Masih Adakah Ketenteraman di Bali ?

Posted: Agustus 21, 2015 in Wisata
Tag:, , , , , , ,
Pura Besakih

Pura Besakih

Bali adalah sepotong tanah dari “surga”, tempat dimana Anda bisa sejenak melupakan rutinitas sehari-hari. Cobalah datang ke pulau ini diluar peak season, Anda akan mendapatkan Bali yang sebenarnya. Budayanya, masyarakatnya, dan pemandangannya yang indah, merupakan daya tarik pulau yang dihuni oleh mayoritas umat Hindu itu. Mungkin karena ajaran Hindu-lah, Bali selalu tenteram dan damai. Tak ada ribut-ribut, kecuali beberapa insiden yang dibuat oleh pihak luar.

Dalam film “Eat, Pray, Love” yang diperankan Julia Robert, dilukiskan bagaimana Elizabeth Gilbert yang telah bercerai dengan suaminya, melakukan perjalanan ke Italia, terus ke India, dan akhirnya mencari ketenteraman disini. Di Bali, Elizabeth bertemu dengan Ketut Liyer, seorang ahli spiritual yang membimbingnya menemukan cinta sejati. Bukan di film ini saja Bali menjadi tempat seseorang mencari ketenteraman. Jauh sebelum itu, pelukis Jerman Walter Spies dan Rudolf Bonnet dari Belanda, sudah melakukannya. Karena merasa tenteram, mereka memilih untuk terus menetap di pulau ini. Bahkan Bonnet, bersama Cokorda Gede Agung Sukawati dan I Gusti Nyoman Lempad, mendirikan Museum Puri Lukisan di Ubud. Pada tahun 1978, Bonnet wafat di Laren, Belanda. Karena kecintaannya terhadap Bali, jenazahnya kemudian dibawa ke pulau ini dan dikremasi dengan upacara ngaben yang megah.

Selain dua pelukis itu, ada pula bidan yang merasa nyaman tinggal di Bali dan mendermakan jiwa raganya untuk masyarakat setempat. Dia adalah Robin Lim, wanita blasteran Filipino-Amerika yang telah mendedikasikan dirinya disini lebih dari 20 tahun. Di Bali ia mendirikan Klinik Bumi Sehat, yang membantu orang-orang kurang mampu dalam proses persalinan. Atas kemurahan hatinya, pada tahun 2011 ia dianugerahi “CNN Heroes of the Year” oleh jaringan televisi berita CNN. Satu lagi orang asing yang mencari ketenteraman di Bali adalah Karen Waddell. Kecintaannya terhadap pulau dewata bermula ketika ia menjadi turis backpacker di tahun 1985. Cintanya makin menjadi-jadi setelah ia kepincut dengan seorang pria Bali bernama Gusky. Sesudah menikah di San Fransisco, pada tahun 1997 ia memutuskan untuk tinggal di Bali. Disini ia kemudian mendirikan sebuah kafe, yang dinamainya Kafe Batan Waru. Setelah 18 tahun bermukim di pulau dewata, kini Karen sudah memiliki lima buah restoran, satu perusahaan katering, peternakan dan penginapan.

 
* * *

Robin Lim diwawancarai ketika menerima “CNN Heroes of the Year” (sumber : http://www.bumisehatfoundation.org)

Bali memang telah menyihir banyak orang. Kisah-kisah mengenai ketenteraman dan kedamaian pulau ini, telah dicatat oleh para penulis dari seluruh dunia. Para bloger yang sering berkunjung ke Bali-pun, juga rajin mempromosikan kehidupan masyarakat di pulau seluas 5.780 km2 itu. Cerita mereka sering menjadi rujukan para pelancong yang hendak berkunjung ke tempat ini. Seperti yang ditulis oleh Jenne dalam blog pribadinya : http://sweetpotatosoul.com. Dalam catatannya, Jenne melukiskan Bali sebagai tempat yang menyenangkan. Semuanya berjalan ajeg : antara yang tua dan yang baru, antara Barat dan Timur, antara tradisional dan modern. Berikut gambaran Jenne mengenai Bali : “Bali is unlike any place I’ve ever been. As I sit on my bungalow’s patio in Ubud I’m struck by the strange juxtaposition that is Bali. It’s a place where new and old, ancient and modern coexist. Pop music thumps loudly from bar on Monkey Forest Road, and behind it I hear traditional Balinese ceremonial music; there is a dance performance taking place.

