Adegan Winter Sonata di Nami Island

Dalam satu dasawarsa terakhir, drama Korea (K-Drama) boleh dibilang telah memikat banyak ibu-ibu dan anak gadis di perkotaan. Daya pikatnya bahkan telah menggeser telenovela atau dorama Jepang yang akhir-akhir ini hilang dari peredaran. Kalau Anda punya karib kerabat perempuan, tanyakanlah kepada mereka jalan cerita Descendants of the Sun ataupun Goblin. Bisa dipastikan satu dari empat diantara mereka akan dengan antusias menceritakannya kepada Anda. Tak cuma serial drama, lagu-lagu pop Korea-pun (K-Pop) juga digandrungi masyarakat Indonesia. Bahkan saat konser Super Junior dua tahun lalu, banyak orang yang kabarnya tak kebagian tiket. Padahal harga karcis mereka tergolong mahal. Tak hanya di negeri ini, musik pop Korea ternyata juga melanda Jepang, China, bahkan hingga Amerika Latin.

Di Jepang, fenomena K-Pop dan K-Drama sempat mengguncang industri kreatif negara tersebut. Maklum, sejak tahun 1970-an Jepang menjadi pemain utama industri hiburan di Asia. Mungkin Anda masih ingat sukses besar manga-manga Jepang di pasaran internasional. Dimana komik-komik mereka seperti Dragon Ball, Kung Fu Boy, Topeng Kaca, atau Crayon Sinchan, menjadi bacaan “wajib” anak-anak muda di seluruh dunia. Belum lagi dorama-dorama mereka, seperti Oshin atau Tokyo Love Story, yang menyihir jutaan penonton di banyak negara. Konon pada masa jayanya, Oshin sempat diputar di 82 negara dan menjadi salah satu serial yang ditunggu-tunggu. Namun sejak awal milenium baru, popularitas dorama mulai menurun. Hal ini diawali dengan munculnya Meteor Garden, drama Taiwan yang dibintangi F-4 (2001), yang diikuti oleh Winter Sonata (2002). Sejak saat itu serial-serial Jepang yang biasanya memikat para gadis dan “mamah-mamah muda”, mulai kehilangan tajinya.

Baca entri selengkapnya »

Iklan
upi-jaya

Restoran Padang Upi Jaya di Elmhurst, New York

Jika dibandingkan dengan restoran Thailand ataupun Vietnam, jumlah restoran Indonesia di luar negeri tak terlampau banyak. Padahal dari segi populasi ataupun jumlah diaspora, Indonesia jauh di atas dua negara tersebut. Berdasarkan catatan Tempo.co, ada sekitar 8 juta orang Indonesia yang bermukim di luar negeri. Kebanyakan dari mereka bekerja di sektor pertambangan, konstruksi, ataupun pekerja domestik. Sedikit sekali yang terjun ke bisnis kuliner apalagi sampai membuka rumah makan. Dari yang sedikit itu, kaum Minangkabau merupakan satu diantara puak Indonesia di luar negeri yang banyak menekuni bisnis tersebut. Hal ini ditandai dengan hadirnya restoran Padang yang tersebar di beberapa kota mancanegara. Meski belum sebanyak restoran Thailand ataupun Vietnam, namun bolehlah untuk sekedar menunjukan eksistensi kalau masakan Indonesia juga bisa go internasional.

 

