Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto (1)

Posted: Februari 25, 2018 in Buku
Tag:, , , , , ,

Puas! Mungkin begitu ungkapan yang tepat setelah saya membaca buku Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto karya Richard Borsuk dan Nancy Chng. Buku ini sebenarnya sudah saya selesaikan setahun lepas, namun baru bisa meresensikannya sekarang. Buku terbitan ISEAS-Yusof Ishak Institute (2014) itu bercerita tentang kehidupan orang terkaya di Indonesia pada zaman Orde Baru : Liem Sioe Liong. Dari masa kecilnya di Fuqing, merantau ke Kudus kemudian Jakarta, hingga berpindah dan wafat di Singapura. Karena Liem adalah cukong utama Soeharto, kisahnya juga memberikan gambaran tentang bagaimana presiden kedua itu bisa bertahan di puncak kekuasaan selama tiga dekade. Meski tergolong ilmiah, namun buku ini enak dibaca. Mengalir seperti kisah-kisah pada cerita fiksi. Terlebih sang penulis bisa menempatkan dirinya secara independen, sehingga karya ini cukup objektif. Buku ini juga bisa membantu Anda untuk menilai bagaimana sosok Liem yang sebenarnya, yang sejak era Reformasi terlanjur dicitrakan negatif. Lebih jauh buku ini juga memberikan wawasan kepada kita bagaimana Soeharto melakukan praktik kroniisme. Praktik yang sedikit banyaknya masih berlangsung hingga hari ini.

Proyek tentang Liem Sioe Liong dan Salim Group ini dikerjakan dengan melakukan penelitian di sejumlah kota dimana Liem pernah menjejakkan kakinya. Selain berkunjung ke Jakarta, Singapura, Kudus, Semarang, Hongkong, dan Fuqing, Borsuk dan Chng juga memperoleh informasi dari sumber-sumber primer. Mereka mewawancarai sejumlah orang dekat Liem, dari mantan rekan bisnisnya Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad, Benny Santoso (Direktur Eksekutif Salim Group), serta anggota keluarganya yang ada di Tiongkok, Indonesia, dan Singapura. Menurut penulis, buku ini tak kan hadir tanpa bantuan Anthony Salim, putra Liem yang kemudian melanjutkan bisnis ayahnya di Indonesia. Buku ini terbagi ke dalam 22 bagian, yang masing-masing terdiri dari 20-40 halaman. Saya akan mengutip beberapa bagian yang dianggap penting, sebagai pertimbangan Anda sebelum membeli buku setebal 592 halaman itu.

* * *

58 tahun setelah menjejakkan kaki di pantai Jawa — nyaris hanya dengan pakaian yang melekat di badan, Liem Sioe Liong adalah bos konglomerasi terbesar di Indonesia. Namanya beberapa kali tampil dalam daftar majalah yang memuat orang terkaya di dunia. Di puncak kesuksesannya, Liem bertengger di atas imperium bisnis raksasa, yang oleh sementara kalangan diperkirakan meliputi 600 perusahaan afiliasi dan merupakan pendorong dalam banyak industri strategis. Pada pertengahan 1990-an, lebih dari 200.000 orang bekerja di perusahaan miliknya. Di tahun 1996, sebelum krisis keuangan Asia menghantam Salim hingga babak belur, pendapatan kelompok ini diperkirakan mencapai 22 miliar dollar AS, hampir tiga kali lebih besar dari kelompok peringkat kedua, Astra. Liem sendiri tidak suka menyibukkan diri dengan indikator kekayaan. Dia merasa tidak nyaman dengan gambaran dirinya sebagai pebisnis terkaya di Asia Tenggara. Di sebuah negara dimana secara historis orang Tionghoa menjadi sasaran diskriminasi dan kekerasan berkala, bisa dimaklumi kalau taipan ini lebih suka tak tampil mencolok.

