Archive for the ‘Sosial Budaya’ Category


Rishi Sunak dan Akshata Murthy

Liz Truss akhirnya menyerah juga. Setelah menjabat selama 50 hari sebagai Perdana Menteri Inggris, tanggal 25 Oktober lalu ia mengajukan pengunduran diri. Posisinya digantikan oleh Rishi Sunak yang sebelumnya menjabat sebagai kanselor. Sunak adalah salah satu dari sekian banyak orang keturunan India yang sukses meniti karier di Inggris Raya. Sebelumnya kita mendengar nama Sadiq Khan, yang menjabat sebagai walikota London. Keberhasilan keturunan British India di Inggris Raya, boleh dibilang cukup mengesankan. Selain sebagai politisi, banyak pula diantara mereka yang sukses di dunia bisnis dan profesional. Mereka ada yang menjadi ahli hukum, ahli kesehatan, dan tak sedikit pula yang menjadi selebritis. Nah, dalam artikel kali ini kami akan mengajak Anda untuk melihat sepak terjang orang-orang keturunan India di Inggris Raya. Ini cukup menarik, mengingat Inggris merupakan ex-penjajah India, yang kemudian banyak menampung para imigran dari anak benua tersebut.

Kalau kita melihat latar belakang keluarga Sunak, mereka adalah para imigran yang telah berpindah-pindah dari British India ke Afrika Timur, lalu ke Inggris. Kedua kakenya berasal dari Punjab yang bermigrasi ke Afrika Timur pada dekade 1930-an. Ayah Sunak lahir di Kenya, sedangkan ibunya di Tanzania. Keluarga mereka lalu bermigrasi ke Inggris pada dekade 1960-an. Mereka menikah di Leicester tahun 1977, sebelum akhirnya pindah ke Southampton. Yashvir Sunak sang ayah, berprofesi sebagai ahli kesehatan di Pelayanan Kesehatan Nasional. Sedangkan ibunya Usha Sunak, mengelola apotek keluarga yang terletak di Burgess Road, Southampton. Rishi merupakan anak tertua dari tiga orang bersaudara. Adik-adiknya juga tergolong sukses. Raakhi Williams adiknya yang paling kecil, menjabat sebagai chief strategi dan perencanaan di salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa. Rishi menikah dengan Akshata Murthy, putri dari Narayana Murthy, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan teknologi : Infosys.

(lebih…)

Stadion Kanjuruhan rusuh (sumber : pikiran-rakyat.com)

Tragedi Kanjuruhan merupakan titik nadir sepak bola Indonesia. Tak pernah ada sebelumnya, ratusan orang meninggal gara-gara nonton sepak bola. Baru kali ini, kita menyaksikan orang-orang bergelimpangan di dalam stadion. Ada yang karena sesak napas, terinjak-injak, bahkan ada yang sudah mati. Koordinator Indonesia Police Watch, Sugeng Teguh Santoso mengatakan, ada kesalahan prosedur dalam penanganan ribut-ribut suporter di Stadion Kanjuruhan Sabtu (1 Oktober) malam lalu. Dalam peristiwa itu, ditemukan adanya penggunaan gas air mata, yang sebenarnya dilarang dalam peraturan FIFA. Larangan itu tentulah bukan tanpa sebab. Karena sebelumnya di negara lain, sudah ada kejadian yang menewaskan ratusan orang akibat penggunaan gas air mata. Di Peru pada tahun 1964, pernah terjadi 328 suporter meninggal karena tembakan gas air mata. Kala itu tim nasional Peru yang bertanding melawan Argentina, kalah 0-1. Tak menerima kekalahan tim pujaannya, para pendukung Peru-pun lantas mengamuk. Ya, miriplah seperti tragedi Kanjuruhan satu minggu lalu. Dimana Arema kalah 2-3 dari rival abadinya : Persebaya, yang kemudian memicu Aremania (pendukung Arema FC) untuk masuk ke dalam lapangan.

