Posts Tagged ‘Sutan Sjahrir’


AHY dan Moeldoko (sumber : beritasatu.com)

Darmizal, salah seorang politisi Partai Demokrat, menangis tersedu-sedu saat konferensi pers pasca-Kongres Luar Biasa (KLB) partainya. Dalam pidatonya, ia menyesal telah membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi ketua umum Demokrat pada tahun 2015 lalu. Ia tak menyangka setelah SBY memimpin partai ini akan lahir rezim diktator, dimana SBY melanggengkan politik dinasti dengan memberikan karpet merah kepada putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk melanjutkan kepemimpinan partai. Senada dengan Darmizal, Marzuki Alie, mantan ketua DPR sekaligus politisi senior Partai Demokrat mengatakan, diselenggarakannya KLB ini akibat tersumbatnya suara para kader dan adanya kesewenang-wenangan pengurus partai di bawah pimpinan AHY. Oleh karenanya KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang tanggal 5 Maret lalu itu, dirancang untuk melengserkan AHY. Sebagaimana yang kita ketahui, kongres itu kemudian memilih secara aklamasi Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, sebagai ketua umum Demokrat yang baru.

Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada pengesahan atau pembatalan dari pemerintah terkait hasil KLB tersebut. Namun kasak-kusuk serta behind the story dibalik penyelenggaraan KLB itu sangat menarik untuk disimak. Salah satunya adalah pernyataan Gatot Nurmantyo yang pernah ditawari oleh para inisiator KLB untuk menggantikan posisi AHY. Namun kemudian Gatot menolak dengan alasan ewuh pakewuh. Selain itu yang juga perlu dicermati adalah sebelum AHY naik menjadi ketua umum, ternyata elit partai inipun sudah diisi oleh keluarga-keluarga Yudhoyono. Hadi Utomo, yang merupakan ipar SBY, pernah menjadi ketua umum Demokrat periode 2005-2010. Edhi Baskoro Yudhoyono, putra kedua SBY, juga sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal partai. Dan kini, Ibas – begitu ia akrab disapa, menduduki posisi ketua fraksi Demokrat di MPR. Tak salah jika banyak orang yang berpandangan, bahwa KLB kemarin adalah perlawanan kader Demokrat terhadap Dinasti Cikeas yang selama ini seperti menjadi pemilik partai.

(lebih…)

Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Jika di Indonesia ini harus dibuat pula patung kepala pendiri bangsa seperti di Amerika sana, maka saya akan mengusulkan empat tokoh founding fathers kita : Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Mereka adalah orang-orang Indonesia di atas rata-rata, yang berpikir melampaui zamannya. IQ mereka mungkin tak pernah ada orang yang tahu, tapi dari kemampuan mereka menulis, mengelola partai politik, hingga berhasil mendirikan republik ini, jelas mereka-mereka itu sangatlah jenius.

Mereka berempat orang-orang segenerasi yang lahir pada saat politik dunia sedang memanas. Tan Malaka (lahir 1896), Soekarno (lahir 1901), Hatta (lahir 1902), dan Sjahrir (lahir 1909) berada di usia matang pada saat kekuasaan orang-orang Belanda mulai memasuki senja. Sehingga pada tahun 1945, disaat Perang Dunia Kedua berakhir dan terlepasnya Indonesia dari cengkeraman kolonialisme Belanda, mereka siap memimpin negeri ini. Dalam perguliran sejarah bangsa, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir duduk dalam kursi formal pemerintahan negara, sedangkan Tan Malaka menjadi pemimpin oposisi.

(lebih…)