Bogor : Dari Ibu Kota Kerajaan ke Penyangga Ibu Kota

Posted: 14 November 2021 in Sejarah
Tag:, , , , ,

Istana Bogor

Tak banyak orang yang tahu riwayat kota Bogor. Pun di kalangan anak-anak muda Sunda sekarang ini. Kota yang terletak di selatan Jakarta itu, ternyata dulu pernah menjadi ibu kota kerajaan. Menurut catatan sejarah, Bogor yang di masa lalu dikenal dengan nama Pakuan, merupakan pusat Kerajaan Pajajaran. Sunda Kelapa yang menjadi cikal bakal Jakarta sekarang ini, justru dahulu merupakan pelabuhan Kerajaan Pajajaran. Kalau kita melihat peta, maka terdapat garis imajiner yang tegak lurus antara Sunda Kelapa dan Pakuan. Sebelum ada jalan pos, sarana transportasi antara Sunda Kelapa dan Pakuan hanya melalui Sungai Ciliwung. Menggunakan rakit sederhana, ratusan orang dari Pakuan ulang alik ke pelabuhan untuk mengekspor hasil bumi Priangan. Melihat kondisi Bogor dewasa ini — dengan segala hiruk pikuk dan kesemrawutannya, tak terbayangkan kalau kota ini dulunya amatlah penting.

Sebelum Prabu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi memindahkan ibu kota kerajaan di tahun 1482, pusat Sunda-Pajajaran berada di Kawali, Ciamis. Jauh sebelum masa Kerajaan Pajajaran, sebenarnya disekitar Bogor sudah berdiri ibu kota Kerajaan Sunda lama yang merupakan pecahan dari Tarumanegara. Terkait dengan pembangunan ibu kota baru di Pakuan, dalam Prasasti Batu Tulis dinyatakan bahwa Sri Baduga membangun parit pertahanan dan menata ibu kota lengkap dengan hutan larangan atau samida. Hutan larangan ini sekarang menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor.

Di selatan kebun raya, tepatnya di kawasan Batu Tulis, dulu berdiri kompleks Istana Sunda Pajajaran. Diperkirakan ada lima bangunan keraton disana yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Tome Pires, penjelajah Portugis yang mengunjungi Pakuan di awal abad ke-16 mengatakan, bahwa di istana itulah raja Sunda tinggal dan menerima kunjungan orang-orang Portugis. Tome Pires menulis bahwa ibu kota Sunda itu terletak diantara dua sungai besar, merujuk kepada Sungai Cisadane dan Ciliwung. Banyak rumah-rumah kayu yang dibangun dengan sangat indah. Menurutnya, dibutuhkan waktu selama dua hari dari Sunda Kelapa untuk sampai di Pakuan. Raja-raja Sunda senang tinggal di Pakuan karena kota itu memiliki penataan yang apik. Keindahan kota Pakuan, ternyata tak bertahan lama. Pada tahun 1579, kota ini hancur oleh serangan Sultan Maulana Yusuf. Sebagai bukti menaklukkan Pakuan, sultan Banten itu kemudian memboyong palangka sriman sriwacana yang merupakan tempat penobatan raja Sunda ke Keraton Surosowan di Banten.

Setelah hancur oleh serangan Banten, Pakuan lantas ditinggalkan begitu saja. Kalau saja Pieter Scipio van Oostende tak melakukan ekspedisi ke pedalaman, mungkin sejarah Pakuan tak pernah terungkap. Pada tahun 1687 Scipio menemukan kembali reruntuhan Pakuan yang ketika itu sudah berupa hutan belantara. Ia juga menemukan Prasasti Batu Tulis yang kemudian mengundang minat penjelajah Belanda untuk mengetahui lebih jauh bekas ibu kota Pajajaran itu. Pada tahun 1690, Adolf Winkler memimpin penjelajahan untuk memetakan lokasi bekas kota Pakuan. Winkler dan rombongannya kemudian tiba di lokasi bekas istana, dan menurut penuturan masyarakat Parung Angsana (Tanah Baru), wilayah yang dikunjungi Winkler itu merupakan sisa-sisa keraton Pakuan yang dihacurkan oleh Kesultanan Banten.