Semula, memang hanya satu orang yang masuk. Dia merangkul kiper Arema dan menyalami para pemain lainnya. Namun tak berselang lama, tiba-tiba ratusan suporter lainnya ikut melompat pagar, berhamburan, dan seperti membuat keonaran di tengah lapangan. Setidaknya itulah yang terlihat oleh para aparat, yang malam itu diperkuat 2.000 orang personil. Khawatir rusuh makin membesar, sejumlah aparat nampak sudah tak sabaran. Mereka main pentung, main tendang, hingga suporter yang sudah kecewa semakin emosi. Seharusnya aparat tak perlu bertindak berlebihan. Tak perlu menembakkan gas air mata, terlebih ke arah tribun dimana banyak suporter tak berdosa sedang berusaha untuk keluar. Apalagi, pada malam itu tak ada bentrok antar suporter. Yang ada hanyalah kekecewaaan massa yang hendak dilampiaskan.

(lebih…)

Putin dan Abramovich

Pada bulan Juni lalu situs berita bisnis http://www.visualcapitalist.com kembali merilis grafik migrasi para miliuner dunia. Mengutip dari Henley Global Citizens Report, diperkirakan ada sekitar 15.000 miliuner Rusia dan 10.000 miliuner China yang meninggalkan negaranya di tahun 2022 ini. Yang menarik, Indonesia juga termasuk ke dalam 10 besar negara yang ditinggalkan oleh para miliunernya. Tercatat ada 600 miliuner yang meninggalkan Indonesia yang disinyalir pindah ke Singapura. Dengan perginya miliuner-miliuner ini, maka secara tak langsung negara yang ditinggalkan akan kehilangan potensi pendapatan yang bisa diperoleh. Dan yang mendapatkan untung tentu adalah negara-negara yang kedatangan para miliuner. Dari 10 besar negara tujuan miliuner, terlihat bahwa negara-negara Barat cukup mendominasi. Rinciannya : Australia akan menerima 3.500 miliuner, Amerika Serikat 1.500 miliuner, Portugal 1.300 miliuner, Yunani 1.200 miliuner, Kanada 1.000 miliuner, dan Selandia Baru 800 miliuner. Selain itu, negara-negara tax haven seperti Uni Emirat Arab dan Singapura juga kemasukan miliuner dalam jumlah besar. Masing-masing 4.000 dan 2.800 miliuner. Begitupula dengan Israel yang menerima sekitar 2.500 miliuner. Sebagai catatan, definisi miliuner disini adalah seseorang yang memiliki kekayaan bersih di atas USD 1 milyar (atau setara Rp 14,7 triliun).

Kalau kita melihat secara sekilas, negara-negara yang menjadi tujuan para miliuner adalah negara yang memberikan kemudahan berusaha. Berdasarkan data Indeks Kemudahan Berbisnis yang dirilis World Bank pada tahun 2020 lalu, terlihat bahwa tingkat kemudahan di negara-negara tersebut memang berada di level atas. Kecuali Yunani, semuanya masuk klasifikasi “sangat mudah”. Namun kalau kita sigi lebih dalam lagi, Rusia dan China sebenarnya juga masuk ke dalam kategori “sangat mudah”, bahkan peringkat mereka berada di atas Israel. Tetapi mengapa banyak miliuner yang kabur dari negara tersebut? Nah, dalam artikel kali ini kita akan membedah tiga hal yang menjadi alasan mereka lari dari negara asalnya.

(lebih…)

Sariamin Ismail di Google Doodle

Sabtu, 31 Juli 2021, Google doodle kembali menampilkan tokoh Indonesia. Tokoh yang diangkat kali ini adalah Sariamin Ismail, seorang novelis angkatan Pujangga Baru. Sariamin atau yang lebih dikenal dengan nama penanya : Selasih, merupakan novelis perempuan pertama yang tercatat dalam sejarah Indonesia modern. Karyanya yang cukup populer : “Kalau Tak Untung”, dicetak oleh penerbit Balai Pustaka pada tahun 1933. Novelnya yang kedua “Pengaruh Keadaan”, terbit empat tahun kemudian. Berbeda dengan sastrawan sezamannya yang banyak menyoroti pernikahan yang terikat adat, cerita pada novel Selasih justru mengangkat kisah percintaan yang gagal. Novel terakhirnya “Kembali ke Pangkuan Ayah”, dirilis pada tahun 1986. Sebelum wafat, Sariamin sempat menerbitkan sebuah antologi puisi : “Ungu”.

