Liem dan Soeharto

Setelah membaca awal perkenalan Liem dengan Soeharto, selanjutnya pada fase kedua tulisan ini kita akan melihat tahap-tahap perjalanan Liem dalam membangun imperium bisnisnya. Pada fase akhir tulisan ini, saya juga akan mencuplik merosotnya dominasi Salim pasca kejatuhan Soeharto, serta kehidupan senja sang taipan. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita melihat suatu kejadian yang ditulis pada Bab 7. Dalam sub-bab yang berjudul “Kejadian yang Mengerikan di Rumah”, diceritakan tentang tragedi yang terjadi di rumah Liem pada bulan Juni 1966. Ketika itu Liem sedang pergi ke Singapura, menjadi anggota delegasi tak resmi Soeharto yang ingin mengakhiri politik konfrontasi yang ditempuh pendahulunya. Liem menuturkan kejadian tersebut: “Suatu sore sekitar pukul 16.30, seorang laki-laki berseragam marinir datang ke rumah mencari saya. Istri saya menyangka dia datang untuk minta uang, dan mempersilahkannya masuk. Tante (istri Liem) memberi tahu kalau saya sedang di Singapura. Lalu Tante masuk ke kamar untuk mengambil uang dan orang itu mengikutinya. Tetapi langkah orang itu terhalang oleh engsel pintu kasa yang rusak. Tante mendengar suara pintu dan membalikkan badan, dia tertegun melihat laki-laki itu memegang senjata api. Tante berteriak : “Jangan Pak!” Orang itu menembak dua kali, satu tembakan kena lengan Tante, satunya lagi kena perut. Tampaknya peluru itu meleset mengenai jantung dan menembus punggungnya. Benar-benar suatu kemujuran, kalau tidak Tante pasti sudah meninggal. Seandainya saya di rumah, saya pasti sudah dibunuh.” Ini untuk kedua kalinya Liem selamat dari maut, setelah sebelumnya di tahun 1949 ia juga selamat dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua penumpang yang semobil dengannya.

Pada bab ini kita juga bisa menengok sosok Anthony Salim, putra ketiga Liem, yang menyelesaikan pendidikan tingginya di Inggris. Dengan bekalnya itu, Anthony banyak memberikan ide-ide bisnis yang tak terpikirkan oleh ayahnya. Liem pernah mengatakan, bahwa anak laki-laki termudanya itu bijaksana melebihi umurnya. Dan Anthony menunjukkan kualitas itu dengan tidak berusaha tampil lebih bersinar dari ayahnya atau merebut sesuatu darinya. Bahkan setelah bertahun-tahun duduk di balik kemudi, Anthony terus menyampaikan laporan singkat kepada ayahnya tentang semua aspek rencana-rencana bisnis. Seperti ayahnya, Anthony paham cara kerja sistem patronase licik Orde Baru. Dan ia sadar betul bahwa patronase politik yang dinikmati ayahnya terbatas masa hidupnya. Sejak akhir 1970-an, dia sudah meyakinkan ayahnya tentang pentingnya berinvestasi di luar negeri dan mendorong Salim Group untuk mengeksplorasi peluang di luar Indonesia. Seiring tahun berlalu, Anthony membuat banyak kesalahan, sebagaimana yang terus terang diakuinya. Dia memberi satu contoh, kesalahan besar bisnis pertamanya adalah ketika mengimpor semen dari Korea Utara.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Puas! Mungkin begitu ungkapan yang tepat setelah saya membaca buku Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto karya Richard Borsuk dan Nancy Chng. Buku ini sebenarnya sudah saya selesaikan setahun lepas, namun baru bisa meresensikannya sekarang. Buku terbitan ISEAS-Yusof Ishak Institute (2014) itu bercerita tentang kehidupan orang terkaya di Indonesia pada zaman Orde Baru : Liem Sioe Liong. Dari masa kecilnya di Fuqing, merantau ke Kudus kemudian Jakarta, hingga berpindah dan wafat di Singapura. Karena Liem adalah cukong utama Soeharto, kisahnya juga memberikan gambaran tentang bagaimana presiden kedua itu bisa bertahan di puncak kekuasaan selama tiga dekade. Meski tergolong ilmiah, namun buku ini enak dibaca. Mengalir seperti kisah-kisah pada cerita fiksi. Terlebih sang penulis bisa menempatkan dirinya secara independen, sehingga karya ini cukup objektif. Buku ini juga bisa membantu Anda untuk menilai bagaimana sosok Liem yang sebenarnya, yang sejak era Reformasi terlanjur dicitrakan negatif. Lebih jauh buku ini juga memberikan wawasan kepada kita bagaimana Soeharto melakukan praktik kroniisme. Praktik yang sedikit banyaknya masih berlangsung hingga hari ini.