Liem dan Soeharto memiliki banyak kesamaan, termasuk minat kuat mencari uang. Bagi orang kuat itu, uang setara dengan kekuasaan dan dia perlu membangun basis kekuasaannya. Para pebisnis Tionghoa merogoh pundi-pundi setiap kali Soeharto dan para jenderalnya membutuhkan dana, entah untuk keperluan politis ataupun pribadi. Liem selalu siap setiap kali dipanggil dan berhasil memenuhi permintaan. Keuntungan timbal baliknya luar biasa. Berkat patronase yang diterimanya, Liem menjadi kaya bukan kepalang, sementara kesuksesannya adalah menjaga pemimpin otoriter tersebut berkuasa selama 30 tahun lebih. Praktik patronase tidak diawali oleh Soeharto. Semasa Soekarno, para pengusaha – dan tidak terbatas orang Tionghoa — juga menikmati perlakukan istimewa. Namun Soeharto mengasah praktik ini menjadi seni. Pemberian perlakuan istimewa kepada kroni-kroninya dilakukan dengan pemahaman bahwa itu semua ada imbalannya. Dalam beberapa bisnis, imbalan itu bisa berupa saham yang diberikan langsung kepada anggota keluarga. Liem tak pernah mengeluh dalam membantu Cendana (sebutan lazim waktu itu, merujuk kepada nama jalan kediaman presiden). Bahkan Liem enteng saja memberikan saham kepada presiden dan anggota keluarganya, termasuk 30% saham bank andalannya.

Liem membesarkan Salim Group menjadi salah satu perusahaan multinasional Asia Tenggara yang pertama. Kemampuannya memiliki mitra yang cakap, sungguh mencengangkan. Dan dia bisa menarik jaringan luas rekan-rekan sesama Tionghoa perantauannya untuk mendapatkan modal maupun keahlian. Pada awalnya yang terbentuk adalah jaringan dengan kelompok dialeknya komunitas Hokchia, lalu dengan militer Indonesia, dan dengan – tentunya yang paling kuat dari semua itu : Soeharto. Liem memiliki kepribadian yang menarik. Dia memadukan kerendahan hati dan kemurahan hati, dua kualitas yang dihargai Soeharto dan pihak-pihak lain yang diuntungkan. Ciri khas kepribadiannya itu terbukti bermanfaat dikemudian hari. Berkat para mitra yang cakap, Liem mampu merambah bisnis yang berada di luar keahliannya. Dia juga bekerja keras untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dipercaya.

Liem pertama kali berkenalan dengan Soeharto di perbukitan Jawa Tengah semasa Perang Kemerdekaan. Ketika itu pasukan Republik bertempur melawan Belanda yang berniat kembali mengontrol jajahannya seusai Perang Dunia II. Waktu itu Liem hanyalah salah seorang dari sekian pedagang Tionghoa yang memasok kebutuhan pokok tentara. Penempatan Soeharto pada tahun 1956 sebagai komandan divisi menyegarkan kembali perkenalan itu, walaupun Liem sudah pindah ke Jakarta. Kepercayaan yang didapat Liem dari beberapa pembantu dekat Soeharto ternyata berguna ketika Soeharto menjadi presiden dan mencari pengusaha untuk dijadikan rekanan. Pada masa-masa awal Soeharto menjadi presiden, dia sering ngobrol dengan Liem yang sering bertamu ke kediamannya. Namun Liem sudah melihat gambaran akan mengembangkan kelompok bisnisnya yang melampaui koneksi sang presiden.

Pada Bab 1 kita bisa membaca bagaimana awal mula persahabatan Liem dengan Soeharto. Dua tokoh itu sama-sama punya naluri bagus tentang orang, dan menghargai kesetiaan. Kesamaan latar yang lain antara Liem dan Soeharto adalah minat dan kepercayaan mereka pada mistisisme. Liem sangat percaya takhayul, sering meminta saran para rahib Budha dan peramal Tao sebelum memulai usaha. Kepatuhan pada prinsip-prinsip fengsui menyebabkan dia sangat berhati-hati untuk tidak melakukan perubahan yang tidak perlu. Dia sering membiarkan segala sesuatunya seperti adanya agar sekadar hoki. Sedangkan Soeharto adalah penganut kebatinan – mistisisme Jawa – dan sering berkonsultasi kepada dukun. Keduanya cukup familiar dengan tempat-tempat keramat di Jawa. Salah satu tempat yang sering mereka ziarahi adalah Gunung Kawi di Jawa Timur. Bahkan Liem banyak sekali menyumbang bagi pemeliharaan kawasan itu dan membangun penginapan bagi peziarah.

