Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta

Buat sebagian orang, tahun ini mungkin tak akan mudah dilupakan. Banyak kisah, banyak cerita yang bisa dikenang, terutama terkait dengan isu politik dan Pilpres 2014. Bagi mereka yang lahir pada masa Orde Baru, mungkin ini untuk kali keduanya merasakan gegap gempita atmosfer politik di tanah air. Sejak Reformasi, agaknya baru tahun inilah sebagian besar masyarakat kita kembali berpolitik praktis. Tidak seperti tahun 1998-99, dimana banyak orang yang turun ke jalan, kali ini mereka bisa melakukannya lewat media sosial. Ada yang berkicau melalui Twitter, meng-update status via Facebook, atau menyampaikan opini dan sanggahan di Kompasiana. Itulah alasannya mengapa dalam dua bulan terakhir ini saya rajin mantengin Facebook dan Kompasiana. Mungkin dengan cara inilah, sambil beraktivitas rutin, saya bisa merasakan suasana batin rakyat Indonesia dalam menyambut Pilpres 2014.

Dari media-media tersebut, saya bisa melihat opini masyarakat yang berseliweran. Ada opini positif yang mencerahkan, namun tak sedikit pula yang melewati batas-batas keadaban. Dari komentar yang masuk silih berganti, ada satu orang kawan yang tiap sebentar mem-bully Prabowo. Isunya bermacam-macam, dari persoalan HAM hingga perceraiannya dengan Titiek Soeharto. Teman saya yang lain, tak segan-segan mengirimkan berita-berita miring tentang Jokowi. Meski informasi tersebut tak jelas darimana sumbernya, namun tetap saja ia dengan giat menyebarkannya. Prinsip mereka, selama berita itu menyudutkan lawan, maka mereka tak kan peduli dengan kebenaran isi berita tersebut. Yang penting uweh-uweh-nya sudah terpuaskan.


"Gallery of Rogues", Kampanye Hitam ke Kubu Prabowo

Koalisi Garong, Kampanye Hitam ke Kubu Prabowo (sumber : laman Facebook Wimar Witoelar)

Di tahun ini, politik memang terasa gaduh. Semua orang ingin bicara, semua orang ingin berkomentar. Seolah-olah tak ingin kehilangan momentum. Media-media mainstream-pun banyak yang kehilangan arah. Dipaksa atau terpaksa harus berpihak kepada salah satu kubu. Metro TV dan Tempo, dua media terkemuka tanah air, ikut-ikutan menanggalkan netralitasnya. Bahkan Goenawan Mohamad, sang pendiri Tempo, terang-terangan menolak Prabowo dan memihak kepada Jokowi. Alasannya, ia tak mau rezim Orde Baru bangkit kembali. Meski absurd, namun sikap Goenawan sah-sah saja. Dia juga merupakan homo-politicus yang memiliki kepekaan dan kemerdekaan untuk berpendapat. Dari kubu Prabowo, ada MNC Media dan Viva News milik Aburizal Bakrie. Meski titah sang pemilik mengharuskan Viva News berpihak kepada Prabowo, namun Karni Ilyas, jurnalis kawakan sekaligus pemimpin redaksi TV One (anak perusahaan Viva News), menolak untuk terlibat dalam ketidaknetralitasan media. Ia memilih cuti tenimbang menggadaikan idealismenya.

Jika media mainstream saja banyak yang berpihak, apalagi dengan media-media karbitan. Pastinya banyak dari mereka yang memanfaatkan tahun politik ini untuk menangguk uang. Beberapa diantara mereka malah terang-terangan melakukan kampanye hitam, menyerang salah satu capres dengan aneka opini yang dibuat-buat. Voa-Islam, Arrahmah, dan PKS-Piyungan, terindikasi sebagai media yang banyak menelurkan berita-berita hitam. Mereka tak segan-segan mengkafirkan Jokowi, serta memfitnahnya sebagai antek-antek komunis. Tidak puas dengan isu SARA, ketiga media ini juga sering memelintir ucapan Jokowi-JK yang dikesankan sebagai anti-Islam. Laku ketiga media tersebut, kemudian memberikan inspirasi kepada tabloid Obor Rakyat untuk mengompori kalangan santri agar membenci Jokowi-JK. Meski banyak media online yang kontra terhadap Jokowi, namun tak sedikit pula yang berpihak kepadanya. Malah sebagian besar media online pro-Jokowi, memiliki jumlah pembaca cukup besar, seperti Detik, Tribunnews, dan Merdeka. Informasi dari ketiga media ini, seringkali menjadi referensi para Jokowi-lovers untuk membenarkan pilihannya.