Memasuki pertengahan abad ke-18, Belanda mulai tertarik untuk membuka pemukiman disana. Hal ini dikarenakan iklim kota Bogor yang sejuk dan sesuai dengan orang-orang Eropa. Letnan Tanujiwa, seorang Sunda yang menjadi anggota tentara kompeni, diperintahkan untuk menjajaki kemungkinan membuka pemukiman di wilayah tersebut. Keseriusan kompeni menggarap Bogor sebagai pemukiman baru dimulai pada bulan Agustus 1744. Di masa itu, dimulailah pembangunan pesangrahan bertingkat dengan gaya neo klasik. Pesangrahan itulah yang kemudian menjadi awal mula Istana Bogor. Gubernur Jenderal pertama yang menempati tempat peristirahatan itu adalah Gustaaf Willem van Imhoff. Pada tahun 1746, nama Pakuan diganti menjadi Buitenzorg, yang berarti aman tentram. Orang Sunda sendiri menyebut kota ini dengan nama Bogor (dari kata bokor)karena banyaknya pohon enau yang tumbuh disini.

Seiring berjalannya waktu, Gubernur Jenderal lebih sering bertempat tinggal di Buitenzorg daripada di Batavia. Buitenzorg semakin berkembang ketika Gubernur Jenderal H.W. Daendels membangun jalan pos yang menghubungkannya dengan Batavia. Pada masa kekuasaan Inggris, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mulai memindahkan pusat administrasi dari Batavia ke Buitenzorg. Raffles juga menata Bogor sebagai tempat peristirahatan dengan mempekerjakan seorang perancang kota bernama Carsens. Ia juga merenovasi istana dan menjadikan halamannya sebagai taman bergaya Inggris klasik. Taman inilah yang kemudian menjadi awal dikembangkannya Kebun Raya Bogor seperti yang kita lihat sekarang ini.

Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menerima kunjungan Sunan Pakubuwono X di Paleis te Buitenzorg

Ketika kekuasaan kembali ke tangan Belanda, Buitenzorg perlahan menjadi pusat administrasi kolonial. Karena dinilai cocok untuk pengembangan pertanian, pemerintah kolonial-pun kemudian menjadikan halaman istana menjadi kebun botani. Usaha tersebut dilakukan oleh Gubernur Jenderal Gerard van der Capellen yang dibantu oleh seorang ahli pertanian, Reinwardt. Antara tahun 1817-1822, Reinwardt menjadi pengarah pengembangan kebun raya. Ia mengumpulkan berbagai macam jenis tanaman dari seluruh Nusantara. Diperkirakan ada sekitar 900 jenis tanaman yang tumbuh di kebun tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, kebun raya menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura. Untuk mendukung riset hortikultura, pemerintah kolonial kemudian membangun sekolah-sekolah agrikultur di kota ini.

Di akhir abad ke-19, Buitenzorg sudah menjelma menjadi kota paling berkembang, yang diatur dengan konsep Eropa. Lengkap dengan sekolah, museum, penjara, stasiun kereta api, pasar, gereja, dan tentu saja istana. Kalau kita amati, ada perbedaan corak antara Bogor dengan kota-kota lainnya di Pulau Jawa. Jika kebanyakan kota-kota kerajaan memiliki alun-alun dengan pusat pemerintahan dan masjid raya di sekitarnya, maka tidak dengan Bogor. Sebagai kota kolonial, Bogor tak hanya dibangun dengan pola jalan lurus dengan taman-taman besar di sudutnya, tetapi juga menerapkan tiga zonasi pemukiman berdasarkan kelompok etnis. Orang-orang Eropa tentu berada di kawasan yang menarik. Untuk mendukung populasi Eropa yang semakin meningkat, pemerintah membangun kawasan perumahan tak jauh dari stasiun. Kawasan ini kemudian dikenal dengan Kotaparis, karena situasinya yang mirip Paris. Di sebelah utara kebun raya, dibangun pula perumahan Sempur yang menjadi tempat bermukimnya para tentara kompeni. Kalau Anda berjalan-jalan ke kawasan ini, masih banyak dijumpai rumah-rumah peninggalan Belanda dengan arsitektur Eropa. Sebagian besar telah bersalin rupa menjadi kafe atau tempat penginapan. Sebagian lagi dibiarkan begitu saja kosong tak berpenghuni.  

Pada tahun 1905, Buitenzorg ditetapkan sebagai kota praja (gemeente), dan kemudian segala urusan administratif Gubernur Jenderal dapat dikatakan sudah sepenuhnya dijalankan di kota ini. Gubernur Jenderal dalam menerima kunjungan raja-raja Nusantara misalnya, lebih sering di Paleis te Buitenzorg (Istana Bogor) dibandingkan di Paleis te Koningsplein (Istana Gambir). Saat reformasi administrasi di tahun 1925, wilayah Hindia-Belanda dibagi menjadi beberapa propinsi. Propinsi pertama adalah Jawa Barat, yang terdiri dari lima karesidenan dan enam kota praja. Karesidenan Buitenzorg yang membawahi Bogor, Sukabumi, dan Cianjur berpusat di kota ini.

