Nasi Kapau Kedai Pak Ciman

Tak terasa siang itu peluh saya bercucuran. Bukan karena sedang menggali parit atau memanggul barang, tapi saya baru saja menyantap iga bakar di Rumah Makan Datuk. Loh kok? Iya, di rumah makan ini iga bakarnya disajikan bersama kuah sop hangat. Jadilah baju saya setengah kuyup. Meski tak dilengkapi AC, namun iga bakar disini enak banget. Tekstur dagingnya lembut, plus bumbu iganya yang meresap. Selain iga bakar, jengkol lado hijaunya-pun cukup favorit. Saya yang tak suka jengkol, jadi tertarik dibuatnya. Penasaran dengan masakan yang tersaji, saya sempat berbincang dengan pegawai di rumah makan itu. Ternyata menu iga bakar ini hanyalah improvisasi si pemilik rumah makan yang berasal dari Silungkang, Sawahlunto. Meski dua potong iga yang tersaji cukuplah besar, namun harganya masihlah berpatutan. Kalau gak percaya, cobain deh! Lokasinya gak jauh dari pusat grosir Cipulir, Jakarta Selatan.

Masih di seputaran Jakarta Selatan, ada lagi rumah makan Padang yang bikin nagih. Namanya Putra Minang. Kalau Anda berdomisili di seputaran Pesangrahan, Ciledug, atau Bintaro, mungkin tak asing lagi dengan rumah makan yang satu ini. Restoran yang dikelola oleh pengusaha asal Pariaman itu konon telah memiliki 25 outlet. Pantas saja disepanjang Jalan Ciledug Raya, antara Pasar Ciledug hingga Mayestik, rumah makan ini cukup banyak dijumpai. Disini menu andalannya adalah ayam bakar. Memang enak bro! Bumbunya yang pedas-manis itu nempel sama ayamnya. Tak salah kalau rumah makan ini menasbihkan diri sebagai “istana ayam bakar”.

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Istiqlal Disemprot Disinfektan Virus

Pandemi virus Covid-19 (Corona) sudah semakin mengkhawatirkan. Virus yang bermula di Wuhan, China pada akhir tahun lalu itu kini telah tersebar ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Berdasarkan data pada hari Kamis, 19 Maret 2020, sudah ada 309 kasus, dimana 25 diantaranya meninggal dunia dan 15 dinyatakan sembuh. Jika ditelisik berdasarkan wilayah, penderita terbanyak berada di propinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat dan Banten. Karena kasus ini terus mewabah, maka seruan lockdown terdengar dimana-mana. Di media sosial banyak para pakar kesehatan (atau yang mendadak menjadi pakar) menghimbau pemerintah untuk menghentikan seluruh aktivitas masyarakat. Argumen mereka agar virus ini tidak semakin menyebar yang bisa berakibat jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Menyikapi perkembangan ini, Presiden Joko Widodo menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial (social distancing), seperti tidak melakukan aktivitas di keramaian. Selain itu Jokowi juga meminta warga untuk tak berpergian ke wilayah/negara yang sedang terjangkit Corona. Di beberapa daerah, kondisi ini telah memaksa sebagian gubernur dan walikota untuk menerapkan program bekerja dari rumah (work from home). Mereka juga menutup pusat-pusat keramaian, seperti tempat wisata, dan meliburkan anak-anak sekolah. Tak hanya pimpinan daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI)-pun juga mengeluarkan fatwa yang membatasi kegiatan di mesjid. Fatwa tertanggal 16 Maret 2020 itu antara lain membolehkan umat Islam untuk mengganti sholat Jumat dengan sholat zuhur di rumah masing-masing. Pernyataan lengkap MUI itu berbunyi : “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan sholat Jumat dan menggantikannya dengan sholat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah sholat lima waktu/rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.”

