Archive for the ‘Politik’ Category

Pertumbuhan ekonomi China yang mengesankan dalam dua dekade terakhir, telah mengundang decak kagum berbagai kalangan. Dari pimpinan negara, para pelaku usaha, hingga akademisi, banyak yang melontarkan kalau negara tirai bambu itu akan menjadi adikuasa yang bisa mengimbangi hegemoni Amerika. Namun tak sedikit pula yang pesimis dengan perkiraan tersebut, diantaranya Marc Champion dan Adrian Leung. Dalam artikelnya yang berjudul “Does China Have What It Takes to Be a Superpower?” mereka menyatakan bahwa dari berbagai pertimbangan, nampak kalau China masih tertinggal dari Amerika. Malah pada beberapa aspek, China berada jauh dibelakang beberapa negara maju. Untuk melihat sejauh mana potensi China dan posisinya saat ini, kita akan membedah satu per satu faktor-faktor yang menjadi acuan suatu negara bisa dikatakan sebagai “adikuasa”.

Alice Lyman Miller, mantan analis CIA sekaligus sarjana China di Hoover Institution Universitas Stanford mendefinisikan apa yang disebut dengan negara adikuasa. Menurutnya, negara adikuasa adalah negara yang memiliki kapasitas untuk memproyeksikan kekuatan dan pengaruhnya di berbagai belahan dunia dalam waktu yang bersamaan. Dalam beberapa contoh, negara adikuasa pernah diperankan oleh Turki Utsmani (abad ke-16 dan 17), Spanyol (abad ke-17), Inggris (abad ke-19), Uni Sovyet (abad ke-20), serta Amerika Serikat (sejak akhir Perang Dunia Kedua).

(lebih…)

Iklan
Arab McDonalds (sumber : thewvsr.com)

Arab McDonalds (sumber : thewvsr.com)

Lagi-lagi masa depan Amerika serta pengaruh dan kekuasaannya di kancah global kembali diperbincangkan. Hal ini mengemuka setelah beberapa negara calon super power mengalami perlambatan ekonomi sejak tahun 2013 lalu. Isu melemahnya pengaruh dan kekuasaan Amerika, sebenarnya sudah menjadi perbincangan hangat sejak dasawarsa 1980-an. Bahkan Josep S. Nye, sempat mengulas hal ini dalam bukunya yang berjudul “Bound to Lead : The Changing Nature of American Power”. Buku ini terbit pada tahun 1990, ketika kontribusi Produk Nasional Bruto (PNB) Amerika terhadap dunia mengalami penurunan cukup tajam : dari 32,7% (1985) menjadi 25,5% (1990). Pada saat itu, di Eropa juga baru saja terjadi reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur, serta runtuhnya Blok Timur pimpinan Uni Sovyet.

Meski Amerika keluar sebagai pemenang Perang Dingin dan menjadi negara adidaya, namun kekhawatiran akan memudarnya pengaruh mereka di gelanggang internasional cukuplah menggema. Pada tahun 1989, separuh dari rakyat Amerika mengira bahwa negara mereka sedang mengalami kemunduran. Hanya satu dari lima orang Amerika yang percaya bahwa negara itu menjadi pemuncak kekuatan ekonomi dunia, meskipun PNB Amerika saat itu adalah yang terbesar. Di bidang militer, mereka juga mencemaskan kemampuan nuklir serta kekuatan tentara konvensional, terlebih jika dibandingkan dengan Uni Sovyet. Saking takutnya mereka kehilangan kekuasaan, banyak buku dan artikel yang terbit di tahun 1980-an mengulas sejarah kemunduran bangsa-bangsa.

(lebih…)

Kabinet Kerja Jokowi-JK (sumber : vibiznews.com)

Kabinet Kerja Jokowi-JK (sumber : vibiznews.com)

Hari Minggu, 26 Oktober 2014 lalu, akhirnya Jokowi dan Jusuf Kalla mengumumkan para pembantunya yang duduk di kursi kabinet. Ada 30 kementerian serta 4 menteri koordinator (Menko) yang akan menjalankan roda pemerintahan Republik Indonesia lima tahun ke depan. Yang menarik pada penyusunan kabinet kali ini, Jokowi memanfaatkan jasa KPK dan PPATK untuk ikut mengecek kelayakan calon menteri. Dua lembaga tersebut dimintakan informasinya terkait indikasi korupsi yang sewaktu-waktu bisa menjerat para pembantu presiden. Cara seperti ini dianggap cukup efektif, mengingat banyak sekali kepentingan politik yang merintangi Jokowi-JK dalam mememilih menteri-menterinya. Terutama calon menteri dari partai politik, presiden tak sepenuhnya tahu, apakah calon yang disodorkan para ketua parpol benar-benar bersih. Dari informasi KPK inilah, akhirnya Jokowi mencoret 8 calon menteri yang berpotensi tersangkut kasus korupsi.

