Archive for the ‘Perkotaan’ Category


Thamrin Nine Tower 1

Setelah 10 tahun lebih Daftar Gedung Tertinggi ini dirilis, sudah banyak perubahan pada lanskap langit Jakarta. Berbeda dengan satu dekade lalu, kini megapolitan terbesar ke dua di dunia ini sudah dipenuhi gedung-gedung jangkung di atas 200 meter. Jika dalam daftar itu baru sebelas gedung yang muncul, maka di tahun ini sudah ada 40 bangunan. Apabila ditambah dengan yang sedang dalam tahap konstruksi, jumlahnya mencapai 55 buah. Angka ini telah melampaui Kuala Lumpur dan Singapura, yang satu dasawarsa lalu masih di atas Jakarta. Berdasarkan data Skyscraper Center, saat ini Jakarta berada di urutan ke-7 sebagai kota dengan pencakar langit di atas 200 meter. Berbeda dengan 10 tahun lalu dimana seluruhnya berada di pusat bisnis (CBD) Jakarta, sekarang gedung-gedung tersebut telah tersebar ke beberapa lokasi. Antara lain di Kemayoran, Pluit, Palmerah, Kebayoran Baru, Karawaci, hingga Cikarang.

Yang juga perlu dicatat adalah, saat ini Jakarta sedang membangun gedung super tall, yakni pencakar langit dengan ketinggian di atas 300 meter. Keempat bangunan tersebut adalah Thamrin Nine Tower 1, Fortune Tower, serta dua menara Indonesia One. Membangun pencakar langit dengan ukuran super tall memang dambaan banyak orang. Ambisi inilah yang kini hendak digapai oleh para penguasa dan pengusaha negeri ini. Mereka nampaknya tak ingin ketinggalan dari negara-negara Arab, Tiongkok, atau jiran Malaysia, yang saat ini sedang rajin-rajinnya membangun super tall. Meski Signature Tower (638 meter) dan Pertamina Tower (523 meter) sudah digagas sejak satu dekade lalu, dan hingga kini tak jelas kelanjutannya, namun dengan pembangunan empat super tall ini telah memberikan asa terhadap kekuatan ekonomi masyarakat kita.

(lebih…)


Martin Prosperity Institute baru-baru ini mengeluarkan hasil kajian tentang urbanisasi di negara-negara ASEAN. Dari penelitian tersebut didapat kesimpulan bahwa kemajuan ekonomi ASEAN akhir-akhir ini ditopang oleh meningkatnya arus urbanisasi ke perkotaan. Negara-negara dengan jumlah kaum urban cukup besar, ternyata juga memiliki pendapatan per kapita yang tinggi. Singapura yang 100% penduduknya berada di perkotaan, kini memiliki GDP (PPP) per kapita di atas USD 90.000. Malaysia yang lebih dari 70%-nya kaum urban, mempunyai income per kapita mencapai USD 28.490. Thailand dan Indonesia, dua negara yang tergolong “middle-low” (masing-masing berpendapatan USD 17.750 dan USD 12.432), lebih dari separuhnya tinggal di perkotaan. Sedangkan Filipina dan Vietnam yang masih berpendapatan rendah (masing-masing sebesar USD 8.223 dan USD 6.925), kurang dari 45%-nya yang di perkotaan.

Disamping memberi dampak positif, urbanisasi juga mendatangkan sejumlah masalah. Seperti kemacetan, emisi CO2, pengelolaan limbah, dan tingginya tingkat kriminalitas. Untuk itu dalam tulisan kali ini, kita akan melihat sejauh mana pemerintah Jakarta – satu-satunya kota di Indonesia yang telah diakui sebagai “kota global” — sudah mengelola kotanya dengan baik. Tentu untuk melihat hal ini, kita perlu mempertimbangkan data-data yang disodorkan oleh lembaga pemeringkat internasional, yang sudah berkali-kali mensurvei kota-kota utama di seluruh dunia. Memang sebagian besar dari lembaga tersebut adalah institusi-institusi Barat yang berbasis di Eropa ataupun Amerika, sehingga indikator yang digunakannya-pun juga sering mengacu kepada idealisme mereka. Tak salah jika dalam penilaiannya sering terjadi bias. Meski ada sejumlah indikator yang tak bisa diaplikasikan, namun penelitian ini bisa menjadi acuan pemerintah untuk melihat sejauh mana Jakarta telah menjadi kota layak huni.

