Gedung Negara Grahadi

Gedung Negara Grahadi

Makan tangan walikota Surabaya Tri Rismaharini mulai terlihat. Berkat kerja kerasnya, Surabaya menjadi salah satu metropolitan dunia yang diperhitungkan. Di berbagai sudut kota, ruang-ruang yang selama ini dibiarkan kosong, disulapnya menjadi taman hiburan dan tempat bermain. Tak cuma itu, Risma juga mengeruk kali-kali dan sungai yang sebelumnya dipenuhi limbah rumah tangga. Agar terlihat kinclong, di malam hari ia juga menyalakan lampu-lampu taman yang berwarna-warni. Untuk memanjakan para pegowes, ia menyediakan lajur khusus sepeda di jalan-jalan protokol. Tak ketinggalan lampu pengatur penyeberang jalan, di beberapa titik yang tak memiliki jembatan penyeberangan. Bukan hanya itu, Risma juga memperhatikan layanan kesehatan dan pendidikan masyarakatnya. Orang-orang jompo dan anak-anak jalanan benar-benar ia lindungi. Berkat prestasinya yang seabrek, ia dianugerahi “United Europe Award” pada pertengahan April lalu. Terlepas adanya kontroversi atas penghargaan tersebut, yang jelas Risma telah berhasil mengubah wajah Surabaya yang muram dan kusam menjadi lebih cerah dan bersih.

Disamping membangun kota yang inovatif dan layak huni, Risma juga mengembangkan wisata di dalam kota. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan menghidupkan kembali bangunan-bangunan bersejarah yang terserak di seantero kota. Jika Anda menyusuri Jalan Rajawali, terus ke Jembatan Merah dan kawasan Ampel, maka dengan mudahnya dijumpai gedung-gedung tua yang tak terawat. Gedung-gedung itu kini mulai direvitalisasi sebagai obyek wisata yang menjanjikan. Dulunya hampir sebagian besar bangunan tersebut digunakan oleh perusahaan-perusahaan Belanda. Ada yang difungsikan sebagai kantor, ada pula yang untuk gudang.


Kantor Gubernur Jawa Timur (sumber : skyscrapercity.com)

Kantor Gubernur Jawa Timur (sumber : skyscrapercity.com)

Salah satu gedung peninggalan Belanda yang hingga kini masih terlihat apik adalah Kantor Gubernur Jawa Timur (Gubernuran) di Jalan Pahlawan. Gedung ini memiliki lonceng di bagian menaranya dan telah menjadi pusat pemerintahan kolonial di Jawa Timur sejak tahun 1930. Tak jauh dari Gubernuran, terdapat pula bangunan Belanda yang dulu bernama Gedung Lindeteves. Gedung yang dibangun pada tahun 1911 itu, pernah berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata tentara Jepang. Didesain oleh Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers, bangunan tersebut kini digunakan sebagai kantor Bank Mandiri. Melintasi Jalan Pahlawan ke arah selatan, kita akan tiba di Jalan Tunjungan. Di dekat persimpangan antara Jalan Tunjungan dan Embong Malang, Anda akan menjumpai salah satu tempat bersejarah di Surabaya : Hotel Majapahit (dahulu Hotel Oranje kemudian Hotel Yamato). Di tempat inilah pada bulan Oktober 1945, arek-arek Suroboyo merobek bendera Belanda dan hanya menyisakan warna merah-putih. Hingga saat ini hotel yang banyak disinggahi oleh turis-turis asal Eropa itu masih menyisakan keanggunannya. Jika malam tiba, lampu-lampu temaram di bagian depan bangunan, seolah mengajak pengunjung untuk menikmati suasana Surabaya tempo dulu.

Berbelok ke arah kiri, Anda akan tiba di Jalan Gubernur Suryo. Di ruas ini berdiri dua bangunan besar warisan Belanda yang tak kalah moleknya. Yang berhalaman luas dan berwarna putih adalah Gedung Grahadi sedangkan yang berwarna coklat disebut Balai Pemuda. Gedung Grahadi kini menjadi tempat kediaman Gubernur Jawa Timur. Dibangun pada tahun 1795 oleh residen Dic Van Hogendorp, gedung ini beberapa kali menjadi rumah para pembesar Eropa. Di seberang Gedung Grahadi, tepatnya di sebelah selatan, terdapat patung Gubernur Suryo. Patung yang dikelilingi air mancur serta ranumnya bunga-bunga di Taman Apsari itu beralaskan pernyataan sang gubernur yang tak mau menyerah terhadap ultimatum Inggris. Disebelah barat Gedung Grahadi terdapat Balai Pemuda (dahulu De Simpangsche Societeit). Gedung ini dulunya merupakan tempat sosialita Belanda mengadakan pesta dan berdansa-dansa. Pada pertengahan abad ke-20, gedung ini berfungsi sebagai markas pemuda dan kemudian sebagai tempat pertemuan. Berbelok ke arah utara menyusuri Jalan Yos Sudarso, Anda akan berserobok dengan Balai Kota. Gedung yang dibangun pada tahun 1906 itu juga merupakan salah satu cagar budaya di Surabaya.

