Peresmian butik Hermes di Plaza Indonesia (sumber : Instagram Plaza Indonesia)

Banyak orang yang sudah jenuh dengan pembangunan mal di Jakarta. Selain menambah kemacetan, kehadiran mal juga akan mengurangi area resapan air. Karena menjamurnya mal di Jakarta, tak sedikit masyarakat yang teriak : “Kok mal lagi sih yang dibangun, kami butuh ruang terbuka hijau”. Ya, kalau Anda melihat luas area pusat perbelanjaan di Jakarta, jumlahnya memang terkesan berlebihan. Berdasarkan data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, setidaknya terdapat 96 pusat perbelanjaan di Jakarta dengan total luas area (yang disewakan) mencapai 4,95 juta meter persegi. Namun jika Anda membandingkan dengan kota-kota utama Asia lainnya, jumlah ini tak terlampau banyak. Singapura yang memiliki penduduk cuma separuh Jakarta, punya pusat perbelanjaan seluas 2,8 juta meter persegi. Sedangkan Bangkok yang dalam satu dasawarsa terakhir cukup agresif membangun mal-mal mewah, sudah mencapai 9,27 juta meter persegi. Sebagaimana yang disampaikan media daring jingdaily.com, agresifnya Thailand dalam membangun pusat perbelanjaan dikarenakan ambisi negeri tersebut yang ingin menjadi hub ritel mewah Asia Tenggara. Ini sejalan dengan visi Kementerian Pariwisata mereka yang hendak menjadikan Bangkok sebagai destinasi belanja. Namun melihat ekonomi Thailand yang semakin merosot, apakah mimpi ini bisa terealisasi?

Berdasarkan data Bank Dunia di kuartal kedua tahun 2026, pertumbuhan ekonomi negara gajah putih itu cuma sekitar 1,9% per tahun. Angka ini jauh di bawah pertumbuhan negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Indonesia, dan Malaysia. Meski pertumbuhan ekonominya tak menggembirakan, namun dari laporan researchandmarkets.com Thailand menjadi negara terbesar di ASEAN yang menjadi pasar bagi barang-barang mewah. Di tahun 2024 nilai penjualan luxury brand disana mencapai USD 5 miliar. Sementara itu Indonesia yang ada di posisi kedua, cuma sekitar USD 4,5 miliar. Sedangkan Singapura yang menjadi ultimate hub fashion di Asia Tenggara, berada di posisi ketiga dengan revenue USD 4,06 miliar. Jika kita menyigi data tersebut, konsumen produk-produk mewah di Indonesia didominasi oleh sosialita ibu kota. Jumlahnya lebih dari dua per tiga atau sekitar USD 3,1 miliar. Selain Jadetabekar (Jakarta-Depok-Tangerang-Bekasi-Karawang), kota lainnya yang juga mencatat penjualan cukup besar adalah Surabaya, Bandung, serta Denpasar.

Hadirnya brand mewah di kota-kota tier dua (Denpasar, Semarang, Jogjakarta, dan Palembang) menandakan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Jika dibandingkan satu dekade lalu, terdapat kenaikan yang cukup signifikan pada pendapatan orang Indonesia. Di tahun 2016, pendapatan per kapita rakyat kita masih berada di angka USD 3.600. Sedangkan di tahun ini diproyeksikan sudah mencapai USD 5.398. Sementara income warga Jakarta, di tahun 2026 ini sudah tembus di angka USD 23.900. Peningkatan ini tentu berdampak pada penjualan barang-barang mewah, terutama di kalangan konsumen perkotaan yang melek akan kualitas produk. Selain kualitas, meningkatnya kesadaran akan merek juga memicu terjadinya perubahan perilaku konsumen. Hal ini terlihat dari laporan industri ritel terkini, dimana 65% konsumen Indonesia lebih memilih produk bermerek dibandingkan produk mass market. Tren ini sangat menonjol terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z, yang memilih barang-barang mewah sebagai instrumen investasi sekaligus sebagai simbol status. Maraknya platform media sosial, telah meningkatkan visibilitas merek dan mendorong konsumen untuk mencari label fesyen kelas atas.