(lebih…)


fo-summarecon-bekasi

Sebagai salah satu kawasan urban yang terus bertumbuh, Bekasi berpotensi melampaui kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Bandung ataupun Surabaya. Meski dalam hal jumlah penduduk antara Bekasi dengan dua kota tersebut tak terlampau jauh, namun dalam hal manajemen birokrasi dan pengelolaan kota, Bekasi jauh tertinggal. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengakui, dalam hal kebersihan dan pengelolaan lingkungan, Bekasi jauh tertinggal dari Surabaya. Hal ini disampaikannya kepada wartawan setelah ia melakukan kunjungan kerja ke “Kota Pahlawan” beberapa bulan lalu. Dalam pertemuan itu, ia juga menyampaikan niatnya untuk membenahi trotoar dan membangun seribu taman di Bekasi.

Tak sampai setahun berselang, Rahmat memenuhi janjinya. Memang belum semuanya rampung ia kerjakan. Namun setidaknya Bekasi nampak lebih hijau dan jalan-jalan protokolnya memiliki trotoar yang representatif. Jalan Chairil Anwar dan Jalan K.H. Noer Alie, dua ruas jalan yang menyisir tepian Kalimalang itu, kini telah memiliki trotoar yang diterangi lampu-lampu taman di malam hari. Tak hanya itu, di beberapa titik terdapat pula taman kecil yang menyediakan bangku beton, dimana dari tempat itu para pelintas bisa memandangi riak air Kalimalang. Jalan Ahmad Yani tak kalah bersolek. Pedestrian di ruas jalan itu juga ikut bersalin rupa. Bangku-bangku taman dan lampu-lampu, dipasang untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat kota. Meski pohon-pohon rindang belum banyak ditanam, namun setidaknya tumbuh-tumbuhan di median jalan telah memberikan kesejukan bagi pejalan kaki. Yang menarik dari pembenahan ini adalah pembuatan marka berukuran besar yang bertuliskan : “Kota Bekasi”. Marka ini dihiasi lampu-lampu sorot di setiap hurufnya, sehingga mengundang para warga untuk berfoto ria.

(lebih…)


Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Jembatan Ampera menghubungkan Kawasan Ulu (atas) dan Ilir

Tahun 2018 nanti, warga Palembang boleh berbangga hati. Karena saat itulah mereka satu-satunya warga diluar Jakarta yang pernah mencicipi sebagai tuan rumah Asian Games. Menjadi penyelenggara even terbesar di Asia, memang menjadi dambaan banyak wali kota — dan tentu masyarakatnya. Apalagi jika kota tersebut bukan berstatus sebagai ibu kota negara. Tercatat baru empat kota di Asia yang bukan sebagai ibu kota, yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games. Mereka adalah Hiroshima (1994), Busan (2002), Guangzhou (2010), serta Incheon (2014). Dan Palembang, kota terbesar ke enam di Indonesia, akan menjadi kota kelima di Asia yang mencicipi privelese tersebut. Untuk ukuran nasional, pencapaian ini cukup mengesankan. Terlebih Palembang telah menjadi penyelenggara berbagai even besar, mulai dari PON (2004), Piala Asia (2007), SEA Games (2011), hingga Islamic Solidarity Games (2013).

