fo-summarecon-bekasi

Sebagai salah satu kawasan urban yang terus bertumbuh, Bekasi berpotensi melampaui kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Bandung ataupun Surabaya. Meski dalam hal jumlah penduduk antara Bekasi dengan dua kota tersebut tak terlampau jauh, namun dalam hal manajemen birokrasi dan pengelolaan kota, Bekasi jauh tertinggal. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengakui, dalam hal kebersihan dan pengelolaan lingkungan, Bekasi jauh tertinggal dari Surabaya. Hal ini disampaikannya kepada wartawan setelah ia melakukan kunjungan kerja ke “Kota Pahlawan” beberapa bulan lalu. Dalam pertemuan itu, ia juga menyampaikan niatnya untuk membenahi trotoar dan membangun seribu taman di Bekasi.

Tak sampai setahun berselang, Rahmat memenuhi janjinya. Memang belum semuanya rampung ia kerjakan. Namun setidaknya Bekasi nampak lebih hijau dan jalan-jalan protokolnya memiliki trotoar yang representatif. Jalan Chairil Anwar dan Jalan K.H. Noer Alie, dua ruas jalan yang menyisir tepian Kalimalang itu, kini telah memiliki trotoar yang diterangi lampu-lampu taman di malam hari. Tak hanya itu, di beberapa titik terdapat pula taman kecil yang menyediakan bangku beton, dimana dari tempat itu para pelintas bisa memandangi riak air Kalimalang. Jalan Ahmad Yani tak kalah bersolek. Pedestrian di sisi barat ruas jalan itu juga ikut bersalin rupa. Bangku-bangku taman dan lampu-lampu, dipasang untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat kota. Meski pohon-pohon rindang belum banyak ditanam, namun setidaknya tumbuh-tumbuhan di median jalan telah memberikan kesejukan bagi pejalan kaki. Yang menarik dari pembenahan ini adalah pembuatan marka berukuran besar yang bertuliskan : “Kota Bekasi”. Marka ini dihiasi lampu-lampu sorot di setiap hurufnya, sehingga mengundang para warga untuk berfoto ria.

Baca entri selengkapnya »

Iklan
gdp-ppp-2016

GDP (PPP) Indonesia tahun 2016 berada diurutan ke-8

Bagi sebagian ekonom, tingkat kemakmuran suatu bangsa biasanya diukur dari seberapa besar pendapatan/pengeluaran masyarakatnya. Dalam hal ini, untuk mendapatkan angka tersebut, yang paling mudah dilihat adalah seberapa besar produk domestik bruto per kapita suatu negara (PDB per kapita/GDP per capita). Jika ditinjau dari PDB per kapita, berdasarkan data IMF tahun 2016, pendapatan masyarakat Indonesia diperkirakan sebesar USD 3.620. Jika dibandingkan dengan negara sekitar, angka ini masih jauh di bawah Malaysia (USD 12.127) dan China (USD 8.239), namun berada di atas Filipina (USD 3.073) serta India (USD 1.820). Meski angka ini sering menjadi acuan, namun sebenarnya jumlah tersebut tak menunjukkan pendapatan secara riil.

Untuk melihat pendapatan masyarakat yang sebenarnya, saat ini ekonom menggunakan metode berdasarkan kemampuan daya beli dalam satuan internasional (dalam hal ini USD), atau yang dikenal dengan purchasing power parity. Mengapa menggunakan metode ini? Karena jika diukur secara nominal (seperti angka-angka di atas), maka tingkat kemakmuran suatu masyarakat tak bisa dibandingkan secara apple to apple. Misalnya, untuk memperoleh seporsi Nasi Padang di Indonesia, kita hanya merogoh kocek sebesar USD 1,5. Sedangkan di Malaysia untuk porsi yang sama, kita harus membayarnya hingga mencapai USD 3. Dari contoh tersebut, bisa diartikan bahwa secara nominal daya beli USD 1,5 di Indonesia, setara dengan USD 3 di Malaysia. Artinya, jika Anda memiliki USD 1,5 di Indonesia, maka di Malaysia bernilai USD 3.

Baca entri selengkapnya »

Kostum F.C. Barcelona di Qatar Airways

Kostum F.C. Barcelona di Qatar Airways

Sejak tahun 2010, Qatar muncul sebagai negeri termakmur di dunia. Keberhasilan Qatar sebagai negeri terkaya, tentu mengundang decak kagum sekaligus tanda tanya bagi kita. Bagaimana negeri liliput di Teluk Persia itu, bisa menggerakan roda ekonominya? Padahal 50 tahun lalu, negeri itu hanyalah perkampungan nelayan yang tak begitu berarti. Dari data IMF pada tahun 2015, pendapatan per kapita (purchasing power parity) masyarakat Qatar mencapai USD 145.894. Dengan populasi sebanyak 2,5 juta jiwa — dimana hanya 13%-nya yang menjadi warga negara, Qatar merupakan satu-satunya negara di dunia yang tak berpenduduk miskin. Menurut The Economist, sekitar 14% rumah tangga disini tergolong sebagai miliuner. Meski sangat kaya, namun pemerataan pendapatan di negeri ini relatif senjang (koefisien Gini sebesar 41,1). Hal ini dikarenakan adanya penguasaan kekayaan pada segelintir orang, khususnya anggota keluarga kerajaan.