Saat ini terdapat sembilan pusat perbelanjaan premium yang menjadi rumah bagi merek-merek mewah. Delapan di Jakarta dan satu di Surabaya. Yang terbanyak masih dipegang Plaza Indonesia, disusul Plaza Senayan, Pacific Place, dan Senayan City. Lima lagi yang juga kehadiran brand-brand mewah cukup banyak adalah Pondok Indah Mall, Tunjungan Plaza, Grand Indonesia, Kota Kasablanka, dan Central Park. Grup Pakuwon yang menjadi pengembang Kota Kasablanka, saat ini sedang menambah portofolionya dengan membangun Kota Kasablanka Extension. Mal yang berdiri di atas lahan seluas 3,1 hektar itu nantinya akan menyasar kaum high-networth dan bakal menyaingi Plaza Senayan serta Pacific Place. Dibangunnya Kota Kasablanka 2, seiring dengan meningkatnya peminat barang-barang luxury di ibu kota. Salah satu merek accessible luxury yang banyak diminati kaum sosialita adalah Coach. Kini ada 26 outlet yang menjual produk asal New York tersebut (Lihat tabel). Padahal 10 tahun lalu, hanya Plaza Senayan yang menjajakan merek ini. Begitupula dengan Kate Spade yang satu dekade lalu hanya tersedia di Plaza Indonesia dan Plaza Senayan, kini sudah dijual di 21 pusat perbelanjaan.

Selain merek asing, jenama asli Indonesia-pun juga sudah banyak yang masuk ke level luxury. Salah satu merek yang bisa dikategorikan sebagai supreme-luxury brand adalah Bagteria. Merek tas besutan Nancy Go itu sudah diakui oleh para kurator mode internasional yang produknya diletakkan sejajar bersama raksasa mode seperti Louis Vuitton, Chanel, dan Prada. Untuk produk high-luxury, Indonesia punya Irwan Tirta Private Collection yang menawarkan produk batik mewah. Produk yang outlet-nya hadir di Plaza Indonesia, Grand Indonesia, dan Pondok Indah Mall itu, menjadi langganan beberapa presiden dan para menteri di negeri ini. Untuk pakaian siap pakai dan gaun malam, kita punya Sapto Djojokartiko. Pria kelahiran Surakarta itu sudah membuka butik eksklusifnya di dua pusat perbelanjaan mewah : Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Lalu untuk sepatu, Indonesia punya merek accessible luxury karya Mario Minardi. Selain di Pacific Place, Ciputra World Jakarta, dan Summarecon Mall Bekasi, merek yang lahir 44 tahun lalu itu juga bisa dijumpai di Singapura (Takashimaya) dan Bangkok (The Emporium Mall dan Central World). Untuk fesyen muslim, Indonesia punya dua jenama yang tergolong mewah, yaitu Ayu Dyah Andari dan Ria Miranda Signature. Keduanya bermain di segmen accessible luxury yang menyasar kaum menengah ke atas ibu kota. Satu lagi merek mewah asal Indonesia yang cukup terkenal adalah Biyan. Mungkin ini merek mewah Indonesia yang memiliki jangkauan paling luas. Selain di Indonesia, merek besutan Biyan Wanaatmadja itu juga hadir di Singapura, Malaysia, Thailand, Tiongkok, Taiwan, Jepang, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Bahrain, Prancis, serta Amerika Serikat.

Untuk merek asing, ada enam grup besar yang menjadi pemegang hak waralaba produk-produk luxury. Mereka adalah Mitra Adi Perkasa, Graha Citra Prima, Time International, Trans Fashion Indonesia, Masari Group, dan Kanmo Group. Enam perusahaan ini telah malang melintang membawa brand-brand mewah ke Indonesia sejak dua dekade silam. Mitra Adi Perkasa (MAP) yang dikenal sebagai raja ritel mempunyai beraneka ragam portofolio, mulai dari fast fashion, affordable luxury, accessible luxury, hingga high-end luxury. Untuk kategori luxury, merek yang mereka bawa antara lain Loewe, Chloe, Gianvito Rossi, Tumi, Swarovski, dan MaxMara. Berbeda dengan MAP yang bermain di berbagai lini, strategi Graha Citra Prima hanya berfokus pada barang-barang mewah. Perusahaan yang terafiliasi dengan Optik Tunggal tersebut menaungi beberapa brand seperti Bottega Veneta, Gucci, Balenciaga, Burberry, Saint Laurent, dan Alexander McQueen. Time International juga merupakan pelopor franchisee jenama-jenama mewah. Perusahaan yang dikendalikan oleh Irwan Musry tersebut, menjadi pemegang hak waralaba untuk merek jam mewah Rolex, Vacheron Constantin, dan Audemars Piguet. Portofolionya yang lain termasuk Chanel, Diesel, Fendi, Valentino, Zegna, dan Berluti.