Pada tahun 1942, Jepang masuk dan menguasai Nusantara. Pemerintahan Dai Nippon tak lagi menjadikan Bogor sebagai pusat administrasinya. Yang memilukan adalah Istana Bogor dan kebun rayanya. Untuk mengelabui Sekutu, seluruh bagian luar dinding istana dicat dengan warna hitam. Serdadu Jepang juga mengeringkan kolam-kolam di sekitar istana dan membiarkan rumput kebun raya meninggi seperti ilalang. Tak hanya itu, rusa-rusa yang jumlahnya mencapai ratusan, sedikit demi sedikit mulai punah karena menjadi santapan mereka. Tentara Jepang juga menjadikan ruang bawah tanah istana sebagai sel tahanan orang Belanda yang mereka tangkap. Mereka juga mengambil berbagai benda seni dari Istana Bogor, seperti keris dan tombak pusaka yang merupakan upeti para raja kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda. Yang tak masuk akal, mereka juga mencabuti semua benda yang terbuat dari logam untuk dilebur menjadi persenjataan. Tiang-tiang lampu yang indah dari Eropa, besi cor yang dipakai sebagai pagar dan elemen artistik bangunan istana, semuanya dibongkar.

Di masa Indonesia merdeka, kedudukan Bogor tak lagi relevan. Meskipun begitu riwayat kota ini sebagai kota riset pertanian tetap berlanjut. Pada awal dekade 1950-an, pemerintah membuka Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan yang menjadi cikal bakal Institut Pertanian Bogor. Meski pada tahun 1960-an Soekarno acap kali menetap disini, namun secara administratif pusat pemerintahan Indonesia tetap berada di Jakarta. Sebagai informasi, presiden pertama RI itu juga memiliki tempat peristirahatan di Batu Tulis, dimana ia menetap disana hingga akhir hayatnya. Pada tahun 1960 hingga 1970-an, pembangunan kota hanya terpusat disekitar kawasan kebun raya. Jalan Pajajaran dari Babakan hingga Baranangsiang menjadi simpul utama tempat dimana para elit kota, pengusaha, dan beberapa guru besar bermukim. Lalu ada Jalan Suryakencana yang menjadi pusat pasar sekaligus pecinan-nya Bogor.

Pada tahun 1977, Soeharto menetapkan kota ini sebagai bagian dari aglomerasi megapolitan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Artinya, Bogor menjadi penyangga ibu kota, yang mana dalam pengembangannya harus menyesuaikan dengan rencana induk pembangunan megapolitan tersebut. Untuk mendukung rencana itu, satu tahun kemudian dibangunlah jalan tol Jagorawi yang menghubungkan Cawang dengan Bogor-Ciawi. Sejak saat itu, pembangunan di kawasan ini semakin tak terkendali. Orang-orang berduit yang berdomisili di Jakarta, banyak yang membangun villa di kawasan Puncak.

Puncak, Bogor

Puncak sebenarnya tak lagi berada di dalam area kota Bogor. Kawasan ini berjarak sekitar 20 kilometer dari istana. Kecenderungan orang untuk membangun peristirahatan disini, karena Bogor dinilai sudah terlalu jenuh. Selain itu suhu udara di Puncak jauh lebih sejuk, yakni berkisar antara 16⁰ – 24⁰ Celcius. Perkembangan Puncak semakin menjadi-jadi sejak pemerintah mengembangkan Taman Safari di Cisarua pada tahun 1980. Di atas lahan seluas 167 hektar, taman ini menjadi tempat wisata sekaligus sebagai lokasi konservasi hewan. Karena banyaknya tempat penginapan dan wisata yang menawarkan view yang aduhai, tak terelakkan Puncak menjadi simpul kemacetan terparah selama akhir pekan dan di masa libur panjang.  

Jika dulu Bogor dikenal sebagai kota hujan, maka generasi milenial justru menjulukinya sebagai kota seribu angkot. Ya, angkot di kota ini sangatlah banyak. Untuk ukuran kota dengan penduduk kurang dari satu juta jiwa, jumlah angkutan kota yang mencapai 3.300 unit dinilai agak berlebihan. Gak heran, jika di setiap persimpangan banyak sekali dijumpai angkot yang sedang ngetem. Hal ini tentu menyebabkan kemacetan lalu lintas dan mengganggu pengguna jalan lainnya. Menyikapi kondisi tersebut, walikota Bima Arya akan terus melakukan pengurangan jumlah angkot di kota itu. Rencananya Buskita Trans Pakuan yang berukuran sedang, akan menggantikan sebagian angkot yang sudah tua. Ya, semoga saja langkah ini bisa mengurangi kemacetan di kota Bogor yang semakin akut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s