Catatan Demonstrasi ’99

Posted: Januari 20, 2010 in Politik
Tag:, , , , ,

Hari itu terasa berbeda. 24 September 1999, sejumlah aktivis kampus tampak lebih sibuk dari biasanya. Aku yang baru mencatatkan diri sebagai mahasiswa, sudah diberitahu jauh-jauh hari, kalau hari itu demonstrasi akan digelar. Sasarannya adalah gedung DPR/MPR Senayan. Dengan agenda membatalkan pengesahan Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya atau yang dikenal dengan UU PKB. Lima hari sebelum hari H, lorong-lorong kampus telah dipenuhi dengan pamflet pengumuman berisi ajakan untuk berdemonstrasi.

Waktu itu masih berlaku masa orientasi bagi kami, mahasiswa-mahasiswa baru angkatan ’99. Perkuliahan-pun belum berjalan normal. Sebagian mahasiswa masih sibuk melihat papan pengumuman, mencatat jadwal kuliah yang masih bergonta-ganti. Catatan pamflet yang terpasang : Jam 10 pagi peserta aksi wajib berkumpul di Bundaran Fakultas Psikologi. Lokasi ini biasa dipilih menjadi tempat berkumpul para mahasiswa UI yang hendak berdemonstrasi. Selain mudah dijangkau, bundaran dengan lambang makara di tengahnya itu, juga menjadi muara jalan dari berbagai fakultas.

Dua hari sebelumnya, niat untuk ikut demonstrasi telah bulat diputus. Bukan karena ajakan senior yang sok idealis, tapi entah mengapa jiwa berontak-ku hari itu tersirap kuat. Rasanya ingin menentang dan merobohkan rezim Orde Baru yang zalim. Usiaku masih muda mentah : 18 tahun. Namun hawa politik yang makin lama makin merisaukan, menyelimuti raga yang kurus kuyu. Keputusan untuk berdemonstrasi, tanpa sepengetahuan ibu. Kalaulah dia tahu, maka aku akan dilarangnya ikut.

Kondisi politik waktu itu memang tidak menentu. Pemilu baru saja rampung. Pemilihan yang demokratis itu, mengantarkan PDI-P sebagai partai jawara dengan perolehan suara sebesar 33%. Partai Golkar, partai paling dibenci aktivis ketika itu, menguntit di urutan kedua dengan perolehan suara 22%. Jusuf Habibie yang notabene kepanjangan tangan Orde Baru, masih tegak berdiri. Elemen-elemen pendukung, seperti militer dan birokrasi masih setia dibelakangnya. Sebagian kalangan reformis melihat, status quo masih ingin mempertahankan kuasa. Salah satu caranya dengan menerbitkan UU PKB, yang akan melegalkan sikap represif sang penguasa. Yang paling terancam dengan penetapan UU ini, tentu para aktivis yang kritis. Program reformasi yang belum seumur jagung-pun terancam dikebiri.

Pukul 10 tepat, beberapa mahasiswa telah berkumpul di Bundaran Psikologi. Namun jumlah massa yang datang belum memenuhi harapan. Koordinator aksi memperkirakan, kawan-kawan peserta masih banyak yang kuliah. Jadilah bis Miniarta yang kami tumpangi, berkeliling mengitari kampus untuk menjemput mahasiswa yang sedang belajar. Jam 12.30, jumlah massa terkumpul lumayan banyak. Diperkirakan lima ratus lebih mahasiswa UI dari berbagai elemen, ikut berdemonstrasi. BEM UI, Keluarga Besar UI, Forum Aksi Mahasiswa UI, senat masing-masing fakultas, dan organisasi-organisasi ekstra-kampus yang berlainan paham-ideologi, bersatu padu satu tujuan. Yel-yel UI dan lagu-lagu perjuangan, dilantunkan keras menyemangati keberangkatan kami. Jam satu siang, bis meluncur lamban. Macetnya lalu lintas, mengakibatkan jarak UI – Semanggi yang biasa ditempuh hanya dalam tempo satu setengah jam, siang hari itu harus memakan waktu lebih dari dua jam. Kabar dari koordinator aksi, rekan-rekan dari Salemba juga akan ikut bergabung. Jam tiga lebih sedikit, bersamaan dengan lantunan azan ashar dari langgar-langgar kampung Karet Semanggi, kami tiba di kompleks perkantoran Danamon Square (kini Sampoerna Strategic Square). Dari tempat itulah, mahasiswa-mahasiswa berjaket kuning mulai bergerak.