Hingga akhir hayatnya, Selasih telah menerbitkan 6 buah novel dan 3 antologi puisi. Selain mengarang novel, ia juga aktif menulis di sejumlah surat kabar dan majalah. Diantaranya untuk Pujangga Baru, Panji Pustaka, Suara Kaum Ibu Sumatra, Sunting Melayu, Harian Persamaan, serta Bintang Hindia. Sariamin Ismail lahir di Talu, Sumatera Barat pada tanggal 31 Juli 1909. Jadi kemarin itu, Google memperingati hari ulang tahun beliau yang ke-112. Kalau Google saja mau mengenang jasa seorang perintis sastra Indonesia, mengapa kita tidak? Oleh karenanya dalam tulisan kali ini, kami akan mengangkat tema mengenai para pelopor sastra Indonesia modern. Mereka adalah orang-orang yang meneroka sekaligus mendirikan pondasi bagi pengembangan kesusastraan Indonesia modern. Tak hanya itu, mereka juga mengembangkan Bahasa Indonesia yang elok, yang berbeda dengan Bahasa Melayu pasar yang telah menjadi lingua franca di Nusantara. Siapa saja mereka? Yuk, ikuti cerita menarik selanjutnya.

(lebih…)

Keberadaan orang-orang Indonesia di negeri Belanda, agaknya jarang terekspos oleh media-media internasional. Tidak seperti halnya orang Turki di Jerman, masyarakat India-Pakistan di Inggris, atau kelompok Afrika Utara di Prancis; orang-orang Indonesia di Belanda tak pernah menjadi news maker. Berbeda dengan kelompok-kelompok tersebut yang acap kali diberitakan sebagai pelaku teroris, keturunan Indonesia di Eropa tak satupun yang terlibat dalam aksi tersebut. Boleh jadi inilah sebabnya mereka tak banyak mendapat sorotan. Padahal secara persentase, jumlah mereka di negeri kincir angin cukuplah besar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Peter Post, ada sekitar 1,5 juta-2 juta masyarakat keturunan Indonesia di Belanda. Meski banyak juga yang berpendapat kalau jumlah mereka tak lebih dari 400.000 jiwa atau sekitar 2,5% populasi Belanda.

Meski keberadaan orang-orang Indonesia dalam jumlah besar belum mencapai satu abad, namun pengaruh bangsa kita dalam kultur Belanda cukuplah besar. Sebut saja misalnya dari segi bahasa. Banyak sekali kosakata Bahasa Belanda yang diserap dari Bahasa Indonesia/Melayu. Selain itu untuk aspek makanan, tak sedikit kuliner asli Indonesia yang menjadi menu handalan disana. The rijsttafel, prasmanan yang terdiri dari satu set makanan Indonesia, masih menjadi hidangan favorit di negeri tanah rendah. Satu lagi budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah festival pasar malam. Salah satu festival pasar malam — dan yang terbesar — di Belanda adalah Tong Tong Fair, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1959.

(lebih…)

Pada dekade 1990-an, orang-orang Betawi sempat dibuat geger. Pasalnya seorang peneliti asal Australia, Lance Castles, menyebut kalau etnis Betawi merupakan keturunan para budak. Sontak pernyataan itu mendapat kritikan dari sejumlah budayawan Betawi. Meski karya Castles yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” itu telah terbit sejak tahun 1967, namun hasil penelitiannya baru dibantah tiga dekade kemudian. Adalah Ridwan Saidi, seorang budayawan Betawi yang juga sempat aktif di panggung politik nasional, yang paling getol mengkritik karya Castles tersebut. Menurutnya, teori yang mengatakan kalau orang Betawi keturunan budak adalah orang-orang yang menganut aliran Kali Besar. Mereka meyakini bahwa orang Betawi baru muncul sejak kompeni Belanda menguasai Batavia. Padahal menurut Saidi, orang-orang Betawi sudah ada sejak 3.500 tahun lalu, yang para kakek buyutnya merupakan rakyat Kerajaan Salakanagara.

