonesia karena biaya hidupnya yang murah. Ya, gak beda-beda jauhlah dengan biaya hidup di kota-kota besar di Indonesia. Untuk biaya konsumsi misalnya, masih banyak makanan yang dijual seharga 50 Baht. Di mal-mal berkelas, seperti Icon Siam atau Siam Paragon, masih ada makanan yang dibanderol 90 Baht. Saya sempat mencoba nasi biryani di foodcourt Siam Paragon, dengan harga yang kurang dari 100 Baht. Untuk paket KFC berisi ayam, kentang, nugget, serta minuman, cuma dihargai 116 Baht. Untuk air mineral ukuran satu liter, di 7-Eleven dijual antara 13-15 Baht, sedangkan untuk ukuran 350 ml seharga 7 Baht. Begitu pula dengan jajanan kaki lima seperti Thai pancake, yang bisa dibeli dengan harga 40 Baht.
Nah, yang agak mahal menurut saya adalah ongkos taksi dan tuktuk. Untuk jarak sekitar satu setengah kilometer, abang-abang tuktuk disana mematok harga 100 Baht. Kalau bertiga atau berempat, masih oke lah ya. Tapi kalau Anda sendirian, bisa rugi diongkos. Untuk taksi juga begitu. Dengan jarak kurang dari delapan kilometer, kami dipakuk 650 Baht! Karena kami pergi sekeluarga, dengan taksi jenis Innova hitung-hitungannya masih masuk. Oiya, taksi di Bangkok cuma sedikit yang mau menggunakan argo. Kebanyakan ditentukan melalui mekanisme tawar-menawar antara penumpang dengan driver . Kalau Anda tipe orang yang nrimo, gak jago tawar-menawar, ya bisa habis dikerjai disana. Suatu kali saya menyetop taksi hendak menunju The Grand Palace. Sang supir langsung mengiyakan tawaran saya seharga 200 Baht — dimana tarif normalnya antara 250-300 Baht (jarak sekitar 4,5 km). Eh ternyata, ia mau menerima harga segitu asalkan kami mau diajak berputar-putar ke toko oleh-oleh. Walaah, ini mirip becak-becak di Jogjakarta.
Untuk taksi dari bandara ke pusat kota, Anda bisa menggunakan jenis minibus (kapasitas 9-10 orang) dengan ongkos 1200 Baht. Sedangkan yang jenis sedan (3-4 orang) dipatok seharga 800 Baht. Yang menarik, kalau dari pusat kota ke bandara, harganya malah lebih murah. Untuk jenis minibus, kami hanya di-charge 1100 Baht. Kalau Anda ingin naik taksi dari bandara, sebaiknya memesan dari konter resmi yang ada di terminal kedatangan. Disana Anda sudah mendapatkan harga fiks (ada tabel harganya), tenimbang mengambil taksi dari luar terminal yang bisa saja jatuhnya malah lebih mahal. Untuk Grab, selama di Thailand kami gak pernah mencobanya. Tapi menurut supir taksi yang kami tumpangi, harga yang tertera di aplikasi kemungkinan akan di-mark-up jika lalu lintas sedang tak bersahabat. Traffic jam di Bangkok emang gokil. Jam 3 siang saja, macetnya sudah seperti jam 5 sore di Jakarta. Oiya, pelayanan taksi di Bangkok menurut saya gak bagus-bagus amat. Ya, masih jauh lah jika dibandingkan dengan Blue Bird.
