Jalan Malioboro, Jogjakarta

Jalan Malioboro, Jogjakarta

Dari hari ke hari makin banyak saja pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Tak hanya di kota-kota besar, namun juga di kota-kota kecil hingga ke pedesaan. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan kebiasaan lamanya : bersepeda, naik delman, atau berjalan kaki. 45 tahun lalu di Jogjakarta, naik andong merupakan lambang orang berpunya. Di Payakumbuh semasa itu, para pegawai yang bersafari merasa terlihat gagah ketika bersepeda. Begitu pula halnya di Pulau Bali, ibu-ibu penjual salak dengan suka hati berjalan kaki menuju Pasar Sukawati. Tetapi itu dulu, cerita masa saisuk.

Kini sebagian masyarakat lebih memilih untuk membawa kendaraan. Alasannya selain lebih praktis, juga mudah dan cepat. Disamping itu, sekarang membeli kendaraan tak terlampau mahal. Terlebih sejak kredit kendaraan bermotor mudah didapat. Namun jika kita amati secara serius, ternyata bukan itu saja yang membuat orang beralih untuk berkendara. Faktor lainnya adalah kurangnya sarana bagi masyarakat yang memilih untuk tak berkendara. Di beberapa kota besar, masih banyak kita jumpai ruas jalan yang tak memiliki trotoar. Ataupun kalau ada, lebarnya tak seberapa dan penuh dengan pedagang asongan.

Di Jalan Sukajadi, Bandung misalnya. Trotoar memang tersedia. Namun banyak terisi oleh pedagang kaki lima. Tak hanya para pedagang yang menyemak disitu, tapi juga para pengamen dan pengemis. Situasi tak jauh beda dapat pula kita jumpai di Jalan Malioboro (Jogjakarta) atau Jalan Penghibur, Makassar. Orang-orang yang berjalan di tepi ruas itu, sering terhambat oleh angkringan atau lapak para penggalas. Malahan di ruas Jalan Penghibur yang menghubungkan Fort Rotterdam dengan Pantai Losari, beberapa bagian trotoar seperti terputus. Baru di dekat landmark “Pantai Losari”, pedestrian agak tertata rapi dan cukup lebar.

Pedestrian di Pantai Losari

Pedestrian di Pantai Losari

Di kota pesisir seperti Makassar, tak hanya trotoar yang membuat orang nyaman berjalan kaki. Namun juga pohon yang rindang. Sebab di kota-kota tepi pantai, sengatan matahari membuat orang enggan untuk berjalan kaki. Di Pantai Kuta, Bali, kehadiran pohon-pohon kelapa hingga kini masih tetap dipertahankan. Bukan hanya sebagai sumber penghasilan masyarakat, namun juga bisa dimanfaatkan turis untuk tempat berteduh. Jika Anda melintasi Jalan Pantai Kuta dari arah Kuta Square hingga Pantai Legian, maka akan terasa sekali sejuknya lambaian nyiur yang tertiup angin. Kesejukan ini makin menjadi-jadi ketika sore hari, disaat sinar mentari mulai tenggelam.

Di Jogjakarta, dari Stasiun Tugu hingga Alun-alun Lor, puluhan pohon asam dan gayam nampak adem memayungi pejalan kaki. Agaknya di ruas ini ruang publik benar-benar mendapatkan tempat. Sebab selain pedestrian, pasar, dan jalur becak, disini terdapat pula bangku untuk tempat duduk dan bercengkrama. Dari tempat ini, kita bisa pula memandangi bangunan-bangunan tua seperti Istana Presiden, Bank Indonesia, Benteng Vredeburg, dan Keraton Ngayogyakarta. Pedestrian yang nyaman bisa juga kita jumpai di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang. Di pinggir jalan ini, tepatnya di muka Benteng Kuto Besak, tak hanya trotoarnya yang lebar dan rata. Namun juga tersedia puluhan kursi beton dan lampu-lampu taman. Ketika senja tiba, tempat ini mulai ramai dikunjungi warga. Kebanyakan mereka adalah pasangan muda-mudi yang hendak mencari angin, sambil menikmati hilir mudik biduk di Sungai Musi. Namun tak semua ruas jalan di Palembang seperti itu. Seperti umumnya kota-kota di Indonesia, keteraturan hanya ada di pusat kota. Bergeser sedikit dari downtown hingga ke pinggiran, kualitas pedestrian dan sarana publik semakin buruk. Di Manado misalnya, suasana pedestrian yang nyaman hanya ada di Jalan Bulevar Tendean. Pusat kota sekaligus titik terbaik untuk menikmati sunset dan Gunung Manado Tua. Mengarah ke Airmadidi atau Bandara Sam Ratulangi, trotoar makin lama makin menghilang dari tepi jalan.