* * *

Di Malaysia, hampir di setiap kota utama negara tersebut kita akan menjumpai restoran khas Minangkabau. Terlebih di Kuala Lumpur, tempat dimana sekitar 200 ribu keturunan Minangkabau bermukim. Disini Anda tak kan sulit menemukan orang yang menjajakan Nasi Padang. Bahkan kehadirannya di ibu kota Malaysia itu, perlahan tapi pasti mulai menggantikan restoran Mamak yang menyajikan Nasi Kandar. Maklum, keduanya memiliki cita rasa yang hampir sama, nasi campur dengan lauk-pauk spicy bergelimang santan. Entah sejak kapan orang Minang berbisnis rumah makan di kota itu. Mungkin pada akhir abad ke-19, ketika banyak diantara mereka yang pergi merantau untuk mengelak penjajahan Belanda. Kini restoran Padang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuala Lumpur. Mereka mulai familiar dengan aneka menu seperti ayam pop, dendeng batokok, atau gulai gajebo. Di Kuala Lumpur dan sekitarnya, Anda bisa menemui puluhan kedai makan ala Minangkabau. Ada yang menjadi cabang jaringan restoran di Indonesia, ada pula yang dikelola oleh masyarakat setempat. Beberapa restoran Padang yang cukup ternama antara lain : Seri Garuda Emas, Grand Garuda Baru, dan Puti Bungsu. Tak ketinggalan jaringan Restoran Sari Ratu yang telah membuka cabangnya di Jalan Tuanku Abdul Rahman, Jalan Tun Razak, Bukit Bintang, serta kota-kota satelit di seputaran Kuala Lumpur.

Baca entri selengkapnya »

fo-summarecon-bekasi

Sebagai salah satu kawasan urban yang terus bertumbuh, Bekasi berpotensi melampaui kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Bandung ataupun Surabaya. Meski dalam hal jumlah penduduk antara Bekasi dengan dua kota tersebut tak terlampau jauh, namun dalam hal manajemen birokrasi dan pengelolaan kota, Bekasi jauh tertinggal. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengakui, dalam hal kebersihan dan pengelolaan lingkungan, Bekasi jauh tertinggal dari Surabaya. Hal ini disampaikannya kepada wartawan setelah ia melakukan kunjungan kerja ke “Kota Pahlawan” beberapa bulan lalu. Dalam pertemuan itu, ia juga menyampaikan niatnya untuk membenahi trotoar dan membangun seribu taman di Bekasi.

Tak sampai setahun berselang, Rahmat memenuhi janjinya. Memang belum semuanya rampung ia kerjakan. Namun setidaknya Bekasi nampak lebih hijau dan jalan-jalan protokolnya memiliki trotoar yang representatif. Jalan Chairil Anwar dan Jalan K.H. Noer Alie, dua ruas jalan yang menyisir tepian Kalimalang itu, kini telah memiliki trotoar yang diterangi lampu-lampu taman di malam hari. Tak hanya itu, di beberapa titik terdapat pula taman kecil yang menyediakan bangku beton, dimana dari tempat itu para pelintas bisa memandangi riak air Kalimalang. Jalan Ahmad Yani tak kalah bersolek. Pedestrian di sisi barat ruas jalan itu juga ikut bersalin rupa. Bangku-bangku taman dan lampu-lampu, dipasang untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat kota. Meski pohon-pohon rindang belum banyak ditanam, namun setidaknya tumbuh-tumbuhan di median jalan telah memberikan kesejukan bagi pejalan kaki. Yang menarik dari pembenahan ini adalah pembuatan marka berukuran besar yang bertuliskan : “Kota Bekasi”. Marka ini dihiasi lampu-lampu sorot di setiap hurufnya, sehingga mengundang para warga untuk berfoto ria.

Baca entri selengkapnya »

gdp-ppp-2016

GDP (PPP) Indonesia tahun 2016 berada diurutan ke-8

Bagi sebagian ekonom, tingkat kemakmuran suatu bangsa biasanya diukur dari seberapa besar pendapatan/pengeluaran masyarakatnya. Dalam hal ini, untuk mendapatkan angka tersebut, yang paling mudah dilihat adalah seberapa besar produk domestik bruto per kapita suatu negara (PDB per kapita/GDP per capita). Jika ditinjau dari PDB per kapita, berdasarkan data IMF tahun 2016, pendapatan masyarakat Indonesia diperkirakan sebesar USD 3.620. Jika dibandingkan dengan negara sekitar, angka ini masih jauh di bawah Malaysia (USD 12.127) dan China (USD 8.239), namun berada di atas Filipina (USD 3.073) serta India (USD 1.820). Meski angka ini sering menjadi acuan, namun sebenarnya jumlah tersebut tak menunjukkan pendapatan secara riil.