Dalam empat dekade terakhir, sektor pertambangan memang menjadi sumber utama perekonomian negara. Dari data yang dirilis International Business Publications (IBP), lebih dari 70% penerimaan pemerintah dan 60% PDB Qatar berasal dari minyak bumi dan LNG (gas alam cair). Dengan cadangan minyak mencapai 15 miliar barel dan gas alam lebih dari 7.000 km³, bisa dipastikan dalam 23 tahun ke depan Qatar tetap mengandalkan sumber daya alam sebagai penopang ekonominya. Untuk mengeksplorasi cadangan minyak bumi yang begitu besar, Qatar punya BUMN yang dikelola secara profesional : Qatar Petroleum (QP). Menurut Bloomberg, saat ini QP merupakan produsen gas alam cair terbesar di dunia.

Baca entri selengkapnya »

achmad-zaky

Achmad Zaky, pendiri Bukalapak (sumber : techno.id)

Tahukah Anda berapa nilai (valuasi) Kaskus saat ini? Ya Kaskus – bukan Kasus apalagi Kakus – forum dimana saya, Anda, dan kita semua bisa saling chit chat, minta “cendol” atau sekedar ngelempar “bata”. Menurut catatan The Economist, nilai Kaskus per Juli 2014 lalu telah mencapai USD 80 juta. Saat ini, mungkin valuasi perusahaan yang didirikan oleh Andrew Darwis itu sudah melebihi USD 100 juta. Meski terlihat fantastis, namun itu belum seberapa! Tahukah Anda Go-Jek, perusahaan yang menyediakan jasa transportasi dan pengiriman barang/makanan. Ya, perusahaan ini baru saja memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta (setara Rp 7,2 triliun) dari konsorsium global : Warburg Pincus dan Farallon Capital. Dengan tambahan tersebut, maka per Agustus 2016 kemarin, valuasi start-up besutan Nadiem Makarin itu telah mencapai USD 1,3 miliar atau sekitar Rp 16,9 triliun. Jauh di atas kapitalisasi pasar Bank CIMB Niaga atau Global Mediacom di Bursa Efek Indonesia.

Kalau melihat angka-angka di atas, mungkin Anda akan bertanya-tanya : apa yang membuat para investor mau menggelontorkan dananya sebanyak itu? Jawabannya tentu karena tingginya ekspektasi mereka terhadap perusahaan tersebut. Kalau dilihat dari laporan keuangannya, sampai saat ini Go-Jek masihlah merugi. Kaskus sendiri yang sudah eksis sejak 17 tahun lalu, hanya membukukan pendapatan tak lebih dari Rp 100 miliar. Namun jika dilihat dari jumlah yang telah men-download aplikasi Go-Jek, yakni sebanyak 20 juta kali, maka tergambar bahwa perusahaan ini memiliki prospek cukup baik. Dengan jumlah pengunduh sebesar itu, artinya Go-Jek memiliki basis pelanggan yang cukup besar. Menurut catatan KompasTekno, pada bulan Juni 2016 tercatat ada 20 juta order yang masuk ke dalam aplikasi tersebut. Andai saja Go-Jek mengenakan service charge Rp 2.000 untuk setiap jasa yang diberikan, maka potensi pendapatan per bulan bisa mencapai Rp 40 miliar atau Rp 480 miliar per tahun.

Baca entri selengkapnya »

hamkas-great-story

Bagi Anda yang demen sosok Buya Hamka, baru-baru ini (Agustus 2016) telah terbit buku yang berjudul : Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia. Buku ini boleh dibilang salah satu karya terbaik tentang Hamka : sosok legendaris yang banyak mempengaruhi kaum cerdik cendekia muslim Indonesia – dan juga dunia Melayu. Ditulis oleh James Robert Rush, seorang sejarawan Asia Tenggara asal Amerika Serikat, buku ini terbagi ke dalam enam bab setebal 287 halaman. Mungkin banyak orang yang tak tahu siapa James Robert Rush. Namanya memang tak semengkilap Denys Lombard, George Mc T. Kahin, atau M.C. Ricklefs. Namun tak sedikit karyanya mengenai Indonesia yang telah dipublikasikan. Diantaranya, Java: A Travellers’ Anthology dan Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860–1910. Selain biografi Hamka, Rush juga telah menulis riwayat hidup Pramoedya Ananta Toer dan Abdurrahman Wahid. Tapi keduanya hanya dalam bentuk esai.

