Metode Hisab dan Gerakan Tajdid Muhammadiyah

Posted: September 6, 2011 in Sosial Budaya
Tag:, , , , ,

Al Azhar Kebayoran Jakarta, merayakan Idul Fitri pada tanggal 30 Agustus 2011

Dalam laman kali ini, izinkanlah saya untuk mengkompliasi beberapa tulisan yang tercecer mengenai hisab dan rukyat, serta cara pandang Muhammadiyah dalam menentukan awal puasa dan Idul Fitri. Tulisan ini merupakan saripati dari berbagai sumber, yang ditulis oleh para fuqaha serta pakar astronomi. Sebagai mukadimah, ada baiknya saya nukilkan disini ayat-ayat Al Quran serta hadist yang menjadi dasar bagi kaum Muhammadiyah untuk menggunakan metode hisab dalam penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Dalam Quran Surat (Q.S) Ar Rahman (55) ayat 5 dinyatakan bahwa “Matahari dan bulan beredar menurut perhitugan.” Kemudian Q.S Yunus (10) ayat 5 menerangkan bahwa “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” Kemudian Q.S Al-Isra’ (17) ayat 12 juga menegaskan bahwa : “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” Serta Hadist Rasulullah SAW : “Sesungguhnya satu bulan itu 29 (hari), maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihatnya dan janganlah kamu berbuka sehingga melihatnya, maka jika terhalang atasmu maka perkirakanlah ia.” (H.R. Muslim). Dari ayat-ayat dan hadist di atas jelaslah bahwa semangat Islam adalah semangat untuk berpikir progresif. Semangat yang memerintahkan kita untuk menjunjung tinggi akal, dalam perjalanannya mengimani perintah-perintah Allah.


Rasyid Ridha

Berkaca pada spirit tersebut, maka sejak abad pertama hijriah, para ilmuwan Muslim berlomba-lomba untuk menguasai ilmu falak. Tersebutlah nama-nama besar seperti Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Battani (858-929 M), serta Al-Biruni (973-1048 M) sebagai pakar matematika dan ahli astronomi. Mereka tidak saja mampu menentukan kalender Qamariah dengan tepat, namun juga menemukan cara-cara penyelesaian matematika yang rumit. Sejak dibuatnya kalender Qamariah oleh para ilmuwan tersebut, maka praktis jarang sekali terjadi perbedaan waktu ibadah diantara umat Muslim se-dunia.

Sedangkan para ulama yang menggunakan metode melihat bulan (rukyat al-hilal), hanya terpaku kepada hadist Rasulullah : “Berpuasalah kalian karena melihatnya dan akhiri puasa karena melihatnya. Sesungguhnya kami ini masyarakat buta huruf, tidak dapat menulis dan menghitung (ilmu perbintangan), jumlah hari-hari dalam sebulan adalah begini dan begini (sambil memberi isyarat dengan kedua tangannya), yakni kadang 29 dan kadang 30 hari.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Dan tafsiran mereka tentang hadist tersebut, lebih menekankan pada keutamaan melihat bulan. Tanpa menengok konteks di belakangnya, bahwa masyarakat Muslim ketika itu belum menguasai ilmu astronomi dengan baik. Menjawab perbedaan tersebut, dua ulama asal Syria : Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa berpendapat, bahwa perintah melakukan rukyat adalah perintah berilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena umat Muslim pada zaman Rasulullah SAW tidak bisa melakukan hisab. Oleh karenanya rukyat merupakan satu-satunya cara untuk menentukan bulan baru. Dalam kaidah fiqih, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya alasan. Sehingga jika ada sekelompok kaum yang tidak menguasai ilmu pengetahuan — dalam hal ini hisab — maka diperbolehkan untuk menggunakan cara konvensional (rukyat). Sedangkan jika sudah terdapat ahli hisab, maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Hal ini kembali ditegaskan oleh Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir, yang mengatakan bahwa penggunaan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat dimana tidak seorang-pun yang mengetahui hisab.