Pada hari-hari pertama kepresidenannya, Liem menyarankan Soeharto untuk mengupayakan empat kebutuhan rakyat : pakaian, makanan, tempat tinggal, dan transportasi. Dari keempat bidang tersebut, Liem ditugasi Soeharto di ketiga bidang kecuali sandang. Setelah penugasan itu, ia kemudian mendirikan pabrik tepung Bogasari, pabrik semen Indocement, dan perusahaan perakitan Indomobil. Pilar lainnya adalah perbankan, dimana Liem memimpin lewat Bank Central Asia (BCA). Dengan bantuan bankir andal Mochtar Riady, BCA menjadi raksasa dan bank swasta terbesar di Indonesia. Liem mengalokasikan 30% saham bank tersebut untuk Soeharto, dengan menggunakan nama dua anaknya, Sigit Haryoyudanto dan Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana. Kelompok bisnisnya : Salim, kemudian melebarkan sayap menjangkau banyak bidang lain termasuk industri kimia, perkebunan tebu dan kelapa sawit, pertambangan, kehutanan, farmasi, perkapalan, distribusi dan retail, komunikasi, dan industri hiburan. Salim tidak berpuas diri dengan hanya menjadi pemain domestik. Pada tahun 1971 setelah kepulangan Anthony dari studinya di Inggris, Salim aktif melancarkan ekspansi geografis keluar Indonesia agar tidak menaruh satu telur dalam satu keranjang. Setelah kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, telur-telur yang ditaruh Salim diluar Indonesia itu terbukti sangat membantu upaya-upaya mengatasi utang dan menjaga Salim tetap di Indofood.

LSL Bertemu Soeharto

Liem Sioe Liong bertemu Soeharto

Untuk mengetahui akar serta asal usul Liem Sioe Liong, di Bab 2 dijelaskan mengenai riwayat keluarga serta masa kecilnya. Dia lahir dalam keluarga petani di sebuah desa kecil, 12 km sebelah timur Kota Fuqing, Fuzhou, Provinsi Fujian, China. Masyarakat di daerah itu berbicara dalam dialek Fuqing, lazim disebut Hokchia. Seperti banyak anak-anak desa di Tiongkok pada masa itu, dia menjalani hidup yang keras. Pada tahun 1937, Jepang menginvasi Tiongkok. Hukum dan ketertiban runtuh di banyak bagian negeri. Pada tahun 1938, perang sampai di daerah Liem. Dia kehilangan ayahnya setahun sebelumnya dan kini menghadapi wajib militer di depan mata. Sang ibu tak rela anak laki-laki kesayangannya pergi. Dihadang kenyataan seperti itu, mereka sepakat bahwa Liem harus bergabung dengan kakaknya, Sioe Hie, yang sudah berada di Jawa bersama paman mereka.