Matahari semakin condong ke barat. Semakin sore, semakin banyak saja mahasiswa yang tiba. Mereka datang dari berbagai kampus di seputaran Jabotabek. Dan beberapa ada yang dari luar kota. Ratusan bahkan mungkin ribuan tentara dan polisi bersenjata lengkap, telah siap berjaga-jaga. Massa aksi yang terlibat, lebih dari perkiraan petugas keamanan. 10.000 mahasiswa dan masyarakat bergabung pada sore itu. Selepas shalat ashar, kami langsung menuju gedung DPR/MPR. Aku berjalan beriringan dengan beberapa teman dan senior. Salah seorang senior yang terpaut tiga tahun di atas ku, banyak bercerita mengenai pengalamnnya mengikuti aksi pencoretan gelar kampus Orde Baru di Salemba, dan pendudukan kantor DPR/MPR pada bulan Mei 1998.

20 menit berjalan kaki, kami tiba di depan Taman Ria Senayan. Disini laju derap kami tertahan. Pihak keamanan menghadang mahasiswa untuk terus bergerak hingga ke depan gedung DPR/MPR. Puluhan tentara dan mungkin juga sniper, berjaga-jaga di atas fly over. Tertahan di titik ini dengan kawalan ketat militer, tak membuat wajah para mahasiswa pucat pasi. Beberapa orator ulung, silih berganti naik ke panggung dadakan untuk berorasi. Lima belas menit diam di tempat, membuat sebagian massa gerah. Seratus meter ke belakang dari tempat ku berdiri, tiba-tiba sebuah sedan sport terbakar. Tak jelas siapa yang membakarnya. Mungkin provokator yang memang sengaja dibuat untuk mengacaukan pergerakan mahasiswa. Beberapa mahasiswa gadungan mulai terpancing, dan ikut melempari mobil itu dengan batu. Sejumlah tembakan salvo dilepaskan tentara. Situasi makin mencekam. Sebagian mahasiswa lari kocar-kacir ke arah Semanggi. Kami mahasiswa Universitas Indonesia, dihimbau untuk tidak terprovokasi dengan larinya mahasiswa-mahasiswa lain. Kami diminta untuk stay di tempat, karena tujuan aksi adalah gedung DPR/MPR.

Suara gaduh dan tembakan, makin lama makin sering terdengar. Mahasiswa di barisan akhir sebagian telah terurai ke belakang. Melihat kondisi yang tak memungkinkan, koordinator lapangan seperti tak mau mengambil resiko. Mereka langsung memerintahkan kami untuk mundur dan berkumpul di Universitas Atma Jaya. Kampus ini, sejak 1997 memang sudah menjadi base camp tetap bagi mahasiswa yang hendak melakukan aksi ke Senayan. Disini akhirnya sebagian besar komponen mahasiswa yang berdemonstrasi pada hari itu berkumpul.

Hari beranjak malam. Mayoritas peserta aksi nampak mulai kelelahan. Di tengah-tengah kepenatan itu, beberapa orang pentolan mahasiswa terus berbicara. Setengah berorasi memberikan semangat untuk peserta aksi. Teriakan-teriakan, Turunkan Habibie ! Batalkan UU PKB ! Ganyang Orde Baru ! riuh rendah terdengar. Malam itu, koridor bawah Atma Jaya berwarna-warni. Aneka warna jaket sivitas akademika, tumplek blek menjadi satu. Kami yang berjaket kuning, banyak berkumpul di sisi utara, agak ke belakang dekat tembok RS Jakarta.

