Sejak virus Covid-19 mewabah pada pertengahan Maret 2020 lalu, sebagai pekerja yang menggunakan layanan kereta komuter tentu saya cukup khawatir. Hal ini dikarenakan penyebaran virus Covid-19 dapat terjadi melalui siapa saja dari percikan (droplet) air liur, baik batuk ataupun bersin. Dikarenakan pengguna layanan kereta komuter sangatlah ramai, maka jarak antar penumpang kadang tak terperhatikan. Namun semenjak virus ini merebak, banyak orang yang takut berdekatan dengan penumpang yang sedang batuk ataupun bersin.

Untuk mengantisipasi agar tidak terpapar virus Covid-19, bagi Anda pengguna layanan kereta komuter ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Berikut adalah langkah-langkah sederhana untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 :

Baca entri selengkapnya »


Buku “Sapiens” karya Yuval Noah Harari memang cukup mengesankan. Dalam buku setebal 520 halaman itu, ia secara apik menerangkan bagaimana sejarah perjalanan umat manusia. Berbeda dengan buku-buku sejarah lainnya yang cuma bercerita berdasarkan urutan waktu (kronologis), dalam buku ini ia coba menggali sebab musabab serta permasalahan yang muncul sehingga dunia kita bisa seperti sekarang ini. Misalnya : ia membahas mengenai domestifikasi hewan dan revolusi pertanian. Pada bagian ini ia bercerita mengenai kehidupan manusia sejak zaman batu, zaman perunggu, hingga mengakhiri kehidupan nomaden. Manusia yang telah hidup menetap itu kemudian bisa membangun perkampungan, kota, serta peradaban, setelah mereka mampu mendomestifikasi hewan (ternak) dan menghasilkan makanan secara berlimpah dengan revolusi pertanian. Pada bagian “Pemersatuan Umat Manusia”, ia juga dengan gamblang menceritakan bagaimana visi umat manusia dalam membangun peradaban. Menurut Yuval, nilai-nilai universal-lah – seperti hukum agama dan uang — yang bisa mempersatukan manusia dalam membangun peradaban.

Masuk pada bagian selanjutnya yaitu “Revolusi Sains”, Yuval bercerita mengenai bagaimana sains bisa mengubah jalan hidup sejarah umat manusia. Dalam bab ini kita akan mulai merasakan kecenderungan Yuval mengglorifikasi peradaan Barat. Terlepas dia sebagai warga global, namun sebagai penulis yang hidup dalam sangkar peradaban Euro-America (Barat), tentu Yuval tak bisa lepas dari bias budaya. Dalam bab-bab terakhir pada buku tersebut, ia dengan pede meyakini bahwa peradaban Barat-lah yang telah mengubah jalan sejarah umat manusia. Menurut dia, sains – kemudian kapitalisme dan industri, yang merupakan temuan Barat, telah membawa umat manusia ke arah yang lebih baik. Dengan temuan-temuan itu, umat manusia akhirnya bisa hidup bahagia selamanya. Meskipun tak sama, ini seperti teori yang dibangun oleh Francis Fukuyuma dalam bukunya : “The End of History and The Last Man”. Dimana dalam tesisnya tersebut Fukuyama begitu mengelu-elukan peradaban Barat, serta menyatakan bahwa model peradaban ini telah menang dan akan langgeng selamanya.

Baca entri selengkapnya »


Setelah bercerita mengenai pengalaman mencicipi kuliner Minang di Jakarta, selanjutnya kami akan mengajak Anda untuk mendedah restoran Padang pilihan yang telah melegenda di ibu kota. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga menjadi tempat perpaduan (melting pot) seluruh budaya Nusantara. Tak heran kalau disini kita bisa menjumpai resto-resto terbaik se-Indonesia, termasuk rumah makan Padang. Berdasarkan data Iwapin (Ikatan Warung Padang Indonesia), saat ini ada sekitar 20.000 rumah makan Padang di Jabodetabek. Dari yang sebanyak itu, tak lebih dari dua puluh yang bisa diketegorikan sebagai “the legend”. Menilai resto-resto mana saja yang telah melegenda, memang gampang-gampang susah. Untuk itu kami mengandalkan penilaian masyarakat berdasarkan ulasan pada Google dan Tripadvisor. Serta pengamatan dan pengalaman penulis ketika mengunjungi resto-resto tersebut.

