Archive for the ‘Sosial Budaya’ Category


Gordon Ramsay di Ngarai Sianok

Awal tahun ini, salah seorang maestro kuliner dunia : Gordon Ramsay, datang berkunjung ke Indonesia. Kedatangannya kali ini untuk membuat konten pada televisi internasional, National Geographic. Pada acara yang berjudul “Uncharted” itu, Gordon mengeksplorasi budaya makan di Sumatera Barat. Memang Sumatera Barat memiliki khasanah kuliner yang cukup lengkap. Dari adat makannya seperti bajamba, cita rasa masakannya yang penuh bumbu, hingga rendang yang telah mendunia. Karena alasan itulah, William Wongso — sang inisiator kedatangan Gordon ke Indonesia — memilih Sumatera Barat untuk tempat syuting Uncharted. Awal keinginannya mengundang Gordon, karena ia ingin mempopulerkan masakan rendang ke seluruh dunia. Menurutnya, survei CNN telah dua kali menobatkan rendang sebagai masakan terlezat di dunia, namun kita (Indonesia) tak mendapatkan apa-apa.

Karena kegelisahan itulah, William berinisiatif untuk mendatangkan Gordon dalam perjalanannya dari Tasmania ke India Selatan. William bercerita, tim Gordon Ramsay: Uncharted sebelumnya memiliki jadwal syuting di Tasmania. Selanjutnya baru ke India Selatan. Untuk mengisi jeda waktu syuting antara dua tempat tersebut, William mengundang tim Uncharted untuk syuting di Sumatera Barat. “Saya berikan semua data, budaya makan di Sumatera Barat, rendang, dan sebagainya. Lalu dua minggu langsung di-approve. Mereka mulai approve saya itu September terus minggu ketiga Oktober mereka sudah datang. Lalu proses syutingnya baru berlangsung Februari kemarin,” kata William pada acara bincang-bincang di kanal youtube Helmy Yahya.

(lebih…)

Mo Salah Sujud Setelah Mencetak Gol

Mohamed Salah mungkin tak pernah mengira, kalau kehadirannya di Liga Inggris akan memperbaiki citra Islam di Britania. Ya, sejak serangan Al Qaeda ke menara kembar WTC di tahun 2001, citra Islam di negara tersebut memang agak sedikit tercoreng. Banyak masyarakat disana yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan. Persepsi itu semakin terbangun karena banyaknya imigran muslim yang melakukan tindakan kriminal. Kekesalan warga Inggris semakin menjadi-jadi ketika terjadi bom bunuh diri di London pada tahun 2005 lalu. Seperti diketahui serangan itu dilakukan oleh sekelompok imigran muslim keturunan Pakistan.

Namun sejak kehadiran Mo Salah di lapangan hijau, Islam yang sebelumnya dicitrakan buruk perlahan-lahan mulai terkikis. Selebrasi Salah berupa sujud setelah mencetak gol, memberikan kesan kepada warga Inggris mengenai pentingnya bersyukur kepada pencipta. Padahal dua dekade lalu, selebrasi semacam itu sering diolok-olok orang. Bahkan legenda Inggris Gary Lineker menjulukinya sebagai “eat grass celebration”. Merujuk pada gaya sang pemain yang seperti sedang memakan rumput. Meski Mo Salah bukan pemain muslim pertama di Liga Inggris, namun hingga saat ini ia boleh dibilang sebagai pemain muslim tersukses di Premier League. Pembawaannya yang tenang baik di dalam maupun di luar lapangan, menjadikannya diterima oleh sebagian besar masyarakat Inggris.

