Mencari Akar Dinamisasi Minangkabau

Posted: Desember 9, 2010 in Buku
Tag:, , , , ,

Seorang peneliti Indonesia dari luar, bisa dimaafkan kalau mengira bahwa dua budaya besar Nusantara adalah Jawa dan Minangkabau. Apabila kita menyimak nama-nama dalam buku-buku sejarah atau membuat daftar orang-orang yang telah membentuk budaya nasional, kedua kelompok etnik ini akan terlihat menonjol. Pakar-pakar kolonial Belanda menempatkan orang Minangkabau dari Sumatera Barat – dianggap dinamik, berwawasan ke luar, dan bertauhid – sebagai imbangan terhadap orang Jawa yang feodal, involutif, dan sinkretik keagamaannya. […]

[…] Jadi, adalah menakjubkan bahwa ternyata pada 1930 orang Jawa mencapai 47 persen penduduk Hindia Timur Belanda. Ditambah lagi orang Sunda di Jawa Barat dan Madura – ketiga kelompok etnis yang bersama-sama dipandang negara sebagai jantung budayanya – maka jumlahnya mencapai 70 persen penduduk. Pada masa itu, orang Minangkabau hanya 3,36 persen penduduk Hindia, kurang dari dua juta orang. Mengingat dominasi orang Jawa ini, adalah mengherankan bahwa orang Minangkabau, suatu wilayah kecil dan marginal dalam suatu kepulauan besar, begitu meraksasa dalam sejarah nasional. Jumlah besar orang Minangkabau dalam daftar orang-orang ternama Indonesia, belum pernah terjelaskan dengan memuaskan.[…]

Dan pertanyaan (baca : permasalahan) inilah, yang coba dijawab oleh Jeffrey Hadler melalui bukunya, “Sengketa Tiada Putus” (Freedom Institute, 2010). Karya ini pada mulanya merupakan disertasi Hadler untuk meraih gelar PhD di Cornell University. Dan kemudian atas inisiatif penerbit kampus, karya ini dibukukan dengan mengambil judul, Muslim and Matriachs : “Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism” (Cornell University Press, 2008).

Selain untuk menjawab pertanyaan di atas, Hadler dengan lugas mengatakan, buku ini merupakan reaksi terhadap rezim-rezim represif dan suatu upaya untuk mencari contoh terbalik terhadap monolit-monolit yang disokong negara. Maksudnya, melalui buku ini Hadler ingin menunjukkan bahwa tindakan represif negara untuk mengubah tatanan adat yang telah mengakar dan berlaku lama, dalam jangka panjang akan mengalami kegagalan. Dan ia berpendapat, Minangkabau merupakan salah satu bentuk sempurna kesatuan etnis yang bisa bertahan dari segala gempuran ideologi asing. Taufik Abdullah mencatat, sejak kedatangan Islam pada abad ke-16, intervensi Aceh di pesisir barat pada abad ke-17, pergolakan kaum Paderi di abad ke-19, serta menguatnya kolonialisme Belanda di abad ke-20, eksistensi adat Minangkabau tak pernah surut apalagi tenggelam. Dalam beberapa kali tikungan sejarah, perkataan bahwa adat ndak lakang dek paneh, dan ndak lapuak dek hujan, terbukti benar adanya. Walau selama periode-periode tersebut, pertentangan dan redefinisi adat acap kali terjadi. Pertanyaan dan perdebatan mengenai kedudukan adat, Islam, dan modernisasi inilah, yang membuat dunia Minangkabau menjadi salah satu daerah di Nusantara yang paling bergejolak. Dan gejolak inilah yang coba diterangkan oleh Hadler melalui buku setebal 372 halaman.

Seperti para periset Minangkabau lainnya, pangkal tolak penelitian Hadler bermula dari keheranannya, mengenai besarnya kontribusi etnis kecil dalam percaturan kehidupan nasional. Seperti halnya Dobbin, Kato, Graves, dan de Jong, keheranan Hadler akan Minangkabau, juga digambarkannya secara seimbang lewat angka-angka statistik (kuantitatif) dan pencapaian yang diraih anak-anak negeri (kualitatif). Hadler juga menghitung-hitung, tokoh-tokoh Minangkabau yang mencuat ke pentas politik, budaya, dan keagamaan, yang kesemuanya itu telah memainkan peranan cukup besar, kalau tidak dikatakan yang paling besar, dalam peradaban Indonesia dan Nusantara pada umumnya.

Buku ini terbagi dalam tujuh bab : (1) Sengketa Tiada Putus, (2) Bentuk-bentuk Rumah, (3) Interior dan Bentuk-bentuk Keluarga, (4) Mendidik Anak-anak, (5) Sengketa Pribadi, (6) Gempa Bumi, dan (7) Keluarga-keluarga dalam Gerak, yang kesemuanya itu merupakan faktor-faktor pembentuk dinamisasi masyarakat Minangkabau. Dalam kesimpulannya, Kerbau yang Menang, Matriarkat Berdaya Tahan, Hadler merangkum : kegalauan, kompromi, dan kemajuan, semacam tesis, anti-tesis, dan sintesis bagi masyarakat Minang.

Dalam penutupnya, Hadler menukilkan dengan indah : Sejarah politik Sumatra Barat adalah kekalahan berulang-ulang. Tapi kisah budaya Minangkabau adalah kelangsungan hidup. Minangkabau mengingatkan kita bahwa suatu bangsa bisa berada di ujung tombak ideologi-ideologi yang jangkauannya universal dan ambisinya global, tapi mereka tetap bisa setia pada adat lokal yang khas, bahkan heretik, dan relatif egalitarian. Keseimbangan yang dinegosiasi ulang dengan sepenuh jiwa antara Islam dan matriarkat, modernitas dan tradisi, membuat orang Sumatra Barat lelah dengan ekstremisme dan cenderung berkompromi.

Konflik dan interaksi antara matriarkat, Islam reformis, dan negara kolonial menggoyahkan unsur-unsur paling esensial masyarakat Minangkabau. Orang-orang muda Minangkabau yang mengalami kontroversi ideologis ini tidak menemukan ketenangan di rumah mereka, di keluarga mereka, atau di surau, atau sekolah mereka. Tidak ada yang sakral atau imun dari interogasi. Sumatra Barat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjadi reaktor pembiak ideologis. Kontribusi disproporsional orang Minangkabau terhadap politik nasional adalah akibat langsung destabilisasi ini. Hamka, Mohammad Hatta, Tan Malaka, Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Sutan Syahrir, dan pemimpin-pemimpin lain yang tak terhitung jumlahnya, digodok oleh rumah-rumah dan sekolah-sekolah di mana semua kebenaran sakral dipertanyakan.

