Relief Kapal Sriwijaya pada Candi Borobudur

Samaratungga merupakan anak-cucu dari wangsa Sailendra yang telah berkuasa di Jawa sejak tahun 752. Dia adalah maharaja Sriwijaya pengganti Wisnu. Untuk memperkuat kekuasaannya, ia menikahi Tara, putri Dharmasetu. Di pedalaman Kedu yang permai, Samaratungga menghadapi masalah cukup pelik. Loyalitas wangsa Sanjaya dan tuan-tuan tanah tak lagi berpihak kepadanya. Mencoba mengakhiri huru-hara ini, dia memperkuat aliansi dengan menikahkan putrinya Paramodavardhani dengan Rakai Pikatan, seorang putra raja Sanjaya : Rakai Garung. Namun usaha ini tak berbuah hasil. Malah Rakai Pikatan dengan bantuan istrinya, berhasil mengusir Balaputra — anak Samaratungga yang lain sekaligus pengganti tahtanya — kembali ke Palembang. Tahun itu berangka 850. Dengan terusirnya Balaputra, berakhir pula kekuasaan Sriwijaya selama satu abad di Jawa Tengah.

Rakai Pikatan yang ambisius dengan cepat memutus ikatan Sriwijaya dengan Jawa. Naiknya Pikatan, memaksa orang-orang Jawa pengikut Balaputra untuk angkat kaki. Dan merekapun bermigrasi ke Jawa Barat untuk mendirikan Kerajaan Banten Girang. Lepasnya Jawa dari Sriwijaya, mendorong para penguasanya untuk memperkuat kerajaan. Alhasil pada abad ke-10, Jawa dengan percaya dirinya menjadi penantang Sriwijaya. Berdirinya Banten Girang yang menguasai Banten dan Lampung, ternyata bagai duri dalam daging. Banten Girang yang diberikan kepercayaan untuk berdagang lada di wilayah Sriwijaya, ternyata berbalik arah menyokong saudara Jawa-nya : Dharmawangsa, untuk menyerang Palembang. Tahun 990, untuk pertama kalinya Jawa menyerang Sumatera. Penyerangan itu memporakporandakan Palembang, walau tak berakibat jatuhnya Sriwijaya ke tangan Jawa.

Struktur organisasi yang tak bergantung pada satu titik (ibu kota), serta aliansi yang kuat dengan raja-raja China, memudahkan punggawa-punggawa Sumatera memukul balik prajurit Jawa. Dengan penyerangan ini Sriwijaya murka, dan Banten Girang-pun dibasmi habis. Kemarahan raja Culamanivarmadewa yang diserang, tak hanya sebatas itu. Dia pun merencanakan sebuah pembalasan terhadap Jawa dengan sebuah taktik jitu. Tanpa harus mengerahkan pasukan yang besar, dia menyokong sebuah pemberontakan pangeran Jawa : Wunawari. Pada tahun 1006, Wunawari melancarkan serangan mendadak ke keraton Dharmawangsa, saat istana itu sedang melangsungkan pesta pernikahan. Semua anggota keluarga bangsawan dibunuh. Terkecuali bangsawan muda bernama Airlangga yang berhasil meloloskan diri. Penyerangan balasan ini melegakan Culamanivarmadewa dan sekaligus mengembalikan marwah kebesaran Sriwijaya di panggung politik Timur Jauh.

Arca emas Sriwijaya di Jambi

Pada tahun 1005, Rajaraja I pemimpin kerajaan terkuat India masa itu, Chola, menghadiahi Culamanivarmadewa sebuah desa Budha berkuil di Negapatnam : Tanjore. Desa berkuil ini mungkin dibangun untuk kenyamanan para pendeta Sriwijaya, yang sering mengunjungi India untuk kepentingan rohani dan bisnis. Hadiah ini menandakan pentingnya Sriwijaya bagi penguasa India ketika itu.

Namun kebaikan itu berubah 180 derajat, ketika di tahun 1025 kerajaan Tamil ini menyerang Sriwijaya. Nafsu ekspansionis Rajendra Chola — penerus Rajaraja I yang telah menaklukan kerajaan Palawa dan Pandyas — telah mendorongnya untuk pergi berperang ke seberang lautan. Ke Sumatera, selain menjarah harta Palembang, Chola juga ingin membantu jaringan komersial Tamil yang diberlakukan sewenang-wenang oleh penguasa Sriwijaya. Ketidakpuasan para pedagang Tamil yang banyak berbasis di Barus, dikarenakan tingginya pajak yang ditarik Sriwijaya atas kargo-kargo mereka yang berdagang di Selat Malaka. Penyerbuan Chola ke Palembang dan Kedah begitu mendadak. Selain itu rute kapal perang Chola yang melalui pesisir barat dan memutari Selat Sunda, mengejutkan penguasa-penguasa laut Sriwijaya. Kekuatan Chola jauh lebih besar dari kekuatan Jawa yang menyerbu Palembang 35 tahun sebelumnya. Sehingga dalam penyerangan itu, raja Sangramavijayottungavarman tertawan dan seluruh kota luluh lantak. Dalam tempo tak begitu lama, Rajendra menjarah seluruh kota-kota dagang Melayu di kedua belah sisi Selat Malaka. Dan pulang dengan rampasan perang yang melimpah ruah. Dalam kekacauan ini, Sri Deva naik tahta dan berhasil memulihkan keadaan.

Penjarahan Chola merupakan titik balik kejayaan Sriwijaya, dan awal mula kemunduran imperium orang Sumatera. Konsekuensi dari penyerangan ini adalah, semakin menguatnya jaringan dagang Tamil di utara Sumatera. Hal ini ditandai dengan diberikannya hak pemungutan pajak kepada persekutuan dagang Tamil. Penyerbuan ini juga meruntuhkan wibawa Sriwijaya di mata vassal-vassal-nya. Penjarahan Chola telah lewat satu generasi. Orang-orang Sumatera yang pandai mengambil hati, dengan cepat melupakan kejadian itu dan berpikir strategis. Alih-alih membalas dendam, Sriwijaya malah membangun aliansi baru dengan Chola. Aliansi ini nantinya akan banyak membantu Sriwijaya dalam proses pemulihan kekuasaan atas kerajaan-kerajaan bawahannya yang membangkang.

Tahun 1092-1093, ibu kota kerajaan berpindah ke Jambi. Kedekatan Jambi dengan sumber emas Minangkabau, serta adanya perlindungan yang lebih baik kepada para pedagang, menjadi alasan kepindahan ibu kota kerajaan ke daerah tersebut. Pergeseran dari Palembang ke Jambi sudah mulai terlihat sejak pertengahan abad ke-11, disaat penguasa Palembang sibuk memulihkan kota yang porak poranda. Di Jambi kuil-kuil baru segera dibangun, dan yang uzur direstorasi. Sejumlah candi dan biara, serta tempat suci sepanjang lebih lima kilometer di tepian Batanghari, menjadi tanda kemakmuran Jambi pada masa itu. Sebaliknya peran Palembang menurun drastis, dan hanya menjadi kota pelabuhan yang tak berarti.

 
sumber gambar : http://www.wikipedia.org

Iklan
Komentar
  1. Sulaiman Djaya berkata:

    Terimakasih banyak untuk tulisan yang telah memberi informasi yang bagus ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s