Posts Tagged ‘Etnis Melayu Riau’


Pollux Habibie proyek properti prestisius di Batam (sumber : kumparan.com)

Pada tahun 2025, Kepulauan Riau (Kepri) tampil sebagai provinsi dengan kinerja ekonomi yang mencengangkan. Data Bank Indonesia menunjukkan, pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut mencapai 6,94%, melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 5,02%. Angka ini sekaligus melampaui rata-rata nasional yang hanya tumbuh sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang naik 7,52%, serta sektor pertambangan yang melesat hingga 16,01%. Melambungnya sektor pertambangan, didorong oleh beroperasinya sejumlah proyek migas baru di Kepulauan Natuna dan Anambas. Namun di balik angka-angka itu, tersimpan sebuah ironi. Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di “Bumi Segantang Lada”, belum mampu mengimbangi laju ekonomi keseluruhan. Pada triwulan II-2025 misalnya, konsumsi rumah tangga Kepri hanya bertumbuh 3,9% (yoy), jauh tertinggal dari pertumbuhan ekonomi keseluruhan yang mencapai 7,14% (yoy). Kesenjangan ini mengisyaratkan bahwa pertumbuhan di provinsi tersebut belum sepenuhnya inklusif. Masih terkonsentrasi pada kelompok terbatas, terutama pelaku usaha di sektor pertambangan. Sementara daya beli masyarakat luas, belum ikut terangkat secara sepadan.

Seiring laju pertumbuhan ekonomi yang kian pesat, Kepri juga menjadi magnet migrasi berskala besar. Etnis Flores yang tiga puluh tahun lalu nyaris tak terlihat, kini dengan mudah ditemui di berbagai sudut Batam. Hal serupa terjadi pula pada etnis Batak, yang dalam kurun tiga dekade telah menjadi kelompok etnis terbesar ketiga di Kepri, melampaui etnis Minang. Berdasarkan data kependudukan tahun 2010, populasi Kepri telah mencapai 1,67 juta jiwa. Walau terus menurun, orang Melayu masih menjadi kelompok terbesar dengan porsi sekitar 30,23%. Disusul oleh etnis Jawa (24,55%), Batak (12,48%), Minangkabau (9,72%), Tionghoa (7,70%), Sunda (2,96%), serta Bugis (2,22%). Meski di tingkat provinsi jumlah orang Melayu masihlah dominan, namun di kawasan urban — terutama Batam — mereka tak lagi yang terbesar. Dalam lanskap sosial-politik-pun, peran masyarakat Melayu juga semakin berkurang, apatah lagi dalam bidang ekonomi.

(lebih…)