Untuk melihat pendapatan masyarakat yang sebenarnya, saat ini ekonom menggunakan metode berdasarkan kemampuan daya beli dalam satuan internasional (dalam hal ini USD), atau yang dikenal dengan purchasing power parity. Mengapa menggunakan metode ini? Karena jika diukur secara nominal (seperti angka-angka di atas), maka tingkat kemakmuran suatu masyarakat tak bisa dibandingkan secara apple to apple. Misalnya, untuk memperoleh seporsi Nasi Padang di Indonesia, kita hanya merogoh kocek sebesar USD 1,5. Sedangkan di Malaysia untuk porsi yang sama, kita harus membayarnya hingga mencapai USD 3. Dari contoh tersebut, bisa diartikan bahwa secara nominal daya beli USD 1,5 di Indonesia, setara dengan USD 3 di Malaysia. Artinya, jika Anda memiliki USD 1,5 di Indonesia, maka di Malaysia bernilai USD 3.

Baca entri selengkapnya »

Kostum F.C. Barcelona di Qatar Airways

Kostum F.C. Barcelona di Qatar Airways

Sejak tahun 2010, Qatar muncul sebagai negeri termakmur di dunia. Keberhasilan Qatar sebagai negeri terkaya, tentu mengundang decak kagum sekaligus tanda tanya bagi kita. Bagaimana negeri liliput di Teluk Persia itu, bisa menggerakan roda ekonominya? Padahal 50 tahun lalu, negeri itu hanyalah perkampungan nelayan yang tak begitu berarti. Dari data IMF pada tahun 2015, pendapatan per kapita (purchasing power parity) masyarakat Qatar mencapai USD 145.894. Dengan populasi sebanyak 2,5 juta jiwa — dimana hanya 13%-nya yang menjadi warga negara, Qatar merupakan satu-satunya negara di dunia yang tak berpenduduk miskin. Menurut The Economist, sekitar 14% rumah tangga disini tergolong sebagai miliuner. Meski sangat kaya, namun pemerataan pendapatan di negeri ini relatif senjang (koefisien Gini sebesar 41,1). Hal ini dikarenakan adanya penguasaan kekayaan pada segelintir orang, khususnya anggota keluarga kerajaan.

Dalam empat dekade terakhir, sektor pertambangan memang menjadi sumber utama perekonomian negara. Dari data yang dirilis International Business Publications (IBP), lebih dari 70% penerimaan pemerintah dan 60% PDB Qatar berasal dari minyak bumi dan LNG (gas alam cair). Dengan cadangan minyak mencapai 15 miliar barel dan gas alam lebih dari 7.000 km³, bisa dipastikan dalam 23 tahun ke depan Qatar tetap mengandalkan sumber daya alam sebagai penopang ekonominya. Untuk mengeksplorasi cadangan minyak bumi yang begitu besar, Qatar punya BUMN yang dikelola secara profesional : Qatar Petroleum (QP). Menurut Bloomberg, saat ini QP merupakan produsen gas alam cair terbesar di dunia.

Baca entri selengkapnya »

achmad-zaky

Achmad Zaky, pendiri Bukalapak (sumber : techno.id)