Walau buku ini berusaha menyoroti Minangkabau secara menyeluruh, namun kurangnya angka-angka statistik, serta sepinya kupasan faktor-faktor ekonomi dalam pasang surut perkembangan Minangkabau, menjadikan karyanya tak sempurna 100%. Padahal, seperti yang telah dicatat Christine Dobbin dalam bukunya, “Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, Central Sumatra 1784-1847” (Curzon Press, 1983), faktor ekonomi menjadi salah satu kunci kemajuan Minangkabau.

Pada akhirnya, bak kata pepatah lawas, “tak ada gading yang tak retak”. Kekurangan dalam buku inipun, tak menghalangi kita untuk menempatkannya sebagai bahan pembanding, dalam memahami soal-soal Minangkabau yang kompleks.

Topik terkait :
1. Perantau Minang di Malaysia
2. Orang Minang, Peran, dan Pencapaiannya
3. Raja-raja Minang di Nusantara

Iklan
Komentar
  1. mohon maaf mau tanya, asal usul raja pagaruyung dong.
    soalnya sampai sekarang masih simpang siur.
    kirim pesan di email: novalnofriansyah@yahoo.com

    • Afandri Adya berkata:

      Bung Noval, asal usul Pagaruyung hingga saat ini memang masih spekulatif. Namun bagi Raudha Thaib (pewaris tahta Pagaruyung), ia memiliki ranji raja-raja Pagaruyung dari lima generasi sebelum Adityawarman hingga saat ini. Arus utama berpendapat bahwa Pagaruyung merupakan hasil metamorfosis : Kerajaan Malayu -> Kerajaan Dharmasraya -> Kerajaan Pagaruyung. Banyak buku yang menulis mengenai Kerajaan Pagaruyung. Salah satunya menurut saya yang cukup menarik adalah “Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang” karya Rusli Amran. Mungkin dari buku tersebut, pertanyaan Anda bisa sedikit terkuak.

  2. muaro jambi itulah leluhur kerajaan pagaruyung, eksistensi muaro jambi sudah berlangsung pada abad ke 4 masehi, dengan ditemukan situs komplek candi muaro jambi yang di bangun pada abad 4 masehi – abad11 m yg terletak di pinggiran, menjadikatan situs tersebut sebagai situs arkeologi terbesar dan terluas di asia tenggara, menjdikatan muaro jambi sebagai metropolitan kuno pertama di indonesia dengan multi etnik terbukti banyak artefak ditemukan terdiri dari berbagai bangsa, muaro jambi inilah yang merupakan ibu kota melayu atau bahasa cinanya mo lo yu, yang kemudian hari bersinonim dengan fosih atau sriwijaya,komplek ini lah sebagai pusat agama budha yang terbesar di asia tenggara yg selevel dengan nalanda, tapi komplek muaro jambi 100 kali lebih besar dari naland sebaiknya untuk mendalami eksistensi muaro jambi ini baca situs ilmiah ini http://www.sudimuja.com/id/, http://www.sudimuja.com/id/menelusuri-warisan-bumi-nusantara-kawasan-percandian-muarajambi/comment-page-1/#comment-18.
    muaro jambi ini ibu kota silifosih/sriwijaya yang sebanarnya dari bukti arkeologi, geomorpologi,astronomi tentang ibu kota sriwijaya yang ditulis itshing ini merujuk kepada muaro jambi, eksistensi muaro jambi ini hilang ketika kerja chola dari india, kemudian pusat kerajaan dan sebagian penduduk muaro jambi bermigrasi dari hilir sungai batang ke pedalaman hulu sungai batanghari yang di anggap aman yaitu tepatnya di darmasaraya, yang kelak menjadi cikal bakal kerajaan pagaruyung, kemugkinan suku melayu di sumatera barat skrng ini berasal dari muaro jambi, kita bisa melihat kemiipan dialek bahsa di darmasara,sijunjung dan sekitarnya mirip dialek beberapa daerh di jambi.kelak orang2 dari kerajaan pagaruyung ini juga lah yang mendirikan kerajaan baru di jambi, tepatnya balik kampung, yang mendirikan kerajaan baru ini adalah seorang putri pagaruyung cucu atau cicit aditiyawarman yang berna putri selaras pinang masak yang kemudian menjadi ratu jambi, beliau menikah dengan seorang ulama dari turki yang di gelari datuk paduko berhalo, kelak anaknya yang bergelar orng kayo hitam pewaris pertama keris siginjai yang menjadi lambang dalam logo jambi modern mendirikan kesultan islam di jambi beliau bertahta di tanah pilih pusako betuah tepatnya di mesjid seribu tiang kota jambi sekarang ini, sultan terkahir kerajaan ini adalah sultan taha syaipudin pahlawan nasional dari jambi.artinya dari jambi – ke pagaruyung-kemudian kembali lagi ke jambi.

  3. Dari sinilah terjadi perpindahan pusat kerajaan, yaitu dari di Muaro Jambi kemudian Darmasraya lalu ke Saruaso (Kozok, Uli, 2006:25-26).
    http://melayuonline.com/ind/history/dig/447/kesultanan-jambi
    jelas sekali menurut saya asal usul kerajaan pagaruyung, ambo berharap indak usah malu kalau pagaruyung dari jambi, jang malu jo kubu jambi, kubu jambi tu jugo asalnya dari pagaruyung, siso siso prajurit pagaruyung yang di perintahkan oleh raja pagaruyung untuk membantu putrinya menjadi ratu jambi, sayang prajurit ini tersesat sebelum sampai ke pusat keraajan yang berada di ujung jabung jambi ini, mereka inilah yang menjadi suku kubu jambi, jangan heran kalau mereka tahu dan mengamalkan undang2 nan delapan, ampek kebawah ampek ke atas, dan jangan heran pula mereka mereka juga mengnut sistem kekerabatan matrilineal, biasanya jika ada lelaki dari kelompok tertentu menikah dengan wanita di kelompok lainnya, maka si lelaki harus ikut keluarga perempuan. sebelumnya salam kenal jo pak afandri, suku ambo baco situs website bapak, ambo amak orang Sumpur, Batipuh Selatan, Tanah Datar, bapak orang melayu jambi indak orang kubu do..hehhe

