Pelataran Bandara Sultan Hasanuddin Makassar

Sebentar lagi anda akan mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar. Begitu informasi yang terdengar dari pengeras suara dalam kabin pesawat kami : Garuda Indonesia Boeing 737-300 jurusan Jakarta-Manado. Siang itu, di pertengahan Juni tahun 2007 lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bandara Hasanuddin Makassar. Bandara dengan tingkat kesibukan paling tinggi di belahan timur Indonesia. Kami tiba ketika matahari mulai condong ke barat. Meski hanya transit sebentar, namun kami menyempatkan diri untuk turun ke dalam terminal. Mencari pernak-pernik serta oleh-oleh khas Makassar.

Bandara ini tak ubahnya seperti terminal bus AKAP. Di setiap sudut nampak beberapa orang bergerombol, berkumpul tak beraturan. Hampir tak ada ruang kosong yang tak ditempati oleh calon penumpang. Sebagian diantara mereka menggelar koran dan merebah sedapatnya. Melepas rasa penat sambil menunggu waktu keberangkatan. Beberapa yang lain, duduk menyandar ke dinding-dinding penyekat ruang. Dimana-mana terdengar suara anak menangis. Merengek kegerahan menahan sesaknya udara siang. Rendahnya jarak antara lantai dan atap bandara, mengakibatkan terhambatnya sirkulasi angin di dalam ruang tunggu penumpang. Hal ini makin diperparah dengan tak berfungsinya beberapa alat pendingin ruangan.

Namun setelah beroperasinya terminal baru, kondisi bandara ini berbalik seratus delapan puluh derajat. Desainnya yang minimalis dan modern, seolah menegaskan adanya suatu perubahan yang terjadi di Republik ini. Dan salah satu ciri desain minimalis itu adalah penggunaan kaca sebagai pembatas ruang. Dengan kaca-kaca itu, interior bandara tak lagi memerlukan lampu di siang hari. Penerang ruangan, cukup dengan tenaga surya yang senantiasa memancar setiap saat. Atap bandara-pun didesain lebih tinggi dari sebelumnya. Tiang-tiang rangka penyangga atap, dibiarkan terbuka tanpa harus dilapisi tembok.

Fasilitas bandara seperti kafe, lounge, dan toilet, tak luput dari perhatian pengelola. Hampir di setiap sudut terminal, dengan mudah dijumpai kamar-kamar kecil dengan kran pembilas serba otomatis. Kafe-kafe berukuran sedang, dengan aneka kudapan khas Bugis-Makassar, tak sulit untuk ditemui. Bagi anda pemegang kartu kredit dan penumpang Garuda eksekutif, kamar santai Blue Sky Lounge, El John Lounge, dan Toraja Lounge, siap memanjakan diri anda dengan layanan makanan dan ruang kerja yang menyenangkan.

Bandara Hang Nadim Batam

Eksterior bandara tak kalah menariknya dengan yang ada di dalam ruang. Pada kaca bagian belakang, menempel sejajar rangkaian huruf-huruf besar bertuliskan : Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Selain sebagai penanda, huruf ini sekaligus menjadi ornamen penghias bagian luar. Di halaman muka, terbentang kolam ikan dengan pancuran air yang menyembur ke atas. Ketika malam tiba, lampu-lampu kuning menyala menghiasi pelataran parkir bandara.

Seperti halnya Bandara Sultan Hasanuddin, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta juga mengusung konsep eco-friendly. Konsep ini bertujuan untuk meminimalisir penggunaan energi listrik dan lebih mengandalkan cahaya matahari sebagai penerang ruangan. Dengan dilapisi kaca pada rangka bagian luar, interior Terminal 3 nampak lebih terang dan gres. Dari dalam plaza, calon penumpang bisa menikmati pemandangan hilir-mudik pesawat yang baru mendarat dan akan lepas landas. Sesuai dengan grand design pengembangan bandara, Terminal 3 merupakan low cost carrier terminal. Yang berfungsi sebagai hub bagi maskapai penerbangan berbiaya rendah. Rencananya, terminal dengan luas area 30.000 m2 dan berkapasitas 4 juta penumpang ini, akan diperluas lima kali lebih besar. Sehingga pada tahun 2020 nanti, Bandara Soekarno-Hatta bisa menampung sedikitnya 60 juta penumpang per tahunnya. Di samping itu antara Terminal 2 dan Terminal 3, akan dibangun linking galery yang berisi toko-toko souvenir dan makanan. Hal ini meniru Changi di Singapura, yang telah terlebih dahulu memiliki shopping mall di dalam bandara.

