Migrasi Bugis : Dari Pelaut Menjadi Raja

Posted: November 15, 2010 in Sejarah
Tag:, , , , , , , ,

Patung Sultan Hasanuddin di Makassar

Christian Pelras dalam bukunya yang kesohor : The Bugis, bercerita tentang riwayat hidup masyarakat Bugis dari awal abad pertama hingga abad kontemporer. Melalui karyanya itu, Pelras menuturkan kehidupan masyarakat Bugis yang pada mulanya merupakan masyarakat agraris, kemudian bermigrasi sejak jatuhnya Makassar pada tahun 1666. Di perantauan, orang-orang Bugis terkenal sebagai pelaut ulung, serdadu bayaran, dan penguasa kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Peran dan kiprah mereka, telah mewarnai perjalanan sejarah Indonesia, khususnya pada abad ke-18 dan 19 Masehi.

 

Dari Darat ke Laut

Bugis, salah satu dari tiga etnik di Nusantara (selain Banjar dan Minangkabau) yang telah menempatkan manusia-manusianya di seberang lautan sejak ratusan tahun lampau. Kepindahan masyarakat Bugis-Makassar, lebih disebabkan karena besarnya dorongan politik di Sulawesi Selatan, yang merupakan kampung halaman mereka. Kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar yang telah bersaing sejak abad ke-14, menciptakan ketegangan yang berkepanjangan. Aliansi, ekspansi, dan peperangan yang berlangsung ratusan tahun lamanya, mengundang petualang-petualang asing untuk ikut bermain di dalamnya. Pemerintah Hindia-Belanda yang tahu keadaan ini, menjadi pihak yang paling siap membantu salah satu kerajaan yang bersaing.

Kisah terdiasporanya masyarakat Sulawesi Selatan ke seluruh Nusantara, bermula dari kekonyolan Arung Palakka yang meminta bala bantuan Hindia-Belanda. Ketika itu, Kerajaan Bone yang dipimpinnya, memang dalam keadaan terjepit. Di bawah kendali Sultan Hasanuddin, Kesultanan Gowa tetangga sekaligus pesaingnya, mencapai puncak peradaban. Wilayahnya yang terus berkembang, mengancam eksistensi Bone yang semakin rapuh. Di pihak lain, ekspansi dagang Gowa ke seberang lautan, juga mengancam jaringan perdagangan Belanda di Indonesia Timur. Keadaan ini menyebabkan, terjadinya aliansi Bone-Belanda di Sulawesi.

Kuatnya aliansi Bone-Belanda, berakibat pada jatuhnya benteng Makassar ke tangan Kompeni. Keadaan ini semakin diperparah oleh Perjanjian Bongaya (tahun 1666) yang melarang orang-orang Makassar pergi melaut. Hingga usai Perang Makassar tahun 1669, seluruh wilayah Kesultanan Gowa telah menjadi bagian dari Pax Nederlandica. Orang-orang Bugis-Makassar yang tak puas dengan kondisi politik Sulawesi Selatan, memilih untuk pergi merantau dan mengancam Belanda di perairan. Mereka bertekad, akan melawan setiap kapal-kapal Belanda yang mereka temui di lautan.

 

Bajak Laut, Serdadu Bayaran, hingga Elit Kerajaan

Kapal Pinisi mengantarkan masyarakat Bugis mengarungi lautan

Menjadi bajak laut dan serdadu bayaran, merupakan dua profesi utama perantau Bugis. Kiprah bajak laut dan perompak Bugis, agak samar-samar terdengar. Di kalangan ahli dan sejarawan, eksistensi mereka sempat menjadi perdebatan. Namun Bernard Vlekke, dalam bukunya : Nusantara, Sejarah Indonesia, melukiskan keberadaan armada perompak Bugis yang banyak berkeliaran di perairan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda, dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal antar-mereka. Walau kiprah lanun Bugis tidak lebih hebat dari orang-orang Moro, namun serangan sporadis yang mereka lancarkan, kerap menjadi momok menakutkan bagi perusahaan dagang Belanda : VOC.