(lebih…)

Setelah bercerita mengenai pengalaman mencicipi kuliner Minang di Jakarta, selanjutnya kami akan mengajak Anda untuk mendedah restoran Padang pilihan yang telah melegenda di ibu kota. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi tempat perpaduan (melting pot) seluruh budaya Nusantara. Tak heran kalau disini kita bisa menjumpai resto-resto terbaik se-Indonesia, termasuk rumah makan Padang. Berdasarkan data Iwapin (Ikatan Warung Padang Indonesia), saat ini ada sekitar 20.000 rumah makan Padang di Jabodetabek. Dari yang sebanyak itu, tak lebih dari dua puluh yang bisa diketegorikan sebagai “the legend”. Menilai resto-resto mana saja yang telah melegenda, memang gampang-gampang susah. Untuk itu kami mengandalkan penilaian masyarakat berdasarkan ulasan pada Google dan Tripadvisor. Serta pengamatan dan pengalaman penulis ketika mengunjungi resto-resto tersebut.

Langsung saja. Saya akan memulainya dengan Restoran Roda. Bagi Anda generasi milenial, mungkin tak pernah menjumpai rumah makan yang satu ini. Resto ini terletak di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Pada dasawarsa 1970-1980-an, rumah makan ini cukup ternama. Bahkan salah satu dari sedikit restoran berkelas di ibu kota. Dulu Roda juga sering dijadikan tempat shooting film. Kalau Anda penasaran dengan restoran ini, coba tonton film “Samson Anak Betawi” yang diperankan Benyamin Sueb dan Mansur Syah. Disitu ada adegan dimana sang promotor sedang mentraktir Samson makan. Pada masa itu Roda boleh jadi merupakan trade mark masakan Minang. Entah mengapa akhirnya rumah makan yang didirikan oleh Haji Hashuda asal Kapau, Bukittinggi itu bangkrut. Dan kemudian tutup.

(lebih…)


Mesjid Istiqlal Disemprot Disinfektan Virus

Pandemi virus Covid-19 (Corona) sudah semakin mengkhawatirkan. Virus yang bermula di Wuhan, China pada akhir tahun lalu itu kini telah tersebar ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Berdasarkan data pada hari Kamis, 19 Maret 2020, sudah ada 309 kasus, dimana 25 diantaranya meninggal dunia dan 15 dinyatakan sembuh. Jika ditelisik berdasarkan wilayah, penderita terbanyak berada di propinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat dan Banten. Karena kasus ini terus mewabah, maka seruan lockdown terdengar dimana-mana. Di media sosial banyak para pakar kesehatan (atau yang mendadak menjadi pakar) menghimbau pemerintah untuk menghentikan seluruh aktivitas masyarakat. Argumen mereka agar virus ini tidak semakin menyebar yang bisa berakibat jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Menyikapi perkembangan ini, Presiden Joko Widodo menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial (social distancing), seperti tidak melakukan aktivitas di keramaian. Selain itu Jokowi juga meminta warga untuk tak berpergian ke wilayah/negara yang sedang terjangkit Corona. Di beberapa daerah, kondisi ini telah memaksa sebagian gubernur dan walikota untuk menerapkan program bekerja dari rumah (work from home). Mereka juga menutup pusat-pusat keramaian, seperti tempat wisata, dan meliburkan anak-anak sekolah. Tak hanya pimpinan daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI)-pun juga mengeluarkan fatwa yang membatasi kegiatan di mesjid. Fatwa tertanggal 16 Maret 2020 itu antara lain membolehkan umat Islam untuk mengganti sholat Jumat dengan sholat zuhur di rumah masing-masing. Pernyataan lengkap MUI itu berbunyi : “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan sholat Jumat dan menggantikannya dengan sholat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah sholat lima waktu/rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.”