  4. 10 ciri-ciri pusut kerajaan sriwijaya dari ringkasan catatan itshing di tinjauan dari disiplin ilmu arkeologi, astronomi, geologi/geomorpologi dan culture.(Muaro jambi vs Palembang vs Chiya)
    1. “Kota Fo-shih terletak di Sungai Fo-shih. Itu adalah pelabuhan utama dalam perdagangan dengan China. Pelayaran reguler antara Fo-shih dan Kwang-tung (Kanton, Guangzhou) dilakukan oleh sebuah kapal dagang Persia.” (komplek situs muara jambi pas terletak di pinggir sungai besar batanghari (panjang s.batanghari 800 KM lebar disekitar situs M. Jambi 600 m dan di hilirnya bisa mencapai 1000 M,palembang dipinggir sungai musi(panjang 750 km lebar hampir sama dg sungaibatanghari )arti k 2 sungai tersebut layak dilayari kapal jung kuno yang terkenal besar tersebut = (2 point untuk M. jambi, 1.point karena terletak di pinggir sungai batanghari, 1 poin karena situs terbesar di asia tenggara/pusat pengajaran agama budha komplek muara jambi terletak di pinggir sungai batang hari) VS 1. point untuk palembang krn terletak di pinggir S. Musi VS 0 poin untuk caiya, budha.http://www.sudimuja.com/
    2. “Ibu kota (Fo-shih) adalah pusat pembelajaran agama Buddha di antara pulau-pulau di Laut Selatan. Di sana terdapat lebih dari seribu biksu.” palembang dan chaiya tidak memiliki komplek candi, sebagimana kita ketahui menurut itshing bahwa silifosih adlh pusat pengajaran agama budha di asia tenggara yang menampung 1000 biksu, satu2nya yang layak menampung 1000 biksu ini di asia tenggara ini adalah situs komplek candi muara jambi,
    Tidak banyak yang membandingkan Kawasan Percandian Muarajambi dengan Nalanda, padahal terdapat banyak kemiripan dari berbagai segi. Mari kita lihat beberapa benang merah di antaranya.Seperti halnya Nalanda yang merupakan pusat pembelajaran penting di India pada waktu itu, kemungkinan di Indonesia pada waktu itu juga ada universitas yang setaraf dengan pusat-pusat pembelajaran terbaik di dunia. Peran dan pengaruh perkembangan institusi di India, terutama Sanghrama Nalanda bisa jadi sangat penting terhadap perkembangan Kawasan Muarajambi sebagai kompleks pusat pembelajaran atau universitas…baca sambunganya…http://www.sudimuja.com/id/nalanda-dan-kawasan-muarajambi/
    http://www.sudimuja.com/id/menelusuri-warisan-bumi-nusantara-kawasan-percandian-muarajambi/
    1 poin untuk jambi vs 0 poin untuk palembang vs 0 point untuk chaiya
    3. “di Fo-shih Saat itu ada ribuan bhikshu yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang berpagar bertembok” Bangunan-bangunan di Kawasan Muarajambi terletak dalam suatu kompleks atau kawasan, saling berdekatan dan boleh dikatakan berderet. Seperti di Nalanda, hampir semua bangunan di Kawasan Muarajambi dikelilingi pagar tembok setinggi 6 meter dengan luas yang berbeda-beda dan berpetak-petak. Seperti ditulis I-Tsing ketika beliau tinggal di Fo-Shih: “Di kawasan berpagar tembok di Fo-Shih, tinggal ribuan bhikshu yang tekun belajar dan beribadah.” Terdapat paling sedikit 6 kanal buatan, yang menghubungkan bangunan yang satu dengan bangunan lainnya dan sampai beberapa tahun lalu, kanal-kanal tersebut masih digunakan oleh penduduk setempat dengan menggunakan perahu tradisional. cek bukti temboknya disini = http://www.sudimuja.com/id/nalanda-dan-kawasan-muarajambi/
    buka link ini juga http://ronalsaputraa.blogspot.com/2013/10/situs-purbakala-candi-muaro-jambi.html ini salah satu candi di komplek candi muara jambi disini juga terlihat jelas photo temboknya http://wisata.jaz z.or.id/muar a-jambi-temple/ (namanya candi Gumpung bentuk berbeda dengan kebanyakan candi lain di komplek M. Jambi yang rata2 bebentuk beundak-undak, candi ini berbentuk mimbar disini lah diperkirakan mahaguru Sakyakirti dan mahaguru Dharmakirti memberikan ceramahnya ke lebih seribu pendeta yang yang berada di halaman di depanya candi gumpun ini dan disekelilingnya halaman ini berpagar tembok Candi Gumpung tersusun dari bangunan bata dari berbagai bentuk dan ukuran. 1 point untuk M. Jambi vs 0 point untuk palembang vs 0 untuk Chaiya
    4. “Raja Shih-li-fo-shih memiliki kapal-kapal, mungkin untuk berdagang, dan berlayar antara India dan Fo-shih.” bangkai kapal kuno di temukan di daerah sabak jambi, di daerah ini juga ditemukan arca2 yang terbuat dri emas, dan banyaknya penemuan antik kuno lainnya dikawasan ini, sabak ini adalah pelabuhan utama sriwijaya dan menjadi pelbuhan utama jambi modern sekarang ini yaitu pelabuhan samudera, sabak ini bersinonim dengan sriwijaya dalam catatan orang arab dan persia menyebut sriwijaya ini ‘zabak’ http://ronalsaputraa.blogspot.com/2013/12/jejak-peradaban-kuno-di-kabupaten.html di palembang atau a tidak ditemukan daerah yang bernama. 2 poin untuk jambi karena memiliki bangkai kapal kuno dan dererah berna sabak vs 1 poin untuk palembang karen memiliki bangkai kapal kuno http://id.wikipedi a.org/wiki/Sriwija vs 0 poin untuk chaiya
    5. “Jarak dari Kanton ke Fo-shih sekitar 20 hari pelayaran jika angin baik, atau kadang-kadang sebulan.” (pelabuhan teluk weh di jambi yang terkenal besar teresebut yg sudah diteliti ahli geomorpoli sangat startegis untuk di layari langsung menghadap ke utara laut china selatan lurus kanton, bandingkan chaiya agak jauh mencorok ke barat menghadap ke timur atau palembang yang sempit terhalng pulau bangka) Tahun 1954, Sukmono dibantu Angkatan Udara RI merekonstruksi pantai timur Sumatra di sekitar Palembang dan Jambi melalui telaah fotogrametri. Sukmono menemukan kesimpulan menarik : semua situs peninggalan Sriwijaya baik yang di sekitar Palembang maupun Jambi berlokasi bukan di tanah aluvial, tetapi di tanah perbukitan berbatuan sedimen Neogen. Penelitian ini pun menemukan bahwa Jambi dulunya berlokasi di suatu teluk pada muara Sungai Batanghari. Teluk tersebut menjorok masuk ke daratan sampai wilayah Muaratembesi sekarang. Sementara itu, Palembang justru terletak di sebuah ujung jazirah yang memanjang ke laut berpangkal dari Sekayu sekarang. Baik Jambi maupun Palembang saat ini berjaSukmono berkesimpulan, sebagai kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya sebgai bandar besar lebih mungkin terletak di tepi sebuah teluk yang besar daripada di ujung jazirah yang sempit. Sukmono juga mengajukan argumen-argumen arkeologi di samping argumen geomorfologi.

