Jl. Sudirman, dekat kawasan Bendungan Hilir

Dua wajah … dua kurun … dua bulevar ibu kota. Dua poros jalan yang menggambarkan dua semangat Jakarta Raya. Poros Weltevreden – Meester Cornelis dan Poros Sudirman – Thamrin. Keduanya punya kisah, seni arsitektur, dan kehidupan yang menarik untuk diceritakan.

Di kedua poros ini, masyarakat dari berbagai tingkatan sosial saling bertatap muka, tahu menahu, tapi tak saling tegur sapa. Manusia-manusia miskin yang berjajaran, membaur bersama kaum-kaum super kaya, dalam ruang dan waktu yang seirama. Beberapa bangunan tua yang nampak lusuh, serta deretan gedung-gedung kaca yang kilau kemilau, telah menjadi saksi begitu kuatnya orang-orang Jakarta mengejar mimpi.

 

Poros Weltevreden – Meester Cornelis

Jalan Kramat, Salemba, hingga Matraman, dulu diakrabi sebagai Poros Weltevreden – Meester Cornelis. Jalur ini merupakan ruas utama pertama di Jakarta yang menjadi bagian Poros Anyer-Panarukan. Di jalan ini, telah banyak kejadian yang ditorehkan. Dari aktivitas politik, ekonomi, sampai budaya. Sebut saja misalnya Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan (1945). Setelah itu, revolusi politik tahun 1966 dan 1998 juga dimulai dari poros ini. Dari Salemba-lah mahasiswa-mahasiswa Indonesia mulai melancarkan aksinya menggulingkan kekuasaan otoriter dua rezim : Soekarno dan Soeharto.

Secara fisik, poros ini terbilang cukup besar. Ditambah pedestrian di kiri-kanan jalan, lebar 50 meter agaknya pas untuk ukuran bulevar di pusat pemerintahan Hindia-Belanda. Kurangnya, di poros ini tak tersedia pohon-pohon pelindung yang tumbuh subur di median jalan. Bagi penggunanya yang hilir mudik di tengah siang, jalur ini terasa panas dan menyesakkan. Dari poros ini, bercabang jalan-jalan besar ke timur dan ke barat ibu kota. Jalan-jalan utama antara lain; Jalan Kramat Bunder – Suprapto, yang berawal dari simpang lima Senen hingga Cempaka Mas. Jalan sepanjang 3,5 kilometer ini, dahulu menjadi bagian pusat kota bersama Jalan Diponegoro – Imam Bonjol yang melintang ke arah barat. Kemudian di simpang Matraman, ada pula cabang ke arah Rawamangun dan Pegangsaan. Jalan Pramuka serta Jalan Proklamasi, merupakan jalan-jalan penghubung menuju dua tempat tersebut.

Suasana Jl. Salemba, pada dekade 1980

Pada masa kolonial, banyak aktivis pergerakan yang tinggal di gang-gang sempit sekitar sini. Disamping dekat dengan kampus mereka, kawasan ini juga selangkah dari pusat perlawanan. Asrama Kramat No. 106, yang terletak di sisi barat Jalan Kramat Raya, menjadi tempat favorit banyak pemuda pejuang berkumpul. Di tempat ini, nama-nama beken seperti Mohammad Yamin, Sartono, Adenan Kapau Gani, dan Tamsil, aktif mendiskusikan ide-ide melepaskan diri dari penjajahan. Selain para aktivis politik, budayawan-pun banyak pula yang berdomisili disini. Planet Senen, yang berlokasi dipenghabisan Jalan Kramat Raya, pernah menjadi teater jalanan bagi seniman-seniman top tanah air. Sebut saja misalnya Misbach Yusa Biran, Soekarno M. Noor, Bing Slamet, dan S.M. Ardan, yang kesemuanya merupakan para “Aktivis Senen”.

Setelah berabad-abad menjadi wilayah setingkat kota, tahun 1960 Jakarta naik status menjadi propinsi. Pembagian wilayah administratifnya-pun mengacu pada poros ini yang menjadi pusat kota. Wilayah-wilayah yang berada di sekitar ruas ini, seperti Sawah Besar, Senen, Johar Baru, dan Cikini, dimasukkan ke dalam administrasi Jakarta Pusat. Sedangkan kawasan Kuningan dan Setia Budi, yang saat ini tergolong sebagai pusat kota, masuk ke dalam administrasi Jakarta Selatan. Pada masa itu, daerah tersebut hanyalah kampung-kampung orang Betawi yang semrawut dan berantakan. Keduanya jauh dari hiruk pikuk kegiatan kota, yang berpusat antara Gambir (Weltevreden) dan Jatinegara (Meester Cornelis).

Di poros ini, tak hanya sekolah-sekolah beken yang tampil mengisi ruang. Pasar-pasar dengan bangunan bertingkat, bahkan dalam ukuran yang cukup luas, membentang di simpang-simpang jalan. Kalau kita urut dari Gambir hingga Jatinegara, setidaknya ada empat pasar kecil dan tiga pasar besar. Satu diantara ketiganya yaitu Pasar Senen, yang menjadi primadona masyarakat Jakarta pada dekade 1950-1970. Meski sempat meredup di era 1980, pamor Senen kembali berkibar. Yakni dengan hadirnya departement store asal Jepang : Yaohan. Namun kebangkitan ini tak bertahan lama. Seiring dengan munculnya pusat-pusat perbelanjaan mewah di sepanjang poros Sudirman – Thamrin.