Walau Palembang telah menjadi host berbagai even besar, namun dampaknya terhadap peningkatan ekonomi masyarakat masihlah belum maksimal. Misalnya, dalam hal infrastruktur dan fasilitas publik. Tak ada perubahan yang berarti, kecuali sarana olah raga yang boleh dibilang hampir setara Jakarta. Namun untuk lalu lintas, transportasi umum, dan ruang terbuka hijau, kota ini masih jauh tertinggal. Dalam hal lalu lintas, jangankan di luar Palembang, di dalam kotanya saja kualitas jalan raya masih belum beranjak dibandingkan keadaan 16 tahun lalu. Jembatan penghubung antara kawasan Ulu dan Ilir, masih mengandalkan Jembatan Ampera dan Musi II. Memang ada dua flyover dan underpass yang baru dibangun, namun rasanya kota yang tak menjadi tuan rumah aneka even-pun, juga banyak membangun fasilitas tersebut. Coba tengok Pekanbaru atau Makassar, pembangunannya terasa lebih massif. Belum lagi bicara jalan penghubung antar kota dari dan menuju Palembang. Kualitasnya sangat mengecewakan! Pada ruas antara Palembang dan Jambi misalnya, atau yang menghubungkan Kota Kayu Agung, banyak badan jalan yang rusak. Padahal ruas itu termasuk kategori jalan negara.

(lebih…)


Jalan Malioboro, Jogjakarta

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Dari hari ke hari makin banyak saja pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pedesaan. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan kebiasaan lamanya : bersepeda, naik delman, atau berjalan kaki. 45 tahun lalu di Jogjakarta, naik andong merupakan lambang orang berpunya. Di Payakumbuh semasa itu, para pegawai yang bersafari merasa terlihat gagah ketika bersepeda. Begitu pula halnya di Pulau Bali, ibu-ibu penjual salak dengan suka hati berjalan kaki menuju Pasar Sukawati. Tetapi itu dulu, cerita masa saisuk.

Kini sebagian masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan. Alasannya selain lebih praktis, juga mudah dan cepat. Disamping itu, sekarang membeli kendaraan tak terlampau mahal. Terlebih sejak kredit kendaraan bermotor mudah didapat. Namun jika kita amati secara serius, ternyata bukan itu saja yang membuat orang beralih untuk berkendara. Faktor lainnya adalah kurangnya sarana bagi masyarakat yang memilih untuk tak berkendara. Di beberapa kota besar, masih banyak kita jumpai ruas jalan yang tak memiliki trotoar. Ataupun kalau ada, lebarnya tak seberapa dan penuh dengan pedagang asongan.

(lebih…)


Jam Gadang dan Pasar Ateh (belakang)

Jam Gadang dan Pasar Ateh (belakang)

Tak banyak kota di Indonesia yang memiliki geografis kurang menguntungkan, namun mampu memikat para wisatawan. Salah satu dari yang sedikit itu ialah Bukittinggi. Bagi Anda yang belum pernah berkunjung ke kota ini, jangan pernah membayangkan besaran Bukittinggi seperti halnya Jogja ataupun Bandung, apalagi Jakarta. Meski kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik pada masa revolusi, namun bukan berarti yang ada disini segalanya besar dan megah. Satu hal yang menjadikannya besar adalah masyarakatnya yang campin. Sehingga banyak hal-hal yang penting telah terjadi disini.

Untuk ukuran kota kecil, Bukittinggi termasuk kota yang padat. Saat ini, kota yang hanya seluas Kecamatan Tanjung Priok di Jakarta itu, memiliki kepadatan mencapai 4.400 jiwa per kilometer persegi. Meski sepadat itu, namun Bukittinggi memiliki tata kota yang apik. Rumah-rumah penduduk terletak berjejeran, dengan diselingi sawah dan kebun milik ulayat. Disana Anda tak akan menemui gang-gang becek ataupun rumah reot yang berlimpit-limpit, seperti halnya slum area di kota-kota besar. Jalan-jalan yang lurus dari segala penjuru, bermuara disekitar pelataran Jam Gadang dengan bentuk melingkar.