Surga Belanja
Bagi sebagian orang, Bangkok merupakan surga belanja barang murah dengan model yang tak kalah dari barang-barang branded. Ada banyak pusat perbelanjaan di Bangkok. Mulai dari pasar tradisional, kelas ITC, hingga mal-mal berkelas. Meski gak semewah Plaza Indonesia atau Pacific Place, untuk mal grade A-nya, Bangkok punya Siam Paragon, Icon Siam, dan Asiatique. Untuk kelas ITC-nya ada Platinum Fashion Mall. Sedangkan untuk pasar tradisional, Pratunam atau Chatuchak bisa menjadi pilihan. Kalau Anda punya waktu yang terbatas, kunjungan ke Siam Square (Siam Paragon, Discovery, MBK, Central World), Platinum, dan Pratunam bisa digabung dalam satu hari perjalanan. Selain letaknya yang berdekatan — dalam radius satu kilometer, Anda tak perlu naik taksi atau tuktuk untuk berpindah dari satu mal ke mal lainnya. Sebab disana telah tersedia jembatan penyeberangan orang yang menghubungkan mal-mal tersebut. Jembatan itu juga terkoneksi dengan Stasiun BTS Skytrain : Siam dan Chit Lom. Oiya, kalau Anda masih punya spare waktu, jangan lupa melongok sebentar ke lantai 4 Siam Discovery. Disana ada museum Madame Tussauds yang menampilkan patung lilin berbagai tokoh. Untuk hari berikutnya, Icon Siam dan Asiatique bisa sekalian dikunjungi. Kalau di sore hari, Anda bisa menaiki perahu orange line dengan tarif 16 Baht per orang. Jika Anda berniat menghabiskan liburan dengan berbelanja, saran saya sebaiknya memilih hotel dekat Siam Area atau Petchabhuri. Ini akan menghemat ongkos, waktu, dan tenaga.
Konsep mal di Bangkok, boleh dibilang gak jauh berbeda dengan mal-mal yang ada di Jakarta. Icon Siam dan Siam Paragon misalnya, menawarkan barang-barang branded seperti Hermes, LV, Gucci, dan sejenisnya. Kalau Anda ingin mencari barang-barang dengan harga terjangkau, Platinum Fashion Mall merupakan pilihan yang tepat. Lorong-lorongnya yang sedikit sempit, mengingatkan saya pada pusat perbelanjaan Thamrin City dan Blok A Tanah Abang di Jakarta Pusat. Entah mengapa, Mal Platinum ini semacam magnet bagi turis Indonesia. Mungkin karena barang-barangnya lumayan bagus dengan harga yang reasonable. Tas-tas perempuan dengan model kekinian, bisa dibanderol seharga 290-350 Baht. Begitu pula dengan celana batik khas Thailand, ada yang dihargai 80 Baht per potongnya. Untuk yang mencari oleh-oleh atau suvenir, di mal ini juga tersedia aneka pernak-pernik dengan kisaran harga 20 Baht per itemnya. Bagi Anda yang menyukai Thai tea, di lantai 7 mal ini juga tersedia kios-kios yang manawarkan teh ala Thailand. Kami sempat “memborong” teh bermerek Chatramue yang kesohor itu disini. Lumayanlah, selisih 10 Baht lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di Siam Discovery.
Disamping menawarkan fesyen, tas, dan pernak-pernik, mal-mal disinipun juga menyediakan makanan dan jajanan dalam satu tempat. Resto-resto dengan tempat duduk yang lebih privat, terletak di pinggir bangunan dengan kaca menghadap ke luar. Sedangkan di bagian tengah, diisi tenant-tenant dengan meja dan bangku yang mengelilinginya. Diantara foodcourt yang ada di Bangkok, saya begitu terkesan dengan Sook Siam di lantai dasar Mal Icon Siam. Tata letaknya yang begitu memikat, mengundang para vlogger untuk membuat konten makan disini. Saya-pun sempat merekam proses pembuatan tom yum seafood yang menurut saya lebih seperti sebuah pertunjukan. Jika dibandingkan dengan foodcourt di Siam Paragon atau Platinum Mall, Sook Siam ini jauh lebih kece.