Baca entri selengkapnya »


Thamrin Nine Tower 1

Setelah 10 tahun lebih Daftar Gedung Tertinggi ini dirilis, sudah banyak perubahan pada lanskap langit Jakarta. Berbeda dengan satu dekade lalu, kini megapolitan terbesar ke dua di dunia ini sudah dipenuhi gedung-gedung jangkung di atas 200 meter. Jika dalam daftar itu baru sebelas gedung yang muncul, maka di tahun ini sudah ada 40 bangunan. Apabila ditambah dengan yang sedang dalam tahap konstruksi, jumlahnya mencapai 55 buah. Angka ini telah melampaui Kuala Lumpur dan Singapura, yang satu dasawarsa lalu masih di atas Jakarta. Berdasarkan data Skyscraper Center, saat ini Jakarta berada di urutan ke-7 sebagai kota dengan pencakar langit di atas 200 meter. Berbeda dengan 10 tahun lalu dimana seluruhnya berada di pusat bisnis (CBD) Jakarta, sekarang gedung-gedung tersebut telah tersebar ke beberapa lokasi. Antara lain di Kemayoran, Pluit, Palmerah, Kebayoran Baru, Karawaci, hingga Cikarang.

Yang juga perlu dicatat adalah, saat ini Jakarta sedang membangun gedung super tall, yakni pencakar langit dengan ketinggian di atas 300 meter. Keempat bangunan tersebut adalah Thamrin Nine Tower 1, Fortune Tower, serta dua menara Indonesia One. Membangun pencakar langit dengan ukuran super tall memang dambaan banyak orang. Ambisi inilah yang kini hendak digapai oleh para penguasa dan pengusaha negeri ini. Mereka nampaknya tak ingin ketinggalan dari negara-negara Arab, Tiongkok, atau jiran Malaysia, yang saat ini sedang rajin-rajinnya membangun super tall. Meski Signature Tower (638 meter) dan Pertamina Tower (523 meter) sudah digagas sejak satu dekade lalu, dan hingga kini tak jelas kelanjutannya, namun dengan pembangunan empat super tall ini telah memberikan asa terhadap kekuatan ekonomi masyarakat kita.

Baca entri selengkapnya »


Tol Layang Jakarta-Cikampek

Sejak Tol Trans Jawa tersambung di penghujung tahun 2018, Alhamdulillah sudah dua kali saya menjajalnya. Yang pertama di bulan Juli lalu sampai Probolinggo. Dan yang kedua akhir bulan kemarin mentok kota Malang. Mungkin dulu tak pernah terbayang jarak antara Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu 9 jam. Dari Jakarta-Semarang saja, dulu (tahun 2011) saya harus menempuhnya selama 10 jam. Untuk sampai di Surabaya, mungkin bisa makan waktu 18 jam. Meski dengan Argo Bromo Anggrek waktu tempuh ke Surabaya sudah tembus 9 jam, namun rasanya tak semenarik mengendarai mobil. Selain tak bisa mampir berwisata kuliner, naik kereta api agaklah membosankan. Kalau naik mobil, apalagi di siang hari, kita bisa menoleh ke kanan dan ke kiri. Menikmati sawah, ladang, sungai, dan gunung-ganang yang berdiri menantang awan.

Serius! Ada sensasi tersendiri ketika mengendarai mobil sepanjang hampir 1.000 km dari barat ke timur Pulau Jawa. Lepas dari Jakarta, kita bisa tancap gas langsung naik tol Japek Elevated. Di jalan layang sepanjang 40 km ini, kita tak kan diganggu oleh truk-truk dan bus AKAP yang kadang menyebalkan. Memang tol layang ini agak sedikit bergelombang, tapi so far oke-lah untuk dilalui. Dari atas jalan, kita bisa menyaksikan betapa massifnya pembangunan koridor Bekasi – Karawang. Para pengembang seakan saling berlomba-lomba membangun apartemen di kedua belah sisi jalan. Yang paling mencolok adalah Meikarta. Proyek besutan Lippo Group itu membangun sekitar 56 menara setinggi 30 lantai. Di malam hari, lampu-lampu dari tower crane, memercikan cahaya seperti sedang menari. Setelah turun di KM 47, jalan biasanya agak tersendat. Selain bottle-neck, truk-truk yang berjalan lambat juga menghambat laju kendaraan pribadi. Kondisi seperti ini biasanya sampai KM 67, ketika Tol Trans Jawa terpecah dua : ke arah Bandung dan Cirebon.

