Keberadaan orang-orang Indonesia di negeri Belanda, agaknya jarang terekspos oleh media-media internasional. Tidak seperti halnya orang Turki di Jerman, masyarakat India-Pakistan di Inggris, atau kelompok Afrika Utara di Prancis; orang-orang Indonesia di Belanda tak pernah menjadi news maker. Berbeda dengan kelompok-kelompok tersebut yang acap kali diberitakan sebagai pelaku teroris, keturunan Indonesia di Eropa tak satupun yang terlibat dalam aksi tersebut. Boleh jadi inilah sebabnya mereka tak banyak mendapat sorotan. Padahal secara persentase, jumlah mereka di negeri kincir angin cukuplah besar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Peter Post, ada sekitar 1,5 juta-2 juta masyarakat keturunan Indonesia di Belanda. Meski banyak juga yang berpendapat kalau jumlah mereka tak lebih dari 400.000 jiwa atau sekitar 2,5% populasi Belanda.

Meski keberadaan orang-orang Indonesia dalam jumlah besar belum mencapai satu abad, namun pengaruh bangsa kita dalam kultur Belanda cukuplah besar. Sebut saja misalnya dari segi bahasa. Banyak sekali kosakata Bahasa Belanda yang diserap dari Bahasa Indonesia/Melayu. Selain itu untuk aspek makanan, tak sedikit kuliner asli Indonesia yang menjadi menu handalan disana. The rijsttafel, prasmanan yang terdiri dari satu set makanan Indonesia, masih menjadi hidangan favorit di negeri tanah rendah. Satu lagi budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah festival pasar malam. Salah satu festival pasar malam — dan yang terbesar — di Belanda adalah Tong Tong Fair, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1959.

Baca entri selengkapnya »

Setelah era penerbangan murah berakhir, banyak pengusaha otobus yang optimis kalau industri ini kembali menggeliat. Namun setelah Covid-19 menyerang, harapan tersebut kembali sirna. Pembatasan sosial dalam skala besar, telah menggerus omzet perusahaan otobus hingga mencapai 70%. Malah adapula perusahaan yang sampai menjual asetnya untuk menutupi biaya operasional. Menengok fakta tersebut, Kurnia Lesani Adnan, pemilik perusahaan otobus (PO) Siliwangi Antar Nusa (SAN) sekaligus Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), berinisiatif untuk menyemangati kembali industri otobus yang sedang terpuruk. Lewat channel Youtube-nya : PerpalZ TV, Sani mengunjungi beberapa stakeholder, khususnya para pelaku usaha otobus. Setelah menemui para pengusaha di Pulau Jawa, di pertengahan Maret lalu tim PerpalZ TV melakukan tur ke Sumatera. Tak tanggung-tanggung, kegiatan roadshow selama 20 hari itu dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Melihat roadshow “PerpalZ TV Goes To Sumatera”, me-recall ingatan saya terhadap PO-PO di Sumatera. Maklum dulu saya gemar mengamati perkembangan beberapa PO di Jawa dan Sumatera. Nah, dalam kesempatan kali ini, kami akan mengajak Anda untuk melihat sepak terjang PO-PO di Sumatera, serta mengulik sejarah jalur lintas Sumatera. Disamping itu, kita juga akan sedikit mengulas perubahan model bisnis pada beberapa PO, setelah dioperasikannya Tol Trans-Sumatera. Yang tak kalah menarik, kami juga akan menyajikan PO-PO legendaris yang masih bertahan hingga saat ini.

Baca entri selengkapnya »

AHY dan Moeldoko (sumber : beritasatu.com)

Darmizal, salah seorang politisi Partai Demokrat, menangis tersedu-sedu saat konferensi pers pasca-Kongres Luar Biasa (KLB) partainya. Dalam pidatonya, ia menyesal telah membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi ketua umum Demokrat pada tahun 2015 lalu. Ia tak menyangka setelah SBY memimpin partai ini akan lahir rezim diktator, dimana SBY melanggengkan politik dinasti dengan memberikan karpet merah kepada putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk melanjutkan kepemimpinan partai. Senada dengan Darmizal, Marzuki Alie, mantan ketua DPR sekaligus politisi senior Partai Demokrat mengatakan, diselenggarakannya KLB ini akibat tersumbatnya suara para kader dan adanya kesewenang-wenangan pengurus partai di bawah pimpinan AHY. Oleh karenanya KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang tanggal 5 Maret lalu itu, dirancang untuk melengserkan AHY. Sebagaimana yang kita ketahui, kongres itu kemudian memilih secara aklamasi Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, sebagai ketua umum Demokrat yang baru.

Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada pengesahan atau pembatalan dari pemerintah terkait hasil KLB tersebut. Namun kasak-kusuk serta behind the story dibalik penyelenggaraan KLB itu sangat menarik untuk disimak. Salah satunya adalah pernyataan Gatot Nurmantyo yang pernah ditawari oleh para inisiator KLB untuk menggantikan posisi AHY. Namun kemudian Gatot menolak dengan alasan ewuh pakewuh. Selain itu yang juga perlu dicermati adalah sebelum AHY naik menjadi ketua umum, ternyata elit partai inipun sudah diisi oleh keluarga-keluarga Yudhoyono. Hadi Utomo, yang merupakan ipar SBY, pernah menjadi ketua umum Demokrat periode 2005-2010. Edhi Baskoro Yudhoyono, putra kedua SBY, juga sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal partai. Dan kini, Ibas – begitu ia akrab disapa, menduduki posisi ketua fraksi Demokrat di MPR. Tak salah jika banyak orang yang berpandangan, bahwa KLB kemarin adalah perlawanan kader Demokrat terhadap Dinasti Cikeas yang selama ini seperti menjadi pemilik partai.

Baca entri selengkapnya »

Di masa pandemi sekarang ini, banyak orang yang cuma fokus pada kesehatan fisik, sehinga mengabaikan – atau tak menyadari – kemungkinan adanya ancaman pada kesehatan mental. Bagi sebagian orang, yang selama ini bisa bergerak secara leluasa, baik untuk bekerja, bersosialisasi, ataupun berpergian, dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), secara tak langsung bisa menyebabkan terjadinya depresi. Terlebih bagi sang ayah yang merupakan tulang punggung keluarga, dengan pandemi ini mungkin saja ia akan mengalami tekanan karena tak bisa memenuhi kebutuhan keluarga secara paripurna. Saat ini banyak karyawan yang karena kantornya terdampak kebijakan PSBB, sehingga gajinya-pun dipotong. Bahkan yang cukup menyedihkan, tak sedikit diantara mereka yang terkena PHK. Begitu pula dengan si ibu. Karena harus membimbing anak belajar daring di rumah, ia juga terpaksa ikut memahami materi yang disampaikan para guru. Terlebih dengan pola belajar online sekarang ini, banyak anak yang tak fokus dan terdistraksi dengan lingkungan sekitar. Anak-anak-pun juga begitu. Mereka yang biasanya bisa bebas bersosialisasi dengan teman-temannya, terpaksa dilarang keluar karena takut terkena Covid-19. Ini semua bisa berpotensi terjadinya gangguan mental pada keluarga. Nah, dalam tulisan kali ini, saya akan membagikan beberapa tips mudah menjaga kesehatan mental keluarga di tengah-tengah pandemi.

 

Melakukan proses rekreasi di rumah

Bagi Anda yang senang berpergian atau melakukan aktivitas outdoor, pandemi ini memang menjadi momok. Bagaimana tidak, sebelum pandemi Anda bisa dengan sesuka hati melakukan kemping, memancing, atau sekedar melihat pemandangan alam. Namun sejak pandemi, semuanya jadi terbatas. Tapi untungnya sekarang sudah ada internet, sehingga aktivitas pelancongan yang biasanya menguras banyak energi dan biaya, bisa dilakukan secara virtual. Tur virtual ini ada yang gratis, ada pula yang berbayar. Ada juga penyedia tur yang membuat konten menggunakan aplikasi dan alat virtual reality, seperti Ascape yang populer di YouTube. Meski hanya berjalan-jalan di dunia maya, setidaknya foto-foto pemandangan yang tersaji cukup menyegarkan mata. Atau bagi Anda pecinta buku, maka saat inilah kesempatan buat Anda untuk melahap buku-buku yang pernah dibeli. Sebelum pandemi karena banyaknya aktivitas yang Anda lakukan, mungkin banyak buku yang masih tertumpuk di lemari yang tak sempat Anda baca. Bahkan plastiknya-pun mungkin belum dibuka. Nah di masa pandemi ini, saatnya Anda menyantap buku-buku tersebut. Saya saja sudah membaca beberapa buku dan menuliskan resensinya. Suatu hal yang jarang dilakukan sebelum pandemi. Begitu pula bagi Anda yang senang menjahit, menyulam, atau melukis, dan ada pekerjaan yang belum terselesaikan, maka inilah waktunya buat Anda untuk merampungkan pekerjaan tersebut. Jadi jangan kehabisan akal untuk berkreasi selama masa pandemi.