Biyan Wanaatmadja, pemilik luxury brand Biyan (sumber : Tatler Asia)

Meski tak sebanyak MAP dan Time, Trans juga merupakan pemegang waralaba beberapa luxury brand di Indonesia. Setelah sebelumnya sempat membawa Stanley McCartney, perusahaan yang tergabung ke dalam CT Corp itu saat ini hanya mengelola merek Canali, Furla, Jimmy Choo, dan Aigner. Masari Group juga merupakan pemain lama dalam industri luxury brand tanah air. Perusahaan yang digawangi oleh Maggie Halim itu konon telah berdiri sejak tahun 1976. Kini perusahaan yang berkantor di Menara Batavia tersebut memegang lima merek mewah yang tergolong high-end luxury, yakni Hermes, Lanvin, Givenchy, Faure Le Page, serta Rodo. Yang teranyar adalah Kanmo Group. Perusahaan yang didirikan pada tahun 2005 oleh dua sepupu Hitesh dan Manoj Bharwani itu, kini mengelola enam luxury brand, yakni Tod’s, Roger Vivier, Marc Jacobs, Coach, Kate Spade, dan Stuart Weitzman.

Nah, dalam artikel kali ini, kami akan mengajak Anda menengok brand-brand mewah yang ada di Indonesia. Tercatat ada sembilan kota yang memiliki minimal satu outlet brand mewah, yakni Jakarta Raya, Surabaya, Bandung, Denpasar, Makassar, Medan, Semarang, Jogjakarta, dan Palembang. Kota-kota satelit Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Karawang, kami satukan ke dalam megapolitan Jakarta Raya dikarenakan konsumennya yang sama/cross-border. Sebagaimana diketahui, dalam satu dekade terakhir kota-kota satelit Jakarta mengalami pertumbuhan kelas menengah atas yang cukup besar. Hal ini mendorong para pengembang kakap untuk membangun mal-mal papan atas serta outlet premium. Kehadiran Jakarta Premium Outlet di Tangerang, Summarecon Villagio dan The Grand Outlet di Karawang; serta Summarecon Mall Bekasi 2 dan Pakuwon Mall Bekasi, menjadi bukti adanya peningkatan kelas middle-up di kota-kota satelit.

– Aigner (PI, SC, PIM 2, CP, JPO, TPB, TSC, SV, TSB, CWS, TP, TIS, TSM)
– Alice + Olivia (PS)
– Ami Paris (PS)
– Amouage (PI)
– Armani Beauty (PI)
– Atelier Cologne (PIM 3)
– Audemars Piguet (PI)
– Aquazzura (PP)
– Ayu Dyah Andari (PIM 2, KK, PMB)
– Bagteria (TN)
– Balenciaga (PI, SC)
– Bally (PI, PS, PIM 2, JPO, TP 3)
– Bang & Olufsen (PP)
– Bape (PI)
– Bell & Ross (PP)
– Berluti (PI)
– Bin House (PI)
– Biyan (PS)
– Bottega Veneta (PI, SC)
– Burberry (PI, SC)
– BCBG Maxazria (SC, PI)
– Bvlgari (PI, PS)
– Byredo (PI)
– Canali (PP, PS)
– Cartier (PI)
– Celine (PI)
– Chanel (PI)
– Chanel Fragrance and Beauty (PI, SC, PIM 3, TP 4)
– Charriol (PI)
– Charlotte Tilbury (PI)
– Christian Louboutin (PI)
– Christofle (PI)
– Cla de Peau (PI)
– Coach (PI, PS, SC, GI, KK, PIM 3, MKG 3, SMB, PMB, JPO, SHIA 3, TGO, SV, CWS, TP, GM, TSB, PHS, BW, IBM, GOB, DP, PMJ, TSM, DPM, PaIM)
– Creed (PI)
– Diesel (PI)
– Dior (PI, PS)  
– Dior Horlogerie (PI)
– Diptyque (PI)
– Dolce & Gabbana Beauty (SC, PI, PIM 2, TP 5)
– D’Orsay (PI)
– Ermenegildo Zegna (PI, PS, PP)
– Emporio Armani (GI, PIM 3, KK, IBM)
– Faure Le Page (PI)
– Fendi (PI, PS)
– Franck Muller (PI)
– Folli Follie (PS)
– Furla (PI, SC, GC, CP, PIM 2, TSC, TPB, SV, TSB, CWS, TP 3, TSM)
– Gianvito Rossi (PP)
– Givenchy (PI)  
– Gucci (PI, PS, SC)  
– Grand Seiko (PS, PP)  
– Guerlain (PI, PS)  
– Godiva (PI, GI, KK, PS, PIM 2, PIK)
– Golden Goose (PS)
– Hermes (PI, PP)
– Hugo Boss (PI, PP, PS, PIM 2, CP, JPO, SHIA 3, TGO, CWS, TP 4)
– Iwan Tirta Private Collections (PI, GI, PIM 2)
– Judith Leiber (PI)
– Jimmy Choo (PI)
– Jo Malone London (PI, SC, PIM 1)
– Kenzo (PI, JPO, SV)            