Karena adanya dua pandangan yang saling bertolak belakang itu, saya jadi tergelitik untuk melihat sejauh mana relevansi karya Castles dan sanggahan Saidi terkait pembentukan kelompok masyarakat Betawi. Disamping masalah itu, kita juga akan melihat gelombang migrasi kelompok etnis lainnya ke Jakarta yang banyak berdatangan pasca-kemerdekaan. Sebenarnya Castles bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang mengajukan teori pembentukan etnis Betawi yang dihubungkan dengan unsur budak. Dalam berbagai karya sejarah tentang masyarakat Jakarta disebutkan bahwa orang Betawi berasal dari percampuran berbagai macam etnis yang menghuni Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Memang benar bahwa sampai abad ke-18 jumlah budak di dalam kota Batavia lebih banyak daripada jumlah penduduk bebas. Namun jika kita mengalihkan perhatian ke wilayah di luar tembok kota (Ommelanden) akan didapat gambaran yang berbeda. Jumlah penduduk Ommelanden jauh lebih besar daripada penduduk dalam kota. Di wilayah Ommelanden persentase jumlah budak tidak pernah melampaui 30% dari total populasi. Dengan demikian argumen Castles yang menyatakan bahwa budak sebagai unsur utama yang membentuk etnis Betawi tidaklah akurat.

(lebih…)

Gordon Ramsay di Ngarai Sianok

Awal tahun ini, salah seorang maestro kuliner dunia : Gordon Ramsay, datang berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya kali ini untuk membuat konten pada televisi internasional, National Geographic. Pada acara yang berjudul “Uncharted” itu, Gordon mengeksplorasi budaya makan di Sumatera Barat. Memang Sumatera Barat memiliki khasanah kuliner yang cukup lengkap. Dari adat makannya seperti bajamba, cita rasa masakannya yang penuh bumbu, hingga rendang yang telah mendunia. Karena alasan itulah, William Wongso — sang inisiator kedatangan Gordon ke Indonesia — memilih Sumatera Barat untuk tempat syuting Uncharted. Awal keinginannya mengundang Gordon, karena ia ingin mempopulerkan masakan rendang ke seluruh dunia. Menurutnya, survei CNN telah dua kali menobatkan rendang sebagai masakan terlezat di dunia, namun kita (Indonesia) tak mendapatkan apa-apa.

Karena kegelisahan itulah, William berinisiatif untuk mendatangkan Gordon dalam perjalanannya dari Tasmania ke India Selatan. William bercerita, tim Gordon Ramsay: Uncharted sebelumnya memiliki jadwal syuting di Tasmania. Selanjutnya baru ke India Selatan. Untuk mengisi jeda waktu syuting antara dua tempat tersebut, William mengundang tim Uncharted untuk syuting di Sumatera Barat. “Saya berikan semua data, budaya makan di Sumatera Barat, rendang, dan sebagainya. Lalu dua minggu langsung di-approve. Mereka mulai approve saya itu September terus minggu ketiga Oktober mereka sudah datang. Lalu proses syutingnya baru berlangsung Februari kemarin,” kata William pada acara bincang-bincang di kanal youtube Helmy Yahya.

(lebih…)

Mo Salah Sujud Setelah Mencetak Gol

Mohamed Salah mungkin tak pernah mengira, kalau kehadirannya di Liga Inggris akan memperbaiki citra Islam di Britania. Ya, sejak serangan Al Qaeda ke menara kembar WTC di tahun 2001, citra Islam di negara tersebut memang agak sedikit tercoreng. Banyak masyarakat disana yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan. Persepsi itu semakin terbangun karena banyaknya imigran muslim yang melakukan tindakan kriminal. Kekesalan warga Inggris semakin menjadi-jadi ketika terjadi bom bunuh diri di London pada tahun 2005 lalu. Seperti diketahui serangan itu dilakukan oleh sekelompok imigran muslim keturunan Pakistan.

Namun sejak kehadiran Mo Salah di lapangan hijau, Islam yang sebelumnya dicitrakan buruk perlahan-lahan mulai terkikis. Selebrasi Salah berupa sujud setelah mencetak gol, memberikan kesan kepada warga Inggris mengenai pentingnya bersyukur kepada pencipta. Padahal dua dekade lalu, selebrasi semacam itu sering diolok-olok orang. Bahkan legenda Inggris Gary Lineker menjulukinya sebagai “eat grass celebration”. Merujuk pada gaya sang pemain yang seperti sedang memakan rumput. Meski Mo Salah bukan pemain muslim pertama di Liga Inggris, namun hingga saat ini ia boleh dibilang sebagai pemain muslim tersukses di Premier League. Pembawaannya yang tenang baik di dalam maupun di luar lapangan, menjadikannya diterima oleh sebagian besar masyarakat Inggris.

