Mengapa Perekonomian Jepang Stagnan dan Banyak Perusahaannya Bertumbangan?

Posted: Juni 27, 2018 in Ekonomi Bisnis
Tag:, , , , ,

Proyeksi Populasi Jepang Hingga Tahun 2110

Dulu, saya salah satu pengagum Jepang. Budaya tepat waktu, teknologi modern, serta manga yang menarik, menjadi pemicu saya untuk mempelajari kultur Jepang. Bagi anak-anak yang tumbuh pada dasawarsa 1980-1990-an, mengikuti cerita animasi Jepang adalah suatu keharusan. Baik itu melalui film atau komik-komiknya. Seiring berjalannya waktu, kekaguman akan budaya Jepang, mendorong saya untuk mengulik hal-hal apapun yang berbau Jepang. Termasuk kegemaran mengikuti perkembangan bisnis dan ekonomi disana. Nah, dalam artikel kali ini, kita akan kembali mendedah perekonomian Jepang yang dalam beberapa dasawarsa terakhir terus mengalami penurunan. Tulisan ini juga hendak mengajak Anda untuk mendiskusikan lagi faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya perekonomian suatu negara, dan relevansinya terhadap perekonomian nasional.

Mungkin tak satupun dari Anda yang tak tahu merek Toyota, Sony, Mitsubishi, ataupun Uniqlo. Ya, semua itu adalah merek-merek Jepang yang mendunia. Kini negara yang pada pergantian abad lalu itu masih menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar, sedikit demi sedikit mengalami penurunan. Berdasarkan laporan Biro Statistik mereka, pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Jepang hanya sekitar 1,6%. Ini jauh menurun jika dibandingkan pertumbuhan pada dasawarsa 1970-an yang bisa menyentuh angka dua digit. Rendahnya pertumbuhan tersebut, dipicu oleh banyaknya perusahaan Jepang yang menutup unit-unit usahanya. Bahkan beberapa pengusaha ada yang melego kepemilikannya ke pihak lain. Lalu apa yang menjadi penyebab pelemahan tersebut? Banyak ahli yang mengatakan bahwa faktor demografi-lah yang menjadi katalisator menciutnya perekonomian negara sakura. Bagaimana ceritanya? Silahkan dibaca lanjutannya.

* * *

Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa tak lepas dari kualitas sumber daya manusianya. Pada dekade 1960 – 1980-an, Jepang mengalami masa keemasan. Masyarakatnya yang hampir 100% melek huruf dan memiliki tingkat pendidikan yang cukup, menjadi penopang perekonomian negara. Tak hanya melahirkan produk-produk berkualitas, pada masa itu perekonomian Jepang juga mengalami pertumbuhan cukup pesat. Produk Domestik Bruto (PDB) mereka berhasil melampaui Uni Sovyet, dan pendapatan per kapitanya melompat 2,5 kali lipat dari USD 9.068 pada tahun 1980 menjadi USD 23.801 sepuluh tahun kemudian. Namun di awal dasawarsa 1990-an, segalanya menjadi berubah. Ini diawali dengan resesi yang terjadi pada tahun 1992. Dimana permintaan produk otomotif dan elektronik negara tersebut mengalami penurunan. Jepang yang sebelumnya menjadi market leader pada industri semikonduktor, perlahan-lahan mulai digerogoti perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, Korea, serta Taiwan.

Perbandingan Komposisi Usia Masyarakat Jepang (1950, 2010 dan 2050)

Ternyata dampak dari resesi tersebut memberikan multiplier effect ke sektor lainnya. Sektor properti yang sebelumnya mengalami peningkatan harga, tiba-tiba mengalami kejatuhan. Akibatnya banyak debitur yang menjaminkan aset propertinya ke perbankan, jadi tak mampu melunasi hutang-hutangnya. Bank-bank yang memiliki debitur seperti ini dalam jumlah besar, akhirnya mengalami insolvensi. Dan ini pada gilirannya menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat untuk mendepositokan uangnya di perbankan. Karena krisis kepercayaan tersebut, masyarakat Jepang akhirnya memilih untuk berinvestasi di pasar obligasi atau emas batangan.