(lebih…)


Tahun ini tepat 100 tahun Bahasa Inggris diakui sebagai bahasa internasional. Adalah Perjanjian Versailles yang menjadi titik balik diakuinya Bahasa Inggris sebagai lingua franca. Sebelumnya, bahasa diplomasi yang digunakan oleh masyarakat internasional adalah Bahasa Perancis. Namun ketika perjanjian perdamaian Perang Dunia I itu disusun, Perdana Menteri Amerika Serikat Woodrow Wilson mensyaratkan agar perjanjian juga dibuat dalam Bahasa Inggris. Wilson beralasan kongres Amerika harus menyetujui isi perjanjian tersebut, dan mereka hanya mengerti dalam Bahasa Inggris. Lucunya, meski Inggris menjadi salah satu dari empat negara pemenang perang — bersama Amerika, Perancis, dan Italia, Perdana Menteri Inggris David Lloyd George tak memaksa penggunaan Bahasa Inggris dalam kesepakatan itu.

Penandatanganan Perjanjian Versailles boleh dibilang agak canggung. Karena ini untuk kali pertama Amerika turut terlibat dalam urusan negara-negara Eropa. Perancis yang ketika itu memiliki bargaining politik cukup besar, harus mau mengalah mengikuti keinginan Amerika. Tak hanya dalam penentuan batas negara, Bahasa Inggris — yang digunakan oleh mayoritas orang Amerika — juga mulai disejajarkan dengan Bahasa Perancis. Konon untuk menghambat naiknya popularitas Bahasa Inggris, Perdana Menteri Perancis Clemenceau juga menawarkan agar Bahasa Italia juga dipakai dalam perjanjian. Namun entah mengapa akhirnya hanya dua bahasa saja yang digunakan, yaitu Perancis dan Inggris. Keterlibatan Amerika dalam percaturan politik benua biru ternyata tak cuma sampai disini. Setelah Perang Dunia I, negara Paman Sam mulai sering tampil dalam urusan militer dan ekonomi negara-negara Eropa. Banyak perjanjian dagang, hukum, dan aturan-aturan militer yang kemudian ditulis dalam Bahasa Inggris.

(lebih…)


Perkembangan industri musik di Indonesia, tentu tak lepas dari berkembangnya industri musik di berbagai daerah. Salah satu daerah yang cukup menggeliat adalah Sumatera Barat. Majalah Tempo dalam laporannya yang berjudul “Geliat Rekaman Pop Minang” mencatat, bahwa ada lebih dari 26 produser di ranah Minang, yang hampir seluruhnya memiliki studio rekaman sendiri. Sebagian besar studio-studio tersebut berada di Kota Padang dan Bukittinggi. Selain digunakan oleh perusahaan rekaman Sumatera Barat, studio-studio ini juga disewakan kepada produser asal Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Mereka memilih rekaman di Padang, karena dinilai lebih murah tenimbang di Jakarta. Tak hanya artis-artis Sumatera, penyanyi ibu kota seperti Obbie Mesakh dan Edi Silitonga-pun juga pernah merekam albumnya disini.

Dibandingkan dengan daerah lain – diluar Jakarta tentunya — industri musik di ranah Minang boleh dibilang paling kondusif. Selain banyaknya produser yang mau mengorbitkan seniman-seniman lokal, talenta musik yang lahir dari bumi Minang-pun juga tak putus-putus. Mulai dari Orkes Gumarang, Kumbang Tjari, hingga penyanyi seperti Oslan Husein, Tiar Ramon, Elly Kasim, Zalmon, Ajo Andre, Ratu Sikumbang, Rayola, Ipank, sampai si Upiak Isil. Selain penyanyi, pencipta lagu dan aransmen musik-pun juga banyak bermunculan. Beberapa penyanyi malah ada yang multi-talenta, menjadi vokalis sekaligus pembuat syair dan aransmen. Faktor lainnya yang membuat industri musik di Minangkabau tetap bergairah karena pasarnya yang cukup massif. Terutama para perantau yang tersebar di kota-kota besar di seantero Indonesia, Malaysia, hingga Australia.