Aplikasi Permainan Jokowi GO

Yang tak kalah menarik dari pertarungan dua kandidat presiden-wakil presiden pada tahun ini adalah opini-opini para pakar. Untuk hal yang satu ini, nampaknya kubu Jokowi menang satu langkah. Sebab, naiknya mantan walikota Solo itu sebagai kontestan Pilpres 2014, sedikit banyaknya terbantu oleh opini mereka yang sedemikian massif. Bahkan sejak tahun lalu, mereka telah menggadang-gadang “Si Kurus” sebagai kandidat presiden yang bisa menggeser elektabilitas Prabowo. Dari opini-opini mereka inilah kemudian nama Jokowi makin terkenal dan tak terbendung lagi. Diantara para pakar yang respek terhadap kinerja Jokowi, ada nama Burhanuddin Muhtadi, Andrinov Chaniago, Hamdi Muluk, dan Sukardi Rinakit. Sedangkan pengamat yang pro terhadap Prabowo, diantaranya Zaki Mubarak. Meski para pakar ini selalu memposisikan dirinya sebagai pihak yang netral, namun dari pembawaannya nampak kalau mereka memiliki kecenderungan terhadap salah satu calon.

Selain memberikan opini di berbagai media, banyak pula pakar yang berprofesi sebagai tukang survei. Mereka memberikan jasa perhitungan dan pemantauan elektabilitas salah satu pasangan dari waktu ke waktu. Dari laporan survei yang dirilis pada pertengahan bulan Juni lalu, tercatat setidaknya ada sembilan lembaga survei yang bermain pada Pilpres tahun ini. Mereka adalah Lembaga Survei Nasional (LSN), Lingkaran Survei Indonesia (LSI-Denny JA), Populis Center, Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG), Alvara Research Center (ARC), Cyrus Networks, Pusat Data Bersatu (PDB), Pol Tracking Institute, dan Indo Barometer. Hasilnya, dari kesembilan lembaga tersebut, tujuh menempatkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres 2014. Walaupun kesembilan lembaga ini mengaku telah melakukan survei dengan metode yang benar, namun banyak pihak menilai bahwa sebagian survei tersebut adalah pesanan dari pihak tertentu. Yang masih kredibel dan bisa dipercaya, hingga saat ini hanyalah penelitian yang dilakukan oleh Litbang Kompas.

Buya Syafii Maarif mendukung Jokowi (sumber : tempo.co)

Buya Syafii Maarif mendukung Jokowi (sumber : tempo.co)

Disamping media serta para pakar, ulama-ulama besar yang menjadi panutan masyarakat juga ikut-ikutan berpolitik praktis. Bahkan Forum Ulama Ummat Indonesia, sudah jelas-jelas mengharamkan pilih Jokowi. Entah dari mana kaidah ushul fiqh yang diambil, namun menurut sebagian ulama, forum yang dipimpin oleh KH. Athian Ali itu sudah kebablasan. Forum ini dinilai sudah terlampau jauh dalam menafsirkan dalil-dalil agama, hanya untuk kepentingan politik praktis. Belum lagi beberapa ustadz yang terafiliasi dengan partai politik. Yang dalam setiap ceramahnya, tak segan-segan mendoktrin para jemaah agar memilih capres tertentu. Diantara ulama-ulama besar yang ikut terlibat dalam politik praktis tahun ini, ada nama KH. Hasyim Muzadi dan Buya Syafii Maarif. Keduanya mendukung pasangan Jokowi-JK. Sedangkan ulama yang berpihak kepada Prabowo-Hatta, antara lain KH. Said Aqil Siradj dan Habib Rizieq Shihab.

