K-Pop: Dibalik Gemerlap, Ada Sisi Gelap

Posted: 17 Juni 2025 in Hiburan
Tag:, , , , ,

Idol K-Pop pingsan di atas panggung (sumber : mundo-kpop.info)

Seperti yang kita tahu, industri K-Pop tuh bukan main hebatnya. Mereka sudah menghasilkan sederet penampil keren, grup legendaris, dan lagu-lagu yang nempel terus di ingatan pecinta musik dunia. Siapa yang tak tau dengan BTS, Blackpink, Exo, Twice, atau Stray Kids. Mereka adalah grup-grup musik Korea yang namanya telah melanglang buana. Tapi dibalik lagu yang catchy dan visual yang cakep, ada hal besar yang jarang disorot: sisi gelap industri tersebut. Sebenarnya kalau mau jujur, semua industri hiburan itu — baik di Korea, Amerika, ataupun Indonesia, punya sisi gelapnya masing-masing. Kalau di Indonesia mungkin kita sering mendengar artis-artis yang terjun ke dunia prostitusi dan menjadi simpanan “om-om senang”. Sedangkan di Amerika, banyak yang ketergantungan pada narkoba, minum-minuman keras, dan tak sedikit yang terlilit hutang. Lantas, apa yang menjadi masalah bagi para selebritis Korea?

Kita semua tahu, K-Pop adalah salah satu senjata rahasia Korea Selatan buat mendongkrak ekonomi dan pariwisatanya. Gara-gara K-Pop, orang makin cinta sama drakor, konten-konten YouTube, film, dan bahkan pengen datang ke Korea. Selain itu di awal dekade 2010-an, dunia sempat dilanda oleh gelombang Korea atau yang dikenal dengan hallyu. Dimana dalam gelombang tersebut telah terjadi peningkatan popularitas budaya negeri gingseng dari urutan ke-31 (2017) menjadi peringkat tujuh dunia (2022). Korea Foundation dan Kementerian Luar Negeri mereka juga mencatat, bahwa di tahun lalu sudah ada sekitar 225 juta pecinta musik dan drama Korea di seluruh dunia. Jumlah ini meningkat berlipat-lipat jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang baru sebanyak 9,26 juta orang. Tak cuma itu, gara-gara demam Korea, sekitar tiga dari lima pengguna Netflix telah menonton acara-acara Korea. Dan waktu menonton untuk program-program tersebut, juga bertumbuh enam kali lipat dalam waktu empat tahun. Walau mereka telah menorehkan catatan yang begitu gemilang, namun K-Pop juga punya masalah yang serius, terutama soal eksploitasi kerja dan kesehatan mental para idol.

Oke, sebelum ngomongin kesehatan mental, kita mulai dulu dari akar masalahnya, yaitu budaya kerja yang berlebihan. Sudah menjadi pemandangan biasa, banyak idol yang sampai jatuh pingsan di panggung, gara-gara kelelahan. Mereka terlalu capek karena jadwal manggungnya yang begitu padat, ditambah porsi latihan yang tak mengenal batas. Terkadang mereka hanya tidur 2-3 jam sehari, dan porsi makanan yang mesti dibatasi. Seorang K-Popers harus menjaga berat badannya ketika akan tampil, sehingga ada diantara mereka yang sampai takut minum banyak air putih. Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja, banyak para idol yang terpaksa mengabaikannya. Mereka lebih memilih diet ketat, tenimbang harus tampil dengan badan yang sedikit melar.

Dalam dunia kerja ada yang namanya toxic productivity. Dimana manusia kerja terus-terusan, sampai lupa istirahat, lupa makan, hingga menyebabkan rusaknya kondisi mental. Bahkan di media sosial, budaya hustle semacam ini sering banget dipromosikan. Seolah-olah kalau kamu gak kerja setiap hari, kamu gak dianggap keren. Padahal, ini gak sehat sama sekali looh … Dan sayangnya, budaya seperti ini sudah menjadi standar di industri K-Pop. Perusahaan-perusahaan hiburan besar di Seoul, tak segan-segan nge-push para idol mereka untuk terus latihan, manggung, promo, bahkan syuting reality show tanpa jeda. Gak heran kalau banyak idol yang akhirnya tumbang, baik secara fisik maupun mental.

* * *

Buat kalian yang akan memasuki fase dunia kerja, bekerja keras itu memang bagus. Tapi kalau sampai membuat keseimbangan hidupmu jadi rusak, maka patut dipertanyakan. Jangan sampai karena kita kerja, kita jadi lupa bersosialisasi, lupa dengan keluarga, bahkan hingga tak punya waktu untuk mengapresiasi diri. Faktanya, kerja yang berlebihan dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit serius: mulai dari kelelahan kronis, nyeri badan, sampai serangan jantung dan stroke. Meskipun generasi muda sekarang (Gen Z dan Milenial) sudah mulai sadar akan bahaya budaya kerja yang tiada henti, namun sayangnya di industri K-Pop sistem ini masih berjalan. Idol yang sebenarnya butuh istirahat, terus didorong untuk perform demi memenuhi keinginan fans dan keuntungan perusahaan.