    Pendapat Sukmono mendapat dukungan dari Sartono, geolog dan arkeolog ITB, juga Slametmuljana, ahli sejarah (dalam Slametmuljana, 1981 “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, Yayasan Idayu). Sartono berpendapat bahwa teluk di sekitar Jambi saat zaman Sriwijaya begitu besarnya sehingga orang mengira bahwa itu merupakan perbatasan antara Swarnadwipa (Jambi ke utara) dan Jawadwipa (Palembang, Lampung dan Jawa).
    rak 75 km dari laut di sebelah timurnya …sambung bacanya ke link.https://geotrekindonesia.wordpress.com/2013/06/13/di-mana-pusat-sriwijaya-argumen-geomorfologi/

  5. 6. “Raja Shih-li-fo-shih juga merupakan penguasa negeri-negeri sekitar. Ia penganut agama Buddha.” (1 poin untuk m.jambi, 1 poin untuk palembang , 1 poin untuk chaiya) karena di 3 lokasinya pengaruh budha terlihat jelas.
    7. “shih-li-fo-sih kaya akan emas, orang-orang mempersembahkan bunga lotus terbuat dari emas arca2 terbut dari emas, di banding dengan palembang dan chaiya, M. Jambi memiliki banyak penemuan arca2 terbuat dari emas,cek bukti ciri2 sriwijaya no .4, kemudian di daerah rantau kapas tuo, Muara Tambesi(pertemuan antara s. batanghri dan s.batang tambesi yg juga bersinonim dengan Mingga Tamwa asal apunta hyang) ditemukan 2 arca emas terkenal ,Arca emas Avolokiteswara . sekrang bisa dilihat di museum negeri jambi. bukti bukti penemuan emas kuno di jambi https://sungaibahar.wordpress.com/2012/04/17/ada-harta-karun-di-candi-muaro-jambi/ , wujudArca emas Avalokiteçvara bergaya Malayu-Sriwijaya, ditemukan di dusun Rantaukapastuo kec. Tambesi, kab. Muarabulian, Jambi, Indonesia di https://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya
    http://perpustakaanjambi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=74:museum-negeri-jambi&catid=38:wisata-budaya&Itemid=13
    jambi juga pemiliar dengan hiasan emas kelopak bunga lotus pada mahkota sunting jambi dan bungo lotus pada hiasan dada yang disebut dalam bahasa jambi tertai dodo, lotus itu adlh bunga terti pakaian tradisional jambi http://pecintabudayajambi.blogspot.com/p/pakaian-adat-jambi.html
    http://incung.blogspot.com/2013/12/sekilas-pandang-pakaian-adat-melayu.html
    (1 untuk jambi.0 untuk palembang,0 untuk chaiya)
    Minanga Tamwa bukannlah merujuk pada minang kabau karen istilah minangkabau relatif baru yaitu pada masa pagaruyung,https://id.wikipedia.org/wiki/Minangkabau sebagaimana kita ketahui bahwa kerajaan pagaruyung adalah kelanjutan kerajaan melayu darmasaraya (melayu muda) dan melayu muda ini kelanjtutan dari melayu kuno yang berpusat di muaro jambi sebenarnya bersinonim dengan kerajaan sriwijaya, jika kita runut dari kranologi eksistensi kerajaan darmasaraya yang terdpat pada prasasti padang racco, kerajaan ini muncul setalah ibu kota sriwijaya di serang raja cholamandala dari india, artinya pusat kerajaan melayu sriwijaya sengaja dipindahkan kedaerah padalam yang aman , dari hilir sungai batanghari tepatnya di situs komplek muaro jambi(jambi hilir) keluarga kerajaan dan sebagian besar penduduk muaro jambi bermigrasi ke pedalaman hulu sungai batanghari darmasaraya (jambi hulu ) yang kelak menjdi nenek moyong bangsawan2 dan orang2 besar di darmasaraya dan pagaruyung, karena wilayah ini ralatif aman dari serangan luar.semenjak itulah eksistensi kerajaan melayu sriwijaya di muaro jambi pudar.
    MINANGA TAMWA
    menurut Poerbatjaraka dan Soekmono, Slamet Muljana, Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (Tamwan berarti temuan), jika kit guna kajian geologi muara kampar terletak diantar pertemuantan antara kampar kanan dan kiri, kemudian tak kalah menrikny muara Tambesi juga tepat berada di antar pertemuan antara Sungai Batanghari dan sungai batang hari, silahkan cek di peta, di muara tembesi tepat didusun rantau kapas tuo sering ditemukan arca emas dan pecahan tembikar, wilayahnya Muaro tembesi ini juga menjadi ibu kota residen jambi pada masa hindia belanda, disini anda juga akan menenukan kota tuanya jambi. jika dilihat dari persamaan kata anatar ‘TAM’WAN , KAMPAR saya rasa ‘TAM’BESI lebih mirip.bahkan beberapa hli juga mengusulkan bahwa Muaro Tebo di jambi sebagi kandidit Minangga Tamwa karena juga terletak diantara 2 sungai yaitu batanghari dan batang tebo.jadi lebih besar kemungkinan bahwa pusat kerajaan melayu sriwijaya itu berada di Jambi yaitu antara daerah sabak-muaro jambi-muaro tamebesi/tebo(inilah wilayah penemuan arkeologi terkaya dan terbesar di asia tenggara)

    8. Orang-orangnya menggunakan kan-man (jubah atau kain panjang). (lihat diseberang kota jambi masyarakatnya dulu prianya banyak berjubah dan wanita keseharian banyak berkain panjang yang juga menutupi muka seperti burko ,pakaian adat pria jambi sekarang juga adalah modifikasi dari jubah tapi lebih pendek) http://pecintabudayajambi.blogspot.com/p/pakaian-adat-jambi.html
    http://incung.blogspot.com/2013/12/sekilas-pandang-pakaian-adat-melayu.html
    9.” Produk negeri ini adalah pinang, pala, cengkih, dan kapur barus.( jambi itu berasal dari kata Jambee artinya Pinang : sampai sekarang jambi terkenal penghasil pinang di sumatera yg di ekspor ke india dan pakistan , jika kita masih ingat peljrn IPS waktu SD flora khas jambi itu adalah pinang hampir disetiap halan rumah di jambi terdapat pinang. tanjung jabun barat(jambi) raja pinang asia dan telak di ekspor sejak zaman sriwijaya sampai sekarang ke india untuk bahasan pewarna tekstil disan :http://jambi.tribunnews.com/2 011/01/23/wow…-t anjabbar-raj a-pinang-di-asia , jambi juga penghasil pala terbesar pada masa , baca sejarh perang jambi dan johor, dimana pada waktu itu jambi adlh pelabuhan terkaya selepas aceh pada masa itu di nusantara.