Baca entri selengkapnya »


Grafik 1 : PDB Per Kapita Jepang vs Korea Selatan

Dalam 70 tahun terakhir, kita melihat kebangkitan ekonomi negara-negara Asia Timur. Dari sekian banyak negara di kawasan itu, Korea Selatan merupakan suatu kisah yang menarik. Mungkin Anda mengira bahwa Jepang-lah negara yang mengalami keajaiban pertumbuhan ekonomi. Namun jika kita membaca sejarah ekonomi Jepang, negara itu sebenarnya sudah bangkit sejak akhir abad ke-19, dan di tahun 1940 boleh dikatakan telah setara dengan Eropa. Oleh karenanya, ia berani menantang kekuatan Barat dalam Perang Dunia Kedua. Pasca Perang Pasifik, sebenarnya Jepang hanya memulihkan kekuatannya saja. Dan ini berbeda dengan Korea Selatan yang memang bangkit dari titik nol. Sejak kehancuran akibat Perang Korea (1950-1953), PDB per kapita Korea Selatan telah tumbuh lebih dari 491 kali, dari USD 64 menjadi USD 31.430. Dilain pihak, PDB per kapita Jepang di tahun 1950 sudah berada di posisi USD 1.873, dan hanya bertumbuh 22 kali ke posisi hari ini yang berada di angka USD 40.847. Jika kita melihat PDB per kapita secara riil (menggunakan paritas daya beli/purchasing power parity), maka kini keduanya hanyalah terpaut sedikit. Jepang berada di posisi USD 45.546, sedangkan Korea Selatan di angka USD 44.740. Tak cuma PDB per kapita, dari segi Indeks Pembangunan Manusia-pun Korea Selatan juga hampir setara. Negara ini sudah berada di angka 0,906; dan Jepang di posisi 0,915.

Bagaimana dengan hasil industri? Meski tergolong pemain baru, namun dalam sepuluh tahun terakhir produk-produk Korea telah menggerogoti pangsa pasar Jepang. Kemauan perusahaan Korea untuk menggelontorkan dana riset, juga menjadi faktor penting yang menyebabkan produk-produk mereka diakui dunia. Berdasarkan data yang dirilis OECD, di tahun 2015 persentase pengeluaran riset terhadap PDB Korea Selatan sudah di atas Jepang (Lihat Grafik 2). Bahkan di tahun itu menurut Bloomberg, Korea Selatan merupakan negara dengan inovasi ekonomi terbaik di dunia. Dengan melihat fakta-fakta tersebut, timbul pertanyaan di benak kita : benarkah sekarang produk-produk Korea telah melampaui produk Jepang. Mengingat selama ini, kita mengenal produk-produk Jepang — terutama elektronik dan otomotifnya — sebagai produk terbaik di dunia. Dalam sajian kali ini, kita akan melihat kinerja beberapa industri di kedua negara, dan membandingkannya untuk melihat siapa yang lebih unggul.

Baca entri selengkapnya »


Bagi Anda pengguna dompet digital (e-wallet) mungkin sering bertanya-tanya : bagaiamana Go-Pay, OVO, dan Dana meraup untung? Terlebih ketika melihat mereka berlomba-lomba memberikan diskon sampai 40%. Gak cuma itu, bahkan ada pula yang berani jor-joran ngasih cash back hingga 60%. Di depan outlet mal-mal mewah hingga toko-toko di pinggir jalan, mereka memasang banner besar-besar untuk menggoda para pembeli menggunakan layanan mereka. Memang, yang paling diuntungkan dari pemberian diskon semacam ini adalah para konsumen. Namun jika dalam dua tahun belakangan mereka terus membakar uang, lalu darimana perusahaan dompet digital itu meraup untung? Nah, dalam sajian kali ini kita akan mengulik strategi bisnis dompet digital dalam menghasilkan uang.