Reputasi mereka sebagai serdadu bayaran, juga dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk memperluas jajahannya. Pada masa Perang Paderi (1803-1838), selain orang-orang Ambon dan Madura, laskar Bugis dikenal sebagai serdadu Belanda yang tangguh. Di Jawa, di bawah pimpinan Karaeng Galesong dan Karaeng Naba, mereka berperang melawan pasukan Trunojoyo membela boneka Belanda, Prabu Mangkurat II. Di Banten, pasukan Bugis juga turut membantu Belanda membersihkan sisa-sisa pengikut Sultan Ageng Tirtayasa.

Tahun 1722 huru hara besar terjadi di Johor. Era ini menjadi awal mula serdadu bayaran Bugis berkiprah dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan semenanjung. Pada saat itu, pasukan Bugis pimpinan Daeng Perani, menjadi tentara sewaan Bendahara Abdul Jalil untuk merebut tahta Johor dari tangan Raja Kecil, seorang pengelana asal Pagaruyung. Dalam peperangan itu, pasukan Bugis berhasil memenangkan pertarungan, sekaligus menaikkan Abdul Jalil ke singgasana Johor. Walau Abdul Jalil naik tahta, namun posisinya di kerajaan hanya menjadi bayang-bayang Bugis. Pada masa selanjutnya, raja-raja Johor justru banyak datang dari kalangan Bugis-Makassar.

Kerajaan Selangor yang lahir pada abad ke-18, juga didirikan oleh seorang Bugis bergelar Sultan Salehuddin Syah. Dari penelusuran silsilah raja-raja Bugis, diketahui bahwa Salehuddin Syah atau Raja Lumu, merupakan keturunan Daeng Cella, salah satu dari empat saudara Daeng Perani. Kedua kakak-beradik itu, adalah cicit dari raja Luwu terkemuka, Wetenrileleang. Melengkapi Lontara Akkarungeng yang sudah tua, kitab Tuhfat al-Nafis karangan Raja Ali Haji, juga menceritakan kebesaran Bugis di masa lampau.

Tun Abdul Razak dan Najib Tun Razak

Kini, banyak perantau Bugis-Makassar telah beranak-pinak dan hidup makmur di perantauan. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, sekurangnya 1 juta orang keturunan Sulawesi Selatan bermukim di Kalimantan, 250 ribu orang tinggal di Sumatra, dan 750 ribu orang menjadi warga negara Malaysia. Di antara warga Malaysia, Tun Abdul Razak dan Najib Tun Razak, merupakan dua tokoh Makassar paling cemerlang. Bapak beranak ini, sukses menjadi perdana menteri Malaysia yang kedua dan keenam. Najib dalam kunjungannya ke Gowa setahun nan lampau, mengemukakan bahwa dirinya adalah salah satu contoh sukses perantau Makassar di Malaysia. Sebagai tanda bahwa dirinya merupakan keturunan pelaut Makassar, di ruang kerjanya ditempatkan replika kapal pinisi berukuran sedang. Baginya, kapal pinisi menjadi simbol masyarakat Makassar dalam mengarungi lautan Nusantara.

 
Lihat pula :
1. Dinamika Etnis Bugis-Makassar dan Buton di Rantau Indonesia Timur
 
sumber gambar : http://www.tribunnews.com

Iklan
Komentar
  1. Kuntjoro Sukardi berkata:

    Kembali pada prinsip sosial budaya Nusantara. Suku-suku bangsa yang alam pesisirnya dominan, memiliki wawasan yang lebih luas dari pada mereka yang ada di pedalaman. Dinamika laut yang mengelilinginya, merangsang respons-respons untuk memanfaatkannya. Dlam kurun waktu puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun, gelora itu mendinamisasi manusianya untuk berbuat lebih agresif, dan progresif.
    Di bentang alam Sulawesi Selatan / Tenggara, bukan saja orang Bugis, tapi juga ada orang Makassar, orang Bone, dan orang Mandar yang aktif dalam percaturan kemasyarakatan sana. Hanya saja, barangkali, Bugis-lah yang lebih banyak diberitakan. Jadi tugas para sejarahwan untuk menelisik lebih mendalam.

    • afandri81 berkata:

      Selain Bugis-Makassar dan Mandar, ada satu lagi pak masyarakat yang cukup dinamis dan berorientasi ke laut, yakni Suku Buton. Tiga suku masyarakat itu, dikenal dengan istilah BBM (Bugis, Buton, dan Makassar). Selain sebagai nelayan, ketiga etnis tersebut banyak mengisi pasar-pasar tradisional di pesisir timur Kalimantan, Maluku, dan Papua.

