Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Rumah mewah keluarga Alkaff di Singapura

Kaum Arab-Hadhrami merupakan salah satu kelompok etnis yang cukup berpengaruh di Nusantara. Mereka diperkirakan telah tiba di negeri ini dalam kelompok-kelompok kecil sejak abad ke-13. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berhijrahnya mereka dari Hadhramaut ke Nusantara. Antara lain ialah adanya kesempatan berdagang serta peluang menjadi kadi dan guru agama di kesultanan-kesultanan Melayu. Disamping itu kondisi politik Yaman yang sering mengalami instabilitas, juga menjadi pendorong perginya mereka ke seberang lautan. Yang menarik, meski jumlah kaum Hadhrami di Nusantara relatif kecil, namun mereka telah banyak melahirkan para cendekiawan, negarawan, dan pebisnis yang tergolong sukses.

Dibanding golongan “Timur Asing” lainnya, pada masa kolonial kaum Arab-Hadhrami adalah kelompok yang paling cepat membaur dengan para penduduk lokal. Bukan hanya karena mereka beragama Islam — agama yang dianut oleh mayoritas “pribumi”, namun juga karena mereka menolak menjadi kaki tangan kaum kolonial. Meski adapula satu-dua yang bekerja untuk Belanda, tetapi kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang yang anti terhadap kekuasaan Hindia-Belanda. Pada masa revolusi fisik, banyak diantara mereka yang ikut berjuang mengusir penjajahan Belanda di Indonesia.

Tak hanya di Indonesia, di Malaysia-pun mereka ikut mempelopori perjuangan anti-kolonial Inggris. Syed Hamid Albar dalam pengantarnya di buku “The Hadhrami Diaspora in Southeast Asia : Identity Maintenance or Assimilation?” mengatakan bahwa tokoh-tokoh Hadhrami seperti Syed Sheikh Alhadi, Syed Nasir, dan Syed Ja’far Albar merupakan para pejuang yang menolak kolonialisme Inggris di Malaya. Bersama tokoh-tokoh Arab lainnya, mereka bergabung ke dalam UMNO, partai kaum Melayu terbesar di Malaysia. Tak hanya keyakinan dan sikap politiknya saja yang sejalan, orang-orang Arab-Hadhrami juga mengenakan pakaian, berbicara, dan makan makanan seperti layaknya masyarakat Melayu. Oleh karenanya di Malaysia, mereka ikut digolongkan ke dalam kelompok Bumiputera, suatu privelese yang tak diperoleh oleh kaum China dan India.

 
Di Singapura

Sebelum lebih jauh menengok peran mereka di Indonesia dan Malaysia, ada baiknya kita menoleh dulu ke Singapura. Di negeri kota itu banyak orang-orang Hadhrami yang justru berhubungan baik dengan kaum kolonial. Oleh karenanya banyak diantara mereka yang kemudian menjadi saudagar kaya raya. Sejak kedatangan Raffles di tahun 1819, Singapura menjadi pelabuhan dagang yang amat ramai. Ketika itu, banyak keluarga Arab-Hadhrami yang bermigrasi ke kota ini untuk mencari peruntungan yang lebih baik. Kebanyakan mereka datang dari bagian lain Nusantara, seperti dari Sumatera, Malaya, ataupun Jawa. Di tahun 1819 terdapat dua orang saudagar asal Palembang yang membangun bisnisnya di Singapura. Mereka adalah Syed Mohammed bin Harun Aljunied serta keponakannya Syed Omar bin Ali Aljunied. Menurut Zahra Aljunied, penyebab berhijrahnya mereka ke Singapura dikarenakan adanya pembatasan ruang gerak oleh pemerintah Hindia-Belanda. Disamping itu ajakan Raffles yang menggiurkan, yakni berupa kemudahan berinvestasi, juga menjadi alasan berpindahnya mereka ke kota itu.

