Posts Tagged ‘Bandara Polonia’


Pelataran Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Sebentar lagi anda akan mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar. Begitu informasi yang terdengar dari pengeras suara dalam kabin pesawat kami : Garuda Indonesia Boeing 737-300 jurusan Jakarta-Manado. Siang itu, di pertengahan Juni tahun 2007 lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bandara Hasanuddin Makassar. Bandara dengan tingkat kesibukan paling tinggi di belahan timur Indonesia. Kami tiba ketika matahari mulai condong ke barat. Meski hanya transit sebentar, namun kami menyempatkan diri untuk turun ke dalam terminal. Mencari pernak-pernik serta oleh-oleh khas Makassar.

Bandara ini tak ubahnya seperti terminal bus AKAP. Di setiap sudut nampak beberapa orang bergerombol, berkumpul tak beraturan. Hampir tak ada ruang kosong yang tak ditempati oleh calon penumpang. Sebagian diantara mereka menggelar koran dan merebah sedapatnya. Melepas rasa penat sambil menunggu waktu keberangkatan. Beberapa yang lain, duduk menyandar ke dinding-dinding penyekat ruang. Dimana-mana terdengar suara anak menangis. Merengek kegerahan menahan sesaknya udara siang. Rendahnya jarak antara lantai dan atap bandara, mengakibatkan terhambatnya sirkulasi angin di dalam ruang tunggu penumpang. Hal ini makin diperparah dengan tak berfungsinya beberapa alat pendingin ruangan.

(lebih…)


Bandara Polonia, Januari 2002. Ini untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di Medan. Polonia adalah wajah Medan yang sebenarnya : semrawut dan acak-acakan. Meski berstatus internasional, namun dari segi fasilitas dan kenyamanan, Polonia jauh tertinggal dibanding bandara internasional manapun di Indonesia. Setiap harinya, bandara tersibuk di Pulau Sumatera ini, dipaksa untuk menampung 2.000 calon penumpang dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya, bandara ini hanya siap menampung 400 orang saja. Akibatnya, di ruang-ruang tunggu banyak calon penumpang yang tak kebagian tempat duduk. Garbarata, belalai penghubung antara ruang tunggu dengan kabin pesawat, satu-pun tak tersedia. Hal ini tentu saja merepotkan para penumpang, terutama ketika hujan turun. Satu lagi yang paling menjengkelkan di Polonia adalah kuli-kuli angkut dan sopir taksi yang setengah memaksa. Mereka selalu menjadi momok “menakutkan”, bagi para pengunjung yang baru menjejakkan kakinya disini.

Dari Polonia, aku dijemput sopir kantor klien tempat ku bertugas. Pak Hadi namanya, orang Melayu asli. Seperti kebanyakan orang Medan lainnya yang banyak cakap, Pak Hadi-pun tak pernah berhenti bercerita. Ceritanya macam-macam, dari soal PSMS sampai makanan khas kota Medan. Selama disini, Pak Hadi-lah yang mengantarkan ku berkeliling kota Medan. Hari pertama, aku langsung menjalankan tugas melakukan stock opname di kantor klien. Kebetulan klien ku ini adalah salah satu perusahaan kosmetik kesohor di tanah air, yang memiliki persediaan beraneka rupa. Jadilah penghitungan inventory di gudang klien, memakan banyak waktu. Siang menjelang petang, semua pekerjaan selesai ditunaikan. Sebelum jam 3 sore, kami telah tiba di Hotel Danau Toba, tempat ku menginap selama disini. Hotel milik keluarga Pardede ini, tergolong hotel tua di Medan. Walau interior kamar masih cukup terawat, namun lorong-lorong hotel terkesan agak angker.

(lebih…)