  2. arief taufan berkata:

    “…kekonyolan Arung Palakka…” hati2 dengan kalimat ini.. baca sejarah baik2..kerajaan gowa memperbudak 10.000 orang bone untuk membuat pertahanan laut, mereka bekerja siang dan malam dalam kondisi yang memprihatinkan dengan menjadi budak…arung palakka yang salah satu bangsawan saat itu hanya ingin rakyatnya hidup wajar, bukan jadi budak, perjalanan panjang beliau mengantarkan pada sebuah persekutuan dengan belanda. mohon lebih hati2 dalam pemilihan kata.

    • Afandri Adya berkata:

      Terimakasih Bung Arief Taufan atas masukannya. Senang berdiskusi dengan Anda. Yang saya maksudkan disini adalah ulah Arung Palakka mengakibatkan jatuhnya seluruh Sulawesi Selatan ke dalam imperium Hindia-Belanda. Aliansi Bone-Belanda toh tak mengubah keadaan Bone menjadi lebih baik, malah masuknya Belanda menjadi episode buruk bagi seluruh bangsa Bugis-Makassar. Dan hal inilah yang saya anggap sebagai suatu kekonyolan.

      Hal yang terjadi di Bone, terjadi pula di seluruh Hindia-Belanda. Seperti misalnya permintaan bantuan kaum adat Minangkabau kepada Belanda untuk melawan Paderi. Bantuan itu bukannya menguntungkan kaum adat, malah memberikan peluang kepada Belanda untuk bercokol kuat di seluruh Minangkabau. Begitu pula dengan persaingan antar raja-raja Banten yang salah satu di antara mereka meminta bantuan kepada Belanda. Bantuan itu malah mendatangkan kerugian yang lebih besar lagi, bagi rakyat Banten secara keseluruhan.

      Ada yang menggoda dari ungkapan Anda : “arung palakka yang salah satu bangsawan saat itu hanya ingin rakyatnya hidup wajar”, apakah benar seperti itu ? Hal ini perlu pula kita teliti lebih mendalam lagi.

      • pencari sejarah berkata:

        Ada yang menggoda dari ungkapan Anda : “arung palakka yang salah satu bangsawan saat itu hanya ingin rakyatnya hidup wajar”, apakah benar seperti itu ? Hal ini perlu pula kita teliti lebih mendalam lagi.

        Apa anda sudah mengetahui jawban pertanyaan anda ini, belajarlah lebih baik dalam mengeluarkan kalimat, & perdalamlah ilmu sejarah anda lagi.

      • Syam berkata:

        Orang-orang Bugis dari Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai banyak dipekerjakan untuk menggali sungai yang mengelilingi Benteng Somba Opu sebagai bagian dari pertahanan benteng. Sungai tersebut diisi buaya yang ganas. Pekerja yang sakit dan dianggap malas bekerja, banyak dibuang di sungai dan jadi makanan buaya. Ini yang membangkitkan perasaan “Sempugi” dari Aru Palakka. Dia kemudian menyusun rencana dengan sepupunya bernama Tobala, untuk membawa lari semua pekerja rodi dari Bugis. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi titik awal permusuhan Aru Palakka dan Gowa. Aru Palakka kemudian dikejar dari Goa Cempalagi di Bone hingga Buton.

  3. fiza berkata:

    Salam…

    Saya juga dari bugis makassar, saya keturunan raja raja bugis johor
    saya mencari keturunan saya. jika boleh saya mahu ke bugis mencari kaum saya disana .. Saya berkata benar .. arwah datok saya meninggal gambar raja bugis pada saya ..

    • MARIO PARENRENGI berkata:

      SAUDARA FIZA,,KALAU MAU MENCARI KELUARGA DI TANAH BUGIS MAKASSAR.DATANGLAH KE MAKASSAR DAN JANGAN LUPA BAWA KITAB SILSILAH KELUARGANYA

  4. MARIO PARENRENGI berkata:

    SAYA TUNGGU BALASANNYA

  5. Adi Cakrawala berkata:

    Kami ialah Bugis-Makasar keturunan Kara’eng Je’ne Aji…..salasilah kami terjaga dgn baik sekali hingga ke hari ini

