Posts Tagged ‘Lehman Brothers’

Wallstreet dan Dollar Amerika

Wallstreet dan Dollar Amerika

Kebobrokan mesin ekonomi Amerika, satu per satu mulai terkuak. Setelah kasus subprime mortgage yang menjadi pemicunya di tahun 2007 lalu, berturut-turut kejadian besar terjadi disana. Kebangkrutan Lehman Brothers di pertengahan tahun 2008 ini, pemutusan hubungan kerja besar-besaran karyawan perusahaan otomotof the big three, sampai yang paling mutakhir kasus penipuan dengan skema ponzi.

Kasus penipuan ini cukup lucu dan tak beralasan untuk raksasa ekonomi sekaliber Amerika. Melihat kasus ini kita jadi bertanya-tanya, dimana fungsi pengawasan dan kontrol atas perusahaan investasi di negara itu. Kita tahu bahwa produk-produk instrumen keuangan terbitan Amerika, seperti reksadana, obligasi, asuransi, sampai produk derivatif-nya, selalu dinilai AAA+ oleh lembaga pemeringkat. Artinya bahwa produk-produk terbitan negeri ini, dinilai sebagai produk-produk yang aman dan paling menguntungkan. Dan lucunya lagi, banyak korban dari penipuan yang dimotori oleh Bernard Madoff ini ialah bank-bank besar seperti Royal Bank of Scotland, BNP Paribas, Nomura Holdings, dan orang-orang super kaya dunia.

(lebih…)

Iklan
Lehman Brothers

Lehman Brothers

Tempo hari pengalaman menarik saya dapatkan. Sebuah cerita yang mengingatkan saya, bahwa sebuah keikhlasan sangat diperlukan dalam hidup ini. Cerita itu datang bukan dari motivator ulung atau pak kyai, tapi dari seorang rakyat terpinggirkan : tukang ojek. Begini ceritanya; hari menunjukkan pukul 7.50, 10 menit menjelang waktu saya masuk kantor. Kopaja, jelaslah pilihan yang salah untuk cepat tiba di kantor. Memilih Kopaja bisa-bisa telat lagi. Naik taksi, oh no… Mahalnya ongkos taksi, tak cukup untuk karyawan kecil macam saya. Tak ada pilihan lain, selain memilih ojek untuk sampai sebelum jam 8.00 di kantor.

Panas yang mulai meninggi di downtown kota Jakarta, plus kondisi lalu lintas yang cukup semrawut, tak membuat wajah ini absen mengumbar senyum. Senyum pagi itu, saya tumburkan ke seseorang tukang ojek setengah baya. Senyum tipis dari pengojek itulah, yang membuat saya membalas senyum. Setelah itu, tawar menawar pun terjadi diantara kami. “Bang, Komdak sepuluh ribu ya?” Tanya saya pada pengojek tersebut. Tawaran saya pun langsung di iyakannya. Setelah tawaran kepada dua tukang ojek sebelumnya, ditolak mentah-mentah. Tanpa ba bi bu, si pengojek ramah itu langsung menancap motor bebek bututnya.

(lebih…)