Kantor Pusat Credit Suisse di Zurich

Kalau Anda melihat daftar Fortune Global 500 yang dirilis oleh majalah Fortune setiap tahunnya, maka Anda akan tercengang bahwa ada 14 perusahaan asal Swiss yang masuk ke dalam list tersebut. Ya, negara sekecil Swiss, yang berada di tengah-tengah Eropa dan hanya berpenduduk 8,5 juta jiwa, bisa memiliki 14 perusahaan kelas dunia. Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 270 juta jiwa dengan luas area 45 kali lipat Swiss, cuma ada satu perusahaan di daftar tersebut. Itu juga Pertamina, perusahaan yang masih merugi dan terus disubsidi oleh negara. Okelah, jangan bandingkan Swiss dengan Indonesia yang peringkat PISA-nya saja masih di urutan bawah. Coba bandingkan Swiss dengan Korea Selatan, yang pada tahun 2020 lalu menjadi negara terinovatif di dunia. Dengan jumlah penduduk 6 kali lipat lebih banyak dibandingkan Swiss, serta luas area dua setengah kali lebih besar, Korea sama-sama memasok 14 perusahaan ke dalam daftar tersebut. Lalu apa kelebihan Swiss di bandingkan negara-negara lain di dunia. Nah, dalam tulisan kali ini, kita akan melihat bagaimana Swiss bisa menghasilkan banyak perusahaan top dunia, seperti Roche, Nestle, Novartis, dan Credit Suisse.

Kalau kita rangkum, ada tiga komponen besar yang menjadikan Swiss bisa menghasilkan perusahaan-perusahaan wahid kelas dunia. Yang pertama adalah asas politiknya yang netral, dimana ia tidak berpihak kepada kekuatan manapun. Kedua, transparansi dan keterbukaan masyarakatnya. Dan ketiga, sumber daya manusianya yang unggul. Ketiga komponen ini terus dipelihara oleh pemerintah dan masyarakat Swiss, sehingga kalau salah satunya tercederai mereka khawatir negaranya akan mundur dari persaingan global.

Baca entri selengkapnya »

Sadarkah Anda, bahwa uang yang ada di saku Anda sekarang ini, atau di rekening Anda, sebenarnya hanyalah imajinasi yang didasari dari suatu kesepakatan bersama. Maksudnya? Ya, uang yang Anda kumpulkan setiap hari itu, dari pagi hingga malam, hanya punya arti jika sekelompok masyarakat mau mengakui (nilai)-nya. Itulah mengapa, jika Anda punya segepok uang rupiah di kantong, dan Anda belanjakan di Hongkong ataupun London, tak kan punya artinya. Kenapa? Karena masyarakat di kota itu tak mengakuinya. Rupiah bukan merupakan mata uang yang disepakati bisa menjadi alat tukar atau transaksi disana. Lalu mengapa jika Anda memiliki segepok dollar Amerika dan membelanjakannya di kota-kota itu, mereka mau menerimanya? Karena mereka mengakui dollar bisa sebagai alat transaksi disana. Apa sebab dollar diakui, sedangkan rupiah tidak? Nah, dalam ulasan kali ini, kita akan membahas mengenai sejarah uang. Dari bermulanya sistem barter hingga berkembangnya cripto currency.

