FIFA ASEAN Cup 2026 baru saja selesai digelar. Indonesia yang menjadi tuan rumah edisi perdana, keluar sebagai pemenang. Kemenangan ini sekaligus menghapus mitos kegagalan tim senior kita yang tak pernah juara dalam 35 tahun terakhir. Selain pesta bagi rakyat Indonesia, ajang ini juga menjadi turnamen paling bergengsi buat masyarakat ASEAN. Berbeda dengan turnamen regional lainnya seperti Piala AFF/ASEAN Championship, FIFA ASEAN Cup menjamin tim nasional bisa memanggil seluruh skuad terbaik mereka. Oleh karenanya ketika Indonesia berlaga di turnamen ini, starting eleven-nya pun berbeda dibanding ketika Piala AFF lalu. Jay Idzes, Emil Audero, Kevin Diks, Elkan Baggott, dan Calvin Verdonk yang absen di Piala AFF, pada turnamen kemarin turut mengantarkan kemenangan bagi timnas Indonesia.
Dengan adanya agenda rutin FIFA di ASEAN, maka Piala AFF yang selama ini menjadi ajang yang diperebutkan, jadi turun kasta. Rencananya turnamen ini akan diselenggarakan setiap empat tahun, dengan format dua divisi — yakni Divisi 1 dan Divisi 2 — berdasarkan ranking FIFA. Untuk turnamen tahun ini, divisi 1 diisi oleh Thailand, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Sedangkan Divisi 2 adalah Kamboja, Laos, Myanmar, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Latar belakang diselenggarakannya FIFA ASEAN Cup, bermula dari langkah Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang memberikan wadah bagi negara-negara Asia Tenggara untuk melakoni laga internasional kompetitif di bawah kalender resmi FIFA (FIFA Matchday). Sebelumnya FIFA juga telah menyelenggarakan turnamen serupa di Timur Tengah dan Afrika Utara dengan tajuk FIFA Arab Cup.
Perkasanya Timnas Indonesia
Untuk kompetisi kali ini, Indonesia diisi oleh pemain-pemain yang bertarung pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 kemarin. Seperti diketahui, dalam babak kualifikasi tersebut, tim Garuda berhasil mencapai stage keempat, atau satu langkah lagi menuju Piala Dunia. Kebayang kan gimana gacornya pemain-pemain kita. Di laga pertama, Indonesia berhasil menekuk Singapura dengan skor 2-0. Di laga selanjutnya, giliran Malaysia yang tak berkutik. Meski bermain dengan 10 pemain, timnas Garuda berhasil menahan imbang tim Malaysia. Sempat mencetak gol di menit ke-4, namun gol Justin Hubner akhirnya dianulir oleh wasit. Indonesia yang terus menyerang hingga menit ke-30, harus menelan pil pahit dengan mendapatkan kartu merah. Ini setelah Thom Haye melakukan pelanggaran keras terhadap penyerang Malaysia : Arif Aiman. Di pertandingan penentuan melawan Bangladesh, tim Garuda langsung tancap gas. Anak-anak asuh John Herdman, membantai tim undangan asal Asia Selatan tersebut dengan skor mencolok : 9-2. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan Indonesia ke babak final, setelah unggul produktivitas gol atas tim Harimau Malaya. Kalau kita lihat pertandingan di babak penyisihan, keberhasilan tim Indonesia disebabkan oleh keharmonisan antar lini.
Hal ini juga dibuktikan pada babak final, ketika Indonesia melawan tim tangguh Thailand. Di pertandingan sarat gengsi tersebut, lini pertahanan timnas Garuda kokoh dikawal Kevin Diks, Justin Hubner, dan Elkan Baggott. Sementara lini tengahnya diotaki oleh kreativitas Calvin Verdonk, Joey Pelupessy, dan Egy Maulana Vikry yang baru masuk di babak perpanjangan waktu. Mereka berhasil menyuplai umpan-umpan matang kepada barisan depan yang diisi Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny, Mitchel Baker, serta Rayhan Hannan. Dari semua pemain di laga FIFA ASEAN Cup kemarin, agaknya kita boleh memberi apresiasi lebih kepada striker Ole Romeny. Pemain kelahiran Nijmegen, Belanda itu, berlari sepanjang pertandingan untuk memberikan umpan matang kepada sekondannya yang sudah menunggu di kotak penalti lawan. Dalam turnamen tersebut, total ada 4 assist dan 1 gol yang diciptakan Ole. Kegemilangan Emil Audero Mulyadi di bawah mistar gawang, juga patut diacungi jempol. Dia berhasil menahan tendangan pemain Thailand : Nattapong Sayriya di babak penalti, yang membawa Indonesia mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup.
Perayaan Dini Suporter Malaysia
Selain Indonesia, timnas Malaysia juga berhasil meraih kemenangan besar di babak penyisihan. Tim asuhan Tan Cheng Hoe itu berhasil mencukur Singapura 6-0. Meski mengalami kemenangan besar, namun hasil ini tak membawa mereka ke babak final. Padahal pemain dan suporter mereka sudah berteriak kegirangan. Perayaan dini suporter Malaysia itu, dikarenakan pada waktu laga Malaysia vs Singapura usai, Indonesia baru menang 7-2 atas Bangladesh. Butuh dua gol lagi bagi tim Garuda, agar bisa lolos ke babak final. Bagi suporter Malaysia, dua gol di masa injury time adalah suatu hal yang mustahil. Itulah mengapa mereka sudah berjingkrak kegirangan merayakan kemenangan. Tak disangka, pada waktu injuri Kevin Diks (90+6) dan Mitchel Baker (90+7) berhasil melesakkan gol tambahan ke gawang Bangladesh. Dua gol ini mengungguli produktivitas Malaysia yang cuma mencetak 9 gol — sementara Indonesia 11 gol.