Baca entri selengkapnya »

Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momentum kesadaran berpolitik sekaligus pembentukan pranata sosial baru di Indonesia. Masyarakat yang selama masa kolonial berada di strata yang kurang menguntungkan, dengan semangat kemerdekaan mencoba peruntungannya untuk membalikkan keadaan. Salah satu kelompok masyarakat yang begitu antusias adalah para kelas petani dan buruh di Sumatera Timur. Mereka yang selama ini dieksploitasi oleh para pemodal dan kaum bangsawan, seperti menemukan titik balik untuk melakukan pembalasan. Dan masa-masa pembalasan yang penuh gejolak itu dikenal dengan Revolusi Sosial 1946. Bagi sebagian orang – khususnya kaum aristokrat Melayu – istilah ini terasa tak mengenakkan. Mereka menganggap ini bukanlah revolusi sosial, melainkan suatu pembantaian dan penyingkiran raja-raja Melayu. Namun menurut kaum republiken, kejadian 75 tahun silam itu memanglah suatu kejadian yang begitu cepat (revolusi), yang mengubah tatanan sosial masyarakat dalam tempo seketika. Para sultan yang pada masa pra-kemerdekaan memiliki kuasa tanpa batas, habis pamornya dan tersingkirkan. Daulat tuanku yang berpuluh-puluh tahun begitu diagungkan, berganti menjadi daulat rakyat hanya dalam tempo hitungan bulan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai pergerakan tersebut, ada baiknya kita menengok keadaan masyarakat Sumatera Timur sebelum masa kemerdekaan. Sejak tahun 1870, Sumatera Timur merupkan kawasan estat perkebunan yang dikuasai oleh para pemodal Eropa. Para pemodal ini bekerjasama dengan para sultan-sultan Melayu yang memberikan konsesi atas tanah di Sumatera Timur. Adalah Jacob Nienhuys, seorang pengusaha Belanda yang pertama kali mengembangkan perkebunan tembakau di Deli. Pada tahun 1869, ia mendirikan perusahaan Deli Maatschappij. Di Bursa Efek Amsterdam perusahaan ini tercatat cukup rajin membagikan dividen kepada para investor. Tentu ini tak lepas dari kinerjanya yang cukup baik, yang bisa menghasilkan keuntungan cukup besar. Dibalik keuntungan yang besar itu, ternyata terdapat kelas pekerja yang nasibnya tak menguntungkan. Mereka adalah para kuli perkebunan yang bekerja dari pagi hingga malam hari, dengan bayaran yang tak seberapa. Selain itu yang juga mengenaskan adalah perlakuan tak manusiawi yang kerap mereka terima. Absennya sistem peradilan di kesultanan Sumatera Timur, menjadikan perusahaan bisa menjatuhkan hukuman langsung kepada para kuli. Keadaan masyarakat di Sumatera Timur yang pincang inilah yang menjadi api pembakar terjadinya revolusi sosial di tahun 1946.

Baca entri selengkapnya »

Pada dekade 1990-an, orang-orang Betawi sempat dibuat geger. Pasalnya seorang peneliti asal Australia, Lance Castles, menyebut kalau etnis Betawi merupakan keturunan para budak. Sontak pernyataan itu mendapat kritikan dari sejumlah budayawan Betawi. Meski karya Castles yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” itu telah terbit sejak tahun 1967, namun hasil penelitiannya baru dibantah tiga dekade kemudian. Adalah Ridwan Saidi, seorang budayawan Betawi yang juga sempat aktif di panggung politik nasional, yang paling getol mengkritik karya Castles tersebut. Menurutnya, teori yang mengatakan kalau orang Betawi keturunan budak adalah orang-orang yang menganut aliran Kali Besar. Mereka meyakini bahwa orang Betawi baru muncul sejak kompeni Belanda menguasai Batavia. Padahal menurut Saidi, orang-orang Betawi sudah ada sejak 3.500 tahun lalu, yang para kakek buyutnya merupakan rakyat Kerajaan Salakanagara.