* * *

Sejarawan tak pernah tahu kapan mulanya uang berkembang sebagai alat tukar dalam transaksi. Yang pasti sejak manusia sudah tak bisa lagi mengandalkan sistem barter dalam bertransaksi. Seperti yang kita pelajari di sekolah dulu, masyarakat pra-modern memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pertukaran barang. Jadi misalnya, jika seorang petani memanen padi dan peternak menghasilkan sapi, maka jika petani membutuhkan sapi, maka dia akan menukarkannya dengan padi yang dimilikinya. Begitu pula jika seorang pekebun yang memiliki anggur, jika dia membutuhkan pisau, maka dia harus menukarkan anggurnya dengan pisau kepada seorang pandai besi. Pada mulanya, sistem ini dapat diterima oleh semua orang. Namun dalam perjalanannya, timbul suatu permasalahan yang harus segera dipecahkan. Yakni ketika seorang petani menghendaki anggur, namun si empunya kebun sedang tak membutuhkan padi. Atau ketika peternak sapi ingin membutuhkan padi, namun di sisi lain si petani sedang tak membutuhkan sapi. Lalu bagaimana menyelesaikan kerumitan seperti ini. Karena tak semua orang membutuhkan suatu barang dalam waktu yang bersamaan.

Baca entri selengkapnya »

Simpang Lima Senen (sumber : kompas.com)

Senen merupakan salah satu distrik di ibu kota yang tak pernah tidur. Aktifitasnya berdenyut nyaris 24 jam. Mulai dari pasar kue yang sudah ramai sebelum subuh, hingga para pedagang baju bekas yang baru tutup lewat tengah malam. Di paruh pertama abad ke-20, ada lima pusat perbelanjaan besar di Batavia, yakni Glodok-Pinangsia, Meester Cornelis (Jatinegara), Pasar Baru, Tanah Abang, dan Senen. Dari kelima pusat perbelanjaan itu, Senen yang menjadi trade mark sekaligus pusat gaya hidup. Pada dasawarsa 1930-an, berdiri dua bioskop ternama disini : Kramat Theater (kemudian berganti nama menjadi Rex Theater, lalu Grand Theater) dan Rivoli Theater. Keduanya sering menjadi tempat pemutaran perdana film-film baru atau film impor yang masuk ke Indonesia. Oleh karenanya sebelum meletus perang, Senen menjadi tempat berkumpulnya para muda-mudi.

Setelah masa kemerdekaan, Senen jadi tak terurus. Walikota Jakarta ketika itu, tak menaruh minat untuk mempertahankannya sebagai tempat perdagangan utama ibu kota. Akibatnya para gembel dan preman terus berdatangan ke kawasan ini. Di sepanjang rel antara Gang Sentiong hingga Pasar Senen, banyak berdiri pemukiman-pemukiman liar. Di utara stasiun arah ke Kemayoran, juga muncul tempat-tempat pelacuran. Pada dasawarsa 1950-an, Senen dikenal sebagai red light district-nya ibu kota. Hingga Ali Sadikin memindahkannya ke Kramat Tunggak, Senen populer sebagai tempat esek-esek kelas kecoa. Selain wanita tuna susila, pencopet, dan gelandangan, disini banyak pula berkumpul para seniman partikelir. Mereka yang kemudian menjadi terkenal antara lain Chairil Anwar (penyair), Misbach Yusa Biran (sutradara), Benyamin Sueb (aktor dan penyanyi), Soekarno M. Noer (aktor), dan Nurnaningsih (aktris).

Baca entri selengkapnya »

Keberadaan orang-orang Indonesia di negeri Belanda, agaknya jarang terekspos oleh media-media internasional. Tidak seperti halnya orang Turki di Jerman, masyarakat India-Pakistan di Inggris, atau kelompok Afrika Utara di Prancis; orang-orang Indonesia di Belanda tak pernah menjadi news maker. Berbeda dengan kelompok-kelompok tersebut yang acap kali diberitakan sebagai pelaku teroris, keturunan Indonesia di Eropa tak satupun yang terlibat dalam aksi tersebut. Boleh jadi inilah sebabnya mereka tak banyak mendapat sorotan. Padahal secara persentase, jumlah mereka di negeri kincir angin cukuplah besar. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Peter Post, ada sekitar 1,5 juta-2 juta masyarakat keturunan Indonesia di Belanda. Meski banyak juga yang berpendapat kalau jumlah mereka tak lebih dari 400.000 jiwa atau sekitar 2,5% populasi Belanda.