  6. muhammad amin berkata:

    assalamualaikum…saya amin mencari susur galur bonda saya yang bersal dari sulawesi selatan bernama daeng ali turun dengn kapal2 bugis pada lewat abad ke-18, dia dikatakan warak dan melahirkan ramai kahatib yang alim2 di daerah segamat johor…

  7. The Great Karaeng berkata:

    Kami ialah keturunan Karaeng Aji yang tiba ke Johor tahun 1709

  8. Andi Bachtiar berkata:

    Dalam mengurai tulisan kita tidak boleh larut dengan emosi,…akhirnya tulisan kita tdk bermakna dan hanya mengisahkan dendam yg tidak beralasan. Masa lalu terjadi di masanya, setiap kejadian tentu ada sebab akibatnya. Beliau La Tenri Tatta bukanlah orang konyol seperti statemen saudara…masa itu belum lahir namanya Indonesia…..Kerajaan Bone suatu negara, Gowa suatu negara dan Luwu suatu negara. Politiknya adalah hak mereka yg menentukan…..coba urai perjalanan kerajaan Bone sampai di masa penjajahan kerajaan Gowa…dan upaya beliau La Tenri Tatta memerdekakan kerajaan/bangsanya, berfikirlah logis dan obyektif dalam menyikapi setiap masalah..

    • Afandri Adya berkata:

      Terima kasih Bung Andi Bachtiar atas kunjungannya. Artikel di atas sebenarnya ingin menceritakan tentang kegemilangan orang-orang Bugis-Makassar selama abad ke-18 dan ke-19. Bukan dendam ataupun luapan emosi. Memang sejarah adalah suatu dialektika yang perlu terus didiskusikan. Saya hampir sepenuhnya setuju dengan pendapat Anda. Namun jika Anda menganggap La Tenri Tatta ingin memerdekakan negerinya dari kekuasaan Gowa, tentunya kepahlawanan Sultan Hasanuddin yang ketika itu menjadi sultan Gowa haruslah dipertanyakan. Tetapi kini justru yang diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional adalah Hasanuddin — bukan (atau belum) Arung Palakka. Mungkin Anda bisa berkomentar tentang hal ini.

      Apa yang saya maksud dengan kekonyolan Arung Palakka, sudah saya paparkan di atas menjawab komentar Sdr. Arief Taufan. Maaf jika ada yang kurang berkenan. Salam

      • Arif Yahya berkata:

        saya baru membaca tulisan anda; walaupun telah lama (2012) tapi jiwa saya melarang untuk tidak berkomentar setelah melihat “adu argumen” karena seberapapun dicoba untuk ditutupi kalimat2 diatas menyiratkan adanya dua ide dan pemahaman yang “beradu”… begini saja saya tidak membela ataupun menjatuhkan kedua pihak tapi disini haruslah diberikan pengertian ARUNG PALAKKA TIDAK DAPAT DIANGGAP MELAKUKAN KEKONYOLAN; COBA ANDA MEMIKIRKAN BILAMANA ANDA BERADA DI POSISI ARUNG PALAKKA; SEORANG RAJA YANG NEGERINYA SEDANG DILANDA PENINDASAN DAN AKAN MELAKUKAN APAPUN ASALKAN BISA MENDAPATKAN KEMBALI “KEBEBASANNYA”, MAU MENGATAKAN DIA ADALAH PENGKHIANAT KARENA BERSEKUTU DENGAN BELANDA? MAAF BILA SAYA HARUS MENGATAKAN ANDA SALAH, PENGKHIANAT ATAUPUN PAHLAWAN MASIH SAMAR UNTUK DISEMATKAN DIANTARA DUA PIHAK PADA WAKTU ITU (TAHUN 1600AN HINGGA DITULISNYA PERJANJIAN BONGAYYA) INDONESIA BELUM ADA, KAWASAN NUSANTARA TERDIRI ATAS BANYAK KERAJAAN DAN SEMUANYA TIDAK “BERSATU” WALAUPUN SAAT INI KITA MEMANDANG BELANDA ADALAH MUSUH; APA YANG TERJADI BILA ARUNG PALAKKA TIDAK BERSEKUTU DENGAN BELANDA, MATI SIRI’ LAH JIKA HANYA DIAM MELIHAT RAKYATNYA DIPERBUDAK (KALO ORANG SULSEL PASTI MENGERTI AKAN HAL INI) . itu saja komentar saya namun saya menjamin keakuratan kata2 saya baik dari segi catatan dan fakta sejarah maupun dari aspek2 pendukung lainnya. Tabe’…