Proyek tentang Liem Sioe Liong dan Salim Group ini dikerjakan dengan melakukan penelitian di sejumlah kota dimana Liem pernah menjejakkan kakinya. Selain berkunjung ke Jakarta, Singapura, Kudus, Semarang, Hongkong, dan Fuqing, Borsuk dan Chng juga memperoleh informasi dari sumber-sumber primer. Mereka mewawancarai sejumlah orang dekat Liem, dari mantan rekan bisnisnya Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad, Benny Santoso (Direktur Eksekutif Salim Group), serta anggota keluarganya yang ada di Tiongkok, Indonesia, dan Singapura. Menurut penulis, buku ini tak kan hadir tanpa bantuan Anthony Salim, putra Liem yang kemudian melanjutkan bisnis ayahnya di Indonesia. Buku ini terbagi ke dalam 22 bagian, yang masing-masing terdiri dari 20-40 halaman. Saya akan mengutip beberapa bagian yang dianggap penting, sebagai pertimbangan Anda sebelum membeli buku setebal 592 halaman itu.

Baca entri selengkapnya »

Perkembangan industri musik di Indonesia, tentu tak lepas dari berkembangnya industri musik di berbagai daerah. Salah satu daerah yang cukup menggeliat adalah Sumatera Barat. Majalah Tempo dalam laporannya yang berjudul “Geliat Rekaman Pop Minang” mencatat, bahwa ada lebih dari 26 produser di ranah Minang, yang hampir seluruhnya memiliki studio rekaman sendiri. Sebagian besar studio-studio tersebut berada di Kota Padang dan Bukittinggi. Selain digunakan oleh perusahaan rekaman Sumatera Barat, studio-studio ini juga disewakan kepada produser asal Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Mereka memilih rekaman di Padang, karena dinilai lebih murah tenimbang di Jakarta. Tak hanya artis-artis Sumatera, penyanyi ibu kota seperti Obbie Mesakh dan Edi Silitonga-pun juga pernah merekam albumnya disini.

Dibandingkan dengan daerah lain – diluar Jakarta tentunya — industri musik di ranah Minang boleh dibilang paling kondusif. Selain banyaknya produser yang mau mengorbitkan seniman-seniman lokal, talenta musik yang lahir dari bumi Minang-pun juga tak putus-putus. Mulai dari Orkes Gumarang, Kumbang Tjari, hingga penyanyi seperti Oslan Husein, Tiar Ramon, Elly Kasim, Zalmon, Ajo Andre, Ratu Sikumbang, Rayola, Ipank, sampai si Upiak Isil. Selain penyanyi, pencipta lagu dan aransmen musik-pun juga banyak bermunculan. Beberapa penyanyi malah ada yang multi-talenta, menjadi vokalis sekaligus pembuat syair dan aransmen. Faktor lainnya yang membuat industri musik di Minangkabau tetap bergairah karena pasarnya yang cukup massif. Terutama para perantau yang tersebar di kota-kota besar di seantero Indonesia, Malaysia, hingga Australia.

Baca entri selengkapnya »

Siapa yang tak kenal Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah sekaligus pendiri Maarif Institute. Dalam satu tahun terakhir, namanya sering menjadi sorotan publik. Dia sering menjadi rujukan awak media, terutama terkait kasus penodaan Al Quran oleh Basuki Tjahaja Purnama. Dalam isu tersebut, dia (terkesan) berpihak kepada Basuki alias Ahok. Ia mengatakan bahwa pernyataan mantan gubernur DKI Jakarta itu bukan sebuah bentuk penodaan terhadap Al Quran. Lebih jauh Syafii berpendapat bahwa Ahok hanya mengkritisi orang-orang yang menggunakan Surat Al Maidah untuk kepentingan politik. Tak ayal pendapatnya itu langsung mendapatkan kritikan, bahkan caci maki dari sebagian umat muslim. Beberapa organisasi serta partai Islam, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah pihak-pihak yang paling keras mengkritik beliau. Para cyber army mereka tak henti-hentinya mencibir Syafii, mempelintir pernyataannya, memfitnah dengan aneka meme yang menyudutkan. Bahkan dalam beberapa komentar yang saya baca, mereka tega menuduh Syafii telah menerima bayaran dari para taipan untuk berpihak kepada Ahok.

Selain dari kader PKS dan FPI, kritikan juga datang dari kalangan Muhammadiyah. Tak ketinggalan ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia. Mendapat serangan dari berbagai pihak, Syafii tak ambil pusing. Menurut Abdul Mu’ti yang sekarang menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Buya — begitu ia disapa — memang sudah terbiasa dikritik. Menerima kritik dari organisasi yang pernah dipimpinnya, ia santai saja. Pada tanggal 2 Desember 2016, ketika demonstrasi menentang Ahok kembali digelar, ia menulis opini di Koran Tempo. Pada kolom tersebut ia menyebut, “jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam tindakan Basuki Tjahaja Purnama pada 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas.” Syafii menambahkan, “biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu. Sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini”.

Baca entri selengkapnya »

Kalau Amerika punya Jack Welch atau Thomas W. Horton yang berhasil membalikkan kondisi perusahaan dari yang hampir bangkrut jadi menguntungkan, maka Indonesia juga memiliki Chief Executife Officer (CEO) terbaik yang sukses melakukan turn around perusahaan-perusahaan sekarat menjadi perusahaan hebat. Nah, dalam artikel kali ini, kita akan mengulik siapa-siapa saja diantara mereka yang layak disebut sebagai CEO terbaik, yang berhasil membalikkan keadaan perusahaan dari kondisi merugi jadi menguntungkan. Selain itu, kami juga mencatat ada beberapa eksekutif yang berhasil mengubah lanskap bisnis dengan memberikan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat luas.