Di Jawa, keluarga Liem tinggal di Kudus. Ketika ia tiba di kota kecil itu, dia mulai berjualan pakaian yang dibawa dalam keranjang pikulan. Liem mendapati Kudus kota yang sangat menyenangkan, santai, dan berbeda dari desanya di Tiongkok. Tidak seperti di kampung halamannya, Liem merasakan buah langsung dari ketekunannya. Walaupun Kudus adalah kediamannya, Semarang-lah tempat Liem membangun kontak-kontak penting yang akan sangat membantunya berpuluh-puluh tahun kemudian. Keunggulan Liem dalam bisnis sangat dibantu oleh solidaritas kuat klan dialeknya, Hokchia. Klan Hokchia membangun reputasi orang-orang yang tangguh, banyak akal, dan bernyali. Mereka adalah pengambil risiko alami. Menurut Michael Beckman dalam bukunya Asian Eclipse, orang-orang dari daerah Fuzhou, meliputi kelompok Hokchia-Henghua-Hokchiu, mungkin tak sampai 5% total populasi Tionghoa perantauan di dunia, tetapi banyak pengusaha China perantauan paling besar dan paling sukses diantara mereka. Di Indonesia, pengusaha “kelompok Fuzhou” terkemuka termasuk mitra Liem sejak lama, Djuhar Sutanto. Dua orang Hokchia lain yang terkenal adalah mendiang pendiri dua pabrik rokok kretek Oei Wie Gwan (Djarum) dan Surya Wonowidjojo (Gudang Garam). Orang Hokchia-Indonesia terkenal lainnya adalah The Ning King pemilik Argo Manunggal Group.

Meski telah melakukan perniagaan dan memiliki pelanggan di Kudus serta Semarang, pada tahun 1952 Liem memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Bagi Liem tindakan ini didorong oleh hasrat untuk mendapatkan uang lebih banyak daripada hanya mengandalkan untung tak seberapa dalam usaha perdagangan. Rumahnya pertama di Jakarta adalah Hotel Chiao Tung di kawasan pecinan Jalan Hayam Wuruk. Dari sana dia pindah ke Petojo dan kemudian membeli sebuah rumah di Jalan Gunung Sahari IV. Di kota inilah ia berkenalan dengan banyak tokoh-tokoh penting yang menjadi relasinya dalam berbisnis. Pada masa pemerintahan Soekarno, ada beberapa mitranya yang cukup penting. Salah satunya ialah Hasan Din, mertua presiden Soekarno, yang pernah ia bantu pada masa revolusi fisik. Sejak saat itu Liem berteman akrab dengan Datuk (sapaan kehormatan Hasan) dan menjadi relasi bisnis pribumi pertamanya. Meski bersahabat dengan mertua presiden, namun pada masa Orde Lama Liem tak mendapatkan perlakuan istimewa apapun. Pada tahun 1965, dengan bendera PT Mega ia bersama Hasan menjadi importir cengkeh. Untuk memperkuat hubungan mereka, Hasan juga menjadi komisaris serta direktur di beberapa perusahaan Liem. Sebelum Hasan wafat di tahun 1974, Liem membeli seluruh saham Hasan pada PT Mega. Pada tahun 1970-an, perusahaan inilah yang menjadi cash cow bagi Liem, karena ia beroleh lisensi impor cengkeh – bersama PT Mercubuana milik Probosutedjo – dari pemerintah.

Selanjutnya dalam Bab 6 kita akan melihat mitra penting Liem lainnya yang dikenal dengan “Geng Empat Serangkai”. Geng ini menjadi kelompok bisnis paling kuat selama era Soeharto. Selain Liem, geng ini diisi oleh Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono. Pada akhir 1960-an, ketika empat orang ini mulai bekerjasama, kantor mereka hanyalah ruangan tak ber-AC seluas 8 meter persegi di Jalan Asemka. Pada mulanya kantor hanya punya satu meja dan dua kursi, sehingga jika keempat mitra mengadakan rapat, dua orang harus berdiri sedangkan dua lainnya duduk. Konglomerat yang muncul dari permulaan bersahaja ini lazim disebut Salim Group, pada dasarnya adalah ciptaan Soeharto. Soeharto menempatkan Liem bersama Dwi, dan menyarankan Liem agar bergabung dengan Djuhar. Mencomblangi mitra-mitra bisnis tampaknya menjadi aktivitas yang disukai pemimpin baru itu. Selain dengan Djuhar (Liem Oen Kian), sebenarnya Soeharto juga menyarankan agar Liem mengikutsertakan Jantje Liem. Namun karena perbedaan visi, kepribadian, serta latar belakang budaya (Jantje seorang peranakan yang tidak berbahasa China, sedangkan Liem dan Djuhar keduanya totok), Jantje tak jadi bergabung.

