Para pemain Bayern mengangkat trofi Liga Champions

Para pemain Bayern mengangkat trofi Liga Champions

Bayern layak menang! Begitu ucapan Mats Hummels kepada jaringan televisi Sky Sports dalam wawancaranya setelah pertandingan final Liga Champions 2013, yang mempertemukan klubnya Borussia Dortmud dengan Bayern Muenchen. Hummels pemain belakang berusia 24 tahun itu, mengaku agak kewalahan mengawal laju Arjen Robben dan kawan-kawan. Meski akhirnya kalah tipis, namun di 20 menit awal babak pertama, anak-anak asuh Jurgen Klopp itu sempat menguasai jalannya pertandingan. Menggunakan formasi attack pressing 4-4-2, beberapa kali pemain The Borussians mengancam gawang Manuel Neuer. Namun kurang efektifnya penyelesaian akhir mereka, menyebabkan tak ada satupun peluang yang membuahkan gol. Penyerang Borussia, Robert Lewandowski, yang malam itu (26/5) diharapkan mampu merobek jala The Bavarians, ternyata juga tak bisa berbuat banyak. Hingga peluit babak pertama ditiup wasit asal Italia, Nicola Rizzoli, skor masih tetap bertahan 0-0.

Memasuki babak kedua, giliran Muenchen yang pegang kendali. Serangan bertubi-tubi dari kedua belah sisi lapangan, kerap mengancam pertahanan The Borussians. Usaha anak-anak Bayern, baru membuahkan hasil pada menit ke-60 melalui kaki Mandzukic. Pemain asal Kroasia itu, berada dalam posisi bebas untuk menceploskan bola hasil umpan Arjen Robben. 1-0 untuk keunggulan Bayern Muenchen. Tak berselang lama, kembali para pemain Borussia Dortmund menggalang serangan balasan. Kesalahan Dante yang menahan laju Michael Reus dengan tendangan ke perut, berhadiah penalti bagi kesebelasan berlambang BVB 09 itu. Ilkay Gundogan yang menjadi eksekutor tendangan 12 pas, tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia dengan santainya mengecoh Manuel Neuer dengan sepakan ke sudut kiri gawang. Posisi 1-1, memberikan asa bagi Borussia untuk mengulang suksesnya menekuk Bayern di final DFB Pokal. Tersisa waktu 23 menit, anak-anak Bayern semakin mempercepat tempo permainan. Robben yang malam itu menjadi bintang, berkali-kali mengancam gawang Dortmund yang dikawal Weidenfeller. Berkat kerjasama satu-dua dengan Ribery, Robben berhasil mencetak gol kemenangan untuk Die Rotten di menit ke-89.


Arjen Robben membobol gawang Dortmund

Arjen Robben membobol gawang Dortmund

Unggul 2-1 memberikan keyakinan kepada suporter Muenchen untuk membentangkan spanduk yang bertuliskan “und heute ist weider ein guter tag” (dan sekali lagi ini hari yang baik). Bagi para pecinta Bayern, malam itu adalah kali ketiga dalam empat tahun terakhir, mereka menantikan kemenangan klub kesayangannya di Liga Champions. Sebelumnya pada tahun 2010, klub yang berjuluk F.C. Hollywood itu berhasil maju ke babak final, walau akhirnya takluk dari Inter Milan 2-0. Di final tahun lalu, kemenangan Bayern yang sudah di depan mata, sirna setelah Robben gagal mengeksekusi penalti di babak perpanjangan waktu. Sialnya lagi, Chelsea berhasil mematahkan perlawanan anak-anak asuh Jupp Heynckes melalui adu tendangan penalti dengan skor 4-3.

 
Bundesliga dan Final Sesama Jerman

Bagi klub-klub Bundesliga, boleh jadi musim ini merupakan musim terbaik mereka dalam kancah kompetisi Eropa. Final sesama Jerman dalam ajang kompetisi paling bergengsi Liga Champions, tentu merupakan suatu kebanggaan dan prestise tersendiri. Sebelumnya final sesama Jerman juga pernah terjadi pada tahun 1980 di ajang Piala UEFA. Saat itu klub yang bertanding adalah Eintracht Frankfurt melawan Borussia Moenchengladbach. Frankfurt yang waktu itu dilatih oleh Friedel Rausch, akhirnya keluar sebagai juara setelah unggul produktivitas gol tandang. Sehabis itu tak ada lagi final sesama Jerman di liga-liga Eropa. Kompetisi Bundesliga-pun tenggelam di bawah bayang-bayang Liga Premier Inggris, Serie A Italia, dan La Liga Spanyol. Sejak diubahnya peraturan yang membolehkan tiga liga domestik terbaik mengirimkan empat wakilnya ke Liga Champions, telah memungkinkan terjadinya final sesama negara di ajang bergengsi tersebut. Inggris yang terakhir memperoleh kesempatan itu pada tahun 2008 (Manchester United vs Chelsea), mengikuti jejak Spanyol di tahun 2000 (Real Madrid vs Valencia) dan Serie A Italia tahun 2003 (AC Milan vs Juventus).