    10. “Di negeri Shih-li-fo-shih, pada pertengahan bulan kedelapan, jika orang berdiri di siang hari, tiada bayangan yang tampak. Matahari lewat persis di atas kepala dua kali dalam setahun.” (itu artinya sriwijaya itu teletak disekitar garis khatulistiwa (ekuator) chaiya terlalu jauh ke utara ini garis koordinat chaiya pak cik : 9° 23’28″N 99° 12’3E muara jambi sudah diteliti oleh ahli dri UI bekerja sama dengan UNJA, muara jambi sudah membuktikan bahwa memang benar tidak ada bayangan pada tanggal dan bulan kedatangan Itsing ke sriwijaya Jambi. diantar palembang,kampar dan muaro jambi, M. jambilah yang paling mendekati, bca blog Profesor Aulia tasman yang kalau ngk salah ada sekitar 10 halaman membhsa sriwijya pusat sriwijaya http://tasman1959. blogspot.com/2014/ 05/catata …

    artinya ada benang merah antara kerajaan melayu sriwijaya(Muaro Jambi) – darmasaraya – pagaruyung yang menurunkan – kesultanan di Jambi(pulang ke negeri leluhur), Siak, N9 malaysia,sulu,brunei dll

    Sebenanrya jambi Kandidat Sriwijaya sama kuatnya dengan palembang menurut para ahli, tapi dari tinjauan temuan kajian arkeologi,geologi/geomorfologi,astronomi jambi pada posisi puncak di atas Palembang, sedangkan Prasasti yang di temukan di palembang semuanya adalah berupa kutukan dan ancaman karena daerah palembang pada masa lalu adalah sarang bajak laut dri china yang selalu membuat ulah, bahkan maaf kata tingkat kriminalitas di palembang pada zaman modern juga terkenal di indonesia / ‘senggol dikit bacok’…hehhe sedngkan jambi adalh kota yang pling aman disamtera bahkan di indonesia jika kit melihat berita jarang sekali jambi memiliki berita kriminalitas baik berit di media nasional maupun lokal, kalaupun ada pasati banyak ketangkap preman2 yang bermigrasi dari palembang dan lampung ke jambi, bisa di cek di berita koran kriminliats di jambi, tapi menurut saya sendiri di banding plembang dulu , palembang sekarang relatif aman.

    untuk kemajuan ekonomi, pada masa melayu sriwijya kuno jambi adalah wilayah yang paling kaya di asia tenggara terbukti dengan besarnya dan luas komplek candi muaro jambi, tentu membutuhkan dana besar, pada masa abad pertengahan/masa kesultanan jambi adalah pelabuhan paling kaya no 2 setelh aceh di nusntara, dan kekayaan jambi ini berlnjut dengan di bukanya kebun karet pada masa kolonial belanda dan jambi memonopoli penghsilan karet di dunia,harga karet begitu mahal pada waktu itu , bahkan saking kaya orang2 jambi pada periode itu yaitu sekitr 1900 – 1940 menarik pendatang dari Sumbar untuk berinduk semang ke orang jambi, diceritakan gemericik uang logam terdengar di saku2 anak2 jambi, para pempuan menyulam benang emas, pra lelaki merokok cerutu mahal, http://www.kompasiana.com/kedamaianhati/kejayaan-jambi-masa-lalu-tak-sebanding-masa-kini_55017304a333117f73513359 . sampai sekrangpun jambi juga merupang penghasil karet terbesar di indonesia sekarang ini. tpi sang sejak 1950 trend harga karet menurun.sejak tahun 1950 perekonomian jambi menurun, pembangunn ekonomi jambi kalah telak dibanding provinsi tetangga sampai periode tahun 2000, jambi masih kalah, tetapi perlhan tapi pasti sejak 10 tahun terkhir jambi mengejar ketertinggl dari palembang,pekanbru dan medan, dan sekarang tren pembngunan properti jambi relatif lebih cepat dan paling tinggi di sumter, pertumbuhan ekonomi dalam 5 tahun ini tertiinggi di sumtera dan no 2 di indonesia
    http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/05/29/n6ccw7-pertumbuhan-ekonomi-jambi-tertinggi-di-sumatera
    http://jambiekspres.co.id/berita-7123-pertumbuhan-ekonomi-jambi-tertinggi-di-sumatera.html