Sekolah Arab di Singapura, Madrasah Alsagoff (kiri) dan Madrasah Aljunied (kanan)

Sekolah Arab di Singapura, Madrasah Alsagoff (kiri) dan Madrasah Aljunied (kanan)

Tak hanya keluarga Aljunied, menurut David Warburton ada 600 saudagar Arab dari Hindia-Belanda yang kemudian memindahkan bisnisnya ke kota ini. Pada tahun 1846, tercatat ada lima perusahaan dagang milik kaum Arab di Singapura yang cukup besar. Selain keluarga Aljunied, fam Alsagoff, Alkaff, Alattas, Alhabshi, dan Almunawar, juga merupakan keluarga-keluarga peniaga yang cukup sukses. Kebanyakan dari mereka menjadi peniaga rempah-rempah, transportasi, dan real estat. Bidang konstruksi dan properti merupakan spesialisasi pengusaha Arab di Singapura. Mereka mempunyai properti yang cukup banyak dan tergolong megah. Ameen Ali Talib menyebut, di awal abad ke-20 banyak orang Arab yang tinggal di rumah-rumah mewah. Di dalam pekarangan mereka terdapat danau kecil, dimana disana ada semacam perahu untuk menjamu tamu-tamu mereka. Selain mempunyai rumah lux, mereka juga memiliki tanah cukup luas. Yasser Mattar mencatat, sebelum Perang Dunia Kedua separuh dari land area di Singapura dikuasai oleh para saudagar Hadhrami. Di masa kolonial mereka merupakan sedikit dari pengusaha – disamping orang-orang Yahudi, yang berani membeli tanah pada harga mahal dan membangunnya untuk dijual kembali.

Sukses di wirausaha, tak sedikit dari mereka yang kemudian terketuk hatinya untuk berfilantropis. Tanah mereka yang luas itu, banyak akhirnya yang diwakafkan untuk kegiatan dan kepentingan umum. Salah seorang dermawan yang masih dikenang hingga hari ini adalah Syed Mohamed Alsagoff. Dia telah menghibahkan sebidang tanahnya untuk dibangun mesjid, panti asuhan, dan sekolah Islam. Di Victoria Street, Syed Omar bin Ali Aljunied juga memberikan sebagian besar tanahnya untuk pemakaman umat muslim. Dia juga membangun mesjid di Bencoolen Street dan Kampung Melaka, serta berperan besar dalam pendirian Rumah Sakit Tan Tock Seng. Pada tahun 1927, cucu Syed Omar, Syed Abdul Rahman Aljunied mendirikan madrasah Aljunied Al-Islamiah di Jalan Victoria. Sekolah ini kemudian banyak melahirkan pemimpin-pemimpin agama di Nusantara.

Di kalangan masyarakat luas, pedagang Arab dikenal cukup lihai dan cepat beradaptasi. Untuk meningkatkan posisi tawar mereka, banyak diantaranya yang menikah dengan anggota keluarga sultan Melayu. Tak hanya itu mereka juga berhubungan rapat dengan para penguasa British. Di tahun 1940, tercatat hanya 2.500 orang Arab yang bermukim di Singapura (1% dari populasi kota). Meski berjumlah sedikit, namun mereka merupakan kelompok yang paling makmur diantara kelompok masyarakat lainnya. Tak hanya itu, mereka juga mempunyai pengaruh dan jaringan yang cukup luas. Menurut Rajabali Jumabhoy, pengusaha muslim India yang cukup dekat dengan mereka berkata, bahwa para saudagar Arab memiliki kedekatan dengan para penguasa, seperti Gubernur Negeri-negeri Selat (Straits Settlements), Komisioner Tinggi Malaya, dan Komandan Tentara di Malaya. Mereka juga intens menjalin persekutuan dagang dengan pengusaha Arab di seberang lautan, dan setiap tahunnya mengunjungi Arabia untuk bersilaturahmi.

Terkait dengan kemakmuran kaum Hadhrami di Singapura, Henri Onraet, seorang Plt. Direktur Biro Intelijen Politik Inggris di Singapura menyebutkan, bahwa pemerintah Inggris sengaja menarik para pengusaha Arab untuk berinvestasi di Singapura agar mereka tak menentang kedudukan Inggris di Negeri-negeri Selat. Sebab dinasti Saud yang cukup berpengaruh dikalangan masyarakat Arab, merupakan pihak yang menentang kolonialisme Inggris di Timur Jauh. Pendapat lainnya datang dari sejarawan Edwin Lee yang mengatakan bahwa kolonial Inggris akan merasa aman dengan adanya kepentingan peniaga Arab di Singapura. Sebab gerakan Pan-Islamisme yang banyak dipelopori oleh para ulama dan politisi Arab, sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman bagi kedudukan Inggris di Asia Tenggara. Dengan adanya kepentingan Arab di Singapura, maka setidaknya akan mengurangi resistensi mereka terhadap kekuasaan British. Hal ini tak jauh beda dengan keadaan di masa kini, dimana pemerintahan Amerika Serikat terus “memakai” para pengusaha Tionghoa untuk membendung pengaruh komunisme di Asia Tenggara.