Berbeda dengan tulisan Jenne, “Bali : Tourisme culturel et culture touristique” karya Michael Picard menceritakan bagaimana awal mula para petualang asing mengeksplorasi keindahan pulau ini. Pelukis W.O.J. Nieuwenkamp adalah salah seorang perintis yang mempromosikan Bali ke dunia luar. Di awal abad ke-20, ia telah menerbitkan buku untuk masyarakat umum yang menceritakan Bali lengkap dengan gambar ilustrasinya. Dialah orang yang pertama kali menarik perhatian masyarakat Eropa untuk mengunjungi pulau yang baru bergabung dengan Hindia-Belanda itu. Setelah Nieuwenkamp, seorang dokter asal Jerman : Gregor Krause, juga merilis buku yang berisi hampir 400 foto mengenai kehidupan masyarakat Bali. Foto-foto itu banyak menampilkan para wanita yang sedang menumbuk padi atau menjunjung bakul dengan buah dadanya yang menjuntai. Tak ayal buku yang diterbitkan pada tahun 1920 itu, menjadi bahan lukisan dan buah bibir fotografer profesional. Tak berlebihan jika ketika itu eksotisme wanita Bali telah menjadi salah satu daya tarik para seniman untuk datang ke pulau ini.

Karya Gregor Krause : Bali 1912

Karya Gregor Krause : Bali 1912

Disamping kemolekan perempuannya, Krause juga tercekat oleh meriahnya upacara keagamaan yang diselenggarakan masyarakat Bali. “Untuk bangsa yang berbahagia ini, hidup di dunia seperti nampak sebagai sebuah pesta yang tak ada habis-habisnya, kegembiraan yang meluap-luap atas kebahagiaan hidup, serta syukur dan takwa pada para dewata.” Demikian ulasan Krause tentang kebahagiaan masyarakat Bali. Melihat ulasannya, tak heran kalau kemudian ia menyesali mengapa tak dilahirkan di pulau yang seperti “surga” itu. Kita tahu di zaman itu orang-orang Eropa sedang bergolak. Krisis ekonomi menyekik sebagian besar rakyatnya. Oleh karena itu, mereka sangat mendambakan sebuah kehidupan yang damai seperti layaknya orang-orang Bali.

Anugerah pulau terindah dengan kebudayaan adiluhung, ternyata juga mengundang Cameron Forbes untuk menuliskan sebuah buku. Judulnya “Under the Volcano: The Story of Bali”. Buku ini juga mencatat peri-kehidupan masyarakat Bali secara rinci. Dalam bab 8 misalnya, ia menceritakan tentang film dokumenter : “Morning of The Earth”. Film itu disebut-sebut telah menarik minat para pelancong untuk datang ke pulau dewata. Salah satu turis yang terpikat adalah Steve Palmer, seorang pemuda berusia 20 tahun yang datang ke Kuta untuk berselancar. Tak hanya Palmer yang asli Australia, orang-orang dari Perancis, Inggris, dan Amerika-pun juga datang kesini untuk berselancar. Seiring berjalannya waktu, Kuta — dan kemudian Legian — berkembang menjadi koloni para surfer, yang akhirnya mengubah sebagian wajah Bali yang tenteram menjadi bising.

