Di buku sejarah nasional, invasi Kerajaan Chola ke Nusantara tak pernah diulas secara mendalam. Padahal serangan pasukan Tamil dari India selatan itu, sempat mengguncang peradaban Melayu. Serangan itu juga disebut-sebut sebagai invasi terbesar bangsa India ke Asia Tenggara. Tahun 1025 merupakan awal kemunduran Imperium Sriwijaya. Karena di tahun itu, sebuah kerajaan yang cukup bersahabat, menyerang Sriwijaya tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Sebenarnya tak ada alasan bagi Rajendra Chola I untuk menginvasi Sriwijaya. Sebab di tahun 1006, raja Vijayatunggavarman telah membangun wihara Chudamani di Nagapattinam, sebagai simbol persahabatan antara Chola dengan Sriwijaya. Malah sebelum invasi terjadi, seorang cendekiawan besar Budha : Atisa, baru saja pulang dari Sumatera (diperkirakan dari Muaro Jambi) ke India. Dampak dari serangan itu, ternyata cukup menikam mental orang-orang Sumatera. Perniagaan mereka terus menurun dan vassal-vassal-nya di Semenanjung Malaya mulai melepaskan diri. Pasca invasi tersebut, banyak dari etnis Tamil yang berdatangan ke Sumatera. Mereka diantaranya adalah kelompok pedagang Ayyavole 500 yang mendirikan koloninya di Barus (Lihat : Seribu Tahun Pesisir Barat Sumatera).
Hingga saat ini para sejarawan tak mengetahui pasti, apa yang melatarbelakangi Rajendra I untuk menginvasi Sriwijaya. Namun sejarawan India Nilakanta Sastri menduga, bahwa serangan itu terjadi karena adanya upaya Sriwijaya untuk menghalangi perdagangan Chola ke arah timur, khususnya ke Tiongkok. Dimana pada saat itu Sriwijaya yang mengendalikan Selat Malaka, memaksa kapal-kapal Tamil yang lewat untuk berhenti di pelabuhannya dan meminta pajak dalam jumlah besar. Teori lain mengatakan, adanya faktor geopolitik dan diplomatik dalam invasi tersebut. Dimana Raja Suryavarman I dari Khmer, meminta bantuan Rajendra I untuk melawan tetangganya : Tambralinga. Bantuan tersebut kemudian direspons oleh Tambralinga dengan meminta dukungan raja Sriwijaya : Sangrama Vijayatunggavarman. Nah, serangan ini diduga merupakan lanjutan dari proxy war antara Khmer versus Tambralinga.
Kalau dilihat dari konteks politik Asia saat itu, di akhir milenium pertama banyak kerajaan di India dan Asia Tenggara yang melakukan ekspansi ke kawasan sekitar. Alasannya, mereka hendak menguasai jalur perdagangan yang menghubungkan India dengan China. Beberapa kerajaan yang cukup ambisius seperti Khmer, telah menganeksasi Laos, Thailand tengah, hingga ke utara Semenanjung Malaya. Kerajaan Pagan di Burma, juga berhasil mengkonsolidasi kekuatannya dengan mengakuisisi kawasan pedalaman yang menuju China. Sementara Sriwijaya di Sumatera, semakin mengokohkan dominasinya atas dua perairan paling vital : Selat Malaka dan Selat Sunda. Chola yang sudah berhasil menaklukkan Sri Lanka, hendak pula menguasai jalur perdagangan ke Tiongkok yang saat itu dikendalikan Sriwijaya. Oleh karenanya, bentrok antara Chola dan Sriwijaya-pun tak terelakkan.
Jalannya Invasi
Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, serangan Chola ke Sriwijaya dilakukan tanpa ada ultimatum. Mereka melakukan penyerangan secara sembunyi-sembunyi dan menghancurkan 14 pelabuhan Sriwijaya sekaligus. Dengan memanfaatkan angin munson yang bertiup dari barat ke timur, mereka berlayar menyeberangi Teluk Benggala menuju Barus. Meski belum sebanyak pasca invasi, namun pada saat itu sudah ada masyarakat Tamil yang bermukim di Barus. Dan mereka itulah yang membantu memuluskan serangan Chola ke bumi Melayu. Setelah mengisi perbekalan di kota pesisir barat Sumatera itu, pasukan Tamil lalu menyusuri pantai barat hingga ke Selat Sunda. Setelah memutari selat tersebut, kapal-kapal Chola lalu menuju arah utara dan tiba di ibu kota : Palembang. Selesai menghancurkan Palembang, tentara Chola terus berderap menuju Kadaram (Kedah).
