Arsip untuk ‘Arsitektur’ Kategori

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Dari hari ke hari makin banyak saja pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pedesaan. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan kebiasaan lamanya : bersepeda, naik delman, atau berjalan kaki. 45 tahun lalu di Jogjakarta, naik andong merupakan lambang orang berpunya. Di Payakumbuh semasa itu, para pegawai yang bersafari merasa terlihat gagah ketika bersepeda. Begitu pula halnya di Pulau Bali, ibu-ibu penjual salak dengan suka hati berjalan kaki menuju Pasar Sukawati. Tetapi itu dulu, cerita masa saisuk.

Kini sebagian masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan. Alasannya selain lebih praktis, juga mudah dan cepat. Disamping itu, sekarang membeli kendaraan tak terlampau mahal. Terlebih sejak kredit kendaraan bermotor mudah didapat. Namun jika kita amati secara serius, ternyata bukan itu saja yang membuat orang beralih untuk berkendara. Faktor lainnya adalah kurangnya sarana bagi masyarakat yang memilih untuk tak berkendara. Di beberapa kota besar, masih banyak kita jumpai ruas jalan yang tak memiliki trotoar. Ataupun kalau ada, lebarnya tak seberapa dan penuh dengan pedagang asongan.

(lebih…)

Kantor N.V. de Bouwploeg di awal abad ke-20

Tak banyak orang yang tahu, kalau dulunya Mesjid Cut Meutia di kawasan Menteng adalah bekas kantor N.V. de Bouwploeg (biasa disebut Boplo). Boplo adalah perusahaan pengembang Nieuw Gondangdia (sebutan Menteng untuk pertama kalinya), yang didirikan oleh Pieter Jacobus Moojen pada tahun 1912. Selain Moojen, proyek ini juga didesain oleh arsitek Belanda lainnya : F.J Kubatz. Pada masanya, ia adalah seorang arsitek yang jempolan. Rancangan Kubatz sangat terasa pengaruhnya, terutama pada bentuk jalan dan taman-taman di Menteng.

Semula Menteng merupakan lahan perkebunan rakyat yang dimiliki oleh sekitar 3.500 orang. Kemudian pemerintah Batavia membeli lahan tersebut untuk dijadikan pemukiman, menggantikan kawasan Molenvliet (kini Jalan Hayam Wuruk – Gajah Mada) yang mulai padat. Berbeda dengan pemukiman lama di Jakarta Kota, proyek ini dirancang sebagai kota taman tropis dengan ruang terbuka hijau mencapai 30%. Pembangunan Menteng terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama berada di bagian utara, yang meliputi Kelurahan Gondangdia saat ini. Dan fase kedua, terletak di bagian selatan Kali Gresik hingga Kanal Banjir Barat. Pada bagian utara, banyak jalan yang disusun secara radial. Sehingga rumah-rumah hook di kawasan ini memiliki bentuk tanah persegi. Disamping itu, pola ini juga menghasilkan persimpangan jalan yang bercabang-cabang. Di depan Galeri Seni Kunstkring (Bataviasche Kunstkring gebouw) misalnya, terdapat simpang yang menjadi tempat bermuaranya lima lebuh utama. Malah di Javaweg (kini Jalan Cokroaminoto) dan Oude Tamarindelaan (kini Jalan Wahid Hasyim), ditemukan persimpangan yang bercabang enam.

(lebih…)

Bundaran Hotel Indonesia, downtown-nya Jabotabek

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi Jabotabek mencapai 28 juta orang. Angka ini terlihat cukup jomplang, jika kita membandingkannya dengan wilayah metropolitan lain di Indonesia. Bandung, metropolitan kedua terbesar, hanya berpenduduk 7,6 juta jiwa; Surabaya 5,6 juta jiwa; dan Medan 4,1 juta jiwa. Dengan jumlah sebesar ini, berarti sekitar 11,8% penduduk Indonesia atau seperlima penduduk Pulau Jawa berdomisili di wilayah ini. Daerah metropolitan Jabotabek terdiri dari 10 kota serta 4 kabupaten, dengan tingkat kerapatan penduduk yang bervariasi. Wilayah selatan yakni Kabupaten Bogor, merupakan wilayah dengan penduduk cukup jarang. Sedangkan Jakarta Pusat, merupakan daerah dengan tingkat kepadatan penduduk paling tinggi. Bekasi dan Tangerang, dua daerah penyangga di bagian timur dan barat, memiliki populasi yang hampir setara.