Kampung Ampel

Kampung Ampel

Disamping bangunan peninggalan Belanda, di kota ini banyak pula terdapat rumah warisan orang Arab dan Tionghoa. Kampung Ampel yang dahulu terkenal sebagai tempat penyebaran Islam di Surabaya, dewasa ini menjadi tempat bermukimnya masyarakat keturunan Arab. Di Nusantara, Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki populasi etnis Arab cukup besar. Mayoritas mereka datang dari selatan jazirah Arab atau tepatnya negeri Hadhramaut (lihat : Kiprah Kaum Arab-Hadhrami di Nusantara (2)). Selain terdapat Mesjid Ampel dan makam Sunan Ampel, di kampung ini juga berderet toko-toko milik orang Arab yang menjual aneka kebutuhan umat muslim serta makanan khas Timur Tengah. Ampel merupakan tempat persilangan budaya di Surabaya. Selain makanan khas Arab, disini banyak pula terdapat masakan Jawa dengan rasa Madura yang kental. Tahu tek dan sate kambing rebus merupakan bentuk akulturasi tiga budaya besar di Surabaya : Jawa, Madura, dan peranakan Arab.

Disamping komunitas Arab, masyarakat Tionghoa juga banyak dijumpai di kawasan ini. Salah satu bangunan kepunyaan orang Tionghoa yang saat ini dijadikan sebagai obyek wisata adalah House of Sampoerna. Bangunan yang didirikan pada tahun 1862 itu, semula digunakan sebagai panti asuhan oleh pemerintah Belanda. Kemudian di tahun 1932, kompleks ini dibeli oleh pendiri perusahaan rokok Sampoerna, Liem Seeng Tee. Sebagai tempat berwisata, House of Sampoerna boleh dibilang merupakan museum paling menarik di Surabaya. Di gedung yang berarsitekturkan mediterania itu, kita bisa melihat barang-barang warisan keluarga Sampoerna hingga proses pembuatan rokok Dji Sam Soe. Disitu terdapat pula barang-barang seni serta buku tua mengenai sejarah kota Surabaya.

Jalan Kembang Jepun

Jalan Kembang Jepun

Tak jauh dari Jembatan Merah, tepatnya di gerbang Jalan Kembang Jepun, Anda bisa melihat gapura naga khas negeri China. Jalan Kembang Jepun (dahulu Handelstraat) memang dikenal sebagai kawasan pecinan-nya Surabaya. Jika Anda datang kesini pada waktu perayaan Imlek, maka akan dijumpai makanan-makanan khas Tionghoa yang dijual di pinggir jalan. Selain banyak terdapat restoran China, di kawasan ini juga berdiri rumah-rumah ibadah, seperti Klenteng Hok An Kiong dan Boen Bio. Jalan Kembang Jepun merupakan salah satu jalan di Surabaya yang sering diangkat ke dalam novel-novel populer. Beberapa sastrawan, diantaranya Remy Silado dan Lan Fang, menulis cerita yang berlatarkan kawasan ini. Pada masa kolonial Belanda, di jalan ini banyak berdiri klub hiburan ala Jepang yang menyediakan para geisha. Oleh karenanya ruas jalan ini dinamai Kembang Jepun (maksudnya : tempat “kembang-kembang” Jepang mangkal). Pada tahun 2003, atas ide Dahlan Iskan, Kya-Kya Kembang Jepun (artinya : jalan-jalan di Kembang Jepun) diresmikan sebagai tempat wisata kuliner di Surabaya.

Jalan-jalan menikmati bangunan bersejarah di Surabaya, kini tak kalah menariknya dengan kota-kota lainnya di Nusantara. Malah jika mau dibandingkan dengan kota-kota heritage di Malaysia — seperti Penang atau Malaka, Surabaya lebih kaya warisan dan budaya. Untuk berkeliling kota Surabaya, hingga saat ini baru ada satu bus wisata yang disediakan oleh House of Sampoerna. Bus ini melayani rute di sekitar Surabaya Utara hingga ke Balai Kota. “Surabaya Heritage Track” begitu layanan tersebut dinamakan, memiliki tiga jadwal pemberangkatan, yakni pada pukul 09.00-10.00, 13.00-14.00, dan 15.00-16.00. Di tempat-tempat yang dikunjungi, bus akan berhenti selama 10 sampai 15 menit (selengkapnya lihat Laman “House of Sampoerna”).

Bus “Surabaya Heritage Track” di House of Sampoerna

Rencananya pada pertengahan tahun ini pemerintah akan menyediakan bus city tour yang akan melintasi tempat-tempat penting di Surabaya. Selain city sightseeing bus, yang perlu pula disediakan ialah papan penunjuk arah ke tempat-tempat bersejarah. Serta peta wisata di beberapa titik keramaian, seperti di dekat Tunjungan Plaza, kawasan Jembatan Merah, dan Bandara Juanda. Pengalaman penulis ketika berkunjung ke Surabaya, peta wisata hanya bisa didapat di Surabaya Tourism Centre yang berada di Balai Pemuda. Ke depan kita berharap semoga pemerintah mau berbenah lagi, sehingga Surabaya bisa menjadi salah satu World Heritage City yang banyak dikunjungi para pelancong.

 
Lihat pula :
1. Melancong ke Kota Tua Jakarta
2. Pariwisata Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s