Arsip untuk Januari, 2014


Jalan Malioboro, Jogjakarta

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Dari hari ke hari makin banyak saja pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pedesaan. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan kebiasaan lamanya : bersepeda, naik delman, atau berjalan kaki. 45 tahun lalu di Jogjakarta, naik andong merupakan lambang orang berpunya. Di Payakumbuh semasa itu, para pegawai yang bersafari merasa terlihat gagah ketika bersepeda. Begitu pula halnya di Pulau Bali, ibu-ibu penjual salak dengan suka hati berjalan kaki menuju Pasar Sukawati. Tetapi itu dulu, cerita masa saisuk.

Kini sebagian masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan. Alasannya selain lebih praktis, juga mudah dan cepat. Disamping itu, sekarang membeli kendaraan tak terlampau mahal. Terlebih sejak kredit kendaraan bermotor mudah didapat. Namun jika kita amati secara serius, ternyata bukan itu saja yang membuat orang beralih untuk berkendara. Faktor lainnya adalah kurangnya sarana bagi masyarakat yang memilih untuk tak berkendara. Di beberapa kota besar, masih banyak kita jumpai ruas jalan yang tak memiliki trotoar. Ataupun kalau ada, lebarnya tak seberapa dan penuh dengan pedagang asongan.

(lebih…)


Sampul Buku "Manusia Indonesia"

Sampul Buku “Manusia Indonesia”

Manusia Indonesia : Sebuah Pertanggungjawaban adalah judul pidato kebudayaan yang disusun oleh wartawan-budayawan Indonesia, Mochtar Lubis. Pidato ini kemudian dibacakannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 6 April 1977. Meski menerima kritik dari banyak pihak, salah satunya dari Margono Djojohadikusumo (kakek Prabowo Subianto), namun pidatonya itu mendapat tempat di hati banyak pendengar. Oleh karenanya pada tahun 2001, Yayasan Obor Indonesia perlu menerbitkannya dalam bentuk buku. Mungkin sebagian Anda akan bertanya-tanya. Mengapa buku ini baru terbit di tahun 2001, setelah 24 tahun pidato itu dibacakan. Saya mengira mungkin karena isi pidatonya yang terlampau keras. Jika dibaca secara tersirat, agaknya pidato itu ditujukan kepada kawula Orde Baru, yang dianggapnya cukup sesuai dengan enam kriteria manusia Indonesia yang diuraikannya itu. Untuk menghindari terjadinya kesewenang-wenangan pihak penguasa, penerbit memilih untuk merilisnya setelah rezim Orde Baru tumbang. Entah iya entah tidak itu alasannya, wallahualam bi shawab.

Dari subjek yang diambil, boleh jadi ini merupakan buku pertama yang mencatat kepribadian manusia Indonesia, atau lebih tepatnya “manusia Orde Baru”. Dalam buku tersebut disebutkan terdapat enam ciri manusia Indonesia, yakni:
1. Munafik atau hipokrit
2. Enggan dan segan bertanggungjawab atas perbuatannya.
3. Bersikap dan berperilaku feodal.
4. Percaya takhyul.
5. Artistik, berbakat seni.
6. Lemah watak atau karakternya.

(lebih…)