Buku Dilema Melayu karya Mahathir Mohammad (Sumber: mediajayastore.com)

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, pernah menulis buku yang berjudul The Malay Dilemma. Buku ini ditulis pada tahun 1970, namun sempat dilarang beredar oleh pemerintahan Tun Abdul Razak. Selain isinya yang banyak mengkritik kebijakan pemerintah, buku setebal 188 halaman itu dipercaya bisa memecah belah persatuan rakyat Malaysia. Beberapa pernyataan Mahathir yang cukup berani dan dimuat dalam buku itu antara lain, kritikannya terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang disebutnya tak berpihak kepada kaum Melayu. Serta pernyataannya yang cukup menghebohkan, tentang kualitas puak Melayu yang digelarinya sebagai bangsa pemalas dan kurang bertanggung jawab.

Namun problematika Melayu di awal milenium ini, lebih dari sekedar sikap hidup mereka yang malas itu. Tetapi sesuatu yang lebih esensi dalam pembangunan karakter bangsa dan negara, yakni identitas diri. Kebingungan mereka dalam mendefinisikan arti “Melayu”, menjadi himpitan terbesar untuk melaju sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya.

Di Malaysia, Melayu didefinisikan sebagai : orang yang berbahasa Melayu, menjalankan adat-budaya Melayu, dan beragama Islam. Definisi ini terasa janggal jika dilihat dari kaca mata etnologi dan antropologi, yang mengelompokkan suatu bangsa dari asal usul dan keturunannya. Pemerintah Inggris adalah pihak yang pertama kali menggolongkan penduduk Semenanjung yang berkulit sawo matang dan bermata besar, sebagai puak Melayu. Meski kebanyakan mereka berasal dari luar Semenanjung, namun untuk menyederhanakan kelompok etnis yang beragam itu, Inggris menggolongkan seluruh masyarakat Nusantara sebagai etnis Melayu. Oleh karenanya kemudian muncul istilah Melayu Jati bagi penduduk asli Semenanjung. Dan Melayu Anak Dagang untuk para pendatang yang berasal dari Minangkabau, Jawa, Bugis, Aceh, dan Madura.

Pasar Chow Kit, Kuala Lumpur. Salah satu basis perantau asal Indonesia (sumber: asiaexplorers.com)

Definisi Melayu seperti ini, terus berlanjut hingga sekarang. Bahkan definisi ini makin meluas dengan dikekalkannya pemeluk Islam sebagai kriteria utama. Sehingga orang-orang Arab yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai bangsa Arab, kini bisa dikategorikan sebagai puak Melayu. Tidak cuma itu, orang-orang Tionghoa dan India yang menjadi Muslim, hidup dengan cara Melayu dan berbahasa Melayu, juga dianggap sebagai kaum Melayu.

 
Dilema Melayu Malaysia

Pasca-lepasnya Malaysia dari kolonial Inggris, dilema Melayu langsung menghadang. Mencekik kerongkongan elit-elit Melayu, yang melihat timpangnya perimbangan populasi antara Melayu dan Non-Melayu. Dari hasil sensus penduduk tahun 1957, terungkap bahwa penduduk Melayu dan Orang Asli hanya sekitar 49% dari keseluruhan penduduk Malaysia, Tionghoa 37%, dan India 12%. Enam tahun kemudian setelah pembentukan Federasi Malaysia, jumlah orang Melayu dan Tionghoa hampir sama banyaknya. Hal ini disebabkan, bergabungnya Singapura yang mayoritas Tionghoa ke dalam federasi.

Jika dihitung dari jumlah penduduknya saja, pada tahun itu orang Non-Melayu sudah melebihi jumlah orang-orang Melayu. Apalagi jika diukur angka-angka perimbangan ekonomi dan tingkat kemakmuran. Dimana hampir 70% kue ekonomi negara dikuasai oleh masyarakat Tionghoa, sedangkan puak Melayu tidak mencapai angka 10%-pun. Dari pendapatan per rumah tangga, nampak pula kemakmuran orang-orang Melayu yang jauh di bawah masyarakat Tionghoa dan India. Jika rumah tangga Tionghoa bisa memiliki pendapatan USD 394 per bulan, dan India USD 304 per bulan, maka kaum Melayu bumiputra hanya memperoleh USD 172 per bulan. Rendahnya income masyarakat Melayu ketika itu, disebabkan okupansi masyarakatnya yang hanya berkisar pada usaha pertanian dan perkebunan. Hal itu pula yang menyebabkan 4 dari 5 kota utama di Malaysia dihuni oleh mayoritas orang-orang Tionghoa.

Melihat realitas ini, maka Tunku Abdul Rahman dengan segera menyusun sebuah operasi rahasia, yang melibatkan pemerintah Indonesia. Bekerjasama dengan Soeharto, pada akhir dekade 1960 Abdul Rahman menandatangani perjanjian “impor manusia” dari Indonesia. Warga Indonesia yang didatangkan, tak hanya sebatas buruh-buruh kasar yang kelak mendukung pembangunan infrastruktur Malaysia, namun juga para tenaga ahli seperti guru, dokter, dan perawat. Berdatangannya orang-orang Indonesia ke Malaysia, maka turut mendongkrak komposisi etnis Melayu di negeri jiran tersebut. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1970, penduduk Melayu dan Orang Asli naik menjadi 55,5%; berbanding 34,1% untuk Tionghoa dan 9% untuk India. Saat ini dengan semakin derasnya kedatangan tenaga kerja Indonesia, baik yang legal maupun ilegal, telah mempercepat peningkatan komposisi penduduk Melayu diantara bangsa-bangsa lainnya. Menurut perkiraan di tahun 2004, etnis Melayu dan Orang Asli sudah mencapai 61,4%, Tionghoa dan India menyusut masing-masing ke angka 23,7% dan 7,1%.