Setelah shalat maghrib, sejumlah relawan yang membawa plastik makanan, berjalan berkeliling. Makan malam kami hari itu apa adanya, dengan sebinjat nasi dan sebutir telur balado. Itupun harus dibagi dua dengan peserta aksi lainnya. Makanan-makanan tersebut entah dari mana datangnya. Katanya swadaya masyarakat yang mendukung demonstrasi anti-Orde Baru.

Selesai makan malam, saya berjalan-jalan melihat situasi di luar. Rencananya hendak pulang ke rumah. Namun sebagian kawan menahanku, karena khawatir situasi yang semakin memanas. Di sudut koridor, aku melihat Faisal Basri sedang asik berdiskusi dengan para mahasiswa. Kawan-kawan dari Fakultas Ekonomi yang paling banyak mengerubunginya. Faisal, yang waktu itu menjabat Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN), mendorong rekan-rekan mahasiswa agar tak surut padam mendongkel rezim Orde Baru. Suara seperti berondongan senjata dan letusan molotov, mengganggu diskusi malam itu. Isu-isu yang tak bertanggung jawab, makin banyak berseliweran. Isu yang paling merisaukan adalah akan adanya sweeping aparat militer ke dalam kampus. Koordinator aksi, memutuskan untuk memindahkan kami ke halaman RS Jakarta.

Hari sudah lewat setengah delapan malam. Dalam bentuk sel tiga orang-tiga orang, kami berpindah ke dalam RS Jakarta. Dengan melompati celah tembok setinggi dada orang dewasa, tak ada kesulitan bagi kami untuk meninggalkan Atma Jaya. Di dalam rumah sakit, di atas lantai yang dingin, ratusan mahasiswa tergeletak pulas. Dua tiga kelompok peserta aksi, berjaga-jaga di pintu gerbang rumah sakit, mengantisipasi kalau-kalau terjadi situasi yang tak diinginkan.

Azan subuh membangunkan mayoritas demonstran. Di luar, suara letusan molotov dan berondongan senjata, tak lagi terdengar. Aku bersama sejumlah rekan FEUI, shalat berjamaah di mushola yang terletak di halaman parkir. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang, meninggalkan rumah sakit yang telah kami tempati semalaman. Matahari masih malu-malu menampakan diri. Kami berjalan kaki menyusuri kampung Karet Sawah, tembus terus jalan Dr. Satrio. Dari pinggir jalan itu, kami melihat konvoi truk-truk tentara dari arah Semanggi pulang ke barak.

Walaupun badan terasa letih, pagi itu kami memutuskan untuk berangkat kuliah. Bersama Aditya Trisnanda, saya menumpang mandi di rumah Ahmad Irfan Alfaris. Sambutan keluarganya yang hangat, dengan sarapan pagi yang istimewa, telah menanggalkan rasa letih di sekujur tubuh. Dari rumahnya di bilangan Bukit Duri, kami pergi ke kampus naik kereta listrik.

Pagi itu, berita koran-koran ibu kota penuh dengan cerita demonstrasi kemarin. Dari kolom-kolom opini, banyak intelektual yang kontra dengan kebijakan kontroversial tersebut. Demonstarsi mahasiswa terus berlanjut hingga keesokan hari. Entah apa yang terjadi, demonstarsi di hari kedua semakin brutal. Malam hari 25 September 1999, Yap Yun Hap, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia menjadi martir. Di depan halaman RS Jakarta, badannya tertembus peluru tentara. Tak disangka demonstrasi yang pada mulanya berlangsung damai, harus berakhir ricuh. Tragedi Semanggi II, begitu media massa menamakannya, ternyata harus memakan anak bangsa sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s