Dalam satu dasawarsa terakhir, desain minimalis banyak dipilih para perancang bangunan, termasuk arsitek yang mendesain bandar udara internasional. Di luar negeri, beberapa bandara baru yang menerapkan arsitektur minimalis antara lain Suvarnabhumi Airport di Bangkok dan KLIA di Kuala Lumpur. Di Indonesia setidaknya terdapat lima bandara yang menerapkan konsep minimalis. Selain Terminal 3 Soekarno Hatta dan Sultan Hasanuddin, masih ada Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, dan Bandara Minangkabau Padang. Sebentar lagi akan menyusul Bandara Kuala Namu Medan serta Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Hang Nadim Batam, merupakan bandara dengan arsitektur minimalis pertama di Indonesia. Sejak melayani penerbangan internasional pada tahun 1994, bandara ini didesain ulang dengan sentuhan modern. Dengan empat garbarata berbadan besar, 2 x 12 check-in desk, serta landasan pacu sepanjang 4.025 meter, telah menempatkannya sebagai bandara modern pertama di luar Pulau Jawa. Meskipun tergolong modern, namun fasad bandara ini lebih nampak seperti hypermarket tenimbang pelabuhan udara internasional. Bentuknya yang kotak-kotak, sekilas mirip dengan pusat perkulakan Lotte Mart di Jakarta. Satu-satunya bandara di Indonesia yang menerapkan konsep minimalis, namun tetap menjaga unsur lokal adalah Minangkabau International Airport di Padang. Ciri khas bergonjong yang berpadu dengan rangka minimalis serta ruang tunggu yang lapang, telah menempatkannya sebagai pintu gerbang Indonesia yang paling unik.

 
Jumlah Penumpang

Bandara Ngurah Rai, Bali (sumber : Bali Post)

Jika dilihat dari jumlah penumpang yang menggunakan jasa pelabuhan udara di Indonesia, maka terdapat kenaikan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan RI, pada tahun 2000 jumlah penumpang yang memakai jasa bandara hanya sekitar 17 juta orang. Angka ini melonjak empat kali lipat, menjadi 70 juta orang di tahun 2009. Membaiknya kondisi perekonomian masyarakat, yang diiringi dengan kehadiran maskapai penerbangan berbiaya rendah, menjadi faktor pemicu lonjakan tersebut. Di beberapa wilayah sentra ekonomi baru seperti Riau dan Kalimantan Timur, jumlah penumpang yang menuju bandara propinsi tersebut mengalami peningkatan paling tajam. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru misalnya, yang sepuluh tahun lalu masih jarang didarati pesawat komersial, kini tak sanggup lagi menampung membludaknya jumlah penumpang.

Begitu pula halnya dengan beberapa daerah tujuan wisata, seperti Bali, Jogjakarta, dan Sumatera Barat. Kecuali Sumatera Barat yang telah memiliki bandara baru, dua propinsi lainnya masih terkendala dengan kapasitas bandara yang sempit. Bandara Ngurah Rai Bali misalnya, dua tahun lalu telah didatangi oleh lebih dari 9,5 juta orang. Jumlah tersebut melampaui kapasitas normal bandara yang hanya siap menampung 4 juta penumpang setiap tahunnya. Untuk itu maka pada tahun 2012 nanti, pemerintah berniat akan membangun bandara baru di daerah Buleleng, Bali utara. Rencananya bandara tersebut akan melayani 5 juta penumpang per tahunnya. Namun sebagian pihak mengkhawatirkan, pembangunan bandara itu akan mempercepat kerusakan ekosistem Pulau Dewata. Karena selama ini wilayah Bali utara diperuntukkan bagi pengembangan pertanian, yang memasok kebutuhan pangan Propinsi Bali.

Soekarno-Hatta Jakarta juga merupakan salah satu bandara yang cukup crowded. Berdasarkan data tahun 2009, bandara ini berada di urutan ke-23 sebagai bandara tersibuk di dunia. Posisi itu berada di atas Tokyo, Shanghai, dan Kuala Lumpur, yang menjadi kota tujuan wisata Asia Timur. Jika saja pembangunan Terminal 3 extension tidak segera terealisasi, maka diperkirakan tahun 2015 nanti Soekarno-Hatta akan mengalami penumpukan calon penumpang yang bisa berakibat lumpuhnya perekonomian nasional.

