Posts Tagged ‘Batak Toba di Medan’


Patung Guru Patimpus (sumber : kompas.com)

Akhir-akhir ini perdebatan tentang sejarah kota Medan kembali mengemuka. Di media sosial, banyak pihak yang mengklaim kalau Medan adalah kota orang Batak. Ada pula pihak yang menyorongkan data, bahwa Medan didirikan oleh etnis Karo. Tak ketinggalan dari suku Melayu yang menegaskan kalau kota ini berdiri di atas tanah ulayat mereka. Perdebatan ini muncul karena adanya Surat Edaran (SE) Walikota yang hendak menertibkan pedagang daging-non halal di kota Medan. SE tersebut lantas memicu perdebatan hingga aksi demonstrasi di depan kantor Walikota Medan. Demonstrasi pertama diselenggarakan oleh perkumpulan Horas Bangso Batak di tanggal 26 Februari 2026 yang menolak diterbitkannya SE tersebut. Lima hari kemudian, giliran Aliansi Umat Islam Kota Medan yang menggelar aksi tandingan serta mendukung keputusan Walikota Rico Waas. Meski kedua kelompok ini telah menyampaikan aspirasinya, namun perdebatan di media sosial terus berlanjut. Perdebatan yang semula hanya berkisar pada penertiban penjualan babi, melebar hingga klaim kepemilikan dan pendirian kota terbesar di Sumatera itu.

Sebagaimana diketahui, Medan merupakan kota berbilang kaum yang sudah dibina sejak satu setengah abad lalu. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2000, Medan dihuni oleh Suku Jawa (33%), Batak Toba (19,2%), Tionghoa (10,6%), Mandailing (9,4%), Minangkabau (8,6%), Melayu (6,6%), Karo (4,1%), Aceh (2,8%) serta etnis lainnya seperti Simalungun, Nias, dan Tamil yang kurang dari 1%. Karena letaknya di tepian Selat Malaka dan bagian timur Pulau Sumatera, kota ini menjadi persimpangan jalan (cross-road) dari empat budaya besar : Melayu, Batak (Karo), Minangkabau, dan Aceh. Meski dalam catatan sejarah, Medan didirikan oleh etnis Karo (sebagian mengklasifikasikan Karo bagian dari Batak), namun Medan juga berdiri di atas ulayat masyarakat Melayu. Semula, kawasan ini hanya berupa kampung biasa yang tak begitu bernilai. Meski terletak di pertemuan Sungai Deli dan Babura, namun masyarakat tempatan tak berhasil memanfaatkan letaknya yang strategis sebagai bandar ekonomi penting. Malah di awal abad ke-19, Batubara yang terletak 120 kilometer di sebelah selatan, lebih ramai dibandingkan Medan. Kota ini baru berkembang sejak dibukanya perkebunan tembakau oleh kolonial Belanda.

(lebih…)