    insaAllah jambi modern akan kembali jaya seperti pada masa lampau

  6. untuk bapak afandri mohon dong buat tulisan hubungan sejarah masarakat suku anak dalam ( suku kubu) jambi dengan kerajaan pagaruyung, bahwa dari pengakuan dari sumber sejarah lisan mereka yang ditururkan dari generasi ke genari bahwa mereka mengaku berasal dari paguruyung, dan juga jika kita melihat aturan hidup mereka memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang Delapan y, yang dibawa dan dikenal dari pagruyung dan juga menganut sistem matrilineal.
    untuk lebih lengkap ada makalah ilmiah tentang suku anak dalam https://delvinet.wordpress.com/2009/05/17/makalah-suku-anak-dalam-jambi/
    agar tulisan bapak berimbang.
    setiap berdebat antara orang jambi dan palembang, orang Palembang selalu mengtakan bahwa jambi itu jajajahan palembang pasa masa lalu, dan orang minang jika berdebat dengan orang jambi, kalau orang jambi itu berasal dari minangkabau, dan jambi tidak akan maju jika tidak orang minang, padahl pada masa lalu belum tentu juga ceritanya seperti itu mungkin juga sebliknya, maju atau tidaknya suatu daerah bukan karena banyak yang berdagang, jika banyak yng berdagang tetapi tidak ada pembeli apa bisa maju, tentutu majunya sutu derah karena memeliki berbegi macam unsur, seperti di jambi, pedangang dari kaum minang dan china,pejabat,PNS,Petani karet,sawit, tambang rakyat banyak dari kaum melayu,sopir,bengkel,pengcara dari kau batak, swsta dari semua kaum, artinya majunya suatu kwasan krena memiliki unsur, bukan krena orang minang yang berdagang membuat majunya suatu daerah,kalau memng pedagang minang yang membuat maju sudah barang tentu kota padang yang paling maju di indonesia ini, faktanya kota padang kalah maju dari kota medan,palembang,pekanbru,batam,jambi dari pembangunannya
    jadi bukan hanya sekedar menulis hegomoni kesusksesan dan keperkasaan suku minangkabau tapi juga menulis peradaban terbelakang yang juga berasal dari minangkabau, biar kesannya tidak ethnocentrism(Merasa bahwa kelompok/etniknylah yang paling superior di bndingkan kelompok/etnik lainya) saya beruntung memilki darah campuran, sehingga perasaan kuatnya suku dari ayah dan suku dari ibu saya berimbang tidak ada yang menonjol.
    tulisan saya diatas yang cukup menggebu-gebu adalah untuk menyeimbangkan dalam melihat kenyataan berdasarkan bukti2 yang ada, sebagai orang yng bukan murni orang jambi saya cukup risih melihat kenyatan bahwa dalam litertur di buku2 sekolah jambi tenggelam dalm sejarah palembang dan minangkbau,bahkan s dan juga terkedang ada yang malu untuk menerima kenyatan asal usul berasal dari jambi, bukan masyarakat luar jambi saja, masayarakat jambi saja ada yng malu klau mereka bersal dari jambi, merek malu dikatakn kubu/SAD yang naik pamor oleh butet manurung ke indonesia dan dunia,padahal SAD ini jumlhnya hanya minoritas keberdaan mereka berada dalam rimba hutan belantara jumlah merek tidk lebih kurang 10 ribu jiwa, tidak seperti suku melayu jambi yang hidup di pinggiran sungai batanghari dan membentuk peradabaan, sehingga jangan heran banyak peninggaln reruntuhan candi di pinggiran sungai batanghari mulai dai muara sabak,muara jambi,tebo sampai darmasara banyak ditemukanny candi, inilah yang dinamakan PERADBAN SUNGAI, semua peredaban maju di dunia ini bermula dari sungai bukan dari pegununungan, lihat kronologi sejarah dunia : bermula dari peradaaban lembah SUNGAI NIL di Mesir dan peradaban lembah sungai TIGRIS dan EUFRAT di IRAK(mesopotamia,bobylinia), peradabaan SUNGAI INDUS dan gangga di india, peradaban lembah sungai kuning di CHINA, begitupan banggsa di asia tenggara ini juga bermula dari sungai kerajaan KAMER(menghsilkan angkor wat yang terkenal itu juga berasal dari peradabaan lembah sungai mekong/INDOCHINA,sama halnya dengan keraajan Funan dan kerajaan tua lainnya . saya harap bukan hany keperkaasaan yang hanya diangkat tapi kelemahan juga perlu diangkat, bukan hanya kekayaan yang diangkat tetapi kemiskinan juga diangkat , bukan hanya keberadaaban saja yang perlu diangkat tetapi kebiadaban perlu juga angkat, bukan hanya kepintaran saja yang perlu diangkat tapi kebodohon perlu juga diangkat,bukan hanya kemenangan yang perlu diangkat tapi kekalahan perlu diangkat,bukan hanya kemajuan saja yg dingkat tapi kemunduran perlu di angkat bukan hanya penguasa yang perlu diangkat tapi rakyat jelata perlu diangkat , setiap bangsa di dunia ini pasti mengalami itu semua, termsuk orang minangkabau, untuk supaya kita selalu belajar dari dua sisi mata uang yang berbeda, dan kenapa harus malu kalau kenyataannya seperti itu, tidak ada satu umat/kaumpun yang tidak pernah jatuh kelubang yang paling dalam, kalau kita merasa kaum kitalah yang palingg unggul apa bedanya kita dengan bangsa yahudi, apa bedny kita dengan Nazinya adolt hitler yang megagung2kan ras aryanya. semoga kita tidak terlena dengan sejarah, sehingga lupa kenyataan yang sekrang,Agus salim, Buya HAMKA,Sutan Syahrirl,Hatta, Rohana Kudus,Tan Malaka,Rasuna said,STA,Marah rusli, dll saya bangga pada mereka, tapi mereka hidup pada masanya, dan sekrang ini masa kita

    • Afandri Adya berkata:

      Terima kasih Sdr. Putra Jambi-Minang atas komentarnya. Mengenai permintaan Saudara untuk menuliskan hubungan sejarah masyarakat Suku Anak Dalam (Suku Kubu) Jambi dengan Kerajaan Pagaruyung, akan saya coba di kesempatan lain.

      Ulasan Saudara yang mengatakan bahwa Muaro Jambi merupakan ibu kota Sriwijaya mungkin bisa dibenarkan, karena tempat ini dekat dengan lokasi penambangan emas di pedalaman Minangkabau. Namun perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah Muaro Jambi memang sebagai ibu kota Sriwijaya atau hanya sekedar pelabuhan dagang.

      Mengenai dimana letak Minanga, hingga saat ini para peneliti belum menemui kata sepakat. Boleh jadi diantara pertemuan Batanghari, atau di pertemuan Batang Kuantan, atau di pertemuan Batang Kampar. Bukan hanya di Batanghari saja ada dua pertemuan sungai besar, di sepanjang DAS Batang Kuantan dan Batang Kampar-pun juga banyak dijumpai tempat bertemunya dua sungai besar. Mengikuti teori Poerbatjaraka dan R. Soekmono, saya cenderung berpendapat bahwa letak Minanga ada di dekat pertemuan Batang Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Teori yang menyebutkan Minanga terletak di lokasi tersebut diperkuat oleh keberadaan Candi Muara Takus yang usianya jauh lebih tua dari Candi Muaro Jambi. Wallahualam.

  7. untuk daerah tambang emas bukan hanya di sumbar pak, di sepanjang sungai batang merangin, batang tebo,batang tembesi,batang bungo, batang masumai dan 4 anak sungai batanghrari lainnya yang bermata air dari pengunan kerinci,bahkan peneletian baru-baru ini bahwa kerinci memiliki cadangan emas yang lebih besar dari cadangan emas di tembagapura Freeport.kalau bapak berjalan-jalan mengelilingi wilayah jambi bapak akan melihat penulang-penulang emas tradisional yang masih bertahan sampai sekarang mereka mendulang di ke 9 anak sungai Batanghari trsb.bahkan alat dulang mereka yang terbuat dari kayu besi sudaah ada yang diwariskan dari 6 generasi, diperkirankan leluhur mereka yang menyumbang emas untuk kerajaan sriwijaya.ke 9 anak sungai ini tergambnag dari logo jambi(sepucuk jambi Sembilan lurah)sepucuk jambi itu adalah bermaksud pusat kerajaan/sungai besar batanghari, Sembilan lurah itu adalh 9 daerah yang dialiri 9 anak sungi batang hari yang menjdi kuasa kerajaan melayu jambi.

    untuk apa dipermasalahkan mana candi yang tua man candi yang mudo, toh sriwijya bukanlh keraajan yng tertua di sumtera dan nusantara ini. untuk masalah tuanya umur candi saya pikir Muaro Jambi belum selesai semuanya diteliti. di Komplek besar muaro jambi terbagi 36 komplek yang semuanya dibatasasi tembok besar dengan memuat lebih kurang 110 candi, jika kita mengacu pada catatatan kuno pembangunan komplek, nalanda, bahwa satu kamplek candi saja bisa memakan waktu 100 tahun pembangunanya bayangkan candi muaro jambi yang lebih banyak kompleknya.tidak mungkin semua kompek itu dibangunan dalam satu masa, dalam penelitian terakhir komplek candi yang tertua di komplek candi muaro jambi ini, adalah komplek candi gumpung pada abad ke 4, dan termuda yang sudah di teliti dibangun pada abad ke 11. jika kita banding dengan candi muaro takus, tidak terlalu sulit meneliti candi ini, karena candi hanya ada 3 bangunan saja. jadi tidak membutuhkan masa yang banyak. saya belum menemukan usia pasti candi muara takus ini, diwikipedia hanya dikatakan bahwa candi ini yang paling tua di sumtera tapi tidak ada tahunnya, ya memang wikipedia bukanlah media yang akurat, karena setiap orang bisa mengedit datanya. . untuk muaro jambi sendiri memiliki website ilmiah yang kredibel dipelopori oleh Ilmuwan-ilmuwan teremuka UI , http://www.sudimuja.com.