Kajian tentang Hamka, memang telah menarik banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri. Mereka mengulitinya dari berbagai aspek. Baik itu novel-novelnya, seperti : “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, “Tuan Direktur”, atau “Merantau ke Deli”; pandangannya tentang keislaman, ataupun gagasannya tentang keindonesiaan. Dan yang menarik, hampir sebagian besar para peneliti itu, menempatkan Hamka sebagai tokoh besar. Tak berlebihan jika puji-pujian terhadap dirinya bertebaran dimana-mana. Menurut Rush, nama Hamka ada di banyak karya. Jika Anda membaca sejarah Islam Indonesia ataupun sejarah perjuangan Republik Indonesia, maka hampir bisa dipastikan Anda akan menemukan Hamka sebagai sumber referensinya. Rush menulis : “In another sense, however, Hamka has been ubiquitous. He has been a source in countless works of modern Indonesia history, …”

Baca entri selengkapnya »

Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Tahun 2018 nanti, warga Palembang boleh berbangga hati. Karena saat itulah mereka satu-satunya warga diluar Jakarta yang pernah mencicipi sebagai tuan rumah Asian Games. Menjadi penyelenggara even terbesar di Asia, memang menjadi dambaan banyak wali kota — dan tentu masyarakatnya. Apalagi jika kota tersebut bukan berstatus sebagai ibu kota negara. Tercatat baru empat kota di Asia yang bukan sebagai ibu kota, yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games. Mereka adalah Hiroshima (1994), Busan (2002), Guangzhou (2010), serta Incheon (2014). Dan Palembang, kota terbesar ke enam di Indonesia, akan menjadi kota kelima di Asia yang mencicipi privelese tersebut. Untuk ukuran nasional, pencapaian ini cukup mengesankan. Terlebih Palembang telah menjadi penyelenggara berbagai even besar, mulai dari PON (2004), Piala Asia (2007), SEA Games (2011), hingga Islamic Solidarity Games (2013).

Walau Palembang telah menjadi host berbagai even besar, namun dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat masihlah belum maksimal. Misalnya, dalam hal infrastruktur dan fasilitas publik. Tak ada perubahan yang berarti, kecuali sarana olah raga yang boleh dibilang hampir setara Jakarta. Namun untuk lalu lintas, transportasi umum, dan ruang terbuka hijau, kota ini masih jauh tertinggal. Dalam hal lalu lintas, jangankan di luar Palembang, di dalam kotanya saja kualitas jalan raya masih belum beranjak dibandingkan keadaan 16 tahun lalu. Jembatan penghubung antara kawasan Ulu dan Ilir, masih mengandalkan Jembatan Ampera dan Musi II. Memang ada dua flyover dan underpass yang baru dibangun, namun rasanya kota yang tak menjadi tuan rumah aneka even-pun, juga banyak membangun fasilitas tersebut. Coba tengok Pekanbaru atau Makassar, pembangunannya terasa lebih massif. Belum lagi bicara jalan penghubung antar kota dari dan menuju Palembang. Kualitasnya sangat mengecewakan! Pada ruas antara Palembang dan Jambi misalnya, atau yang menghubungkan Kota Kayu Agung, banyak badan jalan yang rusak. Padahal ruas itu termasuk kategori jalan negara.

Baca entri selengkapnya »

Kantor pusat VOC di Batavia (sumber : skyscrapercity.com)

Kantor pusat VOC di Batavia (sumber : skyscrapercity.com)

Dalam berbagai seminar, pelatihan, atau temu wicara, kita masih sering mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Anehnya, pernyataan ini sering dilontarkan oleh para akademisi, yang telah malang melintang melakukan penelitian baik di dalam maupun luar negeri. Menurut saya pernyataan semacam ini terasa seperti merendahkan derajat bangsa sendiri. Bagaimana tidak, Belanda yang hanya seukuran Propinsi Sumatera Barat, dengan jumlah penduduk yang tak mencapai 1/15 penduduk Indonesia (dihitung berdasarkan perkiraan tahun 2014), namun bisa menguasai kita selama itu. Bagaimana ceritanya? Lalu ngapain saja nenek moyang kita selama 14 generasi? Benarkah mereka rela dikuasai oleh sebuah bangsa kecil, yang berasal dari negeri nun jauh disana. Selama tiga setengah abad.

Selain merendahkan derajat bangsa, pernyataan itu juga ahistoris. Tak sesuai dengan fakta sejarah, baik yang diteliti oleh sejarawan asing maupun ahli sejarah lokal. Salah satu sejarawan yang sering mengoreksi pernyataan tersebut adalah Taufik Abdullah. Yang menarik, Taufik justru terinspirasi oleh G.J Resink, salah seorang guru sejarah berkebangsaan Belanda yang memperkenalkan pendekatan hukum internasional dalam menelaah sejarah kolonialisme. Baiklah, sebelum kita menggali fakta mengenai kekuasaan Belanda di Nusantara, harus diketahui bahwa bangsa ini baru terbentuk pada tahun 1945. Sebelum itu, yang ada hanyalah kerajaan-kerajaan yang terbentang mulai dari Aceh hingga Maluku. Dan kerajaan-kerajaan itupun memiliki sejarahnya masing-masing. Mulai dari pembentukan, masa kejayaan, hingga persinggungannya dengan orang-orang Eropa. Pada akhirnya memang sebagian besar kerajaan-kerajaan itu jatuh ke dalam kekuasaan Hindia-Belanda. Namun untuk waktunya, tentu bukan 350 tahun. Kalau tak percaya, mari kita telusuri satu per satu. Baca entri selengkapnya »