Yahudi : Diantara Deru Peradaban

Posted: April 29, 2009 in Sejarah
Tag:, , , ,

Umat Yahudi

Munculnya Assyria dan Babylonia di Timur, telah melenyapkan kemerdekaan orang Yahudi untuk selamanya. 722 SM, Samaria ibu kota Israel jatuh ke tangan Sargon II, disusul Jerusalem ibu kota Judah yang jatuh ke tangan Nebukadnezar. Masa ini menjadi titik balik bagi umat Yahudi. Dari abad ke abad, paska penaklukan Assyria dan penerusnya Babylonia, umat Yahudi berada dalam masa penjajahan. Di bawah kekuasaan mereka, untuk kedua kalinya terjadi eksodus besar-besaran orang Yahudi. Kini arah tujuan mereka ke Babylonia. Di atas tanah yang jauh dari kampung halaman mereka, orang Yahudi membuat kreasi-kreasi baru, yang menjadikan mereka kaya dan berbudaya. Rute-rute perdagangan Babylonia banyak diisi oleh orang Yahudi, yang kemudian menempatkan mereka sebagai peniaga internasional. Di dalam kekayaan pustaka Babylonia, mereka mendapatkan kecintaan akan kitab-kitab dan kegemaran akan pengetahuan.

Setelah empat milenium peradaban Semitik, Timur Tengah jatuh ke tangan bangsa baru : Persia. Babylonia yang sedang berdiri megah dan dominan, dalam waktu singkat disapu bersih oleh bangsa baru ini. Pergerakan orang-orang Arya yang barbar dari Asia Tengah pada abad 6 SM, telah mengubah sejarah dunia. Ras Arya telah membentuk tiga cabang peradaban sekaligus, Persia di tengah, Yunani-Romawi di barat, dan India di timur.

Cyrus penguasa Persia, telah mengambil tindakan yang mempesonakan. Ia memberi orang Yahudi izin untuk kembali ke tanah air mereka : Palestina. Tetapi kebijakan ini menimbulkan tanggapan yang berbeda oleh bangsa Yahudi. Mengapa harus kembali ke Palestina, dimana hanya kesedihan, kemiskinan, dan kerja kasar yang tiada habisnya. Bangsa Yahudi tidak hanya menjadi makmur di dalam pengasingan Babylonia ini, mereka juga beranak-pinak. Namun, kebijakan Cyrus ini dimanfaatkan oleh orang Yahudi yang kurang beruntung dan tak memiliki cukup penghasilan di Babylonia. Semenjak kedatangan mereka, di bawah puing-puing peperangan, Palestina kembali menggeliat.

Walau hanya negara satelit di bawah imperium Persi, Palestina yang terbangun kembali ini memerlukan sebuah pemimpin baru. Nehemiah diangkat menjadi gubernur dan Ezra sebagai pemimpin spiritual umat. Orang Yahudi Babylonia yang kembali ke Palestina itu, membawa serta kecintaan mereka akan kitab-kitab. Mereka merangsang sebuah kehidupan intelektual baru di Palestina. Delapan ratus tahun setelah kematian Musa, keyahudian bangsa Yahudi ditegakkan kembali sebagai sebuah hasil dari reformasi Josiah, doktrin nabi-nabi, dan inovasi Ezra dan Nehemiah. Perubahan zaman kembali terasa. Mereka sekarang kembali diuji di dalam pertarungan sejarah. Pusat peradaban dunia kembali bergeser dari Timur Tengah ke Eropa. Alexander Agung dari Macedonia yang sedang berderap membentuk imperium baru, membawa serta sebuah cara hidup baru, sebuah peradaban baru, dan tantangan baru bagi bangsa Yahudi.

Ambisi Alexander tidaklah hanya sekedar menegakkan sebuah imperium Yunani yang besar, namun juga memperluas kebudayaan campursari ala Yunani : Helenisme. Untuk menegakkan kebudayaan Yunani sebagai cara hidup di dalam wilayah taklukannya, Alexander memerintahkan kepada para prajuritnya untuk melakukan perkawinan silang dengan penduduk asli. Dalam waktu sepuluh tahun ia mendirikan 25 kota model Yunani di Timur Tengah, yang utama diantara kota-kota itu ialah Alexandria di Mesir. Ide-ide yang telah dirumuskan oleh Ezra dan Nehemiah, kembali mendapat tantangan serius. Pemaksaan ide dan gaya hidup, serta budaya Helenisme ke dalam bangsa Yahudi, telah membuat repot para pendeta mereka. Dan selama seribu tahun hingga jatuhnya Palestina ke dalam imperium Muslim, bangsa Yahudi beserta ide-idenya telah jatuh dan teralienasi ke dalam budaya Greco-Roman.

Tiga kali peperangan Macedonia, membawa seluruh Yunani di bawah kekuasaan Romawi. Dipermulaan abad pertama, bangsa Romawi telah berdiri mengelilingi Asia Minor, Afrika Utara, hingga Spanyol. Mereka merangsek serta memaksa untuk menggantikan bekas imperium Alexander. Dimasa ini, pengalaman hidup yang geram ketika di bawah kekuasaan Mesir kembali terulang. Romawi menghajar habis bangsa Yahudi dan penyembelihan massal saling silih berganti dengan horor yang tiada hentinya. Yerusalem dan seluruh Palestina menjadi tertutup bagi bangsa Yahudi. Mereka yang tidak tewas dalam peperangan, atau tidak sempat melarikan diri ke Parthia kemudian dijual ke dalam perbudakan. Selama ratusan tahun di dalam perbudakan Romawi, bangsa Yahudi tidaklah bernegara dan tersebar ke setiap sudut imperium : dari India hingga tepian Atlantik. Dimasa penjajahan Romawi inilah, bangsa Yahudi untuk pertamakalinya terdiaspora ke seantero dunia.

Romawi harus menemui nasibnya. Imperium yang mulai goyah itu harus terbelah menjadi dua. Pada masa perpecahan inilah muncul agama samawi baru, Kristiani, yang didakwahkan oleh keturunan Musa, Isa AS. Lahirnya agama baru ini menjadi masalah tersendiri bagi umat Yahudi. Bahkan ancamannya lebih hebat lagi jika dibandingkan dengan kehadiran Helenisme empat ratus tahun sebelumnya. Agama Kristiani seperti halnya Islam nanti, menjadi superlatif bagi Yahudi.

Imperium barat telah lebih dahulu hancur, dan kini imperium timur di Konstantinopel telah terhuyung-huyung di bawah bayang-bayang imperium Muslim. Dan selanjutnya, nasib orang Yahudi-pun harus ditentukan oleh sepak terjang imperium besar ini.

 
Sumber foto : http://www.eramuslim.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s