Archive for the ‘Biografi’ Category


Apa sih istimewanya Gus Dur ? Keheranan ini melekat erat-erat di benak saya, setelah melihat banyak orang terutama dari kalangan nahdliyin, yang memperjuangkannya untuk menjadi pahlawan nasional. Belakangan, bukan persoalan itu saja yang menimbulkan kontroversi, namun ziarah makam Gus Dur-pun mendulang kekhawatiran dari sebagian ulama. Ulama-ulama tersebut mengkhawatirkan, makam Gus Dur akan dijadikan sebagai tempat keramat, tempat orang berdoa, meminta, dan mungkin berkeluh kesah. Kita tahu, dalam ajaran Islam ziarah kubur semacam itu menjadikan umat jatuh kepada kemusyrikan

Sementara ratusan tokoh mengelu-elukannya sebagai sosok yang luar biasa, kok saya malah melihat Gus Dur hanya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Yang tak perlu disanjung-sanjung apalagi harus mengkultuskannya. Gus Dur yang bernama lengkap Abdurrahman Wahid, merupakan putra mantan menteri agama Wahid Hasyim, sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asyari. Darah biru yang mengalir ditubuhnya, menjadikan kyai nyentrik ini memiliki banyak pengikut. Seperti halnya Megawati Soekarnoputri, Gus Dur merupakan patron bagi sebagian orang Jawa. Konsep budaya Jawa yang kuat mempercayai kepemimpinan kepada trah keluarga tertentu, melambungkan nama Gus Dur dikancah perpolitikan nasional.

(lebih…)


Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Tiga Serangkai : Sjahrir, Soekarno, Hatta

Jika di Indonesia ini harus dibuat pula patung kepala pendiri bangsa seperti di Amerika sana, maka saya akan mengusulkan empat tokoh founding fathers kita : Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Mereka adalah orang-orang Indonesia di atas rata-rata, yang berpikir melampaui zamannya. IQ mereka mungkin tak pernah ada orang yang tahu, tapi dari kemampuan mereka menulis, mengelola partai politik, hingga berhasil mendirikan republik ini, jelas mereka-mereka itu sangatlah jenius.

Mereka berempat orang-orang segenerasi yang lahir pada saat politik dunia sedang memanas. Tan Malaka (lahir 1896), Soekarno (lahir 1901), Hatta (lahir 1902), dan Sjahrir (lahir 1909) berada di usia matang pada saat kekuasaan orang-orang Belanda mulai memasuki senja. Sehingga pada tahun 1945, disaat Perang Dunia Kedua berakhir dan terlepasnya Indonesia dari cengkeraman kolonialisme Belanda, mereka siap memimpin negeri ini. Dalam perguliran sejarah bangsa, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir duduk dalam kursi formal pemerintahan negara, sedangkan Tan Malaka menjadi pemimpin oposisi.

(lebih…)