  9. deng toyip berkata:

    tabeddi@sejarah adalah sejarah cukup dijadikan semangat dorongan untuk berjuang dimasa depan…bukan mencari silsilah sebab itu hanya membuat suatu kebanggaan tersendiri yg bisa membuat saling menjatuhkan…yang pasti seluruh warga sulawesi terkhusus sulawesi selatan adalah satu rumpun bersaudara dimanapun mereka merantau di nusantara tercinta…

  10. inilah generasi bugis suka menciplak sejarah. padahal pelaku sejarahnya adalah makassar. ini fakta.
    stoooopppp bugisasi

  11. Aji Mirza berkata:

    Salam semuanya saya dari Tenggarong, Kaltim. Keturunan Letta dari Ibu dan Kutai dari babe

  12. Alam berkata:

    Bugis dan Makasar adalah istilah yg diciptakan Belanda tuk adu domba

  13. AINUN BT DAUD berkata:

    assalam …saya berketurunan bugis sebelah arwah datuk yg berhijrah ke trg dari johor..seorang pelaut/ berkahwin dengan nenek yg berketurunan Yunan….katanya salsilah wali songo…wallahu alam..

  14. andi ratu berkata:

    Sy muslim bugis, sy jg ga terlalu paham tentang sejarah. Cuman pertanyaan saya Apakah pada saat itu arung palakka sdh muslim atau belum? Klo mmng muslim, sepengetahuan saya kita ga boleh membantu non muslim utk memerangi sesama muslim pribadi/kelompok ataupun kerajaan. Apalagi dalam hal ini VOC telah jelas ingin menindas dan menjajah kerajaan di nusantara yg pada saat itu rata2 tlh mnjd kesultanan. Krn dulu RI belum ada, jd pada waktu itu semangat perlawanan/jihad kesultanan yg ada di nusantara (imam bonjol, dipenogoro, cut nyak din, dll) krn tdk ingin dijajah apalagi yg jajah itu bangsa kafir. Mf klo pandangan sy keliru.

  15. Andi Azari berkata:

    Assalamu’alaikum Wb, saya Andi Azari dri borneo utara drpd keturunan kesultanan wajo abad ke 16-17. Saya hampir bersetuju dgn pendpt sodara Andi Bachtiar, ya.. memang di keseluruhan wilayah nusantara ini dulukalanya terdiri drpd berbagai kedaulatan kerajaan2 yg saling bersengketa sesama sendiri dlm perebutan kuasa mahupun memperluaskan kuasa dan wilayah dan tak mustahil juga permusuhan ataupun persengketa itu terjadi dlm usaha melepaskan diri dri belenggu cengkaman penaklukan sesuatu kuasa pemerintah lainnya, peristiwa2 sebegini berlaku sebelum kemerdekaan dan sebelum ujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia mahupun Negara Persemakmuran Malaysia.

  16. Moez daeng alle berkata:

    Maaf sebelumnya kepada penulis, bahwasanya tulisan anda terlihat seperti tidak mengetahui sejarah. Anda tidak tahu perbedaan antara suku Bugis dan suku Makassar. Di sul-sel itu ada 4 suku : suku Makassar, suku Bugis, mandar dan tanah Toraja. Tulisan artikel anda harusnya membahas ttg suku Makassar, bukanlah Bugis…. Sekedar kritik dan semoga bisa membangun serta membuat anda bisa mengetahui sejarah di Sulawesi selatan.

    • Afandri Adya berkata:

      Terima kasih Saudara atas komentranya. Ya benar, di Sulawesi Selatan ada beberapa suku. Malah bukan cuma empat, ada beberapa lagi. Diantaranya Suku Luwu (ada yang menyebut Luwu merupakan suku yang terpisah dari Bugis, bahkan merupakan asal-usul/nenek moyang dari beberapa suku di Sulselbar), kemudian Suku Massenrempulu, dan Suku Selayar. Memang terdapat kesalahpahaman pada sebagian orang, bahwa di Sulawesi Selatan hanya Bugis saja yang ada, sedangkan suku-suku lainnya hanyalah sub-etnis Bugis. Sehingga dalam penulisan sejarah-pun, banyak “ketidakadilan” seolah-olah hanya Suku Bugis saja yang menonjol. Bahkan sejarawan Malaysia-pun — sengaja atau tidak sengaja, melakukan kesalahan ini. Sehingga di Semenanjung Malaysia hanya keturunan Bugis saja yang tercatat, suku-suku Sulsel lainnya terkesan tak pernah ada.