    untuk penemuan candi di pertemuan dua sungai, bukan hanya di Kampar(riau), di muara tebo juga di temukan beberapa titik candi, yang usianya belum di ketahui, tanpa mekecilkan muara takus, saya berpikir ada kemungkinan bahwa mo la yu yang di maksud oleh itshing dalam catatan perjalannya ke india adalah muaro takus, dengan catatan di selatan adalah muaro jambi dan uatara mo lo yu adalah kedah. kadang-kadang perlu di pahami juga barangkali, sebenarnya penggunaan kata malayu merujuk kepada sumtera secara keseluruhan seperti swarndwipa. mengingat sulitnya memahami kosakata sebutan china ini. kadang kosakata nama tempat dalam bahasa china tidak bisa dipahmi secara pasti dan akurat. oleh karena itu dukungan penemuan arkeologi itu sangat penting, kemudian disesuaikan dengan catatan china tersebut. seperti 10 ciri-ciri kerajaan sriwijaya di atas yang saya postkan di atas.berkesesuaian dengan penemuan yang ada di jambi.

  8. saya pikir peneletian tentang muaro jambi ini sudah lama berkelnjutan, sudah lebih dari 100 tahun, tidak mungkin hanya sekedar pelabuhan dagang, lantas untuk apa dibangun komplek candi muaro jambi yang super impressive itu, komplek candi terluas di asia tenggara itu, dan merupakan daerah yang paling kaya penemuan arkeologis di asia tenggara ini, kalau fungsinya hanya untuk pelabuhan. bukan kita sudah tahu bahwa sriwijaya itu salah satu pusat pegajar agama budha terbesar di dunia, dimana tempatnya yang pantas kalau bukan di muaro jambi.
    saya tidak menyalahkan keseluruhan bahwa daerah ini juga sebagai pelabuhan,tepatnya di daerah sabak(ditulis zabak dalam literatur kuno arab dan persia) muara sungai batanghari hari, 40 menit dari muaro jambi dan pelabuhan ini tetap masih berfungsi meski sriwijaya pusatnya sudah di pindahkan ke hulu sungai batanghari(darmasaraya) dan menjelma menjadi kerajan melayu baru pasca penyerangan raja cholamandala.mengingat darmasaraya adalah daerah pedalaman yang aman dari serangan luar , di bandingkan muaro jambi yang lebih dekat ke selat malaka,darmasaraya jauh lebih aman, untuk itulah keluarga kerajaan dan penduduk muaro jambi yang menjadi nenek moyang sebgian orang minangkabau sekrng ini yang bermigrasi ke darmasara dan selanjut ke Saruaso sejak saat itulah komplek besar candi muaro jambi di tinggalkanang minang itu . sebaiknya dalm membaca sejarah liht runut waktu kronologi peristiwa sejarah kapan berdirinya kerajaan melyu kuno,kapan berdirinya kerajaan sriwijaya, kapan berdirinya kerajaan melayu muda darmasaraya dan kapan aditiyawarman memindahkan darmasaray ke pagruyung. Dan kapan muaro jambi yang memiliki kompek candi terbesar diasia tenggara itu dijadikan pusat dan kapan ditinggalkan sebagai pelabuhan biasa. https://id.wikipedia.org/wiki/Dharmasraya . Muaro jambi peranan mulai mengecil ketika pusat pemerinthn dipindhkn ke pedalaman. Pada masa lalu adalah hal yang tidak mungkin menjadikan daerah pedalaman sebgi pusat pemerintahn ,kalau tidak adnya ancamn dari luar, coba liht pusat pemerintahan kerajaan kuno ataupun VOC pada masa lalu dinusantara ini pasti pusat pemerintahn klau ngak di tepi sungai besar yang dekat dengan muara laut, pasati ibu kotanya di teluk tepi laut. dan bahkan berpengaruh pada pusat pemerintahan indonesi di zaman modern.
    jadi yang dinamakan Orang MINANG KABAU sekarng ini adalah mereka yang memiliki darah campuran nenek moyang dari orang-orang melayu sriwijaya dari muaro jambi yang bermigrasi ke darmasaraya pasca serangan Chola kemudian pada masa aditiyawrman mereka bermigrasi lagi ke surosoan membentuk pagaruyun, orang-orang melayu sriwijaya inilah yang bercampur dengan orang-orang asli yang memang sudah ada sebelum kedatang aditiyawarman mendirikan pagaruyung dan membentuk apang yang dinamakan MINANGKBAU sekarang ini
    jadi dalam darah orang minang sekarng itu mewarisi darah sriwijaya yang suka merantau,berkelana. jangan heran prasasti sriwijaya berbahasa melayu kuno itu juga di temukan di jawa,thailand,philifina karena sukanya orang sriwijaya berkelana menaklukan daerah baru seperti yang diwariskan orang minang sekarang. Jadi sebelum kedatang aditiyawarman ke surosoan, apa yang dinamakan daerah adat minangkabau sekarang ini sama dengan orang batak sebelum abad ke 20, jauh dari dunia luar karena tapografi alamnya yang bergunung berbukit tertutup jauh dari hiruk pikut di jalur perdagangan internasional kuno di selat malaka dan tidak adany sungai besar yang layak dilayari jung-jung kuno yang terkenal besar tersebut seperti batnghri dan musi, maka jangn heran tidak adanya peninggaln hindu budha di tano batak dan alam minangkabau sebelum kedatang ditiyawrman seperti muaro jambi dan palembang.
    Tapi di banding tano batak, alam minangkau lebih beruntung dan 700 lebih dulu terbuka ke dunia luar dibandingkan tano batak, minangkau muncul dan eksis mulai pada abad ke 13 sedangkan suku batak muncul pada awal abad ke 20 dalam percturan sejarah nusantara.
    o ya maaf kata sekali lagi mindset yang salah selama ini yang mengtakan aditiyawarman putr berdarh minangkabau , darmasaraya itu bukanlah minangkabau,memang pada masa sekrng masuk daerah administrasi SUMBAR. karena minangkabu usianya lebih muda dari darmasaraya, daerah ini pada masa lalu disebut jambi hulu, secara dialek bahasa dan adat lebih dekat dengan budaya jambi, kalaupun banyak yang berbahasa minang di pasar2 di pulau punjung,gunung medan sekitar kab darmasaraya sekrang ini, itu lebih karena banyaknya pedagang minang yang merntau di situ, seperti pekanbru di riau, sungaipenuh di jambi. jadi saya tidak sepakat bahwa aditiyawarman putra keturunan minangkabau, lebih tepat putra keturunan melayu , karena ibunya dara petak putri kerajaan melayu muda darmasara yang merupakn kelanjutn melayu tua sriwijaya dari muaro jambi.