Meski faktor-faktor di atas menjadi penyebab awal menurunnya perekonomian Jepang, namun banyak pengamat melihat bahwa masalah utama yang dihadapi negara tersebut adalah sumber daya manusia. Ya, negara berpenduduk 126,6 juta jiwa itu, saat ini sedang mengalami permasalahan sosial yang cukup akut. Selain enggannya sebagian anak muda untuk menikah, pasangan yang sudah menikah-pun banyak yang tak mau memiliki anak. Saat ini angka kelahiran di Jepang tergolong rendah, hanya sekitar 1,4 anak untuk setiap perempuan menikah. Hal ini diperparah lagi dengan tingginya tingkat bunuh diri. Dimana pada tahun 2010, dari 100.000 penduduk ada sekitar 23 orang yang melakukan bunuh diri. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara berpenduduk stress lainnya, seperti Swiss, Selandia Baru, Swedia, dan Amerika Serikat. Jika kita menelusuri faktor-faktor yang menyebabkan semua itu terjadi, faktor pekerjaan, tuntutan karir, serta rumah tangga, menjadi pemicunya. Ini sangat mengerikan! Gara-gara perilaku tersebut, sejak tahun 2007 populasi Jepang terus merosot. Jika setiap tahun saja terjadi penurunan populasi sekitar 0,16%, maka di tahun 2050 nanti diperkirakan Jepang hanya berpenduduk 95 juta jiwa (Lihat Tabel di bawah).

Masalah lainnya yang tak kalah rumit ialah komposisi lanjut usia yang semakin bertambah. Sejak dasawarsa 1990-an, Jepang boleh dibilang memasuki era aging population — atau yang oleh pemerhati sosial disebut sebagai loss decade. Komposisi usia manula yang membengkak, yang tak diimbangi dengan penambahan usia produktif, tentu akan membebani anggaran negara. Mereka-mereka yang pada dasawarsa 1970-1980-an menjadi pembayar pajak, kini justru malah dibiayai oleh pajak. Berdasarkan data Biro Statistik (Lihat Piramida di atas), sekitar 25,9% penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Dan separuh dari jumlah tersebut berada di atas 75 tahun.

 

* * *

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, tingginya komposisi usia lanjut menyebabkan meningkatnya pengeluaran negara. Karena dari kegiatan ekspor-impor masih mengalami defisit, maka cara yang paling mudah ditempuh pemerintah adalah menaikkan pendapatan dari sektor pajak. Disamping itu adalah mencari dana dari luar, yakni dengan menjual obligasi atau surat hutang lainnya. Pada tahun 2017 lalu, rasio hutang pemerintah terhadap pendapatan negara (produk domestik bruto/PDB) mencapai 223,8%. Angka ini merupakan yang tertinggi di seluruh dunia, bahkan melebihi rasio hutang “negara-negara sakit”, seperti Yunani ataupun Spanyol. Jika tahun lalu PDB Jepang sebesar USD 4,88 triliun, maka dengan rasio tersebut jumlah hutang mereka mencapai USD 10,9 triliun. Memang sekitar USD 8 triliun hutang itu dibiayai oleh warga negaranya sendiri. Namun dengan angka sebesar itu, pemerintahannya jadi tak bisa berbuat apa-apa. Pendapatan yang diterima, habis untuk mencicil hutang dan membayar bunganya saja.