Meski Jokowi sudah menggunakan tangan KPK untuk mencoret nama-nama yang dianggap kotor. Namun masih saja ada menteri yang “berstabilo merah”, melenggang masuk ke dalam kabinet. Salah satu nama yang sering disebut-sebut ialah Rini Soemarno. Ia diindikasikan terlibat kasus korupsi BLBI dan pembelian pesawat Sukhoi. Namun karena kedekatannya dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, nama Rini tetap bercokol sebagai Meneg BUMN. Kedekatan Rini dengan Megawati inilah yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, akan kembalinya era dimana perusahaan-perusahaan BUMN berada di bawah intervensi politik. Kita tahu pada masa Orde Baru hingga era kepemimpinan Mega, BUMN-BUMN selalu menjadi sapi perah partai politik.

(lebih…)

Pidato kemenangan Jokowi di Tugu Proklamasi, Jakarta

Pidato Kemenangan Jokowi di Tugu Proklamasi, Jakarta

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan

Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Begitulah tiga bait lirik lagu Manusia Setengah Dewa ciptaan musisi legendaris Iwan Fals. Lagu yang dirilis pada tahun 2004 itu, kemarin (9/7) kembali dinyanyikan oleh banyak orang. Apalagi kalau bukan untuk menyambut kedatangan pemimpin baru Indonesia : Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Meski pengumuman resmi dari KPU masih terus dinantikan, namun beberapa lembaga survei kredibel yang melakukan proses hitung cepat, telah menyatakan pasangan ini menang dengan selisih 4%-6% suara. Angka ini tak berbeda jauh dari hasil jajak pendapat sebelum pemungutan suara yang menyatakan kemenangan tipis untuk pasangan Jokowi-JK.

Setelah mengetahui hasil sebagian hitung cepat yang memenangkan politisi PDI-P itu, tim sukses Jokowi-JK langsung menuju Tugu Proklamasi di Jakarta Pusat. Disana Jokowi telah dinanti oleh ribuan simpatisannya yang ingin mendengarkan pidato kemenangannya. Dalam pidato singkat tersebut, mantan walikota Surakarta itu menyatakan bahwa kemenangan yang diraihnya adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Bukan kemenangan Jokowi-JK, bukan kemenangan partai, dan bukan kemenangan tim sukses. Jokowi menambahkan, bahwa pada Pilpres kali ini masyarakat memilih karena kesadaran mereka, bukan karena dimobilisasi apalagi dengan diiming-imingi janji dan posisi. Lebih lanjut Jokowi menyampaikan, bahwa kemenangannya ini merupakan awal pengabdian kepada rakyat, pelayanan kepentingan rakyat, dan menggerakkan seluruh komponen untuk meraih kesejahteraan dan keadilan.

 

Pemimpin yang Melayani Rakyat
(lebih…)

Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Buat sebagian orang, tahun ini mungkin tak akan mudah dilupakan. Banyak kisah, banyak cerita yang bisa dikenang, terutama terkait dengan isu politik dan Pilpres 2014. Bagi mereka yang lahir pada masa Orde Baru, mungkin ini untuk kali keduanya merasakan gegap gempita atmosfer politik di tanah air. Sejak Reformasi, agaknya baru tahun inilah sebagian besar masyarakat kita kembali berpolitik praktis. Tidak seperti tahun 1998-99, dimana banyak orang yang turun ke jalan, kali ini mereka bisa melakukannya lewat media sosial. Ada yang berkicau melalui Twitter, meng-update status via Facebook, atau menyampaikan opini dan sanggahan di Kompasiana. Itulah alasannya mengapa dalam dua bulan terakhir ini saya rajin mantengin Facebook dan Kompasiana. Mungkin dengan cara inilah, sambil beraktivitas rutin, saya bisa merasakan suasana batin rakyat Indonesia dalam menyambut Pilpres 2014.

