Posts Tagged ‘Inflasi Selama Reformasi’

Siapa yang masih percaya ini?

Pertanyaan ini tiba-tiba terlontar dari pikiran saya melihat histeria massa atas melonjaknya harga mata uang dollar Amerika terhadap rupiah. Ya, di awal bulan ini (5/9), dollar hampir menembus angka Rp 15.000, atau tepatnya di level Rp 14.940. Level ini merupakan pencapaian terburuk sejak krisis moneter tahun 1998 lalu. Dimana pada saat itu, rupiah sempat menyentuh angka Rp 16.650. Meski rupiah hanya terdepresiasi 10,2% sejak awal tahun, namun melihat rupiah yang jatuh dari harga biasanya, banyak orang yang kembali mengenang masa-masa indah Orde Baru. Masa-masa dimana menurut mereka semuanya serba murah, serba enak. Kalau mendengar pernyataan ini, saya rada-rada geli. Yah kok bisa jaman yang serba terkekang seperti itu, dianggap lebih enak. Oh mungkin mereka menganggap, dulu semuanya serba murah. Harga sembako murah, bensin murah, mau nyekolahin anak murah, apa-apa saja murah. Apakah benar? Yuk mari kita lihat.

Memang pada tahun 1998, sebelum Soeharto lengser, harga bahan bakar premium cuma Rp 700 per liter – sebelum naik menjadi Rp 1.200 per liter. Harga beras masih sekitar Rp 1.100 per liter, harga nasi padang Rp 2.300 per porsi, dan harga makanan sejuta umat alias mi instan hanya Rp 250 per bungkusnya. Kalau dibandingkan dengan harga sekarang, pada saat itu tentu jauh lebih murah. Namun untuk mengecek apakah benar-benar murah, kita perlu membandingkannya dengan pendapatan yang diterima masyarakat. Berdasarkan data Upah Minimum Propinsi (UMP), pada tahun 1998 rata-rata orang Indonesia beroleh penghasilan sebesar Rp 150.900 per bulan. Artinya pada masa itu dengan gaji yang diterima, masyarakat bisa membeli 215,5 liter premium, atau 137 liter beras, atau 603 bungkus mi instan. Kalau mau makan nasi padang dengan lauk pauk ayam, dapat 66 porsi.

(lebih…)

Iklan