(lebih…)


Lanskap kota Pekanbaru. Nampak Menara Dang Merdu (kiri) dan Perpustakaan Soeman Hs (tengah)

Jika Anda membandingkan wajah Pekanbaru saat ini dengan 15 tahun lampau, maka Anda akan tercengang melihat perubahan yang terjadi. Pada tahun 1997 lalu, Pekanbaru masih relatif terbelakang. Dibanding dengan kota-kota menengah lainnya di Indonesia, perkembangan ibu kota Riau ini terasa jalan di tempat. Dengan jumlah penduduk kurang dari 500.000 jiwa, hanya ada satu sentra keramaian, yakni Pasar Pusat. Ketika itu real estat dan hunian vertikal belum berkembang. Rumah toko-pun bisa dihitung dengan jari. Tak banyak orang yang mau berkunjung ke kota ini, kecuali hendak menjumpai sanak saudara mereka. Penerbangan langsung hanya ada dari Jakarta dan Batam. Itupun satu hari sekali penerbangan.

Namun tengoklah kini! Pekanbaru telah bersalin rupa. Gedung-gedung bertingkat serta mal yang menjadi ciri metropolitan, tumbuh bak cendawan di musim hujan. Tak lama lagi, Jalan Jenderal Sudirman di pusat kota akan menjadi hutan beton. Selain hotel dan perkantoran, apartemen bertingkat juga terlihat banyak dibangun. Tak hanya itu, gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat-pun ikut berubah. Jika sebelumnya warga Pekanbaru cuma bisa berbelanja di pasar-pasar tradisional, maka kini mereka dapat membeli kebutuhan sehari-hari di toko berpendingin ruangan. Sebab beberapa kulakan besar seperti Giant, Lotte Mart, dan Hypermart telah menancapkan kukunya disini. Disamping restoran-restoran siap saji, Starbucks yang menjadi simbol kaum urban tak ketinggalan untuk membuka gerainya disini. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya pendapatan masyarakat Pekanbaru yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.

(lebih…)


Kantor N.V. de Bouwploeg di awal abad ke-20

Tak banyak orang yang tahu, kalau dulunya Mesjid Cut Meutia di kawasan Menteng adalah bekas kantor N.V. de Bouwploeg (biasa disebut Boplo). Boplo adalah perusahaan pengembang Nieuw Gondangdia (sebutan Menteng untuk pertama kalinya), yang didirikan oleh Pieter Jacobus Moojen pada tahun 1912. Selain Moojen, proyek ini juga didesain oleh arsitek Belanda lainnya : F.J Kubatz. Pada masanya, ia adalah seorang arsitek yang jempolan. Rancangan Kubatz sangat terasa pengaruhnya, terutama pada bentuk jalan dan taman-taman di Menteng.

Semula Menteng merupakan lahan perkebunan rakyat yang dimiliki oleh sekitar 3.500 orang. Kemudian pemerintah Batavia membeli lahan tersebut untuk dijadikan pemukiman, menggantikan kawasan Molenvliet (kini Jalan Hayam Wuruk – Gajah Mada) yang mulai padat. Berbeda dengan pemukiman lama di Jakarta Kota, proyek ini dirancang sebagai kota taman tropis dengan ruang terbuka hijau mencapai 30%. Pembangunan Menteng terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama berada di bagian utara, yang meliputi Kelurahan Gondangdia saat ini. Dan fase kedua, terletak di bagian selatan Kali Gresik hingga Kanal Banjir Barat. Pada bagian utara, banyak jalan yang disusun secara radial. Sehingga rumah-rumah hook di kawasan ini memiliki bentuk tanah persegi. Disamping itu, pola ini juga menghasilkan persimpangan jalan yang bercabang-cabang. Di depan Galeri Seni Kunstkring (Bataviasche Kunstkring gebouw) misalnya, terdapat simpang yang menjadi tempat bermuaranya lima lebuh utama. Malah di Javaweg (kini Jalan Cokroaminoto) dan Oude Tamarindelaan (kini Jalan Wahid Hasyim), ditemukan persimpangan yang bercabang enam.