 
* * *

Kebisingan di Bali bermula dari gaya hidup orang-orang Barat yang suka kehidupan malam. Mereka secara tak langsung telah mendorong para investor asing untuk berlomba-lomba menanamkan modalnya disini. Ya, modal-modal itu datang untuk pendirian aneka diskotik dan klub-klub malam. Semula, hal ini cukup meresahkan masyarakat yang masih menjunjung tinggi kultur-religi Hindu. Mereka yang mati-matian menjaga ketenteraman, tak mau kalau akhirnya kehidupan di pulau ini rusak karena ulah segelintir turis. Namun suara yang menentang itu hanyalah suara minoritas, yang kalah dari sebagian besar masyarakatnya yang bersikap permisif. Karena tak ada larangan tegas mengenai kehidupan malam yang ganjil, akhirnya klub-klub malam, bar, dan diskotik, berkembang biak bak cendawan di musim hujan. Jika Anda melintasi Jalan Legian, Jalan Pantai Kuta, hingga ke Jalan Padma, Anda akan menemukan belasan bar dan diskotik ternama, seperti KuDeTa, Paddy’s Club, Bounty, Sky Garden, Double Six, Musro, dan Hard Rock Cafe. Dari tempat-tempat itu Anda bisa mendengar hentakan musik, melihat tarian striptis dan pria-wanita yang bergelinjang.

Hard Rock Cafe

Hard Rock Cafe

Akhir-akhir ini kawasan Kuta dan Legian agak terasa sesak. Orang-orang yang mendambakan suasana damai dan tenteram, jadi malas berkunjung ke tempat ini. Kondisi yang tak mengenakkan itu ternyata tak hanya dirasakan oleh para pengunjung dalam negeri, wisatawan dari mancanegara-pun melihat Kuta dan Legian sebagai tempat yang bising (loud), hingar bingar (frenetic), dan sedikit kurang ajar (brash). Setidaknya itulah yang dicatat oleh situs perjalanan ternama : “Lonely Planet”.

Tak hanya berisik, Bali kini juga dikenal sebagai tempat beredarnya narkoba kelas wahid. Kita tentu masih ingat kasus “Bali Nine”, dimana sembilan warga Australia ditangkap karena hendak menyelundupkan 8,2 kilogram heroin keluar Bali. Mungkin sebagian dari Anda akan bertanya-bertanya : Kenapa bisa dari Bali? Mengapa ada heroin sebanyak itu disana? Apakah ada pabrik narkoba di pulau itu? Melihat maraknya peredaran narkoba di Bali, nampaknya banyak pejabat dan tetua adat yang tak merasa risau. Indikasinya tak ada kasak kusuk serta upaya pencegahan sistematis yang mereka lakukan. Bahkan beberapa bulan lalu ketika “duo Bali Nine” hendak dieksekusi, dukungan moral terhadap pemerintah justru datang dari luar Bali. Masyarakat Bali sendiri sepertinya adem ayem saja. Padahal jika kita merujuk data Badan Narkotika Nasional, tingkat peredaran narkoba di propinsi ini terbilang tinggi. Bahkan beberapa media menyebut : Bali darurat narkoba.

Bukan hanya narkoba yang mengkhawatirkan, seks bebas-pun berceceran dimana-mana. Kawasan Kuta, Legian, dan Seminyak, tak perlu diragukan. Disana sebagian besar hotel yang mempunyai klub-klub malam juga menyediakan wanita panggilan. Yang jadi pelacur memang bukan gadis Bali, melainkan para perempuan jalang yang datang dari Pantura dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Tetapi apakah karena bukan gadis Bali, terus boleh dibiarkan? Bali memang belum separah Bangkok yang mempunyai beberapa red district dan tema untuk aneka bisnis seks. Namun kalau terus dipediarkan, boleh jadi pulau ini akan menjadi tempat wisata seks yang paling diminati. Kalau ini yang terjadi, maka cepat atau lambat ketenteraman di pulau ini akan sirna.

Ketenteraman di Tampak Siring

Ketenteraman di Tampak Siring


 
sumber gambar : balispectacular.com
 
Lihat pula :
1. Wisata Belanja di Jakarta
2. Melancong ke Kota Tua Jakarta
3. Berwisata ke Ranah Minang
4. Jakarta-Bandung pp
5. Banyak Libur di Bali
6. Pariwisata Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s