 

Poros Sudirman – Thamrin

Aksi demonstrasi di Bundaran HI

Poros ini agaknya lebih pendek dari poros pendahulunya. Membujur dari Bundaran Bank Indonesia hingga Bundaran Senayan sejauh 8 kilometer, koridor ini mencerminkan semangat Jakarta yang baru : semangat yang lebih modern dan humanis. Di jalur ini, trotoar jalan dibangun selebar-lebarnya. Daun-daun rimbun, hadir memayungi orang-orang yang melintas di bawahnya. Patung, kerlap-kerlip lampu, air yang melompat-lompat, menghiasi wajah bulevar baru ibu kota. Disini dari pagi hingga tengah hari, kesibukan mewarnai masyarakat yang melintasinya. Mobil-mobil, sahut-sahutan mengklakson, menegur pengendara lain yang tak ramah bagi mereka.

Sore hingga malam, kesibukan nampak tak berkurang. Walau tensi dan ego orang-orang yang menyusurinya, sedikit kalem dan santai. Di bahu-bahu jalan, terlihat muda-mudi bergumul, berkumpul, sambil mengudap makanan ringan khas pinggir jalan. Beberapa lelaki yang terhitung remaja, nampak menghibur wanitanya yang sedang merajuk. Tak jauh dari mereka, seorang gadis, mungkin fresh graduate, genit-genit tergoda rayuan sang kekasih. Di pintu masuk Bursa Efek Indonesia, di tepian air mancur Plaza Indonesia, ataupun di sudut Gedung Sampoerna Strategic Square, kegiatan itu nampak mengasyikkan. Disini, kondisi kota yang ramah dan bersahabat, tergambar dengan sempurna.

Bangunan vertikal, menjadi keharusan pola pembangunannya. Tak ada satupun kavling di sepanjang poros ini, yang absen dari gedung-gedung pencakar langit. Sebab disini, satu meter tanah cukuplah berharga. Tahun lalu, sebuah majalah properti terbitan ibu kota, menaksir harga tanah di Jalan Sudirman sekitar Rp 25 juta per meternya. Kawasan Jalan Thamrin lebih-lebih lagi mahalnya. Tak salah kiranya kalau apartemen-apartemen baru yang tergolong mewah, dihargai hingga miliaran rupiah.

Jembatan Semanggi di malam hari

Pusat perbelanjaan papan atas dengan level AAA+, banyak dijumpai di kawasan ini. Grand Indonesia dan Plaza Indonesia, dua shopping centre prestisius, tepat hadir di tengah-tengah poros. Keduanya memang didesain untuk konsumen kelas atas, namun tak sedikit pula warga dari kalangan kebanyakan yang masuk ke dalamnya, sekedar untuk jalan-jalan ataupun window shopping. Sungguh disayangkan, tak ada jembatan ataupun tunnel yang menghubungkan keduanya. Orang-orang yang ingin menyambung kegiatan belanja dari satu mal ke mal yang lain, terpaksa harus melintasi zebra cross. Berganti dengan kendaraan yang lalu lalang di Jalan Kebon Kacang.

Tepat di depan, sebuah bundaran air mancur dengan diameter 50 meter, memberi kesejukan bagi warga yang memandangnya. Bundaran ini dibangun atas inisiatif Soekarno, untuk mempercantik wajah Jakarta yang menjadi penyelenggara Asian Games IV tahun 1964. Di tengah-tengah bundaran, berdiri patung sepasang muda-mudi yang melambaikan tangannya penuh semangat. Di Bundaran HI, begitu tempat itu disebut, aneka peristiwa dan kegiatan telah banyak diukir. Pada masa kampanye atau aksi-aksi demonstrasi, lokasi ini selalu dijadikan tempat berkumpul.

Untuk menghindari penumpukan kendaraan, di sepanjang Jalan Sudirman, tak satupun kita jumpai traffic light. Simpang-simpang labuh besar, selalu saja jalan layang solusinya. Jalan layang Semanggi yang berarsitekturkan asli Indonesia, merupakan salah satu simpang susun yang unik dan menarik. Bentuknya yang seperti daun semanggi, meliuk ke kiri dan ke kanan, menggambarkan suasana downtown Jakarta yang mengalir, tak terhambat, dan cepat. Di jam-jam sibuk, terutama di pagi dan sore hari, jalan layang tak lagi menjadi problem solver.

Jl. Thamrin, Jakarta Pusat

Apabila hujan datang, tak ada ruas jalan ibu kota yang selamat dari genangan air, termasuk Poros Sudirman – Thamrin. Jika hujan tak henti-henti, sampai tiga atau empat jam, muka pertokoan Sarinah di Jalan Thamrin terlihat seperti kolam panjang. Air yang melimpahi jalan, bisa mencapai ketinggian satu meter. Hal ini kerap kali menyusahkan warga ibu kota yang mayoritas berkantor di daerah ini. Saluran air dan got-got yang seharusnya mengaliri air hujan, tak berfungsi karena banyaknya tumpukan sampah.

 

Sumber gambar : flickriver.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s