 
Di Malaysia

Syed Hamid dan Syed Ja'far Albar (sumber : http://syedhamidalbar44.blogspot.com)

Syed Hamid dan Syed Ja’far Albar (sumber : http://syedhamidalbar44.blogspot.com)

Jika di Singapura kita melihat kesuksesan saudagar Arab berwirausaha, maka di Semenanjung Melayu kita akan menengok kiprah mereka di lingkungan kerajaan. Entah sejak kapan orang-orang Arab-Hadhrami menginjakkan kakinya di Malaya. Namun banyak catatan menyebut, sebagian dari mereka merupakan anggota kelompok masyarakat yang sebelumnya telah bermastautin di kesultanan-kesultanan Sumatera. Salah satunya ialah Tun Habib Abdul Madjid yang kemudian menjadi bendahara Johor. “Darah Arab”-nya sebenarnya tak seberapa. Namun ketika ia memerintah, banyak sejarawan yang memelintir bahwa Kesultanan Johor berada di bawah kekuasaan orang Arab. Salah satu buku yang cukup sensasional ialah “Ahlul Bait (Keluarga) Rasulullah SAW dan Raja-raja Melayu” karangan Muzaffar Dato’ Haji Mohamad dan ‎Tun Suzana Tun Haji Othman. Dalam buku itu mereka menulis bahwa banyak dari sultan-sultan Melayu yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, dan salah satunya adalah Tun Habib Abdul Madjid. Entah benar entah tidak, validitasnya masih harus terus dibuktikan.

Karena Tun Habib Abdul Madjid terlanjur diasosiasikan sebagai orang Arab, maka marilah kita membaca sedikit silsilah beliau. Ia dilahirkan pada tahun 1637 dan wafat di tahun 1697. Ibunya Tun Kaishi adalah seorang Melayu cucu Tun Sri Lanang bangsawan Johor. Sedangkan ayahnya, Zainal Abidin merupakan percampuran Arab-Hadhrami dan Aceh. Kakeknya yang Arab itu bernama Sayid Abdullah Alaidrus. Ia datang dari Yaman dan kemudian menetap di Kesultanan Aceh Darussalam. Karena kedudukannya yang cukup baik, di Aceh ia menikahi putri Sultan Alauddin Mansyur Shah. Dari garis keturunannya itu kita bisa melihat bahwa sebenarnya Abdul Madjid adalah separuh berdarah Melayu dan separuh lainnya campuran Arab-Aceh.

Tun Habib Abdul Madjid diangkat menjadi bendahara kerajaan pada tahun 1677 oleh sultan Johor ketika itu, Abdul Jalil Shah III. Abdul Madjid adalah sosok yang cakap sekaligus ambisius. Setelah dilantik menjadi bendahara, ia berusaha membayang-bayangi kekuasaan sultan. Ia bersaing dengan Laksamana Tun Abdul Jamil yang juga merupakan orang kuat di Kesultanan Johor. Nasib baik berpihak kepadanya. Setelah Tun Abdul Jamil mangkat, ia dengan mudah mempengaruhi Sultan Mahmud Shah II, seorang raja yang masih belia dan tak terlalu pandai. Praktis hampir sepanjang periode kekuasaan Mahmud Shah II (1688-1697), Abdul Madjid-lah yang mengendalikan kerajaan. Dialah yang membuat perjanjian dagang dengan Belanda dan memindahkan ibu kota Johor ke Kota Tinggi.

Putranya yang tak kalah kesohor : Abdul Jalil, berhasil menaiki tahta Johor pasca wafatnya Sultan Mahmud Shah II. Naiknya Abdul Jalil, ternyata tak disenangi oleh masyarakat Suku Laut. Alasannya ia bukanlah berasal dari zuriat sultan-sultan terdahulu, yang merupakan pewaris kuasa Raja Iskandar Zulkarnain. Karena isu tersebut dan persaingan antar kepentingan, Raja Kecil yang disokong oleh Kerajaan Pagaruyung dan Orang Laut, mengambil alih tahta Johor dari tangan beliau (Lihat : Persaingan di Selat Malaka (1641-1824)). Setelah terjadi huru hara yang berkepanjangan, Raja Kecil akhirnya dikudeta oleh Sulaiman Badrul Alam Shah, putra Abdul Jalil. Atas bantuan pasukan Bugis, hingga tahun 1877 Kesultanan Johor dipimpin oleh “Dinasti Bendahara”, yang tak lain merupakan anak keturunan Sayid Abdullah Alaidrus.