Langsung saja. Saya akan memulainya dengan Restoran Roda. Bagi Anda generasi milenial, mungkin tak pernah menjumpai rumah makan yang satu ini. Resto ini terletak di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Pada dasawarsa 1970-1980-an, rumah makan ini cukup ternama. Bahkan salah satu dari sedikit restoran berkelas di ibu kota. Dulu Roda juga sering dijadikan tempat shooting film. Kalau Anda penasaran dengan restoran ini, coba tonton film “Samson Anak Betawi” yang diperankan Benyamin Sueb dan Mansur Syah. Disitu ada adegan dimana sang promotor sedang mentraktir Samson makan. Pada masa itu Roda boleh jadi merupakan trade mark masakan Minang. Entah mengapa akhirnya rumah makan yang didirikan oleh Haji Hashuda asal Kapau, Bukittinggi itu bangkrut. Dan kemudian tutup.

Baca entri selengkapnya »


Nasi Kapau Kedai Pak Ciman

Tak terasa siang itu peluh saya bercucuran. Bukan karena sedang menggali parit atau memanggul barang, tapi saya baru saja menyantap iga bakar di Rumah Makan Datuk. Loh kok? Iya, di rumah makan ini iga bakarnya disajikan bersama kuah sop hangat. Jadilah baju saya setengah kuyup. Meski tak dilengkapi AC, namun iga bakar disini enak banget. Tekstur dagingnya lembut, plus bumbu iganya yang meresap. Selain iga bakar, jengkol lado hijaunya-pun cukup favorit. Saya yang tak suka jengkol, jadi tertarik dibuatnya. Penasaran dengan masakan yang tersaji, saya sempat berbincang dengan pegawai di rumah makan itu. Ternyata menu iga bakar ini hanyalah improvisasi si pemilik rumah makan yang berasal dari Silungkang, Sawahlunto. Meski dua potong iga yang tersaji cukuplah besar, namun harganya masihlah berpatutan. Kalau gak percaya, cobain deh! Lokasinya gak jauh dari pusat grosir Cipulir, Jakarta Selatan.

Masih di seputaran Jakarta Selatan, ada lagi rumah makan Padang yang bikin nagih. Namanya Putra Minang. Kalau Anda berdomisili di seputaran Pesangrahan, Ciledug, atau Bintaro, mungkin tak asing lagi dengan rumah makan yang satu ini. Restoran yang dikelola oleh pengusaha asal Pariaman itu konon telah memiliki 25 outlet. Pantas saja disepanjang Jalan Ciledug Raya, antara Pasar Ciledug hingga Mayestik, rumah makan ini cukup banyak dijumpai. Disini menu andalannya adalah ayam bakar. Memang enak bro! Bumbunya yang pedas-manis itu nempel sama ayamnya. Tak salah kalau rumah makan ini menasbihkan diri sebagai “istana ayam bakar”.

Baca entri selengkapnya »


Mesjid Istiqlal Disemprot Disinfektan Virus

Pandemi virus Covid-19 (Corona) sudah semakin mengkhawatirkan. Virus yang bermula di Wuhan, China pada akhir tahun lalu itu kini telah tersebar ke seluruh dunia. Termasuk di Indonesia. Berdasarkan data pada hari Kamis, 19 Maret 2020, sudah ada 309 kasus, dimana 25 diantaranya meninggal dunia dan 15 dinyatakan sembuh. Jika ditelisik berdasarkan wilayah, penderita terbanyak berada di propinsi DKI Jakarta, diikuti Jawa Barat dan Banten. Karena kasus ini terus mewabah, maka seruan lockdown terdengar dimana-mana. Di media sosial banyak para pakar kesehatan (atau yang mendadak menjadi pakar) menghimbau pemerintah untuk menghentikan seluruh aktivitas masyarakat. Argumen mereka agar virus ini tidak semakin menyebar yang bisa berakibat jatuhnya korban lebih banyak lagi.

Menyikapi perkembangan ini, Presiden Joko Widodo menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial (social distancing), seperti tidak melakukan aktivitas di keramaian. Selain itu Jokowi juga meminta warga untuk tak berpergian ke wilayah/negara yang sedang terjangkit Corona. Di beberapa daerah, kondisi ini telah memaksa sebagian gubernur dan walikota untuk menerapkan program bekerja dari rumah (work from home). Mereka juga menutup pusat-pusat keramaian, seperti tempat wisata, dan meliburkan anak-anak sekolah. Tak hanya pimpinan daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI)-pun juga mengeluarkan fatwa yang membatasi kegiatan di mesjid. Fatwa tertanggal 16 Maret 2020 itu antara lain membolehkan umat Islam untuk mengganti sholat Jumat dengan sholat zuhur di rumah masing-masing. Pernyataan lengkap MUI itu berbunyi : “Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan sholat Jumat dan menggantikannya dengan sholat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah sholat lima waktu/rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.”