Makanan Halal dan Akomodasi
Berbeda dengan Hongkong yang sulit mencari makanan halal, di Bangkok boleh dibilang cukup mudah. Kalau Anda menginap di sekitar Pratunam, Petchabhuri, atau Siam Area, ada banyak resto dan jajanan kaki lima yang berlabel halal. Di depan hotel kami, terdapat kampung muslim yang sebagian besarnya menjual makanan halal. Menunya sama seperti masakan Thailand pada umumnya : ada tom yum, pad thai, dan nasi goreng. Saya mencatat ada beberapa rumah makan berlabel halal disini, diantaranya Nissareen, Farida Fatornee, Madena, dan Ali Selatan. Selain masakan Thailand, di Ali Selatan juga tersedia lauk-pauk yang mirip dengan masakan Minang. Ada telur balado, gulai ikan, dan rendang. Kami sempat bercakap-cakap dengan ibu pemilik warung yang ternyata fasih berbahasa Melayu. Dilihat dari perawakannya, agaknya ibu ini berasal dari propinsi muslim di Thailand selatan. Selain rasanya yang mengena di lidah, makanan di resto-resto tersebut harganya juga tergolong ramah. Nasi goreng, pad thai, dan tom yum, rata-rata dijual dengan harga 40-80 Baht per porsinya.
Selain restoran Thailand selatan, beberapa resto muslim lainnya yang bisa menjadi alternatif pilihan adalah resto Turki atau India. Karena banyaknya restoran muslim Thailand disini, saya gak sempat mencoba resto muslim India yang biasanya kami singgahi ketika berkunjung ke Malaysia dan Singapura. Untuk jajanan kaki lima, juga gak susah kok untuk mencari street food halal disini. Di sekitar Pratunam misalnya, berderet ibu-ibu berjilbab yang menjajakan sosis bakar, barbecue, dan mango sticky rice. Tak ketinggalan orang-orang muslim India yang juga banyak menjual murtabak serta roti prata. Sedangkan untuk masakan Indonesia, saya hanya menjumpai satu restoran di Jalan Si Lom, yakni Restoran Riyanti yang menyajikan masakan Padang.
Untuk akomodasi selama tiga malam di Bangkok, kami memilih Bangkok City Hotel di Jalan Petchabhuri. Selain letaknya yang tak jauh dari Siam Area, disini kami bisa menyewa kamar keluarga dengan harga yang bersahabat. Untuk tipe family room, hotel ini menawarkan paket plus sarapan seharga Rp 880.000 per malamnya. Yang kami suka dari hotel ini ialah kios 7-Eleven dan warung makan yang buka hingga tengah malam. Karena hotel ini terletak di tepi jalan raya, sehingga Bangkok vibrant-nya cukup terasa. Berjalan-jalan di sekitar hotel, Anda akan melihat kehidupan Bangkok yang sesungguhnya. Ada pemulung, orang kantoran, homeless yang tidur di trotoar, hingga pedagang kaki lima yang berjualan di jembatan penyeberangan. Disini Anda tak kan sulit mendapatkan taksi ataupun tuktuk. Melihat bus-bus tak berkaca yang wara-wiri di depan hotel, serasa mengenang Jakarta tahun 1990-an. Oiya, yang menarik dari hotel ini adalah tersedianya kopi gratis 24 jam. Bagi Anda penikmat kopi, mungkin hotel ini bisa menjadi pilihan.
Kuil, Istana Agung, dan Sungai Chao Phraya
Selain ingin berbelanja, alasan orang Indonesia mengunjungi Bangkok adalah hendak merasakan vibes budayanya yang unik. Sawasdee khrap/kha merupakan kata yang sering didengar ketika berada di Thailand. Kata ini semacam ucapan salam atau sapaan khas masyarakat Thai. Ketika masuk hotel, supermarket, restoran, ataupun taksi, Anda akan disambut dengan ucapan ini. Tak sedikit dari mereka yang masih mengucapkannya dengan badan yang sedikit membungkuk. Ini mirip seperti kebiasaan orang Jogja ataupun Solo saat menyambut tamu. Selain sawasdee khrap/kha, kata lainnya yang sering diucapkan orang Thailand adalah khap khun khrap/kha. Ini artinya terima kasih dalam Bahasa Indonesia, yang bisa dibalas dengan yin dii khrap/kha yang artinya sama-sama. Perbedaan antara khrap dan kha hanya pada jenis gender-nya, dimana khrap untuk laki-laki dan kha untuk perempuan. Namun di telinga saya, kedua kata ini terdengar sama.