(lebih…)


Bundaran Hotel Indonesia, downtown-nya Jabotabek

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi Jabotabek mencapai 28 juta orang. Angka ini terlihat cukup jomplang, jika kita membandingkannya dengan wilayah metropolitan lain di Indonesia. Bandung, metropolitan kedua terbesar, hanya berpenduduk 7,6 juta jiwa; Surabaya 5,6 juta jiwa; dan Medan 4,1 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar ini, berarti sekitar 11,8% penduduk Indonesia atau seperlima penduduk Pulau Jawa berdomisili di wilayah ini. Daerah metropolitan Jabotabek terdiri dari 10 kota serta 4 kabupaten, dengan tingkat kerapatan penduduk yang bervariasi. Wilayah selatan yakni Kabupaten Bogor, merupakan wilayah dengan penduduk cukup jarang. Sedangkan Jakarta Pusat, merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi. Bekasi dan Tangerang, dua daerah penyangga di bagian timur dan barat, memiliki populasi yang hampir setara.

Untuk memacu mobilitas penduduk, sejak tahun 1978 pemerintah membangun jalan bebas hambatan dari Ciawi hingga Cawang terus ke Tanjung Priok. Jalan sepanjang 60 kilometer ini, menjadi poros utama utara-selatan. Sedangkan jalan tol Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Merak, menjadi penghubung timur dan barat. Sejak tahun 2005, jalan tol Jakarta-Cikampek telah bersambung dengan jalan tol Purbaleunyi. Sehingga mengintegrasikan wilayah Jabotabek dengan metropolitan Bandung Raya. Demi kelancaran jalan-jalan arteri di tengah kota, pemerintah juga menyediakan jalan tol Lingkar Dalam Kota dan Lingkar Luar Kota. Keduanya bergerak melingkar mengelilingi downtown Jakarta yang menjadi pusatnya. Selain jalan bebas hambatan, pemerintah kota juga membangun empat jalur rel kereta api yang melayani rute Bogor-Jakarta Kota, Bekasi-Jakarta Kota, Serpong-Jakarta Kota, serta Tangerang-Jakarta Kota. Dibanding wilayah metropolitan di belahan bumi lainnya, Jabotabek masihlah tertinggal. Angkutan massal yang menjadi salah satu prasyarat mutlak sebuah metropolitan, hanya mengandalkan Transjakarta dan KRL komuter. Monorel yang sudah berjalan pembangunannya sejak pertengahan dekade 1990-an, terhenti akbiat krisis. Sedangkan subway dan MRT, hanya berkembang dari wacana ke wacana. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi Jabotabek di masa mendatang.

(lebih…)


Jl. Sudirman, dekat kawasan Bendungan Hilir

Dua wajah … dua kurun … dua bulevar ibu kota. Dua poros jalan yang menggambarkan dua semangat Jakarta Raya. Poros Weltevreden – Meester Cornelis dan Poros Sudirman – Thamrin. Keduanya punya kisah, seni arsitektur, dan kehidupan yang menarik untuk diceritakan.

Di kedua poros ini, masyarakat dari berbagai tingkatan sosial saling bertatap muka, tahu menahu, tapi tak saling tegur sapa. Manusia-manusia miskin yang berjajaran, membaur bersama kaum-kaum super kaya, dalam ruang dan waktu yang seirama. Beberapa bangunan tua yang nampak lusuh, serta deretan gedung-gedung kaca yang kilau kemilau, telah menjadi saksi begitu kuatnya orang-orang Jakarta mengejar mimpi.

 

Poros Weltevreden – Meester Cornelis

Jalan Kramat, Salemba, hingga Matraman, dulu diakrabi sebagai Poros Weltevreden – Meester Cornelis. Jalur ini merupakan ruas utama pertama di Jakarta yang menjadi bagian Poros Anyer-Panarukan. Di jalan ini, telah banyak kejadian yang ditorehkan. Dari aktivitas politik, ekonomi, sampai budaya. Sebut saja misalnya Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan (1945). Setelah itu, revolusi politik tahun 1966 dan 1998 juga dimulai dari poros ini. Dari Salemba-lah mahasiswa-mahasiswa Indonesia mulai melancarkan aksinya menggulingkan kekuasaan otoriter dua rezim : Soekarno dan Soeharto.

(lebih…)