Meski keberadaan orang-orang Indonesia dalam jumlah besar belum mencapai satu abad, namun pengaruh bangsa kita dalam kultur Belanda cukuplah besar. Sebut saja misalnya dari segi bahasa. Banyak sekali kosakata Bahasa Belanda yang diserap dari Bahasa Indonesia/Melayu. Selain itu untuk aspek makanan, tak sedikit kuliner asli Indonesia yang menjadi menu handalan disana. The rijsttafel, prasmanan yang terdiri dari satu set makanan Indonesia, masih menjadi hidangan favorit di negeri tanah rendah. Satu lagi budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah festival pasar malam. Salah satu festival pasar malam — dan yang terbesar — di Belanda adalah Tong Tong Fair, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1959.

Baca entri selengkapnya »

Setelah era penerbangan murah berakhir, banyak pengusaha otobus yang optimis kalau industri ini kembali menggeliat. Namun setelah Covid-19 menyerang, harapan tersebut kembali sirna. Pembatasan sosial dalam skala besar, telah menggerus omzet perusahaan otobus hingga mencapai 70%. Malah adapula perusahaan yang sampai menjual asetnya untuk menutupi biaya operasional. Menengok fakta tersebut, Kurnia Lesani Adnan, pemilik perusahaan otobus (PO) Siliwangi Antar Nusa (SAN) sekaligus Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), berinisiatif untuk menyemangati kembali industri otobus yang sedang terpuruk. Lewat channel Youtube-nya : PerpalZ TV, Sani mengunjungi beberapa stakeholder, khususnya para pelaku usaha otobus. Setelah menemui para pengusaha di Pulau Jawa, di pertengahan Maret lalu tim PerpalZ TV melakukan tur ke Sumatera. Tak tanggung-tanggung, kegiatan roadshow selama 20 hari itu dibuka oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Melihat roadshow “PerpalZ TV Goes To Sumatera”, me-recall ingatan saya terhadap PO-PO di Sumatera. Maklum dulu saya gemar mengamati perkembangan beberapa PO di Jawa dan Sumatera. Nah, dalam kesempatan kali ini, kami akan mengajak Anda untuk melihat sepak terjang PO-PO di Sumatera, serta mengulik sejarah jalur lintas Sumatera. Disamping itu, kita juga akan sedikit mengulas perubahan model bisnis pada beberapa PO, setelah dioperasikannya Tol Trans-Sumatera. Yang tak kalah menarik, kami juga akan menyajikan PO-PO legendaris yang masih bertahan hingga saat ini.

Baca entri selengkapnya »

AHY dan Moeldoko (sumber : beritasatu.com)

Darmizal, salah seorang politisi Partai Demokrat, menangis tersedu-sedu saat konferensi pers pasca-Kongres Luar Biasa (KLB) partainya. Dalam pidatonya, ia menyesal telah membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi ketua umum Demokrat pada tahun 2015 lalu. Ia tak menyangka setelah SBY memimpin partai ini akan lahir rezim diktator, dimana SBY melanggengkan politik dinasti dengan memberikan karpet merah kepada putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk melanjutkan kepemimpinan partai. Senada dengan Darmizal, Marzuki Alie, mantan ketua DPR sekaligus politisi senior Partai Demokrat mengatakan, diselenggarakannya KLB ini akibat tersumbatnya suara para kader dan adanya kesewenang-wenangan pengurus partai di bawah pimpinan AHY. Oleh karenanya KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang tanggal 5 Maret lalu itu, dirancang untuk melengserkan AHY. Sebagaimana yang kita ketahui, kongres itu kemudian memilih secara aklamasi Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, sebagai ketua umum Demokrat yang baru.

Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada pengesahan atau pembatalan dari pemerintah terkait hasil KLB tersebut. Namun kasak-kusuk serta behind the story dibalik penyelenggaraan KLB itu sangat menarik untuk disimak. Salah satunya adalah pernyataan Gatot Nurmantyo yang pernah ditawari oleh para inisiator KLB untuk menggantikan posisi AHY. Namun kemudian Gatot menolak dengan alasan ewuh pakewuh. Selain itu yang juga perlu dicermati adalah sebelum AHY naik menjadi ketua umum, ternyata elit partai inipun sudah diisi oleh keluarga-keluarga Yudhoyono. Hadi Utomo, yang merupakan ipar SBY, pernah menjadi ketua umum Demokrat periode 2005-2010. Edhi Baskoro Yudhoyono, putra kedua SBY, juga sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal partai. Dan kini, Ibas – begitu ia akrab disapa, menduduki posisi ketua fraksi Demokrat di MPR. Tak salah jika banyak orang yang berpandangan, bahwa KLB kemarin adalah perlawanan kader Demokrat terhadap Dinasti Cikeas yang selama ini seperti menjadi pemilik partai.

Baca entri selengkapnya »

Di masa pandemi sekarang ini, banyak orang yang cuma fokus pada kesehatan fisik, sehinga mengabaikan – atau tak menyadari – kemungkinan adanya ancaman pada kesehatan mental. Bagi sebagian orang, yang selama ini bisa bergerak secara leluasa, baik untuk bekerja, bersosialisasi, ataupun berpergian, dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), secara tak langsung bisa menyebabkan terjadinya depresi. Terlebih bagi sang ayah yang merupakan tulang punggung keluarga, dengan pandemi ini mungkin saja ia akan mengalami tekanan karena tak bisa memenuhi kebutuhan keluarga secara paripurna. Saat ini banyak karyawan yang karena kantornya terdampak kebijakan PSBB, sehingga gajinya-pun dipotong. Bahkan yang cukup menyedihkan, tak sedikit diantara mereka yang terkena PHK. Begitu pula dengan si ibu. Karena harus membimbing anak belajar daring di rumah, ia juga terpaksa ikut memahami materi yang disampaikan para guru. Terlebih dengan pola belajar online sekarang ini, banyak anak yang tak fokus dan terdistraksi dengan lingkungan sekitar. Anak-anak-pun juga begitu. Mereka yang biasanya bisa bebas bersosialisasi dengan teman-temannya, terpaksa dilarang keluar karena takut terkena Covid-19. Ini semua bisa berpotensi terjadinya gangguan mental pada keluarga. Nah, dalam tulisan kali ini, saya akan membagikan beberapa tips mudah menjaga kesehatan mental keluarga di tengah-tengah pandemi.

 

Melakukan proses rekreasi di rumah

Bagi Anda yang senang berpergian atau melakukan aktivitas outdoor, pandemi ini memang menjadi momok. Bagaimana tidak, sebelum pandemi Anda bisa dengan sesuka hati melakukan kemping, memancing, atau sekedar melihat pemandangan alam. Namun sejak pandemi, semuanya jadi terbatas. Tapi untungnya sekarang sudah ada internet, sehingga aktivitas pelancongan yang biasanya menguras banyak energi dan biaya, bisa dilakukan secara virtual. Tur virtual ini ada yang gratis, ada pula yang berbayar. Ada juga penyedia tur yang membuat konten menggunakan aplikasi dan alat virtual reality, seperti Ascape yang populer di YouTube. Meski hanya berjalan-jalan di dunia maya, setidaknya foto-foto pemandangan yang tersaji cukup menyegarkan mata. Atau bagi Anda pecinta buku, maka saat inilah kesempatan buat Anda untuk melahap buku-buku yang pernah dibeli. Sebelum pandemi karena banyaknya aktivitas yang Anda lakukan, mungkin banyak buku yang masih tertumpuk di lemari yang tak sempat Anda baca. Bahkan plastiknya-pun mungkin belum dibuka. Nah di masa pandemi ini, saatnya Anda menyantap buku-buku tersebut. Saya saja sudah membaca beberapa buku dan menuliskan resensinya. Suatu hal yang jarang dilakukan sebelum pandemi. Begitu pula bagi Anda yang senang menjahit, menyulam, atau melukis, dan ada pekerjaan yang belum terselesaikan, maka inilah waktunya buat Anda untuk merampungkan pekerjaan tersebut. Jadi jangan kehabisan akal untuk berkreasi selama masa pandemi.