Pedestrian Jalan Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang

Pedestrian Jalan Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang

Tak hanya pedestrian yang dibutuhkan masyarakat untuk memperoleh kenyamanan. Taman juga merupakan elemen penting agar masyarakat betah berlama-lama di kota itu. Dewasa ini, Surabaya merupakan kota yang cukup getol menambah jumlah tamannya. Salah satu taman yang cukup modern adalah Taman Bungkul di Jalan Darmo. Taman ini tak hanya dipenuhi oleh kembang-kembang yang sedap dipandang mata, namun juga air mancur serta kran air siap minum. Satu lagi yang cukup tertata adalah Taman Prestasi. Di taman seluas 6.000 m2 itu, anak-anak bisa bermain sambil belajar. Sebab selain dihiasi oleh 21 jenis tanaman, disini terdapat pula aneka replika penghargaan yang pernah diraih kota Surabaya. Tak hanya taman-taman besar, walikota Surabaya Tri Rismaharini juga membenahi taman sudut seperti Taman Undaan, serta taman di median jalan.

Selain Surabaya, Jakarta di bawah komando Jokowi juga rajin membuat taman-taman baru. Yang teranyar adalah taman di sekitar Waduk Ria Rio serta Waduk Pluit. Taman ini melengkapi taman-taman yang sudah ada sebelumnya, seperti Taman Menteng, Taman Suropati, Taman Ayodia, dan Taman Medan Merdeka. Disamping membangun taman di sekitar waduk, Jokowi juga menata taman-taman di ruas jalan protokol. Yang cukup mentereng ialah taman di bawah jembatan Jalan Satrio-Casablanca. Disini ketika malam tiba, puluhan lampu sorot berwarna-warni berpendar menerangi taman yang sebagian besar ditumbuhi pohon flamboyan. Ke depan Jokowi menargetkan akan menambah ruang terbuka hijau hingga mencapai 30% luas ibu kota.

Taman Bungkul, Surabaya

Taman Bungkul, Surabaya

Di kota-kota kecil, kehadiran taman kota juga mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Salah satunya adalah kota Batu di Jawa Timur. Memanfaatkan area lapangan yang kurang terawat, pemerintah setempat mengubah alun-alun kota menjadi taman bermain anak-anak. Untuk memanjakan warga, di tempat tersebut disediakan beberapa arena bermain seperti perosotan, ayunan, dan bianglala mini. Di tengah taman, terdapat pula bundaran air mancur dengan tugu apel malang serta lampion berwarna-warni. Menghadap ke arah tugu, tersusun bangku-bangku kayu tempat dimana warga bisa menikmati keindahan Gunung Kawi. Lain dengan Batu, di Sawahlunto, Sumatera Barat, alun-alun kota dimanfaatkan masyarakat untuk mencicipi jajanan khas kaki lima. Di halaman gedung kantor PT Bukit Asam itu, masyarakat bisa membeli makanan jalanan seperti bakso, nasi goreng, sate, dan mie rebus. Meski orang yang berjualan disini cukup banyak, namun semuanya tertata rapi. Sebagai wadah masyarakat untuk berkesenian, di akhir pekan didirikan panggung untuk bernyanyi bersama. Di kota yang tak memiliki mal dan bioskop itu, agaknya kehadiran panggung kesenian semacam ini bisa menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat.

Yang juga cukup penting namun sering terabaikan dalam pembangunan sebuah kota adalah pembuatan lajur khusus sepeda. Beberapa kota yang sudah memiliki lajur ini antara lain Jogjakarta dan Bekasi. Namun di kedua kota itu nampaknya lajur-lajur sepeda belum berfungsi secara optimal. Di Jalan Solo, Jogjakarta, keberadaan lajur sepeda malah menjadi tempat parkir sepeda motor. Sedangkan di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, belum ada rambu-rambu lalu lintas yang bisa melindungi para pegowes dari terjangan kendaraan bermotor. Seharusnya di sepanjang jalur ini pemerintah memasang marka pengingat : “Hati-hati ada pengendara sepeda”, atau mata kucing yang berfungsi sebagai pemisah antara lajur sepeda dengan kendaraan bermotor.