Karena adanya dua pandangan yang saling bertolak belakang itu, saya jadi tergelitik untuk melihat sejauh mana relevansi karya Castles dan sanggahan Saidi terkait pembentukan kelompok masyarakat Betawi. Disamping masalah itu, kita juga akan melihat gelombang migrasi kelompok etnis lainnya ke Jakarta yang banyak berdatangan pasca-kemerdekaan. Sebenarnya Castles bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang mengajukan teori pembentukan etnis Betawi yang dihubungkan dengan unsur budak. Dalam berbagai karya sejarah tentang masyarakat Jakarta disebutkan bahwa orang Betawi berasal dari percampuran berbagai macam etnis yang menghuni Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Memang benar bahwa sampai abad ke-18 jumlah budak di dalam kota Batavia lebih banyak daripada jumlah penduduk bebas. Namun jika kita mengalihkan perhatian ke wilayah di luar tembok kota (Ommelanden) akan didapat gambaran yang berbeda. Jumlah penduduk Ommelanden jauh lebih besar daripada penduduk dalam kota. Di wilayah Ommelanden persentase jumlah budak tidak pernah melampaui 30% dari total populasi. Dengan demikian argumen Castles yang menyatakan bahwa budak sebagai unsur utama yang membentuk etnis Betawi tidaklah akurat.

Baca entri selengkapnya »

Beberapa hari belakangan ini rencana penggabungan dua perusahaan teknologi Grab dan Gojek kembali mengemuka. Adalah situs berita Bloomberg, yang kembali mengabarkan rencana merger dua raksasa tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul Grab, Gojek Close In on Terms for Merger, dikabarkan bahwa telah terjadi kesepakatan diantara para pemilik modal terkait rencana perkawinan tersebut. Berita ini sontak menjadi buah bibir di kalangan pers dan pemerhati bisnis di tanah air. Kabarnya penggabungan ini juga sebagai bentuk gencatan sejata, setelah mereka berperang selama lebih dari separuh dekade. Bagi pemilik modal, rencana ini tentu untuk memberikan kepastian di masa depan terkait perolehan laba perusahaan. Selama ini publik memang tak pernah tahu, apakah program bakar duit dua perusahaan tersebut telah beroleh hasil. Sebab kalau berdasarkan hitung-hitungan kasar, rasanya mereka belum break even point.

Sebenarnya rencana merger kedua perusahaan itu telah bergulir sejak awal tahun lalu. Namun karena ada pandemi virus Corona, rencana inipun sempat dibatalkan. Isu merger kembali mengemuka, dikarenakan menurunnya valuasi mereka di berbagai negara. Valuasi Grab yang tahun lalu sebesar USD 14 miliar, kini telah diperdagangkan di pasar sekunder dengan diskon mencapai 25%. Begitupula dengan Gojek yang tahun lalu bernilai hampir USD 10 miliar, kini dijual dengan diskon besar-besaran. Kerugian yang timbul akibat pandemi Covid-19, telah menekan dua perusahaan ride-hailing ini untuk melakukan penggabungan. Peleburan ini menurut Tech in Asia, berpotensi akan meningkatkan valuasi keduanya menjadi USD 72 miliar di tahun 2025 nanti.

Baca entri selengkapnya »

Dia boleh dibilang merupakan salah satu dari sedikit orang Indonesia yang konsisten dalam memperjuangkan ide-idenya. Rizal Ramli, tokoh yang terus meneriakkan apa yang dianggapnya benar, baik ketika di pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Dia merupakan seorang pemikir tulen, yang memiliki segudang ide out of the box. Tak jarang ide-idenya itu justru berbenturan dengan sang penguasa. Ketika menjadi menteri di Kabinet Kerja, ia adalah satu-satunya menteri yang terang-terangan mengkritik kinerja pemerintah. Nampak kalau ia tak ingin dikooptasi oleh apapun. Termasuk oleh jabatannya sendiri. Dalam batasan tertentu, ia mirip seperti Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. Tokoh-tokoh pergerakan yang selalu ingin bebas dari belenggu. Ingin merdeka 100%. Karena jiwa yang merdeka itulah, Rizal tak pernah takut mengkritik siapapun. Meski taruhannya akan dicopot dari jabatan, atau masuk bui.

Bagi sebagian orang, kritik Rizal tak lebih hanya sekedar untuk mencari panggung. Terlebih ia memang berambisi untuk menjadi presiden. Ada juga yang bilang, kalau kritiknya itu karena ia sakit hati pernah di-reshuffle. Padahal kalau kita melihat track record-nya, dia sudah berkali-kali mengkritik pemerintah. Pada zaman Orde Baru, ketika ia masih menjadi mahasiswa ITB, bersama beberapa orang aktivis ia menyusun “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978”. Isinya banyak mengkritik kebijakan pemerintah kala itu. Gara-gara buku tersebut, ia ditahan satu setengah tahun di Sukamiskin. Meski buku itu dilarang pemerintah, namun seorang profesor Amerika, Ben Anderson, malah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris. Setelah keluar dari penjara, Rizal jadi tertarik belajar ekonomi. Tanpa menyelesaikan kuliah S1-nya di ITB, ia melanjutkan ke jenjang master di Boston University. Beruntung ia beroleh beasiswa dari Ford Foundation. Setelah lulus S-3 dari Harvard, ternyata jiwa kritisnya tak berubah. Bedanya, ia kini semakin matang dan berbobot. Lewat lembaga ECONIT yang ia dirikan, Rizal acap mengkritik cara pengelolaan ekonomi negara.