Saking cepatnya serangan tersebut, angkatan laut Sriwijaya yang ditempatkan disana tak menyadari kalau pasukan Chola datang dari arah selatan. Serangan mendadak itu memungkinkan Chola untuk menjarah istana kerajaan dan biara Kadatuan. Prasasti Thanjavur mencatat, bahwa Rajendra I menangkap raja Sriwijaya : Sangrama Vijayatunggavarman dan menyita harta karun miliknya. Salah satu harta yang dirampas itu adalah Vidhyadara Torana, sebuah gerbang perang Sriwijaya yang berhiaskan permata. Tak cuma merampas hartanya, Rajendra I juga menikahi putri Vijayatunggavarman : Onang Kiu. Agaknya pernikahan ini sebagai bentuk diplomatis raja Chola terhadap kerajaan yang ditaklukkannya. Meski serangan besar-besaran terjadi di tahun 1025, namun serangkaian penaklukan atas sebagian wilayah Sriwijaya lainnya, terus dilancarkan hingga 20 tahun berikutnya.
Dampak Invasi
Dampak dari invasi tersebut tentu melemahkan hegemoni Sriwijaya di Asia Tenggara. Jalur laut dari India ke Tiongkok yang selama ini dikendalikan mereka, kini sudah menjadi kontrol Kerajaan Chola. Orang-orang Tamil yang sebelumnya hanya bermukim di Barus, sekarang mulai merangsek ke pedalaman utara Sumatera. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan situs serta candi di kawasan Mandailing-Angkola (Tapanuli Selatan) yang didirikan oleh orang-orang Tamil. Bahkan kata “Mandailing” dan “Angkola” sendiri diduga berasal dari Mandala Holing (Mandailing) dan Chola (Angkola). Yang juga cukup berpengaruh terhadap invasi tersebut adalah melemahnya dominasi perdagangan bangsa Melayu. Mereka yang sebelumnya menjadi perantara untuk pasar India dan China, kini harus puas menjadi pedagang-pengumpul yang menghantarkan hasil pertanian dari pedalaman ke kota-kota pesisir. Terlebih kebijakan Dinasti Song yang membolehkan orang-orang China untuk berdagang ke seberang lautan, juga semakin mempersempit ruang gerak orang Melayu untuk terus mendominasi perdagangan.
Melemahnya Sriwijaya tentu dimanfaatkan oleh kerajaan-kerajaan bawahan yang hendak memerdekakan diri. Namun berkat bantuan raja Chola yang baru : Divakara atau yang bergelar Kulothunga Chola I, beberapa wilayah Sriwijaya di Semenanjung Malaya yang memberontak berhasil dipadamkan. Sebagai informasi, setelah Rajendra Chola I mangkat, Kerajaan Chola di bawah pemerintahan Kulothunga Chola I kembali menjalin persahabatan dengan Sriwijaya. Setelah pusat pemerintahan di Palembang porak poranda, maka berakhir pula era kekuasaan Dinasti Syailendra. Sehabis itu, muncul dinasti baru : Mauli yang memindahkan pusat pemerintahan Sriwijaya dari Palembang ke Jambi. Prasasti tertua yang memuat nama Maharaja Mauli sebagai penguasa baru, terukir pada Prasasti Grahi (1183) yang ditemukan di Chaiya. Adanya nama Mauli pada prasasti tersebut menandakan bahwa hingga akhir abad ke-12 kekuasaaan Sriwijaya masih mencapai Thailand selatan.
Serangan kepada Sriwijaya juga memberi jalan kepada kerajaan-kerajaan di Jawa untuk bangkit dan menjadi pemain regional. Salah satu kerajaan yang cukup besar dan kemudian menjadi ancaman adalah Kediri. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang Kahuripan yang pernah berseteru dengan Sriwijaya selama 79 tahun (937 – 1016). Perseteruan yang membunuh seluruh keluarga wangsa Isyana itu — kecuali Airlangga, merupakan titik kulminasi persaingan antara Sriwijaya dengan Jawa. Tak salah kalau Kediri begitu girang, ketika Chola menghancurkan istana Sriwijaya dan melenyapkan wangsa Syailendra dari percaturan politik Nusantara.
Meski Dinasti Syailendra hancur — dan digantikan oleh Dinasti Mauli, namun dalam tempo relatif singkat Sriwijaya kembali bangkit. Menurut catatan Hermann Kulke dalam bukunya Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia, bahwa di tahun 1028 kapal-kapal dagang Sriwijaya sudah kembali berlayar ke Kanton. Bahkan di tahun 1079, raja Sriwijaya ikut menyumbangkan 600.000 keping emas untuk perbaikan dan pemeliharaan kuil Tao di kota tersebut. Meski Sriwijaya kembali bangkit, namun situasi pasca invasi sudah sangat berbeda. Keberadaan pedagang Tamil di pesisir barat, cukup menjadi momok bagi para pengusaha Sumatera. Eksistensi pedagang Tamil di Barus baru berakhir setelah pasukan Minangkabau berhasil mengusir mereka di abad ke-14. Diantara mereka yang terusir, sebagian ada yang tak kembali ke India selatan dan memilih pergi ke pedalaman Karo. Kalau Anda membaca sejarah marga Sembiring di tanah Karo, beberapa sub-klan-nya seperti Berahmana, Pandia, Colia, Depari, dan Meliala merupakan keturunan bangsa Tamil.