Di samping itu, keutamaan hisab adalah untuk menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memungkinkan umat Muslim berbeda-beda dalam memulai bulan Qamariah. Hal ini dikarenakan rukyat tidak mencakup seluruh muka bumi. Pada hari yang sama, ada muka bumi yang bisa rukyat al-hilal tetapi ada pula yang tidak. Permukaan bumi di atas 60° LU dan di bawah 60° LS adalah kawasan yang tidak normal. Dimana pada kawasan tersebut manusia tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya. Ataupun dapat melihat namun sudah terlambat, yakni ketika bulan telah besar. Kesulitan melihat bulan akan sangat terasa di kawasan lingkaran Arktik dan Antartika, yang memiliki waktu siang melebihi 24 jam pada musim panas dan waktu malam melebihi 24 jam di musim dingin.

Sidang Itsbat dipimpin langsung oleh Menteri Agama Suryadharma Ali

Selain masalah hisab-rukyat, pendekatan dan kriteria dalam menentukan permulaan bulan juga mengakibatkan terjadinya perbedaan awal puasa dan hari raya. Muhammadiyah, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia, menggunakan metode hisab murni dengan pendekatan wujudul hilal (bulan telah muncul). Oleh karenanya, jauh-jauh hari Muhammadiyah telah menetapkan bahwa hari raya Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Hal ini berdasarkan perhitungan tim hisab Muhammadiyah yang menyatakan bahwa pada maghrib tanggal 29 Agustus, bulan telah berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 1° – 2°. Muhammadiyah menambahkan, meskipun hilal telah muncul, namun sulit bagi manusia untuk melihatnya pada ketinggian tersebut dengan peralatan yang ada sekarang ini. Melihat realitas yang ada, maka organisasi yang memiliki 25 juta pengikut itu berketetapan untuk mengesampingkan rukyatul hilal, yang menjadi rujukan para ulama tradisional. Walau penuh kontroversi, namun sikap ini mempertegas keyakinan Muhammadiyah yang mempercayai ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan ibadah ma’doh.

Sedangkan Pemerintah, dalam hal ini masih menggunakan pendekatan imkan ar-rukyat, suatu pendekatan yang mengutamakan rukyat dengan perhitungan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria tersebut antara lain umur bulan minimal 8 jam pasca konjungsi serta berada pada ketinggian 2°. Angka 2° ini didasarkan atas data empiris yang menyebutkan bahwa di Indonesia hilal baru akan nampak ketika berada di atas 2°. Dikarenakan pada sore tanggal 29 Agustus hilal belum melebihi 2°, maka Pemerintah memutuskan bahwa mustahil bulan akan nampak. Hal ini diperkuat oleh hasil rukyat di 96 lokasi yang menyatakan bahwa hilal tidak terlihat.

Namun anehnya, ketika ada sekelompok orang yang mengaku telah melihat bulan dan berani untuk disumpah, Pemerintah malah mengabaikan kesaksian mereka. Pada sore 29 Agustus 2011, setidaknya ada dua orang yang telah melihat hilal. Satu berlokasi di Cakung, Jakarta dan yang lain di Jepara, Jawa Tengah. Ketua MUI Makruf Amin dalam Sidang Itsbat di kantor Departemen Agama mengatakan “Jika mustahil, tapi ada yang mengaku melihat harus ditolak.” Pengabaian ini tentu sangatlah bertentangan dengan sikap Rasulullah yang pada masanya memerintahkan umat Muslim untuk berbuka puasa, dikarenakan bulan telah nampak berdasarkan kesaksian seorang Badui. Terlepas benar atau tidaknya hilal telah terlihat di Cakung dan Jepara, hal ini mempertegas bahwa rukyatul hilal kuranglah akurat dan bisa diperdebatkan.

Din Syamsuddin, pemimpin Muhammadiyah yang kerap mengkritik Pemerintah (muhammadiyah.or.id)

Munculnya pelbagai macam metode serta pendekatan itulah, maka acap kali umat Muslim di Indonesia berhari raya pada waktu yang tak bersamaan. Pada tahun ini, lebaran dilakukan dalam tiga hari berturut-turut, secara bergantian oleh kelompok kaum yang memiliki paham berbeda-beda. Pengikut Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat, melakukan sholat Idul Fitri pada tanggal 29 Agustus 2011. Kaum Muhammadiyah pada tanggal 30 Agustus, dan Pemerintah — dalam hal ini melalui Kementerian Agama dan MUI — memutuskan untuk berlebaran pada keesokan harinya.