Piramida luxury brand (sumber : retailboss)

– Kate Spade (PI, GI, PS, SC, KK, PIM 3, MKG, JPO, SHIA 3, TGO, SV, PHS, TSB, TP, CWS, PMJ, DPM, DP, TSM, BW, IBM)
– Kerastase (SC, TSM)
– Lanvin (PI)
– La Perla (PP)
– Leica (PS)
– Loewe (PI)
– Longchamp (PI, PS, SC, PIM 3, TP 4, NRA)
– Longines (PI, PIM 1, TP 4)
– Louis Vuitton (PI, PS, PP)
– Marc by Marc Jacobs (PI, SC, JPO)
– Mario Minardi (PP, CWJ, SMB)
– MaxMara (PI, PS, PP, JPO)
– McQ by Alexander McQueen (PI)
– Memo Paris (PI)
– Miu Miu (PP)
– Michael Kors (PI, PS, KK, PIM 3, JPO, SHIA 3, SV, TP, BW)
– Missoni (PI)
– Moody Tiger (PP)
– Moreschi (PI)
– Molton Brown (PP, PI, CWS)
– Montblanc (PI, PP, PS, PIM 2, TP 3)
– Mondial (PI, PS, PIM 2, CP, MKG 3, SMS, TSB, TP 4, GM 3)
– Omega (PI, PS, MKG 3)
– Peggy Hartanto (PS)
– Penhaligon’s (PI)
– Prada (PP)
– Petit Bateau (PI, SC, PIM 1)
– Rado (PI, TP 3)
– Ria Miranda Signature (PIM 2)
– Richard Mille (PI)
– Rimowa (PI, PP, SC)
– Roberto Cavalli (PS)
– Roger Vivier (PI)
– Rodo (PI)
– Rolex (PI)
– Santoni (PI)
– Sapto Djojokartiko (PI, PS)  
– Sebastianred (PI)
– Sensai (PI)
– Sergio Rossi (PI, PS)
– Saint Laurent (PI, SC)
– Salvatore Ferragamo (PI, SC)
– Sisley (PS)
– Shiseido (PI)
– Stuart Weitzman (PI, SC, JPO, TP 4)
– Stefano Ricci (PI)
– S.T. Dupont (PS, PI)
– Sulwhasoo (PS, PIM 3, PMS)
– Swarovski (PI, GI, SC, KK, CP, MKG, JPO, PVJ, TP 4, GM, BW, TSM)
– TAG Heuer (PI, PP, CP)
– Tiffany & Co. (PI, PS)
– Tod’s (PI)
– Tory Burch (PS, PI, SC, PP, PIM 3, KK, SV, TP 4)
– Tudor (PP)
– Tumi (GI, PI, SC, PP, KK, PIM 2, CP, MKG 3, SHIA 3, JPO, CWS, GM 3, IBM, BW, TSM)
– Tulola Designs (PI, SC, PP)
– Valentino (PI)
– Valentino Beauty (PIM 3)
– Vacheron Constantin (PI)
– Versace (PI)
– Wanda House of Jewels (PI)
– Wedgwood (PP)
– YSL Beauty (PI, SC, GI, CP)
– Zegna (PI, PS, PP)

Keterangan :

– PI : Plaza Indonesia
– PS : Plaza Senayan
– PP : Pacific Place
– GI : Grand Indonesia
– SC : Senayan City
– PIM : Pondok Indah Mall
– KK : Kota Kasablanka
– MKG : Mal Kelapa Gading
– CP : Central Park
– PIK : PIK Avenue
– TN : Thamrin Nine
– CWJ : Ciputra World Jakarta
– SMB : Summarecon Mall Bekasi
– PMB : Pakuwon Mall Bekasi
– TPB : Trans Park Bintaro
– JPO : Jakarta Premium Outlet
– SHIA : Soekarno Hatta Int’l Airport
– SMS : Summarecon Mall Serpong
– TGO : The Grand Outlet
– SV : Summarecon Villagio
– TSC : Trans Studio Cibubur  
– TIS : Trans Icon Surabaya
– CWS : Ciputra World Surabaya
– TP : Tunjungan Plaza
– GM : Galaxy Mall
– PMS : Pakuwon Mall Surabaya
– TSB : Trans Studio Bandung
– PVJ : Paris Van Java
– PHS : Paskal Hyper Square
– BW : Beach Walk Bali
– IBM : Icon Bali Mall
– GOB : Grand Outlet Bali
– NRA : Ngurah Rai Airport
– TSM : Trans Studio Makassar
– DP : Deli Park
– PMJ : Pakuwon Mall Jogja
– DPM : DP Mall Semarang
– PaIM : Palembang Indah Mall  

Tinggalkan komentar