(lebih…)

Setelah bercerita mengenai pengalaman mencicipi kuliner Minang di Jakarta, selanjutnya kami akan mengajak Anda untuk mendedah restoran Padang pilihan yang telah melegenda di ibu kota. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi tempat perpaduan (melting pot) seluruh budaya Nusantara. Tak heran kalau disini kita bisa menjumpai resto-resto terbaik se-Indonesia, termasuk rumah makan Padang. Berdasarkan data Iwapin (Ikatan Warung Padang Indonesia), saat ini ada sekitar 20.000 rumah makan Padang di Jabodetabek. Dari yang sebanyak itu, tak lebih dari dua puluh yang bisa diketegorikan sebagai “the legend”. Menilai resto-resto mana saja yang telah melegenda, memang gampang-gampang susah. Untuk itu kami mengandalkan penilaian masyarakat berdasarkan ulasan pada Google dan Tripadvisor. Serta pengamatan dan pengalaman penulis ketika mengunjungi resto-resto tersebut.

Langsung saja. Saya akan memulainya dengan Restoran Roda. Bagi Anda generasi milenial, mungkin tak pernah menjumpai rumah makan yang satu ini. Resto ini terletak di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Pada dasawarsa 1970-1980-an, rumah makan ini cukup ternama. Bahkan salah satu dari sedikit restoran berkelas di ibu kota. Dulu Roda juga sering dijadikan tempat shooting film. Kalau Anda penasaran dengan restoran ini, coba tonton film “Samson Anak Betawi” yang diperankan Benyamin Sueb dan Mansur Syah. Disitu ada adegan dimana sang promotor sedang mentraktir Samson makan. Pada masa itu Roda boleh jadi merupakan trade mark masakan Minang. Entah mengapa akhirnya rumah makan yang didirikan oleh Haji Hashuda asal Kapau, Bukittinggi itu bangkrut. Dan kemudian tutup.

(lebih…)


Mesjid Istiqlal Disemprot Disinfektan Virus

Pandemi virus Covid-19 (Corona) sudah semakin mengkhawatirkan. Virus yang bermula di Wuhan, China pada akhir tahun lalu itu kini telah tersebar ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Berdasarkan data pada hari Kamis, 19 Maret 2020, sudah ada 309 kasus, dimana 25 diantaranya meninggal dunia dan 15 dinyatakan sembuh. Jika ditelisik berdasarkan wilayah, penderita terbanyak berada di propinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat dan Banten. Karena kasus ini terus mewabah, maka seruan lockdown terdengar dimana-mana. Di media sosial banyak para pakar kesehatan (atau yang mendadak menjadi pakar) menghimbau pemerintah untuk menghentikan seluruh aktivitas masyarakat. Argumen mereka agar virus ini tidak semakin menyebar yang bisa berakibat jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Menyikapi perkembangan ini, Presiden Joko Widodo menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial (social distancing), seperti tidak melakukan aktivitas di keramaian. Selain itu Jokowi juga meminta warga untuk tak berpergian ke wilayah/negara yang sedang terjangkit Corona. Di beberapa daerah, kondisi ini telah memaksa sebagian gubernur dan walikota untuk menerapkan program bekerja dari rumah (work from home). Mereka juga menutup pusat-pusat keramaian, seperti tempat wisata, dan meliburkan anak-anak sekolah. Tak hanya pimpinan daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI)-pun juga mengeluarkan fatwa yang membatasi kegiatan di mesjid. Fatwa tertanggal 16 Maret 2020 itu antara lain membolehkan umat Islam untuk mengganti sholat Jumat dengan sholat zuhur di rumah masing-masing. Pernyataan lengkap MUI itu berbunyi : “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan sholat Jumat dan menggantikannya dengan sholat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah sholat lima waktu/rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.”

(lebih…)