Posts Tagged ‘MRT Jakarta’


Stasiun Manggarai

Tahun 2010, saya pernah membahas mengenai revitalisasi KRL Commuter Jabodetabek di artikel ini (KRL Jabotabek, Ayo Berbenah !). Disitu saya berharap agar sepuluh tahun ke depan kita bisa memiliki fasilitas kereta komuter yang modern. Namun hanya tiga tahun berselang, harapan saya terkabul. Tak perlu menunggu sepuluh tahun, di tahun 2013 kita sudah memiliki kereta komuter yang boleh dibilang cukup modern. Memang belum serancak yang ada di Singapura, tapi boleh lah. Ketika itu di bawah kepemimpinan Ignasius Jonan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) benar-benar melakukan revitalisasi. Tak hanya kereta luar kota saja yang dibenahinya, tapi juga kereta dalam kota atau yang dikenal dengan KRL Commuter Jabodetabek. Jonan menyadari, selama ini KRL Commuter mengalami inefisiensi. Dari kebocoran karcis, pegawainya yang korup, hingga jaringannya yang tak efektif.

Pelan-pelan, satu-satu, permasalahan demi permasalahan ia tangani. Langkah pertama yang ia lakukan adalah membenahi problem kepegawaian KAI yang seabrek. Ia lalu menaikkan gaji pegawai KAI berlipat-lipat. Masalah kebocoran karcis, disiasatinya dengan penggunaan tiket elektronik. Sejak saat itu, semua pengguna KRL harus memiliki tiket kereta, dan gak ada lagi yang bisa bayar petugas di atas rangkaian. Selain itu, ia juga memperbaiki fasilitas kereta dan stasiun. Semua rangkaian tak ada lagi yang tak ber-AC. Pedagang asongan dilarang masuk ke stasiun, apalagi sampai ke dalam rangkaian. Toilet stasiun-pun juga tak luput dari pembenahannya. Jonan juga mengubah jalur kereta yang selama ini tak efektif. Ia menambah lintasan Bogor yang hanya melayani rute Jakarta Kota, dengan rute baru menuju Jatinegara. Dari Bekasi, ia juga memecah jalur ke Jakarta Kota, via Manggarai dan Pasar Senen. Dengan segala pembenahan itu, jumlah penumpang KRL melonjak gak karu-karuan. Dari sebelumnya cuma empat ratus ribu per hari, naik hingga menyentuh angka satu juta.

(lebih…)

Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Kemacetan di Jalan Rasuna Said (sumber : mediaindonesia.com)

Sebagai megapolitan nomor dua di dunia, Jakarta tak pernah lepas dari persoalan kemacetan lalu lintas. Seperti halnya Tokyo, Bangkok, dan New York City, traffic jam di Jakarta tergolong sangat akut. Perlu suatu terobosan luar biasa, untuk mengatasi persoalan ini. Sebenarnya problem kemacetan di Jakarta bukanlah hal yang baru. Namun sudah lima kali gubernur Jakarta silih berganti, permasalahan ini tak kunjung berakhir. Yang terjadi justru sebaliknya. Jalan-jalan di ibu kota, dari waktu ke waktu malah semakin padat. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta setiap tahunnya mencapai 9,5%. Angka ini tak sebanding dengan pertumbuhan panjang jalan raya, yang hanya berkisar 0,01% per tahunnya.

Sudah bermacam-macam cara yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi kemacetan di ibu kota. Pada masa gubernur Wiyogo Atmodarminto, pemerintah menerapkan sistem 3 in 1 di kawasan segi tiga emas. Setiap mobil yang melintasi Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto, wajib berisi minimal tiga orang. Kemudian di periode kepemimpinan gubernur Sutiyoso, pemerintah kembali melakukan terobosan, yakni dengan membangun jaringan bus rapid transit. Bus yang dikenal dengan nama Transjakarta ini, memiliki lajur dan halte tersendiri. Sampai saat ini, sudah 11 koridor yang selesai dibangun. Koridor 12, yang menghubungkan Tanjung Priok dengan Pluit, sedang dalam tahap penyelesaian. Diluar kebijakan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum DKI juga telah banyak membangun jalan layang serta terowongan. Namun semua itu tak bisa menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh.

(lebih…)