Posts Tagged ‘Kesederhanaan Buya Syafii’

Siapa yang tak kenal Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah sekaligus pendiri Maarif Institute. Dalam satu tahun terakhir, namanya sering menjadi sorotan publik. Dia sering menjadi rujukan awak media, terutama terkait kasus penodaan Al Quran oleh Basuki Tjahaja Purnama. Dalam isu tersebut, dia (terkesan) berpihak kepada Basuki alias Ahok. Ia mengatakan bahwa pernyataan mantan gubernur DKI Jakarta itu bukan sebuah bentuk penodaan terhadap Al Quran. Lebih jauh Syafii berpendapat bahwa Ahok hanya mengkritisi orang-orang yang menggunakan Surat Al Maidah untuk kepentingan politik. Tak ayal pendapatnya itu langsung mendapatkan kritikan, bahkan caci maki dari sebagian umat muslim. Beberapa organisasi serta partai Islam, seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah pihak-pihak yang paling keras mengkritik beliau. Para cyber army mereka tak henti-hentinya mencibir Syafii, mempelintir pernyataannya, memfitnah dengan aneka meme yang menyudutkan. Bahkan dalam beberapa komentar yang saya baca, mereka tega menuduh Syafii telah menerima bayaran dari para taipan untuk berpihak kepada Ahok.

Selain dari kader PKS dan FPI, kritikan juga datang dari kalangan Muhammadiyah. Tak ketinggalan ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia. Mendapat serangan dari berbagai pihak, Syafii tak ambil pusing. Menurut Abdul Mu’ti yang sekarang menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Buya — begitu ia disapa — memang sudah terbiasa dikritik. Menerima kritik dari organisasi yang pernah dipimpinnya, ia santai saja. Pada tanggal 2 Desember 2016, ketika demonstrasi menentang Ahok kembali digelar, ia menulis opini di Koran Tempo. Pada kolom tersebut ia menyebut, “jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam tindakan Basuki Tjahaja Purnama pada 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas.” Syafii menambahkan, “biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu. Sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini”.

(lebih…)

Iklan