Baca entri selengkapnya »

Tiga minggu lalu (5 Oktober), DPR baru saja mensahkan Undang-undang Cipta Kerja. Undang-undang yang merevisi lebih dari 75 undang-undang yang ada sebelumnya itu, dipercaya akan menyatukan berbagai peraturan ketenagakerjaan serta investasi yang cukup beragam. Meski undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan, namun sejumlah elemen buruh menyatakan justru peraturan ini akan mengamputasi hak-hak buruh. Menurut hasil kajian Fakultas Hukum UGM, ada beberapa pasal dalam peraturan ini yang akan merugikan kaum pekerja. Diantaranya pasal mengenai status pekerja. Dalam UU Ketenagakerjaan, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tadinya terbatas paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu satu tahun. Namun di UU Cipta Kerja ini, PKWT menjadi tak dibatasi. Pasal lainnya adalah mengenai penerimaan pesangon. Jumlah pesangon yang diterima pekerja yang sebelumnya sebanyak 32 kali gaji, dipangkas menjadi 25 kali gaji.

Selain kluster ketenagakerjaan, persoalan lainnya yang juga disorot adalah masalah lingkungan hidup. Isu ini tak sampai membesar seperti halnya isu ketenagakerjaan yang diteriakkan oleh para buruh akhir-akhir ini. Namun sejumlah aktivis lingkungan mengatakan, ada risiko tinggi bagi lingkungan dibalik efisiensi investasi dan kemudahan berusaha yang ditawarkan oleh undang-undang tersebut. Kalau kita melihat pasal demi pasal, ada beberapa poin penting mengenai lingkungan yang tak lagi diatur secara tegas. Seperti minimal luas hutan yang harus dipertahankan, serta dihapusnya kalimat “tanpa perlu pembuktian” pada pasal kewajiban pengusaha terhadap kerusakan lingkungan.

Baca entri selengkapnya »

Pada tahun 2012 banyak pencinta seni Indonesia yang menaruh harapan besar terhadap perkembangan film di negeri ini. Sebab pada tahun itu, The Raid menjadi salah satu film box office di Amerika. Selain tampil dalam berbagai festival, film yang disutradarai oleh Gareth Evans tersebut berhasil meraup pendapatan sebesar USD 9,3 juta. Dari jumlah itu, USD 4,1 juta atau sekitar 45%-nya diraih dari pasar Amerika dan Kanada. Sebagai perbandingan, film beladiri Thailand Ong Bak: Muay Thai Warrior (2003) yang juga populer di Amerika, beroleh pendapatan sekitar USD 4,5 juta. Selain sukses dari segi bisnis, dari segi kualitas-pun, The Raid juga cukup berhasil. Berdasarkan penilaian situs web Rotten Tomatoes, film ini beroleh rating 87% dari 52.427 audiens, serta 86% dari 166 kritikus film. Bahkan Peter Bradshaw dari The Guardian memberikan nilai sempurna untuk film yang dibintangi oleh Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Joe Taslim itu.  

Setelah The Raid, perkembangan film di Indonesia tak lantas meningkat. Jangankan go internasional, di negeri jiran-pun film-film kita belum mampu mendominasi. Tak usah dengan film Amerika yang sudah maju berpuluh-puluh tahun, dengan film India dan Korea-pun kita masih kedodoran. Menurut Rosnani Jamil, salah seorang sineas kenamaan asal Malaysia, minat anak-anak muda terhadap film Indonesia belakangan ini memang agak menurun. Mengutip dari situs balaikita.com, Rosnani — yang masih berdarah Indonesia itu – mengatakan : “Ayat-ayat Cinta itu cetak duit disini, Surga Yang Tak Dirindukan bolehlah, tapi setelah itu tak tahu lagi ape film Indonesia yang diputar disini, rasenye tak ade lagi.” Senada dengan Rosnani, beberapa mahasiswi Malaysia yang diwawancarai balaikita juga tak tahu lagi apa film Indonesia yang diputar di Malaysia. “Film Indonesia boring-lah. Ceritenye begitu-begitu saje, tak ade kemajuan.”

Baca entri selengkapnya »