Pulau Penang, mayoritas dihuni warga Tionghoa

Meski komposisi kaum Melayu menanjak cukup pesat dalam 40 tahun terakhir, namun mereka masih menjadi kaum minoritas di kota-kota besar, seperti Kuala Lumpur dan Penang. Di kedua kota tersebut, orang Melayu hanya berjumlah masing-masing 38,6% dan 27,5%; sedangkan kaum Tionghoa mencapai angka 46,5% dan 61,5%. Bila kita pilah-pilah lagi komposisi dari ketiga etnis utama di Malaysia, maka orang-orang Hokkien yang terbanyak diantara sub-dialek Tionghoa lainnya. Mereka membentuk sepertiga dari penduduk Tionghoa-Malaysia, diikuti oleh sub-dialek Kanton, Hakka, dan Teochiu. Sedangkan pada masyarakat India, orang-orang Tamil membentuk lebih dari separuh komposisi masyarakat India-Malaysia.

Dilema kembali terjadi ketika harus menghitung komposisi etnis Melayu. Walau tak ada sensus resmi yang menanyakan asal leluhur mereka, namun dari hasil perhitungan para ilmuwan terungkap bahwa Melayu Anak Dagang mendominasi populasi masyarakat Melayu-Malaysia. Melayu Jati yang merupakan penduduk asli Malaysia, diperkirakan tak lebih dari seperempat total keseluruhan kaum Melayu. Sedangkan sisanya adalah warga keturunan Indonesia (mayoritas asal Jawa, Minangkabau, dan Bugis), yang menjadi pihak cukup menentukan dalam laju gerak pembangunan Malaysia dewasa ini. Suku Jawa, yang baru datang ke Malaysia pada pertengahan abad lalu, berperan penting dalam keberlangsungan pembangunan infrastruktur serta pengembangan usaha perkebunan. Buruh-buruh Jawa yang terkenal terampil itu, telah menguasai hampir seluruh sektor tenaga kerja kasar yang diperlukan oleh Malaysia.

Etnis Minangkabau, yang pernah mendominasi perniagaan pantai barat Semenanjung, menjadi etnis pedagang yang menguasai usaha kecil dan menengah. Mereka banyak bergerak di bidang penyaluran hasil-hasil bumi, dan tak sedikit pula yang telah masuk ke dalam usaha berteknologi tinggi. Orang-orang Bugis cukup kokoh memegang tampuk politik negara, dengan diangkatnya kembali putra keturunan Bugis : Najib Razak, sebagai Perdana Menteri Malaysia yang keenam. Sedangkan Melayu-melayu Jati, seperti yang diungkapkan oleh Mahathir, masih termangu dan berdiam diri. Kebijakan Ekonomi Baru yang pro-Melayu dan cenderung diskriminatif itu, ternyata tak banyak menolong kehidupan mereka. Justru peluang ini lebih banyak dimanfaatkan oleh orang-orang Minangkabau, Bugis, dan Jawa.

Promo Artis Indonesia di Malaysia (sumber: dewa19.com)

Jika saat ini kita menengok ke dalam khazanah budaya Malaysia, terlihat sekali warna Indonesia dalam corak budaya Malaysia. Dari masakan, film, musik, hingga kesenian tradisional. Bahkan dalam dua dasawarsa terakhir, lagu-lagu Indonesia sangat digandrungi oleh sebagian besar pemuda Malaysia. Menurut data yang dirilis TV3 dan RTM, lagu-lagu karya anak Indonesia selalu menjadi top hits dan best seller. Tidak hanya itu, artis-artis Indonesia yang belakangan ini mengguncang pasar Malaysia, diperkirakan bisa mematikan karier musisi dan industri musik negara tersebut. Dari pengakuan banyak warga Malaysia, musik Indonesia dinilai lebih progresif serta memiliki langgam beraneka ragam. Film dan sinetron karya sineas Indonesia-pun, laris manis bak kacang goreng. Astro salah satu jaringan televisi berbayar di Malaysia, bahkan telah menggandeng Multivision Plus untuk mengisi slot acara mereka dengan sinetron-sinetron Indonesia.

Banyaknya kesenian tradisional Indonesia, yang dalam lima tahun terakhir menjadi obyek promosi wisata Malaysia, merupakan satu contoh lagi keringnya produk budaya yang bisa dihasilkan mereka. Ketidakpunyaan akan budaya asli inilah, yang sering dikhawatirkan oleh para budayawan Malaysia sebagai disorientasi jati diri Melayu. Disorientasi ini salah satunya disebabkan oleh penafikan orang-orang Melayu Malaysia akan asal usulnya yang kebanyakan datang dari Kepulauan Indonesia. Pengabaian asal usul inilah yang pada gilirannya akan menyebabkan orang-orang Melayu Malaysia kehilangan kepercayaan diri dan semangat menantang zaman. Jika saja mereka mau mencari umbi akar dan silsilah keluarga, mau belajar sejarah Nusantara, mengetahui kebesaran imperium Sriwijaya dan Majapahit — bukan sebatas Kerajaan Malaka dan Johor saja — maka kebanggan sebagai bangsa besar itu akan muncul dengan sendirinya. Dan orang-orang yang berani menantang zaman adalah orang-orang yang mengetahui siapa dirinya, serta susur galur keluarganya.

 
Lihat pula :
1. Sumatra, Dalam Pandangan Orang Malaysia
2. Perantau Minang di Malaysia

Iklan
Komentar
  1. Witrianto Chaniago berkata:

    Terima kasih atas artikelnya. Sangat bagus dan bermanfaat untuk kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s