Christiano Ronaldo tertunduk lesu setelah kalah di semi final

Christiano Ronaldo tertunduk lesu setelah kalah di semi final

Jika dilihat dari nilai transfer pemain, klub-klub Bundesliga memang tak semewah tim di Liga Inggris ataupun Spanyol. Perbandingan ini misalnya nampak dari nilai pemain Borussia Dortmund, dengan Real Madrid yang berhasil mereka kalahkan di semi final. Total harga 11 pemain awal (starting eleven) Dortmund hanya sebesar 40,6 juta euro. Angka tersebut kurang dari sepertujuh harga starting eleven Los Galacticos yang mencapai 303,9 juta euro. Bahkan jika ditotal secara keseluruhan, harga para pemain Dortmund tak melebihi harga transfer seorang Christiano Ronaldo yang mencapai 96,3 juta euro. Contoh lainnya ialah Manchester City, yang musim ini telah memboyong pemain bintang berharga fantastis. Meski telah menggelontorkan uang ratusan juta euro, namun The Citizens tak mampu lolos dari babak penyisihan Liga Champions.

Pertanyaannya, apa yang menjadi kunci keberhasilan klub-klub Jerman di kompetisi musim ini? Jawabannya adalah kolektivitas permainan, pembinaan pemain muda, dan kepemimpinan kuat sang pelatih. Bayern yang meski diisi banyak pemain bintang, namun memiliki kedalaman materi dengan gap antar pemain yang tak terlampau jauh. Disamping para pemain impor, Bayern juga banyak mengandalkan pemain lulusan akademi mereka sendiri, seperti Thomas Muller, Bastian Schweinsteiger, dan Badstuber. Begitu pula halnya dengan Borussia Dortmund. Tim kuning-hitam tersebut malah tak mengenal adanya pemain bintang. Mereka hanya mengandalkan soliditas tim yang diramu oleh pelatih asli Jerman. Kepemimpinan pelatih-pelatih dalam negeri inilah — yang dikenal keras dan berdisiplin tinggi — sedikit banyaknya telah memberikan pengaruh terhadap prestasi mereka. Tak adanya perbedaan bahasa diantara pelatih dengan mayoritas pemain, juga memberikan motivasi dan nilai tambah tersendiri bagi klub-klub Bundesliga untuk bertarung di Eropa.

 
Suksesi Kompetisi Eropa : Dari Barca ke Bayern?

Jika kita menengok daftar juara Liga Champions sejak tahun 1956, maka akan didapati para penguasa sepak bola Eropa dari masa ke masa. Di akhir era 1950-an hingga paruh pertama dekade 1960, tak ada pihak yang membantah kalau Real Madrid adalah penguasa Eropa. Kala itu Madrid yang diperkuat oleh Alfredo de Stefano, merengkuh enam gelar juara Champions dan dua kali sebagai runner-up. Pada tahun 1969-1973, Ajax Amsterdam-lah yang mendominasi Eropa. Dalam lima musim kompetisi Piala Champions, Ajax meraih tiga gelar juara dan sekali finish di urutan kedua. Selanjutnya giliran Bayern Muenchen dan Liverpool yang menjadi raja Eropa. Bayern meraih juara Eropa tiga kali berturut-turut (1974-1976), sedangkan Liverpool merengkuh tiga gelar dalam lima musim kompetisi (1977-1981).

Formasi Final : Muenchen vs Dortmud (sumber : spielverlagerung.de)

Formasi Final : Muenchen vs Dortmud (sumber : spielverlagerung.de)

Di era 1982 hingga 1988, tak ada satupun klub yang mendominasi Eropa. Milan baru menjadi raja Eropa pada tahun 1989-1995. Selama tujuh tahun musim kompetisi, klub yang kala itu diperkuat oleh trio Belanda : Basten, Gullit, dan Rijkaard, menjadi lima kali finalis dengan tiga trofi juara. Selanjutnya dipergantian milenium, Real Madrid kembali menguasai Eropa. Los Blancos memenangi tiga trofi Liga Champions setiap dua tahun berselang antara 1998 sampai 2002. Terakhir kita menyaksikan kedigdayaan Barcelona dengan permainan tiki-takanya. Mereka berhasil menggondol gelar juara Eropa pada tahun 2006, 2009, dan 2011.

Setelah berakhirnya dominasi Barca, akankah singgasana raja Eropa kembali diduduki Die Rotten? Memang tanda-tanda dominasi tersebut mulai terlihat, yakni dengan berhasilnya Muenchen menjadi tiga kali finalis dalam empat tahun terakhir. Disamping itu keuangan klub yang cukup stabil, juga mempengaruhi kesinambungan prestasi mereka. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis oleh Deloitte, pada musim kompetisi 2011/12 Bayern memperoleh pendapatan mencapai 332 juta euro, dengan keuntungan (sebelum beban bunga, pajak, dan depresiasi) sebesar 69 juta euro. Kabar lainnya yang cukup menggembirakan adalah bergabungnya Pep Guardiola di musim kompetisi 2013/2014. Pelatih berusia 42 tahun itu, sebelumnya telah berhasil membawa Barca menjadi penguasa Eropa. Bersama tim Catalan, Pep telah menggondol 14 piala, diantaranya masing-masing dua trofi Liga Champions dan Piala Dunia Antar Klub. Bergabungnya Pep Guardiola di musim depan tentu bukanlah jaminan suatu keberhasilan. Namun melihat track record-nya yang begitu gemilang, seharusnya Bayern bisa mempertahankan tren positif prestasi mereka. Akankah tuah Pep bisa membawa F.C. Hollywood menjadi raja Eropa untuk kali yang kedua? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s