(lebih…)


upi-jaya

Restoran Padang Upi Jaya di Elmhurst, New York

Jika dibandingkan dengan restoran Thailand ataupun Vietnam, jumlah restoran Indonesia di luar negeri tak terlampau banyak. Padahal dari segi populasi ataupun jumlah diaspora, Indonesia jauh di atas dua negara tersebut. Berdasarkan catatan Tempo.co, ada sekitar 8 juta orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Kebanyakan dari mereka bekerja di sektor pertambangan, konstruksi, ataupun pekerja domestik. Sedikit sekali yang terjun ke bisnis kuliner apalagi sampai membuka rumah makan. Dari yang sedikit itu, kaum Minangkabau merupakan satu diantara puak Indonesia di luar negeri yang banyak menekuni bisnis tersebut. Hal ini ditandai dengan hadirnya restoran Padang yang tersebar di beberapa kota mancanegara. Meski belum sebanyak restoran Thailand ataupun Vietnam, namun bolehlah untuk sekedar menunjukan eksistensi kalau masakan Indonesia juga bisa go internasional.

 

* * *

Di Malaysia, hampir di setiap kota utama negara tersebut kita akan menjumpai restoran khas Minangkabau. Terlebih di Kuala Lumpur, tempat dimana sekitar 200 ribu keturunan Minangkabau bermukim. Disini Anda tak kan sulit menemukan orang yang menjajakan nasi Padang. Bahkan kehadirannya di ibu kota Malaysia itu, perlahan tapi pasti mulai menggantikan restoran Mamak yang menyajikan nasi Kandar. Maklum, keduanya memiliki cita rasa yang hampir sama, nasi campur dengan lauk-pauk spicy bergelimang santan. Entah sejak kapan orang Minang berbisnis rumah makan di kota itu. Mungkin pada akhir abad ke-19, ketika banyak diantara mereka yang pergi merantau untuk mengelak penjajahan Belanda. Kini restoran Padang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuala Lumpur. Mereka mulai familiar dengan aneka menu seperti ayam pop, dendeng batokok, atau gulai gajebo. Di Kuala Lumpur dan sekitarnya, Anda bisa menemui puluhan kedai makan ala Minangkabau. Ada yang menjadi cabang jaringan restoran di Indonesia, ada pula yang dikelola oleh masyarakat setempat. Beberapa restoran Padang yang cukup ternama antara lain : Seri Garuda Emas, Grand Garuda Baru, dan Puti Bungsu. Tak ketinggalan jaringan Restoran Sari Ratu yang telah membuka cabangnya di Jalan Tuanku Abdul Rahman, Jalan Tun Razak, Bukit Bintang, serta kota-kota satelit di seputaran Kuala Lumpur.

(lebih…)


OA_N.indd

Setelah menengok kiprah orang Arab di Semenanjung Malaya dan Singapura, selanjutnya kita akan melihat sepak terjang mereka di Indonesia. Di negeri ini, sebelum kedatangan orang Eropa, hampir keseluruhan masyarakat Arab-Hadhrami tinggal di pusat-pusat kerajaan Islam. Mayoritas mereka bermukim di Kutaraja, Siak, Palembang, Demak, Yogyakarta, Surakarta, Pontianak, dan Ternate. Di tempat-tempat tersebut banyak diantara mereka yang menjadi kadi, ulama, penasehat raja, dan kemudian menikah dengan kerabat keluarga sultan.

Semasa era penjajahan Belanda, banyak dari pendatang Arab yang bermukim di kota-kota perdagangan, seperti Jakarta dan Surabaya. Oleh pemerintahan Hindia-Belanda pergerakan mereka sering kali dibatasi. Mereka dipaksa untuk tinggal di kampung-kampung khusus, dan harus membuat kartu pas ketika berpergian. Mengenai motif kedatangan mereka, L. W. C. van den Berg — salah seorang orientalis Belanda di abad 19 — dalam karyanya “Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien” mengungkapkan, bahwa perantauan mereka ke Indonesia terutama disebabkan oleh faktor ekonomi, bukan misi penyebaran agama. Lebih lanjut Azyumardi Azra menegaskan, kalaupun ada diantara mereka yang memegang posisi keagamaan sebagai imam, itupun hanyalah untuk mengejar imbalan keuangan yang tidak bermotifkan agama.

