Posts Tagged ‘Indomie’

Pertamina menjadi sponsor Lamborghini

Tahun ini Indonesia berhasil menjadi anggota “one trillion club countries”, yaitu negara-negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) di atas USD 1 triliun. Ya, berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), PDB Indonesia saat ini mencapai USD 1,074 triliun, atau berada diurutan ke-16 dunia. Ekonomi sebesar itu, tentu ditunjang oleh perusahaan-perusahaan nasional yang besar pula, yang mengekspor produk-produknya ke mancanegara. Tak cuma memberikan keuntungan secara ekonomi, banyaknya perusahaan nasional yang berkibar di kancah global, tentu juga mengharumkan nama bangsa. Ini seperti halnya Toyota dan Sony yang mengharumkan nama Jepang; atau Apple, Google, dan Microsoft yang mengingatkan orang tentang Amerika, atau IKEA yang melambungkan nama Swedia. Dalam artikel kali ini kita akan melihat sepak terjang perusahaan-perusahaan Indonesia, yang tak hanya jago kandang namun juga menjadi pemain di pentas internasional.

Pertamina merupakan satu-satunya perusahaan nasional yang berhasil masuk ke dalam daftar Fortune Global 500. Pada tahun 2017, dengan pendapatan mencapai USD 36,487 miliar, perusahaan ini berada di posisi 289. Selain di Indonesia, saat ini perusahaan yang dipimpin oleh Nicke Widyawati itu memiliki hak kelola di 12 negara. Empat blok telah berproduksi, yakni di Irak, Aljazair, Malaysia, dan Gabon. Sedangkan yang di Kanada, Kolombia, Prancis, Italia, Myanmar, Namibia, Nigeria, dan Tanzania masih dalam tahap eksplorasi. Pada tahun 2017, realisasi produksi minyak dari lapangan luar negeri mencapai 104.000 barel per hari atau sekitar 28% dari total produksi Pertamina. Sementara itu, realisasi produksi gas mencapai 275 juta kaki kubik per hari. Disamping untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, minyak dan gas tersebut juga dijual ke mancanegara. Tahun ini rencananya Pertamina kembali menambah lahan produksi di Iran, yang ditargetkan bisa memproduksi 250.000 sampai 300.000 barel minyak per hari.

(lebih…)

Iklan

Liem dan Soeharto

Setelah membaca awal perkenalan Liem dengan Soeharto, selanjutnya pada fase kedua tulisan ini kita akan melihat tahap-tahap perjalanan Liem dalam membangun imperium bisnisnya. Pada fase akhir tulisan ini, saya juga akan mencuplik merosotnya dominasi Salim pasca kejatuhan Soeharto, serta kehidupan senja sang taipan. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita melihat suatu kejadian yang ditulis pada Bab 7. Dalam sub-bab yang berjudul “Kejadian yang Mengerikan di Rumah”, diceritakan tentang tragedi yang terjadi di rumah Liem pada bulan Juni 1966. Ketika itu Liem sedang pergi ke Singapura, menjadi anggota delegasi tak resmi Soeharto yang ingin mengakhiri politik konfrontasi yang ditempuh pendahulunya. Liem menuturkan kejadian tersebut: “Suatu sore sekitar pukul 16.30, seorang laki-laki berseragam marinir datang ke rumah mencari saya. Istri saya menyangka dia datang untuk minta uang, dan mempersilahkannya masuk. Tante (istri Liem) memberi tahu kalau saya sedang di Singapura. Lalu Tante masuk ke kamar untuk mengambil uang dan orang itu mengikutinya. Tetapi langkah orang itu terhalang oleh engsel pintu kasa yang rusak. Tante mendengar suara pintu dan membalikkan badan, dia tertegun melihat laki-laki itu memegang senjata api. Tante berteriak : “Jangan Pak!” Orang itu menembak dua kali, satu tembakan kena lengan Tante, satunya lagi kena perut. Tampaknya peluru itu meleset mengenai jantung dan menembus punggungnya. Benar-benar suatu kemujuran, kalau tidak Tante pasti sudah meninggal. Seandainya saya di rumah, saya pasti sudah dibunuh.” Ini untuk kedua kalinya Liem selamat dari maut, setelah sebelumnya di tahun 1949 ia juga selamat dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua penumpang yang semobil dengannya.

Pada bab ini kita juga bisa menengok sosok Anthony Salim, putra ketiga Liem, yang menyelesaikan pendidikan tingginya di Inggris. Dengan bekalnya itu, Anthony banyak memberikan ide-ide bisnis yang tak terpikirkan oleh ayahnya. Liem pernah mengatakan, bahwa anak laki-laki termudanya itu bijaksana melebihi umurnya. Dan Anthony menunjukkan kualitas itu dengan tidak berusaha tampil lebih bersinar dari ayahnya atau merebut sesuatu darinya. Bahkan setelah bertahun-tahun duduk di balik kemudi, Anthony terus menyampaikan laporan singkat kepada ayahnya tentang semua aspek rencana-rencana bisnis. Seperti ayahnya, Anthony paham cara kerja sistem patronase licik Orde Baru. Dan ia sadar betul bahwa patronase politik yang dinikmati ayahnya terbatas masa hidupnya. Sejak akhir 1970-an, dia sudah meyakinkan ayahnya tentang pentingnya berinvestasi di luar negeri dan mendorong Salim Group untuk mengeksplorasi peluang di luar Indonesia. Seiring tahun berlalu, Anthony membuat banyak kesalahan, sebagaimana yang terus terang diakuinya. Dia memberi satu contoh, kesalahan besar bisnis pertamanya adalah ketika mengimpor semen dari Korea Utara.

(lebih…)

Gerai J. Co di Mal Kelapa Gading 2

Cintailah produk-produk Indonesia … begitu teriakan Alim Markus dalam iklan Maspion produksinya sendiri. Maspion, produsen alat-alat elektronik rumah tangga itu, kini telah menjadi salah satu merek kebanggaan Indonesia. Selain Maspion masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang branded, yang tak kalah dengan produk-produk luar negeri. Sebut saja misalnya produsen sepatu dan tas kulit, Buccheri. Banyak orang tak menyangka, bahwa merek besutan Ediansyah ini merupakan produk asli buatan Indonesia. Mayoritas penikmat sepatu dan tas kulit, menyangka bahwa Buccheri adalah buatan Italia. Tak hanya Buccheri yang disangka sebagai merek luar. Sophie Martin, merek aksesoris kalangan atas itupun, banyak yang mengira buatan Prancis. Brand Sophie Martin yang menambahkan nama Paris dibelakangnya, ternyata telah mengecoh banyak konsumen.

Siapa yang menyangka kalau merek Casablanca asli dari Indonesia. Banyak orang menduga kalau merek parfum yang banyak dipakai eksekutif muda ini, berasal dari Prancis. Parfum Casablanca, yang dalam iklan-iklannya banyak menampilkan model-model bule itu, ternyata produksi Muara Kapuk, Jakarta. Selain tiga merek di atas, masih banyak lagi merek-merek lokal yang dikira masyarakat sebagai merek luar. Sebut misalnya merek fashion The Executive, gerai donat J-Co Donnuts, merek furnitur Olympic, produk celana dalam pria GT Man, sepatu Eagle, penanak nasi Cosmos, Centro departemen store, sepeda Wim Cycle, produsen pakaian Andre Laurent, dan masih banyak lagi merek-merek karya dalam negeri yang dikira barang impor.

(lebih…)