Untuk memacu mobilitas penduduk, sejak tahun 1978 pemerintah membangun jalan bebas hambatan dari Ciawi hingga Cawang terus ke Tanjung Priok. Jalan sepanjang 60 kilometer ini, menjadi poros utama utara-selatan. Sedangkan jalan tol Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Merak, menjadi penghubung timur dan barat. Sejak tahun 2005, jalan tol Jakarta-Cikampek telah bersambung dengan jalan tol Purbaleunyi. Sehingga mengintegrasikan wilayah Jabotabek dengan metropolitan Bandung Raya. Demi kelancaran jalan-jalan arteri di tengah kota, pemerintah juga menyediakan jalan tol Lingkar Dalam Kota dan Lingkar Luar Kota. Keduanya bergerak melingkar mengelilingi downtown Jakarta yang menjadi pusatnya. Selain jalan bebas hambatan, pemerintah kota juga membangun empat jalur rel kereta api yang melayani rute Bogor-Jakarta Kota, Bekasi-Jakarta Kota, Serpong-Jakarta Kota, serta Tangerang-Jakarta Kota. Dibanding wilayah metropolitan di belahan bumi lainnya, Jabotabek masihlah tertinggal. Angkutan massal yang menjadi salah satu prasyarat mutlak sebuah metropolitan, hanya mengandalkan Transjakarta dan KRL komuter. Monorel yang sudah berjalan pembangunannya sejak pertengahan dekade 1990-an, terhenti akbiat krisis. Sedangkan subway dan MRT, hanya berkembang dari wacana ke wacana. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi Jabotabek di masa mendatang.

(lebih…)

Jl. Sudirman, dekat kawasan Bendungan Hilir

Dua wajah … dua kurun … dua bulevar ibu kota. Dua poros jalan yang menggambarkan dua semangat Jakarta Raya. Poros Weltevreden – Meester Cornelis dan Poros Sudirman – Thamrin. Keduanya punya kisah, seni arsitektur, dan kehidupan yang menarik untuk diceritakan.

Di kedua poros ini, masyarakat dari berbagai tingkatan sosial saling bertatap muka, tahu menahu, tapi tak saling tegur sapa. Manusia-manusia miskin yang berjajaran, membaur bersama kaum-kaum super kaya, dalam ruang dan waktu yang seirama. Beberapa bangunan tua yang nampak lusuh, serta deretan gedung-gedung kaca yang kilau kemilau, telah menjadi saksi begitu kuatnya orang-orang Jakarta mengejar mimpi.

 

Poros Weltevreden – Meester Cornelis

Jalan Kramat, Salemba, hingga Matraman, dulu diakrabi sebagai Poros Weltevreden – Meester Cornelis. Jalur ini merupakan ruas utama pertama di Jakarta yang menjadi bagian Poros Anyer-Panarukan. Di jalan ini, telah banyak kejadian yang ditorehkan. Dari aktivitas politik, ekonomi, sampai budaya. Sebut saja misalnya Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan (1945). Setelah itu, revolusi politik tahun 1966 dan 1998 juga dimulai dari poros ini. Dari Salemba-lah mahasiswa-mahasiswa Indonesia mulai melancarkan aksinya menggulingkan kekuasaan otoriter dua rezim : Soekarno dan Soeharto.

(lebih…)

Wisma 46 di tengah-tengah pencakar langit Jakarta

Indonesia tak kalah dengan negara-negara lain yang telah maju di dunia. Mampu membuat struktur bangunan yang menjulang tinggi ke langit. Saat ini bangunan tertinggi di Indonesia ialah menara televisi Indosiar, yang terletak di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Tinggi menara mencapai 395 meter dan berfungsi sebagai pemancar siaran Indosiar ke seluruh Indonesia.

Untuk kategori gedung tertinggi, Indonesia belum bisa berbicara banyak. Gedung-gedung tinggi di Indonesia, masih kalah ukuran jika dibandingkan dengan gedung-gedung di Kuala Lumpur atau Singapura. Malah jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, ataupun Uni Emirat Arab, Indonesia tidak ada apa-apanya. Sejak tahun 1997, Indonesia telah berencana untuk membangun gedung tertinggi di dunia, yakni Menara Kemayoran. Namun, menara yang kabarnya akan dibangun setinggi 550 meter ini, hingga kini tak pernah terwujud. Sekarang Indonesia hanya berpuas diri dengan Wisma 46, yang menjadi gedung tertinggi dengan ketinggian 262 meter. Gedung perkantoran milik Bank Negara Indonesia ini terletak di Jalan Sudirman, tepat di jantung ibu kota Jakarta. Bentuknya yang unik seperti pulpen, menjadikan Wisma 46 sebagai ikon kota Jakarta disamping Tugu Monas. Pembangunan Indonesia yang tidak merata, tercermin pula pada penyebaran pencakar langitnya, dimana dari 25 pencakar langit tertinggi, semuanya berada di Jabotabek (baca: Jakarta).

 

Berikut 25 Gedung Tertinggi di Indonesia :

The Peak Tower

1. Wisma 46, tinggi 262 meter, 48 lantai, selesai dibangun tahun 1996, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Pusat.
2. Menara BCA, tinggi 230 meter, 56 lantai, selesai dibangun tahun 2009, terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.
3. The Peak Tower I, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.
4. The Peak Tower II, tinggi 218,5 meter, 55 lantai, selesai dibangun tahun 2006, terletak di Jalan Sudirman Jakarta Selatan.
5. Graha Energi, tinggi 217 meter, 40 lantai, selesai dibangun tahun 2008, terletak di Sudirman CBD Jakarta Selatan. (lebih…)