Bandara Kuala Namu, dalam proses pengerjaan akhir

Satu lagi bandara yang telah lama mengalami over capacity adalah Polonia Medan. Sebagai kota terbesar di Sumatera, Medan justru tercecer di belakang Palembang dan Padang. Revitalisasi infrastruktur angkutan udara di kota tersebut, jauh tertinggal dibandingkan dua kota terakhir. Saat ini frekuensi penerbangan di Bandara Polonia berkisar antara 100 – 120 penerbangan per hari. Naik tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2002 yang hanya 30 penerbangan. Jumlah pengguna ruang tunggu keberangkatan, kadang bisa mencapai angka 1.500 penumpang. Padahal kapasitasnya hanya mampu menampung 700 orang dalam waktu yang bersamaan. Menjawab kendala tersebut, maka pada tahun 2006 lalu pemerintah telah membangun bandara baru di kawasan Kuala Namu, Deli Serdang. Namun sudah lima tahun proyek tersebut berjalan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan diresmikan. Berlarut-larutnya penyelesaian bandara tersebut, telah menghambat pertumbuhan ekonomi Medan dan sekitarnya.

 
Daftar 26 Bandara Tersibuk di Indonesia (2009) :
1. Soekarno-Hatta, Jakarta. Jumlah penumpang : 37.143.719
2. Juanda, Surabaya. Jumlah penumpang : 10.510.676
3. Ngurah Rai, Denpasar. Jumlah penumpang : 9.621.714
4. Sultan Hasanuddin, Makassar. Jumlah penumpang : 5.063.860
5. Polonia, Medan. Jumlah penumpang : 4.956.341
6. Sepinggan, Balikpapan. Jumlah penumpang : 4.348.986
7. Adisucipto, Jogjakarta. Jumlah penumpang : 3.368.228
8. Hang Nadim, Batam. Jumlah penumpang : 2.495.063
9. Syamsudin Noor, Banjarmasin. Jumlah penumpang : 2.080.379
10. Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Jumlah penumpang : 1.977.884
11. Minangkabau, Padang. Jumlah penumpang : 1.822.339
12. Sultan Badaruddin II, Palembang. Jumlah penumpang : 1.810.570
13. Ahmad Yani, Semarang. Jumlah penumpang : 1.656.668
14. Supadio, Pontianak. Jumlah penumpang : 1.581.931
15. Sam Ratulangi, Manado. Jumlah penumpang : 1.261.525
16. Selaparang, Mataram. Jumlah penumpang : 1.187.890
17. Depati Amir, Pangkal Pinang. Jumlah penumpang : 958.817
18. El Tari, Kupang. Jumlah penumpang : 832.334
19. Sultan Thaha, Jambi. Jumlah penumpang : 805.136
20. Adi Soemarmo, Surakarta. Jumlah penumpang : 773.687
21. Pattimura, Ambon. Jumlah penumpang : 662.724
22. Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Jumlah penumpang : 574.692
23. Husein Sastranegara, Bandung. Jumlah penumpang : 527.591
24. Frans Kaisiepo, Biak. Jumlah penumpang : 313.326
25. Halim Perdanakusumah, Jakarta. Jumlah penumpang : 191.262
26. Raja Ali Haji, Tanjung Pinang. Jumlah penumpang : 155.937
 
Sumber gambar : http://www.skyscrapercity.com

Bandara Sepinggan Balikpapan

Iklan
Komentar
  1. architecture student berkata:

    konsep minimalis?? sebenarnya apa arti desain minimalis?
    apakah semua desain yg bersifat modern inovatif pasti minimalis?

    • Afandri Adya berkata:

      Menurut saya — yang bukan berlatarkan arsitek — desain minimalis adalah konsep rancang bangun yang menggunakan bahan-bahan simpel, murah, dan ringan, namun bisa menghasilkan desain bangunan yang menarik. Tidak semua desain modern inovatif yang bersifat minimalis. Konsep rancang bangun art deco yang ngetren di paruh pertama abad ke-20 misalnya, kini sedang dikonsep ulang untuk memenuhi selera orang-orang di abad ke-21. Kalau konsep yang notabene sarat dengan material-material mahal ini kembali digunakan, maka art deco akan menjadi salah satu desain modern yang inovatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s