Terkait dengan keputusan pemerintah tersebut, satu hal yang menggelitik pikiran saya adalah, kalaulah Pemerintah jauh-jauh hari telah mengetahui bahwa tanggal 29 Agustus hilal masih berada di bawah 2° dan tak mungkin terlihat, untuk apa pula dibentuk tim rukyat al-hilal. Toh akhirnya kesaksian orang yang melihat bulanpun tak bisa diterima. Serta untuk apapula mengadakan Sidang Itsbat yang memakan waktu, energi, dan biaya yang tidak sedikit, jika akhirnya Idul Fitri tetap diputuskan pada tanggal 31 Agustus 2011. Dalam pengantar sidang, Muhammadiyah justru berpandangan bahwa kriteria 2° itu tidaklah diperlukan. Selain bersifat lokal dan berubah-ubah, kriteria tersebut tidak ditemukan dalam hadist maupun ijma para ulama salaf. Namun dalam Sidang Itsbat kemarin, penjelasan-penjelasan dari pihak Muhammadiyah tidaklah mendapatkan tempat yang proporsional. Sidang hanyalah formalitas belaka, yang tak memberikan ruang diskusi bagi tercapainya kata mufakat. Wartawan senior Nuim Khaiyath, melalui Radio Australia siaran Indonesia menyebutkan, mungkin ada upaya penyudutan terhadap jemaah Muhammadiyah. Sehingga ide-ide yang datang dari golongan tersebut mesti ditolak mentah-mentah. Menurutnya hal ini dikarenakan sikap Muhammadiyah selama ini, yang kritis terhadap kinerja Pemerintahan SBY-Budiono.

Meskipun dalam penetapan kali ini Muhammadiyah keluar dari mainstream jumhur ulama tanah air, namun setidaknya keputusan itu sama dengan yang telah diambil oleh Pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Dimana dengan ketiga negara tersebut, Indonesia telah memiliki perjanjian untuk berhari raya bersama. Selain negara-negara di atas, minimal terdapat 28 negara yang merayakan Idul Fitri pada tanggal 30 Agustus 2011. Diantaranya adalah Arab Saudi, Mesir, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yaman, Turki, Irak, Yordania, Palestina, Lebanon, dan Sudan. Sedangkan yang sama dengan keputusan Pemerintah hanya sekitar 6 negara, antara lain Oman, Libya, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Wallahualam bi shawab.

 
Sumber gambar : http://www.kompas.com

Iklan
Komentar
  1. marisaulfah berkata:

    Indonesia ini kan negara sekuler, dimana artinya sebuah negara menjadi netral dalam permasalahan agama.
    Nah menurut mas Afan, masih perlukah negara mengatur tentang kapan hari raya Idul Fitri seperti selama ini?
    lagipula meski pemerintah mengatur pun, ternyata masing-masing ormas juga menghitung sendiri.

    • Afandri Adya berkata:

      Kalau waktu sekolah dulu, Indonesia dikategorikan bukan sebagai negara sekuler dan bukan negara agama, jadi di antara keduanya. Terkait dengan penetapan Idul Fitri, aku kira sih seharusnya umat Muslim sudah memiliki penanggalan Qamariah yang satu. Sehingga mereka bisa merayakan Idul Fitri pada tanggal yang sama, seperti halnya umat Kristiani merayakan Natal. Nah tugas negara nantinya hanya meresmikan hari libur terkait dengan perayaan Idul Fitri tersebut. Namun realitas yang ada, umat Muslim hingga saat ini tidak memiliki kalender Qamariah yang baku, sehingga masing-masing negara bisa memutuskan hari raya Idul Fitri.

      Sebenarnya jika ulama-ulama se-dunia menyepakati metode hisab wujudul hilal dalam penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijah, maka umat Muslim akan kompak merayakan ibadah mereka. Beberapa negara memang sudah bergeser ke perhitungan wujudul hilal. Namun masih banyak pula yang menganut keutamaan melihat bulan. Semoga setelah Temu Pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam tahun 2008 kemarin di Maroko, umat Muslim akan bersatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s