Disamping tata kramanya yang masih terjaga, cagar budayanya-pun juga masih lestari. Di sekitar Sungai Chao Phraya, kita masih bisa melihat kuil-kuil (wat) besar serta bangunan agung yang sudah berusia lebih dari dua ratus tahun. The Grand Palace atau Istana Agung misalnya, di bangun pada tahun 1782 ketika Bangkok ditetapkan sebagai ibu kota Kerajaan Siam. Dulu istana ini merupakan tempat kediaman raja. Namun setelah kudeta di tahun 1932 yang membatasi hak absolut para raja, istana inipun tak lebih dari sekedar simbol belaka. Selain masih ada kantor kerajaan, di dalamnya juga ada tempat sembahyang yang kerap kali dikunjungi umat Budha. Khusus buat rakyat Thai, mengunjungi Grand Palace tak dikenakan biaya. Hal ini berbeda dengan turis asing macam kita, yang akan di-charge sebesar 500 Baht. Di sebelah Grand Palace, terdapat Wat Pho yang tak kalah megahnya. Disini kita bisa melihat patung Budha raksasa sedang berbaring. Patung ini memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, dengan keseluruhan badannya yang berlapis emas. Untuk tiket masuk ke dalam Wat Pho, kita akan dikenakan biaya sebesar 300 Baht.
Satu lagi ikon Bangkok yang cukup terkenal adalah Wat Arun. Untuk mengunjungi kuil ini, kami harus menyeberangi Sungai Chao Phraya. Namun setibanya di dermaga Tha Tien di dekat Wat Pho, saya tak menemukan line yang melayani penyeberangan ke Wat Arun. Satu-satunya cara ke kuil ini adalah memutar melalui dermaga Prannok (lihat “Jadwal dan Rute Chao Phraya Boat” di bagian akhir artikel). Karena cukup jauh, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke Icon Siam, dan cuma memoto kuil tersebut dari kejauhan. Selain dua kuil utama : Wat Pho dan Wat Arun, di sekitar sungai masih banyak lagi kuil-kuil kecil yang instagramable. Di dekat Wat Arun, ada kuil berwarna putih yang bernama Wat Rakhang Khositaram. Tak jauh dari Chinatown, kita juga bisa menengok Wat Trai Mit. Berbeda dengan kuil utama yang cukup menguras kocek, masuk ke kuil ini tak terlampau mahal, bahkan ada yang gratis.
Bagi Anda yang punya waktu seharian untuk mengunjungi obyek wisata di sekitar sungai, lebih baik mengambil tiket terusan seharga 150 Baht. Dengan tiket ini, Anda bisa turun dan naik di beberapa dermaga tanpa harus membeli tiket lagi. Kapalnya-pun lebih besar dibandingkan dengan perahu yang melayani orange line. Namun kalau waktu Anda terbatas dan cuma ingin mengunjungi dua atau tiga destinasi, mengambil lin oranye dengan ongkos 16 Baht sudahlah cukup. Perahu yang melayani orange line ini boleh dibilang ngeri-ngeri sedap. Sebab sebagian besar armadanya nampak sudah tua. Tapi secara keseluruhan, layanan transportasinya aman kok! Kondekturnya-pun juga cukup sigap ketika membantu menaikkan dan menurunkan penumpang. Memang mereka agak sedikit bawel, tapi ini demi kelancaran bersama. Mengunjungi tempat-tempat megah dengan mengarungi Chao Phraya, sungguh pengalaman luar biasa. Selanjutnya, masih ada lagi pengalaman kami yang mengesankan di kota Krabi dan Phuket. Baca kelanjutannya disini ya.
Petunjuk :
Jadwal dan Rute Chao Phraya Boat serta Info BTS Skytrain




Selamat Malam.
Dari Riau.
SukaDisukai oleh 2 orang