Interior Selter Transjakarta

Interior Selter Transjakarta

Elemen terpenting dari perwujudan kota yang santun dan beradab adalah pengembangan sarana transportasi massal. Sejauh ini kita boleh berbangga, sebab sudah ada 12 kota di Indonesia yang memiliki jaringan bus rapid transit (BRT). Mereka adalah Jakarta, Semarang, Surakarta, Jogjakarta, Denpasar, Palembang, Pekanbaru, Bandung, Bogor, Bandar Lampung, Manado, dan Padang. Namun dari sekian banyak kota yang telah mempunyai BRT, hanya Jakarta yang memiliki jalur khusus serta selter yang memadai. Selain Transjakarta, yang agak lumayan pelayanannya adalah Trans Jogja. Disamping sudah menggunakan kartu pintar dalam pengelolaan tiket, BRT Jogja juga telah memiliki 4 koridor yang menghubungkan tempat-tempat penting di kota tersebut. Diantaranya Bandara Adisucipto, Candi Prambanan, Jalan Malioboro, dan Kampus UGM. Mengingat tingginya antusiasme masyarakat menggunakan jasa transportasi ini, diharapkan ke depan halte-halte BRT juga menyediakan tempat penitipan sepeda dan motor.

Untuk angkutan publik berbasiskan rel, memang baru ibu kota yang serius menggarapnya. Saat ini masyarakat Jakarta telah dilayani oleh enam rute kereta komuter atau yang biasa disebut KRL Commuter Line. Keenam rute tersebut menghubungkan kota-kota satelit disekitar ibu kota, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pada tahun 2018 nanti, Jakarta akan dilengkapi oleh MRT dan monorel yang kini sedang dalam tahap pembangunan. Dengan dua tambahan moda angkutan tersebut, diharapkan nantinya kemacetan di Jakarta bisa terpangkas hingga separuhnya.

Selain Jakarta, moda transportasi komuter terdapat pula di Surabaya, Bandung, dan Medan. Namun di kota-kota tersebut, pengembangannya belum semassif di Jakarta. Di Surabaya, kereta komuter hanya melayani 6-7 pemberangkatan per harinya. Untuk rute padat Surabaya Kota-Sidoarjo misalnya, cuma ada lima pemberangkatan setiap harinya, dengan jam pemberangkatan terakhir pada pukul 5 sore. Untuk tujuan Mojokerto, hanya dilayani empat pemberangkatan dari Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut). Sedangkan tujuan Lamongan hingga Bojonegoro, cuma ada satu pemberangkatan dari Stasiun Pasar Turi.

Kereta Komuter Arek Surokerto jurusan Surabaya-Mojokerto

Kereta Komuter Arek Surokerto jurusan Surabaya-Mojokerto

Di Bandung, kereta komuter hanya melayani rute Padalarang-Bandung Kebon Kawung hingga Cicalengka. Dibandingkan dengan Surabaya, peminat kereta komuter di Bandung cukup besar. Hal ini ditandai dengan adanya 9 perjalanan kereta ekonomi dan 11 perjalanan kereta patas setiap harinya. Di Medan, kereta komuter telah melayani tiga rute perjalanan, untuk tujuan Binjai, Belawan, dan Tebing Tinggi. Dari ketiga rute itu, yang paling diminati adalah rute Medan-Binjai, yang menyediakan delapan jadwal pemberangkatan. Disamping kereta komuter Sri Lelawangsa, Medan juga memiliki kereta bandara. Kereta ini melayani jurusan Stasiun Medan-Bandara Kuala Namu. Untuk bisa menggunakan fasilitas ini, penumpang dikenakan biaya sebesar Rp 80.000. Meski harga tiket tersebut terasa mahal, namun kereta ini bisa memangkas waktu tempuh menuju dan dari Kuala Namu.

Satu lagi kota yang serius mengembangkan angkutan publik berbasiskan rel adalah Palembang. Di bawah komando Alex Noerdin, kota ini berencana akan mengembangkan monorel sepanjang 21,6 km yang menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Jakabaring. Proyek ini nantinya akan dikerjakan oleh PT True North Bridge Capital Indonesia dan Hanwa Group Korea. Semoga ke depannya akan lebih banyak lagi kota-kota di Indonesia yang mau mengembangkan angkutan publik berbasiskan rel. Sehingga masyarakat tak perlu lagi berlama-lama di jalan raya menghadapi kemacetan yang semakin akut.

 

sumber gambar : http://www.skyscrapercity.com

Lihat pula :
Riwayat Kota-kota di Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s