Banyak idol yang merasa gak bisa jadi diri sendiri. Mereka harus selalu tampil sempurna, punya tubuh ideal, kepribadian ceria, dan gak boleh kelihatan capek. Tapi dibalik senyum itu, banyak yang sebenarnya lagi berjuang untuk menghilangkan rasa cemas, depresi, bahkan benci terhadap diri sendiri. Sayangnya, ngomongin soal mental health di Korea, apalagi di dunia hiburan, masih dianggap hal yang tabu. Banyak idol yang takut ketahuan ketika pergi ke psikolog, karena takut dicap lemah atau takut kehilangan fans. Akibatnya mereka menyimpan semua rasa sakit itu sendiri hingga akhirnya mereka tak tahan lagi. Buat idol yang tak berpikir panjang, mereka ingin cepat-cepat mengakhiri rasa stress ini dengan cara bunuh diri. Seperti yang telah terjadi pada Jonghyun (18 Desember 2017), Sulli (14 Oktober 2019), dan Hara Gu (24 November 2019).

Song Mingi (sumber : cumicumi.com)

Meski isu mental health masih tabu untuk dibicarakan, namun dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran soal kesehatan mental di kalangan K-Popers mulai meningkat. Beberapa idol mulai berani speak up, seperti AleXa, Jaebeom (GOT7), serta grup-grup seperti BTS dan Stray Kids. Bahkan grup musik Ateez, sudah membuat lagu tentang struggle mental health yang mereka alami. KQ Entertainment, tempat Ateez bernaung, juga sempat memberikan waktu istirahat kepada salah satu rapper-nya : Song Mingi, untuk fokus menjalani masa pemulihan. Hal seperti ini harusnya sudah menjadi standar buat semua perusahaan entertainment, agar tak semakin banyak lagi idol yang bunuh diri. Mungkin sebaiknya, setiap perusahaan hiburan di Korea harus punya psikolog atau konselor internal. Sehingga apabila muncul masalah mental health di kalangan idol mereka, jadi bisa cepat tertangani. Sebagai tambahan, para idol juga harus bisa mengajukan cuti buat pemulihan mental. Karena kalau tidak, dampaknya bisa sangat fatal.

Selain Ateez, penyanyi rap berusia 29 tahun Suga (anggota BTS) juga sering menyuarakan kesehatan mental yang dialaminya. Ia sering berbicara tentang perjuangannya melawan depresi, kecemasan sosial, dan OCD (Obsessive-Complusive Disorder) sambil menyampaikan belasungkawa kepada para penggemarnya yang juga bernasib sama. Suga membuka diri tentang perjuangannya menghadapi gangguan mental di tahun 2016, ketika ia merilis mixtape pertamanya : Agust D. Dalam mixtape tersebut, ia membangun alter-ego yang menolak semua ekspektasi masyarakat tentang dirinya. Pada bulan Mei 2021, dalam sebuah wawancara dengan majalah Rolling Stone, Suga menjelaskan tentang emosi negatifnya yang sering datang dan pergi. Ia menambahkan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental harus didorong untuk sering curhat, tenimbang diam dan menyimpan deritanya sendiri.

Kang Daniel, mantan anggota grup Wanna One, secara terbuka membagikan kisah perjuangannya melawan gangguan mental dalam albumnya yang bertajuk Yellow. Album yang dirilis pada April 2021 tersebut berisi lagu-lagu seperti “Paranoia” dan “Antidote”, yang terinspirasi dari masa rehatnya selama tiga bulan setelah mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan panik. Masa jeda tersebut menjadi momen penting baginya untuk lebih memahami perasaan terhadap dirinya sendiri maupun industri hiburan secara keseluruhan. Ia mengaku kini merasa jauh lebih kuat dan lebih baik secara emosional.

Dalam sebuah wawancara bersama majalah musik asal Inggris : NME, Kang Daniel menyatakan: “Saya tak merasa berubah, tetapi saya merasa ada perubahan yang terjadi. Saya masih membaca komentar-komentar buruk, tetapi karena saya mampu mengatasinya, saya bisa menghadapinya sekarang. Ada cara tertentu untuk melakukannya, dan saya percaya pada diri saya sendiri serta orang-orang di sekitar saya. Ada hari-hari baik dan hari-hari buruk, tetapi selalu ada alasan untuk hidup. Ada hal-hal baik dalam hidup, dan itulah yang sedang saya cari sekarang.” Ternyata, menjadi idol itu tak seenak yang dibayangkan ya. Ada harga yang harus dibayar, dan salah satu yang terbesar adalah potensi gangguan jiwa. Gimana, masih berminat untuk menjadi artis?

Tinggalkan komentar