Memang gampang-gampang susah mencari the best CEO dari sekian ribu pemimpin perusahaan di Indonesia. Oleh karenanya kami hanya memfokuskan diri pada perusahaan besar yang memiliki pengaruh terhadap perekonomian nasional. Mungkin artikel ini terlalu singkat untuk menggambarkan seberapa besar keberhasilan mereka. Namun setidaknya, deskripsi ini akan memperlihatkan kepada kita bahwa jika perusahaan-perusahaan besar dipimpin oleh orang yang tepat, akan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya.

Baca entri selengkapnya »

Trans Studio Mall

Dalam dua seri tulisan sebelumnya, kami telah menampilkan daftar produk-produk branded yang hadir di Jakarta dan Surabaya. Namun rasanya kurang lengkap, jika membicarakan produk-produk berkelas tanpa menyertakan Bandung serta Medan. Ya, dua kota ini belakangan juga mulai dilirik oleh para pengelola merek-merek ternama, sebagai kota yang memiliki prospek cukup besar. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah-atas yang terbilang tinggi, juga mendorong para pengelola merek untuk melakukan penetrasi. Untuk itu, dalam tulisan kali ini kami hendak menampilkan daftar gerai produk-produk branded di kedua kota tersebut. Sengaja keduanya kami sandingkan, untuk melihat sejauh mana mereka mampu menarik brand-brand terkenal, sehingga layak ditasbihkan sebagai pusat fesyen ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Disamping itu, kedua kota ini juga memiliki pendapatan per kapita yang setara, yakni sekitar USD 7.000 (2016), sehingga apple to apple jika diperbandingkan.

Kemunculan kelas middle-up yang cukup massif, serta dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan representatif, merupakan faktor penting yang menjadikan house-house terkenal mau menancapkan kukunya disini. Bandung, yang dalam beberapa tahun terakhir muncul sebagai pusat industri kreatif tanah air, sudah memiliki empat mal yang banyak diisi oleh barang-barang “branded”. Mereka adalah Trans Studio Mal (TSM), Paris Van Java (PVJ), Cihampelas Walk (CW), serta Paskal 23 (PK). Tak mau kalah dari kota kembang, Medan juga mempunyai empat pusat perbelanjaan papan atas, yakni Sun Plaza (SP), Centre Point (CP), Plaza Medan Fair (PMF), dan Thamrin Plaza (TP). Dalam hal produk-produk mewah, Bandung bisa dibilang jauh lebih unggul. Saat ini kota tersebut telah didatangi oleh sembilan luxury stores, diantaranya Bally, Furla, Hugo Boss, dan Salvatore Ferragamo. Sedangkan di Medan, belum satupun dari merek tersebut yang menancapkan kukunya disini. Begitu pula untuk high street fashion brand, kota berpenduduk 2,4 jiwa itu juga selangkah lebih maju. Disini merek-merek populer seperti Zara, H&M, Marks & Spencer, dan Uniqlo, telah membuka gerainya jauh lebih banyak tenimbang di Medan.

Masih mengandalkan situs web pusat-pusat perbelanjaan tersebut serta forum skyscrapercity.com, direktori ini terbagi menjadi tujuh kategori, yakni Merek-merek Mewah, Fesyen dan Aksesoris, Perhiasan & Jam Tangan, Kecantikan & Kesehatan, Multi Brand, Gaya Hidup, dan Merek Indonesia.

Baca entri selengkapnya »

Pusat Perawatan Kereta Cepat di Wuhan (sumber : CBC)

Pada dasawarsa 1980-an, China bukanlah siapa-siapa. Negara dengan penduduk lebih dari satu miliar itu sering diolok-olok sebagai “si sakit dari Asia”. Bagaimana tidak, pada saat itu hampir separuh rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Tingkat melek huruf hanya sebesar 65% dengan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5,3% – 5,5%. Tak cuma itu, dalam hal penguasaan teknologi, China sangat jauh tertinggal. Padahal tahun 1300-an, sebelum bangsa Barat mengenal senjata api, para prajurit China sudah menggunakan bubuk mesiu dalam berperang. Mereka juga telah memakai senapan ringan untuk menangkal invasi Mongol, dan menggunakan kompas dalam pelayaran ke Timur Tengah.

Meski sempat menjadi negara sakit sejak pertengahan abad ke-19, agaknya kejayaan China tujuh abad lalu bakal terulang kembali. Salah satu indikatornya adalah penguasaan teknologi kereta cepat. Sebelumnya, hanya empat negara yang memonopoli teknologi yang cukup revolusioner ini. Mereka adalah Jepang, Prancis, Jerman, dan Spanyol. Meski Jepang banyak memberikan terobosan dalam pengembangan kereta cepat, namun perlu diketahui bahwa teknologi kereta api pertama kali berkembang di Inggris.

Baca entri selengkapnya »