Tim Harimau Malaya datang ke turnamen FIFA ASEAN Cup, dengan rasa percaya diri yang tinggi. Maklum! mereka diisi pemain-pemain yang membawa Johor Darul Ta’zim melangkah ke perempat final AFC Champions League Elite. Selain Arif Aiman, beberapa pemain asing yang menjadi punggawa klub tersebut kemudian berhasil dinaturalisasi. Bergson da Silva (Brazil), Manuel Hidalgo (Argentina), dan Brad Tapp (keturunan Australia-Malaysia), ketiganya disahkan FIFA sebagai pemain Malaysia menjelang turnamen ini di mulai. Jika dibandingkan proses naturalisasi yang dilakukan Indonesia, proses yang dijalani Malaysia sangatlah berliku-liku. Bahkan FAM (PSSI-nya Malaysia) sampai memalsukan dokumen tujuh pemain, untuk membangun sebuah tim yang kuat. Gara-gara pemalsuan ini, Malaysia disanksi oleh FIFA dan batal tampil di Piala Asia 2027. Langkah pemalsuan yang dilakukan federasi sepak bola Malaysia tersebut, boleh dibilang cukup berani dan memalukan. Kasus ini sempat menjadi trending topic di Eropa dan Amerika Latin, hingga The Guardian menyebutnya sebagai sensationally damning. Karena viral di berbagai negara, netizen Indonesia menganggapnya sebagai “aib ASEAN”. Kini setelah melalui berbagai aral lintang, tim Harimau Malaya-pun hanya bertengger di peringkat ketiga. Posisi ini mereka raih setelah berhasil menang tipis atas Vietnam, 1-0.
Perang di Medsos dan Aksi Boikot Malaysia
Setelah Indonesia keluar sebagai juara FIFA ASEAN Cup, warga net Malaysia seperti kebakaran jenggot. Terlebih, sebelumnya terjadi ejek-ejekan antara suporter Malaysia dan Indonesia di media sosial. Keduanya pede kalau tim kesayangan mereka bakal menjuarai turnamen ini. Karena saling serang di media sosial, fans Harimau Malaya-pun tantrum. Mereka lalu melakukan aksi boikot, setelah tim media sosial Kahf memposting meme “hati-hati beda level” yang menaruh bendera Indonesia di atas bendera negara ASEAN lain termasuk Malaysia. Oleh warganet tetangga, konten ini dinilai merendahkan mereka. Meski pihak brand sudah menghapus unggahan dan meminta maaf secara resmi, namun netizen Malaysia seperti belum terima. Mereka lantas menyerukan pemboikotan semua produk-produk Indonesia yang dijual di Malaysia. Kenangan Coffee dan santan Kara yang cukup digemari disana, tak luput dari aksi boikot mereka. Bahkan hingga tulisan ini diturunkan, warganet Malaysia masih memfoto rak-rak supermarket yang penuh dengan santan Kara. Lewat platform Threads, mereka lalu membagikan foto-foto tersebut dan bergumam kalau Kara sudah tak laku lagi di Malaysia. Tak hanya itu, mereka juga men-share situasi Kenangan Coffee yang kosong melompong, dan menyatakan kalau ini berkat aksi boikot yang mereka lancarkan.
Melihat aksi boikot yang dilakukan rakyat Malaysia, netizen Indonesia menanggapinya dengan santuy. Mereka hanya membalas dengan meme satire, sindiran kreatif, hingga stiker joget kemenangan ala Prabowo. Bahkan tak sedikit kalimat sarkas yang meminta agar warganet Malaysia memfoto situasi Kenangan Coffee dan rak santan Kara setiap hari. Komentar seperti : “mana foto rak Kara hari ini?” sering dilontarkan netizen kita di utas viral warganet Malaysia. Reaksi suporter Malaysia yang sampai memboikot produk Indonesia, dinilai oleh sebagian kalangan sebagai sifat kekanak-kanakan (childish). Meski begitu banyak pula warga Malaysia yang bersikap objektif dan tidak mendukung aksi boikot impulsif tersebut.
Terkait adanya aksi pemboikotan, Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, menyatakan bahwa ini hanyalah emosi sesaat akibat sepak bola. Dan dipastikan tidak membawa dampak serius bagi perdagangan kedua negara. Pemerintah Indonesia juga sudah berkoordinasi dengan Atase Perdagangan di Malaysia untuk memastikan situasi di lapangan tetap kondusif. Bagaimanapun, rivalitas di sepak bola, tak seharusnya sampai terbawa-bawa di kehidupan nyata. Apalagi sampai melakukan pemboikotan dan tindakan anarkis. Sudah seharusnya warga kedua negara hidup rukun dan saling kunjung mengunjungi. Seperti yang dilakukan warga Malaysia di Sabtu-Minggu kemarin (24-25 Oktober), yang ramai mengikuti Jakarta Running Festival dan nonton konser Kanye West.