Komposisi Fiskal Jepang (2013)

Jika dilihat kondisi fiskal Jepang di tahun 2013, maka ada dua sumber utama pendapatan mereka, yakni dari pajak serta hutang. Keduanya memiliki besaran yang hampir sama, masing-masing sebesar 46,5% dan 46,3%. Sedangkan pendapatan dari non-pajak atau hutang, hanya sekitar 4,4%. Dari sisi pengeluaran, hampir sepertiganya dipakai untuk dana keamanan sosial — yang bagian terbesarnya untuk membiayai para manula. Kemudian seperempatnya untuk mencicil hutang, dan cuma 5,8% untuk pendidikan serta penelitian. Sedikitnya anggaran untuk pendidikan dan riset, tentu akan menurunkan kualitas produk yang dihasilkan. Tak salah jika kemudian banyak produk elektronik asal Jepang yang terlihat kuno, yang kemudian kalah bersaing di pasaran internasional. Selain kurangnya penelitian, faktor lainnya adalah bangkitnya Korea Selatan, Taiwan, serta China di pergantian abad lalu. Kalau sebelumnya perusahaan-perusahaan semi konduktor di negara tersebut cuma menjadi “sub-kontraktor” merek-merek Jepang, kini mereka sudah menjadi pemain utama dan membangun brand-nya sendiri. Disamping upah buruh yang jauh lebih murah, teknologi mutakhir yang setahap demi setahap mereka kuasai, juga telah memukul telak perusahaan-perusahaan asal Jepang. Bahkan beberapa perusahaan besar, seperti Sharp, Sanyo, Toshiba, dan Panasonic, akhirnya bertumbangan dan banyak yang dilego ke pihak asing. Raksasa-raksana China dan Taiwan – diantaranya Foxconn dan Haier, merupakan pemain-pemain utama yang banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan Jepang.

Tak hanya barang-barang elektronik, Jepang juga tak lagi menjadi pemimpin pasar untuk produk otomotif ataupun kereta api. Jerman dan Amerika Serikat, yang 30 tahun lalu sempat disalip Jepang, kini kembali mengambil porsi besar yang dulunya sempat mereka kuasai. Selain kurangnya kegiatan penelitian, faktor lainnya yang menjadikan produk-produk Jepang kalah bersaing adalah kultur senioritas di perusahaan-perusahaan mereka. Anak-anak muda jarang diberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide kreatifnya. Sehingga ide-ide gila yang sering bermunculan di korporasi-korporasi Amerika, disini sangat sulit berkembang. Karena tak lagi menjadi produk unggulan, ekspor manufaktur-pun mengalami penurunan. Sedangkan kebutuhan mereka akan barang-barang impor tetaplah tinggi.

Sekarang bisa dibayangkan, hanya karena kekurangan sumber daya manusia produktif, Jepang yang sebelumnya menjadi kekuatan ekonomi yang disegani, kini terlihat rapuh. Rasio hutangnya yang terus meningkat, yang tak disertai dengan pertumbuhan aset, menjadi tanda kelamnya masa depan negara ini. Jika saja tak ada perubahan yang berarti — terutama terkait kebijakan sumber daya manusia, seperti : memberi insentif kepada pasangan yang memiliki banyak anak, atau memberikan kelonggaran kepada para pendatang – maka dalam waktu yang tak lama lagi, negara ini akan mengalami stagnasi. Inilah mengapa dalam empat tahun terakhir, kita melihat negara-negara Eropa, seperti Jerman dan Perancis, memilih untuk menerima para imigran asal Timur Tengah dan Afrika untuk mengisi kekosongan usia produktif.

Rasio Hutang terhadap PDB Jepang

Pertumbuhan Rasio Hutang Jepang Terhadap PDB, Dibandingkan Beberapa Negara

Bagaimana dengan Indonesia? Jika dibandingkan dengan Jepang, kondisi negara kita justru berkebalikan. Selain rasio hutangnya yang tergolong rendah (hanya 27% dari PDB), pada tahun 2030 nanti Indonesia diperkirakan akan memasuki masa keemasan. Dimana pada saat itu, republik ini memiliki penduduk berusia produktif cukup besar. Dengan Indeks Pembangunan Manusia yang tergolong tinggi, serta tingkat pendidikan yang semakin baik, maka di tahun-tahun tersebut Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara maju. Dimana PDB kita akan melampaui Jepang serta negara-negara besar di Eropa Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s