Syed Hussein Alatas diangkat oleh para sejawatnya di Partai Gerakan Rakyat Malaysia (sumber : en.wikipedia.org)

Syed Hussein Alatas diangkat oleh para sejawatnya di Partai Gerakan Rakyat Malaysia (sumber : en.wikipedia.org)

Setelah kemerdekaan Malaysia di tahun 1957, banyak pula keturunan Hadhrami yang memainkan peranannya di perpolitikan negara. Syed Hussein Alatas adalah salah seorang tokoh Hadhrami yang giat berpolitik. Bersama Tan Chee Khoon, Lim Chong Eu, J.B.A. Peter, dan V. Veerappan, ia mendirikan Partai Gerakan Rakyat Malaysia. Dalam partai itu ia terpilih sebagai ketua yang pertama (1968-1969). Dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, pada tahun 1928, Hussein merupakan cucu Syed Abdullah bin Muhsin Alatas. Syed Hussein merupakan seorang pendukung kebijakan multirasialis di Malaysia. Dia juga keras menentang korupsi yang disinyalir banyak terjadi di dalam pemerintahan Malaysia. Karena kegetolannya dalam menentang korupsi, ia kemudian menulis beberapa buku mengenai praktek kejahatan tersebut. Diantaranya “The Problem of Corruption” (1986) dan “Corruption and the Destiny of Asia” (1999).

Jika Syed Hussein Alatas mendorong kesetaraan politik antara “kaum pribumi” dan pendatang, maka Syed Ja’far Albar justru sebaliknya. Pada dekade 1950, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal memperjuangkan keistimewaan kaum Bumiputera. Karena garis politiknya itu, ia memilih bergabung dengan Partai UMNO. Sebelum pembentukan Federasi Malaysia, ia kerap berdebat dengan Lee Kuan Yew mengenai masalah Ketuanan Melayu. Salah satu pernyataannya yang cukup kontroversial ialah tentang posisi orang China di Malaysia yang dianggapnya sebagai “orang tumpangan”. Atas ucapannya itu ia dicap ultra-nasionalis oleh lawan-lawan politiknya. Meski Ja’far bukanlah orang Melayu tulen dan tak lahir di Malaysia, namun kegigihannya membela hak-hak politik kaum Melayu telah mengantarkannya sebagai sekretaris jenderal Partai UMNO. Dalam kerusuhan Singapura 1964, ia disebut-sebut telah mengagitasi massa yang menyebabkan terjadinya konflik antar etnis. Di tahun 1965, Ja’far memboikot sidang parlemen yang mengeluarkan Singapura dari Malaysia. Akibat tindakannya itu, ia dipecat dari kedudukannya sebagai sekretaris jenderal UMNO.

Mengikuti jejak Ja’far, putranya Syed Hamid Albar juga terjun ke gelanggang politik. Hamid yang lahir di Pulau Pinang pada tahun 1944, memulai karir politiknya tahun 1971 sebagai anggota UMNO Kuala Lumpur. Di tahun 1986 ia diminta untuk ikut bertanding dalam Pemilihan Umum Parlemen Malaysia. Namun entah mengapa, namanya tiba-tiba dicoret dalam daftar calon legislatif dari UMNO. Empat tahun kemudian berkat dorongan Mahathir Mohammad, ia kembali ikut dalam pemilihan umum tersebut. Setelah mengalahkan Ma’on Omar, ia terpilih sebagai anggota parlemen dengan raihan suara mencapai 79%. Beruntung baginya, tak lama setelah itu Perdana Menteri Mahathir memintanya duduk di dalam kabinet. Sehingga sejak saat itu hingga 19 tahun berikutnya, Hamid duduk sebagai anggota kabinet. Bermula sebagai Menteri Hukum (1990-1995), Menteri Pertahanan (1995-1999), Menteri Luar Negeri (1999-2008), dan berakhir sebagai Menteri Dalam Negeri (2008-2009).