      Terkait dengan artikel di atas, saya mengatakan bahwa “Tun Abdul Razak dan Najib Tun Razak, merupakan dua tokoh Makassar paling cemerlang”. Jadi bukan Bugis saja, etnis Makassar-pun mendapatkan tempat 🙂 Salam.

  17. Moez daeng alle berkata:

    Saudaraku suku Makassar dan Bugis, TDK perlu kiranya kita ada pertentangan dalam hal ihwal yg SDH terjadi dahulu kala. Perlu kita ketahui bersama meskipun beliau beliau (I mallombassi daeng mattawang dan La Tenri Tatta daeng serang) pernah berselisih, mereka sekiranya adalah saudara tidak sedarah yg dibesarkan bersama sama dalam keluarga bangsawan Gowa, mereka pun berguru pada guru yg sama, tidak ada perbedaan kerajaan dlm memperlakukan mereka, karena seyogianya mereka sama sama adalah anak anak bangsawan. Karena politik dari Belanda lah yg membuat mereka terpisah dan berjalan pada pilihan mereka masing masing. Namun saudaraku pihak Makassar tidak etis untuk mencaci dan memaki atas jalan yg telah dipilih oleh La Tenri Tatta daeng Serang. Saudaraku pihak Bugis pun janganlah serta Merta mengatakan pihak mereka pd waktu itu diperbudak , disiksa dan disuruh kerja paksa oleh pihak kerajaan Gowa. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya kerajaan Gowa waktu itu sedang mempersiapkan perang besar dengan pihak VOC, maka pihak kerajaan memerintahkan untuk segera memperkuat benteng pertahanan, pekerja pekerja saat itu adalah dari semua pihak, baik Bugis maupun Makassar. Namun pihak VOC berhasil menghembuskan isu bahwasanya rakyat Bone diperbudak dan hanya dimanfaatkan oleh pihak kerajaan Gowa. Akhirnya Karaeng ta daeng Serang( Arung Palakka) memutuskan untuk berjuang dengan jalannya dan caranya sendiri. Ingat saudaraku Makassar dan Bugis , tentara kerajaan Gowa bukan hanya org Makassar, tapi banyak juga dari suku bugis. Begitupun dari pihak daeng Serang banyak orang Makassar yang mengikut pada beliau. Politik Belanda ternyata berhasil memisahkan dua bersaudara yg sama sama orang hebat dan pemberani dari yg sebelumnya saling menyayangi dan menghormati. Apakah kita suku Makassar dan suku Bugis sampai sekarang masih akan terus mempertentangkan hal yg sudah berlalu. Apakah Devide Et Impera masih berlaku dan berpengaruh dalam kehidupan dan cara berpikir kita? Satu gambaran lagi saudaraku sekalian, apakah ada yg berpikir kenapa Arung Palakka lebih memilih dimakamkan di tanah Gowa? Kenapa tidak pulang ke tanah kelahirannya di Soppeng? Mari berangkulan saudaraku, Daeng mattawang dan daeng Serang pasti akan tersenyum dan bahagia melihat kita semua. Amin Ya Rabbal alamin, Wallahu alam bissawab

    • Numpang lewat berkata:

      Ya betul sekali. Jangankan org sulawesi selatan bahkan orang inggris dan portugis yg suka berniaga di makassar waktu itu pun juga ikut membantu membangun benteng somba opu. Karena makassar dianggap sebagai pelabuhan yg penting dan bebas dan tdk pantas bila dimonopoli oleh siapapun. Itulah yg jadi pertanyaanku. Kenapa arung palakka mau dikuburkan di gowa dan bukan di kampung halamannya? Itu pasti karena dia menyesali perbuatannya. Dan lagipula waktu itu tidak ada peperangan karena hasanuddin tdk mau perang melawan saudaranya sendiri makanya dia menyerah begitu saja. Karena kalau mau perang pasti tidak akan ada habisnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s