 

Merchant Fee

Pernah gak Anda kepikir, kalau sebenarnya pemberian diskon besar-besaran itu seperti memasang iklan di televisi. Bedanya, iklan cuma memperkenalkan produk, sedangkan diskon langsung memberikan experience kepada pelanggan. Kopi Kenangan atau Janji Jiwa misalnya, apakah Anda pernah melihat iklan mereka di TV-TV? Gak kan. Lalu kenapa mereka cukup ngehits belakang ini? Ya, karena mereka memberikan diskon besar-besaran. Siapa yang menyediakan diskon ini, apakah pemilik perusahaan kopi? Bukan. Lalu siapa? Ya, penyedia dompet digital. Si pemilik kopi, tinggal membayar sejumlah fee yang dipotong dari nilai penjualannya untuk diserahkan ke penyedia e-wallet. Lalu kalau diskonnya 40%, apakah fee-nya juga 40%? Tentu tidak. Mungkin cuma 2%-3%. Kok bisa? Ya, penyedia e-wallet itu berharap akan mendapat keuntungan dalam jangka panjang. Semula mungkin diskon yang diberikan 40%, namun lama kelamaan – jika masyarakat sudah terbiasa, diskon turun jadi 30%, 10%, sampai akhirnya 0%. Meski tak lagi memberikan diskon, penyedia e-wallet itu akan terus mendapatkan fee selama konsumen membeli Kopi Kenangan dengan dompet digital.

Baca entri selengkapnya »


Jokowi dan JK Salam Perpisahan

Jokowi dan JK Salam Perpisahan (sumber : http://www.detik.com)

Tanggal 20 Oktober kemarin, Joko Widodo kembali dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Berbeda dengan pelantikan lima tahun lalu, kali ini Jokowi tak lagi didampingi Jusuf Kalla. Ya, Pak JK begitu ia disapa, adalah sedikit dari politisi yang berhasil naik kelas menjadi negarawan. Dia adalah “a man of action”. Yang tak nyaman cuma bekerja dari balik meja, dan kemudian bisa memutuskan sesuatu. 15 tahun lalu, ketika bencana tsunami menerpa Aceh, JK menjadi sosok yang banyak disorot orang. Ia bergerak taktis, menangani hampir setengah juta orang yang menjadi korban. Ketika itu, ada 170.000 jiwa yang meninggal dunia. Dan JK bisa mengendalikan keadaan serta suasana kebatinan masyarakat. Tak hanya itu, ia juga memperhatikan psikologis korban yang selamat, hingga mensupervisi proses rehabilitasi di sejumlah daerah. Belum cukup jasa JK untuk Aceh, beliau juga menginisiasi Perjanjian Perdamaian Helsinki. Perjanjian antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Republik Indonesia itu, mengakhiri 28 tahun kontak senjata di bumi serambi Mekkah.

Kemampuan JK sebagai juru runding, sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Menko Kesra (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat). Ketika itu ia menyelesaikan konflik yang terjadi di Ambon serta Poso. Dalam konflik Ambon, ia malah sempat menggertak pimpinan Laskar Jihad. Dalam acara Mata Najwa, ia menceritakan kejadian tersebut. Menurutnya hal ini bermula gara-gara pimpinan Laskar menolak permintaannya untuk berdamai. Alasannya, karena mereka sedang membela umat Islam yang tertindas. Mendengar perkataan itu, sontak JK naik pitam. Dalam dialog yang penuh ketegangan, ia menyampaikan pendapatnya : “Kalau Anda membela umat Islam, sudah berapa mesjid yang kau bangun? Sudah berapa anak yatim yang kau bantu?” Mendengar pertanyaan itu langsung mereka terdiam. Mungkin karena gertakan itulah, akhirnya konflik tiga tahun di Ambon bisa mereda. Begitu pula dengan perseteruan di Poso. Atas inisiasi JK-lah, dua kelompok yang bertikai mau menandatangani perjanjian damai Malino.

Baca entri selengkapnya »