Tahukah Anda berapa nilai (valuasi) Kaskus saat ini? Ya Kaskus – bukan Kasus apalagi Kakus – forum dimana saya, Anda, dan kita semua bisa saling chit chat, minta “cendol” atau sekedar ngelempar “bata”. Menurut catatan The Economist, nilai Kaskus per Juli 2014 lalu telah mencapai USD 80 juta. Saat ini, mungkin valuasi perusahaan yang didirikan oleh Andrew Darwis itu sudah melebihi USD 100 juta. Meski terlihat fantastis, namun itu belum seberapa! Tahukah Anda Go-Jek, perusahaan yang menyediakan jasa transportasi dan pengiriman barang/makanan. Ya, perusahaan ini baru saja memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta (setara Rp 7,2 triliun) dari konsorsium global : Warburg Pincus dan Farallon Capital. Dengan tambahan tersebut, maka per Agustus 2016 kemarin, valuasi start-up besutan Nadiem Makarin itu telah mencapai USD 1,3 miliar atau sekitar Rp 16,9 triliun. Jauh di atas kapitalisasi pasar Bank CIMB Niaga atau Global Mediacom di Bursa Efek Indonesia.

Kalau melihat angka-angka di atas, mungkin Anda akan bertanya-tanya : apa yang membuat para investor mau menggelontorkan dananya sebanyak itu? Jawabannya tentu karena tingginya ekspektasi mereka terhadap perusahaan tersebut. Kalau dilihat dari laporan keuangannya, sampai saat ini Go-Jek masihlah merugi. Kaskus sendiri yang sudah eksis sejak 17 tahun lalu, hanya membukukan pendapatan tak lebih dari Rp 100 miliar. Namun jika dilihat dari jumlah yang telah men-download aplikasi Go-Jek, yakni sebanyak 20 juta kali, maka tergambar bahwa perusahaan ini memiliki prospek cukup baik. Dengan jumlah pengunduh sebesar itu, artinya Go-Jek memiliki basis pelanggan yang cukup besar. Menurut catatan KompasTekno, pada bulan Juni 2016 tercatat ada 20 juta order yang masuk ke dalam aplikasi tersebut. Andai saja Go-Jek mengenakan service charge Rp 2.000 untuk setiap jasa yang diberikan, maka potensi pendapatan per bulan bisa mencapai Rp 40 miliar atau Rp 480 miliar per tahun.

Baca entri selengkapnya »

hamkas-great-story

Bagi Anda yang demen sosok Buya Hamka, baru-baru ini (Agustus 2016) telah terbit buku yang berjudul : Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia. Buku ini boleh dibilang salah satu karya terbaik tentang Hamka : sosok legendaris yang banyak mempengaruhi kaum cerdik cendekia muslim Indonesia – dan juga dunia Melayu. Ditulis oleh James Robert Rush, seorang sejarawan Asia Tenggara asal Amerika Serikat, buku ini terbagi ke dalam enam bab setebal 287 halaman. Mungkin banyak orang yang tak tahu siapa James Robert Rush. Namanya memang tak semengkilap Denys Lombard, George Mc T. Kahin, atau M.C. Ricklefs. Namun tak sedikit karyanya mengenai Indonesia yang telah dipublikasikan. Diantaranya, Java: A Travellers’ Anthology dan Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860–1910. Selain biografi Hamka, Rush juga telah menulis riwayat hidup Pramoedya Ananta Toer dan Abdurrahman Wahid. Tapi keduanya hanya dalam bentuk esai.

Kajian tentang Hamka, memang telah menarik banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri. Mereka mengulitinya dari berbagai aspek. Baik itu novel-novelnya, seperti : “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Tuan Direktur”, atau “Merantau ke Deli”; pandangannya tentang keislaman, ataupun gagasannya tentang keindonesiaan. Dan yang menarik, hampir sebagian besar para peneliti itu, menempatkan Hamka sebagai tokoh besar. Tak berlebihan jika puji-pujian terhadap dirinya bertebaran dimana-mana. Menurut Rush, nama Hamka ada di banyak karya. Jika Anda membaca sejarah Islam Indonesia ataupun sejarah perjuangan Republik Indonesia, maka hampir bisa dipastikan Anda akan menemukan Hamka sebagai sumber referensinya. Rush menulis : “In another sense, however, Hamka has been ubiquitous. He has been a source in countless works of modern Indonesia history, …”

Baca entri selengkapnya »