Selain terjun di dunia politik, banyak pula keturunan Hadhrami yang menggeluti dunia perdagangan. Pada abad ke-19, di Pulau Pinang pernah ada seorang pengusaha Hadhrami-Aceh yang cukup fenomenal, namanya Syed Hussein Aidid. Ia merupakan cucu dari sultan Aceh : Jamalul Alam Badrul Munir. Dari berdagang lada, damar, emas, dan opium, ia kemudian menjadi salah seorang yang cukup berpengaruh di Pulau Pinang. Pada tahun 1815 ia diminta oleh Panglima Sagi untuk menggulingkan Alauddin Jauharul Alam Syah. Setelah berhasil mengkudeta, ia menunjuk putranya Sayid Abdullah yang bergelar Syarif Saiful Alam Syah untuk duduk di tahta Aceh. Namun kedudukannya sebagai sultan Aceh tak didukung penuh oleh pemerintahan Inggris. Empat tahun kemudian giliran Alauddin Jauharul Alam Syah mengkudeta putranya. Mengalami kekalahan di Kutaraja, ia kemudian pulang ke Pulau Pinang. Setelah wafat, ahli warisnya mensedekahkan sebagian dari hartanya untuk sekolah-sekolah Islam dan kegiatan dakwah. Menurut laporan Henry Stanley, konon Free School di Penang dan Raffles Institution di Singapura juga dibiayai dari kekayaan miliknya. Selain Syed Hussein, di Pulau Pinang ada pula pengusaha Arab-Hadhrami yang dikenal sebagai baron media. Dia adalah Sayid Alawi bin Umar Albar dan Sayid Syekh bin Ahmad Alhadi. Namun reputasi mereka sebagai pengusaha media tak bertahan lama. Memasuki zaman kemerdekaan, kedudukan mereka segera digantikan oleh orang-orang “Melayu”, terutama para saudagar dari Minangkabau.

Syed Mokhtar Al-Bukhary dan bisnisnya (sumber : www.beritasemasa.com.my)

Syed Mokhtar Al-Bukhary dan bisnisnya (sumber : http://www.beritasemasa.com.my)

Kini salah seorang diantara pengusaha Hadhrami yang cukup sukses di Malaysia adalah Syed Mokhtar Al-Bukhary. Mokhtar memulai bisnisnya sebagai pedagang beras pada tahun 1990. Setelah sukses di bisnis itu, ia kemudian terjun ke usaha logistik dan transportasi. Saat ini bisnisnya telah merentang ke berbagai lini, dari properti, konstruksi, perkebunan, infrastruktur, hingga ke pelabuhan. Berdasarkan catatan Forbes, kekayaan Mokhtar di tahun 2014 mencapai USD 2,9 milyar. Angka ini telah menempatkannya sebagai orang terkaya ke-8 di Malaysia. Salah satu penyebab kesuksesan Mokhtar berniaga adalah karena kedekatannya dengan politisi UMNO. Malah ada yang menyebut, ia sebenarnya merupakan perpanjangan tangan dari bisnis para politisi tersebut.

Meski jumlah kaum Arab-Hadhrami di Malaysia tak begitu banyak, namun diantara mereka kerap kali terjadi “permusuhan”. Latar belakang perpecahan itu bukanlah disebabkan oleh masalah politik ataupun ekonomi, namun mengenai kesetaraan posisi diantara mereka. Orang-orang Hadhrami yang bergelar sayid, sering kali mendiskreditkan mereka yang bukan dari golongan sayid. Golongan sayid berpendapat bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW yang kedudukannya lebih tinggi dari mereka yang bukan keturunannya. Oleh karena itu banyak diantara keluarga sayid yang melarang anak-anaknya untuk menikah dengan golongan non-sayid. Zanariah Noor dan Nazirah Lee dalam bukunya “The Conflict among Hadrami Arab Community in Malaysia Regarding the Issues of Kafa’a in Muslim Marriage”, cukup apik mengulas konflik tersebut. Konflik ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Malaysia saja, namun juga terjadi di berbagai daerah rantau masyarakat Hadhrami. Di Indonesia, yang akan kita bahas pada laman selanjutnya, pertentangan tersebut juga berlangsung sengit. Salah seorang ulama kharismatik asal Sudan, Syekh Ahmad Surkati, bahkan sampai dibenci dan dikucilkan oleh golongan sayid, gara-gara ia berfatwa bahwa golongan sayid boleh menikahi keturunan non-sayid. Karena perbedaan itulah, di Jakarta kita bisa melihat dua kutub pendidikan para keturunan Arab-Hadhrami. Yakni Al Irsyad yang didirikan oleh orang-orang berpaham kesetaraan dan Jamiat Kheir yang dikelola oleh para ulama sayid.

 
Bersambung : Kiprah Kaum Arab-Hadhrami di Nusantara (2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s