(lebih…)


Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Kaum Arab-Hadhrami merupakan salah satu kelompok etnis yang cukup berpengaruh di Nusantara. Mereka diperkirakan telah tiba di negeri ini dalam kelompok-kelompok kecil sejak abad ke-13. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berhijrahnya mereka dari Hadhramaut ke Nusantara. Antara lain ialah adanya kesempatan berdagang serta peluang menjadi kadi dan guru agama di kesultanan-kesultanan Melayu. Disamping itu kondisi politik Yaman yang sering mengalami instabilitas, juga menjadi pendorong perginya mereka ke seberang lautan. Yang menarik, meski jumlah kaum Hadhrami di Nusantara relatif kecil, namun mereka telah banyak melahirkan para cendekiawan, negarawan, dan pebisnis yang tergolong sukses.

Dibanding golongan “Timur Asing” lainnya, pada masa kolonial kaum Arab-Hadhrami adalah kelompok yang paling cepat membaur dengan para penduduk lokal. Bukan hanya karena mereka beragama Islam — agama yang dianut oleh mayoritas “pribumi”, namun juga karena mereka menolak menjadi kaki tangan kaum kolonial. Meski adapula satu-dua yang bekerja untuk Belanda, tetapi kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang yang anti terhadap kekuasaan Hindia-Belanda. Pada masa revolusi fisik, banyak diantara mereka yang ikut berjuang mengusir penjajahan Belanda di Indonesia.

(lebih…)


Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda

Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda

Di Indonesia Timur, etnis Bugis, Makassar, dan Buton dikenal sebagai kelompok masyarakat yang banyak melahirkan pengusaha tangguh. Mereka tak hanya mengisi pasar-pasar di Sulawesi, namun juga di Kalimantan, Maluku, dan Papua. Menurut catatan sejarah, migrasi orang-orang Makassar ke seberang lautan terjadi setelah berlangsungnya Perjanjian Bongaya di tahun 1667. Tak lama kemudian masyarakat Bugis yang tak puas dengan kondisi politik di Sulawesi Selatan mengikuti jejak saudaranya untuk pergi merantau. Sedangkan etnis Buton yang berasal dari Sulawesi Tenggara, baru melakukan migrasi secara besar-besaran setelah masa kemerdekaan. Sehingga di perantauan populasi dan pencapaian mereka tak terlampau mencolok. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berpindahnya kelompok etnis dari Sulawesi bagian selatan ini ke wilayah-wilayah lainnya di Indonesia Timur. Namun dari semua faktor itu, yang terpenting ialah besarnya peluang ekonomi, terutama di bidang perdagangan. Oleh karenanya di beberapa tempat dan pada waktu tertentu, dalam perebutan kue ekonomi itu sering terjadi pergesekan antara masyarakat lokal dengan ketiga etnis tersebut.

Dalam beberapa hal, masyarakat Bugis-Makassar dan Buton bisa disamakan dengan kelompok Arab, Tionghoa, dan Minangkabau, yang banyak mencari peluang di Indonesia Timur untuk mengembangkan jaringan dagang mereka. Etnis-etnis tersebut bertolak belakang dengan motif migrasi orang Jawa, Minahasa, dan Batak, yang pergi ke Indonesia Timur karena penempatan sebagai pegawai atau ikut program transmigrasi. Karena corak dagang inilah, maka kelompok Bugis-Makassar dan Buton cukup menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia Timur. Dalam kajian ini, penyebutan Bugis-Makassar juga termasuk di dalamnya kelompok-kelompok lain di Sulawesi Selatan, seperti etnis Luwu dan Massenrempulu, yang juga banyak tersebar di perantauan Indonesia Timur.

(lebih…)