Baca entri selengkapnya »


Thamrin Nine Tower 1

Setelah 10 tahun lebih Daftar Gedung Tertinggi ini dirilis, sudah banyak perubahan pada lanskap langit Jakarta. Berbeda dengan satu dekade lalu, kini megapolitan terbesar ke dua di dunia ini sudah dipenuhi gedung-gedung jangkung di atas 200 meter. Jika dalam daftar itu baru sebelas gedung yang muncul, maka di tahun ini sudah ada 40 bangunan. Apabila ditambah dengan yang sedang dalam tahap konstruksi, jumlahnya mencapai 55 buah. Angka ini telah melampaui Kuala Lumpur dan Singapura, yang satu dasawarsa lalu masih di atas Jakarta. Berdasarkan data Skyscraper Center, saat ini Jakarta berada di urutan ke-7 sebagai kota dengan pencakar langit di atas 200 meter. Berbeda dengan 10 tahun lalu dimana seluruhnya berada di pusat bisnis (CBD) Jakarta, sekarang gedung-gedung tersebut telah tersebar ke beberapa lokasi. Antara lain di Kemayoran, Pluit, Palmerah, Kebayoran Baru, Karawaci, hingga Cikarang.

Yang juga perlu dicatat adalah, saat ini Jakarta sedang membangun gedung super tall, yakni pencakar langit dengan ketinggian di atas 300 meter. Keempat bangunan tersebut adalah Thamrin Nine Tower 1, Fortune Tower, serta dua menara Indonesia One. Membangun pencakar langit dengan ukuran super tall memang dambaan banyak orang. Ambisi inilah yang kini hendak digapai oleh para penguasa dan pengusaha negeri ini. Mereka nampaknya tak ingin ketinggalan dari negara-negara Arab, Tiongkok, atau jiran Malaysia, yang saat ini sedang rajin-rajinnya membangun super tall. Meski Signature Tower (638 meter) dan Pertamina Tower (523 meter) sudah digagas sejak satu dekade lalu, dan hingga kini tak jelas kelanjutannya, namun dengan pembangunan empat super tall ini telah memberikan asa terhadap kekuatan ekonomi masyarakat kita.

Baca entri selengkapnya »


Tol Layang Jakarta-Cikampek

Sejak Tol Trans Jawa tersambung di penghujung tahun 2018, Alhamdulillah sudah dua kali saya menjajalnya. Yang pertama di bulan Juli lalu sampai Probolinggo. Dan yang kedua akhir bulan kemarin mentok kota Malang. Mungkin dulu tak pernah terbayang jarak antara Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu 9 jam. Dari Jakarta-Semarang saja, dulu (tahun 2011) saya harus menempuhnya selama 10 jam. Untuk sampai di Surabaya, mungkin bisa makan waktu 18 jam. Meski dengan Argo Bromo Anggrek waktu tempuh ke Surabaya sudah tembus 9 jam, namun rasanya tak semenarik mengendarai mobil. Selain tak bisa mampir berwisata kuliner, naik kereta api agaklah membosankan. Kalau naik mobil, apalagi di siang hari, kita bisa menoleh ke kanan dan ke kiri. Menikmati sawah, ladang, sungai, dan gunung-ganang yang berdiri menantang awan.

Serius! Ada sensasi tersendiri ketika mengendarai mobil sepanjang hampir 1.000 km dari barat ke timur Pulau Jawa. Lepas dari Jakarta, kita bisa tancap gas langsung naik tol Japek Elevated. Di jalan layang sepanjang 40 km ini, kita tak kan diganggu oleh truk-truk dan bus AKAP yang kadang menyebalkan. Memang tol layang ini agak sedikit bergelombang, tapi so far oke-lah untuk dilalui. Dari atas jalan, kita bisa menyaksikan betapa massifnya pembangunan koridor Bekasi – Karawang. Para pengembang seakan saling berlomba-lomba membangun apartemen di kedua belah sisi jalan. Yang paling mencolok adalah Meikarta. Proyek besutan Lippo Group itu membangun sekitar 56 menara setinggi 30 lantai. Di malam hari, lampu-lampu dari tower crane, memercikan cahaya seperti sedang menari. Setelah turun di KM 47, jalan biasanya agak tersendat. Selain bottle-neck, truk-truk yang berjalan lambat juga menghambat laju kendaraan pribadi. Kondisi seperti ini biasanya sampai KM 67, ketika Tol Trans Jawa terpecah dua : ke arah Bandung dan Cirebon.

Baca entri selengkapnya »