Dari media-media tersebut, saya bisa melihat opini masyarakat yang berseliweran. Ada opini positif yang mencerahkan, namun tak sedikit pula yang melewati batas-batas keadaban. Dari komentar yang masuk silih berganti, ada satu orang kawan yang tiap sebentar mem-bully Prabowo. Isunya bermacam-macam, dari persoalan HAM hingga perceraiannya dengan Titiek Soeharto. Teman saya yang lain, tak segan-segan mengirimkan berita-berita miring tentang Jokowi. Meski informasi tersebut tak jelas darimana sumbernya, namun tetap saja ia dengan giat menyebarkannya. Prinsip mereka, selama berita itu menyudutkan lawan, maka mereka tak kan peduli dengan kebenaran isi berita tersebut. Yang penting uweh-uweh-nya sudah terpuaskan.

(lebih…)

Hasil Survei Capres 2014 versi Kompas (sumber : kompas.com)

Hasil Survei Capres 2014 versi Kompas (sumber : kompas.com)

Pendulum politik 2014 mulai menghangat. Beberapa lembaga survei seolah-olah berebut untuk menayangkan hasil riset mereka yang terkini. Dari sekian nama calon presiden, tercelak nama Joko Widodo (Jokowi). Gubernur Jakarta yang baru menjabat setahun terakhir. Namanya tak hanya melampaui pimpinannya : Megawati, namun juga telah menyalip Prabowo Subianto, jenderal yang digadang-gadang bakal menggantikan SBY di tahun 2014 nanti. Dari hasil survei LSI sepanjang bulan Oktober 2013, tercatat nama Jokowi berada di urutan pertama dengan tingkat dukungan sekitar 38,3%; diikuti oleh Prabowo Subianto (11,1%) dan Wiranto (10%). Melihat hasil survei tersebut, tentu ada pihak yang merasa senang dan ada yang tak senang. Selain para pesaing Jokowi, beberapa politisi yang tak puas antara lain Ruhut Sitompul dan Amien Rais. Kalau Ruhut, tak perlulah kita perbincangkan disini. Sepak terjangnya yang tak lebih dari seorang “tukang pukul”, tak kan pernah menggegerkan jagat politik tanah air.

Nah, yang menarik adalah sikap Amien Rais. Kita tahu, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu merupakan penggagas Poros Tengah. Ketika itu dalam Sidang Umum MPR 1999, Amien dan politisi partai Islam lainnya berhasil mendudukkan Abdurrahman Wahid di kursi kepresidenan. Langkah tersebut sekaligus mendepak Megawati yang akhirnya harus puas menerima posisi wakil presiden. Kegigihan Amien untuk menempatkan mantan ketua NU itu sebagai presiden, sebagai bentuk ketidaksenangannya terhadap para kapitalis asing dan konglomerat non-pri yang berada di belakang kubu Megawati. Ketakutannya yang lain adalah banyaknya politisi-politisi “anti-Islam” yang menjadi penyokong putri Bung Karno itu. Amien memperkirakan, jika Megawati naik, maka “orang-orang Islam” dan segala kepentingannya akan tersingkir. Sebaliknya, para kapitalis asing, konglomerat non-pri, dan politisi “anti-Islam” akan semakin berkibar. Walaupun prasangka Amien tak sepenuhnya benar – terbukti ketika Megawati menjabat sebagai presiden periode 2001-2004, namun nampaknya prasangka ini kembali ia tiupkan kepada Jokowi.

(lebih…)

Heboh-heboh WikiLeaks di penghujung tahun 2010 ini, menjadi fenomena bagi zaman kebebasan. Sebagian orang berpendapat, kemunculan WikiLeaks merupakan bentuk dari radikalisme kebebasan. Sebagian lagi menilai, ini merupakan kebebasan yang sejati. Seperti halnya Lehman Brothers dan skema ponzinya Madoff, WikiLeaks merupakan produk dari liberalisme.

Sejarah telah mencatat, sejak satu abad lampau Amerika dan konco-konconya di Eropa, merupakan promotor terpenting dari program demokratisasi dan liberalisasi ke seluruh dunia. Tidak ada satupun negara yang alpa dan absen dari mega-proyek tersebut. Tak terkecuali negara-negara komunis dan kerajaan-kerajaan yang tertutup. Dalam proyek ini Barat meminta (bahkan memaksa) negara-negara lain, agar melakukan transparansi dan kebebasan. Satu abad berlalu, dunia benar-benar menjalankan kebebasan itu : liberalisasi ekonomi, liberalisasi informasi, dan liberalisasi agama.

(lebih…)