  9. Jadi mayoritats ilmuan dasawarsa ini tidak bisa memungkiri setelah mereka datang sendiri melakukan penelitian lapangan bahwa muaro jambi ibu kota sriwijaya yang sebenarnya, semuanya berkesesuian dengan catatan kuno dari china yang ditulis ithsing baik dari tinjaun arkeologi,geologi/geomorfologi,astronomi,budaya.tidak adapun satu situspun di nusantra ini yang mendekati cirri-ciri kota sriwijay menurut catatan ithing selin muraro jambi
    saya yakin dan pasti bahwa pusat sriwijaya yang sebanarnya ada di muaro jambi, bukan karena saya memiliki darah jambi, tapi memng karen fakta ilmiah.dan saya meyakinin bahwa palembang chaiya. muara takus, kedah adalah pelabuhan-pelabuhanya pentingya.

    Bahkan saking cemburunya Gubernur SUMSEL Alex Nurdin terhdap Jambi yang memiliki bukti besar, nyata pasca dia menghdiri seminar Kerajaan Sriwijaya, yang intinya kata-katanya memng benar jambi memiliki bukti yang tidak terbanthakan, tetapi sriwijaya tetap di plembang. Memang benar yang beliau katakana, sejak 100 tahun lalu ketika ketik teori codes yang mengatakan bahwa sriwijya ada di Palembang, nyaris wilayah lain yang juga di klim sebagai kandidit ibu kota sriwijya seperti muraro jambi tenggelam, apalagi Palembang di dukung dengan banyak literature buku-buku sejarah yang tersebar di sekolh mengatakan bahwa sriwijya itu ada di plembang. Dan semenjak teori codes itu lahir ,sriwijaya menjadi identitas kota Palembang, bahkn semua nama dikitkan dengn driwijaya, mulai dri universits sriwijaya, pupuk sriwijay, sriwijy fc, jalan sriwijaya, sriwijaya air dsb, semuanya tidak akan bisa dihapus , meski kenyataan sriwijaya itu ada di muaro jambi.
    Kecemburuan Alex Nurdin terhadap jambi sampai kepuncaknya bahkan menghebobkan berita nasional, bahkan presiden SBY turut ikut campur, ketika Alex Nurdin mendengar kabar dari Jusuf Kalla, bahwa menurut salah seorang pejabat jambi bahwa pempek itu adalah makan khas dari jambi, hinggi membuat Alex nurdin merandang, dan mengancam akan berperang dengan jambi. Dan beberapa hari kemudian beliuan meminta maaf,bahwa beliau mengatakn ingin berperang dengn jambi adalh karena bercanda. Dan beliau mengaku bahwa pempek memng berasal dari jambi, tetapi pempek adalah milik Palembang. Sebenrny pempek memng tidak bisa pisahkn dari jambi khususnya jambi kota seberang, disetiap perayaan pempek selalu dihidngkan, dan mereka mengosumsi pempek sudah ada sejak ratusn tahun yang lalu, bahkan beberpa jenis di jambi kota sebarng tidak bias kita jumpai di Palembang. Seharus sikap alex nurdin harus lebih dewasa lagi, kalau bias mari adu bukti kepemilikan dari catatan sejarah. Tapi untunglh gubenur kebanggaan jambi Hasan Basri Agus lebih dewasa dalam menghadapi ini semua.
    Bukan hanya pempek, plembang memperjuangkn kepemilikan atas duku, Karena takut dengan klim jambi, tapi untng pemerintahn jambi bertindak cepat memperjuangkan hak yang sama, ketakutan palembnag pada jambi adalah hal yang wajar, memang benar dalam percaturan duku nsional, nama duku plembnag lebih menasional dri duku muaro kumpe, duku muro panco, duku pagar pudding tebo, tetapi jika dibndingkan dengn duku komering sentra duku Palembang, duku dari ke 3 tempat jambi jauh lebih besar dan rasanya manis, dengan kualitasnya itu ramai toke-toke dari plembnag yang membeli duku dari plembang , dari plembang dibawa kedaerah lin khusunya jawa, mesiki duku dari jambi, tapi setelah masuk ke plembang namany berbah jadi duku plembang.
    Begitupun ikan patin, meski jambi memiliki tambak ikan patin yang jauh lebih besar dari plembang, dan dibawa ke palmebng, nmun nyatny patin Palembang jauh ternma.
    Cuma satu yang tidak mau di klim palembang dari jambi, yaitu SUKU KUBU/ORANG RIMBA/SUKU ANAK DALAM, meski SUMSEL dan Jambi sama-sama memiliki SAD, bahkan menurut sensus SAD di Palembnag lebih banyak dari jambi, tapi plembang tidak mau mengklim SAD dri jambi, hingga jambi terkenal dan melekat dengan SADnya apalgi SAD naik pamor ketik di angkat oleh butet manurung, hingga di film dengan judul SEKOLA RIMBA, pada tahun 70 an suku kubu pernah naik pamor ketik film INTAN PERAWAN KUBU yang diperankan oleh Yati Otovia yang suting di air hitam sarolangun bango jambi ini meledak di pasarn, cerita tentan suku kubu ini juga pernah terangkat ketika sepasang suami istri berhasil menipu presiden Soekarno mengaku sebagai raja dan ratu kubu mendukung kemerdekaan RI , dan disambut baik oleh soekrno dengan diperlakukn mewah oleh soekrno, pada wktu soekrno memng butuh2ny dukungan untuk mendukun pembentukn RI,dan heboh diberita nasionl ketika itu
    Jadi jangan hal-hal baik saja yang di klim yang di angkat dan malu mengakui hal “jelek” dan belum tentu juga hal yang “jelek” itu benar-benar jelek.

  10. ju berkata:

    Ada banyak penafsiran ttg asal usul etnik manapun. Baik jawa, batak, bugis , dll… tentang asal usul sebuah ras, malahan saya berpendapat apapun ras berawal dari puncak gunung bukan pinggir sungai.. bumi yang kita diami sekarang dulunya dominan air.. air susut yg awal muncul adalah puncak gunung… makanya orang minang mengatakan nenek moyangnya berawal dari puncak gunung marapi dikarenakan air bersentak turun, mulai kelihatan sedikit demi sedikit hamparan daratan… ini dikuatkan oleh kisah di Al Quran semasa banjir nabi Nuh.. dimasa datang banjir besar bumi tertutup air..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s