Baca entri selengkapnya »

Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momentum kesadaran berpolitik sekaligus pembentukan pranata sosial baru di Indonesia. Masyarakat yang selama masa kolonial berada di strata yang kurang menguntungkan, dengan semangat kemerdekaan mencoba peruntungannya untuk membalikkan keadaan. Salah satu kelompok masyarakat yang begitu antusias adalah para kelas petani dan buruh di Sumatera Timur. Mereka yang selama ini dieksploitasi oleh para pemodal dan kaum bangsawan, seperti menemukan titik balik untuk melakukan pembalasan. Dan masa-masa pembalasan yang penuh gejolak itu dikenal dengan Revolusi Sosial 1946. Bagi sebagian orang – khususnya kaum aristokrat Melayu – istilah ini terasa tak mengenakkan. Mereka menganggap ini bukanlah revolusi sosial, melainkan suatu pembantaian dan penyingkiran raja-raja Melayu. Namun menurut kaum republiken, kejadian 75 tahun silam itu memanglah suatu kejadian yang begitu cepat (revolusi), yang mengubah tatanan sosial masyarakat dalam tempo seketika. Para sultan yang pada masa pra-kemerdekaan memiliki kuasa tanpa batas, habis pamornya dan tersingkirkan. Daulat tuanku yang berpuluh-puluh tahun begitu diagungkan, berganti menjadi daulat rakyat hanya dalam tempo hitungan bulan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai pergerakan tersebut, ada baiknya kita menengok keadaan masyarakat Sumatera Timur sebelum masa kemerdekaan. Sejak tahun 1870, Sumatera Timur merupkan kawasan estat perkebunan yang dikuasai oleh para pemodal Eropa. Para pemodal ini bekerjasama dengan para sultan-sultan Melayu yang memberikan konsesi atas tanah di Sumatera Timur. Adalah Jacob Nienhuys, seorang pengusaha Belanda yang pertama kali mengembangkan perkebunan tembakau di Deli. Pada tahun 1869, ia mendirikan perusahaan Deli Maatschappij. Di Bursa Efek Amsterdam perusahaan ini tercatat cukup rajin membagikan dividen kepada para investor. Tentu ini tak lepas dari kinerjanya yang cukup baik, yang bisa menghasilkan keuntungan cukup besar. Dibalik keuntungan yang besar itu, ternyata terdapat kelas pekerja yang nasibnya tak menguntungkan. Mereka adalah para kuli perkebunan yang bekerja dari pagi hingga malam hari, dengan bayaran yang tak seberapa. Selain itu yang juga mengenaskan adalah perlakuan tak manusiawi yang kerap mereka terima. Absennya sistem peradilan di kesultanan Sumatera Timur, menjadikan perusahaan bisa menjatuhkan hukuman langsung kepada para kuli. Keadaan masyarakat di Sumatera Timur yang pincang inilah yang menjadi api pembakar terjadinya revolusi sosial di tahun 1946.