Tak berbeda dengan para ulama, di kalangan selebritis banyak pula yang terang-terangan mendukung salah satu pasangan capres-cawapres. Di barisan Prabowo-Hatta, ada musisi kawakan Ahmad Dhani dan Anang Hermansyah. Anang tentu mendukung Prabowo-Hatta. Sebab ia akan menjadi anggota legislatif dari PAN, yang ketua umumnya sedang ikut bertarung mendampingi Prabowo. Sedangkan Ahmad Dhani, merasa cocok dengan kepribadian Prabowo yang dianggapnya tegas. Bertolak belakang dengan kedua artis tersebut; Slank, Kerispatih, Andre Hehanusa, Kla Project, Oppie Andaresta, Coklat, Giring Ganesha, dan Sherina, justru mendukung pasangan Jokowi-JK. Sebagai bentuk partisipasi mereka mensukseskan pasangan tersebut, mereka mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk menggelar konser gratis “Salam 2 Jari”. Acara yang diadakan di Gelora Bung Karno pada Sabtu kemarin (5/7) itu, menyedot perhatian banyak pihak, termasuk juga dari kalangan perupa dan pemain film. Dalam tajuknya, mereka menyebut konser itu sebagai “Revolusi Harmoni untuk Revolusi Mental”.

Konser Salam 2 Jari

Konser Salam 2 Jari

Tak cuma artis-artis dalam negeri yang mendukung Jokowi, para selebritis mancanegara-pun banyak yang memasang hashtag Jokowi. Dukungan kepada Gubernur Jakarta non-aktif itu, datang antara lain dari gitaris Guns n Roses: Ron Bumblefoot Thal, Sting, grup band Arkarna, dan Jason Mraz. Bahkan Jason Mraz menulis di laman Twitter-nya : “To my friends in Indonesia, this week you are empowered with your vote! Get involved in democracy and be heard! #Jokowi9Juli #yes!

Tensi politik di tahun 2014 ini memang sedang memanas. Namun ada juga beberapa pihak yang menyikapinya dengan kreatif. Salah satunya adalah Arief Widhiyasa, yang membuat aplikasi permainan “Jokowi GO”. Dalam selang beberapa hari, gim yang bisa diunduh lewat Google Play Store dan Apple App Store itu, langsung meraih rating tertinggi dalam chart Top New Free Google Play Store. Aplikasi ini mengalahkan aplikasi-aplikasi permainan lainnya seperti Angry Birds Pic dan Boom Beach. Selain bertujuan untuk mengkampanyekan capres Jokowi, yang menarik dari permainan ini adalah ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Sedangkan aplikasi permainan yang menggunakan karakter Prabowo, seperti “Prabowo The Asian Tiger” dan “Prabowo vs Zombie” justru lebih menonjolkan sosok Prabowo sebagai mantan prajurit. Pada gim “Prabowo vs Zombie” misalnya, para pemain diajak untuk seolah-olah menjadi tentara yang membasmi para perusuh di ibu kota.

Siapapun pemenangnya pada Pilpres besok (9/7), diharapkan kegaduhan ini tidak berpotensi menjadi konflik, yang bisa menyulut siapa saja untuk saling gontok-gontokan. Kita tentunya berharap, Pemilihan Presiden 2014 ini bisa berjalan lancar, seperti halnya Pilpres 2004 dan 2009 lalu. Dan siapapun kelak yang akan menjadi pemimpin bangsa, tempatkan ia sebagai orang yang didahulukan selangkah ditinggikan seranting. Dukung mereka jika benar, kritik mereka jika zalim. Akhirul kalam, selamat memilih dengan pikiran dan hati nurani yang sehat. Salam.

Ahmad Dhani (tengah) mendukung Prabowo (kanan) dengan kostum mirip pimpinan Nazi, Heinrich Himmler (kiri) (sumber : www.infospesial.net

Ahmad Dhani (tengah) mendukung Prabowo (kanan) dengan kostum mirip pimpinan Nazi, Heinrich Himmler (kiri) (sumber : http://www.infospesial.net


 
Lihat pula :
1. Jokowi, Manuver Amien Rais, dan Skenario Pilpres 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s