Arsip untuk Februari, 2010


Invasi Turki ke Eropa

Sejak terakhir kali invasi Alexander the Great ke Asia 334 SM, tak ada lagi kisah ekspansi bangsa Eropa ke seberang lautan. Bahkan dalam periode yang cukup panjang, Eropa tertidur bahkan mati suri. Masa-masa ketertiduran inilah, atau yang biasa disebut oleh para sejarawan sebagai the dark age, bangsa Eropa banyak diserang oleh bangsa-bangsa asing. Mulai dari invasi bangsa Gothic abad ke-4, serta invasi bangsa Arab pada abad ke-8, yang berakibat jatuhnya semenanjung Iberia selama 7 abad ke pangkuan pemerintahan muslim. Dilanjutkan dengan invasi singkat bangsa Mongol pada abad ke-13, dan terakhir invasi bangsa Turki di abad ke-15.

Selain menjadi bulan-bulanan bangsa asing, di abad kegelapan ini pula wabah penyakit menyerang dan membunuh sepertiga masyarakat Eropa. Kekuasaan gereja-pun menjadi-jadi. Bahkan pembunuhan atas nama gereja, dilegalkan oleh masyarakat setempat. Lantas mengapa bangsa Eropa yang sakit itu, bisa bangkit hingga akhirnya menguasai dunia ? Banyak faktor yang mempengaruhinya.

 

Ajaran Averroes

Ibn Rusyd (1126 – 1198) atau yang orang Eropa kenal dengan sebutan Averroes, merupakan seorang tokoh filsafat, ahli hukum, dan teologi dari kerajaan Cordoba, Andalusia. Di masa hidupnya, ilmu filsafat menggema sampai kepada pelajar-pelajar Nasrani di luar kerajaan. St. Thomas Aquinas dan St. Bonaventura, merupakan dua orang pengagum Averroes yang akhirnya menerjemahkan pemikirannya sesuai dengan semangat Kristen. Dari ajaran-ajaran Averroes, dialektika dan logika mulai diperkenalkan. Kebenaran masyarakat yang selama ini hanya bersumber dari gereja, kini mendapat mata air baru. Sejak saat itu, lahirlah pemikir-pemikir Eropa yang banyak bersandar pada ajaran Averroes. Para pemikir tersebut telah secara cerdas dan kreatif membantu raja-raja Eropa ketika penjajahan merajalela.

(lebih…)


Bandara Polonia, Januari 2002. Ini untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sebenarnya : semrawut dan acak-acakan. Meski berstatus internasional, namun dari segi fasilitas dan kenyamanan, Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara tersibuk di Pulau Sumatera ini, dipaksa untuk menampung 2.000 calon penumpang dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya, bandara ini hanya siap menampung 400 orang saja. Akibatnya, di ruang-ruang tunggu banyak calon penumpang yang tak kebagian tempat duduk. Garbarata, belalai penghubung antara ruang tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak tersedia. Hal ini tentu saja merepotkan para penumpang, terutama ketika hujan turun. Satu lagi yang paling menjengkelkan di Polonia adalah kuli-kuli angkut dan sopir taksi yang setengah memaksa. Mereka selalu menjadi momok “menakutkan”, bagi para pengunjung yang baru menjejakkan kakinya disini.

Dari Polonia, aku dijemput sopir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan lainnya yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling kota Medan. Hari pertama, aku langsung menjalankan tugas melakukan stock opname di kantor klien. Kebetulan klien ku ini adalah salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang memiliki persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang klien, memakan banyak waktu. Siang menjelang petang, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di Hotel Danau Toba, tempat ku menginap selama disini. Hotel milik keluarga Pardede ini, tergolong hotel tua di Medan. Walau interior kamar masih cukup terawat, namun lorong-lorong hotel terkesan agak angker.

(lebih…)