Dalam perjalanannya, keempat orang itu memberi sumbangan dan kekuatan yang berbeda-beda. Liem adalah pemimpin mereka semua, merekatkan kelompok. Dwi memiliki jalur ke puncak tertinggi dan menjalin hubungan baik dengan para pembantu presiden. Risjad adalah pedagang yang cakap, sedangkan Djuhar manajer yang energik dan fasilitator yang penuh perhatian. Pada masa-masa awal, Liem dan Djuhar masing-masing mendapat jatah 45% saham dalam kemitraan, sedangkan Dwi dan Risjad masing-masing mendapat jatah 5%. Ketentuan ini kemudian diubah menjadi masing-masing 40% untuk Liem dan Djuhar, dan masing-masing 10% untuk Dwi dan Risjad. Perlakuan istimewa yang diberikan kepada kelompok bisnis itu oleh pemerintahan Soeharto memungkinkan Salim berkembang luar biasa pesat. Karena menjangkau banyak sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, keempat orang itu semuanya kaya raya pada awal 1990-an.

Meski mempunyai anak-anak perusahaan yang terus bertambah di bawah perusahaan induk, Geng Empat Serangkai tidak membatasi investasi dan aktivitas bisnis masing-masing anggota. Perkembangan bisnis independen milik para anggota Geng tak berpengaruh apapun pada kelompok bisnis tersebut. Liem punya bisnis sendiri yang sangat besar. Meski kecil, Djuhar juga punya bisnis sendiri. Begitu pula dengan Dwi dan Risjad masing-masing juga punya bisnis pribadi. Risjad memulai kelompok bisnisnya sendiri, Risjadson, pada tahun 1989 bersama kedua anaknya. Pada pertengahan 1990-an, kelompok ini memiliki 60 perusahaan yang meliputi properti, industri almunium, perbankan dan keuangan, agrobisnis, serat ban, dan film kemasan. Risjad dan Dwi bermitra di berbagai investasi diluar payung Salim, beberapa diantaranya melibatkan anggota keluarga besar Liem dan Djuhar. Pada tahun 1994, Risjad bersama Henry Liem (keponakan Liem) dan Andry Pribadi (sepupu Djuhar) membeli sebuah perusahaan perkebunan milik Inggris di Medan, London Sumatera. Seperti Dwi dan Liem, Risjad juga terjun ke bisnis perbankan. Banknya, Risjad Salim International, pada awalnya tak ada hubungannya dengan Salim Group. Namun saat krisis keuangan, Salim membantu dengan menyuntikkan dana kepada bank tersebut.

Sedangkan Dwi, ketika empat anaknya beranjak dewasa, masing-masing menerjuni bisnis dengan bantuannya. Dwi menyarankan agar anak-anaknya untuk bergabung dengan generasi kedua Salim Group, terutama Anthony Salim. Namun mereka memilih menempuh jalan sendiri. Dwi membantu investasi putrinya di restoran waralaba Amerika seperti Lawry’s, Planet Hollywood, dan Tony Roma’s. Anak laki-lakinya Agus Lasmono menjadi pemimpin sebuah kelompok bisnis batu bara, minyak, dan gas bernama Indika Energy yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2004. Ketika krisis keuangan menghantam pada tahun 1997, bisnis Dwi sempoyongan. Dia berselisih dengan beberapa mitra lama termasuk Henry Pribadi pemilik Napan Group, sepupu Djuhar. Pertikaian lain timbul dengan Bambang Sutrisno, mitranya di jaringan supermarket Golden Truly dan Bank Surya yang kabur meninggalkan Jakarta pada tahun 1997. Pada April 1998, tujuh pekan sebelum Soeharto lengser, BPPN membekukan izin Bank Surya dan Bank Subentra milik Dwi.

 

Geng Empat Serangkai

Geng Empat Serangkai : Liem, Dwi, Djuhar, dan Ibrahim (sumber : tribunnews.com)

Bersambung : Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s