Baca entri selengkapnya »

Pada dekade 1990-an, orang-orang Betawi sempat dibuat geger. Pasalnya seorang peneliti asal Australia, Lance Castles, menyebut kalau etnis Betawi merupakan keturunan para budak. Sontak pernyataan itu mendapat kritikan dari sejumlah budayawan Betawi. Meski karya Castles yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” itu telah terbit sejak tahun 1967, namun hasil penelitiannya baru dibantah tiga dekade kemudian. Adalah Ridwan Saidi, seorang budayawan Betawi yang juga sempat aktif di panggung politik nasional, yang paling getol mengkritik karya Castles tersebut. Menurutnya, teori yang mengatakan kalau orang Betawi keturunan budak adalah orang-orang yang menganut aliran Kali Besar. Mereka meyakini bahwa orang Betawi baru muncul sejak kompeni Belanda menguasai Batavia. Padahal menurut Saidi, orang-orang Betawi sudah ada sejak 3.500 tahun lalu, yang para kakek buyutnya merupakan rakyat Kerajaan Salakanagara.

Karena adanya dua pandangan yang saling bertolak belakang itu, saya jadi tergelitik untuk melihat sejauh mana relevansi karya Castles dan sanggahan Saidi terkait pembentukan kelompok masyarakat Betawi. Disamping masalah itu, kita juga akan melihat gelombang migrasi kelompok etnis lainnya ke Jakarta yang banyak berdatangan pasca-kemerdekaan. Sebenarnya Castles bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang mengajukan teori pembentukan etnis Betawi yang dihubungkan dengan unsur budak. Dalam berbagai karya sejarah tentang masyarakat Jakarta disebutkan bahwa orang Betawi berasal dari percampuran berbagai macam etnis yang menghuni Batavia pada abad ke-17 dan ke-18. Memang benar bahwa sampai abad ke-18 jumlah budak di dalam kota Batavia lebih banyak daripada jumlah penduduk bebas. Namun jika kita mengalihkan perhatian ke wilayah di luar tembok kota (Ommelanden) akan didapat gambaran yang berbeda. Jumlah penduduk Ommelanden jauh lebih besar daripada penduduk dalam kota. Di wilayah Ommelanden persentase jumlah budak tidak pernah melampaui 30% dari total populasi. Dengan demikian argumen Castles yang menyatakan bahwa budak sebagai unsur utama yang membentuk etnis Betawi tidaklah akurat.

Baca entri selengkapnya »

Beberapa hari belakangan ini rencana penggabungan dua perusahaan teknologi Grab dan Gojek kembali mengemuka. Adalah situs berita Bloomberg, yang kembali mengabarkan rencana merger dua raksasa tersebut. Dalam artikelnya yang berjudul Grab, Gojek Close In on Terms for Merger, dikabarkan bahwa telah terjadi kesepakatan diantara para pemilik modal terkait rencana perkawinan tersebut. Berita ini sontak menjadi buah bibir di kalangan pers dan pemerhati bisnis di tanah air. Kabarnya penggabungan ini juga sebagai bentuk gencatan sejata, setelah mereka berperang selama lebih dari separuh dekade. Bagi pemilik modal, rencana ini tentu untuk memberikan kepastian di masa depan terkait perolehan laba perusahaan. Selama ini publik memang tak pernah tahu, apakah program bakar duit dua perusahaan tersebut telah beroleh hasil. Sebab kalau berdasarkan hitung-hitungan kasar, rasanya mereka belum break even point.

Sebenarnya rencana merger kedua perusahaan itu telah bergulir sejak awal tahun lalu. Namun karena ada pandemi virus Corona, rencana inipun sempat dibatalkan. Isu merger kembali mengemuka, dikarenakan menurunnya valuasi mereka di berbagai negara. Valuasi Grab yang tahun lalu sebesar USD 14 miliar, kini telah diperdagangkan di pasar sekunder dengan diskon mencapai 25%. Begitupula dengan Gojek yang tahun lalu bernilai hampir USD 10 miliar, kini dijual dengan diskon besar-besaran. Kerugian yang timbul akibat pandemi Covid-19, telah menekan dua perusahaan ride-hailing ini untuk melakukan penggabungan. Peleburan ini menurut Tech in Asia, berpotensi akan meningkatkan valuasi keduanya menjadi USD 72 miliar di tahun 2025 nanti.

Baca entri selengkapnya »